• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kegagalan budaya dan penyesuaian

Dalam dokumen Buku Ajar Budaya Organisasi (Halaman 162-181)

Peran Pemimpin

8.5. Kegagalan budaya dan penyesuaian

159

c. Perasaan marah. “Marah mencakup semua emosi yang dimulai dengan kecanggungan hati dan menyebabkan kemarahan meledak dengan cepat dan hebat.” Ketika marah, Anda kehilangan kendali atas emosi karena keinginan tidak terpenuhi. Hal ini dapat mempengaruhi lingkungan. Karena itu, ketika marah, sangat sulit untuk mengontrol tingkat emosi.

d. Perasaan berdosa. Perasaan bersalah, penyesalan, atau kekecewaan merugikan diri sendiri. Karena selalu menyalahkan diri sendiri atas apa yang telah Anda lakukan.

Karakteristik dan Manfaat Kepercayaan Organisasi

“Kepercayaan dalam sebuah organisasi sangat berperan penting dalam menjalankan sebuah organisasi yang lebih baik dalam membentuk tim kerja yang sukses. Hal tersebut selaras dengan kepercayaan karyawan terhadap seorang pemimpinnya, yang mana dapat mengurangi risiki dan biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan, menambah keterlibatan dan produktivitas karyawan”

(Pucetaite, Lamsa, dan Novelskaite, 2010).

“Kepercayaan dalam sebuah oraganisasi dapat memberikan dampak pada karyawan, keikut sertaan karyawan dalam mengambil keputusan juga lebih tinggi, serta menerapkan lingkungan kerja yang lebih baik lagi. Kepercayaan terhadap perusahaan dapat meningkatkan komitmen, loyalitas dan lain sebagainya. Apabila suatu organisasi berkembang, bawahan akan lebih berkomitmen terhadap perusahaan. ((Brockner et al, 1997).

Faktor Kepercayaan Organisasi

“Kepercayaan terhadap sikap yang positif oleh karyawan kepada perusahaan diyakini akan patuh dan taat terhadap norma dan nilai perusahaan tempat ia bekerja yang dipercaya muncul karena adanya sesuatu yang pernah dialami serta kepercayaan. Nilai dan prinsip moral yang disepakati. Demikian pula, berpengaruh pada pendapat Pille, Bourdeau dan Galois (2010) yang mengatakan bahwa “ kepercayaan merupakan inti dari faktor emosional, aktivitas mental, serta hal baik lainnya. Nilai – nilai moralitas seperti kejujuran serta apa adanya. Percaya terhadap oarang yang telah meyakinkan kita akan hal baik yang ada dalam diri kita, hal yang telah kita lalui, serta segala sesuatu pesan baik. Memperkirakan sikap dan perilaku per orangan dalam menyikapi suatu persoalan, termasuk dalam memperkirakan di masa yang akan datang.

“Interaksi antara dua orang secara fisik, berpeluang dalam meyakini suatu kenyataan dan harapan organisasi”. (Paille, Bourdeau, dan Galois, 2010). Ada hal lain seperti kepercayaab dapat menjadikan pengaruh penghormatan jangka panjang untuk kewajiban timbal balik yang saling menguntungkan dari interaksi antara dua orang secara fisik yang saling terlibat. (Hendra Polwant G)

160

Sebagian besar perusahaan yang menjalankan konsep budaya perusahaan, namun pada kenyataannya, budaya perusahaan ternyata indah hanya dalam tulisan. Koherensi budaya di mana ia beroperasi dapat menjadi tugas yang menakutkan bagi sebuah perusahaan. Banyak perusahaan mengalami kegagalan budaya. Di bawah ini adalah kesalahan-kesalahan yang dapat menyebabkan budaya organisasi gagal, yaitu :

a. Penetapan nilai dan budaya yang tidak tepat. Perusahaan mungkin hanya mengadopsi istilah budaya yang ada di perusahaan lain dan menggunakannya nanti dengan hak mereka sendiri. Pendekatan ini dapat menghilangkan kebutuhan dan esensi dari budaya itu sendiri.

