• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jejaring tanda-tanda: pilihan pendekatan

Dalam dokumen Ebook Paradigma dan Teori (Halaman 186-193)

INTERPRETIVISME SIMBOLIS CLIFFORD GEERTZ

B. Jejaring tanda-tanda: pilihan pendekatan

Sekadar melanjutkan analogi yang dipakai Geertz, yakni manusia sebagai binatang—laba-laba (?)—yang terjerat pada jejaring makna yang telah ditenunnya sendiri, kita tentu dapat juga mengatakan bahwa kebudayaan adalah jejaring tanda-tanda (webs of sign), bahwa fenomena kebudayaan adalah juga fenomena tanda yang bermakna.

Setiap fenomena kebudayaan, sebagai konsekuensinya, dapat didekati setidak-tidaknya dari dua sisi, entah sebagai sistem tanda-tanda (system of signs) ataupun praktik-praktik penandaan (signifiying practices). Yang dimaksud dengan tanda di sini adalah sebagaimana ia digunakan dalam pengertiannya yang paling umum, yakni entitas konvensional/natural apa pun yang tersusun dari sebuah wahana tanda (sign vehicle), yang terkait dengan makna- makna atau yang secara umum dipersamakan oleh Geertz (1973, 91) sebagai simbol, yakni segala sesuatu (objek-objek, tindakan- tindakan, peristiwa- peristiwa, kualitas-kualitas, atau relasi-relasi) yang menjadi wahana bagi makna-makna.

Menurut Thompson (2015), terdapat lima karakteristik bentuk simbol yang patut dianalisis dalam tingkatan yang berbeda dalam

Buku ini tidak diperjualbelikan.

upaya memahami makna suatu struktur budaya. Karakteristik bentuk simbol itu meliputi lima aspek, yaitu 1) intensional, 2) konvensional, 3) struktural, 4) referensial, dan 5) kontekstual, dengan penjelasan sebagai berikut.

Karakteristik pertama bentuk simbol, intensional, merupakan bentuk-bentuk simbol ekspresi dari seorang subjek untuk seorang subjek (atau banyak subjek), yaitu bentuk-bentuk simbol diproduksi, dikonstruksi, dan diterapkan oleh seorang subjek yang—dalam mem- produksi dan menerapkan bentuk-bentuk tersebut—mengikuti tujuan dan keinginan tertentu dan berupaya mengekspresikan dirinya untuk seorang subjek sebagai sebuah pesan yang harus dipahami. Misalnya, sebuah teks buku harian yang tidak dimaksudkan untuk disebarkan ke orang lain, tujuan dan keinginan itu dia sendiri yang memiliki kuncinya. Dalam kenyataan ini, bentuk-bentuk simbol berbeda dengan deretan gunung dan bukit atau bebatuan di sungai sebagai fakta alamiah yang tidak memiliki makna simbolis. Akan tetapi, dalam kepercayaan animistik tertentu, bentuk-bentuk alam dapat memper- oleh sebuah karakter simbol dan dapat dianggap penuh makna dalam pemahaman tertentu sebagai bagian dari ekspresi intensional. Entah dia manusia, kuasi manusia, atau kehidupan supranatural.

Karakteristik kedua bentuk simbol, konvensional, yaitu produksi, konstruksi dan penggunaan bentuk simbol yang dilakukan oleh subjek simbol—demikian juga interpretasi terhadap bentuk simbol yang dilakukan oleh subjek yang menerimanya—merupakan proses yang secara tipikal mencakup aplikasi aturan, kode dan macam-macam konvensi. Aturan, konvensi, dan kode tersebut bergerak dari aturan tata bahasa, berbagai ekspresi dari kode yang berhubungan dengan tanda tertentu hingga huruf tertentu, dan konvensi yang mengatur tindakan dan interaksi yang dianggap sopan oleh subjek yang berin- teraksi. Aturan, kode, dan konvensi tersebut umumnya diaplikasikan dalam satu “pernyataan praktis”, yaitu bersifat implisit dan merupakan skema taken for granted dalam menghasilkan dan menafsirkan suatu bentuk simbol.

