BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4.1 Objek Penelitian
Industri perbankan di Indonesia yang berkembang dengan sangat pesat menyebabkan banyaknya Bank yang bermunculan, hal ini juga dipicu dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terus berkembang. Sesuai dengan PBI No. 14/26/PBI/2012 tentang Kegiatan Usaha dan Jaringan Kantor Berdasarkan Modal Inti Bank yang menyatakan bahwa dalam rangka menghadapi dinamika regional dan global serta untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia secara optimal dan berkesinambungan, maka perlu peningkatan ketahanan, daya saing dan efisiensi industri perbankan nasional dengan melakukan pengelompokkan Bank Umum berdasarkan Kegiatan Usaha sesuai dengan modal inti nya masing – masing.
Booklet Perbankan Indonesia tahun 2014 menyatakan Bank dalam melakukan kegiatan usaha dan memperluas jaringan kantornya harus sesuai dengan kapasitas dasar yang dimiliki Bank, yaitu modal inti. Dengan beroperasi sesuai kapastiasnya, maka Bank tersebut lebih dipercaya oleh masyarakat. Hal tersebut tentunya akan meningkatkan ketahanan dan efisiensi bagi Bank karena aktivitas perbankan yang dilakukan terfokus pada aspek dan produk yang menjadi keunggulan nya.
Dinyatakan pula dalam Booklet Perbankan Indonesia tahun 2014 bahwa berdasarkan modal inti kegiatan usaha, Bank dikelompokkan menjadi empat yaitu BUKU 1, BUKU 2, BUKU 3 dan BUKU 4. Sejalan dengan besaran modal intinya, kegiatan usaha yang
terdapat pada BUKU 1 lebih bersifat layanan dasar perbankan (basic banking services).
Sedangkan untuk kegiatan usaha BUKU 2 lebih luas dari BUKU 1 dan demikian seterusnya hingga BUKU 4 yang mencakup kegiatan usaha penuh dan kompleks.
Berikut ini adalah gambaran kegiatan usaha Bank Umum yang dikategorikan dalam BUKU 1, 2, 3 dan 4.
Sumber: Booklet Perbankan Indonesia tahun 2014, Otoritas Jasa Keuangan (data diolah penulis).
Gambar 4.1
Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU)
BUKU 1
1. Kegiatan usaha dasar (basic banking services) 2. Modal Inti min. Rp 100 M s.d dibawah Rp 1 T1. Kegiatan usaha lebih luas dan penyertaan terbatas 2. Modal inti min. Rp 1 T s.d dibawah Rp 5 T
1. Kegiatan usaha penuh dan penyertaan 2. Modal inti min. Rp 5 T s.d dibawah Rp 30 T
1. Kegiatan usaha penuh dan penyertaan lebih luas 2. Modal inti min. Rp 30 T
BUKU 2
BUKU 3
BUKU 4
Apabila aktivitas Bank Umum berdasarkan Kegiatan Usaha ini dapat berjalan dengan baik, dimana setiap Bank menjalankan lingkup aktivitas maupun produk perbankan nya secara fokus dan terarah, maka hal tersebut dapat meningkatkan performa Bank yang bersangkutan. Performa Bank yang meningkat, mengindikasikan bahwa Bank tersebut telah dipercaya masyarakat dalam memberikan pelayanan jasa perbankan nya.
Selain itu, hal tersebut juga dapat meningkatkan perekonomian di Indonesia dan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat banyak, sesuai dengan tujuan didirikan nya Bank menurut Undang – Undang No. 10 tahun 1998 atas perubahan Undang – Undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan.
