MENINGGAL TERDUGA COVID-19 DALAM PERSPEKTIF TEORI HUKUM PROGRESIF
3. Informed Consent Pelaksanaan Protokol Kesehatan Terhadap Pemakaman Pasien Covid-19 Dalam Perpsektif Teori Hukum
Penegakan Hukum dalam Perjanjian pada masa sekarang ini tidak hanya dilihat dalam peraturan perundang-undangan sebagaimana yang dianut dalam teori hukum positivism sebab dalam pelaksanaan peraturan mengenai perjanjian sering kali menimbulkan ketidakadilan bagi salah satu pihak misalnya pada perjanjian yang tertulis yang dibentuk oleh pihak yang memiliki perekonomian yang lebih mapan ketika membuat perjanjian baku (standard form Contract) seperti perjanjian terapeutik, sehingga pihak yang posisi ekonominya lebih rendah /lemah tidak memiliki kesempatan untuk berkontribusi dalam pembuatan perjanjian yang dalam penerapanya sering kali menjadi penyebab kerugian bagi pihak yang ekonominya lebih rendah, oleh karena itu peraturan perundang-undang dalam hal perjanjian kadangkan menimbulkan masalah bagi pihak yang terikat dalam perjanjian tersebut, sehingga di butuhkan suatu konsep hukum yang dapat mengatasi masalah ini tersebut,maka terjadilah pergeseran ke arah hukum progresif.
Penegakan hukum progresif artinya dalam melaksanakan hukum tidak boleh hanya di berdasarkan perkataan hitam putih dalam peraturan perundang-undangan, tetapi didasarkan pada motivasi yang besar dalam pemaknaan yang dalam dari suatu aturan yang ada86 dengan demikian dalam konsep hukum progresif menurut Satjipto Raharjo yang menyatakan pada dasarnya hukum itu adalah untuk manusia, sehingga hukum progresif mempunyai tujuan besar yaitu untuk kesejahteraan dan kebahagiaan manusia, maka Hukum tidak ada untuk dirinya sendiri dan tidak bersifat final, sehingga apabila hukum itu tidak memberikan jaminan perlindungan hukum bagi manusia, maka harus dilakukan perubahan.87 Dengan demikian pada dasarnya hukum progresif bertujuan untuk membuat hukum kembali pada jalan yang seharusnya, yaitu selain bertujuan untuk kepastian hukum. Tetapi hukum juga harus melihat kepada konsep kemanfaatan dan keadilan, untuk mewujudkan kriteria hukum yang berkemanusiaan dan mewujdukan kesejahteraan,
86 Sajipto Raharjo, Membedah Hukum Progresif, (Jakarta: Pt Kompas, 2006), Hlm. 6
87 Badriyah, Siti Malikhatun. “Pemuliaan (Breeding) Asas-Asas Hukum Perjanjian Dalam Perjanjian Leasing Di Indonesia.” Yustisia Jurnal Hukum 1, No. 2 (2012), Hlm. 54 Doi:
Https://Jurnal.Uns.Ac.Id/Yustisia/Article/View/10624
Perwujudkan informed consent yang dilihat dari sudut padang hukum progresif adalah mewujudkan keadilan berdasarkan asas kebebasan berkontrak, dikarenakan informed conset yang merupakan bagian dari perjanjian terapeutik tersebut merupakan perjanjian baku sepihak, sehingga dalam substansi yang terdapat dalam perjanjian ini berisi informasi yang bagi pasien yang merupakan informed consent, yang kadang kala pemberian informasi yang kurang baik, akan menimbulkan kerugian bagian pasien, sehingga apabila dilihat dari sudut padang hukum progresif maka yang memiliki lebih mengutamakan manusia dibandingkan hukum, oleh karena itu informed consent menurut hukum progresif lebih mengarah pada sosiologis, dengan menunjukkan gambaran nyata perilaku dalam setiap transaksi atau dalam setiap kontrak. Ini merupakan peluang bagi hukum progresif dimana hukum tidak mutlak digerakkan oleh hukum positif atau perundang-undangan, tetapi juga bergerak pada arah non-formal.