b. Kurangnya visualisasi terkait dengan aplikasi budaya. Bagaimana proses penjaminan pelaksanaan suatu implementasi berkaitan dengan pelaksanaan aplikasi budaya. Bagaimana budaya menjadi tolak ukur yang dapat diukur dan dibayangkan secara visual oleh seluruh elemen dalam suatu organisasi.

c. Kurangnya ikatan budaya untuk membangun kemampuan standar.

Saat menerapkan budaya perusahaan, penting untuk menyelaraskan elemen budaya ini dengan kemampuan standar yang ditentukan oleh perusahaan.

d. Program Kepemimpinan Tidak Terstruktur. Konsep kepemimpinan merupakan program penting yang harus dilaksanakan dan dilaksanakan sesuai standar yang telah ditetapkan. Jika program kepemimpinan tidak terstruktur, aspek implementasi yang terkait dengan program kepemimpinan harus dapat diimplementasikan dalam organisasi.

e. Program evaluasi yang tidak terukur. Banyak yang menganggap budaya sebagai slogan yang diinstruksikan untuk karyawan mereka.

Namun, hanya sedikit perusahaan yang memiliki proses penilaian untuk mengukur tingkat implementasi budaya yang diinginkan.

Menurut Profesor Richard Barrett “Dalam menentukan faktor-faktor kegagalan tersebut yaitu perusahaan tidak menentukan visi, misi, dan nilai perusahaannya, manajemen operasional telah mengembangkan visi, misi, dan nilai perusahaan yang enggan di sebar luaskan ke seluruh karyawan, visi, misi, dan nilai-nilai perusahaan dikembangkan serta dikomunikasikan kepada karyawan, tetapi mereka tidak merasa memiliki visi, misi, dan nilai-nilai perusahaan. Bawahan tidak diberi kelonggoran untuk berkontribusi atau berpartisipasi dalam proses peracikan. Visi, misi, dan nilai perusahaan telah dikembangkan oleh karyawan, tetapi tidak dimasukkan ke dalam sistem, ketentuan serta alur organisasi”.

Dasar-dasar perusahaan sangat penting dalam membangun budaya perusahaan. Yang mana Visi menerangkan tentang alur dan keinginan perusahaan, misi menjelaskan apa yang sedang terjadi, dan nilai-nilai menjelaskan apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan untuk mencapai tujuan perusahaan. Dengan kata lain, visi menerengkan mengapa dan kenapa melakukan sebuah usaha ini dan misi menerangkan apa yang harus dilakukan.

Beberapa perusahaan sudah menerapkan visi dan misi serta nilai-nilai perusahaan tetapi kebanyakan dari perusahaan tersebut mengalami kegagalan. Faktor penyebabnya karena perusahaan tersebut tidak paham dengan jelas serta menerepkannya dengan baik visi dan misi tersebut serta visi-misi tidak digunakan sebagai patokan dalam menjalankan

161

sebuah perusahaan, atau visi – misi dianggap tidak sesuai apa yang diinginkan oleh bawahan sehingga mereka merasa acuh akan hal tersebut. Oleh sebab itu, dasar – dasar prusahaan tidak cukup dirumuskan secara pemikiran saja akan tetapi harus harus dibicarakan dan kepercayaan. kepercayaan bertujuan agar dasar – dasar yang dimiliki oleh Sistem Kepercayaan "Sistem Kepercayaan". Menurut visi dan tujuan misi Profesor Barrett: untuk menyediakan struktur kerja fisik, untuk memberikan makna emosional dan rasa bangga, landasan spiritual untuk pengambilan keputusan, kejelasan spiritual untuk manifestasi perbedaan.

