DISEASE 2019 (COVID-19)
3. Konsep Pembatasan Dan Pengurangan Hak Asasi Manusia Meskipun hak asasi manusia adalah hak yang harus terus
tinggal pada masing- masing individu, dalam beberapa hal pelaksanaannya dapat dibatasi. Landasan rasional yang pertama adalah pelaksanaan hak asasi manusia juga perlu memperhatikan keseimbangan dengan hak publik. kedua, pembatasan hak diperlukan untuk mengatasi konflik antar hak. Sehingga, pembatasan pelaksanaan hak asasi manusia dilakukan semata-mata untuk melindungi hak dan kebebasan yang lain.55
Indonesia merupakan salah satu negara yang sudah melaksanakan ratifikasi atas International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR), mendapatkan keleluasaan, untuk melakukan pembatasan pelaksanaan hak asasi manusia jika berada pada situasi darurat. Hak-hak yang diperkenankan untuk dibatasi pelaksanaannya pada kondisi darurat yakni hak yang dikenal dengan derogable rights, yang dikategorikan kembali menjadi hak berbicara, hak berkumpul, hak bergerak, dan hak berpendapat. Namun, meskipun dapat membatasi derogable rights, terdapat hak yang tidak bisa dibatasi pada kondisi apapun, yang disebut sebagai non derogable rights. Hak-hak ini tidak bisa dibatasi meskipun negara tersebut dalam keadaan darurat. Yang termasuk non derogable rights antara lain hak hidup, kebebasakan berhati nurani dan beragama, kebebasan berpikir, kebebasan dar undang- undang berlaku surut, kebebasan dari tindakan yang merendahkan martabat dan tidak manusiawi, serta kebebasan dari perbudakan. Dalam Prinsip
55Dominic McGoldrick, “THE INTERFACE BETWEEN PUBLIC EMERGENCY POWERS AND INTERNATIONAL LAW”, International Journal of Constitutional Law, Volume 2 No. 2 April 2004, hlm. 383
Siracusa, salah satu alasan yang sah bagi negara melakukan pembatasan hak asasi manusia ialah alasan kesehatan masyarakat.
Hal ini dapat dilihat pada kebijakan PSBB yang membatasi kebebasan orang untuk bergerak demi mencegah meluasnya penyebaran Covid-19.
Selain tindakan membatasi, ICCPR juga mengenal adanya pengurangan (derogation) hak dasar manusia. Berdasarkan Pasal 4 ayat (1) ICCPR pada pokoknya derogation merupakan cara yang dapat diakomodir oleh sebuah negara untuk menindaklanjuti sesuatu yang dianggap mengurangi hak dasar manusia dalam kondisi darurat.56 Ada beberapa prinsip yang harus dipenuhi negara dalam tindakan derogation tersebut. Prinsip pertama, bahwa peristiwa pengurangan hak asasi manusia merupakan tindakan pencegahan terhadap situasi darurat dan menjamin keberlangsungan hak hidup. Kedua, tindakan pengurangan hak tidak menyinggung non derogable rights. Selanjutnya, tindakan derogation harus dilakukan secara proporsional, non dikriminasi dan dilaksanakan untuk waktu tertentu. Selain itu, negara harus mengumumkan kebijakan pengurangan hak dasar tersebut serta memberikan ruang bagi kekuasaan legislatif maupun yudikatif untuk melakukan pengawasan.57
Permasalahan berikutnya adalah apakah kewajiban vaksinasi merupakan pelanggaran terhadap hak dasar atas kesehatan? Pada prinsipnya, hak atas kesehatan memiliki dua unsur. Pertama, unsur kesehatan pribadi sebagai hak seseorang yang membebani pemerintah untuk menjaminnya sebagai bagian dari kewajiban pemerintah. Kedua, unsur kesehatan masyarakat. Hak dasar atas kesehatan sebagai hak seseorang belum memiliki pengakuan secara menyeluruh dan memiliki sifat “dapat dikurangi” (derogable)58. Oleh sebab itu, penerapan sanksi dalam rangka mewajibkan vaksinasi sebagaimana Pasal 13B Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2021
56 Natarudin, dkk, iPengembangan iPerspektif iHak Asasi iManusia Untuk iPendidikan dan iPelatihan iPolri, (Yogyakarta, Pusham UII, 2017) hlm. 37
57Galuhi Candrai iPurnamasari, “PROBLEMATIKAI PENERAPANI ATURANI PEMBATASANI HAK ASASI IMANUSIA IDALAM KONSTITUSI”, Jurnal Hukum Prioris, Vol. 6 No. 2 Tahun 2017, hlm. 189-191
58 Rif‟atul Hidayat, “HAK IATAS IDERAJAT IPELAYANAN IKESEHATAN IYANG IOPTIMAL”, Jurnal iHukum dan iPemikiran, Volume 16, Nomor 2, Desember 2016, hlm. 133
Siracusa, salah satu alasan yang sah bagi negara melakukan pembatasan hak asasi manusia ialah alasan kesehatan masyarakat.
