• Tidak ada hasil yang ditemukan

ASPEK PERBENIHAN

F. Perbanyakan vegetatif stek

V. PENUTUP

Teknologi perbenihan yang tepat merupakan tahapan proses kegiatan penting untuk mendukung pengembangan usaha kehutanan berbasis bioenergi dan biofarmaka. Pemilihan jenis tanaman sebagai sumber bahan baku energi dan obat selain pertimbangan potensi, kesesuaian tempat tumbuh dan produktivitas, juga harus mempertimbangkan aspek sosial ekonomi masyarakat serta aspek konservasi dan deforestasi yang merupakan upaya perbaikan hutan dan lingkungan regional. Diharapkan bioenergi dari hutan dapat menggantikan sebagian keberadaan batu bara, minyak tanah dan solar yang selama ini digunakan. Demikian juga biofarmaka dari hutan yang diharapkan dapat menjadi salah satu sumber devisa negara potensial.

DAFTAR PUSTAKA

Ali, C dan T. Rostiwati. 2011. Pengaruh hormon pertumbuhan dan senyawa nitrogen serta waktu perendaman terhadap perkecambahan benih lemo. Prosiding Seminar Hasil-hasil Penelitian. Teknologi Perbenihan Untuk Meningkatkan Produktivitas Hutan Rakyat Di Provinsi Jawa Tengah. Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Tanaman Hutan Bogor.

Badan Litbang Kehutanan. Kementerian Kehutanan.

53

Alrasyid, H. 1981. Some fuelwood tree species characteristic in Indonesia. Balai Penelitian Hutan.

BSN. 2014 a. Tanaman Kehutanan - Bagian 12: Penanganan benih generative tanaman hutan.

SNI 5006.12:2014

BSN. 2014 b. Mutu fisik dan fisiologis benih tanaman hutan. SNI 7627:2014

Cleland, EE, JM Allen, TM Crimmins, JA Dunne, S Pau, SE Travers, ES Zavaleta and EM Wolkovich. 2012. Phenological tracking enables positive species responsesto climate change. Ecology 93(8):1765–1771.

Dalimartha. 2001. Atlas tumbuhan obat Indonesia.

Dirjen Listrik dan Energi Baru. 1991. Pemilihan jenis pohon energi. Dirjen Listrik dan Energi Baru. Depatemen Pertambangan dan Energi.

Fewless, G. 2006. Phenology. http://www.uwgb.edu/biodiversity/phenology/index.htm.

(Diakses 26 Juni 2006).

Geiss, G., L. Gutierrez dan C. Bellini. 2009. Adventitious Root Formation: New Insights and Perspectives. Annu. Plant Rev. 37 : 127–156.

Hartoyo. 1976. Rendemen dan sifat arang beberapa jenis kayu Indonesia. Laporan nomor 62.

Lembaga Penelitian Hasil Hutan.;

Hendarti, R.L., S.H. Nurrohmah, S. Susilawati dan S Budi. 2014. Budidaya acacia uriculiformis (Acacia auriculiformis) untuk kayu energi. IPB Press. Bogor.

Heyne, K. 1987. Tumbuhan Serbaguna III. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Departemen Kehutanan. Jakarta.

Ika. 2012. Produksi Biodiesel Indonesia kurang 820 ribu kilo liter. Website http://ugm.ac.id/index.php?page=rilis&artikel=4654. Diakses tanggal 7 Desember 2013.

Johnsen, O., J. Dietrichson, dan G. Skaret. 1989. Phenotypic changes in progenies of northern clones of Picea abies (L.) Karst. grown in a southern seed orchard. III. Climate changes and growth in a progeny trial. Scand. J. For. Res. 4: 343-350.

Kompas. 2013. Kompas. 2013. Bahan Bakar Nabati: Wajib Pakai Produksi Biodiesel Dalam Negeri. Terbit Sabtu, 31 Agustus 2013.

Leksono, B dan K.P.Putri. 2013. Variasi ukuran buah-biji dan sifat fisiko-kimia minyak nyamplung (Calophyllum inophyllum L.) dari enam populasi di Jawa. Prosiding Seminar Nasional : Peranan hasil litbang hasil hutan bukan kayu dalam mendukung pembangunan kehutanan, Mataram 12 September 2012. Puslit Peningkatan Produktivitas Hutan, Litbang Kehutanan. Hal 322-335

Lin, T.S. 1983. Variation in content and composition of essential oil from Litsea cubeba collected in different months. Bulletin of the Taiwan Forestry Research Institute No. 398.