3. Informed Consent Pelaksanaan Protokol Kesehatan Terhadap
Berdasarkan tujuan ini dapat diartikan bahwa pasien harus mengetahui segala tindakan medis yang terjadi terhadapnya sebagaimana yang dijelaskan pasal 2 Permenkes Nomor 290/MENKES/PER/III/2008 tentang Persetujuan Tindakan Medis, hal ini dikarenakan tenaga kesehatan harus memberi pemahaman dahulu kepada pasien dan keluarganya tentang berbagai macam tindakan medis yang telah direncanakan, akan tetapi dalam Permenkes ini pula diatur mengenai pengecuali pelaksanaan Informed Consent, yang menyatakan informed Consent tidak di perlukan dalam hal program pemerintah pada pelayana medis untuk kepentingan masyarakat.
Pada dasarnya banyak program pemerintah dalam bidang kesehatan seperti: Program BPSJ Kesehatan, Program Kartu Indonesia Sehat, Program Pemberantasan Penyakit Menular;
Program Keluarga Berencana dan lain sebagainya, dan yang sekarang adalah Program Penerapan Protokol Kesehatan selama pandemic. Tetapi dari beberapa program pemerintah ini informed conset masih wajib diberikan kepada pasien, sebagai upaya memberikan informasi dan edukasi mengenai pelayanan kesehatan yang diberikan oleh dokter yang bersangkutan.
Penerapan Protokol Covid-19, banyak terjadi permasalahan di lapangan, salah satunya mengenai meninggalnya pasien terduga covid-19 harus dilakukan berdasarkan protokol kesehatan, pemasalahan ini muncul karena tidak terlaksananya informed consent secara baik pada pihak keluarga pasien mengenai pemakaman berdasarkan protokol kesehatan, sehingga menimbulkan kesalahapahaman dan kecurigaan pada tenaga medis baik dari segi keluarga pasien maupun masyarakat, yang menimbulkan dugaan tenaga medis melakukan kecurangan dengan memasukan pasien yang belum tentu hasil testnya positif covid-19 dalam daftar pasien yang meninggal karena covid-19 guna mendapat insentif dari pemerintah.
Tidak terlaksananya informed consent dengan baik pada saat masa pandemi ini, meskipun secara tidak langsung dapat dikatakan tidak sesuai dengan kaidah hukum yang ada, sebab berdasarkan Pasal 56 Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
Berdasarkan tujuan ini dapat diartikan bahwa pasien harus mengetahui segala tindakan medis yang terjadi terhadapnya sebagaimana yang dijelaskan pasal 2 Permenkes Nomor 290/MENKES/PER/III/2008 tentang Persetujuan Tindakan Medis, hal ini dikarenakan tenaga kesehatan harus memberi pemahaman dahulu kepada pasien dan keluarganya tentang berbagai macam tindakan medis yang telah direncanakan, akan tetapi dalam Permenkes ini pula diatur mengenai pengecuali pelaksanaan Informed Consent, yang menyatakan informed Consent tidak di perlukan dalam hal program pemerintah pada pelayana medis untuk kepentingan masyarakat.
Pada dasarnya banyak program pemerintah dalam bidang kesehatan seperti: Program BPSJ Kesehatan, Program Kartu Indonesia Sehat, Program Pemberantasan Penyakit Menular;
Program Keluarga Berencana dan lain sebagainya, dan yang sekarang adalah Program Penerapan Protokol Kesehatan selama pandemic. Tetapi dari beberapa program pemerintah ini informed conset masih wajib diberikan kepada pasien, sebagai upaya memberikan informasi dan edukasi mengenai pelayanan kesehatan yang diberikan oleh dokter yang bersangkutan.