Hal ini dapat dilihat pada kebijakan PSBB yang membatasi kebebasan orang untuk bergerak demi mencegah meluasnya penyebaran Covid-19.
Selain tindakan membatasi, ICCPR juga mengenal adanya pengurangan (derogation) hak dasar manusia. Berdasarkan Pasal 4 ayat (1) ICCPR pada pokoknya derogation merupakan cara yang dapat diakomodir oleh sebuah negara untuk menindaklanjuti sesuatu yang dianggap mengurangi hak dasar manusia dalam kondisi darurat.56 Ada beberapa prinsip yang harus dipenuhi negara dalam tindakan derogation tersebut. Prinsip pertama, bahwa peristiwa pengurangan hak asasi manusia merupakan tindakan pencegahan terhadap situasi darurat dan menjamin keberlangsungan hak hidup. Kedua, tindakan pengurangan hak tidak menyinggung non derogable rights. Selanjutnya, tindakan derogation harus dilakukan secara proporsional, non dikriminasi dan dilaksanakan untuk waktu tertentu. Selain itu, negara harus mengumumkan kebijakan pengurangan hak dasar tersebut serta memberikan ruang bagi kekuasaan legislatif maupun yudikatif untuk melakukan pengawasan.57
Permasalahan berikutnya adalah apakah kewajiban vaksinasi merupakan pelanggaran terhadap hak dasar atas kesehatan? Pada prinsipnya, hak atas kesehatan memiliki dua unsur. Pertama, unsur kesehatan pribadi sebagai hak seseorang yang membebani pemerintah untuk menjaminnya sebagai bagian dari kewajiban pemerintah. Kedua, unsur kesehatan masyarakat. Hak dasar atas kesehatan sebagai hak seseorang belum memiliki pengakuan secara menyeluruh dan memiliki sifat “dapat dikurangi” (derogable)58. Oleh sebab itu, penerapan sanksi dalam rangka mewajibkan vaksinasi sebagaimana Pasal 13B Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2021
56 Natarudin, dkk, iPengembangan iPerspektif iHak Asasi iManusia Untuk iPendidikan dan iPelatihan iPolri, (Yogyakarta, Pusham UII, 2017) hlm. 37
57 Galuhi Candrai iPurnamasari, “PROBLEMATIKAI PENERAPANI ATURANI PEMBATASANI HAK ASASI IMANUSIA IDALAM KONSTITUSI”, Jurnal Hukum Prioris, Vol. 6 No. 2 Tahun 2017, hlm. 189-191
58 Rif‟atul Hidayat, “HAK IATAS IDERAJAT IPELAYANAN IKESEHATAN IYANG IOPTIMAL”, Jurnal iHukum dan iPemikiran, Volume 16, Nomor 2, Desember 2016, hlm. 133
tidak bisa dipandang sebagai bentuk pelanggaran hak asasi manusia.
Penolakan atas vaksinasi sebagai bagian dari upaya preventif pemerintah dalam masa darurat melukai hak publik untuk memperoleh hak atas kesehatan, karena pencegahan penyebaran penyakit tidak berhasil dilakukan secara maksimal akibat keberadaan penolakan terhadap vaksinasi sehingga memiliki peluang untuk menyebabkan penularan lagi.
