• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknik Pengujian Hipotesis

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.5 Metode Analisis Data

3.5.6 Teknik Pengujian Hipotesis

3.5.5.4 Uji Autokorelasi

Mulyono (2006: 265) menyatakan autokorelasi berarti terjadi hubungan antara error term pada satu observasi dengan error term pada observasi yang lain;

akibatnya variabel terikat pada satu observasi berhubungan dengan observasi yang lain. Sehingga autokorelasi merupakan korelasi time series. Uji autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam model regresi linier terdapat korelasi antara kesalahan variabel error pada periode t dengan kesalahan variabel error pada periode t-1 (sebelumnya), jika terjadi korelasi maka dinamakan ada problem autokorelasi (Prasnanugraha, 2007).

Winarno (2011: 5.27) Autokorelasi dapat diidentifikasi salah satunya dengan melakukan Uji Durbin-Watson. Hipotesis yang akan diuji yaitu:

Ho = tidak terdapat masalah autokorelasi di dalam model Ha = terdapat masalah autokorelasi di dalam model

Kriteria pengujian yang dilakukan Winarno (2011) dalam membangun hipotesis diatas yaitu:

Ho diterima apabila D-W stat berada pada nilai = 1.54 ≥ D-W ≤ 2.46 Ha diterima apabila D-W stat berada pada nilai = 1.54 ≤ D-W ≥ 2.46

Menurut Raeskyesa (2012), uji Goodness of fit bertujuan untuk melihat hubungan dari variabel bebas dan variabel terikat, seberapa besar pengaruhnya dan faktor lain yang mempengaruhi variabel terikat selain variabel bebas yang dibahas dalam penelitian ini.

3.5.6.1 Uji t (Parsial)

Sarwoko (2005: 65) mengartikan uji t adalah uji yang biasanya digunakan oleh para ahli ekonometrika untuk menguji hipotesis tentang koefisien – koefisien slope regresi secara individual. Dilanjutkan oleh Sarwoko (2005) uji t adalah uji yang tepat untuk digunakan apabila nilai – nilai residunya terdistribusi secara normal dan apabila varian dari distribusi itu harus diestimasi, selain itu uji lebih mudah digunakan karena menjelaskan perbedaan – perbedaan unit pengukuran variabel dan standar deviasi dari koefisien yang diestimasi.

Uji parsial (t test) dilakukan untuk menguji signifikansi pengaruh variabel – variabel independen secara individual terhadap variabel dependen. Untuk pengujian ini α yang ditetapkan adalah sebesar 5% dimana kriteria probabilitas akan dijelaskan melalui ketentuan sebagai berikut (Gujarati, 2007) :

a. Jika probability ≤ 0,05 maka berpengaruh signifikan b. Jika probability ≥ 0,05 maka tidak berpengaruh signifikan c. Coefficient “-“ = memiliki pengaruh negatif

d. Coefficient “+“ = memiliki pengaruh positif

3.5.6.2 Uji F (Simultan)

Menurut Sarwoko (2005: 72) uji F adalah suatu cara menguji hipotesis nol yang melibatkan lebih dari satu koefisien; cara bekerjanya adalah dengan menentukan apakah kecocokan (the overall fit) dari sebuah persamaan regresi berkurang secara signifikan dengan membatasi persamaan tersebut untuk menyesuaikan diri terhadap hipotesis nol. Dilanjutkan oleh Sarwoko (2005) apabila kecocokan itu berkurang secara berarti, maka kita menolak hipotesis nol dan berlaku sebaliknya.

Raeskyesa (2012) menyatakan uji F ini bertujuan untuk melihat bagaimana variabel independen secara simultan mempengaruhi variabel dependen excess return.

Ditambahkan oleh Raeskyesa (2012) dengan tingkat keyakinan α sebesar 5%, maka jika p-value lebih dari 0,05 berarti tidak ada pengaruh yang signifikan dari variabel independen secara simultan terhadap variabel dependen.