Penyesuaian

Penyesuaian budaya organisasi dapat diartikan sebagai cara individu untuk merangkul nilai-nilai, persepsi, perilaku dan keyakinan tentang pentingnya pekerjaan dan tercermin dalam peningkatan produktivitas dan kinerja setiap karyawan. Menurut Denison (1995), teori penyesuaian berfokus pada kemampuan organisasi untuk menerima dan menafsirkan gangguan dari lingkungan eksternal dan mengubahnya menjadi norma internal yang mengarah pada kelangsungan hidup atau kesuksesan. Tiga aspek penting dari kemampuan penyesuaian adalah kesadaran dan respon terhadap lingkungan luar perusahaan. Kemampuan untuk melayani pelanggan internal dan merespon dengan cepat kepada pelanggan internal dan eksternal.

Budaya organisasi harus memperhatikan cara mengatahui dan peka terhadap permasalahan yang terlah terjadi. Masalah tersebut dapat timbul karena internal maupun eksternal. Menurut (Prabundu Taki, 2012: 46) yang menjelaskan :

a. Masalah yang timbul dari luar organisasi

Permasalahan yang terjadi karena faktor dari luar perusahaan cara mengatasinya,yaitu :

• Misi dan strategi. Pengertian secara menyeluruh tentang konsep dasar sebuah perusahaan yang meliputi seluruh aspek berupa tertulis maupun tidak tertulis. Misi berkenaan tentang bagaimana perusahaan tersebut di dijalankan termasuk dengan kemungkinan – kemungkinan yang hendak akan terjadi. Acuhan perusahaan meliputi rancangan tenaga kerja yang ditentukan.

• Sasaran. Sasaran ini gambaran yang telah rinci tentang tugas pokok organisasi. Tujuan utamanya tidak secara langsung mengatakan bawahan yang menjadi anggotanya memiliki tujuan yang sesuai.

• Metode merupakan cara yang dilakukan agar seluruh aspek dalam perusahaan selaras dengan apa yang diinginkan oleh perusahaan tersebut.

• Perluasan konsensus tentang tujuan yang akan dicapai dan patokan yang telah ditentukan untuk mengontrol apa yang dilakukan sebuah kelompok dalam mencapai tujuan

• Perbaikan adalah tentang strategi perbaikan yang harus dilakukan oleh anggota organisasi yang membuat organisasi tersebut tidak dapat mencapai tujuan yang diinginkan.

b. Masalah yang timbul dari dalam organisasi

162

Masalah ini biasanya timbul karena kesalahan dalam memprediksi keinginan para pihak eksternal. Dalam mengatasi permalahan ini maka dapat ditangani dengan, yaitu :

a. Menggunakan tutur kata yang baik sehingga pernyataan yang keluar dari anggota organisasi dapat diterima dengan baik oleh pihak luar.

b. Harus bisa membedakan urusan diluar perusahaan dengan didalam perusahaan. Yang mana dalam sebuah organisasi harus mementikan keprofesionalan dalam berkerja, sehingga tidak ada permasalahan timbul karena masalah pribadi.

c. Seorang pemimpin dapat berkuasa penuh dalam memutuskan tindakan perusahaan yang mana harus dapat mempertimbngkan dengan baik sehingga dapat membawa perusahaan ke arah yang diinginkan.

d. Sesama anggota kelompok harus saling mengasihi serta menjaga hubungan agar tetap baik serta dapat membangun hubungan bisnis dengan baik, harus dapat mengatur emosi dengan baik. Sehingga tidak ada masalah pribadi yang dapat mengganggu solidaritas antar anggota kelompok.

e. Dalam proses berjalannya untuk mencapai tujuan organisasi maka pemimpin dapat memberikan apresiasi kepada pihak yang berprestasi dan memberi tindakan untuk yang melakukan kesalahan.