Penerapan Protokol Covid-19, banyak terjadi permasalahan di lapangan, salah satunya mengenai meninggalnya pasien terduga covid-19 harus dilakukan berdasarkan protokol kesehatan, pemasalahan ini muncul karena tidak terlaksananya informed consent secara baik pada pihak keluarga pasien mengenai pemakaman berdasarkan protokol kesehatan, sehingga menimbulkan kesalahapahaman dan kecurigaan pada tenaga medis baik dari segi keluarga pasien maupun masyarakat, yang menimbulkan dugaan tenaga medis melakukan kecurangan dengan memasukan pasien yang belum tentu hasil testnya positif covid-19 dalam daftar pasien yang meninggal karena covid-19 guna mendapat insentif dari pemerintah.
Tidak terlaksananya informed consent dengan baik pada saat masa pandemi ini, meskipun secara tidak langsung dapat dikatakan tidak sesuai dengan kaidah hukum yang ada, sebab berdasarkan Pasal 56 Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
menyatakan bahwa setiap orang memiliki hak menerima atau menolak sebagian atau seluruh tindakan medis atau informed consent yang akan didapatkannya apabila orang tersebut telah memahami mengenai informasi tindakan yang akan dilakukan dengan jelas, akan tetapi hak ini tidak dapat berlaku pada keadaan yaitu:
1. Orang yang dalam keadaan tidak berdaya atau tidak sadar.
2. gangguan mental berat.
3. Pasien yang memiliki penyakit yang dapat menular dengan cepat ke masyarakat banyak;
Oleh karena itu covid-19 merupakan salah satu penyakit yang proses penularnya cepat sehingga dalam pelaksanaan protokol kesehatan terhadap jezanah pasien terduga covid-19 dapat di maklumi apabila tidak di berikan informed consent. Akan tetapi apabila melihat kondisi saat ini dimana dalam pelaksanaan sering terjadi permasalahan maka dapatlah dikatakan peraturan perundang-undangan hanya memberikan kepastian hukum semata dan tidak adil bagi pasien dan keluarga, sebab dalam informed consent selain sebagai bukti persetujuan pasien tetapi juga sebagai sarana memberikan pemahaman dalam bentuk informasi mengenai pelayanan medias yang diberikan kepada pasien.
Apabila dilihat pada pemaparan kasus pada latar belakang, maka permasalah yang informed consent pada masa pandemi covid- 19 ini terdiri dari dua macam yaitu tidak diberikannya informed consent dan diberikan informed consent tapi dengan informasi yang asimetris. Pada kasus pasien meninggal terduga covid-19 yaitu Boru Simanjutak, yang dalam kasus ini keluarga pasen menyatakan tidak diberikan informasi terlebih dahulu mengenai pemakaman jenazah Boru Simanjutak dengan protokol kesehatan, sehingga dapatlah dikatakan bahwa pada kasus ini pihak tenaga kesehatan di memberikan informed consent terlebih dahulu kepada keluarga pasien, sedangkan pada kasus menimpa empat orang pria petugas forensic di RSUD Djasamen Saragih, sumatera selatan yang terkena dugaan penistaan agama, akibat memandikan jenazah wanita yang bernama zakiah yang merupakan suspek covid-19. Meskipun pada dasarnya keluarga pasien telah mengetahui bahwa pasien akan