Uji F pada dasarnya menunjukan apakah semua variabel independen yang dimasukan dalam model secara bersama – sama berpengaruh terhadap variabel dependen (Gujarati, 2007). Berikut hipotesis yang dibangun Gujarati (2007):

Ho = Tidak terdapat pengaruh secara simultan Ha = Terdapat pengaruh secara simultan

Hipotesis diatas dibangun berdasarkan kriteria pengujian yaitu sebagai berikut : a. Tolak H0 jika probabilitas lebih kecil dari α = 5%

b. Terima H0 jika probabilitas lebih besar dari α = 5%

BAB IV

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.1 Objek Penelitian

Industri perbankan di Indonesia yang berkembang dengan sangat pesat menyebabkan banyaknya Bank yang bermunculan, hal ini juga dipicu dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terus berkembang. Sesuai dengan PBI No. 14/26/PBI/2012 tentang Kegiatan Usaha dan Jaringan Kantor Berdasarkan Modal Inti Bank yang menyatakan bahwa dalam rangka menghadapi dinamika regional dan global serta untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia secara optimal dan berkesinambungan, maka perlu peningkatan ketahanan, daya saing dan efisiensi industri perbankan nasional dengan melakukan pengelompokkan Bank Umum berdasarkan Kegiatan Usaha sesuai dengan modal inti nya masing – masing.

Booklet Perbankan Indonesia tahun 2014 menyatakan Bank dalam melakukan kegiatan usaha dan memperluas jaringan kantornya harus sesuai dengan kapasitas dasar yang dimiliki Bank, yaitu modal inti. Dengan beroperasi sesuai kapastiasnya, maka Bank tersebut lebih dipercaya oleh masyarakat. Hal tersebut tentunya akan meningkatkan ketahanan dan efisiensi bagi Bank karena aktivitas perbankan yang dilakukan terfokus pada aspek dan produk yang menjadi keunggulan nya.

Dinyatakan pula dalam Booklet Perbankan Indonesia tahun 2014 bahwa berdasarkan modal inti kegiatan usaha, Bank dikelompokkan menjadi empat yaitu BUKU 1, BUKU 2, BUKU 3 dan BUKU 4. Sejalan dengan besaran modal intinya, kegiatan usaha yang

terdapat pada BUKU 1 lebih bersifat layanan dasar perbankan (basic banking services).

Sedangkan untuk kegiatan usaha BUKU 2 lebih luas dari BUKU 1 dan demikian seterusnya hingga BUKU 4 yang mencakup kegiatan usaha penuh dan kompleks.

Berikut ini adalah gambaran kegiatan usaha Bank Umum yang dikategorikan dalam BUKU 1, 2, 3 dan 4.

Sumber: Booklet Perbankan Indonesia tahun 2014, Otoritas Jasa Keuangan (data diolah penulis).

Gambar 4.1

Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU)

BUKU 1

1. Kegiatan usaha dasar (basic banking services) 2. Modal Inti min. Rp 100 M s.d dibawah Rp 1 T

1. Kegiatan usaha lebih luas dan penyertaan terbatas 2. Modal inti min. Rp 1 T s.d dibawah Rp 5 T

1. Kegiatan usaha penuh dan penyertaan 2. Modal inti min. Rp 5 T s.d dibawah Rp 30 T

1. Kegiatan usaha penuh dan penyertaan lebih luas 2. Modal inti min. Rp 30 T

BUKU 2

BUKU 3

BUKU 4

Apabila aktivitas Bank Umum berdasarkan Kegiatan Usaha ini dapat berjalan dengan baik, dimana setiap Bank menjalankan lingkup aktivitas maupun produk perbankan nya secara fokus dan terarah, maka hal tersebut dapat meningkatkan performa Bank yang bersangkutan. Performa Bank yang meningkat, mengindikasikan bahwa Bank tersebut telah dipercaya masyarakat dalam memberikan pelayanan jasa perbankan nya.

Selain itu, hal tersebut juga dapat meningkatkan perekonomian di Indonesia dan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat banyak, sesuai dengan tujuan didirikan nya Bank menurut Undang – Undang No. 10 tahun 1998 atas perubahan Undang – Undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan.

Aktivitas dan produk perbankan BUKU 3 dan BUKU 4 sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia, karena kegiatan perbankan pada BUKU 3 dan 4 mencakup lingkungan regional dan lebih luas lagi. Gambaran umum Perbankan di Indonesia pun dapat tercerminkan dari kesehatan Bank yang terdapat dalam kategori BUKU 3 dan BUKU 4. Oleh karenanya, fungsi dan peranan Bank kategori BUKU 3 dan 4 apabila dapat berjalan dengan baik, dapat dikatakan ekonomi Indonesia pun sedang berkembang dengan baik. Gambaran singkat profil perbankan BUKU 3 dan BUKU 4 periode tahun 2009 – 2013 dilihat dalam bentuk grafik dapat dijabarkan sebagai berikut.