Aktivitas dan produk perbankan BUKU 3 dan BUKU 4 sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia, karena kegiatan perbankan pada BUKU 3 dan 4 mencakup lingkungan regional dan lebih luas lagi. Gambaran umum Perbankan di Indonesia pun dapat tercerminkan dari kesehatan Bank yang terdapat dalam kategori BUKU 3 dan BUKU 4. Oleh karenanya, fungsi dan peranan Bank kategori BUKU 3 dan 4 apabila dapat berjalan dengan baik, dapat dikatakan ekonomi Indonesia pun sedang berkembang dengan baik. Gambaran singkat profil perbankan BUKU 3 dan BUKU 4 periode tahun 2009 – 2013 dilihat dalam bentuk grafik dapat dijabarkan sebagai berikut.
Sumber: Statistika Perbankan Indonesia,Otoritas Jasa Keuangan (data diolah penulis).
Gambar 4.2.
Perkembangan Aset Bank Umum Kegiatan Usaha 3
Gambar 4.2 menunjukkan bahwa perkembangan performa aset BUKU 3 di Indonesia periode 2009 – 2013 terus meningkat setiap tahun nya, walaupun pada beberapa Bank kenaikan kinerja aset nya tidak meningkat tajam, namun hal tersebut tetap memberikan indikasi positif bahwa aset BUKU 3 dari tahun ke tahun terus meningkat.
Peningkatan aset yang terjadi dapat disebabkan oleh berbagai hal, seperti meningkatnya permodalan bank ataupun meningkatnya laba yang turut menyebabkan
0 50,000,000 100,000,000 150,000,000 200,000,000 250,000,000
2009 2010 2011 2012 2013
Kinerja Aset BUKU 3
Bank OCBC NISP Bank BJB Bank CIMB Niaga
Bank Mega Bank Bukopin Bank DBS
Bank BTPN Bank Sumitomo Mitsui Bank UOB
Bank Mizuho Bank Panin Bank Danamon
Bank Permata Bank BII Bank BTN
Sumber: Statistika Perbankan Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (data diolah penulis).
Gambar 4.3.
Perkembangan Aset Bank Umum Kegiatan Usaha 4
Gambar 4.3. menunjukkan bahwa perkembangan performa aset BUKU 4 di Indonesia mengalami peningkatan yang stabil dan terus menerus setiap tahun nya. Bank kategori BUKU 4 merupakan Bank yang memiliki lingkup aktivitas perbankan paling luas dibandingkan Bank kategori BUKU lainnya, selain itu Bank kategori BUKU 4 merupakan gambaran umum perbankan di Indonesia. Oleh karena itu, sudah seharusnya Bank yang termasuk dalam kategori ini menjadi perhatian khusus bagi Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan agar selalu dalam keadaan yang sehat. Maka dari itu, apabila performa aset Bank dalam kategori BUKU ini terus meningkat, dapat dikatakan bahwa perekonomian Indonesia dalam kondisi stabil.
0 100,000,000 200,000,000 300,000,000 400,000,000 500,000,000 600,000,000 700,000,000
Bank BCA Bank Mandiri Bank BNI Bank BRI
Kinerja Aset BUKU 4
2009 2010 2011 2012 2013
Tidak hanya itu, perkembangan kinerja keuangan Bank dapat dilihat pula dari rasio Return On Asset (ROA) suatu Bank. Berikut ini gambaran perkembangan rasio ROA Bank BUKU 3 dan 4 periode 2009 – 2013.
Sumber: Statistika Perbankan Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (data diolah penulis).
Gambar 4.4
Perkembangan Return On Asset (ROA) BUKU 3
Gambar 4.4 menunjukkan bahwa perkembangan ROA BUKU 3 tidak selalu mengalami peningkatan disetiap Bank, terbukti dengan ROA milik Bank Sumitomo dan Bank Jabar Banten yang setiap tahun nya mengalami penurunan. Nilai ROA merupakan
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 5
2009 2010 2011 2012 2013
ROA BUKU 3
OCBC NISP BTN Danamon Panin Bank
Bukopin CIMB Niaga Bank Mega BII
Permata Bank BTPN Sumitomo UOB Indonesia
Mizuho Indonesia DBS Indonesia BJB
turun nya nilai ROA pada BUKU 3 periode 2009 – 2013 disebabkan oleh fluktuasi keadaan ekonomi yang terjadi di Indonesia. ROA pada BUKU 3 yang terus meningkat disebabkan oleh laba bersih Bank tiap tahun nya meningkat dan manajemen aset berjalan dengan baik. Sebaliknya apabila ROA turun, dapat disebabkan oleh laba bersih Bank yang menurun serta manajemen aset tidak berjalan dengan baik.
