• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hawl dan Ziarah Orang Suci

surat-surat al-Qur’an dalam acara semaan yang dibaca dengan para hafid (orang yang hafal al-Qur’an) sejak mulai pagi. Setelah semaan al-Qur’an selesai, acara kemudian dilanjutkan dengan bacaan surat Yasin bersama yang dipimpin oleh ustad H. Fatihin, seorang mantan modin yang masih aktif dalam kegiatan-kegiatan keagamaan di masyarakatnya. Suara ustad H. Fatihin yang terdengar lantang ditirukan langsung oleh semua warga masyarakat yang dengan khusyu’ membacanya hingga selesai. Tanpa diselingi dengan bacaan-bacaan lain, setelah pembacaan surat Yasin selesai, acara langsung dilanjutkan dengan membaca tahlil bersama dan sekaligus ditutup dengan do’a oleh Kyai Ali Fikri. Kegiatan terakhir dari acara hawl yang diadakan tepat setelah sholat maghrib ini adalah acara manganan. Semua peserta, tua-muda dan anak-anak bergabung dalam suasana akrab menikmati makanan dengan lesehan.

bahwa Buyut Tunggulwulung merupakan salah seorang wali yang mempunyai kekeramatan.82 Buyut Tunggulwulung dalam keyakinan warga masyarakat adalah seorang wali penyebar Islam yang merupakan salah seorang keturunan Sunan Drajat, salah seorang walisongo.83

Sebagian warga masyarakat juga mempunyai keyakinan bahwa makam Buyut Tunggulwulung hingga saat sekarang dijaga oleh seekor macan putih yang ghaib. Namun, hanya orang-orang tertentu saja yang pernah menyaksikan hal-hal ghaib seperti itu.84 Oleh karena itu, melalui keyakinannya masing-masing, warga masyarakat setempat banyak yang melakukan wasilah, meminta barokah dari Allah melalui perantara wali kekasihNya, Buyut Tunggulwulung.85

Pelaksanaan acara hawl di makam Buyut Tunggulwulung sendiri berlangsung sangat sederhana. Kebanyakan mereka yang datang di makam ini berasal dari warga Desa Wadak, Keramat dan Bendungan yang jarak lokasinya dengan makam sekitar 8 km. Sebagian di antara mereka ini datang dengan cara rombongan, menggunakan mobil-mobil pribadi atau mobil-mobil yang disewa. Sementara sebagian yang lain

82Menurut cerita Hj. Mukanah, Buyut Tunggulwulung adalah salah seorang penyebar Islam yang pernah bertarung dengan sengit melawan perwira tinggi dari kerajaan Majapahit (tidak diketahui namanya). Pertarungan antar keduanya dimenangkan oleh Buyut Tunggulwulung yang akhirnya ia berhak mendapatkan kuda jantan yang diberi nama kuda semberani. Menurut penuturan beberapa orang, kuda semberani itu sekarang masih ada, tetapi bersifat ghaib dan hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya terutama menjelang acara hawl dilaksanakan.

83Data ini telah peneliti diperoleh melalui tulisan tangan ustad H. Abd Hamid Manan, seorang guru tarekat Qadariyah wa Naqshabandiyah.

84Salah seorang warga bernama H. Hamdi pernah menceritakan pengalamannya bertemu dengan seekor macam berwarna putih pada hari Kamis malam Juma’at, yaitu tepat ketika pada keesokan harinya akan diadakan acara hawl di makam Buyut Tunggulwulung.

85Tawassul merupakan jalan yang paling baik untuk mencapai pintu kebahagiaan. Tawassul juga merupakan jalan yang paling cepat untuk mencapai semua yang diinginkan serta dicita-citakan.

Lebih-lebih dilakukan di hadapan Nabi Muhammad, para keluarga serta orang-orang dekat beliau”. Abdusshomad, Fiqh Tradisionalis, 226.

datang dengan mengendarai sepeda motor. Mulai pagi-pagi sekali para peziarah sudah datang satu-persatu. Sesampainya di makam, mereka yang sudah mengambil air wudu bergabung dengan rombongan lain yang sudah lebih dulu datang. Sambil menunggu kehadiran Kyai Faisol Ghozali yang akan memimpin acara hawl, mereka bertawasul sendiri- sendiri di hadapan makam Buyut Tunggulwulung. Terdengar dari suara di antara mereka, ada yang membaca sholawat, ada yang membaca tahlil dan seterusnya.86 Demikian pula, ada yang santai di luar lokasi makam sambil menunggu acara dimulai.