Sumber: Statistika Perbankan Indonesia,Otoritas Jasa Keuangan (data diolah penulis).

Gambar 4.2.

Perkembangan Aset Bank Umum Kegiatan Usaha 3

Gambar 4.2 menunjukkan bahwa perkembangan performa aset BUKU 3 di Indonesia periode 2009 – 2013 terus meningkat setiap tahun nya, walaupun pada beberapa Bank kenaikan kinerja aset nya tidak meningkat tajam, namun hal tersebut tetap memberikan indikasi positif bahwa aset BUKU 3 dari tahun ke tahun terus meningkat.

Peningkatan aset yang terjadi dapat disebabkan oleh berbagai hal, seperti meningkatnya permodalan bank ataupun meningkatnya laba yang turut menyebabkan

0 50,000,000 100,000,000 150,000,000 200,000,000 250,000,000

2009 2010 2011 2012 2013

Kinerja Aset BUKU 3

Bank OCBC NISP Bank BJB Bank CIMB Niaga

Bank Mega Bank Bukopin Bank DBS

Bank BTPN Bank Sumitomo Mitsui Bank UOB

Bank Mizuho Bank Panin Bank Danamon

Bank Permata Bank BII Bank BTN

Sumber: Statistika Perbankan Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (data diolah penulis).

Gambar 4.3.

Perkembangan Aset Bank Umum Kegiatan Usaha 4

Gambar 4.3. menunjukkan bahwa perkembangan performa aset BUKU 4 di Indonesia mengalami peningkatan yang stabil dan terus menerus setiap tahun nya. Bank kategori BUKU 4 merupakan Bank yang memiliki lingkup aktivitas perbankan paling luas dibandingkan Bank kategori BUKU lainnya, selain itu Bank kategori BUKU 4 merupakan gambaran umum perbankan di Indonesia. Oleh karena itu, sudah seharusnya Bank yang termasuk dalam kategori ini menjadi perhatian khusus bagi Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan agar selalu dalam keadaan yang sehat. Maka dari itu, apabila performa aset Bank dalam kategori BUKU ini terus meningkat, dapat dikatakan bahwa perekonomian Indonesia dalam kondisi stabil.

0 100,000,000 200,000,000 300,000,000 400,000,000 500,000,000 600,000,000 700,000,000

Bank BCA Bank Mandiri Bank BNI Bank BRI

Kinerja Aset BUKU 4

2009 2010 2011 2012 2013

Tidak hanya itu, perkembangan kinerja keuangan Bank dapat dilihat pula dari rasio Return On Asset (ROA) suatu Bank. Berikut ini gambaran perkembangan rasio ROA Bank BUKU 3 dan 4 periode 2009 – 2013.

Sumber: Statistika Perbankan Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (data diolah penulis).

Gambar 4.4

Perkembangan Return On Asset (ROA) BUKU 3

Gambar 4.4 menunjukkan bahwa perkembangan ROA BUKU 3 tidak selalu mengalami peningkatan disetiap Bank, terbukti dengan ROA milik Bank Sumitomo dan Bank Jabar Banten yang setiap tahun nya mengalami penurunan. Nilai ROA merupakan

0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 5

2009 2010 2011 2012 2013

ROA BUKU 3

OCBC NISP BTN Danamon Panin Bank

Bukopin CIMB Niaga Bank Mega BII

Permata Bank BTPN Sumitomo UOB Indonesia

Mizuho Indonesia DBS Indonesia BJB

turun nya nilai ROA pada BUKU 3 periode 2009 – 2013 disebabkan oleh fluktuasi keadaan ekonomi yang terjadi di Indonesia. ROA pada BUKU 3 yang terus meningkat disebabkan oleh laba bersih Bank tiap tahun nya meningkat dan manajemen aset berjalan dengan baik. Sebaliknya apabila ROA turun, dapat disebabkan oleh laba bersih Bank yang menurun serta manajemen aset tidak berjalan dengan baik.

Sumber: Statistika Perbankan Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (data diolah penulis).

