ASPEK SILVIKULTUR
C. Metode
5. Nisbah Pucuk Akar (NPA)
Hasil analisis ragam pengaruh perlakuan teknik pengemasan terhadap nisbah pucuk akar dari tiap jenis transportasi (pesawat udara, bus, paket kiriman) disajikan pada Tabel 9.
Tabel 9. Hasil analisis ragam pengaruh perlakuan teknik pengemasan terhadap nisbah pucuk akar dari masing-masing jenis transportasi (pesawat udara, bus, paket kiriman)
Sumber Keragaman Derajat bebas Kuadrat Tengah
Pesawat udara Bus Paket Kiriman
Perlakuan 3 2,12 0,758 0,611
Sisa 8 1,788 0,453 0,499
Total 11
Berdasarkan hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan teknik pengemasan dengan menggunakan pesawat udara, bus dan paket kiriman tidak berpengaruh nyata terhadap nisbah pucuk akar bibit meranti bapa. Hal ini berarti bahwa semua perlakuan wadah pengemasan memberikan pengaruh yang sama terhadap nisbah pucuk akar. Adapun nilai rata-rata nisbah pucuk akar bibit meranti bapa dari masing-masing perlakuan dapat dilihat pada Tabel 10.
Tabel 10. Rata-rata nisbah pucuk akar bibit meranti bapa berdasarkan perlakuan pengaruh teknik pengemasan
No. Perlakuan Nisbah Pucuk Akar
Pesawat udara Bus Paket Kiriman 1. Serbuk sabut kelapa + kotak kayu 2,9103 2,3794 2,6158 2. Serbuk gergaji + kotak palstik 2,7392 2,1089 2,1989
3. Kertas merang + ice box 2,6798 1,6582 1,9145
4. Aquasorb + kotak kayu 2,7580 1,6594 1,9679
B. Pembahasan
Kualitas bibit merupakan suatu gambaran kesiapan bibit untuk dapat tumbuh dan beradaptasi di lapangan. Kualitas bibit secara praktis dapat dinilai dari kualitas fisiknya antara lain dengan menggunakna parameter persen hidup, tinggi, diameter, nisbah pucuk akar dan indeks mutu bibit.
Dilihat dari nilai persen hidup bibit meranti bapa pada pesawat udara, bis, dan paket kiriman (Tiki) diketahui bahwa perlakuan yang dapat menghasilkan nilai persen hidup paling tinggi yaitu perlakuan akar bibit diberi serbuk sabut kelapa lembab kemudian dimasukkan ke dalam kotak kayu.
158
Untuk tinggi bibit meranti bapa, pada pesawat udara, bis, dan paket kiriman (Tiki) diketahui bahwa perlakuan yang dapat menghasilkan nilai tinggi semai/bibit yang tertinggi yaitu perlakuan akar bibit diberi serbuk sabut kelapa lembab kemudian dimasukkan ke dalam kotak.
Diameter, nisbah pucuk akar, dan indeks mutu bibit tidak menunjukkan perbedaan yang nyata untuk semua perlakuan saat transportasi. Sehingga 4 macam teknik perlakuan pengemasan yaitu (1) akar bibit diberi serbuk sabut kelapa lembab kemudian dimasukkan ke dalam kotak kayu, (2) akar bibit diberi serbuk gergaji lembab kemudian dimasukkan ke dalam kotak plastik, (3) bibit dibungkus dengan kertas merang lembab kemudian dimasukkan ke dalam ice box, dan (4) akar bibit dicelupkan ke dalam larutan Aquasorb kemudian dimasukkan ke dalam kotak kayu, dapat meningkatkan diamater, nisbah pucuk akar dan indeks mutu bibit.
Dilihat dari nilai rata-rata diameter, maka perlakuan yang dapat menghasilkan nilai diameter batang bibit yang paling besar yaitu perlakuan akar bibit diberi serbuk sabut kelapa lembab kemudian dimasukkan ke dalam kotak kayu. Dari nilai nisbah pucuk akar (NPA) terlihat bahwa perlakuan yang dapat menghasilkan nilai NPA tertinggi yaitu perlakuan akar bibit diberi serbuk sabut kelapa lembab kemudian dimasukkan ke dalam kotak kayu. Nisbah pucuk akar dari pertumbuhan ujung dan pertumbuhan akar merupakan perbandingan antara bagian pucuk dengan bagian akar bibit. Gardner et al. (1991) menyebutkan nisbah pucuk akar dapat menggambarkan salah satu tipe toleransi terhadap kekeringan serta berhubungan dengan keseimbangan bibit dalam menyerap unsur hara dan air pada bagian akar dan proses fotosintesa pada bagian pucuk.