Sebelum ada kendaraan, para peziarah ini dulu datang dengan cara berjalan kaki. Ada cerita unik seputar para peziarah jalan kaki ini.

Salah seorang bernama Hj. Rohimah pernah menuturkan, Kyai Idris (orang setempat menyebut Yai Idris) suatu hari berada dalam satu rombongan dengan para pejalan kaki menuju makam Buyut Tunggulwulung. Beliau memimpim acara hawl diikuti oleh para pejalan kaki yang ada di belakangnya. Jika ada orang di dalam rombongan itu menoleh ke belakang (kurang memperhatikan langkah Yai Idris), maka mereka akan tertinggal oleh langkah Yai Idris. Jika dikejar dan mereka kembali menoleh ke belakang, maka mereka akan kembali tertinggal.

Menurut penuturan Hj. Rohimah, hal itu merupakan salah satu keistimewaan Yai Idris yang sedang menunggang kuda semberani milik Buyut Tunggulwulung. Kuda semberani itu hingga sekarang masih ada, tetapi bersifat ghaib dan orang-orang tertentu saja yang mampu melihat karena telah melakukan syarat tertentu. 87

Dalam pengamatan peneliti, pelaksanaan acara hawl di makam Buyut Tunggulwulung dideskripsikan sebagai berikut:

“Kyai Faisol Ghozali dengan khusyu’ memimpin membaca bait- bait sholawat yang diikuti oleh seluruh warga masyarakat yang sudah berkumpul di areal pemakaman umum di Dusun

86Observasi tanggal 24 September 2004.

87Wawancara tanggal 21 September 2005.

Gumining. Ia memulai memimpin acara tersebut dengan salam dan tawassul kepada Allah melalui, Buyut Tunggulwulung:

Assalamu’alayka ya waliyallah. Assalamu’alayka ya Tunggulwulung.

Assalamu’alayka warahmah Allah wa barakatuh. Ji’naka ‘ala maqamika waqifin. La turaddana khaibin. Awda’tuka shahadata an La ilaha illa Allah wa anna Muhammadan ‘abduhu wa Rasuluh. Allahumma inni tawassalu ilayka bi waliyyika waliy Allah Tunggulwulung. Atawassalu bika ila Rabbika liqadai hajatiy… “, artinya: “Semoga kesejahteraan meyertaimu wahai kekasih Allah. Semoga kesejahteraan menyertaimu wahai Tunggulwulung. Semoga kesejahteraan, rahmat dan barakah Allah tetap atas engkau. Kami datang kepadamu dan berhenti di atas makammu. Janganlah engkau menolak kami dalam keadaan menyesal. Aku menitipkan kesaksian kepadamu bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan Allah.

Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepadaMu dengan perantara kekasihMu, kekasih Allah Tunggulwulung. Dengan perantaramu aku memohon kepada TuhanMu agar mengabulkan permintaanku…”.88

Dalam memberikan sambutan dan pesan yang disampaikan Kyai Faisol Ghozali kepada seluruh peserta yang hadir pada acara hawl, ia menyampaikan hal-hal yang berkaitan dengan nasehat-nasehat tentang kematian yang akan dialami oleh setiap orang. Kyai Faisol Ghozali mengingatkan kepada seluruh perziarah yang hadir untuk memperbaiki niatnya masing-masing ketika datang ke makam Buyut Tunggulwulung, wali yang menjadi kekasih Allah. Mereka dianjurkan olehnya agar selalu berlaku ikhlas di atas makam ketika membaca sholawat, al-Qur’an dan tahlil agar mendapat barokah dari Allah melalui perantara wali yang dikasihiNya. Ungkapan-ungkapan itu sebagaimana disampaikan Kyai Faisol Ghozali sebagai berikut:

88Observasi 23 September 2005.

“Bapak, ibu lan sederek sedoyo ingkang hadir wonten pesarean Buyut Tunggulwulung, waline Allah. Sak derenge kulo mimpin acara hawl meniko kulo bade paring sekedik pangeleng. Kangge awak kulo piyambak lan nomer kale kangge panjenengan sedoyo. Saben tahun kulo lan panjenengan ingkang hadir wonten makam Buyut Tunggulwulung meniko sampun sareng-sareng mangertosi bele piyambake Buyut Tunggulwulung meniko salah setunggal waline Allah. Sarono piyambake meniko seorang wali, kulo suwun ampun ngantos panjenengan sedoyo salah niat anggenipun nyuwun pitulung marang Allah. Panjenengan sedoyo tetep kulo suwun njaluk pitulung marang Allah supados mboten ndadosaken kemusyrikan.