Gambar 4.5

Perkembangan Return On Asset (ROA) BUKU 4

Gambar 4.5 menunjukkan bahwa BUKU 4 secara stabil mengalami kenaikan pada Return On Asset (ROA) nya, namun Bank Mandiri terlihat mengalami kenaikan dan penurunan pada tahun 2009 hingga 2011. Hal tersebut mungkin terjadi karena laba

0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00

2009 2010 2011 2012 2013

ROA BUKU 4

Mandiri BNI BRI BCA

bersih Bank Mandiri pada tahun 2011 mengalami penurunan, yang disebabkan manajemen aset dalam Bank Mandiri kurang berjalan dengan baik.

Rasio Non Performing Loan pun menjadi fokus penelitian karena digunakan sebagai proksi dari penggambaran risiko kredit yang dialami Bank. Perkembangan rasio NPL pada BUKU 3 dan 4 periode 2009 – 2013, digambarkan dalam grafik sebagai berikut.

Sumber: Statistika Perbankan Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (data diolah penulis).

Gambar 4.6

Perkembangan Non Performing Loan (NPL) BUKU 3

Gmbar 4.6 diatas menunjukkan bahwa perkembangan rasio NPL yang menjadi

0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 5

2009 2010 2011 2012 2013

NPL BUKU 3

OCBC NISP BTN Danamon Panin Bank

Bukopin CIMB Niaga Bank Mega BII

Permata Bank BTPN Sumitomo UOB Indonesia

Mizuho Indonesia DBS Indonesia BJB

NISP, Permata Bank, CIMB Niaga dan Bank Mizuho Indonesia mengalami penurunan yang stabil dari tahun 2009 sampai dengan 2013. Hal tersebut mengindikasikan bahwa kredit macet yang dimiliki oleh Bank yang bersangkutan mengalami penurunan setiap tahun nya dan menunjukkan bahwa risiko kredit yang dialami Bank tersebut berkurang.

Sumber: Statistika Perbankan Indonesia, Otoritas Jasa Keuntungan (data diolah penulis).

Gambar 4.7

Perkembangan Non Performing Loan (NPL) BUKU 4

Gambar 4.7 menunjukkan bahwa rasio NPL Bank kategori BUKU 4 mengalami penurunan secara terus menerus setiap tahun nya, hal ini mengindikasikan bahwa risiko kredit yang ditanggung Bank pada kategori BUKU 4 semakin berkurang. Artinya, penerapan manajemen risiko kredit dalam menanggulangi kredit macet telah berjalan dengan baik dan berkelanjutan.

0 1 2 3 4 5

2009 2010 2011 2012 2013

NPL BUKU 4

Mandiri BNI BRI BCA

Dalam melihat risiko likuiditas Bank, dapat menggunakan Loan to Deposit Ratio (LDR) sebagai variabel proksi. Perkembangan rasio LDR pada Bank kategori BUKU 3 dan 4 periode 2009 – 2013 digambarkan dalam grafik berikut.

Sumber: Statistika Perbankan Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (data diolah penulis).

Gambar 4.8

Perkembangan Loan to Deposit Ratio (LDR) BUKU 3

Gambar 4.8 menunjukkan bahwa nilai LDR bergerak stabil hampir diseluruh Bank

0 50 100 150 200 250

2009 2010 2011 2012 2013

LDR BUKU 3

OCBC NISP BTN Danamon Panin Bank Bukopin CIMB Niaga Bank Mega BII

Permata Bank BTPN

Sumitomo UOB Indonesia Mizuho Indonesia DBS Indonesia BJB

2013 diantara 50 – 100 persen. Namun, pada Bank Sumitomo dan Mizuho Indonesia nilai LDR mengalami perkembangan terus menerus hingga mencapai angka lebih dari 150 persen. Tentunya nilai tersebut sudah sangat jauh melambung diatas nilai LDR yang baik menurut PBI No. 15/15/PBI/2013 tentang Giro Wajib Minimum Bank Umum, yaitu 78 – 92 persen.

Sumber: Statistika Perbankan Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (data diolah penulis).

