• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendidikan Islam Masa Bani Abbasiyah dan Sesudahnya

Dalam dokumen Dinamika Pendidikan Islam (Halaman 63-69)

BAB II PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN

D. Pendidikan Islam Masa Bani Abbasiyah dan Sesudahnya

D. Pendidikan Islam Masa Bani Abbasiyah dan

Kedua, kurikulum pendidikan tinggi. Pada pendidikan tinggi, kurikulum sejalan dengan fase di mana dunia Islam mempersiapkan diri untuk memperdalam masalah agama, menyiarkan, dan mempertahankannya. Akan tetapi bukan berarti pada saat itu, yang diajarkan melulu agama, karena ilmu yang erat kaitannya dengan agama seperti bahasa, sejarah, tafsir al-Qur’an dan al-Hadits juga diajarkan.

Pada permulaan zaman Bani Abbasiyah pendidikan Islam berkembang dan maju dengan sangat pesat di seluruh persada dunia Islam sehingga lahir sekolah-sekolah yang tidak terhitung jumlahnya, tersebar dari kota sampai ke desa-desa. Anak-anak dan pemuda berlomba-lomba menuntut dan mencari ilmu pengetahuan, melawat ke pusat-pusat pendidikan, meninggalkan kampung halaman karena cintanya kepada ilmu pengetahuan (Yunus, 1989 : 46). Munculnya lembaga pendidikan formal dalam bentuk sekolah-sekolah dalam dunia Islam, merupakan pengembangan dari lembaga pendidikan non-formal yang telah berkembang sebelumnya. Dengan berdirinya sekolah-sekolah tersebut, maka lengkaplah lembaga pendidikan Islam yang bersifat formal, mulai dari tingkat dasar sampai tingkat menengah dan tingkat tinggi. Sekolah-sekolah tersebut belum mempunyai kurikulum yang seragam, tetapi masih bervariasi antara sekolah yang satu dengan sekolah yang lain. Hal ini sangat tergantung pada keahlian gurunya, pandangan tentang pentingnya suatu ilmu pengetahuan, dan berhubungan pula dengan perhatian dari pendiri sekolah yang bersangkutan. Mengenai pokok-pokok rencana pelajaran pada berbagai tingkat pendidikan tersebut, secara garis besar dapat digambarkan sebagai berikut: pertama, rencana pelajaran tingkat dasar: membaca dan menghafalnya, pokok-pokok agama Islam, seperti cara berwudu', salat, puasa, dan sebagainya, menulis, kisah atau riwayat orang-orang besar Islam, membaca dan menghafal syair-syair atau prosa, berhitung, pokok-pokok nahwu dan saraf.

Lama belajar pada tingkat dasar ini tidak sama, tergantung pada kecerdasan dan kemampuan masing-masing anak karena sistem pengajian belum diadakan secara klasikal laiknya sistem pengajian

sekarang ini. Tetapi pada umumnya, anak-anak menyelesaikan tingkat dasar ini lebih kurang lima tahun.

Kedua, rencana pelajaran tingkat menengah: , bahasa Arab dan kesusasteraannya, fiqh, tafsir, Hadits, nahwu/saraf/balaqah, ilmu- ilmu pasti, mantiq, ilmu falaq, tarikh (sejarah), ilmu-ilmu alam, kedokteran, musik. Di samping itu ada juga mata pelajaran yang bersifat kejuruan, misalnya untuk menjadi juru tulis di kantor. Selain dari belajar bahasa, murid diharuskan belajar surat menyurat, pidato, diskusi, berdebat, dan tulisan indah. Ketiga, rencana pelajaran tingkat tinggi. Rencana pelajaran pada tingkat tinggi umumnya dibagi menjadi dua jurusan, yaitu: (a) jurusan ilmu-ilmu agama dan bahasa serta sastra Arab, yang juga disebut sebagai ilmu-ilmu naqliyah meliputi:

tafsir , Hadits, fiqh dan Ushul Fiqh, nahwu/saraf, balaqah, bahasa Arab dan kesusasteraan; (b) Jurusan ilmu-ilmu umum, yang disebut ilmu aqliyah meliputi; mantiq, ilmu-ilmu alam dan kimia, musik, ilmu- ilmu pasti, ilmu ukur, ilmu falak, ilmu Ilahiyah (Ketuhanan), ilmu hewan, ilmu tumbuh-tumbuhan, kedokteran

Semua materi pelajaran tersebut diajarkan pada perguruan tinggi dan belum diadakan takhassus untuk salah satu bidang ilmu. Dalam hal ini, takhassus merupakan jenjang atau tingkatan yang ditempuh seseorang setelah tamat dari perguruan/tingkat tinggi dan disesuaikan dengan bakat dan kecenderungan masing-masing (Zuhaerini dkk, 1986 : 105).