Pada kesimpulannya sebuah perusahaan harus selalu menanmkan sebuah kejujuran agar timbul rasa percaya antar individu dan invidu lainnya. Hal tersebut jika dilaksanakan dengan baik maka sangat berpengaruh positif terhadap berjalannya sebuah organisasi.

Kepercayaan dapat terbangun jika seluruh anggota dapat melakukannya dengan apa adanya sesuai dengan apa yang telah terjadi. Kegagalan terjadi akibat tidak terstrukturnya mekanisme dasar- dasar perushaan maka yang ahrus dilakukan dengan terus membaca kemungkinan yang akan terjadi dan segera melakukan mengevaluasinya. Penyesuaian dapat dilakukan apabila setiap individu kelompok dapat bekerja sama dan mencoba menerima segala permasalahan untuk diselesaikan dengan bersama, jika hal tersebut dapat dilakukan dengan baik maka semua yang akan dikerjakan bersama – bersama akan menghasilkan hasil yang baik.

PEMIMPIN MENCIPTAKAN BUDAYA ORGANISASI

Indonesia dikenal sebagai Negara yang kaya akan keragaman budaya. Keragaman budaya ini disebabkan oleh banyaknya suku bangsa yang ada di Indonesia.salah satunya yaitu Budaya Organisasi. Budaya organisasi merupakan suatu kebiasaan atau karakteristik yang terbentuk di dalam organisasi. Budaya organisasi ini harus dipatuhi oleh setiap anggota dalam organisasi , karena hal tersebut berpengaruh secara individu dalam organisasi. budaya organisasi secara efektif membantu mengantisipasi dan beradaptasi, proses ini dimulai dengan kepemimpinan. Seorang pemimpin harus menciptakan visi dan misi yang sesuai dengan tujuan organisasi. kemampuan adaptasi harus ditingkatkan dengan sukses organisasi dan fokus kepemimpinan secara spesifik.

Sinambela dkk (2008) kepemimpinan adalah suatu kewenangan yang disertai kemampuan seseorang dalam memberikan pelayanan untuk menggerakkan setiap anggota untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan. Peran pemimpin memberi semangat terhadap setiap

163

bawahan untuk mengerjakan apa yang dikehendaki perusahaan.

Pemimpin sebagai pihak yang berpengalaman dapat memberikan saran, nasihat dan bimbingan untuk meningkatkan pengembangan professional bawahannya. Pemimpin lebih berpengalaman tentang pekerjaan organisasi, dan menjadi penasihat yang bijak bagi setiap anggota. Peran pemimpin yang berhasil ditunjukkan pada kemampuannya untuk menerapkan fungsi-fungsi manajemen, seperti perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan. Kemampuan pemimpin untuk mengarahkan dan meyakinkan anggotanya dalam menyelesaikan setiap tugas yang diberikan dengan baik dan cepat. Hal tersebut dilakukan karena sikap seorang pemimpin harus tegas dan cermat untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan oleh perusahaan.

Stephen P.Robbins (2003) Budaya Organsasi adalah sebuah persepsi umum yang dipegang oleh anggota organisasi. budaya organisasi sangat penting dengan bagaimana pekerja merasakan karakteristik suatu budaya organisasi. Di dalam Organisasi faktor kepemimpinan merupakan peranan penting karena pemimpin akan menggerakkan dan mengarahkan organisasi dalam mencapai tujuan. Sebagai seorang pemimpin harus memahami setiap perilaku bawahannya. Sebuah organisasi tidak terbentuk secara kebetulan dan secara spontan. Tetapi , organisasi berorientasi pada tujuan, secara spesifik dan diciptakan karena dengan tindakan yang terkoordinasi dari sejumlah orang dapat menyelesaikan masalah yang tidak dapat dilakukan secara individu. Pemimpin memiliki pengaruh utama pada kelompok yang awalnya didefinisikan dan menyelesaikan masalah secara eksternal dan internal. Sebagai pemimpin harus mempunyai rasapercaya diri, serta mempunyai tingkat asumsi yang kuat tentang sifat dunia. Peran yang dijalankan organisasi, sifat wajar setiap manusia, bagaimana kepercayaan dicapai dan bagaimana mengelola waktu dan ruang yang cukup untuk organisasi.

