• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ziarah Leluhur dan Hawl

Ritual Kubur: Ziarah Makam

Bagi kebanyakan orang yang tinggal di wilayah Kecamatan Duduk sampeyan, ziarah ke makam merupakan kebiasaan yang tidak dapat mereka tinggalkan. Tradisi ini sudah ada sejak para pendahulu mereka dan terus-menerus diulang tanpa mengenal perubahan waktu.

Hampir tidak ada orang yang tidak melakukan ziarah ke makam meskipun hal itu hanya dilakukan sekali atau dua kali dalam satu tahun, misalnya dilakukan sebelum atau setelah pelaksanaan sholat hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Pada kedua waktu tersebut, hampir setiap makam yang ada di lingkungan masyarakat Kecamatan Duduk Sampeyan di datangi oleh keluarganya yang masih hidup. Para peziarah duduk bersila di atas makam, membaca al-Qur’an dan bacaan kalimat tayyibah.

Ziarah kubur sendiri dilakukan orang Islam berdasarkan hadith Nabi yang berbunyi: “kuntu nahaytukum ‘an ziyarah al-quburi fa zuruha.

Perintah setelah larangan yang ada di dalam hadith ini, menurut kaidah, ziarah itu berhukum sunat. Kaidah semacam itu pernah dijelaskan oleh H.Yakmal, salah seorang guru “ngaji” alumni Pesantren Langitan dalam sebuah pengajian rutin yang dilakukan setelah sholat subuh di langgarnya.

H. Yakmal yang dikenal sebagai salah seorang fungsionaris Partai Kebangkitan Bangsa Kecamatan Duduk Sampeyan ini menjelaskan pentingnya melakukan ziarah ke makam karena pahala membaca do’anya dapat meringankan beban orang yang sudah meninggal.76

Allah untuk kelapangan kubur bagi keluarga mereka yang sudah meninggal. Sebuah makam kadang-kadang dikerumuni oleh lebih dari satu orang anggota keluarga sehingga pada hari Kamis sore atau Jum’at pagi, makam-makam yang biasanya sepi berubah menjadi ramai oleh dengung suara dan lalu-lalang para peziarah yang sedang membaca surat Yasin dan tahlil.

H. Taufiq, salah seorang di antara para peziarah di makam leluhurnya pada hari Jum’at pagi dengan santai mengatakan kepada peneliti bahwa hampir seminggu sekali ia tidak pernah lupa berziarah ke makam leluhurnya, berdo’a dan membersihkan rumput-rumput liar yang tumbuh di atasnya. Dalam satu kesempatan, peneliti melakukan wawancara dengan H.Taufiq, salah seorang warga yang kelihatan aktif melakukan ziarah. Ia mengatakan:

“Saben seminggu sepisan aku sempatno resik-resik makame wong-wong tuwo nang kuburan. Masih wes mati, tapi aku sek tetep naruh hormat nang wong-wong tuwo. Saben jum’at aku ngaji surat Yasin ambek tahlil nang makam terus dunga’no supoyo kesalahan-kesalahane wong-wong tuwo biyen disepuro karo Pengeran. Biyen waktu wongtuwoku sek urip, aku yo sering diajak nang kuburan koyok ngene iki. Mangkane karo anak- anakku saiki terus tak pesen supoyo ngga’ lali besok-besok kapan aku wes ora ono, supoyo gelem ngeramut aku nang kuburan. Aku oleh pesen wong- wong tuwo biyen, kapan gelem nang kuburan insyaallah oleh barokah songko Pengeran, uripe iso tenang”, artinya: “Setiap seminggu sekali saya sempatkan untuk membersihkan makamnya orang-orang tua ke kuburan. Meskipun sudah meninggal, tetapi saya masih tetap memberi hormat kepada orang-orang tua. Setiap Jum’at saya mengaji surat Yasin dengan tahlil ke makam kemudian mendo’akan agar kesalahan-kesalahannya orang-orang tua dulu dima’afkan Allah. Dulu ketika orang tua saya masih hidup, saya juga sering diajak ke kuburan seperti ini. Oleh karena itu, anak- anak saya sekarang saya beri pesan agar tidak lupa besok-besok kalau saya sudah tidak ada, supaya mau merawat saya ke makam.

