Sosialisasi Budaya Organisasi Dan Kinerja
7.3. Performance driven organization
Kinerja diartikan sebagai hasil yang diperoleh individu ketika melakukan pekerjaan yang diamanahkan kepada mereka berdasarkan kemampuan, wawasan serta kecepatan waktu. Kinerja sendiri dibentuk oleh tiga aspek penting antara lain keterampilan dan kesukaan individu, keterampilan dan penerimaan atas pekerjaan yang diberikan serta seberapa besar motivasi seseorang tersebut. Masalah-masalah yang menyangkut keterampilan dan kekuatan pekerja menjadi masalah utama dalam organisasi yang dituntut untuk segera dicarikan jalan keluarnya.
Kinerja merupakan hasil kerja individu, seseorang ataupun pekerja yang dapat diukur secara kuantitas maupun kualitas dalam upayanya mengerjakan kewajibannya sesuai dengan amanah yang diberikan kepadanya. Kinerja biasanya dapat dilihat dari apa yang mereka atau pekerja tampilkan sesuai dengan divisi dimana individu tersebut ditempatkan. Untuk menuju tingkat kinerja yang tinggi, faktor yang paling utama merupakan kualitas sumber daya manusia. Sebuah perencanaan yang tepat dan matang tidak dapat terlaksana atau dijalankan dengan maksimal apabila Sumber Daya Manusia yang berkecimpung di dalamnya tidak memiliki kualitas yang baik juga.
Sumber Daya Manusia yang berkualitas dapat mendukung organisasi dalam mencapai keunggulan kompetitif dengan didukung oleh penciptaan budaya dan aktivitas organisasi yang efektif dan efisien.
Upaya yang dapat dilakukan korporasi atau perusahaan dalam meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusianya adalah dengan mengadakan pelatihan-pelatihan dan monitoring secara rutin sehingga bisa dinilai apa yang perlu ditingkatkan atau diperbaiki dari Sumber Daya Manusia yang ada diperusahaan tersebut.
Karyawan yang memiliki komitmen kepada organisasi memiliki pengertian bahwa mereka akan memihak organisasi dimana mereka berkembang dan berusaha dalam meningkatkan kinerjanya demi tercapainya tujuan bersama. Campur tangan individu yang tinggi dalam melakukan pekerjaan organisasi memiliki arti bahwa orang tersebut memihak terhadap pekerjaannya. Sementara individu yang berkomitmen tinggi terhadap organisasi berarti dia memihak organisasi tersebut untuk merekrut dirinya.
Komitmen pekerja dalam organisasi dianggap sebagai dimensi sikap yang dimanfaatkan untuk mengukur dan menilai kemampuan pekerja untuk stay dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dalam organisasi. Komitmen yang tinggi membawa pengaruh terhadap kemajuan organisasi. Pekerja dengan komitmen tinggi cenderung akan royal kepada perusahaan dan organisasi sehingga mendorong organisasi untuk tumbuh dan berkembang bahkan bisa mendukung tujuan
143
keberlanjutan organisasi. Hal tersebut disebabkan karena komitmen menjadi salah satu indikator kinerja.
Budaya organisasi juga menjadi indikator kinerja karyawan dalam organisasi karena penciptaan organisasi disertai budaya yang mendukung peningkatan kinerja individu adalah bagian dari kebutuhan.
Permasalahan yang sering dikaitkan dengan budaya organisasi antara lain karyawan yang mengikuti pemimpinnya seperti datang terlambat dan pulang bekerja selalu lebih cepat dari jadwalnya. Oleh sebab itu, perusahaan atau organisasi harus berusaha dalam menciptakan budaya organisasi yang lebih positif atau jauh dari kata negatif sehingga dapat mempengaruhi kinerja karyawan.
Budaya organisasi sangat berhubungan dengan bagaimana seorang pekerja mengartikan ciri-ciri dari culture atau kebiasaan dari perusahaan, bukan dengan apakah mereka menyukai budaya tersebut atau tidak. Budaya organisasi apabila dikelola secara baik dan benar akan mendukung peningkatan perilaku positif oleh pegawai sehingga suasana kerja menjadi produktif. Suasana kerja yang produktif juga dapat mendorong terciptanya kinerja yang tinggi dalam sebuah organisasi. Hal ini disebabkan karena budaya organisasi itu sendiri berkaitan positif dengan kinerja karyawan dalam sebuah korporasi.
