ditemukan keadaan-keadaan bahaya. Bagi mereka yang bermata pencaharian di laut, untuk mengatasi keadaan-keadaan bahaya tersebut, mereka perlu melaksanakan ritual laut dan bagi mereka yang mempunyai matapencaharian di darat, mereka perlu juga melaksanakan ritual tertentu seperti slametan bobor abang, bobor poteh, bobor ketan ireng dan lain sebagainya menurut tradisi masing-masing.
Anggapan bahwa dalam bulan Syuro sering ditemukan adanya keadaan-keadaan bahaya juga berlaku bagi masyarakat Islam yang tinggal di Kecamatan Duduk Sampeyan. Namun, pelaksanaan ritual untuk bulan Syuro di tempat ini tidak semata-mata didasarkan atas kepercayaan- kepercayaan yang berlaku dalam masyarakat Jawa pada umumnya. Sebab, di antara mereka juga ada kyai yang menganjurkan pentingnya melaksanakan ritual syuroan dengan menggunakan sumber-sumber atau referensi dari ajaran Islam. Meskipun dalam pelaksanaannya kegiatan semacam ini seringkali menggunakan media-media tertentu sebagaimana dipergunakan oleh masyarakat Jawa pada umumnya,13 tetapi intinya tetap do’a yang merupakan sarana untuk menambah nilai religiusitas.
Di Kecamatan Duduk Sampeyan yang mayoritas penduduknya memeluk Islam juga ditemukan adanya ritual syuroan. Ritual ini dilaksanakan dalam rangkaian acara yang kurang lebih sederhana.
Meskipun demikian, substansi yang dikandung dari pelaksanaan ritual syuroan ini tetap merupakan sesuatu yang cukup penting, yaitu mengharapkan barokah dan slamet. Hal ini pernah dijelaskan ustad Fatihin pada khutbah jum’at menjelang datangnya bulan Muharram/Syuro. Isi khutbahnya, di samping menghimbau warga setempat melaksanakan puasa tanggal 9 dan10 juga menganjurkan agar mereka melaksanakan puasa akhir dan awal tahun. Jika puasa tanggal 9 dan 10 dapat
13Slametan bagi orang Jawa merupakan upacara dasar yang paling inti. Dengan slametan tidak seorangpun merasa dirinya dibedakan dengan orang lain dan dengan demikian ada semacam perasaan bersama-sama. Seperti yang dinyatakan Geertz tentang efek keseimbangan emosional seseorang dalam slametan. Lihat Geertz, Abangan, Santri, 17.
menghapus dosa kecil, maka puasa pada akhir dan awal tahun dapat menjauhkan diri dari malapetaka.14
Demikian halnya dengan Kyai Ali Fikri, pengasuh pesantren Al- Islah yang juga Rois Syuriah NU Kecamatan Duduk Sampeyan. Sehari sebelum masuk bulan Syuro, ia memberikan penjelasan tentang amalan- amalan pada bulan Syuro. Kepada jama’ah sholat mahgrib di langgarnya, Kyai Ali Fikri memberikan amalan yang harus dilakukan dalam menyambut datangnya bulan Syuro. Amalan-amalan tersebut antara lain membaca ayat kursi dengan hitungan 313 kali yang bisa dilakukan secara individu atau bersama-sama. Kyai Ali Fikri sendiri bersama santri dan para jama’ah di langgarnya melaksanakan amalan ini pada malam pergantian tahun memasuki bulan Syuro yang dilakukan setelah isya’.
Peneliti terlibat di dalamnya sehingga dengan sangat mudah dapat mengamati kekhusyukan para jama’ah ketika membaca amalan-amalan dari kyai.
Selain pada awal bulan, dalam rangkaian ritual Syuroan tepatnya tanggal 10, Kyai Ali Fikri kembali memberikan amalan lagi, yaitu selembar kertas putih berisikan do’a-do’a dalam menyambut tanggal 10 Syuro. Oleh para santrinya amalan itu dibagikan kepada jama’ah sholat maghrib di langgarnya.
