masyarakat setempat tetap lebih mengedepankan apa yang menjadi makna dan tujuan inti ritual melalui simbol-simbol tertentu yang mempunyai referensi pada Islam.
Ritual-ritual yang diperuntukkan untuk merayakan hari besar Islam pelaksanaannya mengikuti kalender Islam/Jawa yang secara berurutan dapat disebutkan sebagai berikut: Muharram/Syuro, Safar/Sapar, Rabi’u al-Awwal/Mulud, Rabi’u al-Akhir/Ba’do Mulud, Jumad al- Awwal/Jumadil Awal, Jumad al-Akhir/Jumadil Akhir, Rajab/Rejeb, Sha’ban/Ruwah, Ramadan/Poso, Shawal/Sawal, Dhulqa’dah/Selo, Dhulhijjah/Besar. Akan tetapi, di dalam bulan-bulan tersebut tidak semuanya terdapat ritual kecuali berkaitan dengan peristiwa-peristiwa tertentu yang dianggap signifikan untuk dirayakan bersama.
yang dinikmati untuk acara muludan umumnya terbuat dari ketan kuning meskipun ada juga sebagian yang menyajikan nasi kuning (sego gore).
Bahan ketan atau beras terlebih dulu dibacem dengan kunyit sehingga warnanya kuning sebelum dimasak. Sego gore diletakkan dalam sebuah panci yang sudah dilapisi dengan daun pisang lengkap dengan lauk pauknya (serundeng, rajang tahu-tempe, udang dan ikan teri). Hampir tiap- tiap keluarga ikut menyajikannya bersama-sama ke masjid atau langgar.
Di pinggir panci terdapat uang selawat serta secangkir air berisi kembang yang biasa dipergunakan untuk tabur di makam. Kembang-kembang ini melambangkan perasaan suka-cita mereka menyambut hari kelahiran Nabi Muhammad yang selalu dinanti-nanti pertolongannya kelak.98
Menjelang persiapan acara peringantan muludan di masjid jami’
Desa Wadak Kidul, ustad H.Ya’mal menjelaskan pentingnya acara muludan. Menurutnya dengan banyak membaca sholawat, kita akan mendapat shafaat Nabi kelak di hari kiamat.99 Ucapan-ucapan tersebut diulang kembali olehnya:
“Sholawat meniko pendungo ingkang nggadai keutamaan-keutamaan piyambak. Salah setunggile sholawat meniko saget dipun waos kapan mawon lan wonten pundi mawon. Sholawat enggeh saget dipun waos woten kondisi-kondisi nopo kemawon. Kulo panjenengan sedoyo monggo wonten wulan meniko ngata-ngataaken maos sholawat lan mboten supe niru perilakune Nabi Muhammad saw supados benjang wonten dinten kiamat kulo lan panjenengan sedoyo saget ansal syafa’ate”, artinya: “Shalawat itu do’a yang mempunyai kelebihan-kelebihan tersendiri. Salah satu kelebihan shalawat itu bisa dibaca kapan saja dan di mana saja.
Shalawat juga bisa dibaca dalam keadaan-keadaan apa saja. Kita semua marilah dalam bulan ini memperbanyak membaca shalawat dan tidak lupa meniru perilakunya Nabi Muhammad
98Sesuai dengan al-Qur’an surat al-Anbiya’: 107 disebutkan bahwa Nabi Muhammad adalah seorang Nabi dan Rasul yang diutus untuk memberi rahmat Allah bagi seluruh alam.
