ASPEK PERBENIHAN
B. Viabilitas benih sengon
Dalam penelitian ini dilakukan pula pengujian viabilitas terhadap benih sengon yang berasal dari berbagai lokasi. Pengamatan dilakukan terhadap daya kecambah benih (DB) dan kecepatan berkecambah (KCT), kedua respon ini merupakan informasi awal untuk mengetahui mutu fisiologis benih. Hasil pengamatan daya berkecambah dan kecepatan berkecambah dapat dilihat pada Gambar 4 dan Gambar 5.
Gambar 4. Daya berkecambah benih dari tiga lokasi asal benih
Sengon yang tumbuh di Papua sampai saat ini masih belum terserang karat puru, sehingga terlihat benih sengon yang berasal dari Papua mempunyai rata-rata daya berkecambah paling tinggi (Gambar 4). Demikian pula dengan kecepatan berkecambah benih asal Papua mempunyai nilai rata-rata tertinggi (Gambar 5), hal ini berarti benih sengon asal Papua mempunyai vigor yang lebih tinggi dibanding benih asal lainnya.
67
Gambar 5. Kecepatan berkecambah (KCT) benih sengon dari tiga lokasi asal benih
Waktu berkecambah benih, untuk benih asal Kediri dan Papua mulai berkecambah normal pada hari ke lima dan enam setelah tabur, sedangkan benih asal Garut dan Boyolali mulai berkecambah normal pada hari ke delapan setelah tabur. Terlihat benih asal Garut dan Boyolali lebih lambat berkecambah, dan mempunyai daya berkecambah dan kecepatan yang rendah. Gambar 6 menunjukkan perbedaan waktu dan jumlah kecambah yang tumbuh dari setiap asal benih.
Gambar 6. Jumlah kecambah normal pada setiap hari pengamatan
Benih asal Papua mulai berkecambah pada hari ke 6 setelah tabur dan mencapai puncaknya pada hari ke 8 setelah tabur, sedangkan benih asal Kediri mulai berkecambah pada hari ke 5 dan mencapai puncaknya pada hari ke 7. Benih asal Garut dan Boyolali mempunyai jumlah kecambah rendah dan mulai berkecambah pada hari ke 7 dan mencapai puncaknya pada hari ke 11. Berdasarkan Gambar 6 tersebut terlihat benih asal Papua lebih vigor, lebih cepat berkecambah dengan jumlah kecambah normal tertinggi dibanding tiga lokasi lainnya.
Hal ini juga terlihat dari total kecambah normal yang tumbuh sampai akhir pengamatan (Gambar 4), DB benih asal Papua mempunyai nilai tertinggi (84,25%).
Hampir seluruh tegakan sengon yang berada di Pulau Jawa sudah terserang karat puru, demikan pula dengan tegakan di Kediri dan Boyolali, kemungkinan polong yang sudah terserang karat puru, menginfeksi pula benihnya, sehingga berpengaruh terhadap perkecambahan.
Namun hal ini perlu pengamatan lebih lanjut pada tingkat bibit, apakah akan mempengaruhi pertumbuhan bibit serta kemunculan karat puru pada bibit.
Terbawanya karat puru pada benih sengon, merupakan salah satu penyebab semakin cepatnya penyebaran serangan karat puru, khususnya di Pulau Jawa, sebagai sentra tanaman
68
sengon rakyat. Upaya pengendalian karat puru sudah banyak dilakukan, namun hingga saat ini pengendalian pada tingkat benih belum pernah dilakukan, karena pengendalian lebih difokuskan pada tanaman muda maupun tua dilapangan. Melihat gejala yang sudah disampaikan diatas terlihat benih dapat menjadi salah satu penyebab tersebarnya karat puru, oleh karena itu pengendalian ditingkat benih mutlak dilakukan. Adapun beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain dengan melalukan sterilisasi benih sebelum disemai, yaitu benih dicuci atau disterilkan dengan klorox. Metoda lain yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan vigor benih, yaitu melalui metoda primming. Bila serangan karat muncul pada tingkat bibit, maka bibit yang terkena serangan karat puru segera disingkirkan dan dimusnahkan agar tidak tumbuh dan menyebar ke tanaman lainnya.
