ASPEK PERBENIHAN
D. Analisis Data
IV. TEKNIK CANGKOK (AIR LAYERING) PADA KAYU BAWANG
4. Keterampilan pekerja
Masing-masing pekerja mempunyai keterampilan yang berbeda-beda dalam menunjang keberhasilan pembuatan cangkok, beberapa hal yang seringkali lalai dilakukan oleh pekerja yang menyebabkan ketidakberhasilan pembuatan cangkok adalah: a) pengerokan/pembersihan kambium kurang bersih, sehingga kulit batang/cabang segera pulih kembali, b) penggunaan pisau untuk memotong kulit batang/cabang yang kurang tajam, sehingga menyebabkan kerusakan jaringan pada tempat terbentuknya perakaran, c) pembungkusan media dan pengikatan media yang kurang bagus, sehingga media tidak kompak dan mudah hancur/pecah bilamana terkena hujan dengan intensitas yang tinggi.
Kegiatan pembuatan cangkok pada tanaman kayu bawang secara spesifik bukanlah dijadikan sebagai materi perbanyakan massal ataupun materi untuk tanaman baru. Kegiatan pencangkokan dimaksudkan untuk meng”copy” genetik induk yang mempunyai sifat-sifat unggul dan dijadikan sebagai materi dasar. Dalam kasus seperti ini, Zobel dan Talbert (1984) mengistilahkan bahwa cangkok merupakan teknik “antara” untuk menghasilkan perakaran sebagai pembentuk materi dasar. Materi dasar hasil cangkokan nantinya dikembangkan secara lanjut di persemaian dalam bentuk kebun perbanyakan, dimana penyusun kebun perbanyakan hanya ditujukan untuk memproduksi tunas-tunas juvenil yang digunakan sebagai bahan perbanyakan vegetatif dengan stek (Utami et al., 2012) atau teknik perbanyakan makro dan mikro lainnya.
V. PENUTUP
Pembiakan vegetatif pada tanaman kayu bawang merupakan salah satu solusi untuk mengatasi keterbatasan produksi benih dalam rangka pemenuhan kebutuhan bibit. Pembiakan vegetatif pada cabang/batang tanaman kayu bawang tua dapat dilakukan dengan sistem cangkok dengan tingkat keberhasilan yang tinggi. Kegiatan cangkok ini hanya dilakukan untuk tujuan meng“copy” genetik induk sebagai penyedia materi dasar perbanyakan untuk kegiatan berikutnya. Bilamana materi dasar sudah terbentuk, maka sebagai langkah tindak lanjut adalah dilakukannya teknik perbanyakan massal dengan pembiakan vegetatif stek pucuk.
104
DAFTAR PUSTAKA
Apriyanto, E. 2003. Pertumbuhan Kayu Bawang (Protium javanicum Burm.f) pada Tegakan Monokultur Kayu Bawang di Bengkulu Utara. Jurnal Ilmu Ilmu Pertanian Indonesia Vol. 5, No.2 tahun 2003. Diakses di http://www. Bdpunib.org/jipi/artikeljipi /2003/64.PDF pada tanggal 13 Agustus 2007.
Baskorowati, L. 2012. Pengembangan Klon dan Hibridisasi. Status Penelitian Pemuliaan Tanaman Hutan di Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan.
Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BBPBPTH).
Kementerian Kehutanan. Yogyakarta.
Brennan, E. B., and K.W. Mudge. 1997. Vegetative propagation of Inga feuillei from shoot cuttings and air layering. New forests 15:37-51, 1998. Kluwer Academic Publishers.
Netherlands.
Buharman, D. F. Djam’an, N. Widyani, S. Sudradjat. 2011. Atlas Benih Tanaman Hutan Indonesia Jilid II “Sentang (Azadirachta excelsa (Jack) Jacobs)”. Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Tanaman Hutan. Badan Litbang Kementerian Kehutanan. Bogor.