Saya mendapat pesan dari orang-orang tua dulu, kalau mau ke makam insyaallah oleh berkah dari Allah, hidupnya bisa menjadi tenang”.77

Dari hasil wawancara dengan H.Taufiq tersebut dapat diperoleh penjelasan, yaitu adanya perilaku keberagamaan yang sudah lama mengakar di masyarakat. Ziarah ke makam atau cara menghormat leluhur yang oleh sebagian kelompok dikatakan sebagai tindakan yang mengandung kemusyrikan itu dimodifikasikan kembali dengan cara menginternalisasikan nilai-nilai Islam. Konsep barakah yang dalam tradisi orang-orang Jawa dahulu selalu dipahami karena diperoleh dari orang- orang yang diziarahi, ternyata dimaknai kembali dengan pemahaman baru, yaitu diperolehnya barakah secara langsung dari Allah. Karena itu, ziarah kubur merupakan sebuah tradisi yang tidak pernah berubah di masyarakat sejak masa lalu hingga masa sekarang. Perubahan yang terjadi pada peristiwa itu hanya terletak pada kulit luarnya. Namun, makna dari tradisi itu tetap menjadi nilai yang berlaku bagi masyarakat, misalnya melakukan do’a dan membersihan makam, sebagai tanda penghormatan.

Melalui ziarah kubur ini, mereka dapat memperoleh pelajaran- pelajaran berharga, terutama dalam menghadapi kehidupan dunia dan akhirat. Hal ini misalnya dapat peneliti ketahui melalui ungkapkan H.Taufiq yang juga pada saat wawancara itu mengaku bahwa ziarah ternyata dapat mengingatkannya pada kematian, seperti dialami para leluhurnya yang sudah meninggal. Ungkapan H.Taufiq ini mempunyai kesamaan makna dengan apa yang seringkali disampaikan oleh Kyai Ali Fikri usai melaksanakan sholat jenazah. Ia selalu mengatakan kepada jama’ah agar dapat mengambil hikmah dan nasehat dari kematian dengan mengatakan:“kafa bi al-mawti maw’izatun”.78

77Wawancara tanggal 26 Agustus 2005.

78Penggalan hadith ini selalu diulang-ulang oleh Kyai Ali Fikri di dalam setiap kali usai beliau memimpin sholat jenazah di lingkungan masyarakatnya.

Selain pada hari-hari biasa, ziarah pada makam leluhur juga dilakukan pada saat datangnya hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Tata cara ritual di makam pada dua hari raya itu agak sedikit istimewa dibandingkan dengan tata cara ritual kubur yang dilakukan pada hari-hari biasa. Antara lain karena banyak orang membawa kembang segar berbau harum, dibeli dari pasar-pasar tradisional yang biasanya dipergunakan untuk tabur makam. Beberapa hari sebelum waktu ziarah ke makam dilakukan, biasanya salah seorang anggota keluarga sudah membeli kembang dari pasar tradisional kemudian direndam ke dalam air untuk beberapa saat sebelum ditabur di makam. Praktis pada saat dilakukan ziarah kubur pada dua hari raya itu, bau harum menyebar ke seluruh areal pemakaman. Kembang-kembang itu umumnya disiramkan dengan air di atas pusara.79

Demikian pula, selain ziarah-ziarah tadi, warga masyarakat di lingkungan Kecamatan Duduk Sampeyan juga sudah terbiasa melakukan acara hawl yang dimaksudkan sebagai media mengirim do’a kepada para leluhur desa dan seluruh keluarga warga masyarakat yang sudah meninggal dunia. Meskipun pada masing-masing desa kegiatan semacam ini mempunyai teknis pelaksanaan yang berbeda, tetapi tujuannya sama sebagaimana diungkapkan ustad H. Madlal Fadlol, seorang guru agama alumni pesantren Tebuireng, Jombang. Dalam sambutannya ketika ada acara hawl untuk para sesepuh desa yang diadakan takmir masjid jami’

Desa Wadak Kidul, Madlal Fadlol pada kesempatan itu mengatakan:

