• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kejahatan Perikanan Pada Masa Covid-19 Di Indonesia

Dalam dokumen DI MASA PANDEMI COVID-19 (Halaman 144-147)

DI INDONESIA

1. Kejahatan Perikanan Pada Masa Covid-19 Di Indonesia

Wilayah Indonesia memiliki lautan yang luas dan membentang dari Sabang sampai Merauke, dimana luas total perairan Indonesia lebih dari 5 juta kilometer persegi dari luas total wilayah Indonesia.179 Di dalamnya, terdapat berbagai natural resources yang bermanfaat untuk menunjang perekonomian Indonesia, termasuk sumber daya jenis perikanan. Proses penangkapan hasil laut berupa berbagai jenis ikan sebenarnya tidak hanya dapat diambil sebanyak mungkin ketika para nelayan berhasil menangkap ikan-ikan tersebut, namun juga dapat diperbaharui dengan melepaskan kembali dan kemudian melindungi ikan-ikan tersebut untuk dapat berkembang biak dan akan menguntungkan di masa depan. Oleh karena itu ikan-ikan tersebut wajib dilindungi, terutama dari penangkapan ikan ilegal yang kerap dihadapi di Indonesia.

Kasus kejahatan perikanan merupakan salah satu permasalahan pokok di Indonesia, yang mana juga dapat dianggap sebagai ancaman terbesar bagi bangsa Indonesia dalam masalah penjagaan wilayah perairannya.180 Kerugian yang diperoleh oleh Indonesia akibat adanya kegiatan kejahatan perikanan yang dicatat oleh ASEAN bahkan mencapai lebih dari 18 Miliar USD. Kegiatan kejahatan perikanan berupa penangkapan ikan secara ilegal ini tidak hanya menyebabkan eksploitasi penangkapan ikan yang berlebihan, namun juga berisiko menyebabkan kerusakan permanen pada ekosistem terumbu karang di tempat tinggal ikan-ikan tersebut.

Kenyataannya mayoritas masyarakat Indonesia sendiri belum

179 Veronica Arnila Wulandani, IUU Fishing Ancam Masa Depan Laut Indonesia diakses dari https://www.econusa.id/id/ecostory/illegal-fishing-putting-future-indonesian-sea-at-risk- pada 12 Februari 2021

180 M. Iqbal Baiquini, Ahsana Nadiyya, dan Heni Rosida, “Penegakan Hukum atas Praktik Illegal Fishing di Indonesia sebagai perlindungan wilayah perairan Indonesia”, Journal of Judicial Review 22, No.1, (2020): 89-97, 90, DOI: http://dx.doi.org/10.37253/jjr.v22i1.794

permasalahan yang ada. Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa bahan hukum primer yang terdapat pada KUHPidana dan undang-undang terkait kejahatan perikanan di Indonesia dan bahan hukum sekunder berupa buku, jurnal, makalah, dan artikel internet.

B. Pembahasan

1. Kejahatan Perikanan Pada Masa Covid-19 Di Indonesia

Wilayah Indonesia memiliki lautan yang luas dan membentang dari Sabang sampai Merauke, dimana luas total perairan Indonesia lebih dari 5 juta kilometer persegi dari luas total wilayah Indonesia.179 Di dalamnya, terdapat berbagai natural resources yang bermanfaat untuk menunjang perekonomian Indonesia, termasuk sumber daya jenis perikanan. Proses penangkapan hasil laut berupa berbagai jenis ikan sebenarnya tidak hanya dapat diambil sebanyak mungkin ketika para nelayan berhasil menangkap ikan-ikan tersebut, namun juga dapat diperbaharui dengan melepaskan kembali dan kemudian melindungi ikan-ikan tersebut untuk dapat berkembang biak dan akan menguntungkan di masa depan. Oleh karena itu ikan-ikan tersebut wajib dilindungi, terutama dari penangkapan ikan ilegal yang kerap dihadapi di Indonesia.

Kasus kejahatan perikanan merupakan salah satu permasalahan pokok di Indonesia, yang mana juga dapat dianggap sebagai ancaman terbesar bagi bangsa Indonesia dalam masalah penjagaan wilayah perairannya.180 Kerugian yang diperoleh oleh Indonesia akibat adanya kegiatan kejahatan perikanan yang dicatat oleh ASEAN bahkan mencapai lebih dari 18 Miliar USD. Kegiatan kejahatan perikanan berupa penangkapan ikan secara ilegal ini tidak hanya menyebabkan eksploitasi penangkapan ikan yang berlebihan, namun juga berisiko menyebabkan kerusakan permanen pada ekosistem terumbu karang di tempat tinggal ikan-ikan tersebut.