Buku ini tidak diperjualbelikan.

INTERPRETIVISME SIMBOLIS CLIFFORD ... 165

Karakteristik ketiga bentuk simbol adalah struktural, suatu bentuk-bentuk simbol yang memperlihatkan struktur artikulasinya.

Dalam artian bahwa secara tipikal, ia memuat elemen-elemen yang berada dalam relasi yang menentukan satu dengan yang lainnya.

Elemen tersebut dan interaksi yang dibawanya tersusun dari sebuah struktur yang dapat dianalisis secara formal, dengan cara—misalnya—

seseorang dapat menganalisis pengajaran kata dengan citra (image) dalam sebuah gambar atau struktur narasi sebuah mitos. Di sini kita dapat membedakan antara struktur sebuah bentuk simbol di satu sisi dengan sistem yang diandaikan dengan bentuk simbol tertentu di sisi lain. Menganalisis struktur sebuah simbol berarti menganalisis elemen-elemen tertentu serta interrelasinya yang dapat dilihat dalam bentuk simbol pertanyaan tentang pengungkapan, tindak pengucapan, dan teks.

Karakteristik bentuk simbol keempat adalah aspek referensi, yaitu bentuk-bentuk konstruksi simbol yang secara tipikal mencerminkan sesuatu, mengacu pada sesuatu, dan menyatakan sesuatu tentang sesuatu. Di sini, dipahami secara umum bentuk simbol atau elemen sebuah bentuk simbol dalam konteks tertentu yang mencerminkan beberapa objek, individu, dan keadaan tertentu atau secara lebih spesifik yaitu ekspresi bahasa mengacu pada objek tertentu dalam konteks ruang dan waktu tertentu. Contohnya, lukisan pada masa ter- tentu (Renaisans) dapat berarti atau mencerminkan setan, kejahatan manusia, dan kematian; gambar kartun di surat kabar harian modern yang mencerminkan gambaran individu atau tokoh politik gabungan negara tertentu; atau gambar burung garuda pada lambang negara Indonesia yang mencerminkan arti keberagaman kultural (Bhinneka Tunggal Ika).

Karakteristik kelima bentuk-bentuk simbol adalah aspek konteks- tual, yang berarti bahwa bentuk-bentuk simbol selalu dibawa dalam konteks dan proses sosial tertentu yang di dalamnya bentuk-bentuk simbol itu diproduksi, ditransmisikan, dan diterima. Dalam sebuah frasa sederhana yang diucapkan oleh seseorang kepada orang lain dalam interaksi kehidupan sehari-hari terlingkup dalam sebuah

Buku ini tidak diperjualbelikan.

konteks struktur sosial dan dapat memunculkan jejak—berdasarkan aksentuasi, intonasi, cara mengucapkan, pilihan kata, gaya mengeks- presikan, dan lain-lain—karakteristik relasi sosialnya. Bentuk-bentuk simbol yang lebih kompleks seperti pidato, teks, acara televisi, dan karya seni umumnya mensyaratkan rangkaian lembaga tertentu yang dari situ bentuk-bentuk tersebut diproduksi, ditransmisikan dan diterima. Cara bentuk-bentuk simbol tersebut beredar dan diterima dalam dunia sosial, juga proses pemahaman dan nilai yang dikandungnya diterima oleh masyarakat, semuanya bergantung pada konteks dan institusi yang menghasilkannya, memediasinya, dan melestarikannya. Dengan demikian, cara suatu bentuk simbol (pidato, seni, dan teks) diinterpretasikan oleh individu tertentu dan persepsi tentang sesuatu dikondisikan oleh kondisi subjek, setting, dan konteks tertentu sehingga pemahaman dan nilai itu menjadi sesuatu yang berbeda. Karena itu, penting ditekankan bahwa dalam menyoroti aspek kontekstual bentuk-bentuk simbol, kita harus melam- paui ciri-ciri struktur internal bentuk-bentuk simbol. Dalam konteks pidato misalnya, bukan aspek dari pidato itu yang menjadi perhatian, melainkan setting dan waktu berpidato, keterkaitan antara orang yang berpidato dengan audiensnya, cara mentransmisikan pidato, dan cara pidato itu diterima, itulah yang menjadi pokok perhatiannya.