Di samping perkembangan pada materinya, metodologi ilmiah juga berkembang pesat. Hal ini dapat dilihat dalam bidang filsafat ketuhanan atau teologi berkembang ilmu kalam dengan berbagai macam pola pemikirannya. Dari pola pemikiran tradisional yang bersifat skolastik yang mengembangkan paham Jabariah, disempurnakan oleh Asy'ariyah. Berlawanan dengan itu berkembang pola pemikiran rasional, bertolak dari pandangan Qadariyah sebagaimana yang dikembangkan oleh aliran Mu'tazilah yang kemudian dikembangkan oleh para filosof-filosof Islam. Selain itu, muncul pula aliran ilmu kalam yang memadukan antara pola pikir tradisional dengan pola pikir rasional, sebagaimana yang nampak

pada aliran Maturidiyah. Selain tentang filsafat, beberapa cabang ilmu pengetahuan juga telah dikembangkan sebagai hasil perkembangan pemikiran ilmiah dikalangan kaum muslimin, yaitu:

1. Dalam bidang matematika, telah dikembangkan oleh para sarjana muslim seperti teori bilangan, aljabar, geometri, dan trigonometri.

2. Dalam bidang fisika, mereka telah berhasil mengembangkan ilmu mekanika dan optika.

3. Bidang kimia telah berkembang ilmu kimia.

4. Dalam bidang astronoini, kaum muslimin telah memiliki ilmu mekanika benda-benda langit.

5. Dalam bidang geologi, para ahli ilmu pengetahuan muslim telah mengembangkan geodesi dan meteorologi.

6. Dalam bidang biologi, mereka telah memiliki ilmu-ilmu anatomi, botani, zoologi, embriologi, dan pathologi.

7. Dalam bidang sosial telah pula berkembang ilmu politik.

Perkembangan ilmu pengetahuan di atas, dapat berkembang pesat dikarenakan dukungan yang besar dari pemerintah Abbasiyah.

Al-Ma’mun, salah satu khalifah Daulah Bani Abbasiyah, mendirikan Bait al-Hikmah di Bagdad pada tahun 815 M (Ibrahim Hassan, 1989).

Pada Bait al-Hikmah ini terdapat ruang-ruang kajian, perpustakaan, dan observatorium (laboratorium). Meskipun demikian, Bait al- Hikmah belum dapat dikatakan sebagai sebuah institusi pendidikan yang ‘cukup sempurna’, karena sistem pendidikan masih sekedarnya dalam majlis-majlis kajian dan belum terdapat ‘kurikulum pendidikan’

yang diberlakukan di dalamnya.

Institusi pendidikan Islam yang mulai menggunakan sistem pendidikan ‘modern’ baru muncul pada akhir abad X M dengan didirikannya Perguruan (Universitas) al-Azhar di Kairo oleh Jendral Jauhar al-Sigli pada tahun 972 M (Yunus, 1990). Pada al-Azhar, selain dilengkapi dengan perpustakaan dan laboratorium, mulai diberlakukan sebuah kurikulum pengajaran. Pada kurikulum ini diatur

urutan materi beserta disiplin-disiplin yang harus diajarkan kepada peserta didik. Meski pendirian al-Azhar bertujuan sebagai wadah

‘kaderisasi’ bagi kader-kader Syi’ah, namun kurikulum yang berlaku dapat dianggap sebagai sebuah kurikulum yang berimbang. Pada kurikulum al-Azhar diajarkan disiplin-disiplin ilmu agama dan juga disiplin-disiplin ilmu ‘umum’ (aqliyyah). Ilmu agama yang ada dalam kurikulum al-Azhar antara lain tafsir, Hadits, fiqh, qira’ah, teologi (kalam), sedang ilmu akal yang ada dalam kurikulum al-Azhar antara lain filsafat, logika, kedokteran, matematika, sejarah dan geografi (Yunus, 1990). Ketika Salahuddin al-Ayyubi pada abad XI M. berhasil menguasai Kairo, sebagai pusat Bani Fatimiyyah, ia memandang adanya al-Azhar sebagai sebuah institusi pendidikan sebagai sesuatu yang sangat penting, sehingga keberadaan al-Azhar tidak diusik sama sekali, selain peniadaan materi-materi yang berbau Syi’ah. Bahkan pada masa Salahuddin inilah al-Azhar berada dalam puncak kejayaan, di mana al-Azhar menurut beberapa kalangan dianggap mampu melaksanakan kurikulum yang berimbang antara materi agama dan pengembangan intelektual (Bilgrami, 1989).

Institusi pendidikan Islam ideal dari masa kejayaan Islam lainnya adalah Perguruan (Madrasah) Nizamiyah. Perguruan ini diprakarsai dan didirikan oleh Nizam al-Mulk, perdana menteri pada kesultanan Seljuk pada masa Malik Syah-pada tahun 1066/1067 M. di Bagdad dan beberapa kota lain di wilayah kesultanan Seljuk. Madrasah Nizamiyah sebenarnya didirikan sebagai upaya membendung arus propaganda syi’ah yang berpusat di Kairo dengan al-Azharnya.