dikuburkan menurut prokol kesehatan akan tetapi terjadi informasi asimetris dalam penyampaian informed consent. Informasi Asimetris merupakan sebuah istilah di bidang ekonomi yang digunakan pertamakali oleh Kenneth J. Arrow untuk menjelaskan suatu kondisi di bidang penanganan kesehatan, yaitu terjadinya ketidakseimbangan perolehan informasi, karena salah satu pihak dari suatu transaksi memiliki informasi lebih banyak atau lebih baik dibandingkan pihak lainnya, yang dalam hal ini adalah tenaga kesehatan yang memiliki informasi lebih banyak mengenai tindakan medis apa saja yang akan diberikan kepada pasien dan pasien atau keluarga yang kurang memahami mengenai tindakan medis yang akan diberikan kepada pasien, sehingga hal memunculnya disparitas informasi tersebut kalau tidak dikontrol dengan baik, akan melahirkan power pada dokter dan Rumah Sakit untuk berbuat apa saja berdasarkan delegation of decision-making authority yang sudah diberikan pasien tersebut, yaitu dengan dilakukannya pemandian jenazah oleh tenaga kesehatan laki-laki. yang mana hal ini bertentangan dengan penerapan protokol kesehatan yang telah dikeluarkan oleh kementerian kesehatan mengenai pemadian jenazah pasien terduga covid-19 sesuai fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 18 Tahun 2020 :
1. Jenazah dimandikan tanpa harus dibuka pakaiannya
2. Petugas wajib berjenis kelamin yang sama dengan jenazah yang dimandikan dan dikafani;
3. Jika petugas yang memandikan tidak ada yang berjenis kelamin sama, maka dimandikan oleh petugas yang ada, dengan syarat jenazah dimandikan tetap memakai pakaian.
Jika tidak, maka ditayamumkan
4. Petugas membersihkan najis (jika ada) sebelum memandikan;
5. Petugas memandikan jenazah dengan cara mengucurkan air secara merata ke seluruh tubuh;
6. Jika atas pertimbangan ahli yang terpercaya bahwa jenazah tidak mungkin dimandikan, maka dapat diganti dengan tayamum sesuai ketentuan syariah, yaitu dengan cara
dikuburkan menurut prokol kesehatan akan tetapi terjadi informasi asimetris dalam penyampaian informed consent. Informasi Asimetris merupakan sebuah istilah di bidang ekonomi yang digunakan pertamakali oleh Kenneth J. Arrow untuk menjelaskan suatu kondisi di bidang penanganan kesehatan, yaitu terjadinya ketidakseimbangan perolehan informasi, karena salah satu pihak dari suatu transaksi memiliki informasi lebih banyak atau lebih baik dibandingkan pihak lainnya, yang dalam hal ini adalah tenaga kesehatan yang memiliki informasi lebih banyak mengenai tindakan medis apa saja yang akan diberikan kepada pasien dan pasien atau keluarga yang kurang memahami mengenai tindakan medis yang akan diberikan kepada pasien, sehingga hal memunculnya disparitas informasi tersebut kalau tidak dikontrol dengan baik, akan melahirkan power pada dokter dan Rumah Sakit untuk berbuat apa saja berdasarkan delegation of decision-making authority yang sudah diberikan pasien tersebut, yaitu dengan dilakukannya pemandian jenazah oleh tenaga kesehatan laki-laki. yang mana hal ini bertentangan dengan penerapan protokol kesehatan yang telah dikeluarkan oleh kementerian kesehatan mengenai pemadian jenazah pasien terduga covid-19 sesuai fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 18 Tahun 2020 :
1. Jenazah dimandikan tanpa harus dibuka pakaiannya
2. Petugas wajib berjenis kelamin yang sama dengan jenazah yang dimandikan dan dikafani;
3. Jika petugas yang memandikan tidak ada yang berjenis kelamin sama, maka dimandikan oleh petugas yang ada, dengan syarat jenazah dimandikan tetap memakai pakaian.
