panen,18 di mana pada masyarakat tertentu, tahap-tahap tersebut seringkali diawali dengan proses ritual.19
Demikian pula halnya dengan kegiatan bertani bagi masyarakat di wilayah Kecamatan Duduk Sampeyan. Mereka melakukan serangkaian kegiatan dan tata ritual tertentu, tetapi tidak semuanya dilalui dengan pelaksanaan ritual-ritual. Masyarakat yang tinggal di wilayah Kecamatan Duduk Sampeyan bagian Utara, yang pada umumnya bermatapencaharian sebagai petani tambak memulai tahap kegiatannya dengan mempersiapkan lahan (ngeduk); mengairi lahan (nyengkani), mengontrol kedalaman air; mengukur kadar garam dalam air; merabuk tanah dengan pupuk; memilih sekaligus membeli nener atau benur (benih ikan) yang baik; menebarkan benih ikan di lahan (lebon); memberi makanan dan obat-obatan; menambah atau mengurangi kedalaman air;
ngera (panen) yang dikonsepsikan dengan istilah merek atau banjang. Dari sekian banyak tahap kegiatan tersebut, ritual pertanian bagi petani tambak sebagian besar berpusat pada saat mereka lebon karena masa ini merupakan masa krusial. Hal ini sangat berbeda dengan petani sawah yang mempunyai proses ritual lebih kompleks dan rumit.
semua penduduk yang akan menebar benih ikan di tambak. Inti ritual seperti diungkapkan seorang warga bernama Sholeh adalah memohon kepada Allah agar benih yang sudah ditebarkan di tambak dapat tiris (hidup secara layak dan tidak banyak berkurang karena mati atau terserang wabah penyakit) dan slamet hingga masa panen datang. Sholeh mengatakan bahwa masyarakat petani tambak sangat serius saat mereka menebarkan benih. Jika tahap awal ini berlangsung dengan baik, maka tahap berikutnya relatif mudah. Bertambak menurut keterangan Sholeh ibarat menanam pohon. Jika bibit yang ditanam dan cara menanamnya bagus, maka tinggal merawatnya saja. Demikian pula sebaliknya, jika cara menanam bibit ikan tersebut jelek, maka hasilnya juga kurang maksimal.20
Di samping itu, diperlukan ritual khusus yang disebut sambetan.
Sehari-hari ungkapan ini digunakan ketika ada orang sakit dan butuh pengobatan (sambetan). Maksud dilaksanakan ritual ini diungkapkan H.
Rosyid:
“Ngga’ suwe Dek Asror, sakwise dibeyarno biasane nener bandeng rodo gopok. Wong-wong petani kene ngarani penyakit salad seng sering nyerang nener sek enom umure. Penyakit iki diwedeni wong tani tambak sebab nyerange ndadakan. Kapan wes kenek penyakit iki, biasane iwak bandeng seng gek cilik iso kuru-kuru terus berubah werno kulite dadi loreng-loreng.
Supoyo slamet terus adoh songko penyakit mau, wong-wong tani kene biasane ngelaksanakno acara sambetan koyo seng wes dilakoni karo wong- wong tuwo biyen. Kebiasaan sambetan wes suwe dilakoni wong kene turun- temurun. Tujuane supoyo iwake bandeng seng ditebarno dadi slamet terus adoh songko penyakit”, artinya: “Tidak lama Dik Asror, sesudah ditebarkan biasanya nener bandeng agak rentan. Orang-orang petani di sini menamakan penyakit salad yang sering menyerang nener yang masih mudah umurnya. Penyakit ini ditakuti petani tambak karena menyerang mendadak. Jika sudah terserang penyakit ini, biasanya ikan bandeng yang masih kecil menjadi
20Wawancara tanggal 20 Pepruari 2005.
kurus kemudian warna kulitnya berubah doreng-doreng. Agar selamat dan jauh dari penyakit tadi, orang-orang petani di sini biasanya melaksanakan acara sambetan seperti yang sudah dilakukan orang-orang tua dulu. Kebiasaan sambetan sudah lama dilakukan secara turun-temurun. Tujuannya agar ikan bandeng yang ditebarkan menjadi selamat dan jauh dari penyakit”.21 Informasi di atas peneliti peroleh melalui wawancara dengan H.