“Sebelum do’a tersebut dibaca, Kyai Ali Fikri terlebih dahulu tawassul kepada Nabi Muhammad dan sahabatnya. Bacaan surat Fatihah beberapa kali diucapkan Kyai Ali Fikri dan secara langsung diikuti seluruh jama’ah yang hadir di langgar. Mereka bersama-sama membacanya dengan khusyuk. Setelah beberapa kali membaca Fatihah, Kyai Ali Fikri melanjutkan membaca tulisan di dalam kertas putih yang sudah dibagikan dan secara bersama-sama diikuti jama’ah. Isi yang dibaca secara bersama- sama dalam kegiatan itu sebagai berikut: “Hasbiy Allah wa ni’ma al- wakil ni’ma al-mawla wa ni’ma al-nasir”, sebanyak 70 kali. Sembari
14Khutbah jum’at Pak Fatihin, tanggal 26 Pepruari 2005.
membaca, tangan kyai bergerak memutar tasbih kemudian berhenti sambil memberi isyarat kepada para jama’ah. Kyai Ali Fikri kemudian melanjutkan membaca: Subhana Allah mil’a al- mizani wa muntaha al-hilmi wa mablagha al-rida wa zinata al-‘arshi. Wa al-hamd Allah mil’a al-mizani wa muntaha al-‘ilmi wa mablagha al-rida wa zinata al-‘arshi.Wa Allah akbar mil’a al-mizani wa muntaha al-‘ilmi wa mablagha al-rida wa zinata al-‘arshi la malja’a wa la manja min Allah illa ilayhi. Subhana Allah ‘adada al-shaf’i wa al-watri wa ‘adada kalimat Allah al-tammati kulliha. Wa al-hamd Allah ‘adada al-shaf’i wa al-watri wa ‘adada kalimat Allah al-tammati kulliha. Wa Allah akbar ‘adada al- shaf’i wa al-watri wa ‘adada kalimat Allah al-tammati kulliha as’aluka al-salamat birahmatika ya arhama al-rahimin. Wa la hawla wa la quwwata illa bi Allah al-‘aliyi al-‘adim. Wa huwa hasbiy wa ni’ma al- wakil ni’ma al-mawla wa ni’ma al-nasir. Wa sall Allah ala khayra khalqihi sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa sahbihi wa sallam ajma’in wa al-hamd Allah rabbi al-‘alamin”, artinya: “Maha Suci Allah yang memenuhi timbangan puncak pengetahuan, puncak kerelaan dan hiasan arsy. Segala puji bagi Allah yang memenuhi timbangan puncak pengetahuan, puncak kerelaan dan hiasan arsy. Allah Maha Besar yang memenuhi timbangan puncak pengetahuan, puncak kerelaan dan hiasan arsy. Tidak ada tempat berlindung dan tempat keselamatan dari Allah kecuali kembali kepada Allah.
Maha Suci Allah sebanyak seluruh bilangan genap dan ganjil, serta sebanyak semua kalimat Allah yang sempurna. Segala puji bagi Allah sebanyak seluruh bilangan genap dan ganjil, serta sebanyak semua kalimat Allah yang sempurna. Allah Maha Besar sebanyak seluruh bilangan genap dan ganjil, serta sebanyak semua kalimat Allah yang sempurna. Aku memohon keselamatan kepadaMu dengan berkah kasih sayangMu. Wahai Tuhan yang paling pengasih. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan kekuatan Allah yang Maha Tinggi dan Maha Agung. Cukuplah Dia bagiku. Dia adalah Wakil, Majikan dan Penolong yang paling
baik. Semoga rahmat Allah selalu dilimpahkan kepada Nabi Muhammad saw, sebaik-baik ciptaanNya. Semoga dilimpahkan pula kepada semua keluarga dan sahabatnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta seluruh alam”.15
Rangkaian acara syuroan belum berakhir pada malam itu karena pada hari Jum’at legi pada bulan itu, warga setempat masih melaksanakan acara slametan bobor abang (bobor syuro), sebagai simbol keselamatan. Acara slametan bobor abang yang dilaksanakan tepat setelah jama’ah sholat jum’at turun dari masjid ini paling banyak diikuti oleh peserta wanita. Meskipun demikian, prosesinya tetap dipimpin Kyai Ali Fikri sebagai sesepuh yang memimpin acara do’a. Keterlibatan seorang kyai yang bertugas memimpin ritual slametan ini menandai munculnya legitimasi tentang absahnya ritual yang menurut salah seorang pesertanya sudah sangat lama dilaksanakan warga setempat secara turun-temurun.