Chauhan, V. S., V. P. Ahlawat and M. S. Joon. 2008. Studies on Air Layering in Litchi (CV, Early Large Red). Agric. Sci. Digest, 28 (3): 186-188, 2008.
Dinas Kehutanan Provinsi Bengkulu. 2003. Budidaya Tanaman Kayu Bawang. Dinas Kehutanan Provinsi Bengkulu. Bengkulu.
Eganathan, P., C.S. Rao, A. Anand. 2000. Vegetative Propagation of three mangrove tree species by cuttings and air layering. Wetlands Ecology and Management 8: 281-286, 2000.
Kluwer Academic Publishers. Netherlands.
Gowda, V. N., V. Kumar, P.V.K. Reddy. 2011. Studies on vegetative propagation in jamun (Syzygium cumini). Acta Horticulturae 2011 No. 890 pp. 107-110.
Granzow, I. 1999. Air-Layering Shows Promise in Propagating Tropical Trees (Nicaragua).
Ecological Restoration 17:1 & 2 Spring/ Summer.
Hardiyanto, E. B. 2004. Pembangunan Hutan Tanaman Acacia mangium “Silvikultur dan Pemuliaan Acacia mangium”. Pengalaman di PT. Musi Hutan Persada, Sumatera Selatan.
PT. Musi Hutan Persada.
Herbert H. Jervis. 1997. The Beneficial Apects of Cloning: A View From The Plant World.
Jurimetrics, Vol. 38, No. 1 (Fall 1997), pp. 97-102.
Hussain, A., A.G. Pandurangan, R. Remya. 2013. Clonal propagation through stem cuttings and air layering in Dysoxylum malabaricum Bedd. Ex Hiern. An endemic and rare tree species of the Western Ghats. Indian Journal of Forestry 2013 Vol. 36 No. 2 pp. 187-190.
Jaenicke, H., J. Beniest. 2002. Vegetative Tree Propagation in Agroforestry. International Centre for Research in Agroforestry (ICRAF). Nairobi, Kenya.
Joker, D. 2000. Seed Leaflet: Azadirachta excelsa (Jack) M. Jacobs. Danida Forest Seed Centre.
Denmark.
Kawai, M. 1997. Artificial ectomycorrhiza formation on roots of air-layered Pinus densiflora saplings by inoculation with Lyophyllum shimeji. Mycologia, 89(2), 1997, pp. 228-232.
Modi, D. J., B. K. Patel, H.S. Bhadauria, L. R. Varma and V. R. Garasiya. 2012. Effect of different level of indole butyric on air layering of cashewnut (Anacardium occidentale L.) cv.
Vengurla-6, Asian J. Hort., 7(2): 626-627.
105
Muslimin, I., N. Herdiana, K. Mulyadi. 2014. Laporan Hasil Penelitian “Pembangunan Sumber Benih Jenis Kayu Bawang (Azadirachta excelsa (Jack) Jacobs). Balai Penelitian Kehutanan Palembang. Kementerian Kehutanan. Tidak dipublikasikan.
Mwangingo, P.P., L. L. Lulandala. 2011. Air Layering and its potential in propagating Uapaca kirkiana: a fruit tree from the miombo woodland, Tanzania. Southern Forests: A Journal of Forest Science. 2011, Vol. 73 Issue 2, p67-71. 5p.
Nurlia, A., dan E. A. Waluyo. 2013. Faktor-faktor Pembatas Yang Mempengaruhi Pengembangan Hutan Rakyat Kayu Bawang (Dysoxylum mollissimum Blume.) di Provinsi Bengkulu.
Prosiding Seminar Hasil Penelitian “Integrasi IPTEK dalam Kebijakan dan Pengelolaan Hutan Tanaman di Sumatera Bagian Selatan”. Palembang, 2 Oktober 2013. Kementerian Kehutanan. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan. Bogor.
