• Tidak ada hasil yang ditemukan

santan kelapa dan gula merah yang diisi dengan butiran-butiran tepung beras putih yang sudah dimasak. Tepung beras putih tersebut dicetak berbentuk bulat dalam jumlah sangat banyak. Makanan inilah yang menjadi peralatan inti dari prosesi slametan dalam ritual sambetan. Makanan ini mengandung simbol-simbol tertentu. Menurut Hj. Rohimah, makanan pulo maupun minuman dawet yang disajikan dalam hajatan tersebut melambangkan makna-maknanya tersendiri. Jenis makanan pulo yang padat melambangkan makna dari kepadatan ikan. Sedangkan butiran-butiran dawet melambangkan banyaknya ikan yang hidup di dalam air.25 Melengkapi makanan itu, juga disediakan buah segar, seperti pisang dan semangka. Pada akhir acara, sebagian buah yang tersisa di situ dibagikan kepada peserta.

hujan tiba, sepanjang mata memandang hanya hamparan tanah persawahan yang terlihat nelo-nelo (pecah-pecah) sehingga para petani tinggal membersihkan atau membakar sisa batang padi dan rumput liar.

Mereka bahkan tidak perlu lagi bersusah payah membajak sawah dengan hewan piaraan karena telah tersedia traktor. Dulu mereka menggunakan kerbau atau sapi untuk membajak, tetapi sejak ada peralatan berat tersebut, maka hewan-hewan tersebut tidak lagi dipergunakan sebab kurang efektif.

Tahap awal yang dilakukan petani sawah biasanya adalah membajak sawah dengan traktor. Proses kegiatan di sawah selanjutnya adalah nampek wenih (mempersiapkan bibit padi) yang ditempatkan pada lahan khusus, disebut lahan untuk persemaian (pinian). Beberapa hari, setelah bibit padi ditanam tumbuh pada lahan persemaian, maka dilanjutkan dengan menanam (dawut) padi pada areal sawah yang lebih luas. Tahap ini menurut saudari Rasning, warga Desa Sumengko dianggap sangat krusial dan penting. Oleh karena itu, diperlukan ritual tertentu yang disebut pleretan,27 yang intinya adalah memohon keselamatan dari Allah agar bibit padi yang ditanam tumbuh slamet hingga panen dapat dilakukan. Ritual pleretan menandai kesadaran petani sawah akan perlunya tindakan spiritual seperti yang sudah dilakukan sejak para pendahulu mereka.

Istilah pleretan berasal dari nama makanan orang Jawa yang disebut pleret (makanan yang terbuat dari tumbukan beras putih dan gula merah). Ritual pleretan yang dilaksanakan oleh petani adalah ritual yang menandai tahap dimulainya menanam weneh pada lahan persawahan yang lebih luas. Ritual ini dilaksanakan karena ada keyakinan bahwa lahan sawah yang sebelumnya lama tidak dipergunakan telah dihuni oleh berbagai makhluk yang dapat mengganggu tanaman padi. Makhluk- makhluk yang dimaksud dapat berupa makhluk halus yang tidak tampak atau penyakit yang biasa menyerang tanaman padi. Intinya, para petani ingin agar tanaman padi yang ditanam bebas dari gangguan-gangguan

27Wawancara tanggal 27 Pepruari 2005.

penyakit dan atau gangguan makhluk halus. Oleh karenanya itu, mereka perlu melaksanakan pleretan. Keinginan ini dilakukan dengan cara meminta kepada Allah agar weneh yang ditanam terhindar dari penyakit dan slamet sampai masa panen, seperti dikatakan saudari Syaroh saat peneliti ke rumahnya:

Tujuan pleretan sek slamet sawahe Dek. Yo slamet songko ganguan penyakit, slamet songko barang alus sing nunggu sawah lan liya-liyane.

Kawet wong-wong tuwo biyen wes ono pleretan Dik. Biasane diadakno kapan wes mari nampek weneh. Wong-wong kidul kene rame-rame ngadakno slametan pleretan. Ngga’ koyo wong lor-loran seng saiki wes ngga’ ono sawah. Wong-wong kene ora wani ngilangi, soale wes dadi gawene wong-wong biyen. Wong-wong kene usaha njalu’ Gusti Allah supoyo sawahe slamet, ngga’ gampang kenek penyakit”, artinya: “Tujuan pleretan agar selamat sawahnya Dik. Ya selamat dari gangguan penyakit, selamat dari makhluk halus yang menunggu sawah dan lain-lain.

Mulai orang-orang tua dulu sudah ada pleretan Dik. Biasanya dilaksanakan kalau sudah selesai nampek weneh. Orang-orang daerah Selatan di sini ramai-ramai mengadakan selametan pleretan. Tidak seperti orang daerah Utara yang sekarang sudah tidak ada sawah. Orang-orang di sini tidak berani menghilangkan, karena sudah menjadi perilakunya orang-orang dulu. Orang- orang di sini berusaha meminta Gusti Allah agar sawahnya selamat, tidak mudah terserang penyakit”.28

Syaroh, salah seorang penduduk Dusun Jatirembe ini juga pernah menuturkan kepada peneliti tentang keprihatinan warga yang beberapa kali mengalami gagal panen. Dugaan Syaroh tentang kegagalan panen di dusunnya disebabkan oleh mulai banyaknya petani yang mulai berani meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku sejak orang-orang dulu, seperti melaksanakan ritual pleretan. “Roto-roto saiki ake sawahe wong kene seng ngga’ iso dipaneni. Ake sawah seng parine entek dipangan penyakit. Udane wes