Menurut Kyai Umar, rangkaian ritual syuroan tersebut bertujuan agar mereka mendapatkan slamet yang disimbolkan melalui bobor abang sebagai ungkapan do’a di samping do’a-do’a dalam bahasa Arab.16 Misalnya, do’a yang dibaca Kyai Ali Fikri yang dijawab “amin” oleh peserta slametan secara serempak. Sebagian besar do’a berasal dari ayat- ayat al-Qur’an yang ditambah lagi dengan do’a-do’a lain. Do’a dari al- Qur’an misalnya, “Rabbana atina fi al-dunya hasanah wa fi al-akhirat hasanah wa qina adab al-nar”, serta shalawat, “Allah humma salli ‘ala sayyidina Muhammad wa‘ala alihi wa sahbihi ajma’ina”. Bukan secara kebetulan apabila acara slametan bobor abang yang dilaksanakan pada hari Jum’at legi dari bulan Syuro ini syarat dengan rangkaian simbol-simbol yang mempunyai nilai mistik. Sebab, yang terpenting dari ritual semacam ini bukanlah simbol-simbol itu, tetapi makna dari simbol yang dikonstruk bersama oleh masyarakat setempat, terutama melalui elit masyarakatnya.
15Observasi tanggal 18 Pepruari 2005.
16Wawancara tanggal 27 Pepruari 2005.
Ritual Pertanian
Pada bab sebelumnya dijelaskan tentang sistem mata pencaharian penduduk di Kecamatan Duduk Sampeyan yang pada umumnya mereka bekerja sebagai petani. Pekerjaan ini merupakan mata pencaharian hidup paling utama. Dalam pergantian musim yang sudah berlangsung sangat lama dan berjalan dari waktu ke waktu, mata pencaharian bertani tetap tidak mengalami perubahan meskipun telah muncul beragam pekerjaan pada sektor lain. Teknologi bertani yang dimiliki penduduk dari waktu ke waktu menunjukkan arah lebih intensif. Semakin sempitnya lahan pertanian yang dimiliki penduduk setempat karena pembangunan pemukiman, diatasi dengan memaksimalkan pengelolahan lahan sehingga hasil pertanian relatif dapat dipertahankan.
Noerid Haloei Radam pernah menjelaskan, salah satu ciri mata pencaharian pokok adalah ditandai tidak ditinggalkannya pekerjaan meskipun telah muncul jenis-jenis pekerjaan pada sektor lain yang lebih menjamin; adanya upacara pada setiap tahap kegiatan yang terkait erat dengan sistem keyakinan; upacara-upacara tidak berdiri sendiri dan terpisah tetapi merupakan rangkaian upacara; dan upacara-upacara tersebut melibatkan sedikit atau banyak orang. Sebaliknya, mata percaharian sambilan tidak memiliki empat ciri tersebut. Dengan kata lain, mata pencaharian sambilan mudah ditinggalkan penduduk.17 Mata pencaharian sambilan biasanya muncul karena pergantian musim, seperti pekerjaan pada sektor informal yang diistilahkan dengan model serabutan.
Hal ini sangat berlawanan dengan sistem mata pencaharian hidup yang utama.
Sementara itu, Koentjaraningrat mengatakan bahwa dalam kegiatan pertanian model bercocok tanam (huma) ditemukan beberapa kegiatan yang dilakukan penduduk secara bertahap, seperti tahap menyiapkan lahan, tahap menanami lahan, dan seterusnya hingga tahap
17Lihat lebih lanjut dalam Noerid Haloei Radam, Religi Orang Bukit (Yogyakarta:
Yayasan Semesta, 2001), 243-244.
panen,18 di mana pada masyarakat tertentu, tahap-tahap tersebut seringkali diawali dengan proses ritual.19
Demikian pula halnya dengan kegiatan bertani bagi masyarakat di wilayah Kecamatan Duduk Sampeyan. Mereka melakukan serangkaian kegiatan dan tata ritual tertentu, tetapi tidak semuanya dilalui dengan pelaksanaan ritual-ritual. Masyarakat yang tinggal di wilayah Kecamatan Duduk Sampeyan bagian Utara, yang pada umumnya bermatapencaharian sebagai petani tambak memulai tahap kegiatannya dengan mempersiapkan lahan (ngeduk); mengairi lahan (nyengkani), mengontrol kedalaman air; mengukur kadar garam dalam air; merabuk tanah dengan pupuk; memilih sekaligus membeli nener atau benur (benih ikan) yang baik; menebarkan benih ikan di lahan (lebon); memberi makanan dan obat-obatan; menambah atau mengurangi kedalaman air;
ngera (panen) yang dikonsepsikan dengan istilah merek atau banjang. Dari sekian banyak tahap kegiatan tersebut, ritual pertanian bagi petani tambak sebagian besar berpusat pada saat mereka lebon karena masa ini merupakan masa krusial. Hal ini sangat berbeda dengan petani sawah yang mempunyai proses ritual lebih kompleks dan rumit.