• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jenis Media untuk Pengembangan Bahasa Anak

Dalam dokumen '$1 3(0(/$-$5$1 .('8$ (Halaman 33-37)

Tentunya, wujud kamus tidak selalu harus seperti Kamus Besar Bahasa Indonesia yang kaku dan formal, apalagi untuk peserta didik PAUD. Ada berbagai jenis media yang dapat digunakan untuk anak. Jenis media yang berbeda ini disesuaikan dengan tujuan penyusunan kamus dan usia khalayak sasarannya.

Penerbit kamus Inggris Collins Cobuild menyusun kamus untuk anak- anak, misalnya First English Words: with 36 Songs on a CD. Mengutip resensi untuk kamus ini dikatakan bahwa kamus ini disusun untuk anak- anak berumur 3—7 tahun. Kamus ini berisi kosakata sehari-hari yang digunakan oleh anak dan dihiasi gambar-gambar yang menarik dan juga dilengkapi oleh CD berisi lagu-lagu anak. Tujuan penyusunan kamus ini adalah untuk menarik imajinasi anak-anak dan mendorong anak untuk terus menyenangi bahasa. Kamus ini juga disusun dengan 36 tema, setiap tema dihiasi ilustrasi dan skenario yang menarik. Ada tiga tokoh kera, Ben, Daisy dan Keekee yang menemani anak- anak dalam kehidpan sehari-hari mereka dan memperkenalkan anak- anak kepada 300 kata yang perlu diketahui dan dipelajari oleh anak- anak. Ada lagu-lagu dan permainan untuk setiap tema. Kamus ini bertujuan untuk membuat pemelajaran bahasa menjadi menarik dan menyenangkan.

Kamus ini telah menerima penghargaan sebagai `Best entry for young readers' dari English- Speaking Union (ESU), English Language Book Awards 2012. Jika kita baca uraian di atas, kamus ini benar-benar diolah dan disusun untuk kepentingan anak-anak.

26 Prosiding Seminar Leksikografi Indonesia

Ada jenis kamus lain yang disusun oleh anak perusahaan Collins Cobuild, Scholastic, yaitu kamus yang disusun berdasarkan kekerapan kata yang dilihat oleh anak PAUD. Judulnya adalah Bob Books: Sight Words Kindergarten. Sight Words atau kata-kata terlihat adalah kata- kata umum atau sehari-hari yang muncul berulang kali dalam buku bacaan anak- anak. Anak-anak mengenal kata-kata dari pengamatan anak saat sedang menyimak cerita yang dibacakan oleh orang tuanya.

Kegiatan ini penting bagi kelancaran membaca anak kelak saat di sekolah.

Kegiatan menyimak akan membuat anak dengan mudah mengenali kata- kata tersebut dalam kamus ini. Bunyi vokal yang pendek dan cerita yang sederhana membuat anak mudah membaca sebagian besar cerita (meskipun hanya berupa hafalan). Dengan membacakan kamus itu dan berbagai kegiatan dalam keseharian anak, anak-anak dengan mudah menguasai keterampilan membaca kata-kata sederhana. Buku-buku seperti ini sudah diusahakan oleh USAID bekerja sama dengan Prioritas membuat buku-buku berjenjang untuk anak-anak PAUD dan SD kelas 1 dan 2. USAID juga bekerja sama dengan Yayasan Sulinama (di Ambon) dan SIL (Summer Institute of Linguitics) menyiapkan buku dalam bahasa ibu dan juga bahasa Indonesia untuk sebagai bahan bacaan anak-anak sambil membangun ketertarikan anak kepada berbagai jenis bacaan. Juga ProVisi Education menyusun buku-buku yang menarik untuk anak-anak.

Collins membuat buku yang memperkenalkan anak-anak usia 4 tahun ke atas kepada khazanah kata dan perkamusan. Uraian yang sederhana dengan kalimat-kalimat yang mudah dibaca dan dicerna menggambarkan hal-hal yang dialami oleh anak. Gambar- gambar yang aneka warna membantu agar proses pemelajaran menjadi lebih mudah, berkesan, dan menyenangkan.

Buku ini membantu anak untuk belajar mengenal abjad, mengeja dengan benar, dan memahami makna kata-kata sehari- hari. Abjad diletakkan di sisi luar setiap halaman kamus dan setiap huruf diberi warna yang berbeda yang memudahkan anak-anak untuk mengenali setiap huruf dan menelusuri kata dan mencari tahu cara mengeja setiap kata. Ilustrasi dalam kamus

membuat kamus itu sangat menarik bagi anak-anak dan membantu anak memahami makna kata, sementara contoh kalimat menunjukkan cara kata itu digunakan. Keterangan tata bahasa yang sederhana memperkenalkan anak kepada kategori kata. Kamus ini meruapakan kamus yang sederhana dan menyenangkan sebagai kamus pertama anak di sekolah. Akan tetapi, tentunya, penyusunan kamus ini harus dilakukan secara profesional dan ditunjang oleh penelitian, terutama untuk bangsa Indonesia yang memiliki 724 bahasa daerah atau lokal.