Gambar 4.9

Perkembangan Loan to Deposit Ratio (LDR) BUKU 4

Gambar 4.9 menunjukkan bahwa perkembangan LDR pada Bank kategori BUKU 4 selalu stabil dan tidak melebihi nilai 100 persen, namun LDR yang rendah pun tidak baik bagi kesehatan Bank. Karena hal tersebut mengindikasikan bahwa Bank yang bersangkutan mengalami risiko likuiditas, LDR yang rendah menunjukkan bahwa

0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00 80.00 90.00 100.00

2009 2010 2011 2012 2013

LDR BUKU 4

Mandiri BNI BRI BCA

kemampuan Bank dalam memenuhi kewajiban jangka pendek nya kurang baik. Bank Mandiri, BRI dan BNI dapat dikatakan memiliki nilai LDR yang baik karena selama periode 2009 – 2013 nilai LDR nya berada diantara 50 – 100 persen. Sedangkan bagi Bank Central Asia (BCA) nilai LDR pada tahun 2009 – 2013 hanya berada diantara 50 – 72 persen.

Terakhir, variabel proksi dari risiko pasar dalam penelitian ini adalah Posisi Devisa Neto (PDN). PDN merupakan risiko pasar yang dilihat dari indikator risiko kurs mata uang atau nilai tukar.

Sumber: Statistika Perbankan Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (data diolah penulis).

Gambar 4.10

0.00 2.00 4.00 6.00 8.00 10.00 12.00 14.00 16.00

2009 2010 2011 2012 2013

PDN BUKU 3

OCBC NISP BTN Danamon Panin Bank Bukopin CIMB Niaga Bank Mega BII

Permata Bank BTPN

Sumitomo UOB Indonesia Mizuho Indonesia DBS Indonesia BJB

Berdasarkan Gambar 4.10 diatas, perkembangan PDN yang sangat signifikan terlihat adalah DBS Indonesia. Dimana pada tahun 2009 nilai PDN yang dimiliki sangat tinggi bahkan mencapai 14 persen, hal tersebut menunjukkan bahwa DBS Indonesia mengalami risiko pasar yang diproksikan dalam variabel PDN. Tidak hanya itu, pada tahun 2012 pun Bank Mega, BII dan Bank Permata mengalami kenaikan tajam pada rasio PDN nya. Namun, diakhir tahun 2013 nilai PDN keseluruhan Bank kategori BUKU 3 mulai stabil diantara 0 – 5 persen.

Sumber: Statistika Perbankan Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (data diolah penulis).

Gambar 4.11

Perkembangan Posisi Devisa Neto (PDN) BUKU 4

Gambar 4.11 menunjukkan bahwa Bank Mandiri dan BCA selalu dalam keadaan stabil pada rasio PDN yang menunjukkan risiko pasar. Hal tersebut dapat dilihat dari

0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00

2009 2010 2011 2012 2013

PDN BUKU 4

Mandiri BNI BRI BCA

nilai PDN Bank Mandiri mulai dari tahun 2009 – 2013 yang berada dikisaran 1 – 3 persen. Begitu juga dengan BCA, rasio PDN yang dimilikinya berada diantara 0 – 1 persen. Pada tahun 2012 dan 2013, nilai rasio PDN seluruh Bank kategori BUKU 4 pun mulai bergerak stabil secara bersamaan pada kisaran 0 – 3.5 persen.

4.2 Populasi dan Sampel Penelitian

Objek yang digunakan dalam penelitian ini adalah Perbankan. Populasi penelitian ini adalah seluruh Bank Umum yang berada di Indonesia periode 2009 – 2013. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 110 Bank yang terdiri dari Bank Umum Milik Negara (BUMN) sebanyak 4 Bank, Bank Devisa sebanyak 38 Bank, Bank Non Devisa sebanyak 22 Bank, Bank Pembangunan Daerah (BPD) sebanyak 26 Bank, Bank Campuran sebanyak 10 Bank dan Bank Asing sebanyak 10 Bank (lampiran 1).

Penentuan sampel menggunakan metode purposive sampling sehingga sampel yang memenuhi kriteria digunakan sebagai model penelitian. Kriteria sampling yang digunakan dijelaskan dalam tabel sebagai berikut.

