PEMBUANGAN LIMBAH ILEGAL: KORELASI KEJAHATAN KORPORASI DENGAN PERUBAHAN
2. Pembuangan Limbah oleh Korporasi sebagai Kejahatan Ekonomi
Pemenuhan unsur-unsur kejahatan ekonomi yang sama dengan unsur tindak Pidana pada umumnya. Menurut Conklin, unsure-unsur sebuah kejahatan ekonomi adalah sebagai berikut:20
a Perbuatan tersebut melawan hukum dan diancam sanksi Pidana.
b Dilakukan seseorang atas nama korporasi yang secara bekerja dalam korporasi tersebut pada sector industry atau perdagangan.
c Bertujuan untuk mendapatkan uang, menghindari pengeluaran uang atau kerugian, dan memperoleh keuntungan.
Penelitian akan melihat pemenuhan unsur-unsur kejahatan ekonomi tersebut melalui kasus Putusan Pengadilan Negeri Purwakarta No. 113 Pid.B/LH/2016/PN.Pwk megenai pembuangan limbah Ash Fly/Bottom Fly oleh PT Indo Bharat Rayot melalui table sebagai berikut:
20 Mella Ismelina Farma Rahayu, “Kejahatan Ekonomi dalam Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun Serta Pengaruhnya terhadap Pelestarian Lingkungan Hidup”, Syiar Hukum Jurnal Ilmu Hukum 11, No. 2, (2009):118.
Tabel 2. Pemenuhan Unsur Kejahatan Ekonomi melalui Kasus Pembuangan Limbah oleh PT Indo Bharat Rayot
No. Unsur Kejahatan Ekonomi
Kasus PT Indo Bharat Rayon
1.
Perbuatan tersebut melawan hukum dan diancam sanksi Pidana
1. Pasal 64 KUHP
2. Pasal 104 dan Pasal 116-120 UUPPLH
2.
Dilakukan seseorang atas nama korporasi yang secara bekerja dalam korporasi tersebut pada sector industry atau perdagangan
Pelaku dibawah kepemimpinan Sibnath Agarwalla selaku Direktur Finance PT Indo Bharat Rayon.
Pelaku melakukan pembuangan saat bekerja di PT Indo Bharat Rayon, sesuai perintah Agarwalla selaku Direktur Finance PT Indo Bharat Rayon.
3.
Bertujuan untuk mendapatkan uang, menghindari pengeluaran uang atau kerugian, dan memperoleh keuntungan
1. PT Indo Bharat Rayot
menghindari kerugian dengan tidak melakukan pembuangan sesuai prosedur yang menyita waktu dan biaya lebih.
2. PT Indo Bharat Rayon mendapatkan keuntungan dengan menjadikan TPS sebagai penyimpanan Belerang.
Sumber: Penelitian dan Pengolahan Data Pribadi
Berdasarkan Tabel 2 megenai pemenuhan unsure kejahatan ekonomi melalui kasus pembuangan limbah oleh PT Indo Bharat Rayon, maka terdapat 3 (tiga) hal yang perlu diperhatikan yaitu (1) pembuangan limbah yang dilakukan oleh PT Indo Bharat Rayon terbukti tidak melaksanakan prosedur pembuangan limbah yang diatur dalam ketentuan perizinan, (2) PT Indo Bharat Rayon telah melakukan kejahatan korporasi (3) kejahatan PT Indo Bharat Rayon
Tabel 2. Pemenuhan Unsur Kejahatan Ekonomi melalui Kasus Pembuangan Limbah oleh PT Indo Bharat Rayot
No. Unsur Kejahatan Ekonomi
Kasus PT Indo Bharat Rayon
1.
Perbuatan tersebut melawan hukum dan diancam sanksi Pidana
1. Pasal 64 KUHP
2. Pasal 104 dan Pasal 116-120 UUPPLH
2.
