kanan-kiri sawah yang mengetahui langsung berkumpul di sana. Makanan yang disajikan pada slametan ini berbeda dengan makanan dalam pelaksanaan metil di rumah. Tempe dengan alas daun pisang di dalamnya berisi segoh poteh dan urap-urap jangan. Di bagian tengahnya, dilengkapi dengan ikan dan sajian lauk-pauk, seperti ayam panggang lengkap dengan kepala, kaki dan jeroannya. Setelah menikmati sajian makanan-makanan itu, orang yang punya hajat berjalan mengelilingi sawah sambil memohon kepada Allah agar tanaman padi yang akan dipanen mendapat barokah.
“Niku namung tradisi, kangge syarat mawon ambek ngelestarikno nopo seng dados kebiasaan wong biyen”, 34 kata saudari Rasning tentang slametan di sawah.
Ritual kleman merupakan salah satu ritual paling populer di lingkungan masyarakat yang mempunyai mata pencaharian sebagai petani sawah. Ritual ini menjadi perekat hubungan di antara penduduk sebab sebelum ritual dilaksanakan selalu didahului dengan kebiasaan saling ater- ater makanan yang dilakukan antar sesama penduduk setempat. Beberapa hari sebelum ritual dilaksanakan, penduduk sudah mempersiapkan bahan-bahan makanan yang diperlukan. Di antara mereka ada yang belanja sendiri ke pasar. Namun, tidak jarang pula yang cukup membelinya dari para welijo yang sedang keliling kampung.
Pelaksanaan ritual keleman antara penduduk yang satu dengan penduduk yang lain waktunya hampir bersamaan sehingga suasana di dalam sebuah kampung tampak lebih ramai dibanding hari-hari biasa.
Pada hari yang sudah ditentukan, masing-masing kepala keluarga atau diwakili oleh anak laki-lakinya membawa panci (dulu tempe) yang sudah diisi jenis makanan keleman menuju masjid atau langgar. Ritual keleman dimulai ketika terdengar bunyi beduk, tek dang, tek dang, tek dang yang diringi bunyi pengeras suara yang menandai dimulainya acara. Penduduk kemudian berduyun-duyun membawa makanan menuju masjid atau langgar. Meskipun makanan yang dibawa berjenis sama, tetapi mereka tetap bersemangat membawanya. Menurut H. Bisri, ritual kelemen mempunyai tujuan tersendiri yang dimaksudkan untuk mensyukuri nikmat Allah setelah masa panen. Dengan kata lain, keleman adalah acara untuk mensyukuri rizki yang diberikan Allah dengan cara menggelar slametan yang menyajikan jenis makanan yang tumbuh dalam tanah (polo pendem) .37
Di masjid atau di langgar, ritual keleman dilaksanakan dengan cara sederhana. Pada satu kesempatan, peneliti mengamati beberapa orang terlihat santai menunggu kedatangan penduduk yang lain. Sambil lesehan di serambi langgar, mereka menunggu kehadiran penduduk lainnya yang masih ada di rumah atau sedang dalam perjalanan menuju langgar—
tempat dilaksanakannya acara. Satu persatu penduduk datang membawa
37Wawancara tanggal 1 Maret 2005.
panci berisi makanan dan menaruhnya di atas tikar. Seorang di antaranya tampak sedang mengambil uang selawat yang ada di pinggir-pinggir panci yang berisi penuh makanan polo pendem. Beberapa orang lainnya terus bersemangat membaca selawat dan mengumumkan bagi mereka yang masih ada di rumah untuk segera berangkat ke langgar karena keleman segera dilaksanakan. Tidak lama kemudian penduduk datang semakin banyak sehingga menjadi ramai menandai suka cita atas rizki Allah.
