• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

2.5 Manajemen Risiko

2.5.1 Pengertian Manajemen Risiko

Menurut Peraturan Bank Indonesia No. 5/8/2003 tanggal 19 Mei 2003 tentang Penerapan Manajemen Risiko bagi Bank Umum, manajemen resiko adalah

serangkaian prosedur dan metodologi yang digunakan untuk mengidentifikasi;

mengukur; memantau; dan mengendalikan Risiko yang timbul dari kegiatan usaha Bank.

Rejda (2008: 42) menyatakan manajemen risiko adalah proses mengidentifikasi eksposur kerugian yang dihadapi oleh sebuah organisasi dan memilih teknik paling tepat untuk mengelola dan meminimalisir eksposur kerugian tersebut.

Ditambahkan oleh Lam (2003: 4) manajemen risiko bukan hanya mengenai upaya untuk mengurangi potensi risiko yang bersifat merugikan (downside potential), tetapi juga terkait dengan upaya untuk meningkatkan peluang keberhasilan (upside opportunity) atau prospek keuntungan.

Gleason (2000: xvii) turut menyatakan manajemen risiko adalah seperangkat proses yang didukung oleh beberapa metode untuk memudahkan perusahaan dalam mengidentifikasi, mengendalikan dan mengukur secara tepat risiko yang dihadapi.

Sehingga berdasarkan pernyataan – pernyataan diatas, dapat disimpulkan bahwa manajemen risiko merupakan cara yang ditempuh oleh setiap organisasi dalam meminimalisir risiko yang dihadapinya dengan menjalankan proses identifikasi, pengukuran, pemantauan dan pengendalian.

2.5.2 Peranan Manajemen Risiko

Manajemen risiko memiliki peran penting dalam menciptakan industri perbankan yang sehat, kuat dan terintegrasi. Walker et al., (2002: xi) menyatakan manajemen risiko berperan dalam memastikan kemungkinan tujuan perusahaan tercapai dan

oleh Walker et al., peran manajemen risiko dalam perusahaan adalah membentuk alat – alat organisasi (strategi, proses, manusia, teknologi dan pengetahuan) agar mampu mengelola semua ketidakpastian yang dihadapi perusahaan.

Lam (2003: 8) menyatakan manajemen risiko turun berperan aktif dalam membantu perusahaan mencapai sasaran bisnis nya dan memaksimalkan nilai asset pemegang saham. Ditambahkan oleh Lam, manajemen risiko meningkatkan nilai tidak hanya untuk seuatu perusahaan/lembaga tertentu, namun untuk mendukung seluruh pertumbuhan ekonomi.

2.5.3 Proses Manajemen Risiko

2.5.3.1 Identifikasi Risiko dan Eksposur Kerugian

Berdasarkan SE BI No. 13/24/DPNP tanggal 25 Oktober 2011 identifikasi risiko bersifat proaktif, mencakup seluruh aktivitas bisnis Bank dan dilakukan dalam rangka menganalisa sumber dan kemungkinan timbulnya risiko serta dampaknya.

Proses identifikasi risiko dilakukan dengan menganalisis seluruh sumber risiko yang paling kurang dilakukan terhadap risiko dari produk dan aktivitas Bank serta memastikan bahwa risiko dari produk dan aktivitas baru telah melalui proses manajemen risiko yang layak sebelum diperkenalkan atau dijalankan.

Dijelaskan pula oleh Rejda (2008: 44) langkah awal dalam proses manajemen risiko adalah dengan mengidentifikasi semua eksposur kerugian besar maupun kecil.

Dilanjutkan oleh Rejda, langkah ini melibatkan analisis secara seksama terhadap seluruh kerugian yang mungkin terjadi.

Menurut PBI No. 5/8/PBI/2003 tentang penerapan manajemen risiko bagi Bank Umum, proses identifikasi sekurang – kurang nya dilakukan dengan melakukan analisis terhadap karakteristik yang melekat pada Bank dan risiko dari produk serta kegiatan usaha Bank tersebut.

Sedangkan menurut Rejda (2008: 44) proses identifikasi dilihat berdasarkan:

a. Analisa risiko melalui kuesioner, dimana manajer risiko harus menjawab beberapa pertanyaan yang dapat menjelaskan kerugian besar dan kecil yang dihadapi.

b. Pemeriksaan fisik terhadap asset kepemilikan dan operasional Bank dapat mengidentifikasi kerugian besar yang mungkin terjadi.

c. Flowcharts, atau grafik menunjukkan pergerakan naik turun nya produksi barang dan jasa sebuah lembaga/institusi yang mengindikasikan pergerakan pendapatan nya.

d. Laporan keuangan. Analisa laporan keuangan dapat mengidentifikasi apa saja aset yang benar – benar harus dilindungi, kerugian dari pendapatan yang akan diterima dan pembeli serta pemasok utama.

e. Data kerugian masa lampau berguna untuk mengidentifikasi kerugian besar yang mungkin dihadapi.

