• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendidikan Islam di Pulau Jawa

Dalam dokumen Dinamika Pendidikan Islam (Halaman 136-141)

BAB VI PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA PADA

B. Pendidikan Islam di Pulau Jawa

Peran Walisongo dalam menyebarkan dan mengembangkan pendidikan Islam di Indonesia, akan dibahas secara singkat, yakni tentang masuknya Islam di pulau Jawa sebagai basis pendidikan dan penyebaran agama Islam ke wilayah Indonesia bagian Timur dan Tenggara. Ada dua sumber yang menerangkan tentang mula-mula datangnya Islam di pulau Jawa, yakni sumber pertama dari Barat dan sumber kedua dari Timur. Pertama, berasal dari penelitian Schrieke yang ditulis dalam bukunya “Het Boek Van Bonang” yang menerangkan bahwa Islam masuk pertama ke pulau Jawa pada tahun

1416 M. Kedua, berasal dari Sayid Alwin bin Thahir al-Haddad Mufti kerajaan Johor dalam bukunya “Sejarah Perkembangan Islam di Timur Jauh” dalam bahasa Arab yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Dhiya Shahab, antara lain menerangkan kedatangan dua orang mubaligh yaitu Maulana Malik Ibrahim dengan Maulana Ishak. Menurut keterangan yang ditulis oleh Abubakar Aceh, Maulana Malik Ibrahim menetap di Gersik. Dengan demikian, Maulana Malik Ibrahim telah datang ke Gersik atau Jawa Timur antara tahun 1399-an Masehi. Dari dua sumber di atas, terdapat selisih yang tidak terlalu besar yaitu 17 tahun karena dalam buku Het Boek Van Bonang diterangkan sekitar tahun 1416 M. Dari dua sumber ini, banyak kalangan ahli sejarah yang menguatkan sumber dari Barat, karena dalam buku Het Boek Van Bonang dijelaskan kalau pada tahun 1416 itu telah didapati banyak saudagar-saudagar pendatang yang bergama Islam di pesisir pulau Jawa. Sudah banyak pula pembesar Majapahit yang memeluk agama Islam. Boleh jadi para mubaligh- mubaligh itu adalah saudagar yang telah terlebih dahulu menyinggahi Pase atau Perlak atau yang telah datang dari Malaka yang memeluk agama Islam.

Berdasarkan pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa Islam datang ke pulau Jawa dari Pasai atau Perlak baik langsung atau tidak langsung melalui Malaka, akan tetapi sumber atau asalnya tetap dari Mekah. Jika pada tahun 1416 telah dijumpai banyak mubaligh Islam di pesisir pulau Jawa, ini berarti mereka telah datang sebelum tahun itu (1416 M.) dan ini mendekati sumber Timur yang mengatakan bahwa Islam datang ke pulau Jawa pertama kali pada tahun 1399 Masehi (abad ke14) bersamaan dengan datangnya Maulana Malik Ibrahim.

Sejak kedatangan yang pertama kali ke pulau Jawa, Islam tersebar sampai ke Maluku atas jasa para wali yang biasa disebut Wali Songo.

Adapun yang umum disebut Wali Songo adalah Syekh Maulana Malik Ibrahim, Raden Rahmat (Sunan Ampel), Maulana Ibrahim (Sunan Bonang), Raden Qasim atau Syarifuddin (Sunan Derajat), Raden Paku atau Raden Ainul Yaqin (Sunan Giri), Syekh Ja’far Shidiq (Sunan Kudus), Raden Prawoto atau Raden Said (Sunan Muria),

Raden Syahid (Sunan Kalijaga), Raden Abdul Qadir atau Syarif Hidayatullah.

Keberhasilan dakwah yang telah dilaksanakan oleh para wali songo dalam menyebarkan dan mengembangkan Islam serta mendidik umat, tidak lepas dari metode yang dipergunakan. Adapun metode yang dipergunakan oleh para wali songo tersebut adalah (Saksono, 1996 : 87):

1. Metode yang disebut dengan istilah “Maw’izatul hasanah wa mujadalah billati hiya ahsan”. Metode ini, wali sanga pergunakan dalam menghadapi tokoh khusus seperti pimpinan, orang terpandang, dan terkemuka dalam masyarakt seperti para bupati, adipati, raja-raja atau bangsawan lainnya.