Jika tidak, maka ditayamumkan
4. Petugas membersihkan najis (jika ada) sebelum memandikan;
5. Petugas memandikan jenazah dengan cara mengucurkan air secara merata ke seluruh tubuh;
6. Jika atas pertimbangan ahli yang terpercaya bahwa jenazah tidak mungkin dimandikan, maka dapat diganti dengan tayamum sesuai ketentuan syariah, yaitu dengan cara
-
Mengusap wajah dan kedua tangan jenazah (minimal sampai pergelangan) dengan debu.-
Untuk kepentingan perlindungan diri pada saat mengusap, petugas tetap menggunakan APD.7. Jika menurut pendapat ahli yang terpercaya bahwa memandikan atau menayamumkan tidak mungkin dilakukan karena membahayakan petugas, maka berdasarkan ketentuan dlarurat syar’iyyah, jenazah tidak dimandikan atau ditayamumkan
Kemudian berdasarkan Ketentuan Fatwa MUI Nomor 14 Tahun 2020 angka 7 yang menetapkan: Pengurusan jenazah (tajhiz al- jana’iz) yang terpapar Covid-19, terutama dalam memandikan dan mengafani harus dilakukan sesuai protokol medis dan dilakukan oleh pihak yang berwenang, dengan tetap memperhatikan ketentuan syariat. Sedangkan untuk menshalatkan dan menguburkannya dilakukan sebagaimana biasa dengan tetap menjaga agar tidak terpapar Covid-19. Akan tetapi pada kasus ini suami pasien menyaksikan pasien dimandikan oleh tenaga kesehatan dalam keadaan tidak berbusana sehingga hal dapatlah dinyatakan melanggar ketetuan yang diatur dalam fatwa MUI.
Dalam proses penegakan hukumnya kedua kasus tersebut tidak sampai pada ranah penuntutan di pengadilan, yang disebabkan beberapa alasan, salah satunya kasus tersebut tidak cukup bukti dan jaksa penuntut umum salah menafsirkan arti pasal. sehingga proses hukum tidak dapat berjalan lagi. Penyelesaian hukum yang demikian sangat merugikan bagi pihak pasien karena tidak terciptanya keadilan bagi pasien dan keluarganya.
Pada keadaan seperti apabila melihat dalam perspektif hukum progresif yang memiliki filosofi yaitu suatu institusi yang bertujuan mengantarkan manusia kepada kehidupan yang adil, sejahtera dan membuat manusia bahagia89, oleh karena itu pelaksanaan informed cosent pada masa pandemi apabila dipandang dari keadilan dan kemanfataanya bagi masyarakat khususnya bagi dokter dan pasien
89 Mukhidin, “Hukum Progresif Sebagai Solusi Hukum Yang Mensejahterakan Rakyat”, Jurnal Pembaharuan Hukum, Vol.1 No.3 (2014):267-286, 278. Doi : Http://Jurnal.Unissula.Ac.Id/Index.Php/Ph/Article/View/1488
adalah wajib di laksanakan karena berdasarkan Pasal 7c kode etik kedokteran sesuai keputusan Menkes RI No 434/Menkes?SK?X 1983 yang menyatakan seorang dokter harus menghormati hak-hak pasien, hak-hak sejawatnya, dan hak tenaga kesehatan lainnya, dan harus menjaga kepercayaan pasien. seluruh informasi yang terdapat dalam informed consent merupak sesuatu hak yang harus di hormati oleh tenaga kesehatan, kemudian apabila dilihat berdasarkan pada prinsip "the right of self determination" atau hak menentukan nasibnya sendiri merupakan landasan filosofi dari informed consent, sehingga pada prinsip tersebut pasien ataupun keluarga pasien terduga covid yang meninggal tetap memiliki hak untuk dilaksanakannya informed consent, untuk menghindari pelanggaran hak, Sementara jika ditinjau dari Prinsip-prinsip etika (moral principles) bertujuan agar dokter selalu memperhatikan 4 point berikut, yaitu90 :
a. Beneficence (to do good).
b. Non malfeasance (to do no harm).
c. Justice (as afairness and as distributive justice).
d. Autonomy (menghormati hak pasien untuk membuat keputusan).