Tabel 4.1 Penentuan Sampel

No Kriteria Sampel Jumlah

1 Bank yang termasuk Bank Umum tahun 2009 – 2013 110

2 Bank kategori BUKU III dan BUKU IV 19

3 Bank benar - benar masih beroperasi pada periode tahun 2009 - 2013 19 4 Bank telah terdaftar di BEI sejak tahun 2009 atau sebelumnya 14

5 Bank Umum yang masuk dalam kategori Bank Devisa 13

6 Bank tidak memiliki data secara lengkap

(Laporan Keuangan dan GCG) -

Jumlah sampel akhir 13

Periode pengamatan (tahunan - kuartal) 5 tahun

(4 kuartal per tahun)

Jumlah pengamatan 260

Sumber: Data diolah penulis (2015).

Berdasarkan kriteria purposive sampling maka sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebanyak 13 Bank Umum dengan Kategori Usaha 3 dan 4.

Adapun sampel dalam penelitian ini dijelaskan dalam bentuk tabel sebagai berikut.

Tabel 4.2 Sampel Penelitian

Sumber: www.infobanknews.com 4.3 Analisa Statistika Deskriptif

Berdasarkan pengolahan data, diperoleh hasil analisa deskriptif dari ke – empat variabel penelitian. Berikut adalah tabel yang menampilkan hasil statistik deskriptif dalam penelitian ini.

Tabel 4.3

Hasil Analisa Statistika

No. Bank Umum Kategori Usaha (BUKU 3 dan 4) 1 Bank OCBC NISP

2 Bank Internasional Indonesia (BII) 3 Permata Bank

4 Bank Tabungan Negara (BTN) 5 Bank Danamon Indonesia 6 Panin Bank

7 Bank CIMB Niaga 8 Bank Mega 9 Bank Bukopin 10 Bank Mandiri 11 Bank Central Asia 12 Bank Negara Indonesia 13 Bank Rakyat Indonesia

ROA NPL LDR PDN

Mean 2.286807 2.677563 8171.008 2.676008

Median 1.995000 2.675000 8371.500 1.930000

Maximum 3.920000 6.350000 11604.00 14.23000

Berdasarkan perhitungan yang telah tertulis pada tabel 4.3 maka dapat diketahui bahwa:

1. Variabel Return On Asset (ROA) sebagai variabel dependen dalam penelitian ini menunjukkan nilai rata – rata (mean) sebesar 2.286807 dengan nilai standar deviasi sebesar 0.790022. Berdasarkan lampiran 3, ROA terbesar dimiliki oleh Bank Rakyat Indonesia (BRI) pada tahun 2009 kuartal 1 (satu) yaitu sebesar 3.92%, sedangkan ROA terkecil dimiliki oleh Bank Internasional Indonesia (BII) pada tahun 2009 kuartal 1 (satu) yaitu sebesar 0.12%. Standar deviasi pada variabel ini lebih kecil dibandingkan nilai rata – rata (mean), artinya data di dalam variabel ini terdistribusi dengan baik.

2. Variabel Non Performing Loan (NPL) sebagai variabel independen dalam penelitan ini menunjukkan nilai rata – rata (mean) sebesar 2.677563 dengan nilai standar deviasi 1.243963. Berdasarkan lampiran 3, NPL terbesar dimiliki oleh Bank Negara Indonesia (BNI) pada tahun 2009 kuartal 3 (tiga) sebesar 6.35% sedangkan NPL terkecil dimiliki oleh Bank Central Asia (BCA) pada tahun 2012 kuartal 4 (empat) sebesar 0.38%. Standar deviasi pada variabel ini lebih kecil dibandingkan nilai rata – rata (mean), artinya data di dalam variabel ini terdistribusi dengan baik.

3. Variabel Loan to Deposit Ratio (LDR) sebagai variabel independen dalam penelitian ini menunjukkan nilai rata – rata (mean) sebesar 8171.008 dengan nilai standar deviasi sebesar 1479.509. Berdasarkan lampiran 3, LDR terbesar dimiliki oleh Bank Tabungan Negara (BTN) pada tahun 2010 kuartal 2 (dua)

(BCA) pada tahun 2009 kuartal 3 (tiga) sebesar 47.79%. Standar deviasi pada variabel ini lebih kecil dibandingkan nilai rata – rata (mean), artinya data didalam variabel ini terdistribusi dengan baik.