2. Metode al-hikmah, cara ini dipergunakan dalam menghadapi masyarakat awam dengan tatacara yang sangat bijaksana, masyarakat awam mereka hadapi secara massal, seperti sunan Kalijaga dengan gamelan sekateng, Sunan Kudus dengan lembunya dihias.

3. Metode Tadarruj dan Tarbiayatul Ummah, dipergunakan sebagai proses klasifikasi yang disesuaikan dengan tahap pendidikan umat, agar ajaran Islam dapat diterima dengan mudah dan dapat dijalankan oleh masyarakat secara merata.

4. Metode lainnya ialah dengan pembentukan dan penanaman kader serta penyebaran juru dakwah ke berbagai daerah.

Dari dakwah dan pendidikan yang dilaksanakan oleh wali songo di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa mereka telah berhasil mengakhiri zaman Hindu Budha yang kurang lebih selama limabelas abad memegang peranan penting di panggung sejarah dan kebudayaan Indonesia dapat digantikan oleh peranan Islam. Lakon Hindu Budha telah diganti dengan lakon baru yang dibawakan oleh wali songo dengan mengambil cerita dari al-Qur’an dan al-Hadits . Sukses dakwah dan perjuangan wali songo di pulau Jawa, tidak lepas dari kepribadian mereka, di samping karena faktor Islam sebagai agama yang telah membuktikan dirinya yang penuh dengan gaya

difusi yang keras, vitalitas yang ulet, dan penuh dengan semangat dan kegembiraan serta kesupelan dan kefleksibelan yang luas. Penyebab lainnya adalah sisi kebudayaan Islam secara kebetulan banyak memiliki persamaan dan persesuaian dengan unsur-unsur Indonesia asli yang belum tercampuri oleh Hindu Budha.

Keberhasilan Wali Songo tidak hanya dalam dakwahnya, tetapi juga telah mampu memproklamirkan berdirinya kerajaan Islam yang pertama di pulau Jawa, yaitu kerajaan Demak dengan rajanya yang pertama Raden Fatah. Raden Fatah adalah seorang putera dari kerajaan Majapahit, yaitu putera dari Brawijaya. Ia juga seorang santri perguruan Islam di Ampel Denta, yang memperoleh ijazah dari gurunya, para wali, untuk membuka perguruan Islam di mana saja.

Pada tahun 1475 M. Raden Fatah mendirikan pesantren di hutan Gelagah Arun sebelah selatan Jepara. Pesantren itu lambat laun mengalami kemajuan yang amat pesat. Gelagah Arun yang tadinya merupakan kampung kecil akhirnya berubah menjadi kota kabupaten yang kemudian diberi nama Bintara, dan Raden Fatah sebagai bupatinya pada tahun 1475 M. Karenanya, pada masa itu, Bintara menjadi pusat pengkajian agama Islam di seluruh Jawa.

Pada tahun 1476, di Bintara juga dibentuk semacam organisasi pendidikan dengan nama “Bayangkara Islah”, yaitu angkatan pelopor perbaikan. Tujuan organisasi ini ialah untuk mempergiat usaha pendidikan dan pengajaran Islam menurut rencana yang teratur.

Organisasi ini merupakan organisasi pendidikan Islam yang pertama di Indonesia. Dalam rencana kerjanya itu, antara lain ditetapkan beberapa hal, yaitu (Yunus, 1986 : 218):

a. Tanah Jawa dan Madura dibagi atas beberapa bagian untuk lapangan kerja, bagi pendidikan dan pengajaran. Pimpinan setiap bidang pekerjaan dikepalai oleh seorang wali dan seorang badal atau wakil.

b. Untuk kelancaran dan kemudahan pemahaman pendidikan ajaran Islam, maka pelaksanaannya ditempuh melalui kebudayaan yang hidup dalam masyarakat pada saat itu dengan catatan tidak menyimpang dari hukum syara’.

c. Para wali dan para badal, selain harus menguasai dan pandai dalam bidang agama, juga harus berbudi perketi dan berakhlak mulia, agar dapat menjadi suri tauladan bagi masyarakt sekelilingnya,

d. Di Bintara saat itu didirikan masjid Agung untuk menjadi pusat kegiatan usaha pendidikan dan pengajaran Islam.