Walaupun nisbah pucuk akar dikendalikan secara genetik, rasio ini juga sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan yang kuat. Lakitan (2004) menjelaskan bahwa untuk daerah tropis bibit siap tanam akan lebih cocok apabila memiliki nisbah pucuk akar yang kecil.
Hal ini berhubungan dengan proses absorbsi unsur hara dan transpirasi yang dilakukan oleh tanaman yang proses transpirasinya sebagian besar dilakukan oleh stomata (80-90%). Nisbah pucuk akar merupakan faktor terpenting dalam pertumbuhan bibit karena mencerminkan perbandingan antara proses transpirasi dan luasan fotosintesis dari bibit dengan kemampuan penuerapan air dan mineral (Setyaningsih et al., 2000).
Selain itu, jika dilihat dari rata-rata nilai indeks mutu bibit (IMB), pada pesawat udara, bis, dan paket kiriman (Tiki) diketahui bahwa perlakuan yang dapat menghasilkan nilai IMB paling tinggi yaitu perlakuan akar bibit diberi serbuk sabut kelapa lembab kemudian dimasukkan ke dalam kotak kayu. Indeks mutu bibit merupakan salah satu indikator siap tidaknya bibit dipindah ke lapangan. Hendromono dan Durahim (2004) mengemukakan bahwa bibit yang memiliki nilai IMB minimal 0,09 akan memiliki daya tahan hidup yang tinggi apabila dipindah ke lapangan.
Berdasarkan nilai persen hidup, tinggi, diameter, nisbah pucuk akar, dan indeks Mutu Bibit, pada pesawat udara, bis, dan paket kiriman (Tiki) diketahui bahwa perlakuan yang terbaik untuk pengemasan semai/bibit meranti bapa adalah perlakuan akar bibit diberi serbuk sabut kelapa lembab kemudian dimasukkan ke dalam kotak kayu dapat bertahan dengan baik selama 72 jam.
Penggunaan serbuk sabut kelapa yang diberikan pada akar pada waktu pengemasan bibit bertujuan untuk menjaga kelembaban yang diperlukan oleh bibit selama proses transportasi agar terhindar dari kekeringan yang bisa mengakibatkan kematian pada bibit.
Menurut Schmidt (2000) sebaiknya hindari pengeringan selama proses pengangkutan. Agar terhindar dari pengeringan dapat dilakukan dengan menyimpannya dalam bahan lembab seperti serbuk kayu atau menempatkan bahan basah pada bagian atas wadah.
159
IV. KESIMPULAN
Teknik pengemasan berpengaruh nyata terhadap kualitas bibit, yaitu persen hidup dan tinggi bibit meranti bapa. Teknik pengemasan yang terbaik untuk bibit meranti bapa pada transportasi pesawat udara, bis, dan paket kiriman (Tiki) adalah perlakuan akar bibit diberi serbuk sabut kelapa lembab kemudian dimasukkan ke dalam kotak kayu.
DAFTAR PUSTAKA
Gardner, F.P., R.B. Pearce, dan R.L. Mitchell. 1991. Physiology of Crop Plants (Fisiologi Tanaman Budidaya, alih bahasa oleh Susilo, H). Universitas Indonesia Press. Jakarta.
428p.
Hendromono dan Durahim. 2004. Pemanfaatan Limbah Sabut Kelapa Sawit dan Sekam Padi Sebagai Medium Pertumbuhan Bibit Mahoni Afrika (Khaya anthoteca). Buletin Penelitian Hutan No. 644. Badan Litbang Kehutanan. Puslitbang Hutan dan Konservasi Alam. Bogor.
Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia, jil. 3. Yay. Sarana Wana Jaya, Jakarta. Hal. 1422- 1423.
Lakitan, B. 2004. Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Setyaningsih, L., Y. Munawar dan M. Turjaman. 2000. Efektivitas Cendawan Mikoriza Arbusula dan pupuk NPK terhadap pertumbuhan Bitti. Prosiding Seminar Nasional I. Bogor.
Schmidt, L. 2000. Pedoman Penanganan Benih Tanaman Hutan Tropis dan Sub Tropis.
Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial - Indonesia Forest Seed Project. PT. Gramedia. Jakarta.