Pada tingkat regulasi dapat didekati dengan mengawasi peredaran atau lalu lintas benih.
Hingga saat ini peredaran benih tanaman hutan belum sepenuhnya terawasi dengan baik, sehingga upaya untuk mengatur peredaran benih harus segera dilakukan. Tanaman sengon di beberapa tempat di luar Jawa, belum mengalami serangan karat puru, oleh karena itu perlu adanya pengaturan peredaran benih sengon yang berasal dari Pulau Jawa, untuk sementara sebaiknya benih sengon yang berasal dari Pulau Jawa tidak diedarkan di luar Jawa.
IV. KESIMPULAN
Penyebaran penyakit karat puru pada tanaman sengon dapat terbawa pada polong maupun benih, sehingga berpengaruh terhadap viabilitas benih. Selain itu benih dan polong yang terserang karat puru dapat berfungsi sebagai vector penyebaran karat ke wilayah lain. Oleh karena itu upaya pengendalian pada tingkat benih mutlak dilakukan, selain melalui teknik penanganan benih juga perlu adanya pengawasan terhadap sistem peredaran benih sengon.
UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terima kasih disampaikan kepada Bapak Ir. Joakim Sagala, Kepala Balai BPTH Maluku- Papua atas bantuan benih sengon asal Papua, serta kepada Sdri Dina Agustina, Sdr. Dwi Haryadi, Sdr. Emuy Supardi, Sdr. Ateng Rahmat, Sdri Anggun, Sdri Suherman dan Sdr Agus Hadi serta seluruh pihak yang telah membantu penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
Anggraeni, I. 2008. Pengendalian Penyakit Karat Tumor (Gall Rust) Pada Sengon (Paraserianthes Falcataria) Di RPH Pandantoyo, BKPH Pare, KPH Kediri. Makalah Workshop Penanggulangan Serangan Karat Puru pada Tanaman Sengon 19 Nop 2008. Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan.
Baskorowati, L. 2014. Seleksi Genetik Sengon (Falcataria moluccana) Toleran Karat Tumor.
Leaflet. Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan.
Lazreg, L. Belabid, J. Sanchez, E. Gallego dan B. Bayaa. 2014. Pathogenicity of Fusarium spp.
Associated with Diseases of Aleppo-pine Seedling in Algerian Forest Nurseries. Journal of Forest Science 60 (3): 115 – 120.
Lelana, N.E. 2014. Pengembangan Fungi Endofit sebagai agen pengendali hayati pada tanaman Jabon, Sengon dan benuang bini. Laporan Hasil Penelitian Tahun 2014. Pusat Peningkatan Produktivitas Hutan. Bogor.
69
Lelana, N.E. 2015. Penanganan Penyakit Karat Puru pada Sengon. Makalah disampaikan pada Workshop Pengelolaan Hama & Penyakit Tanaman Sengon. Kediri 25-26 Agustus 2015.
Tidak diterbitkan.
Majumder D, Thangaswamy Rajesh, E. G. Suting, Ajit Debbarma. 2013. Detection of seed borne pathogens in wheat: recent trends. Aus. Journal of Crop Science. 7 (4): 500-507.
Naqvi, S. D. Y., T. Shiden, W. Merhawi dan S. Mehret. 2013. Identification of Seed-borne Fungi on Farmer Saved Sorghum (Sorghum bicolor L.) Pearl Millet (Pennisetum glaucum L.) and Groundnut (Arachis hypogaea L.) Seeds. Agricultural Science Research Journals 3 (4):
107 – 114.
Rahayu, S. Susee Lee, Nor aini ab Shukor. 2010. Uromycladium tepperianum, the gall rust fungus from Falcataria moluccana in Malaysia and Indonesia. Mycoscience 51(2):149- 153. DOI: 10.1007/s10267-009-0022-2
Setiadi D, Liliana Baskorowati, dan Mudji Susanto. 2014. Pertumbuhan Sengon Solomon Dan Responnya Terhadap Penyakit Karat Tumor Di Bondowoso, Jawa Timur. Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan. Vol. 8 No. 2: 121-136
Suharti, Yulianti Bramasto, Naning Yuniarti, 2014. Pengaruh Teknik Pengendalian Penyakit Benih Jabon Merah (Anthocephalus Macrophyllus) Selama Penyimpanan Terhadap Viabilitas Benih Dan Persentase Infeksi Cendawan. Prosiding Seminar Nasional Fitopatologi, Padang. Sumbar.