Dilakukan seseorang atas nama korporasi yang secara bekerja dalam korporasi tersebut pada sector industry atau perdagangan
Pelaku dibawah kepemimpinan Sibnath Agarwalla selaku Direktur Finance PT Indo Bharat Rayon.
Pelaku melakukan pembuangan saat bekerja di PT Indo Bharat Rayon, sesuai perintah Agarwalla selaku Direktur Finance PT Indo Bharat Rayon.
3.
Bertujuan untuk mendapatkan uang, menghindari pengeluaran uang atau kerugian, dan memperoleh keuntungan
1. PT Indo Bharat Rayot
menghindari kerugian dengan tidak melakukan pembuangan sesuai prosedur yang menyita waktu dan biaya lebih.
2. PT Indo Bharat Rayon mendapatkan keuntungan dengan menjadikan TPS sebagai penyimpanan Belerang.
Sumber: Penelitian dan Pengolahan Data Pribadi
Berdasarkan Tabel 2 megenai pemenuhan unsure kejahatan ekonomi melalui kasus pembuangan limbah oleh PT Indo Bharat Rayon, maka terdapat 3 (tiga) hal yang perlu diperhatikan yaitu (1) pembuangan limbah yang dilakukan oleh PT Indo Bharat Rayon terbukti tidak melaksanakan prosedur pembuangan limbah yang diatur dalam ketentuan perizinan, (2) PT Indo Bharat Rayon telah melakukan kejahatan korporasi (3) kejahatan PT Indo Bharat Rayon
(korporasi) yang merupakan pembuangan limbah secara illegal tersebut memenuhi unsur-unsur kejahatan ekonomi.
3. Dampak Perubahan Iklim akibat Pembuangan Limbah oleh Korporasi terhadap Perekonomian Indonesia pada Pandemi COVID-19
The United Nations Framework Convention on Climate Change mengartikan perubahan iklim sebagai sebuah perubahan yang secara sengaja ataupun tidak sengaja mempengaruhi aktivitas manusia melalui perubahan atmosfir bumi. Perubahan iklim selalu menjadi perdebatan mengenai keberadaannya. Kenyataannya, dampak dari perubahan iklim sangat serius dan memiliki potensi merusak yang tidak dapat diperbaiki kembali (irreversible). Sesuai uraian dalam pendahuluan, perubahan iklim meliputi meningkatnya permukaan air laut, gunung es mencair, suhu bumi memanas, dan bencana alam. Salah satu contoh bencana alam tersebut adalah kebakaran hutan di Australia pada awal 2020 yang menghanguskan 12.6 juta hektare dan menyebabkan 33 orang meninggal dunia, dan lebih dari 1 milyar satwa tewas, dimana sebagian spesies dan ekosistem tersebut tidak dapat dipulihkan.21Berdasarkan kasus tersebut, perubahan iklim dapat menyebabkan kerugian yang sangat luas pada sebuah negara, khususnya negara berkembang. Negara berkembang memiliki keterbatasan yang lebih tinggi dalam memenuhi kebutuhannya untuk menghadapi perubahan iklim.22 berkaitan dengan dampak perubahan iklim akibat pembuangan limbah oleh korporasi terhadap perekonomian Indonesia adalah sebagai berikut.
Sesuai dengan penjelasan pada latar belakang penelitian, Indonesia adalah Negara berkembang yang sangat terdampak oleh perubahan iklim. Berdasarkan kajian yang dilakukan oleh Syahbuddin, perubahan iklim di Indonesia telah terdeteksi pada 13 stasiun klimatologi di Indonesia. Dampak perubahan iklim tersebut terlihat
21 Bin Jalaludin, “Reflection on the Catastrophic 2019-2020 Australian Bushfires”, The Innovation, vol.
1, no. 1, 2020, hlm. 1.