Dalam konsepsi kebudayaan sebagai suatu sistem tanda-tanda, fenomena budaya dapat dinamakan di sini sebagai teks (text) atau kumpulan teks. Sementara itu, sebagai praktik-praktik penandaan, fenomena yang sama dapat disebut juga sebagai wacana (discourse).

Pembedaan konseptual di antara teks dan wacana seperti ini tentu saja sangat problematik lantaran keduanya sering kali digunakan dalam pengertian yang sangat beragam, rancu, dan sering dipertukarkan.

Misalnya saja, sebagian orang membatasi teks sebagai semata-mata sebuah sinonim bagi wacana dengan pesan-pesan verbalnya yang mungkin bersifat lisan atau tertulis, padahal sebagian yang lain berpendapat bahwa konsep teks ini hanya terbatas pada pesan- pesan tertulis dan pesan-pesan lisan menjadi wilayah dari wacana.

Meng ingat adanya variasi konseptual tersebut, di sini kita akan

Buku ini tidak diperjualbelikan.

INTERPRETIVISME SIMBOLIS CLIFFORD ... 167

mem bedakan pengertian teks dan wacana secara lebih spesifik, yakni disejajarkan dengan pembedaan antara langue dan parole di dalam pembedaan dikotomis Saussurean. Artinya, teks berada di dalam posisi sejajar dengan langue, sedangkan wacana dengan parole seperti tampak pada homologi berikut.

Langue-Parole—Teks-Wacana

Dengan kata lain, apa yang dinamakan sebagai teks meru- pakan struktur abstrak yang berada di balik wacana, sementara wacana itu sendiri merupakan ujaran (utterance) verbal yang empiris:

a particular area of language use. Dengan memperluas ruang lingkup wilayah maknanya, kita tentu bisa mengatakan bahwa teks merupakan struktur abstrak yang berada di balik pelbagai fenomena kebudayaan yang empiris, sedangkan wacana adalah kebudayaan sebagaimana teraktualisasikan: ia merupakan praktik penggunaan tanda-tanda, entah verbal ataupun nonverbal (visual, auditoris, aksional, dan sebagainya).

Untuk dapat mendekati beraneka fenomena kebudayaan tersebut, baik sebagai sistem tanda-tanda ataupun praktik-praktik penandaan, pastilah dibutuhkan pendekatan- pendekatan yang tepat. Apabila setiap fenomena kebudayaan adalah praktik-praktik penandaan dan sekali- gus fenomena tanda, di dalam kebudayaan, setiap entitasnya menjadi fenomena semiotik (Eco, 1976), seperti tampak dalam penjelasan:

In culture any entity becomes a semiotic phenomenon—culture can be studied completely under a semiotic profile. Semiotic is a disci pline which must be concerned with the whole of social life (Eco, 1976, 61, 71).

Dengan demikian, kebudayaan dapat dikaji secara lengkap di bawah payung pendekatan semiotika. Semiotika merupakan sebuah disiplin yang berurusan dengan seluruh kehidupan sosial.

Oleh karenanya, dalam melihat kebudayaan sebagai teks atau sistem tanda-tanda, pendekatan yang tepat adalah semiotika (Geertz, 1973)—dalam pengertiannya yang terbatas sebagai sintaktik atau

Buku ini tidak diperjualbelikan.

gramatikal—dan/atau strukturalisme. Sementara itu, apabila dilihat sebagai wacana atau praktik-praktik penandaan, pendekatan semiotik (dalam pengertian yang lebih luas, mencakup semantik dan pragmatik) kiranya lebih tepat. Pendekatan yang pertama, strukturalisme, lebih menaruh perhatian pada aspek sistematika yang abstrak (langue) dan memandang parole sebagai objek yang mustahil untuk dikaji secara sistematis, dianggap sebagai aspek yang tak terjangkau. Begitu pula halnya semiotika dalam pengertiannya yang sempit, yaitu sebagai semata-mata sintaktis. Akan tetapi, kalau kita mengikuti pendapat Eco (1976) atau pakar semiotika lain, beberapa jalur lain bagi kajian semiotik memang masih sangat mungkin untuk ditelusuri.