Dengan demikian tidak dilakukan informed consent dokter telah melanggar prisip etika moral yaitu Autonomy dan Jenis informasi yang dibuka dalam rangka otonomi pasien meliputi informasi tentang prosedur perawatan medis yang akan dilakukan kepada pasien tersebut, informasi tentang outcome atau perkiraan hasil diakibatkan, informasi perihal risiko yang timbul dari pelaksanaan prosedur perawatan medis dan informasi perihal alternatif pengobatan lainnya. Oleh karena itu pada dasarnya informed consent wajib diberikan kepada kelurga pasien terduga covid-19 ataupun pemaparan informed consent harus di paparkan dengan baik kepada pasien.
Selain itu pemberian informed consent juga dapat memberikan pemahaman dalam bentuk informasi kepada pasien dan keluarganya
90 Yustina, Endang Wahyati. "Problem Yuridis Pengecualian Informed Consent Dalam Tindakan Medik Untuk Melaksanakan Program Pemerintah." Kisi Hukum (Artikel Magister) 13, No. 1 (2010): 108-126, Hlm. 112 Doi Http://Journal.Unika.Ac.Id/Index.Php/Kh_Mag/Article/View/195
adalah wajib di laksanakan karena berdasarkan Pasal 7c kode etik kedokteran sesuai keputusan Menkes RI No 434/Menkes?SK?X 1983 yang menyatakan seorang dokter harus menghormati hak-hak pasien, hak-hak sejawatnya, dan hak tenaga kesehatan lainnya, dan harus menjaga kepercayaan pasien. seluruh informasi yang terdapat dalam informed consent merupak sesuatu hak yang harus di hormati oleh tenaga kesehatan, kemudian apabila dilihat berdasarkan pada prinsip "the right of self determination" atau hak menentukan nasibnya sendiri merupakan landasan filosofi dari informed consent, sehingga pada prinsip tersebut pasien ataupun keluarga pasien terduga covid yang meninggal tetap memiliki hak untuk dilaksanakannya informed consent, untuk menghindari pelanggaran hak, Sementara jika ditinjau dari Prinsip-prinsip etika (moral principles) bertujuan agar dokter selalu memperhatikan 4 point berikut, yaitu90 :
a. Beneficence (to do good).
b. Non malfeasance (to do no harm).
c. Justice (as afairness and as distributive justice).
d. Autonomy (menghormati hak pasien untuk membuat keputusan).
Dengan demikian tidak dilakukan informed consent dokter telah melanggar prisip etika moral yaitu Autonomy dan Jenis informasi yang dibuka dalam rangka otonomi pasien meliputi informasi tentang prosedur perawatan medis yang akan dilakukan kepada pasien tersebut, informasi tentang outcome atau perkiraan hasil diakibatkan, informasi perihal risiko yang timbul dari pelaksanaan prosedur perawatan medis dan informasi perihal alternatif pengobatan lainnya. Oleh karena itu pada dasarnya informed consent wajib diberikan kepada kelurga pasien terduga covid-19 ataupun pemaparan informed consent harus di paparkan dengan baik kepada pasien.
Selain itu pemberian informed consent juga dapat memberikan pemahaman dalam bentuk informasi kepada pasien dan keluarganya
90 Yustina, Endang Wahyati. "Problem Yuridis Pengecualian Informed Consent Dalam Tindakan Medik Untuk Melaksanakan Program Pemerintah." Kisi Hukum (Artikel Magister) 13, No. 1 (2010): 108-126, Hlm. 112 Doi Http://Journal.Unika.Ac.Id/Index.Php/Kh_Mag/Article/View/195
terkait dengan segala pelayanan kesehatan rencanannya akan dilakukan, guna menghindari kesalahpahaman antara dokter dan pasien yang berujung pada akibat hukum, sebab berdasarkan pasar 17 Permenkes yang menyatakan sarana pelayanan kesehatan yaitu tempat tenaga medis bekerja seperti rumah sakit memiliki tanggungjawab atas persetujuan pada tindakan kedokteran yang terjadi pada pasien, dengan demikian apabila dalam praktek terjadi protes dari masyarakat dengan tidak dilaksanakan persetujuan tindakan kedokteran atau informed consent akan menimbulkan kerugian bagi rumah sakit dan dokter. Dengan demikian apabila kita melihat aspek kemanfaatan ini, pelaksanakan informed consent harus tetap dilakukan guna menghindari kerugian bagi masyarakat khususnya dokter dan pasien.
