• Tidak ada hasil yang ditemukan

Isu-Isu Budaya Organisasi

Dalam dokumen Buku Ajar Budaya Organisasi (Halaman 41-45)

3.1. Budaya dan Apa yang Dilakukan

Budaya merupakan suatu kata yang sering didengar ataupun digunakan dalam kosakata bahasa Indonesia. Hal tersebut tentunya tidak mungkin jika tanpa alasan. Kata budaya menjadi familiar bagi masyarakat Indonesia karena Indonesia sendiri erat kaitannya dengan kekayaan budayanya. Dengan demikian, budaya menjadi istilah yang sangat melekat dengan mulut dan telinga masyarakat Indonesia.

Kosakata atau istilah budaya diketahui memiliki asal kata “buddhayah”, yaitu sebagai wujud jamak dari akar “buddhi”, budaya lebih dimaknai sebagai suatu istilah yang berkaitan dengan budi dan akal. Sedangkan dalam Soekanto (2003), disebutkan bahwa Sir Edward Taylor menegaskan lebih lanjut makna kata budaya, yaitu sebagai suatu keseluruhan dari bentuk keyakinan, ilmu pengetahuan, seni, moral atau etika, hukum, serta adat istiadat yang mencakup seluruh kemempuan dan kebiasaan yang diperoleh dan/ dimiliki seseorang dalam peranannya sebagai anggota masyarakat.

Sebagaimana yang diketahui bahwa makna istilah budaya banyak sekali diungkapkan oleh para ahli. Salah satunya juga diungkapkan oleh Nata (2013) dalam bukunya, bahwa budaya merupakan suatu istilah dengan makna yang terkandung di dalamnya berarti segala bentuk daya, cipta, rasa, karsa, sebagai hasil perwujudan warna kehidupan manusia. Secara sederhana budaya organisasi sendiri dapat dipahami atau diartikan sebagai sebuah budaya yang ada di dalam sebuah organisasi. Sedangkan organisasi yang dimaksud adalah organisasi yang dapat diartikan atau dipahami dalam pengertian formal yang didalamnya terdapat komponen-komponen seperti visi dan misi, tujuan dan strategi, kebijakan dan program, struktur, deskripsi pekerjaan, dan anggaran yang berfokus pada upaya menghasilkan kinerja organisasi yang tinggi. Sedangkan menurut Poespowardojo (1993), budaya juga dapat dimaknai sebagai suatu bentuk upaya manusia dalam memenuhi kebutuhannya untuk kelangsungan hidupnya dan mempertahankan hidupnya dalam suatu lingkungan tempat tinggalnya.

Dengan demikian dapat diketahui bahwa budaya merupakan hasil dari jejak-jejak kehidupan manusia. Sehingga secara alami, dapatdiartikan bahwa seseorang berpotensi untuk membentuk sebuah budaya dikarenakan seseorang tersebut memiliki unsur untuk memenuhi dan membentuk potensi tersebut. Bentuk unsur tersebut antara lain seperti yang dijelaskan atau diunggapkan oleh Nata (2013) diatas di dalam bukunya yaitu bentuk daya, cipta (pikiran), perasaan, karsa, dan bentuk karya. Semua hal tersebtu kemudian saling berkaitan, berkembang, dan mementuk suatu kebudayaan. Dengan demikian, Suranto (2010), memaknai bahwa kebudayaan merupakan hasil dari kombinasi cipta, rasa, karsa, dan karya manusia selama masa hidupnya, serta dalam prosesnya menuju pengembangan kemanpuan untuk berpikir

39

dan menguasai ilmu pengetahuan yang berguna bagi perjalanan hidup manusia tersebut.

Kebudayaan pada dasarnya memiliki sifat yang abstrak. Hal tersebut dikarenakan budaya merupakan suatu karya manusia yang menyangkut pola pikir yang terbentuk di dalam pikiran seorang manusia.