2.5.3.2 Pengukuran Risiko

Proses ini berguna bagi Bank untuk mengetahui secara tepat seberapa besar risiko yang mungkin dihadapinya. Banks & Dunn (2003: 61) menyatakan proses pengukuran risiko adalah hal utama untuk menentukan risiko yang diterima oleh Bank, mengelola kemungkinan risiko yang terjadi setiap harinya dan memberikan data terkini mengenai risiko yang frekuensi keterjadian nya tinggi.

Menurut PBI No. 5/8/2003 Pasal 11 dalam mengukur risiko Bank wajib

asumsi, sumber data dan prosedur yang digunakan untuk mengukur risiko.

Dilanjutkan pula dalam Pasal 11 tersebut, pengukuran risiko dilakukan dengan menyempurnakan sistem pengukuran risiko apabila terjadi perubahan kegiatan usaha Bank, produk, transaksi dan faktor risiko yang bersifat material.

Banks & Dunn (2003:61) membagi pengukuran risiko menjadi dua bagian.

Pertama dengan mathematical measures yang menggunakan perhitungan matematis dan statitis secara terperinci. Metode yang digunakan berdasarkan pengukuran statistik, analitis, skenario, value-at-risk (VAR) dan kerugian maksimum. Kedua, dengan subjective measures yang mengandalkan pengalaman dan intuisi.

2.5.3.3 Pemantauan Risiko

Dalam memantau risiko aktivitas yang dilakukan berhubungan dengan pemonitoran dan penelusuran risiko. Thomsett (2006: 151) menyatakan aktivitas pemantauan mencakup pengamatan secara terus menerus terhadap faktor – faktor risiko yang telah dianalisa dalam proses identifikasi risiko. Tidak hanya itu, Thomsett (2006) menambahkan, penelusuran indikator – indikator yang menunjukkan bahwa risiko tersebut akan berdampak pada Bank juga dilakukan dalam tahap pemantauan risiko.

Tampubolon (2004: 130) menyatakan bahwa tahap ini tidak hanya memantau risiko yang telah diidentifikasi dan diukur, tetapi juga untuk memantau dan mengkaji efektivitas dari program mitigasi risiko. Tampubolon (2004) menambahkan, dalam memantau risiko dibutuhkan limit risiko. Pemantauan tidak hanya ditujukan kepada transaksi yang melampaui limit atau kegiatan yang menyimpang dari garis kebijakan yang telah ditetapkan, tetapi juga kecukupan limit itu sendiri.

Menurut PBI No. 5/8/2003 Pasal 11 dalam melaksanakan pemantauan risiko, Bank wajib sekurang – kurang nya melakukan evaluasi terhadap eksposur risiko dan melakukan penyempurnaan proses pelaporan apabila terdapat perubahan kegiatan

usaha Bank, produk, transaksi, faktor risiko, teknologi informasi dan sistem informasi Manajemen risiko yang bersifat material.

2.5.3.4 Pengendalian Risiko

Thomsett (2006: 150) menjelaskan proses pengendalian risiko mecakup perencanaan dan pengambilan tindakan untuk mengurangi risiko, jika hal tersebut tidak memungkinkan maka harus menggunakan strategi lain untuk meminimalkan dampak dari kegagalan.

Siahaan (2009: 131) menambahkan bahwa kebijaksanaan pengendalian risiko harus sebangun dengan rekomendasi perihal hierarki pengendalian, dimana hierarki pengendalian adalah urutan yang harus dipertimbangkan ketika memilih metode untuk mengurangi atau menurunkan risiko. Dinyatakan pula oleh Siahaan (2009) bahwa proses manajemen risiko adalah kegiatan yang terus – menerus termasuk mengkaji ulang secara reguler semua aspek kegiatan organisasi.

Menurut PBI No. 5/8/2003 Pasal 11 pelaksanaan proses pengendalian risiko wajib digunakan Bank untuk mengelola risiko tertentu yang dapat membahayakan kelangsungan usaha Bank. Dinyatakan pula dalam pasal ini, dalam melaksanakan fungsi pengendalian risiko suku bunga, risiko nilai tukar dan risiko likuiditas, Bank sekurang – kurangnya menetapkan Assets and Liabilities Management (ALMA).

Dokumen terkait