C. Kesimpulan
Sanksi sesuai yang terkandung dalam Pasal 13B Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2021 merupakan alat untuk mendukung hak publik atas kesehatan pada masa pandemik. Instrumen sanksi diperlukan sebagai upaya untuk mewajibkan vaksinasi demi mencegah perkembangan penularan Covid-19 di Indonesia. Oleh sebab itu, kewajiban vaksinasi serta sanksi bagi mereka yang tidak bersedia divaksinasi, meskipun telah ditetapkan sebagai sasaran penerima vaksin, merupakan tindakan pengurangan (derogation) terhadap hak kesehatan yang diperbolehkan berdasarkan Pasal 4 ayat (1) ICCPR. Namun, penekanan edukasi lebih diharapkan ketimbang sanksi. Dengan sosialisasi yang baik, masyarakat memiliki kesadaran yang tinggi terhadap manfaat vaksinasi.
DAFTAR PUSTAKA Buku
iMaddeppungeng, Martira. Buku Panduan Prosedur Vaksinasi.
iMakasar: iFakultas iKedokteran Universitas Hasanudin. 2018.
iMarzuki, Peter M.. Penelitian iHukum. Jakarta: iKencana iPrenada iMedia Group. 2015
Muladi. iHak iAsasi iManusia. Bandung: iRefika iAditama. 2005.
Natarudin, dkk. Pengembangani Perspektifi Hak Asasii Manusia Untuk iPendidikan dan Pelatihan Polri. iYogyakarta: Pusham UII. 2017
Soekanto, Soerjono dan Sri iMamudji. Penelitiani Hukum iNormatif.
Jakarta: iRaja iGrafindo Persada. 2004.
Jurnal
Afandi, Dedi. “HAK IKESEHATAN IDALAM IPERSPEKTIF IHAK IASASI IMANUSIA”, Jurnal Ilmu Kedokteran, Maret 2008. Jilid 2 Nomor 1.
iHidayat, Rif’atul. “HAK ATAS DERAJAT PELAYANAN KESEHATAN YANG OPTIMAL, JURNAL HUKUM DAN PEMIKIRAN”. Volume 16 Nomor 2 Desember 2016.
McGoldrick, Dominic. “THE IINTERFACE IBETWEEN IPUBLIC EMERGENCY POWERS AND INTERNATIONAL LAW.”
International Journal of Constitutional Law, Volume 2 No. 2 April 2004.
Mahalauw, Abdul Kadir dkk. “PENGARUH IPENGELUARAN IKESEHATAN DAN IPENDIDIKAN SERTA INFRASTRUKTUR ITERHADAP INDEKS IPEMBANGUNAN IMANUSIA DI PROVINSI IMALUKU”. Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol.14, No.02 Desember 2016.
iMatompo, Osgar S. “PEMBATASAN ITERHADAP HAK ASASI MANUSIA IDALAM PERSPEKTIF KEADAAN DARURAT”. Jurnal Media Hukum Vol. 21 No. 1 Juni 2014.
Nurhalimah, Siti. “COVID-19 DAN IHAK MASYARAKATI ATAS IKESEHATAN”. Jurnal iSosial idan iBudaya, Volume 7 Nomor 6 2020.
iPurnamasari, Galuhi Candrai. “PROBLEMATIKA IPENERAPAN IATURAN IPEMBATASAN HAK ASASI MANUSIA DALAM KONSTITUSI”. iJurnal Hukum Prioris, Vol. 6 No. 2 Tahun 2017.
iSusilo, Adityo dkk. “ICORONAVIRUS IDISEASE 2019: ITINJAUAN ILITERATUR ITERKINI”, Jurnal Penyakit Dalam Indonesia. Vol 7 No. 1 Maret 2020.
iSukohar, Asep dkk. “PERAN INSTITUSI DALAM UPAYA SOSIALISASI DAN PENANGGULANGAN PANDEMI COVID-19 DI PROVINSI LAMPUNG”, iJurnal iPengabdian iMasyarakat iRuwa iJurai, Volume 5 Nomor 1 Tahun 2020.
Syafruddini dan iGhansham iAnand, “URGENSI INFORMED CONSENT TERHADAP PERLINDUNGAN HAK-HAK PASIEN”.
iJurnal iHasanuddin iLaw iReview Volume 1 Issue 2 Agustus 2015.
Jurnal
Afandi, Dedi. “HAK IKESEHATAN IDALAM IPERSPEKTIF IHAK IASASI IMANUSIA”, Jurnal Ilmu Kedokteran, Maret 2008. Jilid 2 Nomor 1.
iHidayat, Rif’atul. “HAK ATAS DERAJAT PELAYANAN KESEHATAN YANG OPTIMAL, JURNAL HUKUM DAN PEMIKIRAN”. Volume 16 Nomor 2 Desember 2016.