Pemimpin cenderung memiliki teori yang kuat untuk melakukan sesuatu, beberapa teori tersebut seperti:

1. Teori orang-orang besar (Great Man Theory)

Menurut teori ini seorang pemimpin besar terlahir sebagai pemimpin yang memiliki berbagai ciri-ciri individu yang sangat berbeda dengan kebanyakan manusia lainnya. Ciri-ciri individu tersebut seperti karisma, intelegensia, kebijaksanaan dan dapat menggunakan kekuasaan yang dimilikinya untuk membuat berbagai keputusan yang memiliki dampak besar bagi sejarah manusia.

2. Teori Ciri-ciri pemimpin (Thait Theory)

Teori ini fokus untuk mengidentifikasi berbagai karakteristik pemimpin yang menyebabkan seseorang dapat menjalankan kepemimpinan secara efktif dan efisien. Trait theory merupakan perkembangan lebih lanjut dari The Great Man theory. Menurut teori ini para pemimpin terlahir untuk menjadi pemimpin dan para pepimpin itu bukan diciptakan. Kesimpulan dari teori ini, kepemimpinan yang efektif dan efisien dapat dipelajari sehingga pemimpin bukan hanya dilahirkan tetapi juga dapat diciptakan melalui proses pembelajaran.

3. Teori Perilaku (Behavioral StylesTheory)

Teori ini menyimpulkan adanya tiga gaya kepemimpinan yang terdiri dari : gaya kepemimpinan otorier, gaya kepemimpinan demokratis dan gaya kepemimpinan laissez-faire gaya

164

kepemimpinan ini cenderung memberikan kebebasan untuk para pemimpin.

4. Teori Situasional (Situational Theory)

Teori ini memiliki keyakinan berdasarkan penelitian yang mereka lakukan bahwa efektivitas gaya kepemimpinan sangat bergantung pada ruang lingkup situasi. Kinerja seorang pemimpin bergantung pada dua faktor yang saling melengkapi. Yaitu (1) sejauh mana situasi itu dapat memberikan pemimpin semangat, sehingga dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan sukses. (2) motivasi mendasar dari seorang pemimpin untuk kepuasannya.

5. Teori kepemimpinan transaksi (Transactional Leadership Theory) Menurut teori ini para karyawan akan termtivasi oleh imbalan dan hukuman. Sebuah organisasi akan berjalan dengan baik apabila terjadi rantai komando yang jelas. Seorang pemimpin akan menjalankan tugasnya dengan baik apabila mampu untuk mengembangkan struktur kerja yang jelas. sehingga para manajer tersebut akan dapat menjalankan pekerjaannya dengan baik dan mencapai standar kinerja yang telah ditetapkan.

6. Teori kepemimpinan Transformasi (Transformational Leadership Theory)

Teori ini didasari oleh hasil penelitian mengenai adanya perilaku kepemimpinan. para pemimpin yang dikategorikan sebagai pemimpin transformasi memberikan inspirasi kepada sumber daya manusia yang lain dalam organisasi untuk mencapai Sesutu melebihi apa yang direncanakan oleh organisasi.

Para pemimpin mempunyai teori yang sangat kuat, apabila asumsi mereka salah maka kelompok akan gagal pada awal sejarahnya. Apabila asumsi mereka benar maka mereka menciptakan organisasi yang kuat dan budaya mencerminkan asumsi awalnya. Untuk menciptakan budaya dengan tindakan dan keputusan , seorang pemimpin untuk menyadari bagaimana perilaku mereka membantu menciptakan budaya organisasi tanpa memandang sesuatu demi terwujudnya tujuan yang diharapkan perusaahan.