Suharti Dan Yulianti Bramasto, 2014. Pengaruh Teknik Pengendalian Penyakit Benih Tembesu (Fagraea Fragrans) Selama Penyimpanan Terhadap Viabilitas Benih Dan Persentase Infeksi Cendawan. prosiding Seminar Nasional Silvikultur ke-2, tgl 28 Agustus 2014).
Sumeru, DR. 2013. Karakteristik morfologi dan patogenesitas jamur penyebab penyakit karat tumor pada sengon gunung (Paraserianthes lophantha). Skripsi. Program Studi Budidaya Hutan. Fakultas Kehutanan. Universitas Gajah Mada.
Triyogo dan Widyastuti. 2012. Peran Serangga sebagai vector penyakit karat puru pada sengon (Albizia falcataria L. Fosberg). J. Agron. Indonesia 40 (1): 77-82.
Widyastuti SM, Harjono, Zulchan Andika Surya. 2013. Initial Infection of Falcataria moluccana leaves and Acacia manium Phyllodes by Uromycladium tepperianum Fungi in Laboratory Trial. Jurnal Manejemen Hutan (JMHT) Vol.XIX, (3): 187-193.
Yulianti, B. dan T. Suharti. 2007. Pengaruh Hama dan Penyakit Pada Benih Tanaman Hutan Serta Pengaruhnya Terhadap Viabilitas dan Vigor Bibit Di Persemaian. Laporan Hasil Penelitian. Balai Litbang Teknologi Perbenihan. Bogor.
71
FENOLOGI PERKEMBANGAN BUNGA DAN BUAH NYAMPLUNG (Callophylum inophylum)
Evayusvita Rustam, Dida Syamsuwida dan Aam Aminah Peneliti Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Tanaman Hutan
ABSTRAK
Tujuan penelitian adalah mempelajari fenologi perkembangan bunga dan buah nyamplung yang meliputi stuktur dan inisiasi bunga serta siklus perkembangan pembungaan dan pembuahan. Penelitian dilakukan di Batukaras-Ciamis (Jawa Barat) mulai bulan Februari sampai Oktober 2013. Kegiatan meliputi pemilihan dan penentuan pohon yang diamati, pengamatan jaringan tunas bunga serta pengamatan tahap pembungaan dan pembuahan. Metode yang digunakan adalah pengamatan langsung terhadap bentuk dan struktur penyusun bunga. Metode inisiasi bunga dilakukan dengan teknik sayatan mikro (microcutting). Perkembangan bunga dan buah diamati secara visual terhadap tahap- tahap perkembangan mulai dari tunas generatif, kuncup bunga, bunga mekar, bakal buah hingga buah tua. Berdasarkan hasil pengamatan dapat di deskripsikan bahwa bunga nyamplung merupakan bunga majemuk yang tersusun dalam untaian seperti malai. Berdasarkan kelangkapan yang dimiliki, bunga nyamplung merupakan bunga lengkap dengan organ kelamin ganda (hermaprodit). Inisiasi bunga nyamplung terdeteksi pada bulan Mei, namun diduga sudah terjadi sejak bulan April hingga bulan Oktober 2013 Siklus reproduksi nyamplung terjadi antara 130-175 hari atau 4-6 bulan mulai dari tunas generatif pada bulan April sampai buah masak siap panen bulan Juli-Agustus 2013.