161
PENGARUH PUPUK DAUN PADA PERTUMBUHAN BIBIT SUNGKAI DI PERSEMAIAN
Sahwalita
Peneliti Balai Penelitian Kehutanan Palembang
ABSTRAK
Pengembangan hutan tanaman sungkai (Peronema canescen Jack.) memerlukan dukungan bibit yang berkualitas. Bibit berkualitas akan menentukan keberhasilan tanaman di lapangan. Dalam upaya memenuhi kebutuhan bibit secara massal pada setiap musim tanam diperlukan penanganan khusus di persemaian. Salah satu upaya yang dilakukan untuk memacu pertumbuhan bibit adalah melalui pemupukan. Teknik pemupukan yang efektif dilakukan pada persemaian skala besar adalah melalui daun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi dan frekuensi pemberian pupuk daun terhadap pertumbuhan bibit sungkai di persemaian. Racangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok dengan Pola Faktorial diulang 3 kali. Perlakuan yang diuji meliputi 5 taraf konsentrasi pupuk daun (0, 2, 4, 6 dan 8 gram/liter) dan 2 taraf frekuensi pemupukan (1 dan 2 minggu sekali). Parameter yang diamati adalah persentase hidup, pertumbuhan tinggi dan diameter serta indeks kualitas semai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi pupuk daun 8 gram/liter dan frekuensi pemupukan 2 minggu sekali (K4F2) memberikan kesiapan dipindahkan kelapangan yang terbaik dengan nilai indeks kualitas semai mencapai 0,61.
Kata kunci: frekuensi, konsentrasi, pertumbuhan, pupuk daun, sungkai
I. PENDAHULUAN
Sungkai (Peronema canescens Jack.) merupakan salah satu jenis pohon potensial sebagai penghasil kayu pertukangan. Jenis ini telah dikembangkan dalam jumlah terbatas baik oleh masyarakat di Hutan Rakyat (HR) melalui pola tanam campuran dan pengusaha melalui Hutan Tanaman Industri (HTI) dengan pola monokultur. Sampai saat ini, produktivitas sungkai masih rendah karena pengelolaannya belum menerapkan praktek silvikultur secara optimal dan belum menggunakan bibit unggul (Sahwalita et al., 2011). Hutan tanaman khusus penghasil kayu pertukangan belum banyak diusahakan, sehingga dibutuhkan upaya pengembangannya dengan tujuan memenuhi kebutuhan kayu dan menyelamatkan hutan alam yang tersisa. Di beberapa daerah dilakukan program penanaman jenis sungkai seperti di Jambi, Sumatera Selatan, Riau telah dibangun HTI sungkai dan HR pola campuran melalui program nasional maupun pemerintah daerah (Sahwalita et al., 2010).
Kayu sungkai dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan antara lain: konstruksi, mebel dan vener indah. Kayu ini memiliki berat jenis 0,63 dengan kelas kuat I-II dan kelas awet III, kayu berwarna kuning atau krem. Selain itu, kayu sungkai dapat mengering dengan mudah tanpa cacat yang berarti, dapat diserut, dibentuk dan dibubut dengan hasil sedang serta dapat dibor dan diamplas dengan hasil baik (Martawijaya et al., 2005). Kayu sungkai memiliki tekstur yang indah mirip jati, sehingga makin banyak diminati.
Penanaman jenis ini perlu didukung oleh ketersediaan bibit berkualitas dalam jumlah yang cukup pada setiap musim tanam. Pemacuan pertumbuhan bibit sungkai di persemaian dapat dilakukan dengan pemeliharaan dan penambahan unsur har melalui pemupukan.
Pemberian pupuk tidak hanya ditujukan agar periode pemeliharaan bibit di persemaian menjadi lebih singkat, tetapi juga agar kualitas bibit yang dihasilkan menjadi lebih baik dan seragam. Salah satu teknik pemupukan yang cukup efektif untuk dilakukan pada persemaian
162
skala luas adalah melalui penyemprotan dengan pupuk daun. Pengujian pupuk daun di persemaian memberikan hasil yang cukup menjanjikan, seperti dilakukan oleh Junaidah (2003) terhadap bibit meranti kuning (Shorea parvifolia) yang menunjukkan bahwa perlakuan dosis pupuk daun Mamigro Super N dan Gandasil D pada konsentrasi 1,5 gram/liter mampu meningkatkan pertambahan diameter dan jumlah daun secara nyata. Penelitian pemberian pupuk daun NPK.Mg sampai dengan konsentrasi 3 gram/liter yang diberikan setiap 1 minggu sekali mampu meningkatkan pertumbuhan tinggi bibit belangeran (Shorea balangeran) asal cabutan alam yang mencapai 3 kali lipat dibandingkan kontrol (Herdiana et al., 2008). Aplikasi pupuk daun pada bibit jelutung rawa yang dengan konsentrasi 3 gr/liter dengan frekuensi penyemprotan 1 minggu sekali memberikan pertumbuhan terbaik (Herdiana et al., 2009).
Berdasarkan hal tersebut, maka dilakukan pengujian untuk mengetahui respon pertumbuhan bibit sungkai terhadap aplikasi pupuk daun. Perlakuan yang diuji adalah konsentrasi pupuk daun dan frekuensi pemberian pupuk. Diharapkan bibit dapat tumbuh dengan baik dalam waktu singkat.
II. BAHAN DAN METODE