Rosyid seusai melaksanakan penebaran benih ikan yang dilaksanakan pada awal musim hujan atau masyarakat di sana menyebutnya musim labuhan. Kira-kira jam 08.00 WIB sinar matahari belum begitu terik sehingga dengan lebih leluasa peneliti dapat mengikuti proses penebaran ikan tersebut. Bermula dari perbincangan kecil di warung milik H. Nur yang terletak di pertigaan jalan Desa Keramat menuju pasar Duduk Sampeyan yang setiap pagi berjualan kopi, ketan dan makanan ringan lainnya. Warung H. Nur ini selalu ramai karena dibuat tongkrongan oleh para petani sebelum menuju ke tambak. Saat itulah, tampak H. Rosyid dan beberapa orang anggota keluarganya, termasuk anak dan istrinya bernama Hj. Rohimah membawa beberapa kardus berisi kantong plastik.
H. Nur spontan mengatakan: “Pak Rosyid koyoe angkate lebon”.
Mendengar apa yang diucapakan H. Nur itu, peneliti langsung mengikuti perjalanan H. Rosyid dan keluarganya karena ingin mengamati proses penebaran benih di tambaknya yang secara kebetulan terletak tidak jauh dari warung milik H. Nur sehingga dari awal sampai akhir peneliti dapat mengamati seluruh kegiatannya.
“Sebelum membuka kantong-kantong plastik berisi benih bandeng, H. Rosyid menceburkan diri ke dalam tambak dengan pakaian khas petani, kaos oblong yang sudah lusuh dan celana pendek dengan bagian-bagiannya yang sudah robek. Saya mendengar sendiri H.Rosyid menyebut beberapa kali nama Allah yang sebelumnya diawali dengan membaca bismi Allah al-rahman
21Wawancara tanggal 24 Pepruari 2005.
al-rahim. H. Rosyid juga membaca selawat, Allahumma salli ‘ala Muhammad. Kemudian layaknya orang akan sholat, H. Rosyid menjamah air beberapa kali untuk berwudu. Setelah melakukan wudu, dari bibirnya dengan suara lirih saya mendengar ia sedang membaca sesuatu. Hj. Rohimah menuturkan, “Bapak moco-moco dungo songko pak kyai”. Beberapa saat kemudian, H. Rosyid mengeluarkan sebuah kantong kain yang ternyata berisi beberapa bumbu dapur yang sudah dipersiapkan Hj. Rohimah dari rumah.
Bumbu dapur yang peneliti maksudkan antara lain bawang merah, bawang putih, kunir dan lain sebagainya. Semuanya ditusuk dengan sapu lidi dan ditancapkan di tempat penebaran ikan”.22
Bumbu-bumbu tersebut melambangkan bibit ikan yang sedang ditebar oleh H. Rosyid dan keluarganya. Selain bumbu-bumbu dapur dan lidi yang ditancapkan tersebut, terdapat pula kukusan (anyaman bambu berbentuk limas yang digunakan orang Jawa untuk ngukus nasi). Kukusan diletakkan untuk menutupi sapu lidi yang dipenuhi bumbu-bumbu pada lidi yang sudah tertancap sebelumnya. Sebagian ujung bawah kukusan menyentuh permukaan air. Bagian kukusan yang runcing bentuknya diarahkan atau menghadap ke atas sehingga posisinya menjadi terbalik menghadap ke bawah—tidak seperti ketika orang Jawa sedang ngukus nasi. Menurut Hj. Rohimah, posisi kukusan yang terbalik menutupi bumbu-bumbu tadi melambangkan perlindungan untuk bibit bandeng yang ditanam yang dilambangkan oleh bumbu-bumbu dapur tadi. Hj.