KEPEMIMPINAN & BUDAYA ORGANISASI

Kepemimpinan pada dasarnya merupakan suatu kemampuan untuk mempengaruhicara berpikir seseorang agar mempunyai tanggung jawab yang besar , selalu mengambil tindakan secara tegas dan adil. Dalam konteks luas, kepemimpinan berkaitan erat dengan penugasan yang diberikan seorang pemimpin kepada anggota. Mereka yang bekerja sebagai anggota harus wajib mematuhi dan mentaati peraturan yang ada, dengan segala konsekuensinnya. Karena semua yang dikerjakan oleh setiap anggota akan menjadi tanggung jawab atasan. Tanggung jawab pemimpin sangat besar , maka ketika terjadi kegagalan pemimpin tetap bertanggungjawab atas semuanya. Secara sederhana pemimpin adalah mempengaruhi. Banyak orang orang berfikir bahwa kepemimpinan adalah mendapatkan jabatan, posisi tinggi, dihormati orang lain.

Sebaliknya, ada juga yang berfikir bahwa kepemimpinan mempunyai banyak pengikut dan menjadi penasehat untuk setiap anggotanya. Jiwa seorang pemimpin dimiliki oleh semua orang, tidak terbatas baik laki- laki maupun perempuan, memiliki peluang yang sama untuk menjadi

165

pemimpin. Tetapi, karakteristik dari pemimpin yang hebat harus dikembangkan secara alamiah.

Seorang pemimpin dalam budaya organisasi sangat dibutuhkan untuk memimpin komponen bisnis. Hal ini sangat penting bagi kesuksesan organisasi, kesalahan dalam budaya organisasi dapat menyebabkan kegagalan yang bisa membuat ancaman bagi seorang pemimpin. Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan suatu organisasi dalam mencapai tujuannya. Salah satunya dalam upaya untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Akan tetapi faktor tersebut dipengaruhi oleh setiap pemimpin, baik sifat yang melekat pada pemimpin atau gaya kepemimpinan yang digunakan untuk mengelola organisasi itu sendiri.

Budaya organisasi yang terbentuk di dalam organisasi wajib untuk diikuti olwg anggota organisasi. karena, perilaku anggota organisasi akan diwarnai oleh budaya organisasi yang ada. Budaya organisasi yang ditetapkan oleh manajemen berhubungan dengan visi dan misi yang dibuat oleh organisasi. salah satu faktor penting yang dapat digunakan untuk menentukan apakah sebuah organisasi itu baik adalah dengan melihat budaya organisasi yang dimiliki. Implementasi budaya organisasi yang disosialisasikan kepada seluruh karyawan dapat memberikan keuntungan bagi organisasi,karena untuk membangun sikap dan perilaku karyawan sesuai dengan apa yang diinginkan organisasi.

dengan sosialisai yang efektif akan menghasilkan karyawan yang mempunyai tingkat penyesuaian yang lebih baik dan pada akhirnya akan menurunkan gejala tekanan psikologis, menurunkan dorongan keinginan untuk meninggalkan organisasi. terdapat tiga tipe budaya organisasi, yaitu : budaya organisasi yang konstruktif, pasif-defensif, dan agresif- defensif. Semua tipe budaya organisasi berkaitan erat secara satu sama lain.

a. Budaya konstruktif

Budaya ini merupakan suatu dorongan karyawan untuk berinteraksi dengan orang lain, dalam hal mengerjakan tugas dan proyeknya, dengan cara membantu dalam memuaskan kebutuhannya untuk tumbuh dan berkembang. Tipe budaya ini mendukung keyakinan normatif yang berhubungan dengan pencapaian tujuan dan persatuan.

b. Budaya pasif-defensif

Budaya ini memungkinkan kepada karyawan untuk selalu berinteraksi dengan karyawan lain secara baik sehingga karyawan merasa aman dan nyaman. Tipe budaya ini merupakan keyakinan normatif yang berhubungan dengan persetujuan,konvensional dan ketergantungan.

c. Agresrif-defensif

Budaya ini mendorong setiap karyawan untuk bekerja keras dan untuk melindungi keamanan kerja mereka. Tipe budaya ini termasuk keyakinan normatif yang mencerminkan posisi, kekuasaan dan perfeksioni.