99Observasi tanggal 19 April 2005.
saw supaya besok pada hari kiamat kita semua bisa mendapat syafa’atnya”.100
Muludan populer juga dengan sebutan dibaan.101 Sebutan itu terkait dengan apa yang dibaca dalam acara, yaitu sholawat diba’iyyah,102 sehingga lebih mudah dikatakan dengan ucapan dibaan. Sebagian lagi ada yang menyebutnya marhabanan karena terkait dengan apa yang dibaca secara berulang-ulang pada saat mahal al-qiyam, yaitu marhaban (selamat datang) yang ditujukan kepada Nabi. Selain populer dengan sebutan dibaan dan marhabanan, masyarakat setempat juga memberi sebutan yang populer dengan istilah terbangan. Sebutan yang terakhir ini dapat dipahami karena dikaitkan dengan pembacaan bait-bait sholawat dalam acara mahal al-qiyam yang diiringi dengan seni menabuh terbang,103 atau juga disebut acara hadrohan yang biasanya dilaksanakan oleh anggota Ikatan Seni Hadrah Indonesia (ISHARI) masyarakat setempat.
Prosesi acara muludan oleh masyarakat setempat sarat dengan simbol, tetapi pada intinya pembacaan sholawat Nabi, ceramah, do’a dan manganan. Rangkaian acaranya seringkali dilengkapi dengan kebiasaan- kebiasaan masyarakat lokal, seperti membakar dupa atau kayu setanggi di tengah-tengah kerumunan orang yang hadir. Bau harum dari asap tersebut dimaknai sebagai lambang kehadiran Nabi. Jika tidak ada
100Khutbah jum’at 22 April 2005.
101Dalam sejarah Islam, perayaan mawlid Nabi sebenarnya mempunyai akar tradisi yang sudah lama. Acara peringatan ini pertama kali sudah diperkenalkan oleh penguasa Dinasti Fatimiyah (909-1171). Peringatan mawlid Nabi oleh Dinasti Fatimiyah ini dimaksudkan untuk membentuk opini publik tentang hubungan geneologi antara mereka dengan Nabi. Upaya ini dilakukan sebagai propaganda politik yang menegaskan bahwa mereka adalah satu-satunya pewaris otoritas Nabi sebagai pemimpin komunitas Muslim. 101Lihat dalam Toha Hamim, Islam dan NU Dibawah Tekanan Problematika Komtemporer: Dialektika Kehidupan Politik, Agama, Pendidikan dan Sosial Masyarakat Muslim (Surabaya: Diantama, 2004), 183
102 Sholawat diba’iyyah dikarang oleh Imam Daiba’i. Ibid., 259.
103Wawancara dengan Pak Hamam tanggal 25 April 2005.
wewangian yang dibakar dari bahan itu, maka kehadiran Nabi disimbolkan dengan bau minyak wangi.
Di masjid Wadak Kidul, pelaksanaan acara muludan diawali pembukaan dibawakan dengan bahasa Indonesia yang lancar oleh Hamam:
“Bapak-bapak, Ibu-ibu dan para hadirin yang saya hormati. Atas nama panitia penyelenggara, saya mengucapkan terima kasih atas partisipasi bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian dalam penyelenggaraan acara muludan ini. Semoga dengan momentum peringatan hari kelahiran Nabi ini, kita dapat mengambil hikmah- hikmah yang terkandung di dalamnya. Yang pertama, dengan muludan ini kita berharap akan dapat menambah kecintaan kita kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw. Dengan bacaan sholawat Nabi yang akan kita baca nanti, semoga Allah tetap memberikan kedamaian kepada Nabi Muhammad saw. Dan atas bacaan-bacaan sholawat itu pula, kita berharap akan mendapat syafaatnya. Peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad adalah bukti kecintaan kita, tetapi yang terpenting dari peringatan ini adalah keteguhan kita di dalam melaksanakan sunnah-sunnah Nabi. Kita berharap dapat meniru segala perilaku yang sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad, baik ketaqwaan, kesabaran, keluhuran budi pekerti dan seterusnya, sebagaimana sudah disebutkan oleh Allah di dalam kitab al-Qur’an, yakni ayat yang berbunyi laqad kana lakum fi Rasul Allah uswatun hasanah...”.104 Setelah pembukaan dilaksanakan dengan bersama-sama membaca surat Fatihah, acara yang kedua adalah pembacaan ayat-ayat al-Qur’an yang dibaca oleh dua orang qari’ yang masih berusia remaja (juara tingkat propinsi Jawa Timur) yang didatangkan dari Surabaya secara bergantian.