Rohimah menegaskan kukusan merupakan media simbolis menolak penyakit yang sering menimpah.23 Setelah dilaksanakan prosesi sambetan, semua peralatan tersebut ditinggalkan begitu saja sampai kondisinya rusak. Biasanya peralatan yang dibutuhkan untuk prosesi sambetan sudah dipersiapkan di rumah penduduk sehingga ketika dibutuhkan tinggal menggunakannya saja.
22Observasi tanggal 25 Pepruari 2005.
23Wawancara tanggal 25 Pepruari 2005.
Sebagai rangkaiannya, sehari setelah lebon dengan prosesi sambetan, Hj. Rohimah menyelenggarakan slametan sederhana. Ia mengundang beberapa orang tetangga dekat untuk datang ke rumahnya. Hajatan yang dilakukan usai prosesi sambetan berlangsung sangat sederhana.
Kesederhanaan ini tampak dalam acara manganan yang dihadiri oleh beberapa orang tetangga dekatnya. Sebelum manganan dimulai, H. Rosyid menugaskan sesepuh kampung memimpin do’a dalam hajatan itu.
Diawali dengan sambutan pendek yang mengutarakan maksud H.
Rosyid, sesepuh kampung mengajak peserta manganan yang jumlahnya hanya beberapa orang untuk bersyukur dan memohon kepada Allah agar H. Rosyid dan keluarganya diberi kewarasan serta benih ikan yang telah ditebar tidak mendapat gangguan. Ucapan sesepuh kampung itu langsung dijawab “amin” semua yang hadir. Kemudian ia mengajak semua yang hadir membaca selawat. Sambutan dari sesepuh kampung ini berlangsung singkat, hanya berlangsung kurang dari lima menit. Setelah sesepuh mengutarakan maksud dari tuan-rumah, ia kemudian tawassul kepada Nabi Muhammad, keluarga dan para sahabatnya. Setelah proses itu selesai, ia kemudian memimpin do’a yang diamini oleh semua peserta, dengan kedua tangan mereka terangkat ke atas.24 Proses do’a yang dipimpin sesepuh kampung tersebut berlangsung kurang dari dua menit.
Setelah do’a selesai dibaca, dengan cara yang ramah H. Rosyid mempersilahkan peserta manganan untuk menikmati apa yang sudah disediakan oleh keluarganya.
Di samping itu, disajikan pula makanan yang khusus diperuntukkan dalam hajatan setelah prosesi sambetan, yaitu makanan pulo dan dawet. Pulo terbuat dari karak (nasi yang sudah dikeringkan) diaduk dengan gula merah dan kelapa. Sedangkan minuman dawet terbuat dari
24Mengangkat tangan merupakan salah satu cara dalam berdo’a seperti dalam hadith:
“Dari Malik ibn Yasar al-Sakuni, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda,” Jika kalian memohon (berdo’a) kepada Allah, maka mintalah pada-Nya dengan (menengadahkan) telapak tanganmu.
Dan jangan lah kamu meminta kepada Allah dengan punggung tanganmu..” (Sunan Abi Dawud:
1271).
santan kelapa dan gula merah yang diisi dengan butiran-butiran tepung beras putih yang sudah dimasak. Tepung beras putih tersebut dicetak berbentuk bulat dalam jumlah sangat banyak. Makanan inilah yang menjadi peralatan inti dari prosesi slametan dalam ritual sambetan. Makanan ini mengandung simbol-simbol tertentu. Menurut Hj. Rohimah, makanan pulo maupun minuman dawet yang disajikan dalam hajatan tersebut melambangkan makna-maknanya tersendiri. Jenis makanan pulo yang padat melambangkan makna dari kepadatan ikan. Sedangkan butiran-butiran dawet melambangkan banyaknya ikan yang hidup di dalam air.25 Melengkapi makanan itu, juga disediakan buah segar, seperti pisang dan semangka. Pada akhir acara, sebagian buah yang tersisa di situ dibagikan kepada peserta.