Anangen niat kulo lan panjenengan sedoyo ingkang sampun hadir meniko mboten sanes namung wasilah ke mawon keranten Buyut Tunggulwulung meniko dados waline Allah. Sarono meniko, kito nyuwun supados sedoyo nopo ingkang dados panyuwunan kito marang Allah cepet dipun kabulaken. Sareng dipun laksanaaken wasilah mangkin, monggo kulo aturi sareng-sareng maos surat al-Qur’an lan tahlil ingkang ganjaranipun kito tujuaken kangge Buyut Tunggulwulung ingkan sampun sumare wonten alam kubur. Sederek-sederek sedoyo ingkang kulo hormati. Perlu dipun mangertosi bele sedoyo wali Allah ingkan sampun berjuang kangge agamane Allah meniko sejatine mboten peja. Ingkang peja namung jasade kemawon ingkan dipun sumareaken wonten pesarean. Sejatine poro wali Allah meniko tasek gesang wonten ngersane Allah.Wonten al-Qur’an sampun dipun sebataken “wa la tahsabanna al-ladhina qutilu fi sabil Allah amwatan bal ahya’un ‘inda Rabbihim yurzaqun”. Wonten male, “ala inna awliya Allah la khawfun ‘alayhim wa lahum yakhzanun…”, artinya:

“Bapak, ibu dan saudara sekalian yang sudah hadir di pesarean Buyut Tunggulwulung, kekasihnya Allah. Sebelum saya memimpin acara hawl ini saya akan memberi sedikit peringatan.

Untuk diri saya sendiri dan nomor dua untuk saudara sekalian.

Setiap tahun saya dan saudara yang hadir di makam Buyut Tunggulwulung ini sudah sama-sama mengerti kalau Buyut Tunggulwulung ini salah satu kekasihnya Allah. Oleh karena

beliau ini seorang wali, maka saya mohon jangan sampai saudara sekalian salah niat ketika meminta tolong kepada Allah. Saudara sekalian tetap saya mohon meminta pertolongan kepada Allah supaya tidak terjadi kemusyrikan. Namun niat saya dan saudara sekalian yang sudah hadir ini tidak lain hanya karena mencari perantara karena Buyut Tunggulwulung ini menjadi kekasihnya Allah. Karena itu, kita memohon agar semua yang menjadi permintaan kita kepada Allah cepat dikabulkan. Bersama dengan adanya wasilah nanti, saya mengajak semua membaca surat al- Qur’an dan tahlil yang pahalanya kita tujukan untuk Buyut Tunggulwulung yang sudah bersemayam di alam kubur. Saudara- saudara sekalian yang saya hormati. Perlu dimengerti bahwa semua kekasih Allah yang sudah berjuang untuk agama Allah ini sebenarnya tidak meninggal. Yang meninggal sebenarnya hanya tubuhnya saja yang disemayamkan di pemakaman. Sebenarnya para kekasih Allah itu masih hidup di hadapan Allah. Di dalam al- Qur’an sudah disebutkan “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki”. Ada lagi,

“ingatlah sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati… ”.89 Di awali dengan sambutan yang dilakukan Kyai Faisol kurang lebih berlangsung sekitar setengah jam. Ia kemudian memimpin melakukan wasilah sebagaimana disebutkan di atas. Fatihah yang pertama ditujukan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan seluruh sahabatnya.

Fatihah yang kedua ditujukan kepada Syekh Abdul Qodir Jailani, Syekh Abu Hasan Sadili dan walisongo di tanah Jawa. Fatihah yang ketiga ditujukan kepada semua orang Islam, para leluhur yang hadir di makam

89Observasi tanggal 23 September 2005.

yang dikhususkan kepada Buyut Tunggulwulung.90 Kyai Faisol juga menyebut nama-nama keluarga besar Buyut Tungguwulung. Di antara nama yang disebutkan olehnya adalah Buyut Surat, Buyut Tanggal, Buyut Sanem, Buyut Salim dan Buyut Mergosono. Kesemuanya merupakan keturunan Raden Qosim atau Sunan Drajat, anak dari Raden Rohmat atau Sunan Ampel.