Menurut suranto (2010) di dalam bukunya menyebutkan bahwa kebudayaan memiliki berbagai macam perwujudan diantaranya berupa sistem berpikir yang membentuk perilaku, tutur bahasa, alat penunjang kehidupan, organisasi sosial, agama atau religi, seni dan lain sebagainya yang digunakan sebagai alat bantu seorang manusia dalam rangka melangsungkan kehidupannya di kehidupan bermasyarakat. Budaya didefinisikan sebagai bentuk dari segala macam pengetahuan, sebuah kepercayaan, seni, hukum, adat istiadat dan semua bentuk keterampilan lain dan hal yang biasa dimiliki oleh seseorang sebagai bagian dari masyarakat. Budaya sendiri dapat dibagi menjadi objek berwujud dan tidak berwujud. Budaya sebagai objek berwujud memenifestasikan dirinya ke dalam perwujudan yang diciptakan dan digunakan oleh seorang manusia. Contohnya seperti perhiasan yang biasa orang umum gunakan, teknologi seperti handphone, peralat rumah tangga, fashion, desain bangunan seperti rumah dan lain sebagainya. Sedangkan kebalikannya budaya sebagai objek tak berwujud merupakan elemen norma, bahasa, nilai dan kepercayaan yang dimaksudkan secara konseptual.

Organisasi diartikan sebagai suatu sistem dan aktivitas seorang manusia dalam melakukan pekerjaan secaea bersama-sama. Dalam konteks ini, organisasi didefinisikan sebagai kegiatan banyak orang yang dilakukan secara koordinasi rasional yang memiliki tujuan untuk mencapai beberapa tujuan bersama melalui pembagian fungsi dan kerja melalui hierarki wewenang dan responsibility (Pratiwi, 2012).

Organisasi sebagai unit sosial sengaja untuk saling berkoordinasi secara sadar, dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasikan, bekerja secara terus menerus untuk mencapai tujuan organisasi yang telah dibangun bersama. Oleh karena itu, pemahaman organisasi secara implisit membentuk asumsi tentang perlunya menyesuaikan pola interaksi manusia di dalam organisasi, pola interaksi manusia, dan organisasi bertahan dan berkembang serta membentuk keharmonisan di dalam organisasi dengan membangun komunikasi yang dibentuk secara umum. Menurut Sulaksono (2015), organisasi diartikan sebagai suatu kesatuan dari susuan yang dibangun dari sekelompok orang dengan tujuan yang sama, serta dapat mencapai tujuan tersebut dengan cara yang lebih efektif dan efisien berdasarkan tindakan yang dilakukan bersama- sama dengan adanya pembagian tugas, wewenang, dan tanggungjawab bagi setiap individu yang bergabung ke dalam organisasi untuk mencapai tujuan organisasi tersebut.

Kemudian, dalam suatu organisasi akan terbentuk suatu kebiasaan berdasarkan hasil dari pola perilaku, cipta, rasa, dan karsa yang dibangun oleh para individu dalam suatu organisasi, sehingga akan terbentuk suatu budaya organisasi. Menurut Robbins (2006), budaya organisasi didefinisikan sebagai suatu sistem makna bersama yang dianut oleh anggota-karyawan yang membedakan organisasi itu dari organisasi-organisasi lain. Budaya organisasi memiliki fungsi penting dalam menentukan pertumbuhan organisasi (Riono et al., 2020). Instansi

40

dapat tumbuh serta berkembang. Salah satu karakteristik yang dimiliki oleh budaya organisasi adalah terdapatnya berbagai nilai serta keyakinan yang sama pada individu dalam organisasi, dan adanya keseragaman dalam suatu organisasi tersebut, sehinggs dapat dibedakan dari organisasi lainnya (Hadijaya, 2020). Kemudian, oleh Robbins (2006) juga dinyatakan beberapa karakteristik budaya organisasi, yaitu sebagai berikut:

1. Inovasi dan pengembalian resiko, yaitu dimaknai dengan sebrapa jauhnya seorang individu mampu untuk melakukan sesuatu yang baru yang belum pernah orang lain lakukan sebelumnya dan tidak takut dengan resiko yang mungkin akan dihadapinya nanti.