Jenis lain yang dapat dibuat adalah kartu-kartu huruf dan kata (flash cards). Anak-anak dapat mengenal huruf dan kemudian membaca kata pada kartu-kartu tersebut. Kartu-kartu itu dapat berisi susunan abjad, dapat berupa kata-kata awal untuk anak, kartu untuk menyusun kalimat, dan lain sebagainya. Guru selalu dapat membuat sendiri kartu-kartu untuk pemelajaran sesuai dengan tema yang sedang dipelajari oleh peserta didik, baik tingkat PAUD, SD, SMP, maupun SMA.

Sebenarnya, media pembelajaran dapat dibuat dari berbagai bahan bergantung kepada kreativitas guru. Untuk penyusunan kamus dibutuhkan tenaga ahli yang handal. Dalam hal ini, sebaiknya, penyusunan kamus untuk anak- anak diserahkan kepada Badan Bahasa.

Dibutuhkan pula buku untuk anak-anak dengan pola kalimat sederhana dan berulang- ulang. Misalnya, Ada mata. Ada mata Dina. Ada mata Tono. Ada mata Nina. Ada mata Nana.

Ada mata Nino. Ada mata Dini. Ada mata saya. Ada mata kamu. Ada mata dia. Dengan demikian, anak belajar bunyi bahasa, kalimat, dan makna kata dan makna kalimat. Penggunaan kata hubung diperoleh melalui penggunaan yang berulang-ulang, seperti Ani dan Dina berkawan. Dina suka makan kue bolu dan kue lapis. Ani suka warna merah dan biru. Dina dan Ani suka menari. Ani dan Dina bisa menyanyi. Ani dan Dina suka membaca. Ani suka mengenakan kalung dan gelang. Dina suka mengenakan bando dan pita. Ani dan Dina senang bermain boneka dan lompat tali.

Pembahasan mengenai jenis kamus di atas baru berkaitan dengan anak PAUD dan SD. Sebenarnya, masih ada juga kamus-kamus untuk tingkat pendidikan SMP dan SMA (lihat salindia/powerpoint makalah ini).

Permasalahannya adalah bahwa harus ada kesadaran dari pemerintah bahwa gerakan literasi harus diikuti oleh pembuatan kamus untuk berbagai tingkat usia peserta didik. Tujuan literasi tidak hanya agar peserta didik “melek”

huruf dan dapat membaca, melainkan agar peserta didik dapat memahami teks yang dibaca, kemudian dapat memaknai teks yang dibaca, dan, pada akhirnya, mereka dapat menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat di sekelilingnya. Tahap pemaknaan tidak akan tercapai jika

28 Prosiding Seminar Leksikografi Indonesia

tidak melalui tahap pemahaman teks. Tahap pemahaman hanya dapat dicapai jika peserta didik didampingi oleh kamus yang mumpuni.

Kamus Collins Cobuild yang ditujukan untuk peserta didik di SMP dan SMA disertai keterangan mengenai tata bahasa. Jumlah kata ada 743 yang frekuensi pemunculannya tinggi dan sering dilihat oleh peserta didik. Uraian definisi diberikan dalam kalimat lengkap dengan perilaku gramatikal yang sesuai kaidah. Lema yang ada disertai juga oleh contoh penggunaannya dalam berbagai genre (jenis teks). Peserta didik memperoleh contoh untuk memahami dan sekaligus memaknai teks yang dibacanya.

Kamus sekolah oleh Merriam-Webster ini disusun khusus untuk siswa kelas 9—11, yang berusia 14 tahun ke atas. Ada 100.000 definisi dan 28.000 contoh penggunaannya. Bidang ilmu yang disajikan mencakup teknologi, hiburan, kesehatan, sains dan sosial. Kamus ini mempersiapkan peserta didik untuk mengembangkan kosakata mereka dan mempersiapkan mereka memasuki dunia pendidikan tinggi.

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 23 Tahun 2015 mencantumkan bahwa penumbuhan budi pekerti dilakukan dengan menggunakan 15 menit sebelum hari pembelajaran untuk membaca buku selain buku mata pelajaran (setiap hari). Peraturan ini akan berdampak positif jika guru mempersiapkan bahan bacaan bersama dengan peserta didiknya. Dalam kesempatan itu, peserta didik diperkenalkan dengan teks-teks yang berbeda.

Setiap teks ditelaah format teksnya dan dipilah temanya. Kata-kata yang belum dikenal oleh peserta didik dicari maknanya dalam kamus.

Melalui pemahaman dalam kelas, peserta didik diminta untuk menulis ulang, mencari teks sejenis, mencari topik yang sama dengan penyajian yang berbeda, membuat resensi, membuat drama, menggambarkan isi teks, dan berbagai kegiatan lain. Dengan demikian, peserta didik dapat memaknai bacaannya. Oleh sebab itu, sekali lagi perlu ditekankan bahwa kamus berperan penting dalam kegiatan literasi.

Dalam dokumen '$1 3(0(/$-$5$1 .('8$ (Halaman 33-37)