• Tidak ada hasil yang ditemukan

Institut Agama Islam Negeri (IAIN)

Dalam dokumen Dinamika Pendidikan Islam (Halaman 159-164)

BAB IX MENCERMATI PERKEMBANGAN

C. Institut Agama Islam Negeri (IAIN)

IAIN merupakan gabungan dari PTAIN Yogyakarta dan ADIA Jakarta, berdasarkan Peraturan Presiden No. 11 tahun 1960 tanggal 9 Mei 1960 yang ditandatangani oleh Djuanda selaku pemangku jabatan Presiden. Dalam penjelasan Peraturan Presiden tersebut antara lain disebutkan latar belakang dan alasan pendirian IAIN.

”Mengingat akan sejarah Indonesia dalam lapangan kehidupan kerohaniannya zaman-zaman lampau (Sriwijaya, Mataram, dan lain-lain) serta kehidupan kerohanian negara-negara Timur lainnya dengan Universitas Al Azhar dan Universitas Aligarh umpamanya, serta mengingat pula akan pertumbuhan negara- negara Afrika yang kebanyakan memeluk agama Islam, pantaslah kiranya Pemerintah mencurahkan lebih banyak perhatiannya kepada pertumbuhan pendidikan tinggi tentang agama serta ilmu pengetahuan Islam ini”.

Kini Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri telah berkembang dan tidak dapat lagi dimasukkan dalam satu Fakultas. Lebih-lebih lagi jika diingat bahwa ilmu pengetahuan Islam adalah luas sekali, yang sebagaimana diketahui meliputi segala kegiatan kehidupan manusia, maka suatu fakultas tidak akan dapat menampung keseluruhannya itu.

Perkembangan Perguruan Tinggi Negeri sudah sedemikian rupa sehigga dapat diarahkan pertumbuhannnya ke arah Al-Azhar. Lain daripada itu di samping Perguruan Tinggi Agama Islam yang maksudnya untuk mencukupi tenaga-tenaga ahli dalam lapangan pendidikan yang diperlukan oleh dinas dan masyarakat.

Mengingat hal-hal di atas itu semuanya maka sekarang telah tiba waktunya untuk menggabungkan Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri di Yogyakarta dan Akademi Dinas Ilmu Agama di Jakarta menjadi Institut Agama Islam Negeri yang kedudukan hukumnya seperti Institut Tekhnologi di Bandung (Peraturan Pemerintah No.

VI Tahun 1959) agar supaya ada pimpinan yang satu, untuk kelancaran serta kesempurnaan penyelenggaraan pendidikan tinggi tentang agama dan ilmu pengetahuan Islam itu”.

PTAIN yang semula mempunyai jurusan-jurusan Tarbiyah, Qadha, dan Dakwah serta ADIA dengan jurusan-jurusan Pendidikan Agama, Sastra Arab, dan Imam Tentara dalam penggabungannya berubah menjadi empat fakultas yaitu: 1) Jurusan Tarbiyah dan Pendidikan Agama menjadi Fakultas Tarbiyah di Jakarta, 2) Jurusan Qadha menjadi Fakultas Syari’ah di Yogyakarta, 3) Jurusan Da’wah menjadi Fakultas Ushuluddin di Yogyakarta, dan 4) Jurusan Sastra Arab menjadi Fakultas Adab di Jakarta. Sedangkan Jurusan Imam Tentara dihapuskan.

Dari dua bentuk perguruan tinggi sebelum PTAIN dan ADIA tampak adanya dua orientasi tujuan yang agaknya berbeda. Hal tersebut sesuai pula dengan nama dua lembaga pendidikan itu. Oleh karena itu, orientasi PTAIN bersifat jangka panjang karena lembaga ini mepersiapkan para pemikir (ilmuwan Islam) dan pemegang kendali kegiatan pembinaan agama dan pembinaan kehidupan beragama dalam masyarakat. Sedangkan ADIA berorientasi kepada kebutuhan praktis jangka pendek, yaitu meningkatkan kemampuan para guru yang mengajar agama di sekolah-sekolah umum, kejuruan, dan madrasah di lembaga pendidikan formal serta menjadi pegawai negeri di lingkungan Departemen Agama.