2. Memperhatikan setiap detail yang dapat dimaknai dengan sebarapa jauhnya seorang individu di dalam organisasi mampu untuk menunjukkan ketelitian, analisi, kecermatan, kekritisan dan perhatian terhadap setiap detail yang ada.

3. Orientasi ke hasil, maksudnya adalah sejauh mana kemampuan manajemen dalam memusatkan perhatian pada hasil bukan pada teknik dan proses yang digunakan untuk mencapai hasil yang diinginkan.

4. Sejauh mana keputusan menejemen dibuat dengan selalu mempertimbangkan orientasi seseorang. Hal tersebut dapat menunjukkan dampak hasil yang dicapai pada anggota organisasi.

5. Team Orientation, yaitu seberapa jauh aktivitas atau kegiatan organisasi dapat diatur berdasarkan tim daripada individu.

6. Agresifitas, yaitu sebarapa jauh tingkat keagresifan dan kompetitif seorang individu dibanding untuk bersantai.

7. Stabilitas, adalah seberapa jauh aktivitas yang berkaitan dengan kegiatan organisasi mampu untuk dipertahankan sebagaimana adanya dan bukan pertumbuhannya.

Budaya organisasi mewakili pemahaman umum dari dan untuk anggota organisasi. Dengan kata lain, budaya adalah sistem yang dimaknai secara bersama. Oleh karena itu, harapan yang akan dibangun adalah agar setiap individu di dalam organisasi dengan latar belakang atau level yag berbeda memahami budaya organisasi dalam pengertian yang sama.

Isu – Isu yang ada dalam Budaya Organisasi 1. Menciptakan Kebudayaan sikap yang Beretika

➢ Memberikan contoh yang jelas dan ringkas

Keteladanan seorang pemimpin sebagai anutan (role model), baik dalam ucapan maupun tindakan, amatlah penting dalam memimpin sebuah organisasi maupun kehidupan bermasyarakat. Pilar utama keteladanan adalah pada akhlak mulia (akhlakul karimah) yang harus dimiliki seorang pemimpin. Dalam Islam dan juga ajaran agama lainnya, akhlak ditempatkan dalam posisi penting yang harus dipegang teguh para pemeluknya.

Sebuah organisasi akan berjalan dengan lancar apabila memiliki kode etik dan budaya organisasi yang sebagai acuan dalam bertindak dalam kesehariannya. Budaya organisasi dan kode etik sangat diperlukan bagi sebuah perusahaan guna

41

menyamakan gerak dan langkah seluruh jajaran untuk dapat mencapai tujuan. Sebuah budaya organisasi dibuat berdasarkan kebiasaan sebuah perusahaan dan perkembangan yang berlaku (Resti, 2020). Dengan terciptanya budaya organisasi maka secara tidak langsung karyawan akan dipaksa untuk menjalankannya. Sebuah perusahaan apabila tidak memiliki budaya dan kode etik kemungkinan besar dalam aktivitasnya tidak terarah dan terkesan bebas tidak beraturan. Sehingga dalam pelaksanaan menuju tujuan menjadikan tidak terarah dan tidak terkontrol, hal ini menjadikan tujuan perusahaan akan lebih susah untuk dicapai.

Faktor yang mempengaruhi kedisiplinan kerja yakni persepsi budaya kerja beretika dalam Islam (Rizal, 2013).

Disiplin kerja sangat mempengaruhi keefektifan jalannya sebuah organisasi atau perusahaan. Kedisiplinan sangat berpengaruh terhadap proses terhadap tujuan perusahaan yang hendak dicapai. Tingkat kedisplinan pegawai dapat diukur dari etika pegawai dalam kesehariannya atau aktivitas yang dilakukan dalam bekerja. Semakin tinggi tinggi etika yang dijunjung seorang pegawai maka dapat dipastikan bahwa semakin tinggi pula tingkat kedisiplinan pegawai tersebut. Sehingga apabila tingkat kediplinan tinggi maka tingkat keberhasilan mencapai tujuan perusahaan akan terbuka lebar dan lebih mudah untuk digapai.