Kenyataannya mayoritas masyarakat Indonesia sendiri belum

179 Veronica Arnila Wulandani, IUU Fishing Ancam Masa Depan Laut Indonesia diakses dari https://www.econusa.id/id/ecostory/illegal-fishing-putting-future-indonesian-sea-at-risk- pada 12 Februari 2021

180 M. Iqbal Baiquini, Ahsana Nadiyya, dan Heni Rosida, “Penegakan Hukum atas Praktik Illegal Fishing di Indonesia sebagai perlindungan wilayah perairan Indonesia”, Journal of Judicial Review 22, No.1, (2020): 89-97, 90, DOI: http://dx.doi.org/10.37253/jjr.v22i1.794

memahami konsep dari kejahatan perikanan ini semeski kejahatan tersebut sangat merugikan masyarakat Indonesia. Maraknya kasus kejahatan perikanan terjadi di Indonesia karena rendahnya pengawasan di perairan Indonesia, padahal dengan maraknya kasus tersebut maka pembudidayaan ikan akan sulit untuk dilakukan, dan industri perikanan nasional juga akan ikut merugi.181 Para nelayan juga akan menjadi pihak paling utama yang merasakan dalam dari penangkapan ikan secara ilegal, dimana kasus-kasus ini akan mempengaruhi kegiatan jual-beli sehari-hari yang mereka lakukan.

Meski pemerintah sudah menerapkan berbagai usaha guna mengatasi kejahatan perikanan di Indonesia, pada kenyataannya kejahatan tersebut terus berkembang. Bahkan pada masa Covid-19 kegiatan kejahatan perikanan ini tetap berlangsung dan meningkat.

Kondisi Pandemi Covid-19 di Indonesia yang menyebabkan longgarnya pengawasan terhadap perairan Indonesia dimanfaatkan oleh para pelaku kejahatan perikanan, dan pada akhirnya, tingkat kejahatan perikanan menjadi meningkat di masa pandemi. Kasus kejahatan di perairan Indonesia yang meningkat tidak hanya terkait penangkapan ikan secara ilegal, namun juga perdagangan manusia.182 Sementara itu, pada kasus penangkapan ikan secara ilegal, ditemukan bahwa terdapat 37 kasus dan 44 kapal dengan bendera luar negeri yang ditangkap dalam masa pandemi di Indonesia pada masa Januari-April tahun 2020.183 Dikatakan bahwa kasus penangkapan ikan secara ilegal telah meningkat sebanyak 42.85% selama masa pandemi Covid-19 di Indonesia.184

Padahal tanpa adanya kasus kejahatan penangkapan ikan ilegal tersebut kegiatan pada sektor perikanan di Indonesia sendiri juga telah mengalami penurunan yang signifikan dan merugikan

181 Elvinda Rima Harliza dan Tomi Michael, “Penegakan Hukum Illegal Fishing”, Mimbar Keadilan 13, No.1, (2020): 120-130, 121, DOI: https://doi.org/10.30996/mk.v13i1.3054

182 Mashud Toarik, Pandemi Covid-19 Picu Peningkatan Tindak Kejahatan di Laut diakses dari https://investor.id/national/pandemi-covid19-picu-peningkatan-tindak-kejahatan-di-laut pada 12 Februari 2021

183 Maronie, Sherief and Rangga Dwi Wahyuputra, Penanganan Tindak Pidana Perikanan Oleh PPNS Perikanan Di Masa Pandemi Covid-19 diakses dari https://kkp.go.id/djpsdkp/artikel/19429- penanganan-tindak-pidana-perikanan-oleh-ppns perikanan-di-masa-pandemi-covid-19 pada 12 Februari 2021

184 Maya Shafira, Sunarto, dan Mashuril Anwar, “Developing Criminal Policy on Illegal Fishing Counter-measures Under the New Normal Order In Indonesia: A Non-Penal Perspective”, ICETLAWBE: EAI, (2020): 1-10, 2, DOI: http://dx.doi.org/10.4108/eai.26-9-2020.2302585

masyarakat, terutama para nelayan. Penurunan ini terjadi karena tidak seimbangnya jumlah pedagang ikan dengan jumlah ikan yang ditangkap oleh nelayan. Dikatakan bahwa terdapat enam penyebab turunnya sektor perikanan di Indonesia pada masa pandemi Covid- 19, yaitu:185

a. Instruksi pemerintah terkait kesehatan, yakni baik nelayan maupun pedagang ikan sama-sama mengikuti instruksi pemerintah untuk tetap dirumah sebagai bentuk self- distance bagi kepentingan dirinya sendiri dan orang lain.

b. Musim paceklik bagi para nelayan karena faktor biologi, lingkungan, dan iklim, yang akhirnya menyebabkan tidak terpenuhinya target ikan yang biasa dicapai.

c. Berkurangnya kegiatan memancing di laut, dimana nelayan mengurangi kegiatan memancing mereka karena situasi pandemi dan menyebakan pasokan ikan kepada para pedagang ikan juga berkurang dari masa sebelum pandemi.

d. Akses yang terbatas, yakni kelangkaan dan naiknya harga bahan bakar perahu di masa pandemi yang tidak hanya membatasi nelayan untuk melakukan kegiatan memancing seperti biasanya namun juga membuat pedagang ikan kesulitan untuk memperoleh pasokan ikan-ikannya karena terganggunya transportasi laut dan darat.

e. Turunnya harga ikan di pasaran, dimana penurunan harga ini tidak dapat menutupi biaya operasional para nelayan, sementara itu bagi para pedagang ikan, naiknya biaya transportasi dan terganggunya arus kas menyebabkan pedagang ikan di kota meminta harga ikan yang rendah kepada pedagang pertama dan pengolah lokal yang akan diberikan ke para nelayan. hal ini juga menyebabkan pedagang pertama tidak dapat memberikan pinjaman dan dukungan operasional lagi kepada nelayan untuk menangkap ikan.