Sumber: Statistika Perbankan Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (data diolah penulis).
Gambar 4.5
Perkembangan Return On Asset (ROA) BUKU 4
Gambar 4.5 menunjukkan bahwa BUKU 4 secara stabil mengalami kenaikan pada Return On Asset (ROA) nya, namun Bank Mandiri terlihat mengalami kenaikan dan penurunan pada tahun 2009 hingga 2011. Hal tersebut mungkin terjadi karena laba
0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00
2009 2010 2011 2012 2013
ROA BUKU 4
Mandiri BNI BRI BCA
bersih Bank Mandiri pada tahun 2011 mengalami penurunan, yang disebabkan manajemen aset dalam Bank Mandiri kurang berjalan dengan baik.
Rasio Non Performing Loan pun menjadi fokus penelitian karena digunakan sebagai proksi dari penggambaran risiko kredit yang dialami Bank. Perkembangan rasio NPL pada BUKU 3 dan 4 periode 2009 – 2013, digambarkan dalam grafik sebagai berikut.
Sumber: Statistika Perbankan Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (data diolah penulis).
Gambar 4.6
Perkembangan Non Performing Loan (NPL) BUKU 3
Gmbar 4.6 diatas menunjukkan bahwa perkembangan rasio NPL yang menjadi
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 5
2009 2010 2011 2012 2013
NPL BUKU 3
OCBC NISP BTN Danamon Panin Bank
Bukopin CIMB Niaga Bank Mega BII
Permata Bank BTPN Sumitomo UOB Indonesia
Mizuho Indonesia DBS Indonesia BJB
NISP, Permata Bank, CIMB Niaga dan Bank Mizuho Indonesia mengalami penurunan yang stabil dari tahun 2009 sampai dengan 2013. Hal tersebut mengindikasikan bahwa kredit macet yang dimiliki oleh Bank yang bersangkutan mengalami penurunan setiap tahun nya dan menunjukkan bahwa risiko kredit yang dialami Bank tersebut berkurang.
Sumber: Statistika Perbankan Indonesia, Otoritas Jasa Keuntungan (data diolah penulis).
Gambar 4.7
Perkembangan Non Performing Loan (NPL) BUKU 4
Gambar 4.7 menunjukkan bahwa rasio NPL Bank kategori BUKU 4 mengalami penurunan secara terus menerus setiap tahun nya, hal ini mengindikasikan bahwa risiko kredit yang ditanggung Bank pada kategori BUKU 4 semakin berkurang. Artinya, penerapan manajemen risiko kredit dalam menanggulangi kredit macet telah berjalan dengan baik dan berkelanjutan.
0 1 2 3 4 5
2009 2010 2011 2012 2013
NPL BUKU 4
Mandiri BNI BRI BCA
Dalam melihat risiko likuiditas Bank, dapat menggunakan Loan to Deposit Ratio (LDR) sebagai variabel proksi. Perkembangan rasio LDR pada Bank kategori BUKU 3 dan 4 periode 2009 – 2013 digambarkan dalam grafik berikut.
Sumber: Statistika Perbankan Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (data diolah penulis).
