BAB II PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN
B. Pendidikan Islam Masa Sahabat
2. Ilmu-Ilmu Yang Diajarkan
Abdullah bin Abu Jafar bin Rabi'ah, generasi berikutnya ialah Abdullah bin Lahi'ah dan Al-Laits bin Said, keduanya adalah murid dari Yazid bin Abu Habib Al-Nubiy (Zuhaerini, 1986 : 74-76).
Dalam praktek pendidikan dan pengajaran agama Islam pada masa-masa awal, para. ulama dari kalangan sahabat menyebar ke seluruh kota-kota di negara Islam yang terus sertambah luas. Mereka itulah pendiri madrasah-madrasah pada setiap kota itu. Merekapun mempunyai keahlian ilmiah yang berbeda-beda dan kepribadian yang berlainan. Oleh sebab itu, pelajar-pelajar tidak mencukupkan diri belajar pada seorang ulama di negeri tempat tinggalnya, melainkan mereka melawat ke berbagai kota untuk melanjutkan ilmunya. Pelajar Mesir melawat ke Madinah, pelajar Madinah melawat ke Kufah, pelajar Kufah melawat ke Damaskus, pelajar Damaskus melawat kian kemari dan begitulah seterusnya. Dengan demikian, dunia ilmu pengetahuan tersebar ke seluruh kota-kota di negeri Islam.
2. Ilmu-Ilmu Yang Diajarkan
berbahasa Arab harus menyesuaikan lidahnya dengan lidah orang Arab. Hal ini memerlukan proses dan waktu, menuntut ketentuan dan kesabaran dari para sahabat dan pengajar . Oleh sebab itu, pengajaran tersebut selalu dibarengi dengan pengajaran bahasa Arab secara sederhana. Problema qira’at tersebut semakin nampak setelah terjadi komunikasi antara kaum muslimin dari satu daerah dengan daerah lainnya, yang mendapatkan pelajaran dari sahabat-sahabat yang berbeda. Para sahabat tersebut mengajarkan menurut bacaan qira’at dengan dialek (lahjah) masing-masing.
Penggunaan lahjah yang berbeda itu tidaklah menjadi masalah selama masih dalam lingkungan kaum muslimin yang berbahasa Arab, dan Rasulullah pun memperkenangkan hal yang demikian.
Tetapi setelah al-Qur’an diterima dan dihafal oleh kaum muslimin yang tidak berbahasa Arab, kaum muslimin dari satu daerah yang diajar dengan menggunakan satu dialek akan merasa asing dengan bacaan kaum muslimin yang berasal dari daerah-daerah lainnya yang menggunakan dialek yang berbeda, yang tentunya akan membingungkan mereka. Apalagi kemudian timbul anggapan bahwa bacaan mereka yang benar sedang yang lainnya salah. Merekapun berselisih dalam bacaan (qira’at) dan saling mempertahankan kebenaran masing-masing. Hal ini disadari pada masa khalifah Utsman bin Affan.
Sahabat yang mula-mula memperhatikan adanya perselisihan umat Islam dalam hal pembacaan tersebut ialah Hudzaifah bin Yaman, sewaktu ia ikut dalam pertempuran di Armenia dan Azarbeijan. Selama dalam perjalanannya, ia mendengar perselisihan antara kaum muslimin tentang bacaan masing-masing. Setelah kembali ke Madinah, Hudzaifah segera menemui khalifah Utsman bin Affan dan mengusulkan agar khalifah segera mengatasi perselisihan di antara umat Islam dalam hal bacaan tersebut.
Untuk mengatasi masalah itu, khalifah Utsman bin Affan meminjam naskah atau lembaran-lembaran yang telah ditulis pada zaman Abu Bakar, yang pada waktu itu disimpan oleh Hafsah binti Umar, untuk ditulis kembali oleh panitia yang sengaja dibentuk dan
ditunjuk oleh khalifah sendiri. Panitia tersebut diketuai oleh Zaid bin Ash dan Abdur Rahman bin Harits bin Hisyam. Dalam tugas menulis kembali tersebut, khalifah Utsman memberikan petunjuk kepada panitia tersebut agar mengambil pedoman kepada bacaan mereka yang hafal . Dan bila terdapat perbedaan antara panitia tersebut mengenai bacaan , maka haruslah ditulis menurut dialek suku Quraisy, sebab itu diturunkan sesuai dengan dialek mereka.
Al-Qur’an yang telah dibukukan itu dinamai Al-Mushaf yang terdiri dari lima buah, kemudian dikirim oleh khalifah, masing-masing satu buah ke Mekah, Syiria, Basrah dan Kufah. Sedangkan yang satu buah tetap dipegang oleh khalifah sendiri di Madinah. Karena itu, Khalifah Utsman memerintahkan agar catatan-catatan yang lainnya dibakar, supaya umat Islam berpegang kepada mushaf yang lima itu, baik dalam bacaan maupun penyalinan berikutnya. Dengan demikian, manfaat yang dapat ditarik dari pembukuan di masa khalifah Utsman bin Affan itu ialah:
1) Untuk menyatukan kaum muslimin pada satu macam mushaf yang seragam ejaan tulisannya.
2) Menyatukan bacaan, kendatipun masih terdapat perbedaan namun tidak boleh berlawanan dengan Mushaf Utsman.
