ASPEK SILVIKULTUR
C. Tahapan Pembuatan Setek Jabon 1. Bahan Setek
Kriteria bahan setek jabon terutama adalah:
a. Diameter batang tunas sekitar 0,5 cm.
b. Kulit batang berwarna hijau tua kecoklatan
Tunas jabon umur 6 bulan dipangkas dengan gunting setek dan dipilih tunas yang relatif seragam tinggi dan diameternya, kemudian ditempatkan ke dalam ember/wadah berisi air (Gambar 2).
142
Gambar 2. Tunas jabon umur 6 bulan 2. Pembuatan setek
Pembuatan setek dilakukan ditempat teduh. Tunas dipotong untuk dijadikan setek pucuk dan batang. Setek pucuk diambil dari pucuk, setek batang diambil dari bagian tengah dan pangkal dari tunas Tunas dipotong-potong menjadi setek dengan ukuran panjang tangkai setek sekitar 5 -7 cm.
Bagian bawah dari tangkai setek dipotong miring 450. Setek-setek tersebut ditempatkan dalam wadah/ember berisi air.
3. Penanaman Setek
Pada media dibuat lubang tanam dengan tongkat kecil dari kayu dengan diameter lebih besar dari diameter tangkai setek. Setek ditanam pada lubang tanam dengan kedalaman sepertiga sampai setengah dari tangkai setek, kemudian ditutup dengan media (Gambar 3), disiram dengan air, selanjutnya sungkup ditutup.
Gambar 3. Penanaman setek batang (kiri) dan setek pucuk (kanan) 4. Pemeliharaan
a. Pemeliharaan
Pemeliharaan terdiri dari penyiraman, penyiangan dan pengendalian hama dan penyakit.
Penyiraman dilakukan setiap pagi dan sore hari. Penyiangan dilakukan terhadap gulma yang tumbuh pada potray dan di sekitar bedengan, dilakukan secara manual dengan mencabut gulma yang tumbuh, dilakukan seminggu sekali. Apabila terdapat serangan hama dan penyakit dilakukan pengendalian sesuai dengan jenis hama dan penyakit serta intensitas serangan yang terjadi.
b. Aktimatisasi
Aktimatisasi dilakukan dengan membuka sungkup secara bertahap: minggu pertama sungkup dibuka selama 2 jam dari jam 800-1000 kemudian sungkup ditutup kembali.
143
Minggu kedua dibuka selama 4 jam dari jam 800-1200 kemudian sungkup ditutup kembali.
Minggu ke tiga sungkup dibuka selama 6 jam dari jam 800-1400 kemudian sungkup ditutup kembali. Minggu ke empat sungkup dibuka tanpa ditutup kembali.
5. Pertumbuhan Setek Jabon
Tunas setek jabon mulai tumbuh sekitar 2 - 3 minggu setelah tanam Akar mulai tumbuh sekitar 3 - 4 minggu setelah tanam. Persen tumbuh setek pucuk mencapai 90,5% dan persen tumbuh setek batang sekitar 83,2% pada umur 3 bulan setelah tanam
6. Penyapihan Setek
Penyapihan bibit asal setek ke polibag dilakukan 2-3 bulan setelah akar dan tunas tumbuh.
Bibit tersebut ditempat di persemaian dan dilakukan pemeliharaan sampai bibit dengan bibit siap ditanam di lapangan.
IV. PENUTUP
Jabon dapat diperbanyak secara vegetatif, bahan setek terdiri dari setek batang dan setek pucuk. Tunas setek mulai tumbuh sekitar 2 - 3 minggu setelah tanam dan akar mulai tumbuh sekitar 3 - 4 minggu setelah tanam. Persen tumbuh setek pucuk sekitar 90,5% dan setek batang sekitar 83,2% pada umur 3 bulan setelah tanam.
DAFTAR PUSTAKA
Danu, A.A. Pramono, N. Siregar, 2006. Atlas Benih Jilid VI. Perbanyakan Vegetatif Beberapa Jenis Tanaman Hutan. Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Bogor.
Davis, T.D, B.E. Haissig and N.Sankhla. 1988. Adventitious Root Formation Cuttings. Dioscorides Press. Oregon.
Hanum, I.H. and L.J.G. van der Maesen. Plant Resources of South East Asia. No 11. Auxiliary Plants. PROSEA. Bogor
Hartmann, H.T., D.E. Kester and F.T. Davies, R.L. Geneve. 1997. Plant Propagation: Principles and Practices. Edisi VI. Prentice Hall. Englewood Cliffs. New Jersey
Mahlstede, J.P and E.S. Haber. 1976. Plant Propagation. John Wiley and Sons Inc. New York.
413 p.
Rochiman, K dan Harjadi.SS. 1973. Pembiakan Vegetatif. Departemen Agronomi. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Rostiwati, T, Y. Haryati dan S. Bustomi. 2006. Review Hasil Litgbang Kayu Energi dan turunannya. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutan.
Martawijaya, A. I. Kartasujana, Y.I. Mandang, SA. Prawira dan K. Kadir. 1989. Atlas Kayu Indonesia. Volume II. Departemen Kehutanan. Badan Litbang Kehutanan. Bogor.