22 Olufemi Adedeji, “Global Climate Change”, Journal of Geoscience and Environment Protection, vol.
2, 2014, hlm. 115.
pada peningkatan jumlah curah hujan di Sulawesi Utara dan Jawa Timur, sedangkan di Bagian barat Indonesia mengalam penurunan curah hujan. Selain curah hujan, suhu mengalami peningkatan yaitu dari 0.5oC menjadi 1.1oC.23 Berdasarkan dampak dari perubahan iklim tersebut akan menyebabkan penurunan ketersediaan air, banjir, kekeringan, penyebaran malaria, penurunan produksi padi, penurunan kualitas ikan, kebakaran hutan yang meninggi, penyebaran diare. Melalui akibat tersebut, kerugian ekonomi akan meningkat dalam segi profesi, kualitas kehidupan, profesi, Kesehatan, dan pembangunan Negara.
a. Pembuangan Limbah Korporasi Ilegal dan Perubahan Iklim Sejauh penelitian membahas diskusi, pertanyaan yang muncul adalah, “apakah benar pembuangan limbah (korporasi) berdampak pada perubahan iklim?”. Untuk mengkaji hal tersebut, perlu diperhatikan bahwa kaitan pembuangan limbah terhadap perubahan iklim dapat dilihat secara dua perspektif, yaitu sebagai aadaptasi terhadap perubahan iklim. Namun disisi lain, dapat menjadi penyebab perubahan iklim. Jika melihat dari perspektif adaptasi, limbah yang tidak dapat diolah (recycled) atau digunakan kembali (reused) harus dikuburkan pada area yang dapat bertahan menghadapi dampak-dampak perubahan ikli, seperi curah hujan yang tinggi, banjir, ataupun bencana alam yang menyertai perubahan iklim tersebut. Sedangkan perspektif limbah sebagai penyebab perubahan iklim dapat dilihar dari kegiatan “membakar sampah”. Membakar sampah telah terbukti menyebabkan produksi karbondioksida yang sangat merusak atmosfir permukaan bumi.
Sedangkan limbah pada area pembuangan terbuka mengandung tingkat metana yang tinggi.24 Setiap process pengolahan limbah akan menghasilkan gas karbon emisi, dimana dampak keseluruhan
23 Ruminta, Handoko, Tati Nurmala, “Indikasi Perubahan Iklim dan Dampaknya terhadap Produksi Padi di Indonesia”, Jurnal Agro 5, no. 1, (2018):50.
24Secretariat of the Pacific Regional Environment Programme, “Fact Sheet 3: Climate Change and
Waste”. Diakses
https://www.sprep.org/attachments/Publications/FactSheet/PMCCT/CC_and_waste_FS3.pdf.
pada peningkatan jumlah curah hujan di Sulawesi Utara dan Jawa Timur, sedangkan di Bagian barat Indonesia mengalam penurunan curah hujan. Selain curah hujan, suhu mengalami peningkatan yaitu dari 0.5oC menjadi 1.1oC.23 Berdasarkan dampak dari perubahan iklim tersebut akan menyebabkan penurunan ketersediaan air, banjir, kekeringan, penyebaran malaria, penurunan produksi padi, penurunan kualitas ikan, kebakaran hutan yang meninggi, penyebaran diare. Melalui akibat tersebut, kerugian ekonomi akan meningkat dalam segi profesi, kualitas kehidupan, profesi, Kesehatan, dan pembangunan Negara.
a. Pembuangan Limbah Korporasi Ilegal dan Perubahan Iklim Sejauh penelitian membahas diskusi, pertanyaan yang muncul adalah, “apakah benar pembuangan limbah (korporasi) berdampak pada perubahan iklim?”. Untuk mengkaji hal tersebut, perlu diperhatikan bahwa kaitan pembuangan limbah terhadap perubahan iklim dapat dilihat secara dua perspektif, yaitu sebagai aadaptasi terhadap perubahan iklim. Namun disisi lain, dapat menjadi penyebab perubahan iklim. Jika melihat dari perspektif adaptasi, limbah yang tidak dapat diolah (recycled) atau digunakan kembali (reused) harus dikuburkan pada area yang dapat bertahan menghadapi dampak-dampak perubahan ikli, seperi curah hujan yang tinggi, banjir, ataupun bencana alam yang menyertai perubahan iklim tersebut. Sedangkan perspektif limbah sebagai penyebab perubahan iklim dapat dilihar dari kegiatan “membakar sampah”. Membakar sampah telah terbukti menyebabkan produksi karbondioksida yang sangat merusak atmosfir permukaan bumi.
