Pada usia tua hampir pasti tidak ada ritual adat kecuali ritual pada masa paripurna atau masa meninggal dunia. Ada beberapa ritual yang dalam konsepsi mereka disebut dengan istilah slametan yang diperuntukkan untuk memperingati orang yang meninggal dunia. Maksud dari ritual slametan adalah mengirim do’a, yaitu slametan yang diperuntukkan pada saat kematiannya (patine), tiga harinya (telungdinone), tujuh harinya (petungdinone), empat puluh harinya (petangpulune), seratus harinya (satuse), setahunnya (pendake) dan seribu harinya (sewune). Seribu hari dalam peringatan orang yang meninggal dunia (sewune) tidak pas jatuh pada hari ke seribu dan slametan tersebut selalu menyajikan makanan apem (berasal dari bahasa Arab, ‘afuwwun), simbol yang berarti harapan masyarakat agar yang meninggal mendapat ampunan dari Allah.68
67Observasi tanggal 12 April 2005.
68Ungkapan ustad Fatihin pada telungdinone Hj. Marokah, tanggal 12 Juli 2005.
Kematian mempunyai rangkaian panjang yang melibatkan orang- orang yang ada di sekitar keluarga orang yang meninggal. Bagi tetangga yang rumahnya dekat kemungkinan besar dapat mengetahui lebih cepat begitu ada berita kematian seseorang. Namun, bagi mereka yang letak rumahnya berjauhan mungkin dapat mengetahuinya setelah ada berita kematian yang diumumkan melalui pengeras suara masjid/langgar. Berita kematian seseorang yang diumumkan di masjid/langgar diawali dengan bacaaan inna li Allah wa inna ilayhi raji’un, dan segera setelah penguman tersebut, hampir seluruh warga laki-laki ikut nyelawat (asal kata salawat), yaitu datang untuk mendo’akan jenazah yang masih ada di rumah, sambil menunggu dilakukan proses pensuciannya.
Proses nyelawat yang dilakukan oleh kaum laki-laki berbeda dengan apa yang dilakukan oleh kaum perempuan, meskipun tujuan mereka sama, yaitu sama-sama mendo’akan orang yang meninggal dunia ketika jenazahnya masih terbaring di rumah. Bagi orang perempuan, nyelawat dilakukan dengan membawa bingkisan beras ditaruh dalam sebuah ember (beratnya tidak ditentukan) diberikan kepada keluarga yang mengalami kesedihan karena ditinggal oleh anggota keluarganya.
Mereka datang secara berkelompok-kelompok. Setelah beras diserahkan kepada keluarga orang yang meninggal, mereka tidak langsung pulang tetapi duduk sebentar melakukan acara tahlilan bersama yang dipimpin oleh salah satu di antara anggota kelompok mereka. Demikian seterusnya hingga jenazah orang yang meninggal itu selesai dimandikan Pak Modin dan keluarga dekatnya untuk diberangkatkan ke masjid kemudian disholatkan.
Di masjid, jenazah tidak langsung disholatkan. Sambil menunggu warga yang lain, peserta sholat jenazah dengan dipimpin seorang takmir membacakan huwa al-habib al-ladhi… . Bacaan salawat burdah ini berlangsung beberapa menit dan berakhir ketika Pak Modin/kyai yang dipasrahi keluarga yang meninggal datang untuk memimpin sholat jenazah. Ketika sholat jenazah selesai dilaksanakan, mereka tidak langsung membubarkan diri, tetapi kembali membaca tahlilan yang
dilakukan dengan cara berdiri sebagai tanda penghormatan terakhir kepada jenazah, terutama bagi mereka yang tidak sempat ikut mengantar ke pemakaman. Selama perjalanan menuju makam, bacaan tahlil terus dilakukan.69 Selesai proses pemakaman kemudian dilakukan talqin.70
Ketika proses pemakanan selesai, di rumah keluarga orang yang meninggal dunia biasanya masih ramai oleh para pelayat atau keluarga yang jauh rumahnya dan sebelumnya tidak sempat datang. Pada saat itulah dilakukan slametan sederhana yang biasanya hanya dihadiri oleh sanak keluarga dan tetangga dekat. Proses slametan ini berlangsung singkat karena hanya ada tawassul kepada Nabi Muhammad beserta sahabat yang dimpin oleh Pak Modin/sesepuh dan bacaan surat Fatihah yang dihadiakan kepada orang yang baru meninggal dunia agar diampuni dosanya oleh Allah.71 Makanan utama yang biasa disajikan dalam slametan tepat pada hari kematian ini adalah apem, nasih putih dengan serundeng, beberapa iris dadar telur, tempe, tahu dan ikan kering.