185 Stuart J. Campbell, Raymond Jakub, Abel Valdivia, Haris Setiawan, Agus Setiawan, Courtney Cox, Askabul Kiyo, Darman, Lely Fajriah Djafar, Emilio de la Rosa, Wahid Suherfian, Ade Yuliani, Hari Kushardanto, Umi Muawanah, Arwandrija Rukma, Taufiq Alimi, Stephen Box, “Immediate impact of COVID-19 across tropical small-scale fishing communities”, Ocean & Coastal Management 200, No.105485, ISSN 0964-5691, (2021): 1-10, 7, DOI:https://doi.org/10.1016/j.ocecoaman.2020.105485.

masyarakat, terutama para nelayan. Penurunan ini terjadi karena tidak seimbangnya jumlah pedagang ikan dengan jumlah ikan yang ditangkap oleh nelayan. Dikatakan bahwa terdapat enam penyebab turunnya sektor perikanan di Indonesia pada masa pandemi Covid- 19, yaitu:185

a. Instruksi pemerintah terkait kesehatan, yakni baik nelayan maupun pedagang ikan sama-sama mengikuti instruksi pemerintah untuk tetap dirumah sebagai bentuk self- distance bagi kepentingan dirinya sendiri dan orang lain.

b. Musim paceklik bagi para nelayan karena faktor biologi, lingkungan, dan iklim, yang akhirnya menyebabkan tidak terpenuhinya target ikan yang biasa dicapai.

c. Berkurangnya kegiatan memancing di laut, dimana nelayan mengurangi kegiatan memancing mereka karena situasi pandemi dan menyebakan pasokan ikan kepada para pedagang ikan juga berkurang dari masa sebelum pandemi.

d. Akses yang terbatas, yakni kelangkaan dan naiknya harga bahan bakar perahu di masa pandemi yang tidak hanya membatasi nelayan untuk melakukan kegiatan memancing seperti biasanya namun juga membuat pedagang ikan kesulitan untuk memperoleh pasokan ikan-ikannya karena terganggunya transportasi laut dan darat.

e. Turunnya harga ikan di pasaran, dimana penurunan harga ini tidak dapat menutupi biaya operasional para nelayan, sementara itu bagi para pedagang ikan, naiknya biaya transportasi dan terganggunya arus kas menyebabkan pedagang ikan di kota meminta harga ikan yang rendah kepada pedagang pertama dan pengolah lokal yang akan diberikan ke para nelayan. hal ini juga menyebabkan pedagang pertama tidak dapat memberikan pinjaman dan dukungan operasional lagi kepada nelayan untuk menangkap ikan.

185 Stuart J. Campbell, Raymond Jakub, Abel Valdivia, Haris Setiawan, Agus Setiawan, Courtney Cox, Askabul Kiyo, Darman, Lely Fajriah Djafar, Emilio de la Rosa, Wahid Suherfian, Ade Yuliani, Hari Kushardanto, Umi Muawanah, Arwandrija Rukma, Taufiq Alimi, Stephen Box, “Immediate impact of COVID-19 across tropical small-scale fishing communities”, Ocean & Coastal Management 200, No.105485, ISSN 0964-5691, (2021): 1-10, 7, DOI:https://doi.org/10.1016/j.ocecoaman.2020.105485.

f. Tidak adanya traders ikan. pada sisi nelayan, kebanyakan traders ikan di tempat ikan-ikan hasil tangkapan biasa berlabuh dan traders ikan pada pasar lokal tidak lagi membeli ikan di nelayan sebanyak dulu atau bahkan berhenti melakukannya. Sementara itu kebanyakan pedagang ikan di kota juga berhenti membeli ikan dari pedagang pertama dan pengolah lokal, yang akhirnya merugikan berbagai pihak.

Sulitnya kegiatan perekonomian di bidang perikanan ini menunjukkan bahwa tanpa adanya kasus kejahatan perikanan sekalipun, kondisi pandemi Covid-19 di Indonesia telah banyak merugikan kegiatan yang biasa mereka lakukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari tersebut, bahkan merugikan konsumen karena menyebabkan kurangnya ketersediaan ikan pada beberapa daerah. Oleh karena itu, pemerintah berkomitmen untuk mengatasi permasalahan tersebut, tidak hanya pada masalah kegiatan perekonomian di sektor perikanan saja, namun juga pada penanganan tindak pidana perikanan di Indonesia agar dapat mengurangi berbagai kerugian.

2. Kebijakan Penanganan Tindak Pidana Perikanan Di Indonesia

Dalam dokumen DI MASA PANDEMI COVID-19 (Halaman 144-147)