Jalur-jalur ini jelas bukan bermaksud untuk mengkaji sistem bahasa atau sistem tanda-tanda pada umumnya, melainkan hendak menggapai parole atau beraneka praktik penandaan yang lain, yaitu apa yang sudah disebut tadi sebagai wacana. Pendekatan terakhir ini diharapkan sanggup merambah bidang-bidang yang lebih luas, yang mencakup pula semantik dan pragmatik.

Pendekatan-pendekatan tersebut dianggap sesuai atau tepat untuk mengkaji pelbagai fenomena kultural karena dilatarbelakangi oleh dua alasan yang sangat mendasar berikut ini.

1) Fenomena kultural tersebut bukanlah semata-mata objek-objek atau peristiwa-peristiwa material, melainkan objek-objek atau peristiwa- peristiwa yang bermakna, yakni apa yang kita sebut sebagai tanda-tanda.

2) Fenomena kultural tersebut tidak memiliki esensi di dalam dirinya sendiri, tetapi dibatasi oleh jaringan relasi-relasi, baik internal maupun eksternal. Keduanya memang bisa dibedakan, tetapi tetap saling terkait dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain karena dalam mengkaji tanda-tanda, kita pun mesti menyelidiki sistem relasi-relasi yang memungkinkan produksi maknanya dan sebaliknya, kita hanya mungkin menentukan relasi-relasi yang benar jika memperlakukan satuan-satuannya sebagai tanda-tanda.

Buku ini tidak diperjualbelikan.

INTERPRETIVISME SIMBOLIS CLIFFORD ... 169

Jadi, pendekatan apa pun yang kemudian menjadi pilihan, entah pendekatan struktural ataupun semiotik, tergantung kepada tekanan perhatian yang kita berikan kepada fenomena kultural tersebut.

Dengan kata lain, kedua pendekatan ini sesungguhnya hanya memiliki perbedaan yang begitu tipis, dengan batas-batas yang samar pula, yakni semata-mata berdasarkan perbedaan tekanan perhatiannya tadi. Jika strukturalisme lebih menaruh perhatian pada jaringan relasi-relasi, sistem tanda-tanda, maka semiotik lebih pada tanda- tanda itu sendiri, baik menyangkut makna-maknanya maupun proses pemaknaannya. Dalam konteks yang demikian ini, menurut Hawkes (1977, 124), strukturalisme akan lebih berperan sebagai suatu metode analisis yang menyatukan bidang-bidang linguistik, antropologi, dan semiotika itu sendiri.

Dalam analisis ini, pentingnya analisis doxa sebagai titik awal studi bentuk-bentuk simbol, adalah keniscayaan yang terinspirasi oleh filsafat Wittgensteinian, baik fenomenologi maupun etnometodologi.

Namun, banyak karya sosial yang jarang mampu melampauinya karena masih dianggap menunjukkan kelemahan sehingga diperlukan perubahan metodologi hermeneutika kehidupan sehari-hari yang oleh Thompson (2015) disebut hermeneutika mendalam. Menurut metodologi ini, terdapat tiga fase dasar atau prosedur tingkat analisis, yaitu analisis sosial historis, analisis formal atau diskursif, dan inter- pretasi/re-interpretasi. Pada masing-masing fase dari pendekatan her- meneutika mendalam ini, berbagai metode penelitian dapat diterima dan beberapa yang lain dapat dianggap lebih tepat daripada objek analisis dan kondisi objek penelitian. Dalam aplikasinya, penekanan pada analisis hubungan-hubungan kekuasaan terhadap bentuk-bentuk simbolis dalam struktur sosial untuk mencari makna menjadi hal yang krusial. Adapun dalam pendekatan hermeneutika mendalam ini, tahapan dan domainnya dapat diilustrasikan pada Gambar 11.1.

Buku ini tidak diperjualbelikan.

Dalam dokumen Ebook Paradigma dan Teori (Halaman 186-193)