9 pp.

Millettia Plantations. 2010. Millettia pinnata: the sustainable biofuel crop of the future.

http://www.millettiaplantations.com. Diakses pada tanggal 27 November 2012.

Mukta, N. dan Y. Sreevalli. 2010. Propagation Techniques, Evaluation and Improvement of The Biodiesel Plant Pongamia pinnata (L) Pierre – A Review. Industrial Crops and Product 31:

1 – 12.

Nambiar, E.K.S dan A.G. Brown. 1997. Management of soil nutrient and water in Tropical Plantation Forest. ACIAR and CIFOR Published. CSIRO Canberra. Australia.

54

Narendra, B.H. 2010. Pengaruh mikoriza dan rhizobium terhadap pertumbuhan bibit kaliandra (Calliandra calothyrsus Meissn). Prosiding seminar nasional : Kontribusi litbang dalam peningkatan produktivitas dan kelestarian hutan, Bogor 29 November 2010. Badan Litbang Kehutanan. Hal 261 – 266.

Owens JN and Blake MD. 1985. Forest Tree Seed Production. A review of literature and recommendation for the future research. Canadian Forestry Service. Inf. Ref. PI-X-53, 161 p.

Pratiwi. 1999. Karakteristik lahan habitat pulai gading (Alstonia scholaris R.Br.) di Hutan Tanaman, Sumatera Selatan. Buletin Penelitian Hutan 618 : 13-30.

Pusat Pengelolaan Ekorgion Sumatera Kementerian Lingkungan Hidup. 2014. Status Kualitas Lingkungan Provinsi Lampung. Data dan Informasi Lingkungan Hidup Sumatera.http://ppesumatera.menlh.go.id.

Putri, KP., N. Siregar, M. Sanusi dan Abay. 2011. Kuantifikasi Produksi Buah Tanaman Hutan Jenis Ganitri (Elaecarpus ganitrusi) dan Kilemo (Litsea cubeba). [Laporan Hasil Penelitian]. Balai PenelitianTeknologi Perbenihan. Badan Litbang Kehutanan, Bogor.

[Indonesia].

Rostiwati T., Y. Heryati, S. Bustomi. 2006. Review hasil Litbang kayu energi dan turunannya.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman.Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Bogor

Schmidt L. 2000. Pedoman penanganan benih tanaman hutan tropis dan sub tropis.

Departemen Kehutanan dan Indonesia Forest Seed Project. Jakarta.

Setiawati, MR. B.N. Fitriatin, dan P. Suryatman. 2000. Pengaruh Mikoriza danPupuk Fosfatterhadap Drajat Infeksi Mikoriza dan KomponenPertumbuhan Tanaman Kedelai.Proseding Seminar Nasional Mikoriza I.Bogor.

Soerawidjaja, T.H. 2007a. Mabai atau Malapari atau Kranji (Pongamia pinnata). Pusat Penelitian Energi Berkelanjutan (Center for Research on Sustainable Energi). Institut Teknologi Bandung. Bandung. Tidak dipublikasikan.

Soerawidjaja, T. H. 2007b. An Overview on Biofuels: The 3rd MRPTNI – CUPT Conference, Chiang Mai, Thailand, 15 December 2007

Sopamena, C.H.A. 2007. Hitaullo (Calophyllum inophyllum L.): Sumber Energi Bahan Bakar Nabati (BBN) dan Tanaman Konservasi. ISBN 978-979-15684-0-19 789791. BAPINDO.

Bandung.

Sri-Ngernyuang K, Kanzaki M, Itoh A. 2007. Seed production and dispersal of four Lauraceae species in a tropical lower montane forest, Northern Thailand. Mj. Int. J. Sci. Tech 01:

73-87.

Suita, E., T. Suharti, D. Haryadi dan Abay. 2012. Pengujian Mutu Fisik, Fisiologis Dan Pendugaan Umur Simpan Benih Jenis Weru (Albizia ProceraBenth) Dan Pilang (Acacia Leucophloea).