Oleh karena itu hukum progresif dalam informed consent merupakan suatu rule breaking atau terobosan hukum yaitu menegakan hukum terhadap segala bentuk tindakan pelanggaran medis yang dilakukan oleh tenaga kesehatan apabila bertentangan dengan hak asasi pasien dan kode etik kedokteran, meski pun dalam peraturan perundang-undangan pemberian informed consent selama pandemic bukan merupakan kewajiban tetapi hukum yang merupakan upaya untuk memberikan kesejahteran manusia, harus memberikan keadilan, sebagaimana dianut dalam teori hukum progreaif.
Dengan demikian berdasarkan perspektif terori hukum progresif informed consent pelaksanaan protokol kesehatan terhadap penanganan pada pasien terduga covid-19 harus tetap dilaksanakan yang tidak hanya berdasarkan pada kepastian hukum semata tetapi juga dari aspek keadilan dan kemanfaatan sebagai upaya untuk menghindari kerugian yang akan dialami oleh dokter akibat penuntutan oleh kelurga pasien dan agar tidak menyebabkan kesalahpahaman masyarakat, khusus keluarga pada tenaga kesehatan. Sehingga dapat mengembalikan rasa kepercayaan masyarakat terhadap tenaga kesehatan yang bertugas selama ini.
C. Kesimpulan
Berdasarkan uraian permasalahan mengenai Informed Consent pelaksanaan Protokol kesehatan covid-19 terhadap pasien yang meninggal terduga covid-19 dalam persepektif teori hokum progresif, dapat ditarik kesimpulan yaitu:
Informed Consent Protokol kesehatan covid-19 terhadap pasien yang meninggal terduga covid-19 harus tetap dilaksananakan dengan baik, sebab meskipun secara hukum tidak diberikanya informed consent kepada pihak keluarga pasien, tidak melanggar hukum dikarena covid-19 merupaka penyakit yang proses penularannya cepat tetapi apabila dilihat teori hokum progresif yang dilihat dari aspek kemanfaatan yang mana dari sudut pandang dokter dan pasien yang sama-sama dirugikan bila tidak dilakukan informed consent, dan aspek keadilan yang berdasarkan pada hak asasi dari pasien dan keluarganya pasien terduga covid-19 untuk mendapatkan informed consent, Dengan demikian sesuai dengan teori hokum progresif yang mana hokum adalah untuk manusia sehingga setiap perbuatan hokum tidak boleh menimbulkan kerugian bagi manusia demi terwujudnya kesejahteraan bagi manusia, sehingga setiap aspek dari tujuan hokum dapat terpenuhi dengan baik, meskipun dimasa pandemic covid-19, oleh karena itu teori hukum progresif yang bertujuan untuk mengembalikan rasa percaya masyarakat dan menghilangkan kesalahpaham kepada tenaga kesehatan, berdasarkan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat, atau dengan kata lain diterapkan teori hokum progresif dalam informed consent dapat mengatasi permasalahan yang tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan informed consent.