Pemimpin merupakan suatu proses dimana terdapat seorang dalam suatu kelompok atau organisasi yang memiliki pengaruh besar kepada orang lain. Sedangkan kepemimpinan merupakan suatu proses dimana seorang pemimpin memengaruhi suatu individu atau

166

kelompok, seorang pemimpin sangat dibutuhkan di dalam sebuah organisasi, seorang pemimpin dapat melakukan segala sesuatu demi terwujudnya tujuan yang ada di dalam perusahaan. kepemimpinan lebih mendasar pada influence daripada menggunakan paksaan.

Perbedaan kepemimpinan dan manajemen masih menjadi kontroversi, bahkan seorang ahli kepemimpinan menyimpulkan bahwa pemimpin tugasnya mengelola sedangkan manajer memimpin. Tetapi, keduanya saling berhubungan dengan melibatkan serangkaian aktivitas atau fungsi yang baik. Seorang manajer biasanya melakukan perencanaan, penyelidikan, pengorganisasian dan pengawasan. Sedangkan pemimpin berhubungan dengan setiap aspek antar pribadi maupun kelompok.

Sebagai seorang pemimpin harus memberikan inspirasi kepada bawahan, memberikan dukungan, mencoba menggerakkan karyawan untuk mencapai tujuan, dan menciptakan suatu visi, rencana yang strategis untuk organisasi tersebut. Sedangkan seorang manajer lebih berfokus untuk menerapkan visi , mengelola risiko, investasi pemegang saham, pengembangan produk baru dan mengatasi pekerja dengan kinerja yang rendah. Pemimpin juga harus memahami seluruh organisasi bisnis, dan harus lebih paham tentang berbagai masalah budaya yang sangat kompleks. Pada saat ini, organisasi bisnis membutuhkan true leaders karena peran leader sangat penting untuk menjalankan seluruh kegiatan yang ada di perusahaan atau organisasi. setiap perusahaan juga memiliki visi dan misi yang berdeda sesuai dengan tujuan perusahaan. Pemimpin juga harus memahami masalah pada budaya organisasi. jadi, kepemimpinan dan budaya organisasi saling berkaitan dan harus ada di dalam perusahaan. Untuk membangun budaya organisasi yang efektif , seorang pemimpin harus mampu menciptakan rasa untuk memiliki jati diri bagi para anggota. Rasa memiliki merupakan suatu modal dasar untuk seorang epmimpin dalam mendorong anggota untuk mencapai sebuah visi dan misi serta tujuan yang diinginkan organisasi. ketika membangun budaya organisasi yang kuat harus dibutuhkan waktu yang cukup lama dan bertahap, sehingga perjalanannya akan mengalami pasang surut yang berbeda setiap prosesnya. Budaya organisasi yang kuat juga memiliki tujuan sebenarnya , salah satunya untuk mendapatkan usaha secara produktif karyawan dan membantu setiap pekerja mencapai tujuan yang sama.

BUDAYA & HARAPAN PENGIKUT

Pada dasarnya setiap permasalahan yang ada di budaya organisasi bukan hanya berfokus untuk pemimpin, tetapi semua itu berkaitan dengan pengikutnya. Sebagai seorang pemimpin juga memiliki gagasan menemukan siapa yang ingin bertanggung jawab, serta siapa yang percaya dengan posisi tradisional atau hierarki membuat mereka memiliki rasa tanggung jawab cukup besar. Tetapi, semua orang juga bertanggung jawab atas apa yang dilakukannnya. Setiap orang juga memiliki potensi untuk menjalankan tugas sebagai seorang pemimpin.