Selain di kerajaan Islam Demak, pada tahun 1500 M. pendidikan dan pengajaran Islam menjadi betambah maju dengan sangat pesat, dan penyebaran Islam ke seluruh Jawa juga bejalan dengan sangat mudah, karena telah ada pemerintah dan pembesar-pembesar yang mendukung dan membelanya. Dengan demikian, pendidikan dan pengajaran Islam semakin mendesak dan menyisihkan pengaruh agama Hindu sedikit demi sedikit. Rencana usaha pendidikan dan pengajaran agama Islam yang disusun oleh Bayangkara Islah diatas, lambat laun megalami penyempurnaan.

Di tempat-tempat sentral yang dianggap perlu, didirikan masjid di bawah pimpinan seorang badal untuk menjadi pusat pendidikan dan pengajian Islam. Untuk menyempurnakan rencana Bayangkara Islah, maka dewan wali songo kerajaan Demak mengambil keputusan agar semua cabang kebudayaan yang hidup pada saat itu, seperti:

filsafat hidup, kesenian, kesusilaan, adat istiadat, ilmu pengetahuan dan sebagainya sedapat mungkin diisi dan diwarnai dengan anasir- anasir pendidikan dan pengajaran agama Islam. Dengan demikian, agama Islam menjadi mudah diterima, dihayati serta diamalkan oleh masyarakat. Oleh karena itu, untuk merealisasikan keputusan dewan wali tersebut, maka pelaksanaanya diserahkan pada Raden Syahid (Sunan Kalijaga) dan Raden Paku (Sunan Giri). Usaha memasukan anasir-anasir Islam kepada kebudayaan tersebut ternyata membuahkan hasil yang sangat memuaskan. Hal itu menunjukan kecakapan, kebijaksanaan dan jasa Sunan Kalijaga dan Sunan Giri dalam lapangan pendidikan dan pengajaran Islam. Dengan kebijaksanaan demikian, maka rakyat dengan mudah menerima pendidikan dan pengajaran Islam, sehingga berduyunlah orang memeluk agama Islam.

Selain di kerajaan Islam Demak, di kerajaan Mataram (1575-1757 M.) pendidikan Islam juga mengalami perkembangan yang cukup pesat, terutama sejak masa pemerintahan Sultan Agung pada tahun 1613 M. Sebagaimana halnya pada masa kerajaan Demak, pada masa kerajaan Mataram pun hampir disetiap desa diadakan tempat pengajian , dan di tempat-tempat itu diajarkan huruf hijaiyah, membaca , berjanji, pokok-pokok dan dasar ilmu agama Islam, seperti cara beribadat, rukun iman dan rukun Islam serta yang lainnya. Selain itu diadakan pula tempat pengajian kitab bagi murid yang telah khatam membaca . Yang menjadi gurunya biasanya dari desa itu sendiri yang terpandai, dan kadang-kadang terdapat pula orang lain dari desa tersebut atau dari desa lain yang telah memenuhi syarat-syarat kepandaian dan memiliki budi pekerti yang luhur. Guru- guru itu kemudian diberi gelar Kiai Anom, dan tempat pengajiannya disebut pesantren. Para murid atau para santri harus tinggal di asrama yang dinamai pondok, dekat pesantren tempat dilaksanakannya pengajian kitab tersebut. Di samping itu, diadakan pula pesantren besar lengkap dengan pondok-pondoknya, pesantren ini sebagai tempat melanjutkan bagi santri yang telah selesai atau tamat dari pesantren desa. Gurunya diberi gelar Kiai Sepuh atau Kanjeng Kiai.

Adapun biaya pelaksanaan pendidikan dan pengajaran Islam dari tingkat rendah sampai tingkat tinggi ditanggung oleh masyarakat itu sendiri, seperti hasil dari pemungutan zakat, serakah (iuran waktu nikah). Wakaf dan palagara (pembayaran dari penduduk desa yang melakukan hajatan seperti sunatan atau khitanan, dan sebagainya).

Dari hasil tanah sawah wakaf, serakah, zakat, palagara, dan lain- lainnya inilah para penghulu, naib dan pengawai-pengawainya, modin, Kiai Sepuh dan Kiai Anom memperoleh penghasilan.

Dalam dokumen Dinamika Pendidikan Islam (Halaman 136-141)