Sedangkan limbah pada area pembuangan terbuka mengandung tingkat metana yang tinggi.24 Setiap process pengolahan limbah akan menghasilkan gas karbon emisi, dimana dampak keseluruhan
23 Ruminta, Handoko, Tati Nurmala, “Indikasi Perubahan Iklim dan Dampaknya terhadap Produksi Padi di Indonesia”, Jurnal Agro 5, no. 1, (2018):50.
24Secretariat of the Pacific Regional Environment Programme, “Fact Sheet 3: Climate Change and
Waste”. Diakses
https://www.sprep.org/attachments/Publications/FactSheet/PMCCT/CC_and_waste_FS3.pdf.
perubahan iklim akan disesuaikan dari tingkatan karbon emisi tersebut. 25
Untuk melihat senyawa yang dihasilkan oleh sebuah produksi korporasi, maka penelitian akan menguraikannya dengan contoh produksi limbah Bahan Berbaya dan Beracun (B3) yang dilakukan oleh industry galangan kapal. Pada industry galangan kapal, terdapat 5 (lima) tahapan yang dilalui yaitu pengelolaan materi, pengerjaan logam, kebisingan, tingkat teknologi, dan daur ulang kapal. Dari proses tahapan tersebut, sampah fisik yang dihasilkan diantaranya adalah oli, gemuk, metal, logam berat, dan electric fortlit. Sedangkan senyawa yang dihasilkan sebagian terdiri dari asap oksida logam, emisi mangan, kobalt, nikel, timah, kromium, aluminium ocide, zirconium oxide, dan silicon carbide.26 Berdasarkan contoh produksi industrial tersebut, kontribusi korporasi terhadap perubahan iklim sangat signifikan. Apabila sebuah korporasi membuang limbah secara illegal, tanpa memperhatikan apakah area tersebut akan tercemar, maka korporasi tersebut akan mengurangi tingkat adaptasi lingkungan tersebut dari dampak perubahan iklim.
Kemudian, apabila limbah tersebut dibakar oleh Masyarakat sekitar sesuai dengan kebiasaan yang dilakukan di Indonesia pada khususnya, maka limbah bahan berbahaya dan beracun tersebut akan menghasilkan gas-gas emisi karbon yang merusak atmosfir bumi sehingga menyebabkan perubahan iklim. Selain itu, Masyarakat yang membakar limbah B3 tersebut akan keracunan karena menghirup senyawa berbahaya tersebut. Dalam scenario terburuk, membakar sampah dekat area pembuangan limbah B3 akan menyebabkan reaksi kimia yang bias menyebabkan kebakaran atau ledakan berbahaya.
25 UNEP, Waste and Climate Change: Global Trends and Strategy Framework”, Osaka: UNEP, 2010, hlm. 18.
26 Taufik Hidayat, “Faktor-Faktor di Industri Galangan Kapal yang dapat Berkontribusi pada Isu Perubahan Iklim”, SPECTA Journal of Technology 1, no. 2, (2017): 33-35.
b. COVID-19: Dilema Pengelolaan Sampah
The coronavirus disease telah menyebabkan seluruh aktivitas di dunia berhenti dalam masa karantina massal. Akibatnya, terdapat beberapa kebiasaan manusia yang berubah, salah satunya melalui pengelolaan sampah. Adapun kotak dialog pengelolaan sampah selama pandemic COVID-19 yaitu sebagai berikut:
Gambar 1. Kotak Dialog Pengelolaan Sampah Selama Pandemic COVID-19
Sumber: Modifikasi dari jurnal Samuel Asumadu Sarkodie dan Phebe Asantewaa Owusu, “Impact of COVID-19 on Waste Managemen”, Environment, Development, and Sustainability, 2020, hlm. 4.