Ayat-ayat yang dibaca oleh dua orang qari’ itu antara lain sama seperti yang dibaca oleh ustad Hamam pada saat menyampaikan pembukaan:
104Observasi tanggal 21 April 2005.
“laqad kana lakum fi Rasul Allah uswatun hasanah…”.105 Ketiga adalah sambutan yang disampaikan oleh takmir masjid yang merangkap sebagai panitia penyelenggara peringatan acara muludan. Sambutan singkat ini disampaikan ustad H. Yakmal.
Pada acara yang keempat dibacakan sholawat diba’ secara bergiliran oleh H. Taufiq, Sholeh, Su’udi dan seterusnya. Dari bacaan laqad ja’akum rasulun min anfusikum ‘azizun … sampai hadith–hadith (mereka menyebutnya rowi) yang menceritakan kehidupan Nabi. Mereka membaca hadith-hadith dan bait-bait yang berisi sanjungan terhadap Nabi serta melagukannya dengan penuh semangat. Sampai kepada rowi hadith tertentu, semua peserta yang hadir berdiri bersama-sama yang disebut mahal al-qiyam. Seorang di antaranya meneriakkan Allahumma salli
‘ala Muhammad kemudian disahut serentak yang lain dengan Allahumma salli ‘alayhi sehingga suasana lebih semarak dibandingkan acara yang sebelumnya. Saat itu, asap harum mulai menyebar di seluruh ruangan masjid dari dupa yang dibakar salah seorang di antaranya sebagai simbol kehadiran Nabi. Untuk menambah semerbak bau harum, di bagian sisi lain dalam masjid, seorang menggantinya dengan menyemprotkan minyak wangi.
Seperti mahal al-qiyam pada acara selokaran ketika menyambut kelahiran seorang anak, mahal al-qiyam dalam acara muludan ini juga disemarakkan oleh kegiatan terbangan oleh anggota ISHARI setempat.
Ada lima orang yang bertugas sebagai pemukul terbang.106 Mereka berdiri berhadap-hadapan dengan peserta rodad yang berjumlah sekitar tiga puluh orang. Di pimpin oleh H. Rohim, seluruh peserta rodad itu menunjukkan kemahirannya memainkan seni hadrah.Sesekali mereka meliuk-liukkan badannya, ke kanan dan ke kiri, duduk bertumpuh dengan kedua lutut dengan tangan saling terkait dan berdiri kembali secara bergantian.
105Lihat al-Qur’an surat al-Ahzab: 21.
106Penghormatan kepada Nabi Muhammad dengan menggunakan rebana pernah dilakukan oleh sahabat Muhajirin. Lihat Abdusshomad, Fiqh Tradisionalis, 328.
Sesekali mereka melakukan kecek, yaitu kedua telapak tangan mereka terangkat ke atas dan kemudian ditepukkan secara bersama-sama.
Pelaksanaan mahal al-qiyam dengan bersama-sama membaca bait- bait barjanzi ini berakhir dengan teriakan sholawat Allahumma salli ‘ala Muhammad oleh salah seorang peserta rodad yang kemudian dijawab serempak dengan bacaan Allahumma salli alayhi. Seluruh peserta, baik anggota ISHARI yang rodad dan yang lain kemudian duduk kembali ditempatnya semula. Selanjutnya, dimulai acara yang keempat, yaitu ceramah inti yang disampaikan oleh Habib Mukhdlor dari Gresik.
Penceramah yang biasa mengisi acara di radio Swara Giri FM Gresik ini banyak mengulas pentingnya menanamkan rasa cinta kepada Rasulullah sebab ia mulai prihatin dengan munculnya perilaku generasi muda sekarang yang sudah mulai kehilangan figur yang harus diikuti. Satu penggal kalimat yang diungkapkannya seperti: “tanda-tandanya orang yang mencintai Rasulullah adalah seringkali menyebut namanya, seperti yang sudah dilakukan oleh para anggota ISHARI tadi”. Dengan kalimat- kalimatnya yang khas, Habib Mukhdlor juga mengatakan pentinya digelar acara-acara seperti malam itu agar barokah Allah dapat diturunkan.