Laporan Hasil Penelitian (tidak diterbitkan)

Suita, E. dan S. Bustomi. 2014. Teknik Peningkatan Daya Dan Kecepatan Berkecambah Benih Pilang. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. 11 No. 1, Maret 2014: 45-52

Suita, E., D. Syamsuwida, Suherman, A.H. Setiawan. 2014. Pengujian Mutu Fisik, Fisiologis Dan Penyimpanan Benih Jenis Malapari (Pongamia Pinnata Merril) Dan Turi (Sesbania Grandiflora). Laporan Hasil Penelitian (tidak diterbitkan)

55

Susanto, M., T.A Prayitno dan Y. Fujisawa. 2008. Wood genetic variation of Acacia auriculifomis at Wonogiri Trial in Indonesia. Journal of Forestry Research Vol 5 (2):125-134.

Syachri, N.T. 1982. Beberapa sifat kayu dan limbah pertanian sebagai sumber energy. Laporan Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan 1982 (161):17 – 22.

Syamsuwida, D., A. Aminah dan A. Muharam. 2011. Fenologi dan Potensi Produksi Benih Tanaman Penghasil Kayu Energi Jenis Weru (Albizia procera), pilang (Acacia leucophloea), akor (Acacia auriculiformis) dan kaliandra (Caliandra callothyrsus).

Laporan Hasil Penelitian. Balai Penelitian Teknologi Perbenihan. Bogor. Tidak diterbitkan.

Syamsuwida, D.R. Kurniaty, K.P.Putri dan E. Suita. 2014. Kaliandra ( Calliandra callothyrsus) as a timber for energy: In a point of view of seeds and seedlings procurement. Journal Energy Procedia 47 (2014 : 62-70).

Tabla, V.P and C.F Vargas. 2004. Phenology and phenotypic natural selection on the flowering time of a deceit-pollinated tropical orchid, Myrmecophila christinae. Annals of Botany, 94(2): 243-250.http://aob.oxfordjournals.org

Utami, S. dan Asmaliyah. 2010. Potensi pemanfaatan tumbuhan obat di Kabupaten Lampung Barat dan Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung. Tekno Hutan Tanaman Vol. 3 (2): 1-29.

Wardah. 2005. Keanekaragaman jenis tumbuhan di kawasan hutan Krui, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan Lampung Barat. J.Tek.Ling. P3TL-BPPT 6(3): 477-484.

Wiens D, Calvin CL, Wilson CA, Davern CI, Frank D, Seavey SR. 1987. Reproductive success, spontaneous embryo abortion and genetic load in flowering plants, Oecologia 71:501- 509

Zuhud EAM. 2008. Potensi hutan tropika Indonesia sebagai penyangga bahan obat alam untuk kesehatan bangsa. http://www.academia.edu/5650004.

57

PENGARUH PENGUSANGAN TERHADAP VIABILITAS BENIH AKOR (Acacia auriculiformis) DAN KALIANDRA (Calliandra calothyrsus)

Tati Suharti dan Eliya Suita

Peneliti Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Tanaman Hutan

ABSTRAK

Pengusangan merupakan salah satu perlakuan terhadap benih yang dapat menyebabkan kemunduran kualitas benih karena lingkungan. Untuk mengetahui proses alami penurunan kualitas benih kaliandra dan akor maka dilakukan penelitian mengenai pengaruh pengusangan terhadap viabilitas benihnya.

Pengusangan dilakukan dengan cara menempatkan benih dalam bak yang telah diisi air sebanyak 150 ml, kemudian dimasukkan ke dalam inkubator pada suhu 40°C selama jangka waktu tertentu sesuai dengan taraf pengusangan yang diberikan. Perlakuan pengusangan untuk masing-masing jenis benih yang akan diuji antara lain: Jenis Kaliandra: (a) kontrol (tanpa perlakuan), (b). benih diusangkan selama 24 jam, (c). 48 jam, (d) 72 jam, (e) 96 jam, (f) 120 jam, (g) 144 jam, (h) 168 jam, (i)192 jam, (j) 216 jam (k) 240 jam. Jenis Akor: (a) kontrol (tanpa perlakuan), (b). benih diusangkan selama 48 jam, (c). 96 jam, (d) 144 jam, (e) 192 jam, (f) 240 jam, (g) 288 jam, (h) 336 jam. Pengusangan benih kaliandra yang di usangkan selama 240 jam masih menghasilkan daya berkecambah cukup tinggi yang tidak berbeda nyata sebelum di usangkan yaitu dengan daya berkecambah 89,50% dan begitu juga dengan benih akor yang di usangkan selama 336 jam dengan daya berkecambah 51,33%.