28Wawancara tanggal 28 Pepruari 2005.

arang-arang mudun terus ambek maneh tikuse kemerayap. Mungkin dugaane wong-wong ono benere yen saiki wes arang ono slametan jajan pleret”, artinya:

“Rata-rata sekarang sawahnya orang di sini tidak bisa dipanen. Banyak sawah yang padinya habis di makan penyakit. Hujannya sudah jarang turun kemudian tikusnya juga banyak. Mungkin dugaan orang-orang ada benarnya kalau sekarang sudah jarang ada slametan makanan pleret”.29 Ungkapan itu menggambarkan bahwa ritual pleretan adalah bagian penting sejak para pendahulu mereka, tetapi pada saat sekarang kurang mendapat perhatian sehingga melahirkan masalah.

Penuturan Syaroh tersebut menunjukkan pentingnya sebuah ritual bagi masyarakat yang bermatapencaharian sebagai petani sawah.

Sebagai akibat dari kurang diperhatikannya kebiasaan-kebiasaan orang dulu, maka sekarang timbul penyakit yang menyerang tanaman padi mereka. Hal ini dapat diketahui dari Syaroh, seperti penuturan tentang datangnya hujan yang mulai jarang sehingga kurang baik bagi tanaman padi saat meteng; atau angin kencang yang merusak sehingga tanaman padi tidak dapat di panen karena bercampur dengan lumpur sawah atau tenggelam dalam air. Syaroh juga pernah mengatakan, “Jek tas wae ono deso kene diadakno acara sedekah bumi kanggo ngganti Pleretan” (baru saja di desa ini diadakan acara sedekah bumi sebagai ganti pleretan).30 Ungkapan itu kembali menegaskan bahwa ritual pleretan mempunyai posisi penting dalam kehidupan petani sawah setempat. Dari penuturan-penuturan itu, ritual pleretan yang syarat dengan simbol-simbol itu tentu mengandung berbagai makna. Di samping dapat menjadi sebuah media silaturrahmi bagi masyarakat setempat juga dapat menjadi sebuah ekspresi budaya untuk menfasilitasi komunikasi warga masyarakat yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai spiritual.

Dalam pengamatan peneliti, ritual pleretan bagi warga setempat dilaksanakan dengan cara cukup sederhana, tetapi sama sekali kesederhanaan itu tidak mengurangi maknanya. Hal ini terutama

29Wawancara tanggal 27 Pepruari 2005.

30Wawancara tanggal 28 Pepruari 2005.

dilambangkan melalui jenis-jenis makanan yang disajikan. Makanan paling populer yang disajikan dalam ritual pleretan adalah makanan yang disebut pleret. Makanan pleret ini terbuat dari tepung beras putih dan gula merah yang ditumbuk menjadi satu. Dulu makanan ini dibentuk dengan kepelan tangan sehingga tampak jelas bekas tekanan jari saat disajikan.

Kelebihannya, jika sebutir saja dimakan, maka perut akan terasa lebih cepat kenyang. Komposisi tepung beras yang ditekan sehingga lebih padat ini sekaligus menjadi lambang kepadatan padi yang diharapkan.31

Selain makanan pleret, jenis-jenis makanan lain yang disajikan dalam ritual pleretan adalah sego golong, buceng dan bobor beras puteh. Sego golong terbuat dari nasi beras putih yang dibentuk dengan kepelan tangan dan ditaruh di dalam takir. Buceng adalah nasi biasa yang dibentuk menyerupai gunung, melambangkan harapan yang tinggi. Sementara bobor beras puteh terbuat dari beras yang tidak ditumbuk, tetapi cukup dimasak dengan kadar air yang agak berlebihan. Bobor beras puteh melambangkan kedamaian dan seringkali digunakan untuk makanan bayi sehingga disebut bobor lemu. Semua jenis makanan yang disajikan dalam ritual pleretan tersebut ditempatkan dalam satu wadah yang disebut tempe, diletakkan di ruangan rumah bagian depan kemudian diundangkan kepada tetangga-tetangga dekat untuk dimakan. Namun, sebelumnya perlu mendapatkan do’a dari Modin atau sesepuh kampung.

Kesederhanaan ritual ini pernah peneliti ikuti di rumah saudara Kasim, warga Desa Sumengko yang sehari-hari bekerja sebagai petani:

“Sebelum acara dilaksanakan, salah seorang anggota keluarga Kasim mengundang tetangga-tetangga dekatnya. Setelah mereka yang diundang berkumpul di dalam rumah, seorang Modin yang sebelumnya dipasrahi Kasim langsung memberi penjelasan kepada mereka yang hadir maksud dan tujuan Kasim mengadakan pleretan. Setelah semuanya disampaikan, Modin melakukan tawassul kepada Nabi Muhammad dan kepada para

31Wawancara dengan Syaroh tanggal 27 Pepruari 2005.

sahabatnya yang dilanjutkan dengan membaca surat Fatihah beberapa kali. Setelah itu, Modin memimpin do’a yang diikuti bacaan “amin” oleh peserta yang hadir. Setelah proses do’a selesai, mereka langsung menikmati makanan yang telah disajikan.

Usai menikmati makanan, mereka membubarkan diri ke rumah masing-masing”.32