Sebelum seorang Modin yang akan memimpin do’a hadir di tempat, peneliti sempatkan berbincang-bincang santai dengan H. Manan, salah seorang warga Tumapel. Dari H. Manan ini, peneliti memperoleh penjelasan bahwa ritual keleman memang sudah dilaksanakan sejak pendahulunya. “Dek Asror iki koyok wong endi wae kok takon-takon masalah keleman”, artinya: “Dik Asror ini orang mana sih kok menanyakan tentang kleman”, katanya. Peneliti menjawab, “Mboten ngoten Pak, kulo nate tumut, tapi kirang jelas tujuan terus kapan mulai ono acara niki”, artinya:
“Tidak begitu Pak, saya pernah ikut, tetapi kurang mengerti tujuan dan kapan mulai ada acara ini”. Kata H. Manan, “Tujuane enggih niku Dek Asror, nyukuri rizki saking Allah. Acara niki empun wonten mulai kulo tasek alit biyen. Mbah-mbah kulo piambak disek nggeh ngelaksanakno penggawean niku”, artinya: “Tujuannya yaitu Dik Asror, mensyukuri rizki dari Allah. Acara ini sudah mulai ada sejak saya masih kecil dulu. Nenek-nenek saya sendiri dulu juga melaksanakan kegiatan itu”.38
Perbincangan peneliti dengan H. Manan berakhir ketika datang saudara Ali, Modin yang akan memimpin do’a. Salah seorang sesepuh desa ini hadir setelah ditunggu beberapa lama oleh warga yang sudah hadir lebih dulu.
“Setelah mengucapkan salam melalui pengeras suara, Modin Ali langsung melakukan tawassul yang ditujukan kepada Nabi Muhammad, keluarga, para sahabatnya, juga kepada para wali.
Suara Modin dengan jelas dapat peneliti dengar sebab jarak antara
38Wawancara tanggal 13 Maret 2005.
tempat duduk peneliti dengan tempat duduknya hanya sekitar lima meter. Ia menyebut beberapa nama wali. Usai tawassul, Modin kemudian memimpin do’a bersama, menggunakan bahasa Arab yang dijawab “amin” oleh semua yang hadir di situ. Suasana yang tadinya ramai berubah menjadi khidmat penuh makna religius. Sebagian orang menjawab kata “amin” dengan suara lirih sambil memejamkan mata. Namun, ada sebagian yang lain—
kebanyakan remaja dan anak-anak—menjawab dengan suara agak keras”.39
Setelah do’a selesai dilaksanakan, tanpa dipersilahkan semua penduduk yang hadir langsung menikmati sajian makanan polo pendem yang sudah mereka bawa dari rumah masing-masing. Di antara mereka tampak ada yang saling tukar menukar sementara yang lain asyik menikmatinya. Menurut H. Manan, tukar menukar makanan ini dilakukan sebagai simbol persaudaraan di antara mereka. Suasana bahagia itu mereka isi dengan bersama-sama membangun kekerabatan. Demikian pula, melalui sodakohan makanan yang disajikan, mereka ingin menunjukkan kesadarannya bahwa hasil panen yang sedang dinikmati merupakan anugrah dan rizki yang diberi Allah. Penghayatan atas perasaan ini diwujudkan dengan melakukan kegiatan bersama dalam bentuk ritual.
Ritual Lingkaran Hidup
Dalam kesehariannya, warga masyarakat Kecamatan Duduk Sampeyan tidak dapat dilepaskan dari kebiasaan melaksanakan slametan.
Mereka mengenal beberapa peristiwa yang menandai siklus kehidupan.
Dalam menyambut siklus peralihan individu atau ritual lingkaran hidup (rites of passage) tersebut, hampir secara keseluruhan masyarakat melakukan tata cara tertentu, antara lain ritual kehamilan sampai kematian. Ritual kehamilan (tingkepan atau mitoni), kelahiran (procotan,
39Observasi tanggal 7 Mei 2005.
aqiqohan dan selokaran), mudun lemah, khitanan dan perkawinan. Mereka seringkali mengistilahkan ritual-ritual itu dengan brokohan atau bancaan.
Sedangkan untuk konsep ritual kematian (patine, telungdinone, petungdinone, petangpuluhe, satuse, pendake, sewune) diistilahkan slametan.40
Sama halnya dengan ritual-ritual yang mengiringi tahap-tahap pengelolahan lahan pertanian, sebagian ritual lingkaran hidup juga menyajikan makanan khusus yang bervariasi dan mengandung simbol tertentu. Seringkali ritual-ritual itu dilaksanakan dari cara yang paling sederhana hingga cara besar-besaran dengan melibatkan jumlah peserta kundangan yang banyak. Biasanya, jika orang yang punya hajat termasuk dari kalangan keluarga kaya, maka peserta yang diundang dalam hajatan juga banyak jumlahnya. Sebaliknya, bagi yang mempunyai kemampuan ekonomi biasa-biasa saja, maka hajatan yang digelar cukup sederhana dengan peserta kundangan yang sedikit. Hajatan besar dengan biaya banyak biasanya digelar untuk perkawinan keluarga kaya.