Prastowo, N. H., J. M. Roshetko, G. E. S. Maurung, E. Nugraha, J. M. Tukan, F. Harum. 2006.
Teknik Pembibitan dan Perbanyakan Vegetatif Tanaman Buah. World Agroforestry Centre (ICRAF) & Winrock International. Bogor. Indonesia.
Pudjiono, S. 2008. Penerapan Perbanyakan Tanaman Secara vegetatif Pada Pemuliaan Pohon.
Makalah Gelar Teknologi Perbenihan Tanaman Hutan di Pekanbaru Riau Tanggal 21 Agustus 2008. Balai Besar Penelitian Biotekhnologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan.
Yogyakarta.
Rahman, E., M. L. Hutagalung, Y. T. Surbakti. 2012. Makalah Dasar-dasar Agronomi
“Perbanyakan Tanaman Secara Vegetatif”. Program Studi Agribisnis. Fakultas Pertanian Universitas Jambi. Tidak dipublikasikan.
Siahaan, H., dan A. Sumadi. 2013. Pertumbuhan dan Produktivitas Agroforestri Kayu Bawang di Propinsi Bengkulu. Prosiding Seminar Hasil Penelitian “Integrasi IPTEK dalam Kebijakan dan Pengelolaan Hutan Tanaman di Sumatera Bagian Selatan”. Palembang, 2 Oktober 2013. Kementerian Kehutanan. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan. Bogor.
Siregar, N., D. F. Djam’an. 2007. Teknik Perbanyakan Vegetatif Untuk Memproduksi Bibit Beberapa Jenis Tanaman Hutan. Prosiding Seminar “Teknologi Perbenihan untuk Meningkatkan Produktivitas Hutan Tanaman Rakyat di Sumatera Barat”. Departemen Kehutanan. Balai Penelitian Teknologi Perbenihan. Bogor.
Subiakto, A. 2009. Aplikasi KOFFCO Untuk Produksi Stek Jenis Pohon Indigenous. Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam. Bogor.
Thakur, K. S., G. S. Shamet, A. D. Mundhe. 2011. Propagation of Neoza pine (Pinus gerardiana Wall) through cuttings and air-layering. Indian Journal of Forestry 2011. Vol. 34 No. 3 pp.
257-262.
Thirunavoukkarasu, M. Brahmam & N. K. Dhal. 2004. Vegetative Propagation Of Hymenaea Courbaril by Air Layering. Journal of Tropical Forest Science 16(2):268-270 (2004).
Tomar, A. dan V. R. R. Singh. 2011. Effect of air layering time (season) with the aid of Indole Butyric Acid in Ficus krishnae and Ficus auriculata. Indian Forester 2011 Vol. 137 No. 12 pp 1363-1365.
Utami, S., A. P. Yuna., T. R. Saepuloh. 2012. Budidaya Jenis Kayu Bawang Aspek Manipulasi Lingkungan. Laporan Hasil Penelitian. Kementerian Kehutanan. Balai Penelitian Kehutanan Palembang. Tidak dipublikasikan.
106
Verma, P.L., N. Das, V. Kumar, R. Kumar. 2013. Effect of Sphagnum spp. As substrate media on rooting response of Cinnamomum verumykesu (Syn. C. Zeylanicum Blume) through air layering. Journal of Non-Timber Forest Products 2013 Vol. 20 No. 3 pp 179-182.
Zobel dan Talbert. 1984. Applied Forest Tree Improvement. John Wiley & Sons Inc. Canada.
107
VARIASI GENETIK PERTUMBUHAN UJI KETURUNAN BAMBANG LANANG (Michelia champaca L.) UMUR 1 TAHUN Agus Sofyan, Abdul Hakim Lukman, Imam Muslimin dan Kusdi
Peneliti Balai Penelitian Kehutanan Palembang
ABSTRAK
Penelitian bertujuan untuk mengetahui variasi genetik, heritabilitas serta perolehan genetik harapan pertumbuhan tinggi dan diameter pohon bambang lanang (Michelia champaca L). Penelitian dilakukan pada uji keturunan half-sib M. champaca umur 1 tahun di Kabupaten Empat Lawang-Sumatera Selatan, menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK), 40 famili, 4 replikasi, 4 tanaman setiap plot (treeplot).