Setelah PTAIN dan ADIA menjadi IAIN, tujuan pendirian IAIN tidak jauh berbeda dengan tujuan PTAIN, yaitu ”memberi pengajaran tinggi dan menjadi pusat untuk memperkembangkan dan memperdalam ilmu pengetahuan tentang agama Islam”. Namun dalam perkembangannya orientasi pencetakan pegawai negeri menjadi lebih menonjol. Hal ini dikarenakan makin luasnya lapangan kerja di kantor-kantor pemerintah dan masyarakat yang membutuhkan alumni IAIN.

Pergeseran orientasi tujuan IAIN tampak setelah dikeluarkannya Peraturan Menteri Agama No. 1 tahun 1972. dalam aturan itu disebutkan bahwa ”IAIN adalah suatu institut/universitas serta menjadi pusat untuk memperkembangkan dan memperdalam ilmu pengetahuan agama Islam”. Pada pasal berikutnya disebutkan maksud dan tujuan IAIN yaitu:

1. Membentuk sarjana-sarjana muslim yang berakhlak mulia, berilmu dan cakap, serta mempunyai kesadaran bertanggungjawab atas kesejahteraan umat dan masa depan bangsa dan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila.

2. Mencetak sarjana-sarjana muslim/pejabat-pejabat agama Islam yang ahli untuk kepentingan Departemen Agama, maupun untuk kepentingan instansi lain yang memerlukan keahlian di dalam agama Islam serta untuk memenuhi keperluan umum.

Maksud dan tujuan IAIN pada peraturan tersebut tampaknya ingin menggabungkan tujuan pendirian PTAIN dan tujuan pendirian ADIA. Namun dalam kenyataannya, orientasi pada pencetakan pejabat lebih menonjol dibandingkan orientasi kepada penyiapan para pemikir Islam. Mungkin ini pula penyebab adanya kakhawatiran IAIN belum mampu mencetak para ulama, seperti yang dilontarkan beberapa pihak.

Selama perjalanannya sampai saat ini IAIN telah berkembang pesat, terutama setelah wakil-wakil rakyat di MPRS menyuarakan besarnya hasrat daerah-daerah yang kuat agamanya untuk mendirikan suatu fakultas agama negeri di daerahnya. Hasrat tersebut tercermin dalam ketetapan MPRS tanggal 3 Desember 1960 no.

II/MPRS/1960, lampiran A Bidang Mental

Agama/Kerokhanian/Penelitian ad. 2 sub a terutama ad. 7, disusul lagi dengan Resolusi MPRS no. 1/Res/MPRS/1963, lampiran A ad.

5, yang dengan tegas meminta perluasan IAIN.

Setelah adanya ketetapan MPRS tersebut, berdirilah banyak fakultas agama di seluruh Indonesia, sehingga pada tahun 1963 saja sudah bertambah 10 fakultas baru di lingkungan IAIN Yogyakarta.

Untuk memudahkan pembinaannya, berdasarkan Keputusan Menteri Agama No. 49 tahun 1963, tanggal 25 Februari 1963, ditetapkan pembagian IAIN pembina menjadi dua buah yaitu 1) IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang membawahi fakultas-fakultas di daerah Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku, dan 2) IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang membawahi

fakultas yang berada di daerah Jakarta, Jawa Barat, dan Sumatera.

Perkembangan fakultas yang demikian pesat di daerah-daerah itu mendorong lahirnya Peraturan Presiden No. 27 tahun 1963, tanggal 5 Desember 1963, yang menyatakan dimungkinkannya pembentukan IAIN baru bagi daerah-daerah yang mempunyai sekurang-kurangnya tiga jenis fakultas.