Gambar 4.8
Perkembangan Loan to Deposit Ratio (LDR) BUKU 3
Gambar 4.8 menunjukkan bahwa nilai LDR bergerak stabil hampir diseluruh Bank
0 50 100 150 200 250
2009 2010 2011 2012 2013
LDR BUKU 3
OCBC NISP BTN Danamon Panin Bank Bukopin CIMB Niaga Bank Mega BII
Permata Bank BTPN
Sumitomo UOB Indonesia Mizuho Indonesia DBS Indonesia BJB
2013 diantara 50 – 100 persen. Namun, pada Bank Sumitomo dan Mizuho Indonesia nilai LDR mengalami perkembangan terus menerus hingga mencapai angka lebih dari 150 persen. Tentunya nilai tersebut sudah sangat jauh melambung diatas nilai LDR yang baik menurut PBI No. 15/15/PBI/2013 tentang Giro Wajib Minimum Bank Umum, yaitu 78 – 92 persen.
Sumber: Statistika Perbankan Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (data diolah penulis).
Gambar 4.9
Perkembangan Loan to Deposit Ratio (LDR) BUKU 4
Gambar 4.9 menunjukkan bahwa perkembangan LDR pada Bank kategori BUKU 4 selalu stabil dan tidak melebihi nilai 100 persen, namun LDR yang rendah pun tidak baik bagi kesehatan Bank. Karena hal tersebut mengindikasikan bahwa Bank yang bersangkutan mengalami risiko likuiditas, LDR yang rendah menunjukkan bahwa
0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00 80.00 90.00 100.00
2009 2010 2011 2012 2013
LDR BUKU 4
Mandiri BNI BRI BCA
kemampuan Bank dalam memenuhi kewajiban jangka pendek nya kurang baik. Bank Mandiri, BRI dan BNI dapat dikatakan memiliki nilai LDR yang baik karena selama periode 2009 – 2013 nilai LDR nya berada diantara 50 – 100 persen. Sedangkan bagi Bank Central Asia (BCA) nilai LDR pada tahun 2009 – 2013 hanya berada diantara 50 – 72 persen.
Terakhir, variabel proksi dari risiko pasar dalam penelitian ini adalah Posisi Devisa Neto (PDN). PDN merupakan risiko pasar yang dilihat dari indikator risiko kurs mata uang atau nilai tukar.
Sumber: Statistika Perbankan Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (data diolah penulis).
Gambar 4.10
0.00 2.00 4.00 6.00 8.00 10.00 12.00 14.00 16.00
2009 2010 2011 2012 2013
PDN BUKU 3
OCBC NISP BTN Danamon Panin Bank Bukopin CIMB Niaga Bank Mega BII
Permata Bank BTPN
Sumitomo UOB Indonesia Mizuho Indonesia DBS Indonesia BJB
Berdasarkan Gambar 4.10 diatas, perkembangan PDN yang sangat signifikan terlihat adalah DBS Indonesia. Dimana pada tahun 2009 nilai PDN yang dimiliki sangat tinggi bahkan mencapai 14 persen, hal tersebut menunjukkan bahwa DBS Indonesia mengalami risiko pasar yang diproksikan dalam variabel PDN. Tidak hanya itu, pada tahun 2012 pun Bank Mega, BII dan Bank Permata mengalami kenaikan tajam pada rasio PDN nya. Namun, diakhir tahun 2013 nilai PDN keseluruhan Bank kategori BUKU 3 mulai stabil diantara 0 – 5 persen.
Sumber: Statistika Perbankan Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (data diolah penulis).
Gambar 4.11
Perkembangan Posisi Devisa Neto (PDN) BUKU 4
Gambar 4.11 menunjukkan bahwa Bank Mandiri dan BCA selalu dalam keadaan stabil pada rasio PDN yang menunjukkan risiko pasar. Hal tersebut dapat dilihat dari
0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00
2009 2010 2011 2012 2013
PDN BUKU 4
Mandiri BNI BRI BCA
nilai PDN Bank Mandiri mulai dari tahun 2009 – 2013 yang berada dikisaran 1 – 3 persen. Begitu juga dengan BCA, rasio PDN yang dimilikinya berada diantara 0 – 1 persen. Pada tahun 2012 dan 2013, nilai rasio PDN seluruh Bank kategori BUKU 4 pun mulai bergerak stabil secara bersamaan pada kisaran 0 – 3.5 persen.