Kata kunci: akor, daya berkecambah, kaliandra, pengusangan

I. PENDAHULUAN

Penurunan kualitas benih merupakan proses alami yang tidak dapat dihindari. Proses kemunduran benih terjadi secara simultan dan merupakan proses yang tidak dapat dipisahkan hingga benih menjadi tidak viabel. Empat proses awal yang terjadi pada saat benih mulai mengalami kemunduran sejak benih mulai dipanen adalah kerusakan akibat radikal bebas, hilangnya integritas membrane, hilangnya aktivitas enzim dan aktivitas sel. Proses ini akan mengakibatkan berlangsungnya proses-proses selanjutnya, sehingga benih menjadi tidak viabel lagi (Bewley dan Black, 1985). Penurunan kualitas benih dapat diperlambat melalui penyimpanan yang tepat. Salah satu cara untuk mengetahui percepatan penurunan kualitas benih adalah melalui pengusangan dipercepat (accelerated ageing) (Zanzibar, 2007).

Pengusangan dipercepat adalah pengujian dengan menggunakan kondisi yang diperburuk berupa panas, oksigen, sinar matahari, getaran, dan lain-lain, untuk mempercepat proses penuaan benih. Pengusangan merupakan salah satu perlakuan terhadap benih yang dapat menyebabkan kemunduran kualitas benih karena lingkungan, yaitu dengan temperatur yang tinggi (40-50°C) dan kelembaban yang tinggi (>90%). Perlakuan ini merupakan pendekatan untuk mendapatkan benih dengan kondisi yang sama dengan benih yang sudah mengalami periode penyimpanan tertentu (Zanzibar, 2003). Hal ini digunakan untuk menentukan efek jangka panjang dari tingkat stres yang diharapkan dalam waktu yang lebih pendek. Metode pengusangan cepat juga digunakan untuk pendugaan daya simpan kedelai (Maesaroh et al., 2012), pengujian vigor daya simpan padi (Cutrisni et al., 2011) dan deteksi dini mutu dan ketahanan simpan benih jagung hibrida (Koes dan Arief, 2010). Beberapa hasil penelitian pengusangan jenis jati selama 9 hari menghasilkan daya berkecambah dan potensial tumbuh maksimum tertinggi (43,359% dan 44,253%) (Prasodjo dan Wiguna, 2002). Menurut Ekowahyuni et al. (2013), metode pengujian vigor daya simpan khususnya benih cabai dapat

58

dihasilkan dengan metode pengusangan cepat, hasil penelitian yang terbaik yaitu metode pengusangan cepat methanol 20% pada 0, 2, 4, 6 dan 8 jam. Menurut Wafiroh et al. (2010) metode pengusangan cepat terkontrol juga dapat untuk menguji vigor lot benih wijen di laboratorium.

Kaliandra (Calliandra calothyrsus) dan Akor (Acacia auriculiformis) merupakan jenis penghasil kayu energi. Akor merupakan bahan untuk kayu bakar dan kayunya juga baik untuk membuat kertas, perabot dan peralatan. Species ini dapat tumbuh pada lahan marjinal, pada lahan bekas tambang dengan pH 3 hingga pantai berpasir dengan pH 8-9, lahan tergenang, lahan alang-alang sehingga sangat cocok untuk rehabilitasi lahan kritis (Joker, 2001). Kaliandra dikenal sebagai tanaman serbaguna karena manfaatnya untuk penghijauan, pencegah erosi, sumber kayu bakar, peternakan lebah madu dan makanan ternak (Tangendjaja et al., 1992).

Untuk mengetahui penurunan kualitas benih kaliandra dan akor maka dilakukan penelitian mengenai pengaruh pengusangan terhadap viabilitas benihnya.

II. METODOLOGI