Banyak ahli yang berpendapat bahwa organisasi yang mempunyai budaya yang kuat berbanding lurus dengan kinerja yang dilakukan dalam organisasi tersebut. Artinya budaya organisasi yang kuat akan membentuk hasil kinerja yang kuat pula di dalam organisasi, begitu pula sebaliknya apabila budaya organisasi melemah maka tidak menutup kemungkinan apabila kinerja organisasi tersebut ikut melemah.
Hal ini disebabkan karena budaya organisasi tersebut mampu memberikan motivasi atau dorongan kepada setiap individu untuk selalu fokus menjalankan langkah pasti dalam mencapai tujuan yang sudah direncanakan sebelumnya.
Budaya korporasi atau dikenal dengan budaya manajemen kerja menjadi aspek yang dominan dan disebarluaskan dalam perusahaan sehingga menjadi acuan kerja bagi seluruh pegawai. Budaya organisasi berhubungan erat dengan keadaan, kondisi, perasaan dan sikap pekerja.
Hal tersebut dilatarbelakangi karena budaya organisasi memiliki sifat sementara dan subjektif sehingga dapat secara langsung dimanipulasi oleh pemegang kekuasaan didalam organisasi atau perusahaan tersebut.
Tidak hanya itu budaya organisasi berhubungan dengan konsep pertumbuhan usaha yang artinya berasal dari sejarah perusahaan yang dipercaya bahkan tidak mudah untuk melakukan manipulasi.
Budaya organisasi berfungsi dalam mendukung terbentuknya komitmen dalam organisasi dan peningkatan sikap yang konsisten bagi setiap individu yang tergabung didalam organisasi tersebut. Pada dasarnya organisasi mendorong penciptaan kinerja yang tinggi dalam sebuah korporasi didukung dengan adanya budaya yang mampu mengarahkan langkah individu-individu yang tergabung didalamnya menjadi satu kesatuan arah yang sama.
Budaya organisasi yang unggul mampu memprediksi dua asumsi penting. Asumsi tersebut berkaitan dengan kemampuan menyesuaikan diri pekerja diluar organisasi, berarti bahwa nilai-nilai individu yang terdapat di tempat kerja memiliki dampak langsung terhadap sikap
144
karyawan. Yang kedua yaitu berkaitan dengan adaptasi internal perusahaan yang berarti bahwa perilaku positif pekerja dalam perusahaan misalnya produktivitas karyawan, tingkat komitmen yang tinggi terhadap pekerjaan yang diemban akan tercipta.
Sementara itu budaya dapat dibangun berlandaskan falsafah hidup dalam masyarakat atau agama yang mendasari hidupnya. Sebagai contoh budaya jawa yang terkenal rajin, ulet dan kemampuannya dalam melakukan pekerjaan. Selain itu ada cultur “Minang” yang sering dikenal dengan kerja kerasnya dan sifat pantang menyerahnya serta beberapa budaya yang ada di Indonesia sehingga Indonesia memiliki banyak Khazanah dan ragam budaya.
Peningkatan kinerja karyawan diperlukan untuk menciptakan pertumbuhan organisasi yang berkelanjutan. Selain itu langkah-langkah yang bisa dilakukan oleh organisasi untuk meningkatkan kinerja karyawannya antara lain: melakukan evaluasi dan penilaian kinerja secara rutin, untuk karyawan yang berkinerja bagus diberikan hadiah atau reward sementara yang berkinerja turun atau rendah diberikan peringatan.
Selain itu adanya pelatihan-pelatihan diperlukan untuk meningkatkan kinerja karyawan. Ketika karyawan diberikan pelatihan mereka akan merasa diperhatikan oleh perusahaan sehingga loyalitas karyawan terhadap organisasi atau perusahaan dapat meningkat. Masing- masing karyawan bisa memberikan penilaian atau tanggapan terhadap performa perusahaan.
Karyawan juga bisa secara langsung diikutsertakan dalam proses pengambilan keputusan atau kebijakan dalam perusahaan dengan tujuan keputusan yang diambil bisa bersifat umum dan sesuai dengan keputusan bersama.
145