• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemikiran Pembaruan dalam Islam

Dalam dokumen Dinamika Pendidikan Islam (Halaman 112-117)

BAB V PEMBARUAN PENDIDIKAN ISLAM

A. Pemikiran Pembaruan dalam Islam

Setelah berabad-abad lamanya kaum muslimin berada dalam kejumudan dan keterbekangan dalam berbagai hal, akhirnya sadar akan kelemahan dan ketertinggalannya itu dari bangsa-bangsa Eropa

dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk di dalamnya bidang pendidikan. Perlu ditegaskan di sini, sebenarnya pada Abad Pertengahan telah muncul wacana pembaruan terutama sejak Daulah Utsmaniyyah di abad XVII setelah mengalami kekalahan-kekalahan dalam peperangan dengan negara-negara Eropa. Tentara besar yang dikirim untuk menguasai Wina dikalahkan pada tahun 1683 sehingga Perjanjian Corolowitz yang ditandatangani pada tahun 1699 membuat Daulah Utsmaniyyah terpaksa menyerahkan Hongaria kepada Austria, daerah Podolia kepada Polandia dan Azov kepada Rusia. Kekalahan-kekalahan tersebut mendorong pemuka-pemuka Daulah Utsmaniyyah untuk menyelidiki sebab-sebab kekalahannya dan rahasia-rahasia keunggulan lawan. Mereka mulai memperhatikan kemajuan yang dicapai oleh Eropa, terutama kemajuan yang telah dicapai oleh Perancis yang merupakan pusat kemajuan kebudayaan Eropa pada masa itu. Hal ini diikuti dengan dikirimnya duta-duta untuk mempelajarai kemajuan Eropa, terutama di bidang militer dan kemajuan ilmu pengetahuan, yang pada akhirnya didatangkan pelatih militer dari Eropa dan didirikan Sekolah Teknik Militer pada tahun 1734 M untuk pertama kalinya (Zuhairini, 986 : 115).

Pada tahun 1720, Celebi Mehmed di Turki pergi ke Paris sebagai duta yang bertujuan untuk memberikan laporan tentang kemajuan teknik, organisasi angkatan perang modern, rumah sakit, observatorium, kebun binatang, adat istiadat dan sebagainya. Sebagai lanjutan dari duta pertama, pada tahun 1741 anaknya yang bernama Sa’id Mehmed dikirim pula ke Paris untuk misi yang sama. Laporan- laporan dari kedua duta ini menarik perhatian Sultan Ahmad III untuk memulai pembaruan di kerjaan Utsmaniyyah (Nasution, 1988 : 15).

Dalam lapangan non militer, pemikiran dan usaha pembaruan dilakukan oleh Ibrahim Mutafarrika (1670-1754 M). Ia berasal dari Hongaria dan ketika masih muda remaja tertangkap dalam peperangan Utsmaniyyah-Hongaria. Kemudian ia dibawa ke Istambul lalu masuk Islam, dan dengan cepat ia dapat menguasai bahasa dan adat-istiadat Turki sehingga dalam bidang pengembangan ilmu pengetahuan modern dari Barat, dia merupakan orang pertama yang

dianggap berhasil membuka suatu percetakan di Istambul dan mencetak berbagai macam pengetahuan yang diterjemahkan dari pengetahuan Barat. Di samping itu, diadakan percetakan dan ilmu- ilmu pengetahuan agama, seperti tafsir, Hadits, fiqh, ilmu kalam, dan lain-lain, begitu pula mengenai ilmu-ilmu umum seperti ilmu kedokteran, astronomi, ilmu pasti, sejarah, dan lain sebagainya (Zuhairini, et.al., 1986 : 115).

Ibrahim Mutafarrika juga banyak mengarang buku, di antaranya:

ilmu bumi, ilmu alam, ilmu politik, kemiliteran, kemajuan teknik Eropa, dan kemajuan yang diperoleh Rusia sebagai hasil dari pembaruan-pembaruan yang dijalankan oleh Peter yang Agung (1682-1725). Usaha Ibrahim untuk memperkenalkan ilmu-ilmu pengetahuan modern dan kemajuan Barat dibantu oleh suatu badan penterjemahan yang terdiri atas dua puluh lima anggota yang dibentuk pada tahun 1717 (Nasution, 1988 : 16). Namun usaha ini tidak berjalan mulus karena tantangan dari dua dolongan yang berpengaruh dalam masyarakat. Dari satu pihak, tantangan dilancarkan oleh tentara tetap yang dikenal dengan nama tuniseri (pasukan baru). Mereka mempunyai hubungan erat dengan tarikat Bekhtasyi yang besar pengaruhnya dalam masyarakat sehingga mereka disebut tentara Bekhtasyi. Tantangan lain datang dari golongan ulama. Ide-ide baru yang didatangkan dari Eropa itu bertentangan dengan paham-paham tradisional yang terdapat dikalangan umat Islam selama ini. Ide-ide yang bertentangan dengan tradisi itu oleh kaum ulama dianggap berlawanan dengan ajaran Islam. Pembaruan termasuk di dalamnya bidang pendidikan, juga akan membawa kepada perubahan-perubahan yang oleh para ulama dianggap tidak menguntungkan diri mereka sendiri. Percetakan umpamanya, akan membuat golongan penulis manuskrip kehilangan sumber rezeki. Pendidikan ala Barat akan menimbulkan golongan intelek baru yang akan menjadi saingan bagi kaum ulama. Dalam masyarakat tradisional, ulama merupakan golongan intelegensia yang berpengaruh pada masyarakat. Karena itu, dalam menentang usaha- usaha pembaruan di periode ini, kaum ulama dan Yeriseri menjalin kerja sama yang baik (Nasution, 1988 : 18).