Pada setiap malam hingga hari ketujuh dari kematian seseorang selalu diadakan acara ngaji (membaca surat Yasin dan dhikir bersama) yang lazim disebut tahlilan karena dari sekian banyak bacaan, kalimat tahlil disebut lebih panjang. Pahala dari bacaan-bacaan itu dihadiahkan kepada orang baru meninggal dunia. Hal tersebut biasanya disampaikan pada hari pertama, disampaikan Pak Modin yang mewakili tuan rumah sekaligus memimpin acara hingga pelaksanaan do’a. Peserta yang datang pada acara tahlilan bersama selama tujuh hari ini biasanya tidak menerima undangan tuan rumah karena sudah menjadi kelaziman (prevalensi) sejak turun temurun, tetapi sifatnya tidak mengikat.72
69Lihat Abdusshomad, Fiqih Tradisionalis, 196.
70Menuntun mayat agar dapat menjawab pertanyaan Munkar-Nakir. Ibid., 201.
71Lihat dalil-dalil tentang hadiah sampainya pahala kepada orang yang meninggal dunia dalam Muhyiddin Abdusshomad, Tahlil dalam perspektif Al-Qur’an dan As-Sunnah (Kajian Kitab Kuning) (Jember-Malang: NURIS-Pustaka Bayan, 2004), 21.
72Amalan-amalan ini termasuk meniru perbuatan sahabat Nabi. Imam Ahmad bin Hambal dalam kitab al-Zuhd yang dikutip al-Suyuti dalam kitab al-Hawi li al-Fatawi
Selama pelaksanaan tahlilan, keluarga orang yang meninggal dunia menghidangkan makanan dan minuman ala kadarnya, menurut kemampuan mereka. Jenis makanan dan minuman yang mereka hidangkan ini sangat variatif karena tidak ada aturan yang baku tentangnya. Biaya membuat makanan dan minuman ini juga tidak dibebankan kepada orang yang meninggal dunia sebab hal itu bukan merupakan kewajiban mayit, tetapi sifatnya hanya sedekah yang dilakukan oleh keluarga yang masih hidup dan pahalanya dihadiahkan kepada orang yang meninggal dunia, sebagaimana pernah disarankan Kyai Ali Fikri, saat memberi sambutan selesai mensholatkan jenazah Hj.
Musaku.
“Kaulo atas nami keluarga mayit, matur kasuwun sanget dumateng panjenengan sedoyo ingkang sampun rawuh saperlu nyolataken jenazah ibu Hj. Musaku. Saking keluarga mboten saget mbales punopo-punopo anangin ucapan jazakum Allah khairan kathira. Mugi-mugi amal kulo lan panjenengan sedoyo dipun wales deneng Allah lan kito benjeng pejah dalam keadaan khusnul khatimah, amin. Sak lajengipun, atas nami keluarga kaulo enggeh nyuwun ikhlas dumateng panjenengan sedoyo, mbok menawi ibu Hj. Musaku anggene seserawungan kalean panjenengan sedoyo wonten kekhilafan atawen kesalahan baik ingkang dipun sengojo atawen mboten dipunsengojo. Pancen menungso meniko mboten saget luput saking kesalahan, baik arupi kesalahan enkang sifat hubungane kalean Allah atawen sifat hubungane kalean menunso. Saking keluarga, mbok menawi wonten hak-hak Adam engkan dereng saget dipun rampungaken deneng ibu Hj. Musaku kaulo suwun hubungan mawon kalean keluarga mayit, kanti dipun selesaiaken secara kekeluargaan. Lajeng, monggo kaulo lan panjenengan sedoyo saget imut marang kematian. Monggo eleng bele kaulo dan panjenengan sedoyo niki enggeh bakal ngalami nopo ingkang sampun mengatakan bahwa “orang yang meninggal dunia diuji selama tujuh hari di dalam kubur mereka, maka kemudian para sahabat mensunnahkan bersedekah makanan untuk orang yang meninggal dunia selama tujuh hari itu”. Ibid., 66.
dialami ibu Hj. Musaku meniko. Mugi-mugi kematian meniko saget dados pelajaran, dados nasehat kaulo lan panjenengan sedoyo engkang tasek gesang wonten dunyo meniko. Sampun wonsal-wansul dipunterangaken oleh poro kyai-ulama, supados kematian meniko saget dadeaken nasehat “kafa bi al-mawti maw’izatun”. Lan kangge keluarga supados dipun paringi Allah ketabahan. Empun ngantos meninggale mayit meniko ndadosaken repot keluarga nopo male sampek ngana-nganakno panganan kangge jamuan ngajine mayit. Menawi wonten, sodakoh ala kadare mawon.
Menawi mboten wonten, nggeh mboten nopo-nopo sebab mboten dados kewajiban …”, artinya: “Saya atas nama keluarga mayit, sangat berterima kasih kepada saudara sekalian yang sudah hadir untuk menshalatkan jenazah ibu Musaku. Dari keluarga tidak bisa membalas apa-apa kecuali ucapan semoga Allah membalas dengan kebaikan yang lebih banyak. Mudah-mudahan amal kita dan saudara sekalian dibalas oleh Allah dan kita besok meninggal dalam keadaan baik di akhir, amin. Kemudian, atas nama keluarga saya juga meminta keikhlasan kepada saudara sekalian, jika ibu Haji Musaku ketika bergaul dengan saudara sekalian ada kekhilafan atau kesalahan baik yang disengaja ataupun tidak disengaja. Memang manusia itu tidak dapat terlepas dari kesalahan baik sifatnya berhubungan dengan Allah atau sifatnya hubungan dengan manusia. Dari keluarga, jika ada hak-hak Adam yang belum bisa diselesaikan dengan ibu Haji Musaku saya minta supaya berhubungan saja saja dengan keluarga mayit, supaya diselesaikan secara kekeluargaan. Kemudian, mari kita semua dapat ingat kepada kematian. Mari ingat kalau kita semua ini juga akan mengalami apa yang sudah dialami ibu Haji Musaku.