Menurut penuturan H. Akhwan, pada tahun 1950-an ketika terjadi pembatasan jumlah jema’ah haji oleh pemerintah sehingga orang yang berangkat ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji harus antri dan melalui proses undian, maka di antara warga masyarakat ada yang melakukan tawassul dengan cara berpuasa dan melek bengi (tidak tidur malam) di makam Buyut Salim.91 Mereka memohon barokah kepada Allah supaya dapat terpilih menjadi peserta jema’ah haji melalui perantara orang-orang suci atau orang-orang yang mempunyai kedekatan diri dengan Allah sehingga permohonannya cepat dikabulkan.

Setelah tawassul, Kyai Faisol memimpim membaca tahlilan. Sesuai dengan namanya, dalam tahlilan selain dibaca surat-surat al-Qur’an, bacaan yang paling banyak jumlahnya adalah bacaan La ilaha illa Allah.92 Peserta yang hadir, anak-anak dan orang dewasa atau laki-laki dan perempuan, kesemuanya dengan khusyu’ membaca tahlil dengan kepala yang bergoyang ke kanan dan ke kiri. Sebagian orang terlihat memutar

90Berkumpul untuk membaca al-Qur’an dan berdhikir untuk mendo’akan mayyit termasuk diperbolehkan berdasar keterangan Imam Muhammad bin Ali bin Muhammad al-Syaukani: “Kebiasaan di sebagian negara mengenai perkumpulan atau pertemuan di masjid, rumah, di atas kubur, untuk membaca al-Qur’an yang pahalanya dihadiahkan kepada orang yang telah meninggal dunia, tidak diragukan lagi hukumnya boleh jika di dalamnya tidak terdapat kemaksiatan dan kemungkaran, meskipun tidak ada penjelasan secara dhahir dari syari’at…”. Lihat Abdusshomad, Tahlil dalam Perspektif Islam, 2.

91Wawancara tanggal 9 Sepetember 2005.

92Rasulullah permah menganjurkan agar memperbanyak membaca La ilaha illa Allah seperti dalam hadith: “Dari Abu Hurairah r.a. Rasulullah saw bersabda, “Perbaharuilah imam kalian!” Para sahabat bertanya, “Bagaimana cara kami memperbaharui iman kami ya Rasulullah?” Rasulullah saw menjawab, “perbanyaklah membaca La ilaha illa Allah”. Lihat Abdusshomad, Tahlil dalam Perspektif Islam, 75.

tasbih di tangannya.93 Usai pembacaan tahlil diteruskan dengan pembacaan do’a. Pembacaan do’a dilakukan oleh Kyai Ali Fikri. Rois syuriyah NU di Kecamatan Duduk Sampeyan ini merupakan salah seorang cucu Kyai Idris, satu-satunya orang yang di dalam rumahnya hingga sekarang masih tersimpan sebuah benda peninggalan Buyut Tunggulwulung, yaitu sebuah payung tua mirip dengan peninggalan milik raja-raja Jawa. Di dalam do’a itu disebutkan apa yang dibaca pahalanya dihadiahkan, khususnya diperuntukkan Buyut Tunggulwulung, orang suci yang diziarahi. Dari arti yang terkandung dalam do’a itu, dapat dijelaskan bahwa maksud kedatangan mereka datang berziarah ke makam para wali adalah untuk mendo’akan para leluhurnya. Kegiatan ini dilakukan dalam rangka mencari berkah, seperti do’a:

“… Allahumma awsil wa taqabb al-thawaba ma qara’nahu min al- Qur’an al-‘azim wa ma hahlalna min qawli La ilaha illa Allah wa ma sabbahna wa ma sallayna wa ma sallamna wa ma istagfarna ‘ala sayyidina Muhammad … hadiyatan wasalatan wabarakatan nazilatan … khususan sayyidina wa mawlana shaykh ‘Abd al-Qadir al-Jaylani … wa khususan Buyut Tunggulwulung, Tanggal, Sanem, Salim, Mergosono, Raden Qosim, Raden Rohmat. Allahumma ighfir lahum wa irhamhum wa ‘afihim wa