Buah dari Peraturan Presiden ini maka fakultas-fakultas IAIN berjumla 104 fakultas yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Sedangkan IAIN induk menjadi 14 buah seperti yang kita kenal saat ini yaitu:

1. IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, didirikan berdasarkan Peraturan Presiden No. 11 tahun 1960;

2. IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, didirikan berdasarkan Keputusan Menteri Agama No. 49 tahun 1963;

3. IAIN Ar-Raniry Banda Aceh, didirikan berdasarkan Keputusan Menteri Agama No. 87 tahun 1964;

4. IAIN Raden Fatah Palembang, berdasarkan Keputusan Menteri Agama No. 87 tahun 1964;

5. IAIN Antasari Banjarmasin, berdasarkan Keputusan Menteri Agama No. 87 tahun 1964;

6. IAIN Sunan Ampel Surabaya, berdasarkan Keputusan Menteri Agama No. 20 tahun 1965;

7. IAIN Alauddin Ujung Pandang, berdasarkan Keputusan Menteri Agama No. 79 tahun 1965;

8. IAIN Sunan Gunung Jati Bandung, berdasarkan Keputusan Menteri Agama No. 57 tahun 1966;

9. IAIN Imam Bonjol Padang, berdasarkan Keputusan Menteri Agama No. 77 tahun 1966;

10. IAIN Sultan Thaha Saefuddin Jambi, berdasarkan Keputusan Menteri Agama No. 84 tahun 1967;

11. IAIN Raden Intan Tanjung Karang Lampung, berdasarkan Keputusan Menteri Agama No. 189 tahun 1968;

12. IAIN Wali Songo Semarang, berdasarkan Keputusan Menteri Agama No. 31 tahun 1970;

13. IAIN Sultan Syarif Qosim Pekanbaru, berdasarkan Keputusan Menteri Agama No. 194 tahun 1970;

14. IAIN Sumatera Utara Medan, berdasarkan Keputusan Menteri Agama No. 97 tahun 1973.

Kalau pada dasarnya fakultas di lingkungan IAIN terdiri dari empat jenis yaitu Fakultas Syari’ah, Tarbiyah, Ushuluddin, dan Adab, dalam perkembangannya bertambah satu jenis lagi, yaitu fakultas Dakwah. Perubahan terjadi pada jenis jurusan di fakultas-fakultas tersebut.

Perkembangan IAIN yang sangat pesat itu, ternyata membawa dampak pada kemandekan mutu. Tenaga dosen yang berkelayakan yang jumlahnya sedikit terpaksa harus disebar ke seluruh daerah.

Akibat tenaga sangat kurang, penerimaan dosen baru tidak begitu ketat. Di samping itu, pertambahan jumlah IAIN tidak ditunjang oleh kenaikan anggaran dan pengembangan sarana fisik. Untuk mengatasi masalah ini setelah tahun 1973 program IAIN yang utama adalah peningkatan mutu dan penyetopan pembukaan fakultas baru. Malah dilakukan penghapusan dan relokasi fakultas-fakultas yang dianggap kurang layak dan sulit berkembang. Berdasarkan Keputusan Presiden No. 9 tahun 1987, jumlah IAIN tetap dipertahankan 14 buah dengan jumlah fakultas 90 buah dan jenis fakultas tetap sama. Namun demikian, perkembangan ini diikuti dengan penguatan status dan posisi IAIN. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 33 tahun 1985, tanggal 4 Juli 1985, status IAIN makin kuat dan sejajar dengan perguruan tinggi negeri di lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Ini menunjukkan perhatian pemerintah terhadap pendidikan agama Islam tetap konsisten seperti ketika mendirikan PTAIN.

D. Reformulasi Studi Keislaman di Perguruan Tinggi

Dalam dokumen Dinamika Pendidikan Islam (Halaman 159-164)