Misalnya ungkapan dia tentang:
“Sejatine barokah niku nopo sih? Orang-orang kalau ketemu kyai kok sering ngomong, “nyuwun barokahe yai”. Barokah yaitu langgenge kenikmatan. Tak contohno, kalau ada orang yang kaya tetapi tidak dapat menikmati kekayaannya berarti hartanya tidak barokah. Punya anak tetapi tidak mau nurut kepada orang tua, tidak mau mendo’akan orang tua berarti anaknya tidak barokah. “Terus di mana turunnya barokah itu”? Barokah itu diberikan Allah melalui chanel-chanele, termasuk acara malam ini merupakan chanel diturunkan barokahe Allah. Kita ini ibarate koyok buah rambutan seng cilik-cilik. Kalau dicampur dengan buah rambutan yang besar (para alim), maka kita juga akan laku dijual.
Kalau kita kumpul dengan orang yang berjualan minyak wangi, insyaallah ikut wangi. Kalau kita berkumpul dengan para kyai seperti malam ini, kita mendapat barokah Allah sebab kyai iku chanele barokah”, artinya:
“Sebenarnya barokah itu apah sih? Orang-orang jika bertemu dengan kyai kok sering mengatakan, “minta barokahnya kyai”.
Barokah yaitu tetapnya kenikmatan yang berlangsung secara kontinyu. Saya contohkan, jika ada orang kaya tetapi tidak dapat menikmati kekayaannya berarti hartanya tidak barokah.
Mempunyai anak tetapi tidak mau menurut kepada orang tua, tidak mau mendo’akan orang tua berarti anaknya tidak barokah.
“Kemudian di mana barokah itu diturunkan”? Barokah itu diberikan Allah melalui saluran-salurannya, termasuk acara malam ini merupakan saluran diturunkan barokahnya Allah. Orang awam itu ibaratnya seperti buah rambutan yang kecil-kecil. Jika dicampur dengan buah rambutan yang besar (orang alim), maka kita kita juga akan laku dijual. Kalau kita kumpul dengan orang yang berjualan minyak wangi, insyaallah ikut wangi. Kalau kita berkumpul dengan para kyai seperti malam ini, kita mendapat barokah Allah sebab kyai iku salurannya barokah”.107
Setelah caramah agama oleh Habib Mukhdlor selesai, maka acara yang kelima adalah do’a yang pimpin oleh Kyai Ali Fikri. Seperti do’a- do’a lain yang biasa dilaksanakan oleh masyarakat setempat, semua peserta yang hadir di masjid membaca berdo’a sambil mengangkat kedua tangan hingga selesai.108 Adapun paling akhir dari muludan ini adalah manganan. Mereka menikmati nasi putih dan atau nasi kuning (sego gore) yang sebelumnya dibawa dari rumah masing-masing. Bagi sebagian orang yang tidak membawa ambeng juga turut serta bergabung di dalamnya.
Mereka kelihatan akrab membagi kesempatan bagi semua orang yang hadir untuk dapat bersama-sama menikmati ambeng yang menurut
107Observasi tanggal 21 April 2005.
108“Tata cara dalam berdo’a adalah menengadakan kedua tangan, bertahmid kepada Allah SWT, membaca shalawat kepada Nabi Muhammad saw, lalu memohon hajatnya (apa yang diinginkan).
Ketika berdo’a tidak melihat ke atas, dan seusai berdo’a mengusap mukanya dengan kedua tangannya. Karena hadith Nabi saw, “Mohonlah kepada Allah dengan (menggunakan) telapak tangan kalian”. Lihat tata cara berdo’a dalam Abdusshomad, Fiqh Tradisionalis, 319.320.
pandangan sebagaian besar di antara mereka mengandung barokah dari Allah setelah berdo’a bersama mengelilingnya. Dalam kesempatan itu tampak satu talam, tempat nasi yang disediakan tersebut dikerumuni oleh lebih dari dua orang.