McGoldrick, Dominic. “THE IINTERFACE IBETWEEN IPUBLIC EMERGENCY POWERS AND INTERNATIONAL LAW.”
International Journal of Constitutional Law, Volume 2 No. 2 April 2004.
Mahalauw, Abdul Kadir dkk. “PENGARUH IPENGELUARAN IKESEHATAN DAN IPENDIDIKAN SERTA INFRASTRUKTUR ITERHADAP INDEKS IPEMBANGUNAN IMANUSIA DI PROVINSI IMALUKU”. Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol.14, No.02 Desember 2016.
iMatompo, Osgar S. “PEMBATASAN ITERHADAP HAK ASASI MANUSIA IDALAM PERSPEKTIF KEADAAN DARURAT”. Jurnal Media Hukum Vol. 21 No. 1 Juni 2014.
Nurhalimah, Siti. “COVID-19 DAN IHAK MASYARAKATI ATAS IKESEHATAN”. Jurnal iSosial idan iBudaya, Volume 7 Nomor 6 2020.
iPurnamasari, Galuhi Candrai. “PROBLEMATIKA IPENERAPAN IATURAN IPEMBATASAN HAK ASASI MANUSIA DALAM KONSTITUSI”. iJurnal Hukum Prioris, Vol. 6 No. 2 Tahun 2017.
iSusilo, Adityo dkk. “ICORONAVIRUS IDISEASE 2019: ITINJAUAN ILITERATUR ITERKINI”, Jurnal Penyakit Dalam Indonesia. Vol 7 No. 1 Maret 2020.
iSukohar, Asep dkk. “PERAN INSTITUSI DALAM UPAYA SOSIALISASI DAN PENANGGULANGAN PANDEMI COVID-19 DI PROVINSI LAMPUNG”, iJurnal iPengabdian iMasyarakat iRuwa iJurai, Volume 5 Nomor 1 Tahun 2020.
Syafruddini dan iGhansham iAnand, “URGENSI INFORMED CONSENT TERHADAP PERLINDUNGAN HAK-HAK PASIEN”.
iJurnal iHasanuddin iLaw iReview Volume 1 Issue 2 Agustus 2015.
Peraturan Perundang-undangan
Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2021 tentang Perubahan Peraturan Presiden Nomor 99 Tahun 2020 tentang Pengadaan Vaksin Dan Pelaksanaan Vaksin Dalam Rangka Penanggulangan Pandemi Corona Virus Disease 2019
Internet
Centre for Strategic and International Studies. Laporan Hasil Survei Persepsi Efektifitas, dan Kepatuhan Masyarakat dalam Penerapan Protokol Kesehatan Covid-19, https://covid19.
csis.or.id/survei/ sebagaimana diakses pada 8 Maret 2021 Haryanti Puspa Sari, dkk. Bertambah 6.808, Kasus Covid-19 Indonesia
Mencapai 1.353.834,
https://nasional.kompas.com/read/2021/03/03/17104011/u pdate-bertambah-6808-kasus-covid-19-indonesia-mencapai- 1353834, diakses pada tanggal 4 Maret 2021
Mochammad Januar Rizki. Program Vaksinasi, Kewajiban atau Sukarela?
https://www.hukumonline.com/berita/baca/lt601dff8a9516 6/program-vaksinasi--kewajiban-atau-sukarela, 6 Februari 2021, sebagaimana diakses pada 8 Maret 2021
Pijar Anugerah. Covid-19: Dua survei menyebut banyak anak muda menolak vaksin, bagaimana meyakinkan mereka?, https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-56150289, sebagaimana diakses pada tanggal 8 Maret 2021
Raines Wadi. Keharusan Vaksin dan Hak atas Kesehatan. 14 Januari 2021, https://news.detik.com/kolom/d-5333213/keharusan- vaksin-dan-hak-atas-kesehatan, sebagaimana diakses pada tanggal 7 Maret 2021
World Health Organization. Archived: WHO Timeline - COVID-19. 27 April 2020 https://www.who.int/news/item/27-04-2020- who-timeline---covid-19, sebagaimana diakses pada tanggal 4 Maret 2021