Berdasarkan gambar di atas dapat dilihat bahwa pandemic COVID- 19 menciptakan sebuah dinamika yang baru mengenai permasalahan sampah. Dinamika tersebut secara dominan dipengaruhi oleh sampah medis sekali pakai dan pengelolaan limbah secara massal.
Apabila salah satu dari elemen tersebut tidak dipantau dengan baik, maka akan menciptakan ketidakseimbangan bagi alam dan ekosistem. Hal tersebut yang menjadikan pembuangan limbah illegal oleh korporasi sangat berbahaya.
Coronavirus Disease Recycling
plant
Gloves and
Face Mask Garbage
Waste
Lockdown Stay Home
Waste management
Infestation Rat
b. COVID-19: Dilema Pengelolaan Sampah
The coronavirus disease telah menyebabkan seluruh aktivitas di dunia berhenti dalam masa karantina massal. Akibatnya, terdapat beberapa kebiasaan manusia yang berubah, salah satunya melalui pengelolaan sampah. Adapun kotak dialog pengelolaan sampah selama pandemic COVID-19 yaitu sebagai berikut:
Gambar 1. Kotak Dialog Pengelolaan Sampah Selama Pandemic COVID-19
Sumber: Modifikasi dari jurnal Samuel Asumadu Sarkodie dan Phebe Asantewaa Owusu, “Impact of COVID-19 on Waste Managemen”, Environment, Development, and Sustainability, 2020, hlm. 4.
Berdasarkan gambar di atas dapat dilihat bahwa pandemic COVID- 19 menciptakan sebuah dinamika yang baru mengenai permasalahan sampah. Dinamika tersebut secara dominan dipengaruhi oleh sampah medis sekali pakai dan pengelolaan limbah secara massal.
Apabila salah satu dari elemen tersebut tidak dipantau dengan baik, maka akan menciptakan ketidakseimbangan bagi alam dan ekosistem. Hal tersebut yang menjadikan pembuangan limbah illegal oleh korporasi sangat berbahaya.
Coronavirus Disease Recycling
plant
Gloves and
Face Mask Garbage
Waste
Lockdown Stay Home
Waste management
Infestation Rat
c. Korelasi antara Pembuangan Limbah, Kejahatan Ekonomi, Perubahan Iklim
Penelitian mengenai, “Pembuangan Limbah Ilegal: Korelasi Kejahatan Korporasi dengan Perubahan Iklim di Indonesia pada Pandemi COVID-19” telah membahas mengenai hubungan antara pembuangan limbah, kejahatan ekonomi, dan perubahan iklim pada latar belakang yang tidak signifikan. Sebelum membahas korelasi tersebut, sebaiknya penelitian meninjau ulang pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya:
1) Penelitian telah menguraikan kejahatan korporasi sebagai kejahatan ekonomi.
2) Penelitian telah menguraikan pembuangan limbah sebagai kejahatan korporasi.
3) Penelitian telah menguraikan pembuangan limbah illegal oleh korporasi sebagai bagian dari kejahatan ekonomi.
4) Penelitian telah menguraikan korporasi sangat signifikan menciptakan ketidakseimbangan lingkungan dengan membuang limbah secara illegal pada masa pandemic.
5) Penelitian telah menguraikan pembuangan limbah illegal yang berpengaruh terhadap perubahan iklim
Berdasarkan 4 (empat) implikasi di atas, maka selanjutnya penelitian akan merumuskan korelasi antara pembuangan limbah, kejahatan ekonomi, dan perubahan iklim melalui Gambar 1.