Kata kunci: bunga, buah, nyamplung, organ reproduksi, struktur
I. PENDAHULUAN
Nyamplung (Calophyllum inophylum) adalah jenis tanaman hutan yang akhir-akhir ini menjadi pusat perhatian pemerhati energi karena berpotensi tinggi sebagai sumber bioenergi terbarukan (Hayes et al., 2007; Bustomi et al., 2009). Pemanfaatan nyamplung dari segi teknis sebagai biofuel sudah dapat diatasi, akan tetapi pembatas utama dari pengembangan bioenergi nyamplung adalah bahan baku berupa biji. Sampai saat ini pemenuhan biji nyamplung masih dikumpulkan dari tegakan alami yang banyak tumbuh sepanjang pantai sebagai windbreak.
Upaya di sektor budidaya nyamplung telah dilakukan dengan penanaman di beberapa lokasi di Jawa Timur, Jawa Tengah, Banten dan Sulawesi Selatan berkaitan dengan program DME (Desa Mandiri Energi) berbasis nyamplung (Leksono et al., 2014). Namun sampai saat ini produksi buah masih jauh dari target yang diharapkan.
Keberhasilan usaha peningkatan produktivitas benih berhubungan erat dengan pengeta- huan mengenai biologi reproduksi. Pembungaan, penyerbukan dan pembentukan buah sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor internal (fithohormon, genetis) dan eksternal (kondisi ling- kungan), karenanya pengetahuan mengenai faktor-faktor tersebut serta pengaruhnya terhadap tiap tahap perkembangan organ reproduksi harus diketahui. Di bidang kehutanan, semua penelitian tentang ekologi reproduksi mengarah pada hasil akhir berupa peningkatan kuantitas dan kualitas biji, baik dari sisi genetis maupun fisiologis (Suginingsih dan Daryono, 2006).
Fenomena alam yang terjadi pada siklus hidup tanaman seperti gugurnya daun, pembungaan dan pembuahan biasanya bervariasi menurut kondisi lingkungannya, terutama jika spesies tersebut dapat hidup di kisaran tipe iklim dan edafik yang luas (Bawa dan Hadley 1990, Owens et al., 1991). Keberhasilan proses reproduksi suatu tanaman bergantung pada kemampuannya melampaui tahapan-tahapan perkembangan yang dimulai dengan inisiasi
72
kuncup bunga dan berakhir dengan kematangan buah dan biji. Kegagalan pada salah satu tahapan perkembangan ini dapat berakibat pada turunnya produktivitas biji sebagai hasil akhirnya (Owens et al., 1991). Oleh karena itu informasi tentang pembungaan dan pembuahan, melalui studi fenologi pembungaan, sangat diperlukan. Pemahaman tentang fenologi pembu- ngaan dan pembuahan akan meningkatkan kualitas dan kualitas benih melalui prediksi waktu pemanenan dan produksi benih yang tepat. Proses pembungaan mengandung sejumlah tahap penting, yang semuanya harus berhasil dilalui untuk memperoleh hasil akhir yaitu biji, dan masing-masing tahap tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor internal dan eksternal yang ber- beda. Beberapa faktor eksternal diantaranya faktor iklim yang mempengaruhi pembungaan dan pembuahan adalah suhu, kelembaban, intensitas cahaya dan curah hujan (Haferkamp, 1988).
Setiap bunga memiliki potensi untuk berkembang menjadi buah dan benih, tetapi hasil pengamatan menunjukkan bahwa meskipun pembungaan merupakan prasyarat untuk pembuahan, namun pembungaan yang banyak terkadang menghasilkan produksi benih yang rendah. Pada kenyataannya hanya sebagian dari bunga yang berkembang menjadi buah dan benih yang baik walaupun pada musim benih yang baik. Hal ini terutama tampak jelas pada jenis-jenis Angiosperma dengan bunga yang kecil dan buah yang besar (Schmidt, 2000). Tujuan penelitian ini adalah mempelajari fenologi perkembangan bunga dan buah nyamplung yang meliputi stuktur dan inisiasi bunga serta siklus perkembangan pembungaan dan pembuahan.
II. BAHAN DAN METODE A. Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan adalah pohon, bunga dan buah nyamplung, aquades, alkohol 96%, Formalin dan asam cuka. Alat-alat yang digunakan adalah preparat, mikroskop, silet, timbangan analitis, oven, pinset dan kaliper, kamera, alat ukur, tangga pengamatan, kantong plastik, label.