Sebuah keberhasilan dalam melaksanakan budaya kerja beretika tidak terlepas dari sebuah pengawasan dan ketegasan dari seorang pemimpin (Rizal, 2013). Seorang pemimpin harus bisa mengkondisikan bawahannya untuk dapat melaksanakan budaya kerja beretika sesuai dengan ketentuan yang berlaku, serta dapat memastikan bahwasannya aturan yang dibuat tidak dilanggar oleh bawahannya. Demikian pula dengan tingkah laku seorang pemimpin, harus dapat menjadi suri tauladan atau contoh bagi bawahannya dalam melaksanakan sebuah aturan.

Seorang pemimpin juga harus dapat bersikap kooperatif, apabila ada bawahan yang melanggar maka harus diberikan sebuah sanksi pembelajaran demi kebaikan bawahan itu sendiri maupun perusahaan.

➢ Membicarakan keinginan pemimpin tentang etika kerja secara jelas

Komunikasi berasal dari bahasa latin “communis” atau kata bahasa Inggris “common” yang artinya sama. Komunikasi berarti mengikuti akal sehat "komunitas". Dengan kata lain, kami ingin berbagi informasi, ide, atau pendapat kami dengan orang lain melalui komunikasi. Hambatan utama dalam komunikasi adalah bahwa kita sering memiliki persepsi yang berbeda tentang objek yang sama. Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial yang membutuhkan interaksi dalam kehidupan.

Dengan kata lain, pemimpin membutuhkan orang yang berbeda dan pemimpin membutuhkan kelompok atau komunitas untuk berinteraksi satu sama lain. Komunikasi merupakan elemen penting dalam sebuah organisasi. Karena tentu saja tidak baik

42

tanpa komunikasi. Kemungkinan ada "Komunikasi Arys"

dengan rekan kerja atau supervisor, yang akan berdampak signifikan pada individu atau organisasi. Komunikasi yang salah adalah kesalahpahaman di kedua belah pihak ketika suatu proses komunikasi dirangkum sehingga pesan yang dikirim dan pesan yang diterima memiliki arti dan interpretasi yang berbeda. Jika keadaan ini terus berlanjut, pasti berdampak sangat buruk bagi eksistensi organisasi. Konflik dalam suatu organisasi tidak dapat dikesampingkan sebagai akibat dari misrepresentasi.

➢ Adakan sesi – sesi pelatihan dan pembelajaran etika

Pelatihan kerja dalam bidang etika adalah sebuah proses yang sistematis untuk mengajarkan atau meningkatkan pengetahuan, keahlian dan sikap, dan perilaku spesifik yang berkaitan dengan pekerjaan sehingga karyawan semakin terampil, memiliki tanggung jawab yang lebih baik serta memiliki kinerja yang lebih baik.

➢ Berikan imbalan bagi tindakan yang etis serta hukuman bagi tindakan yang tidak etis secara kentara dan nyata.

Memberikan reward atau hadiah bagi tindakan yang etis dan hukuman untuk setiap tindakan yang tidak etis adalah sebuah reward (penghargaan) terhadap karyawan yang mempunyai sikap yang baik selama dalam naungan organisasi yang dia ikuti dan hukuman atas apa yang di perbuat bagi tindakan yang tidak etis karena dapat mempengaruhi perilaku karyawan yang lain dan merugikan organisasi yang menaunginya.

➢ Membuat sebuah mekanisme pengaduan perlindungan yang memungkinkan karyawan untuk dengan bebas mengungkapkan masalah etika mereka dan melaporkan pelanggaran etika tanpa rasa takut.

Dalam dokumen Buku Ajar Budaya Organisasi (Halaman 41-45)