‘a’fu ‘anhum …. Allahmuma irfa’ lahum al-darajat …”, artinya: “Ya Allah sampaikan dan terimalah semua pahala dari bacaan al- Qur’an yang agung, bacaan tahlil kita:Tidak ada Tuhan selain Allah, bacaan tasbih kita, bacaan shalawat kita, bacaan salam kita, bacaan istighfar kita kepada Nabi Muhammad … sebagai hadiyah, kesejahteraan, barakah, keselamatan … khusus pula kepada syekh Abd Qadir al-Jailani … Buyut Tunggulwulung, Tanggal, Sanem, Salim, Mergosono, Raden Qosim, Raden Rahmat. Ya Allah berilah ampunan kepada mereka, kasih-sayang

93Dalam bahasa Arab, “tasbih” disebut dengan “al-Subhah” atau “al-Misbahah”, yaitu untaian manik-manik dengan benang yang biasanya digunakan untuk menghitung bacaan tasbih, shalawat, do’a dan lain sebagainya. Pada masa Rasulullah ternyata pemakaian tasbih sudah dilaksanakan. Lihat Abdusshomad, Fiqh Tradisionalis, 315.

kepada mereka, kema’afan kepada mereka dan ma’afkan kesalahan terhadap mereka. Ya Allah tempatkan bagi mereka sebuah derajat yang tinggi …”.94

Ritual Hari Besar Islam

Al-Qur’an sendiri sebenarnya sudah mensinyalir tentang adanya bulan-bulan tertentu yang disucikan. Bulan-bulan itu misalnya Dhulqa’dah, Dhulhijjah, Muharram dan Rajab. Dalam keadaan normal, orang Islam dilarang melakukan peperangan ketika berada dalam bulan-bulan tersebut kecuali memang dalam keadaan sangat terpaksa, misalnya mempertahankan diri dari serangan musuh.95 Bulan-bulan tersebut memang sebenarnya tidak disebutkan di dalam al-Qur’an, tetapi hanya beberapa penafsir saja yang menyebutkannya secara eksplisit.96

Selain beberapa nama bulan sebagaimana disebutkan, ada beberapa nama bulan yang secara umum dirayakan oleh orang-orang Islam karena terkait atau terdapat peristiwa penting di dalamnya.

Sebagaimana warga masyarakat yang tinggal di Kecamatan Duduk Sampeyan, mereka mempunyai pandangan sendiri bahwa ada bula-bulan tertentu yang mempunyai relevansi untuk dirayakan secara bersama- sama. Bulan-bulan itu antara lain Rabi’ul Awwal (Mulud), Sha’ban (Ruwah), Ramadan (Poso) dan Shawal (Sawal). Sebagian besar perayaan bulan-bulan tersebut sangat terkait dengan berbagai bentuk peraktik ritual dengan menyajikan pesta-pesta makanan (manganan) yang disuguhkan secara khas oleh masyarakat setempat. Namun, perayaan yang dilaksanakan

94Observasi tanggal 23 September 2005. Ketika berdo’a mereka mengangkat kedua tangannya seraya membaca kalimat amin (mudah-mudahan Allah mengabulkan).

Amalan ini dianjurkan Rasulullah. Ibid., 230.

95Lihat surat al-Tawbah:36, “Sesungguhnya jumlah hitungan bulan dalam satu tahun menurut pandangan Allah adalah dua belas; di mana pada saat itu Allah menciptakan langit dan bumi, empat di antara bulan-bulan tersebut adalah bulan suci; itulah agama yang benar, dan janganlah kamu berbuat dhalim di dalamnya”.

96Lihat Muhaimin, Islam dalam Bingkai, 172.

masyarakat setempat tetap lebih mengedepankan apa yang menjadi makna dan tujuan inti ritual melalui simbol-simbol tertentu yang mempunyai referensi pada Islam.

Ritual-ritual yang diperuntukkan untuk merayakan hari besar Islam pelaksanaannya mengikuti kalender Islam/Jawa yang secara berurutan dapat disebutkan sebagai berikut: Muharram/Syuro, Safar/Sapar, Rabi’u al-Awwal/Mulud, Rabi’u al-Akhir/Ba’do Mulud, Jumad al- Awwal/Jumadil Awal, Jumad al-Akhir/Jumadil Akhir, Rajab/Rejeb, Sha’ban/Ruwah, Ramadan/Poso, Shawal/Sawal, Dhulqa’dah/Selo, Dhulhijjah/Besar. Akan tetapi, di dalam bulan-bulan tersebut tidak semuanya terdapat ritual kecuali berkaitan dengan peristiwa-peristiwa tertentu yang dianggap signifikan untuk dirayakan bersama.