Gambar 1. korelasi antara Pembuangan Limbah, Kejahatan Ekonomi, dan Perubahan Iklim
Sumber: Penelitian dan Pengolahan Pribadi
Berdasarkan Gambar 1, korelasi antara pembuangan limbah, kejahatan ekonomi, dan perubahan iklim adalah korelasi atau hubungan saling beririsan atau bersinggungan satu sama lain. (1) irisan kejahatan ekonomi dengan kejahatan korporasi adalah bidang lingkungan hidup, (2) irisan antara kejahatan korporasi dengan perubahan iklim adalah pembuangan limbah, dan (3) irisan antara kejahatan ekonomi dan perubahan iklim adalah pencemaran lingkungan hidup. Ke-3 irisan tersebut membentuk sebuah irisan utama yaitu “policy atau regulasi”. Irisan utama tersebut yang membuat dari korelasi ke-3 variable (pembuangan limbah, kejahatan ekonomi, dan perubahan iklim) utama tersebut tidak signifikan, karena tidak ada policy/kebijakan dan/atau regulasi yang menyeimbangkan ke-3 variable utama tersebut. Secara praktik, irisan-irisan tersebut terealisasi setiap hari dengan terjadi dengan begitu aktif.
Pembuangan Limbah
Perubahan Iklim Lingkungan
Kejahatan Korporasi
Kejahatan ekonomi
Policy/regulasi Pencemaran
COVID-19
Gambar 1. korelasi antara Pembuangan Limbah, Kejahatan Ekonomi, dan Perubahan Iklim
Sumber: Penelitian dan Pengolahan Pribadi
Berdasarkan Gambar 1, korelasi antara pembuangan limbah, kejahatan ekonomi, dan perubahan iklim adalah korelasi atau hubungan saling beririsan atau bersinggungan satu sama lain. (1) irisan kejahatan ekonomi dengan kejahatan korporasi adalah bidang lingkungan hidup, (2) irisan antara kejahatan korporasi dengan perubahan iklim adalah pembuangan limbah, dan (3) irisan antara kejahatan ekonomi dan perubahan iklim adalah pencemaran lingkungan hidup. Ke-3 irisan tersebut membentuk sebuah irisan utama yaitu “policy atau regulasi”. Irisan utama tersebut yang membuat dari korelasi ke-3 variable (pembuangan limbah, kejahatan ekonomi, dan perubahan iklim) utama tersebut tidak signifikan, karena tidak ada policy/kebijakan dan/atau regulasi yang menyeimbangkan ke-3 variable utama tersebut. Secara praktik, irisan-irisan tersebut terealisasi setiap hari dengan terjadi dengan begitu aktif.
Pembuangan Limbah
Perubahan Iklim Lingkungan
Kejahatan Korporasi
Kejahatan ekonomi
Policy/regulasi Pencemaran
COVID-19
C. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan penelitian, maka kesimpulan yang didapatkan adalah:
1. Kepentingan ekonomi sebuah korporasi dalam melakukan kejahatan pembuangan limbah adalah sebuah kegiatan menghindari kerugian dengan tidak melakukan pembuangan sesuai prosedur yang menyita waktu dan biaya lebih mendapatkan keuntungan. Dalam kaitannya dengan pembuangan limbah yang dilakukan oleh korporasi, maka korporasi tersebut menghindari kerugian ekonomi akibat melaksanakan prosedur pengelolaan pembuangan limbah, khususnya limbah Bahan Berbahayan dan Beracun.
2. Perubahan iklim di Indonesia telah terdeteksi pada 13 stasiun klimatologi di Indonesia. Dampak perubahan iklim tersebut terlihat pada peningkatan jumlah curah hujan di Sulawesi Utara dan Jawa Timur, sedangkan di Bagian barat Indonesia mengalami penurunan curah hujan. Selain curah hujan, suhu mengalami peningkatan yaitu dari 0.5oC menjadi 1.1oC. Oleh karena itu, profesi Masyarakat Indonesia sebagai nelayan dan petani terdampak akibat kualitas lingkungan yang tidak konsisten dan cenderung menurun.