Mudahah-mudahan kematian ini bisa menjadi pelajaran, menjadi nasehat kita sekalian yang masih hidup di dunia ini. Sudah berkali-kali diterangkan oleh para ulama, supaya kematian ini bisa menjadi nesehat “cukuplah dengan kematian ini menjadi nasehat”. Dan untuk keluarga supaya diberi Allah ketabahan.
Jangan sampai sepeninggalnya mayit ini menjadikan keluarga repot apa lagi sampai mengada-adakan makanan untuk jamuan mengajinya mayit. Jika ada, sedekah ala kadarnya saja. Jika tidak ada, ya tidak apa-apa karena tidak menjadi kewajiban …”.73 Pada hari ketiga atau lazim disebut telundinone, biasanya diadakan ngaji ke makam yang waktunya dilakukan pada pagi atau sore hari. Sama dengan acara ngaji pada waktu malam hingga hari ke tujuh yang diadakan di rumah, acara ke makam juga dilakukan dengan membaca tahlil yang dipimpin oleh seorang modin atau kyai yang dipasrahi tuan rumah. Ngaji ke makam pada hari ketiga ini didahului dengan manganan di rumah.
Apabila keluarga yang meninggal tersebut termasuk orang kaya, maka orang-orang yang mendapat undangan mengikuti ngaji ke makam biasanya masih menerima lagi amplopan uang yang disebut selawat. Pada waktu malam hari ketiga itu, pelaksanaan acara di rumah berbeda dengan hari kedua, keempat, kelima dan keenam. Pada hari ketiga, peserta tahlil menerima berkat. Hal yang sama dilakukan untuk acara tahlilan pada hari ke tujuh yang lazim mereka sebut petungdinone sampai pada sewuni.
Setelah acara petungdinone itu, untuk sementara acara dihentikan.
Baru setelah menginjak hari ke empat puluh, acara seperti telungdinone dan petungdinone digelar kembali. Berturut-turut setelah acara itu adalah satuse, pendake dan sewune. Sebagaimana dijelaskan, keseluruhan tahap ritual itu tidak pernah sepi dari makanan apem. Pada pengamatan di berbagai tempat, tidak ada yang tidak menyertakan apem meskipun keluarga mayit juga menyediakan berkat dengan nuansa lebih modern pada acara telungdinone hingga sewune. Model perjamuan makan yang “membebani”
inilah yang mendapat tantangan kalangan modernis,74 karena tidak ditemukan perintahnya dalam al-Qur’an.75
73Observasi tanggal 25 April 2005.
74Lihat Zaini Muchtarom, Islam di Jawa dalam Perspektif Santri dan Abangan (Jakarta:
Salemba Diniah, 2002), 62.
75Lihat dalam Martin Van Bruinessen, Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat: Tradisi-Tradisi Islam di Indonesia (Jakarta: Mizan, 1999), 17-20.
Ritual Kubur: Ziarah Makam
Bagi kebanyakan orang yang tinggal di wilayah Kecamatan Duduk sampeyan, ziarah ke makam merupakan kebiasaan yang tidak dapat mereka tinggalkan. Tradisi ini sudah ada sejak para pendahulu mereka dan terus-menerus diulang tanpa mengenal perubahan waktu.
Hampir tidak ada orang yang tidak melakukan ziarah ke makam meskipun hal itu hanya dilakukan sekali atau dua kali dalam satu tahun, misalnya dilakukan sebelum atau setelah pelaksanaan sholat hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Pada kedua waktu tersebut, hampir setiap makam yang ada di lingkungan masyarakat Kecamatan Duduk Sampeyan di datangi oleh keluarganya yang masih hidup. Para peziarah duduk bersila di atas makam, membaca al-Qur’an dan bacaan kalimat tayyibah.
Ziarah kubur sendiri dilakukan orang Islam berdasarkan hadith Nabi yang berbunyi: “kuntu nahaytukum ‘an ziyarah al-quburi fa zuruha”.
Perintah setelah larangan yang ada di dalam hadith ini, menurut kaidah, ziarah itu berhukum sunat. Kaidah semacam itu pernah dijelaskan oleh H.Yakmal, salah seorang guru “ngaji” alumni Pesantren Langitan dalam sebuah pengajian rutin yang dilakukan setelah sholat subuh di langgarnya.
H. Yakmal yang dikenal sebagai salah seorang fungsionaris Partai Kebangkitan Bangsa Kecamatan Duduk Sampeyan ini menjelaskan pentingnya melakukan ziarah ke makam karena pahala membaca do’anya dapat meringankan beban orang yang sudah meninggal.76