“Alhamdulillah, sederek-sederek sedoyo warga masyarakat Wadak Kidul ingkang sampun rawuh wonten masjid. Monggo wonten wekdal meniko kito sareng-sareng syukur keranten Allah sampun peparing kulo lan

79Hukum menyiram air bunga atau harum-haruman di atas makam adalah sunnah, sebagaimana dikatakan Imam Nawawi al-Bantani dalam Nihayah al-Zayn: “Disunnahkan menyirami kuburan dengan air yang dingin. Perbuatan itu dilakukan sebagai tafa’ulan (pengharapan) dengan dinginnya tempat tidur. Dan juga tidak apa-apa menyiram kuburan dengan sedikit air mawar karena malaikat itu senang kepada aroma yang harum semerbak”. Lihat Abdusshomad, Fiqih Tradisionalis, 212.

panjenengan sedoyo kenikmatan sehinggo wonten wakdal meniko kulo lan panjenengan sedoyo saget ngelaksanaaken acara hawl poro sesepuh. Sareng ngelaksanaaken acara hawl deso meniko, monggo kulo panjenengan sedoyo mangkin sareng-sareng maos Yasin dan tahlil ingkan pahalanipun dipun tujuaken deneng poro sesepuh kulo panjenengan sedoyo, poro sesepuh deso ingkang sampun sumare wonten alam kubur. Kanti acara meniko, mugi- mugi poro sesepuh deso dipun ngapuro Allah lan sedoyo amal kasaenanipun dipun diterami. Lan kanti ngelaksanaken acara meniko, mugi-mugi gesang kulo panjenengan sedoyo ansal barokah saking Allah lantaran kesaenanipun tiang sepuh-sepuh rumiyen. Lan monggo acara hawl meniko buka sareng-sareng kalean waosan al-Fatihah”, artinya:

“Alhamdulillah, saudara sekalian warga masyarakat Wadak Kidul yang sudah hadir di masjid. Mari pada saat ini kita sama-sama bersyukur karena Allah sudah memberi kita sekalian kenikmatan sehingga pada kesempatan ini kita semua bisa melaksanakan acara hawl orang-orang tua. Bersama pelaksanaan acara hawl ini, marilah kita sekalian nanti bersama-sama membaca Yasin dan tahlil yang pahalanya ditujukan kepada para orang tua kita semua, para sesepuh desa yang sudah bersemayam di alam kubur.

Dengan acara ini, mudah-mudahan para sesepuh desa diampuni Allah dan semua amal kebaikannya diterima. Dan dengan pelaksanaan acara ini, mudah-mudahan hidup kita semua mendapat berkah dari Allah karena kebaikan orang-orang tua dulu. Dan mari acara hawl ini dibuka bersama dengan bacaan al- Fatihah”.80

Pelaksanaaan acara hawl sendiri berjalan sangat sederhana. Setelah dibuka oleh ustad H. Madlal Fadlol, langsung dilanjutkan dengan acara semaan al-Qur’an yang dibaca oleh H. Abu Bakar. Sebelum memulai semaan, H. Abu Bakar memberi penjelasan singkat kepada peserta yang hadir bahwa surat-surat yang akan dibacanya merupakan kelanjutan

80Observasi tanggal 2 September 2005.

surat-surat al-Qur’an dalam acara semaan yang dibaca dengan para hafid (orang yang hafal al-Qur’an) sejak mulai pagi. Setelah semaan al-Qur’an selesai, acara kemudian dilanjutkan dengan bacaan surat Yasin bersama yang dipimpin oleh ustad H. Fatihin, seorang mantan modin yang masih aktif dalam kegiatan-kegiatan keagamaan di masyarakatnya. Suara ustad H. Fatihin yang terdengar lantang ditirukan langsung oleh semua warga masyarakat yang dengan khusyu’ membacanya hingga selesai. Tanpa diselingi dengan bacaan-bacaan lain, setelah pembacaan surat Yasin selesai, acara langsung dilanjutkan dengan membaca tahlil bersama dan sekaligus ditutup dengan do’a oleh Kyai Ali Fikri. Kegiatan terakhir dari acara hawl yang diadakan tepat setelah sholat maghrib ini adalah acara manganan. Semua peserta, tua-muda dan anak-anak bergabung dalam suasana akrab menikmati makanan dengan lesehan.