BAB II LANDASAN TEORI
2.3 Risiko
2.3.2 Jenis Risiko
Mengacu pada ketentuan Bank Indonesia PBI No. 5/8/PBI/2003 dan perubahan nya No. 11/25/PBI/2009 terdapat delapan risiko yang harus dikelola Bank yaitu:
2.3.2.1 Risiko Kredit
Berdasarkan PBI No. 5/8/PBI/2003 dan perubahan nya No. 11/25/PBI/2009, risiko kredit adalah risiko akibat kegagalan debitur dan atau pihak lain dalam memenuhi kewajiban kepada Bank. Sejalan dengan pengertian tersebut, Booklet Perbankan Indonesia tahun 2014 menyatakan bahwa risiko kredit adalah risiko yang timbul sebagai akibat kegagalan counterparty memenuhi kewajibannya.
Menurut Saunders & Cornett (2011: 186) risiko kredit adalah risiko yang muncul akibat dari kemungkinan perjanjian arus kas dalam laporan keuangan milik lembaga/institusi keuangan seperti pinjaman atau obligasi tidak terbayar sepenuhnya.
Dalam konteks perbankan, Greuning & Bratanovic (2011: 139) mengartikan risiko kredit sebagai pembayaran yang mungkin tertunda atau tidak tertagih sama sekali, sehingga dapat menyebabkan masalah arus kas dan mempengaruhi likuiditas bank.
Dapat diambil kesimpulan bahwa risiko kredit adalah risiko yang disebabkan ketidakmampuan membayar kembali pokok maupun bunga oleh debitur kepada pihak yang memberikan pinjaman.
2.3.2.2 Risiko Pasar
Booklet Perbankan Indonesia tahun 2014 menjelaskan bahwa risiko pasar adalah risiko yang timbul karena adanya pergerakan variabel pasar (adverse movement) dari portofolio yang dimiliki oleh Bank yang dapat merugikan Bank, dimana variabel pasar antara lain suku bunga dan nilai tukar.
Menurut ketentuan Bank Indonesia PBI No. 5/8/PBI/2003 dan perubahan nya No. 11/25/PBI/2009 risiko pasar adalah risiko pada posisi neraca dan rekening administratif termasuk transaksi derivatif, akibat perubahan secara keseluruhan dari kondisi pasar, termasuk perubahan harga option.
Lam (2003: 181) mengartikan risiko pasar adalah eksposur terhadap potensi kerugian yang akan disebabkan oleh perubahan harga atau variabel (rate) bunga pasar. Sehingga, satu bentuk risiko pasar yang dihadapi oleh lembaga keuangan adalah eksposur terhadap perubahan suku bunga jika durasi dari aset dan kewajibannya yang tidak sesuai atau tidak bersamaan jatuh temponya (mismatched), perdagangan untuk posisi sendiri (proprietary trading) dan aktivitas pembentukan pasar (market making activities).
Maka dapat disimpulkan risiko pasar sangat terpengaruh oleh perubahan suku bunga, kurs mata uang, nilai saham atau kinerja portofolio dan seluruh variabel yang berpengaruh terhadap kondisi pasar.
2.3.2.3 Risiko Likuiditas
Booklet Perbankan Indonesia tahun 2014 menyatakan bahwa risiko likuiditas disebabkan Bank tidak mampu memenuhi kewajiban yang telah jatuh tempo.
Menurut Bank Indonesia PBI No. 5/8/PBI/2003 dan perubahan nya No.
11/25/PBI/2009 risiko likuiditas adalah risiko akibat ketidakmampuan Bank untuk memenuhi kewajiban yang jatuh tempo dari sumber pendanaan arus kas dan/atau
dari aset likuid berkualitas tinggi yang dapat diagunkan, tanpa mengganggu aktivitas dan kondisi keuangan Bank.
Sejalan dengan pernyataan tersebut, Hull (2012: 447) menyatakan bahwa likuiditas merupakan kemampuan dari sebuah perusahaan untuk membayar kembali apa yang sudah menjadi kewajiban di saat jatuh tempo.
Murphy (2008: 43) mengartikan risiko likuiditas sebagai risiko ketidakmampuan perusahaan dalam mengembalikan kewajiban dalam bentuk pembayaran kas.
Kesimpulan yang dapat ditarik adalah risiko likuiditas merupakan risiko ketidakmampuan Bank ataupun perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek nya (jatuh tempo) sehingga aktivitas dan kondisi keuangan nya terganggu.
2.3.2.4 Risiko Operasional
Berdasarkan PBI No. 5/8/PBI/2003 dan perubahan nya No. 11/25/PBI/2009 risiko operasional adalah risiko akibat ketidakcukupan dan atau tidak berfungsinya proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem, dan atau adanya kejadian – kejadian eksternal yang mempengaruhi operasional Bank.
Menurut Saunders and Cornett (2011: 193) risiko operasional merupakan bagian yang berhubungan dengan risiko teknologi, selain itu risiko ini dapat menyebabkan kesalahan dalam teknologi yang digunakan atau rusaknya sistem pendukung back office.
British Bankers Association (2005, dalam Lam, 2007: 193) menyatakan risiko operasional adalah risiko kerugian langsung atau tidak langsung dari
ketidakmemadaian atau kegagalan proses internal, manusia dan sistem, atau dari peristiwa eksternal.
Rose & Hudgins (2013: 185) menyatakan risiko operasional berhubungan dengan berkurangnya pendapatan Bank akibat kesalahan sistem komputer (teknologi), errors, kesalahpahaman pegawai Bank serta bencana alam yang tidak terduga.
