• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pusat-pusat Pendidikan Islam

Dalam dokumen Dinamika Pendidikan Islam (Halaman 53-56)

BAB II PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN

B. Pendidikan Islam Masa Sahabat

1. Pusat-pusat Pendidikan Islam

Di antara pusat-pusat pendidikan dan madrasah-madrasah yang terkenal pada masa perkembangan pendidikan Islam ini adalah:

a. Madrasah Mekah

Guru pertama yang mengajar di Mekah ialah Mu'adz bin Jabal, yang mengajarkan , hukum-hukum halal, dan haram dalam Islam.

Selain Mu’adz, mengajar pula Abdullah bin Abbas dalam bidang tafsir, fiqh dan sastra Arab. Abdullah bin Abbaslah yang membangun madrasah Mekah, yang kemudian menjadi termasyhur keseluruhan penjuru negeri Islam. Di antara murid-murid Ibnu Abbas yang menggantikannya sebagai guru di Madrasah Mekah ini ialah Mujahid

bin Jabbar, seorang ahli tafsir dan Atha' bin Kaisan, seorang faqih tersohor sekaligus mufti di Mekah. Usaha-usaha mereka kemudian diteruskan oleh murid-muridnya yaitu; Sufyan bin Uyainah dan Muslim bin Khalid Al-Zanji Iman Syafi'i, sebelum meneruskan pelajarannya di Madinah pernah belajar di Madrasah Mekah kepada kedua ulama tersebut.

b. Madrasah Madinah

Madrasah Madinah lebih tersohor dari madrasah lainnya karena di sanalah tempat tinggalnya ulama-ulama besar dari kalangan sahabat-sahabat besar Rasulullah saw. seperti Abu Bakar Al-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan lAli Bin Abi Thalib. Di antara sahabat yang mengajar di Madrasah Madinah ini ialah Umar bin Khatthab, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Tsabit dan Abdullah bin Umar. Zaid bin Tsabit adalah seorang yang ahli dalam ilmu qira'at dan fiqh, terutama dalam bidang fara'id. Sedangkan Abdullah bin Umar adalah seorang ahli hadits, la adalah pelopor madzhab Ahli al- Hadits yang berkembang pada masa-masa berikutnya. Setelah Ulama- Ulama dari kalangan sahabat itu wafat, diganti oleh murid-muridnya dari golongan tabi'in, di antaranya; Said bin Musayyab, Urwah bin Zubair. Setelah itu dilanjutkan oleh generasi berikutnya, yaitu Ibnu Syihab Al-Zuhri, yang kemudian melahirkan Imam besar dalam bidang ilmu hadits dan fiqh, Malik bin Anas.

c. Madrasah Basrah

Ulama dari kalangan sahabat yang tersohor di Basrah ialah Abu Musa al-Asy'ary, seorang ahli fiqh al-Qur’an dan al-Hadits dan Anas bin Malik yang ahli dalam bidang ilmu hadits. Di antara guru-guru madrasah Basrah yang terkenal dari golongan tabi'in ialah; Hasan al- Bisri dan Ibnu Sirin. Hasan al-Bisri, di samping seorang ahli fiqh, ahli retorika sejarah, dan ahli tasawuf. la adalah perintis madzhab ahlussunnah dalam lapangan ilmu kalam. Sedangkan Ibnu Sirin adalah seorang ahli hadits dan fiqh yang belajar langsung dari Zaid bin Tsabit dan Anas bin Malik.

d. Madrasah Kufah

Ulama dari kalangan sahabat yang tinggal di Kufah ialah Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Mas'ud. Ali bin Abi Thalib mengurus masalah politik dan pemerintahan, sedangkan Abdullah bin Mas'ud adalah sebagai guru agama yang diutus secara resmi oleh khalifah Umar bin Khattab untuk mengajar di Kufah. la adalah seorang ahli tafsir, ahli fiqh dan banyak meriwayatkan hadits-hadits Nabi. Di antara murid-murid Ibnu Mas'ud yang terkenal, yang kemudian menjadi guru di sana ialah Al-Qamah, Al-Aswad, Masruq, Al-Harits bin Qais dan Amr bin Syurahbil. Madrasah Kufah ini kemudian melahirkan ulama besar yaitu; Abu Hanifah. la adalah salah seorang imam mazhab yang tersohor dengan penggunaan ra'yu dalam berijtihad.

e. Madrasah Damaskus

Setelah Syria ditaklukkan oleh kaum muslimin dan penduduknya memeluk agama Islam, khalifah Umar bin Khattab mengutus tiga orang guru ke wilayah itu, yakni; Mu'adz bin Jabal, Ubadah, dan Abu Darda'. Ketiga sahabat itu menjadi guru di Syam/Syiria di tempat yang berbeda. Abu Darda' di Damaskus, Mu'adz bin Jabal di Palestina dan Ubadah di Hims. Setelah ulama dari kalangan para sahabat wafat digantikan oleh murid-muridnya dari golongan tabi'in seperti Abu Idris Al-Khailaniy, Makhul Al-Dimsyki, Umar bin Abdul Azis dan Raja' bin Haiwah. Kemudian madrasah Damaskus melahirkan imam-imam besar, di antaranya; Abdur Rahman Al- Auza'iy yang sederajat dengan imam Malik dan Abu Hanifah.

f. Madrasah Mesir

Setelah Mesir menjadi bagian dari negara Islam, maka berdirilah di sana pusat-pusat pengkajian ilmu agama yang mula-mula mendirikan Madrasah Mesir dari golongan sahabat talah Abdullah bin Amr bin Al-Ash. la adalah seorang ahli Hadits, oleh karena itu banyak sahabat dari golongan tabi'in yang meriwayatkan Hadits- Hadits daripadanya. Kemudian ulama berikutnya yang termasyhur dari kalangan tabi'in ialah Yazid bin Abu Habib Al-Nubig dan

Abdullah bin Abu Jafar bin Rabi'ah, generasi berikutnya ialah Abdullah bin Lahi'ah dan Al-Laits bin Said, keduanya adalah murid dari Yazid bin Abu Habib Al-Nubiy (Zuhaerini, 1986 : 74-76).

Dalam praktek pendidikan dan pengajaran agama Islam pada masa-masa awal, para. ulama dari kalangan sahabat menyebar ke seluruh kota-kota di negara Islam yang terus sertambah luas. Mereka itulah pendiri madrasah-madrasah pada setiap kota itu. Merekapun mempunyai keahlian ilmiah yang berbeda-beda dan kepribadian yang berlainan. Oleh sebab itu, pelajar-pelajar tidak mencukupkan diri belajar pada seorang ulama di negeri tempat tinggalnya, melainkan mereka melawat ke berbagai kota untuk melanjutkan ilmunya. Pelajar Mesir melawat ke Madinah, pelajar Madinah melawat ke Kufah, pelajar Kufah melawat ke Damaskus, pelajar Damaskus melawat kian kemari dan begitulah seterusnya. Dengan demikian, dunia ilmu pengetahuan tersebar ke seluruh kota-kota di negeri Islam.

2. Ilmu-Ilmu Yang Diajarkan

Dalam dokumen Dinamika Pendidikan Islam (Halaman 53-56)