3) Menyatukan tertib susunan surat-surat, menurut tertib urutannya sebagaimana yang terlihat pada mushaf-mushaf sekarang (al- Shiddiqiy, 1972 : 189).
Sejak itulah pengajaran secara berangsur-angsur menjadi satu sebagaimana yang tertulis dalam mushaf dan yang lainnya dianggap tidak sah dan sakhlmya ditinggalkan. Untuk memudahkan pengajaran bagi kaum muslimin yang tidak berbahasa Arab, maka guru yang mengajarkan telah mengusahakan beberapa hal, antara lain:
1) Mengembangkan cara membaca dengan baik yang kemudian menimbulkan ilmu tajwid .
2) Meneliti cara membaca (qira'at) yang telah berkembang pada masa itu, mana yang sah dan sesuai dengan bacaan yang tertulis dalam mushaf dan mana yang tidak sah. Hal ini kemudian menimbulkan
adanya ilmu qira'at yang kemudian memunculkan apa yang kita kenal dengan qira'at sab'ah.
3) Memberikan tanda-tanda baca dalam tulisan mushaf, sehingga menjadi mudah dibaca dengan benar bagi mereka yang baru belajar membaca .
4) Memberikan penjelasan tentang maksud dan pengertian yang dikandung oleh ayat-ayat yang diajarkan, yang kemudian berkembang menjadi ilmu tafsir. Pada mulanya diajarkan penjelasan-penjelasan ayat yang mereka terima dan mereka dengar dari Nabi Muhammad saw., yaitu berupa Hadits-Hadits yang menjelaskan ayat-ayat yang bersangkutan kemudian berkembang cara-cara penafsiran, dengan menggunakan akal pikiran dan dengan berpedoman kepada kaidah-kaidah bahasa Arab (Zuhaerini, 1986 : 80). Oleh karena itu, pengajaran bahasa Arab, dengan kaidah-kaidahnya, selalu menyertai pengajaran kepada kaum Muslimin non Arab, dengan anjuran agar mereka mudah membaca dan kemudian memahami yang mereka pelajari.
Akhirnya secara utuh baik bacaan, tulisan maupun pengertiannya menjadi milik dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari nilai budaya mereka, dan mampu pula mereka mewariskannya kepada generasi berikutnya.
b. Al-Hadits
Pada masa pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam kitab bacaan satu-satunya ialah al-Qur’an, sedangkan Hadits-Hadits Nabi bukanlah dibukukan. Hadits-Hadits hanya diriwayatkan dari mulut ke mulut, dari mulut guru ke murid muridnya, yaitu dari hafalan guru diberikannya kepada murid, sehingga menjadi hafalan murid pula, dan begitulah seterusnya. Sebagian sahabat dan pelajar- pelajar memang ada yang mencatat Hadits-Hadits itu dalam buku catatan pribadi, namun belum berupa buku menurut istilah sekarang.
Ulama-ulama dari kalangan sahabat yang banyak meriwayatkan
Hadits ialah Abu Hurairah, A'isyah, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, dan Anas bin Malik.
Tidak lama setelah Rasulullah saw. wafat, para sahabat bertebaran ke berbagai kota, seperti Mekah, Madinah, Basrah, Kufah, Damaskus dan Mesir. Karenanya, kota-kota itu adalah merupakan basis untuk mengajarkan dan Hadits, dan sekaligus sebagai tempat mengeluarkan sarjana-sarjana ilmu Hadits dari kalangan tabi’in.
Pada masa ini, Hadits mulai disebarkan ,dicari dan diberikan perhatian yang sempurna terhadap Hadits. Para tabi'in (sebelum mereka meninggal )berusaha mencari dan menjumpai para sahabat, di tempat-tempat yang jauh, dan berusaha mentransfer ilmu mereka (Hadits). Kunjungan seorang sahabat ke sebuah kota, sungguh menarik perhatian para tabi'in dan berkerumun untuk menerima Hadits yang ada pada sahabat tersebut (Yunus, 1989 : 42-43).
Dari para sahabat, Hadits-Hadits itu diriwayatkan kepada murid-- muridnya, yaitu; para tabi’in, begitu pula dari tabi’in kepada tabi’- tabi’in, berantai dan bersilsilah sampai kepada ulama Hadits yang termasyhur, yaitu Imam Bukhari dan Imam Muslim dan lain-lain.
Walhasil, pada abad pertama Hadits-Hadits itu belum dibukukan, bahkan sampai dengan jatuhnya Daulah Bani Umaiyyah tahun 132 H/749 M Hadits-Hadits itu belum juga dibukukan.
Guna menguji kebenaran dan keabsahan bacaan ayat-ayat dan memantapkan keshahihan Hadits-Hadits Nabi, para perawi pergi ke daerah yang jauh dari tempat tinggalnya, untuk belajar dari orang- orang yang diakui kemampuannya dalam membaca al-Qur’an dan al- Hadits Nabi. Hal itu didorong oleh semangat yang disertai iman yang kuat. Praktek ini segera menjadi ciri lembaga yang permanen dan tetap menjadi pola yang menonjol dari pendidikan muslim di zaman klasik (Fadjar, 1991 : 4).