Dapat disimpulkan bahwa risiko operasional adalah risiko akibat tidak berjalan dengan baiknya proses internal yang menyebabkan kerugian secara langsung seperti menurunnya nilai aset dan tidak langsung yang berpengaruh terhadap nama baik.
Risiko ini dapat timbul dari kegagalan proses internal, manusia dan sistem serta dari peristiwa eksternal.
2.3.2.5 Risiko Hukum
Menurut PBI No. 5/8/PBI/2003 dan perubahan nya No. 11/25/PBI/2009 risiko hukum adalah risiko akibat tuntutan hukum dan/atau kelemahan aspek yuridis.
Penyebab risiko hukum antara lain peraturan perundang – undangan yang mendukung tidak tersedia, perikatan seperti syarat keabsahan kontrak tidak kuat, dan pengikatan agunan tidak sempurna.
Rose dan Hudgins (2013: 186) menyatakan risiko hukum menyebabkan keberagaman dalam total pendapatan akibat kebijakan hukum yang berlaku.
Risiko hukum dapat dikategorikan sebagai risiko negara (country risk). Sejalan dengan pernyataan ini, Saunders and Cornett (2011: 191) menyatakan bahwa risiko negara merupakan risiko yang menyebabkan pembayaran peminjam asing dapat
terganggu akibat regulasi atau kebijakan yang dimiliki negara pemberi pinjaman maupun penerima pinjaman.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa risiko hukum merupakan risiko yang terjadi akibat perbedaan regulasi atau kebijakan di setiap negara, dimana hal tersebut dapat merugikan Bank dalam menjalankan kegiatan operasionalnya.
2.3.2.6 Risiko Reputasi
PBI No. 5/8/PBI/2003 dan perubahan nya No. 11/25/PBI/2009 mengartikan risiko reputasi sebagai risiko akibat menurunnya tingkat kepercayaan stakeholder yang bersumber dari persepsi negatif terhadap Bank.
Hardanto (2006: 152) menambahkan, risiko reputasi terjadi karena tidak ada pengendalian risiko (risk controls) yang memadai dan juga karena pemberitaan yang berlebihan.
Rose dan Hudgins (2013: 186) turut menyatakan bahwa risiko reputasi adalah ketidakpastian yang berhubungan dengan persepsi publik. Dinyatakan pula oleh Rose dan Hudgins (2013) bahwa pendapat negatif publik yang belum tentu benar atau tidak berdampak buruk bagi pendapatan Bank.
Kesimpulan yang dapat ditarik, bahwa risiko reputasi merupakan risiko yang berkaitan langsung dengan tingkat kepuasan konsumen atas pelayanan perbankan.
Apabila Bank tidak memberikan pelayanan terbaiknya dan sistem kontrol yang lemah, akan menimbulkan kepercayaan masyarakat melemah terhadap Bank yang bersangkutan.
2.3.2.7 Risiko Strategik
Risiko strategik berkaitan dengan long – term business decision dan implementasinya yang diambil dan diterapkan oleh manajemen puncak Bank (Ali, 2006: 37).
Menurut PBI No. 5/8/PBI/2003 dan perubahan nya No. 11/25/PBI/2009 risiko strategik adalah risiko akibat ketidakpastian dalam pengembalian dan/atau pelaksanaan suatu keputusan strategik serta kegagalan dalam menutupi perubahan lingkungan bisnis.
Ditambahkan oleh Hardanto (2006: 151) karena keputusan dalam Bank cukup banyak yang bersifat jangka panjang, maka mengandung risiko strategik yang tinggi jika keputusan tersebut tidak dapat terlaksana dengan baik.
Kesimpulan yang dapat diambil dari risiko strategik adalah risiko Bank yang terjadi akibat tidak berjalan nya strategi yang telah direncanakan sebelumnya karena lingkungan bisnis berubah tidak seperti harapan Bank.
2.3.2.8 Risiko Kepatuhan
Menurut PBI No. 5/8/PBI/2003 dan perubahan nya No. 11/25/PBI/2009 risiko kepatuhan adalah risiko akibat Bank tidak memenuhi dan/atau tidak melaksanakan peraturan perundang – undangan dan ketentuan yang berlaku, seperti ketentuan Kewajiban Pemenuhan Modal Minimum (KPMM), Kualitas Aktiva Produktif, Pembentukan Penyisihan Aktiva Produktif (PPAP), Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK), risiko pasar terkait dengan ketentuan Posisi Devisa Neto (PDN),
risiko strategik terkait dengan ketentuan Rencana Kerja Anggaran Tahunan (RKAT) Bank, dan risiko lain yang terkait dengan ketentuan tertentu.
Simon (2004: 58) menambahkan bahwa pengelolaan risiko kepatuhan dilakukan melalui penerapan sistem pengendalian internal secara konsisten.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa risiko kepatuhan merupakan risiko yang berkaitan dengan Bank dalam menyikapi pertauran perundang – undangan yang telah diatur, dengan berjalan nya sistem pengendalian internal yang konsisten dan baik maka risiko kepatuhan dapat dihindari.
Dalam penelitian ini, peneliti melihat lebih lanjut risiko kredit, risiko likuiditas dan risiko pasar yang dihadapi Bank Umum. Risiko operasional Bank tidak dikaji lebih dalam oleh peneliti, karena ilmu dalam menggambarkan operational risk secara akademis menggunakan Data Envelopment Analysis (DEA) yang pada umumnya tidak digunakan dalam industri perbankan. Oleh karena itu, peneliti mengalami kesulitan dalam memperoleh data yang menunjukkan ukuran risiko operasional dalam laporan keuangan Bank Umum.