3. Korelasi atau hubungan korelasi antara pembuangan limbah, kejahatan ekonomi, pandemi COVID-19, dan perubahan iklim saling beririsan atau bersinggungan satu sama lain. (1) irisan kejahatan ekonomi dengan kejahatan korporasi adalah bidang lingkungan hidup, (2) irisan antara kejahatan korporasi dengan perubahan iklim adalah pembuangan limbah, dan (3) irisan antara kejahatan ekonomi dan perubahan iklim adalah pencemaran lingkungan hidup, (4) jembatan antara irisan adalah pandemic COVID-19 yang menciptakan ketidakseimbangan lingkungan melalui perubahan dinamika pengelolaan sampah.
Ke-3 irisan tersebut membentuk sebuah irisan utama yaitu
“policy atau regulasi”.
DAFTAR PUSTAKA A. Jurnal
Adedeji, Olufemi Adedeji. 2014. “Global Climate Change”. Journal of Geoscience and Environment Protection 2.
Akrial, Zul dan Heni Susanti. 2017. Analisis Terhadap Korporasi sebagai Subyek Hukum di Dalam Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup”, UIR Law Review 1. No. 2.
Anjari, Warih. 2016. “Pertanggungjawaban Korporasi sebagai Pelaku Tindak Pidana”. Jurnal Ilmiah Widya Yustitia 1. No. 2.
Arfa, Nyimas. 2019. “Penegakan Hukum Pidana terhadap Pelaku Tindak Pidana Dumping Limbah ke Media Lingkungan Hidup Tanpa Izin di Wilayah Hukum Pengadilan Negeri Muara Bulian”. Jurnal Sosio Huaniora 3. no. 1.
Dayani, Rizka Junisa, Pujiyono, A.M. Endah Sri Astuti. 2007.
“Pertanggungjawaban Pidana Korporasi terhadap Pembuangan Limbah ke Media Lingkungan Hidup Tanpa Izin (Studi Kasus Putusan Pengadilan Negeri Ungaran No.
62/PID.SUS/2013/PN.UNG)”. Diponegoro Law Journal 6. No. 1.
Disemadi, Hari Sutra dan Nyoman Serikat Putra Jaya. 2019.
“Perkembangan Pengaturan Korporasi sebagai Hukum Pidana di Indonesia”. Jurnal Hukum Media Bhakti 3. No. 2. DOI:
https://doi.org/10.32501/jhmb.v3i2.80.
Handoko, Ruminta, Handoko. 2018. Tati Nurmala, “Indikasi Perubahan Iklim dan Dampaknya terhadap Produksi Padi di Indonesia”. Jurnal Agro 5. No. 1.
Hidayat, Taufik. 2017. “Faktor-Faktor di Industri Galangan Kapal yang dapat Berkontribusi pada Isu Perubahan Iklim”. SPECTA Journal of Technology 1. No. 2.
Jalaludin, Bin Jalaludin. 2020/ “Reflection on the Catastrophic 2019- 2020 Australian Bushfires”, The Innovation 1. No. 1.
Lomba-Fernandes, Cinta, Josune Hernantes, and Leire Labaka. 2019.
“Guide for Climate Change-Resilient Cities: An Urban Critical Infrastructure Approach”. Sustainability 11. No. 4727.
Pakpahan, Rudy Hendra dan Aras Firdaus. 2020.
“Pertanggungjawaban Pidana Korporasi Perkebunan Atas
DAFTAR PUSTAKA A. Jurnal
Adedeji, Olufemi Adedeji. 2014. “Global Climate Change”. Journal of Geoscience and Environment Protection 2.
Akrial, Zul dan Heni Susanti. 2017. Analisis Terhadap Korporasi sebagai Subyek Hukum di Dalam Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup”, UIR Law Review 1. No. 2.
Anjari, Warih. 2016. “Pertanggungjawaban Korporasi sebagai Pelaku Tindak Pidana”. Jurnal Ilmiah Widya Yustitia 1. No. 2.