C. Kesimpulan
Berdasarkan uraian permasalahan mengenai Informed Consent pelaksanaan Protokol kesehatan covid-19 terhadap pasien yang meninggal terduga covid-19 dalam persepektif teori hokum progresif, dapat ditarik kesimpulan yaitu:
Informed Consent Protokol kesehatan covid-19 terhadap pasien yang meninggal terduga covid-19 harus tetap dilaksananakan dengan baik, sebab meskipun secara hukum tidak diberikanya informed consent kepada pihak keluarga pasien, tidak melanggar hukum dikarena covid-19 merupaka penyakit yang proses penularannya cepat tetapi apabila dilihat teori hokum progresif yang dilihat dari aspek kemanfaatan yang mana dari sudut pandang dokter dan pasien yang sama-sama dirugikan bila tidak dilakukan informed consent, dan aspek keadilan yang berdasarkan pada hak asasi dari pasien dan keluarganya pasien terduga covid-19 untuk mendapatkan informed consent, Dengan demikian sesuai dengan teori hokum progresif yang mana hokum adalah untuk manusia sehingga setiap perbuatan hokum tidak boleh menimbulkan kerugian bagi manusia demi terwujudnya kesejahteraan bagi manusia, sehingga setiap aspek dari tujuan hokum dapat terpenuhi dengan baik, meskipun dimasa pandemic covid-19, oleh karena itu teori hukum progresif yang bertujuan untuk mengembalikan rasa percaya masyarakat dan menghilangkan kesalahpaham kepada tenaga kesehatan, berdasarkan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat, atau dengan kata lain diterapkan teori hokum progresif dalam informed consent dapat mengatasi permasalahan yang tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan informed consent.
DAFTAR PUSTAKA Buku
Anny Isfandyarie, Tanggung Jawab Hukum Dan Sanksi Bagi Dokter, (Jakarta: Prestasi Pustaka, 2006)
Sajipto Raharjo, Membedah Hukum Progresif, (Jakarta: Pt Kompas, 2006)
Jurnal
Badriyah, Siti Malikhatun. "Pemuliaan (Breeding) Asas-Asas Hukum Perjanjian Dalam Perjanjian Leasing Di Indonesia." Yustisia Jurnal Hukum 1, No. 2 (2012), Hlm. 54 Doi: Https://Jurnal.
Uns.Ac.Id/Yustisia/Article/View/10624
Busro, Achmad. "Aspek Hukum Persetujuan Tindakan Medis (Inform Consent) Dalam Pelayanan Kesehatan." Law, Development &
Justice Review 1, No. 1 (2018): 1-18, Hlm 6 DOI:
https://ejournal2.undip.ac.id/index.php/lj/article/view/3570 Gani, Evy Savitri. "Tinjauan Yuridis Kedudukan Hukum Para Pihak
Dalam Perjanjian Terapeutik." Tahkim 14, No. 2 (2018): 157-174, Hlm 164 Doi: Https://Jurnal.Iainambon.Ac.Id/Index.Php /Thk/Article/View/617
Kinanti, Armanda Dian, Dika Arum Permatasari, And Dita Clara Shinta. "Urgensi Penerapan Mekanisme Informed Consent Untuk Mencegah Tuntutan Malpraktik Dalam Perjanjian Terapeutik." Privat Law 3, No. 2 (2015): 164465. Hlm. 111 Doi:
Https://Www.Neliti.Com/Publications/164465/Urgensi- Penerapan-Mekanisme-Informed-Consent-Untuk-
Mencegah-Tuntutan-Malpraktik
Marilang, Marilang. "Menimbang Paradigma Keadilan Hukum Progresif." Jurnal Konstitusi 14, no. 2 (2017): 315-331, hlm. 328 DOI : https://jurnalkonstitusi.mkri.id/index.php/jk/article /view/1424
Mukhidin, “Hukum Progresif Sebagai Solusi Hukum Yang Mensejahterakan Rakyat, Jurnal Pembaharuan Hukum, Vol.1 No.3 (2014):267-286, 278. Doi : Http://Jurnal.Unissula.Ac.Id/
Index.Php/Ph/Article/View/1488
Rosidi, Ahmad, And Edy Nurcahyo Rosidi. "Penerapan New Normal