Kepemimpinan berpengaruh lebih terhadap setiap anggota, karena untuk terciptannya sebuah tujuan yang akan diharapkan perusahaan dari posisi

167

jabatan tertinggi hingga terendah. Hubungan antara pemimpin dan pengikut merupakan hubungan timbal balik dan saling menguntungkan.

Berkembang melalui interaksi seiring dengan berjalannya waktu.

Di dalam budaya organisasi untuk menghadapi perbedaan kelompok budaya, sebagai pemimpin harus memahami dimensi budaya. Terdapat beberapa dimensi budaya yang perlu dipahami seorang pemimpin : a. Individualistic atau colectivistic, dalam budaya individualistic

pemimpin maupun pengikut berusaha untuk melibatkan diri dalam pengambilan keputusan untuk memaksimalkan pengaruh individual yang ada. Sedangkan budaya colectivistic anggota kelompok dan kolektif lebih menyukai aktivitas kelompok , karena mengharapkan keputusan itu dilakukan berdasarkan konsesus atau konsulatif.

b. Power distance, praktik kepemimpinan otokratik dan toleransi budaya terdapat perbedaan keduannya antara atasan dan bawahan.

c. Uncertainty avoidance, dalam budaya ini pemimpin memberikan arahan untuk pekerja bawahan dan diharapkan bekerja dengan baik.

d. Masculinity atau feminimity, merupakan penekanan relative secara tradisional menjadi ambisi tujuan dan prestasi yang akan mempengaruhi pemimpin. Pemimpin akan meilbatkan hubungan dengan anggota kelompok.

Terdapat perbedaan antara kepemimpinan formal dan informal, kepemimpinan formal merupakan pemimpin yang secara formal dan ditunjuk untuk mempunyai jabatan. Sedangkan informal merupakan pemimpin yang mempunyai status kepemimpinan dari respek seseorang dan penghormatan dari orang lain. Pemimpin ini ada karena terdapat gagasan atauperilaku yang merupakan representasi dari orang lain serta mempraktikkan keterampilan untuk mempengaruhi dan menempatkan gagasan. Di dalam budaya organisasi pemimpin formal dan informal dari budaya lain kurang diterima karena terdapat perbedaan budaya, seperti perbedaan metode kepemimpinan yang diharapkan.

Untuk membangun budaya organisasi atau budaya perusahaan tidak mudah, dengan melalui proses yang panjang dan secara bertahap.

Budaya organisasi dapat tumbuh dengan baik melalui proses nilai budaya dibawah pendiri organisasi, nilai ditanamkan, nilai diperkuat, budaya diperkuat, budaya dipersoalkan dan budaya organisasi memiliki kekuatan yang ditentukan oleh kedalaman penghayatan di setiap anggota budaya organisasi.

KEPERCAYAAN DALAM BUDAYA ORGANISASI

Kepercayaan dalam organisasi berarti menyerahkan semua keyakinan dengan penuh kepada rekan kerja ataupun pemimpin. Dengan sebuah kepercayaan dalam sebuah organisasi dapat mewujudkan tujuan sebuah organisasi dan dengan tingkat kepercayaan yang tinggi dapat membangun hubungan yang baik antar tim, sehingga berdampak baik untuk kinerja keuangan. Organisasi yang didasari tingkat kepercayaan yang tinggi seperti terdapat pelumas yang memungkinkan untuk organisasi dapat bekerja dengan optimal.

Pinder (2008:353) menyebutkan kepercayaan adalah salah satu nilai yang tercipta dari hubungan interpersonal yang lahir dengan lambat dan kepercayaan terbangun dengan adanya sebuah keterbukaan dari organisasi. Kepercayaan adalah keadaan sikologis apabila seseorang

Dalam dokumen Buku Ajar Budaya Organisasi (Halaman 162-181)