Variabel yang diukur adalah diameter pangkal batang dan tinggi pohon. Terdapat variasi genetik pertumbuhan tinggi dan diameter antar famili dengan nilai persentase komponen varians berturut-turut sebesar 1,19% dan 2,69%. Nilai heritabilitas individu (h2i) dan famili (h2f) sebesar 0,05 dan 0,07 untuk tinggi serta 0,11 dan 0,15 untuk diameter.
Kata kunci: Michelia champaca, half sib, uji keturunan, variasi genetik, heritabilitas
I. PENDAHULUAN
Bambang lanang (Michelia champaca L.) merupakan salah satu jenis tanaman lokal potensial untuk penghasil kayu pertukangan yang menjadi unggulan di Propinsi Sumatera Selatan. Pada awalnya jenis ini dikembangkan dan diminati oleh masyarakat di Kabupaten Empat Lawang. Melalui upaya kemandirian masyarakat, bambang lanang telah menyebar ke berbagai daerah di Sumatera Bagian Selatan seperti Lahat, Kota Pagaralam, Ogan Komiring Ulu, Musi Rawas, Muara Enim, Kota Lubuk Linggau, dan bahkan sampai ke Bengkulu dan Lampung (Martin et al., 2010). Jenis ini berkembang dengan pesat karena memiliki beberapa keunggulan yaitu batang bebas cabang cukup tinggi, lurus, ranting mudah gugur (pruning alami tinggi) dan tajuk yang tidak lebar sehingga cocok sebagai penyusun pola tanam campur. Riap diameter tanaman bambang dapat mencapai 3 cm per tahun (Sofyan et al., 2010) dengan produktivitas sekitar 17m3/ha/tahun (Lukman, 2012).
Budidaya tanaman bambang lanang pada saat ini masih dilakukan secara tradisional dengan praktek-praktek silvikultur yang sederhana. Kegiatan pemeliharaan seperti penyiangan gulma, pemupukan dan pemangkasan serta perlindungan terhadap hama dan penyakit belum dianggap sebagai komponen penting dalam budidayanya, begitu pula dengan penggunaan bahan atau materi tanaman seperti benih maupun bibit yang masih terkesan ‘seadanya’. Peran penerapan praktek silvikultur yang baik dan tepat serta penggunaan materi tanaman sangat menentukan dalam mencapai tujuan penanaman.
Pembangunan hutan tanaman (hutan rakyat maupun hutan tanaman rakyat) membutuhkan investasi yang cukup besar serta waktu yang relatif lama, karenanya harus diarahkan pada pembangunan hutan tanaman yang produktif. Peningkatan produktivitas harus di dukung dengan teknologi budidaya yang tepat serta penggunaan benih serta bibit yang bergenetik unggul. Pada saat ini, sumber benih tanaman kehutanan khususnya jenis-jenis lokal komersial belum cukup tersedia, sehingga ketersediaan benih maupun bibit yang unggul secara genetik belum dapat dipenuhi. Upaya penyediaan benih bergenetik unggul dapat dilakukan dengan membangun sumber benih yang didasarkan pada kaidah-kaidah dalam program pemuliaan tanaman.
108
Dalam rangka mendukung peningkatan produktivitas jenis bambang lanang, Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Palembang pada tahun 2011 telah membangun sumber benih dalam bentuk uji keturunan half sib yang berlokasi di Kabupaten Empat Lawang. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi variasi genetik pertumbuhan antar famili serta besarnya nilai heritabilitas dan perolehan genetik harapan.
II. BAHAN DAN METODE