Soerianegara, I dan R.H.M.J. Lemmens. 1994. Plant Resources of South East Asia. No 5 (1).
Timber Tress: Major commercial Timbers. Bogor.
Zobel, B. 1983. Vegetatif Propagation in Eucalyptus. 19th Meeting of The Canadian Tree Improvement Association, August 22-26,1983. Toronto, Ontario.
145
PENGGUNAAN SERBUK SABUT KELAPA DAN ARANG SEKAM PADI DALAM PEMBIBITAN BAMBANG LANANG (Michelia champaca L.)
Danu dan Rina Kurniaty
Peneliti Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Tanaman Hutan
ABSTRAK
Kebutuhan bahan baku kayu dari tahun ke tahun semakin meningkat sementara produksi kayu semakin menurun. Tanaman bambang lanang (Michelia champaca L.) merupakan jenis alternatif prioritas dalam pembangunan hutan tanaman penghasil kayu. Untuk menghasilkan tegakan yang baik diperlukan bibit yang bermutu. Media yang kaya dengan bahan organik dan unsur hara merupakan salah satu yang diperlukan tanaman untuk menghasilkan bibit yang bermutu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas bahan pencampur serbuk sabut kelapa dan arang sekam padi dalam pembibitan tanaman bambang lanang. Benih bambang lanang dikumpulkan dari Lahat, Sumatera Selatan. Media yang digunakan adalah tanah top soil, tanah sub soil, tanah sub soil ditambah bahan pencampur serbuk sabut kelapa dan arang sekam padi dengan intensitas naungan 55%. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan acak kelompok terdiri dari 3 ulangan masing- masing 50 bibit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media tanah subsoil ditambah serbuk sabut kelapa sebanyak 30% dan arang sekam padi sebanyak 10% dapat menghasilkan persen batang berkayu tertinggi yaitu sebesar 46,28%.
Kata kunci: media, bibit, bambang lanang
I. PENDAHULUAN
Kebutuhan bahan baku untuk industri pengolahan kayu dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan, di pihak lain pasokan bahan baku dari hutan alam produksi semakin menurun, sehingga akibatnya terjadi kekurangan bahan baku terutama untuk industri pengolahan kayu. Oleh karena itu perlu dilakukan pembangunan dan pengembangan hutan tanaman penghasil kayu pertukangan. Tanaman bambang lanang (Michelia champaca L.) merupakan jenis alternatif prioritas dalam pembangunan hutan tanaman penghasil kayu pertukangan (Effendi, 2009). Bambang lanang termasuk family Sapotaceae merupakan salah satu jenis pohon andalan lokal di Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan. Jenis ini tergolong tanaman cepat tumbuh, kayunya kuat, lurus, awet, dan mudah dikerjakan, sehingga sejak lama sudah digunakan sebagai bahan bangunan oleh masyarakat setempat (Siahaan dan Saepuloh, 2007).
Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan pengembangan hutan tanaman jenis ini adalah tersedianya bibit bermutu dalam jumlah yang cukup dan tepat waktu. Untuk menghasilkan bibit yang bermutu diantaranya diperlukan media yang kaya dengan bahan organik dan mempunyai unsur hara yang diperlukan tanaman serta naungan (Durahim dan Hendromono, 2001; Siahaan et al., 2006).
Umumnya media yang digunakan untuk pembibitan di persemain berasal dari top soil.
Namun pengambilan top soil dalam jumlah besar dapat berdampak negatif bagi ekosistem di areal tersebut (Hendromono dan Durahim, 2004). Untuk itu dibutuhkan bahan campuran media alternatif yang baik. Serbuk sabut kelapa (cocopeat) dan arang sekam padi (biocharcoal) dapat digunakan sebagai bahan pencampur media persemaian. Biocharcoal berfungsi sebagai pembenah tanah dan manager nutrisi yang baik (Lehmann et al., 2006). Pemberian arang sekam pada media tumbuh akan menguntungkan karena dapat memperbaiki sifat tanah di antaranya adalah mengefektifkan pemupukan karena selain memperbaiki sifat fisik tanah
146
(porositas dan aerasi), arang sekam juga berfungsi sebagai pengikat hara (ketika kelebihan hara) yang dapat digunakan tanaman ketika kekurangan hara, hara dilepas secara perlahan sesuai kebutuhan tanaman/slow release (Komarayati et al., 2003). Serbuk sabut kelapa memiliki pH 5,7 -6,5 dan kapasitas tukar kation yang tinggi serta memiliki daya simpan air yang tinggi, sehingga subtrat ini dapat digunakan sebagai bahan pencampur media tanah (Mason, 2003).
Berdasarkan informasi di atas, maka perlu dilakukan penelitian tentang penggunaan bahan pencampur media untuk pembibitan tanaman bambang lanang yang efektif dan ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan serbuk sabut kelapa dan arang sekam padi sebagai bahan pencampur media pembibitan tanaman bambang lanang.
II. METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di persemaian Stasiun Penelitian Nagrak, Bogor. Penelitian dimulai pada bulan Juli 2012 sampai bulan Pebruari 2013.