Madrasah Nizamiyah pun telah memiliki spesifikasi khusus sebagai sebuah institusi pendidikan dengan spesifikasi pada teologi dan hukum Islam. Dan karena spesifikasi ini, Madrasah Nizamiyah sering disebut sebagai Universitas Ilmu Pengetahuan Teologi Islam (Nakosteen, 1996). Hitti menuturkan, Madrasah Nizamiyah saat itu sudah mempunyai sarana belajar yang memadai untuk pengembangan keilmuan para penuntut ilmu. Madrasah Nizamiyah menerapkan sistem yang mendekati sistem pendidikan yang dikenal sekarang.

Madrasah Nizamiyah merupakan perguruan pertama Islam yang menggunakan sistem sekolah. Artinya, dalam Madrasah Nizamiyah

telah ditentukan waktu penerimaan siswa, tes kenaikan tingkat dan juga ujian akhir kelulusan. Selain itu, Madrasah Nizamiyah telah memiliki manajemen tersendiri dalam pengelolaan dana, memiliki kelengkapan fasilitas pendidikan-dengan perpustakaan yang berisi lebih dari 6000 judul buku yang telah diatur secara katalog dan juga laboratorium, memiliki sistem perekrutan tenaga pengajar yang ketat dan pemberian beasiswa untuk yang berprestasi. Stanton menyatakan bahwa Madrasah Nizamiyah merupakan Perguruan Islam modern yang pertama (Stanton, 1992 ).

Meski Madrasah Nizamiyah memiliki spesifikasi pada kajian teologi dan hukum Islam, namun dalam kurikulum yang digunakan terdapat pula perimbangan yang proporsional antara disiplin ilmu keagamaan (tafsir, Hadits, fiqh, kalam dan lainnya) dan disiplin ilmu aqliyah (filsafat, logika, matematika, kedokteran dan lailnnya). Bahkan, pada masa itu, kurikulum Nizamiyah menjadi kurikulum rujukan bagi institusi pendidikan lainnya (Bilgrami, 1989). Di kota yang sama juga berdiri Sekolah Tinggi Al-Mustansiriyah pada tahun 1226 M. Para pelajar di Al-Mustansiriyah sejak dini dikenalkan fiqh Sunni empat mazhab, yakni Hanbali, Syafi’i, Maliki, dan Hanafi. Guna menunjang proses belajar mengajar di perkuliahan, pihak kesultanan mendirikan sebuah perpustakaan yang sangat besar. Ibnu Battuta, penjelajah Muslim asal Maroko, sempat mengutarakan kekagumannya pada kebesaran dan kemegahan perpustakaan di kampus Al-Mustansiriyah itu. Lembaga pendidikan tinggi Islam ternama lainnya adalah Universitas Al-Qarawiyyin di Kota Fez, Maroko. Universitas ini tercatat sebagai salah satu perguruan tinggi yang paling prestisius di abad pertengahan. Universitas itu memegang peranan penting dalam pertukaran kebudayaan dan transfer ilmu pengetahuan dari dunia Muslim ke Eropa. Melalui proses transfer ilmu pengetahuan dan kebudayaan itu, masyarakat Eropa mulai tercerahkan. Eropa pun membebaskan dirinya dari kungkungan kegelapan.

Selain adanya institusi pendidikan yang memiliki kapabilitas tinggi, pada masa kejayaan Islam, kegiatan keilmuan benar-benar mendapat perhatian serius dari pemerintah. Sehingga kebebasan akademik benar-benar dapat dilaksanakan, kebebasan berpendapat

benar-benar dihargai, kalangan akademis selalu didorong untuk senantiasa mengembangkan ilmu melalui forum-forum diskusi, perpustakaan selalu terbuka untuk umum, bahkan perpustakaan pribadi dan istana pun terbuka untuk umum (Khan, 1998). Namun setelah kejatuhan Bagdad pada tahun 1258 M, dunia pendidikan Islam pun mengalami kemunduran dan kejumudan. Paradigma pendidikan Islam pun mengalami distorsi besar-besaran. Dari serbuah paradigma yang progresif dengan dilandasi keinginan menegakkan agama Allah menjadi paradigma yang sekedar mempertahankan apa yang telah ada.

Pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa kemajuan yang pernah dicapai Islam dalam pendidikan, terutama karena sistem pendidikan Islam yang diterapkan pada saat itu dilakukan secara bertahap.

Mengutip pendapat Ibn Khaldun: “Mengajarkan ilmu pengetahuan kepada murid akan berhasil apabila dilakukan secara bertahap.”

Sungguh, pendidikan Islam di Indonesia akan maju kalau bangsa ini mau menengok dan belajar dari kemajuan-kemajuan pendidikan Islam di masa lampau, terutama kemajuan pendidikan yang dinikmati pada masa Dinasti Abbasiyah.

Dalam dokumen Dinamika Pendidikan Islam (Halaman 63-69)