Sementara itu, di India, ide pembaruan muncul dari Syah Waliullah al-Dahwali (1703-1762 M). Menurut pandangannya, umat Islam, khususnya di India, banyak dipengaruhi oleh adat-istiadat dan ajaran-ajaran Hindu. Keyakinan dan kepercayaan umat Islam harus dibersihkan dari hal-hal yang asing ini. Mereka harus dibawa kembali kepada ajaran-ajaran Islam yang sebenarnya, karena sumber asli dari ajaran-ajaran Islam hanya dan al-Hadits. Oleh karena itu, untuk mengetahui ajaran-ajaran Islam sejati, orang harus kembali kepada kedua sumber itu dan bukan kepada buku-buku tafsir, fiqh, ilmu-ilmu kalam dan sebagainya (Nasution, 1988 : 21).

Syah Waliullah tidak setuju dengan taqlid, mengikut dan patuh kepada penafsiran dan pendapat-pendapat ulama di masa lampau.

Bahkan hal ini, menurut pandangannya merupakan salah satu sebab bagi kemunduran Islam. Ia melihat, masyarakat bersifat dinamis, oleh karena itu, penafsiran yang sesuai untuk suatu zaman belum tentu sesuai dengan zaman sesudahnya. Dengan demikian ia menentang taqlid dan menganjurkan pengadaan ijtihad. Ajaran-ajran dasar yang terdapat dalam dan al-Hadits melalui ijtihad harus disesuaikan dengan perkembangan zaman.

Di zamannya, penerjemahan ke dalam bahasa asing dianggap terlarang. Tetapi ia melihat bahwa orang-orang India membaca dengan tidak mengerti isinya. Pembacaan tanpa pengertian tidak akan besar faedahnya untuk kehidupan duniawi mereka. Sehingga ia memandang perlu diterjemahkan ke dalam bahasa yang dipahami orang awam. Bahasa yang dipilihnya ialah bahasa Persia yang banyak dipakai oleh kalangan pelajar Islam India ketika itu. Terjemahan itu pada mulanya mendapat tantangan, tetapi lambat laun dapat diterima oleh masyarakat (Nasution, 1988 : 22).

Di Mesir, kedatangan Napoleon Bonaparte pada tahun 1798 M adalah merupakan tonggak sejarah bagi umat Islam untuk mendapatkan kembali kesadaran akan kelemahan dan keterbelakangan mereka. Ekspedisi Napoleon tersebut bukan hanya menunjukkan kelemahan dan keterbelakangan mereka, tetapi juga sekaligus menunjukkan kebodohan mereka. Ekspedisi Napoleon

tersebut di samping membawa sepasukan tentara yang kuat, juga membawa rombongan yang di dalamnya terdapat 500 kaum sipil dan 500 orang wanita. Di antara kaum sipil itu terdapat 167 ahli dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan dengan seperangkat peralatan ilmiah, di samping membawa dua set alat percetakan dengan huruf latin, Arab, dan Yunani. Ekspedisi itu datang bukan hanya untuk kepentingan militer, tetapi juga untuk keperluan ilmiah. Untuk hal tersebut terakhir ini dibentuk suatu lembaga ilmiah yang diberi nama Institut de Egypte yang terdiri dari empat bagian yakni ilmu pasti, ilmu alam, ilmu ekonomi, ilmu politik. dan sastra-seni. Publikasi yangditerbitkan oleh lembaga ini bernama “La Courrier de Egypte”, yang diterbitkan oleh Marc Auriet, seorang pengusaha yang ikut Ekspedisi Napoleon. Sebelum kedatangan ekspedisi ini, orang Mesir tidak mengenal percetakan dan majalah atau surat kabar (Nasution, 1988 : 30).

Dapat dikatakan bahwa, sistem dan suasan pendidikan Islam pada masa pembaruan sebelum periode modern belum mengalami kemajuan yang berarti bila dibandingkan dengan Barat, sekalipun di sana para tokoh pembaruan mencanangkan kebangkitan kembali bagi umat Islam guna memperoleh kembali kejayaan dan kemajuan yagn sudah diperoleh pada masa lampau. Hal ini disebabkan oleh karena adanyan tantangan dari berbagai pihak yang tidak menyetujui adanya pembaruan terutama dalam bidang pendidikan. Pada masa itu ilmu- ilmu yang diajarkan hanyalah ilmu-ilmu agama dan bahasa Arab saja.

Sedangkan ilmu-ilmu aqliyah seperti filsafat, ilmu pasti, ilmu bumi masing-masing dianggap haram untuk dipelajari. Kecuali itu ada juga ulama-ulama yang mempelajari ilmu-ilmu aqliyah atas kemauan sendiri, seperti Syeikh Ahmad Abd. Mun’im Al Damanhuriy, salah seorang Syeikh Al Azhar (w. 1788 M). Hal ini membuktikan bahwa ilmu-ilmu aqliyah itu tidak lenyap sama sekali dari dunia Islam (Mahmud Yunus, 1989 : 177).

Dalam dokumen Dinamika Pendidikan Islam (Halaman 112-117)