Arfa, Nyimas. 2019. “Penegakan Hukum Pidana terhadap Pelaku Tindak Pidana Dumping Limbah ke Media Lingkungan Hidup Tanpa Izin di Wilayah Hukum Pengadilan Negeri Muara Bulian”. Jurnal Sosio Huaniora 3. no. 1.
Dayani, Rizka Junisa, Pujiyono, A.M. Endah Sri Astuti. 2007.
“Pertanggungjawaban Pidana Korporasi terhadap Pembuangan Limbah ke Media Lingkungan Hidup Tanpa Izin (Studi Kasus Putusan Pengadilan Negeri Ungaran No.
62/PID.SUS/2013/PN.UNG)”. Diponegoro Law Journal 6. No. 1.
Disemadi, Hari Sutra dan Nyoman Serikat Putra Jaya. 2019.
“Perkembangan Pengaturan Korporasi sebagai Hukum Pidana di Indonesia”. Jurnal Hukum Media Bhakti 3. No. 2. DOI:
https://doi.org/10.32501/jhmb.v3i2.80.
Handoko, Ruminta, Handoko. 2018. Tati Nurmala, “Indikasi Perubahan Iklim dan Dampaknya terhadap Produksi Padi di Indonesia”. Jurnal Agro 5. No. 1.
Hidayat, Taufik. 2017. “Faktor-Faktor di Industri Galangan Kapal yang dapat Berkontribusi pada Isu Perubahan Iklim”. SPECTA Journal of Technology 1. No. 2.
Jalaludin, Bin Jalaludin. 2020/ “Reflection on the Catastrophic 2019- 2020 Australian Bushfires”, The Innovation 1. No. 1.
Lomba-Fernandes, Cinta, Josune Hernantes, and Leire Labaka. 2019.
“Guide for Climate Change-Resilient Cities: An Urban Critical Infrastructure Approach”. Sustainability 11. No. 4727.
Pakpahan, Rudy Hendra dan Aras Firdaus. 2020.
“Pertanggungjawaban Pidana Korporasi Perkebunan Atas
Pencemaran Limbah Kelapa Sawit”. Jurnal Legislasi Indonesia 17. No. 2.
Puteri, Rizqi Purnama , Muhammad Junaidi, Zaenal Arifin. 2020.
“Reorientasi Sanksi Pidana dalam Pertanggungjawaban Korporasi di Indonesia”. Jurnal USM Law Review 3. no. 1.
Putri, Ni Kadek Eny Wulandari dan Kadek Agus Sudiarawan. 2020.
“Karakteristik Pertanggungjawaban Korporasi Pada Tindak Pidana Perusakan Lingkungan Hidup di Indonesia”. Jurnal
Kertha Semaya 8. No. 11, DOI:
https://doi.org/10.24843/KS.2020.v08i11.p05
Rahayu, Mella Ismelina Farma. 2009. “Kejahatan Ekonomi dalam Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun Serta Pengaruhnya terhadap Pelestarian Lingkungan Hidup”. Syiar Hukum Jurnal Ilmu Hukum 11. No. 2.
Ratomi, Achmad. 2018. “Korporasi sebagai Pelaku Tindak Pidana (Suatu Pembaharuan Hukum Pidana dalam Menghadapi Arus Globalisasi dan Industri”, Al’Adl 10, No. 1.
Sari, Ikka Puspita dan Erdiana Devintawati. 2018. “Urgensi Pengaturan Kejahatan Korporasi dalam Pertanggungjawaban Tindak Pidana Korporasi Menurut RKUHP”. Kanun Jurnal Ilmu Hukum 20. No. 20. http://doi.org/10/24815/kanunv20i.10661.
Utama, Andrew Shandy. 2018. “Pelaksanaan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perusahaan Berdasarkan Undang-Undang No.
40 Tahun 2007 untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Kecamatan Rumbai Pesisir Kota Pekanbaru”.
Jurnal Cendikia Hukum 4. No. 1.