4. Variabel independen terakhir dalam penelitian ini, yaitu Posisi Devisa Neto (PDN) menunjukkan nilai rata – rata (mean) sebesar 2.676008 dengan nilai standar deviasi sebesar 2.515446. Berdasarkan lampiran 3, PDN terbesar dimiliki oleh Bank Rakyat Indonesia (BRI) pada tahun 2009 kuartal 2 (dua) yaitu sebesar 14.23% sedangkan PDN terkecil dimiliki oleh Bank Central Asia (BCA) pada tahun 2009 kuartal 1 (satu) yaitu sebesar 0.08%. Standar deviasi pada variabel ini lebih kecil dibandingkan nilai rata – rata (mean), artinya data didalam variabel ini terdistribusi dengan baik.

4.4 Hasil Regresi Persamaan Penelitian 4.4.1 Uji Chow

Uji ini dilakukan untuk mengetahui apakah model penelitian menggunakan Fixed Effect atau Common Effect. Berikut hasil uji Chow dalam penelitian ini.

Tabel 4.4 Hasil Uji Chow

Test cross-section fixed effects

Effect Test Statistic d.f. Prob.

Cross Section F 55.300775 (12,222) 0.0000

Cross-Section Chi-Square 329.296442 12 0.0000

Berdasarkan tabel 4.4 hasil Uji Chow menunjukkan nilai probabilitas Cross- Section Chi-Square adalah 0.0000. Nilai probabilitas ini lebih rendah dari kriteria pengujian yang memberikan batasan Chi-Square sebesar 0.05. Hal tersebut menyebabkan Ho ditolak dan Ha diterima. Sehingga, model fit bila menggunakan Fixed Effect Model.

Kemudian penelitian ini dilanjutkan dengan menggunakan model Fixed Effect yang selanjutnya dilakukan uji Hausman.

4.4.2 Uji Hausman

Uji ini dilakukan untuk menentukan apakah estimasi regresi data panel menggunakan Fixed Effect atau Random Effect. Hasil dari Uji Hausman dalam penelitian ini, dijabarkan dalam tabel sebagai berikut.

Tabel 4.5 Hasil Uji Hausman

Test Cross-section random effects

Test Summary Chi-Sq. Statistic Chi-Sq. d.f. Prob.

Cross-section random 3.837628 3 0.2795

Sumber: Data diolah Penulis (2015).

Tabel 4.5 menunjukkan nilai probabilitas Cross-Section Random sebesar 0.2795.

Nilai probabilitas berada diatas kriteria batasan Cross-Section Random dalam penelitian ini yaitu 0.05. Hal tersebut menyebabkan Ho diterima dan Ha ditolak.

Sehingga model regresi data panel yang fit digunakan dalam penelitian adalah model

4.4.3 Hasil Analisis Regresi Berganda

Metode penelitian ini menggunakan metode analisis regresi linier berganda. Terdiri dari 13 Bank dengan data penelitian selama 5 (lima) tahun, setiap tahun nya data yang digunakan merupakan data kuartal. Sehingga terdapat 260 data, namun setelah dilakukan outlier pada data penelitian maka data yang digunakan sebanyak 238 data.

Persamaan yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut:

ROA = α + β1 NPLit + β2 LDRit + β3 PDNit +

ε

it

Analisis hasil dari model regresi penelitian menggunakan data yang dirangkum dalam tabel sebagai berikut.

Tabel 4.6

Hasil Regresi Model Penelitian dengan Menggunakan Random Effect Model

No. Variable Coefficient Std. Error t-statistic Prob. Kesimpulan

1. C 2.671775 0.423514 6.308585 0.0000

2. NPL -0.106789 0.051712 -2.065079 0.0401 Signifikan 3. LDR 2.850006 4.160005 0.068449 0.9455 Tidak Signifikan 4. PDN 0.003382 0.009744 0.347112 0.7288 Tidak Signifikan 5. AR(1) 0.905254 0.027685 32.69796 0.0000

6. R-squared 0.843192

7. Adjusted R-squared 0.840261

8. F-statistic 287.6812

9. Prob. (F-statistic) 0.000000

10. Durbin-Watson stat. 2.273265

11. Inverted AR Roots 0.91

Sumber: Data diolah Penulis (2015).

Berdasarkan hasil regresi model penelitian diatas, maka diperoleh persamaan regresi linier berganda sebagai berikut:

Persamaan linier berganda diatas dijelaskan sebagai berikut:

a. Apabila variabel Non Performing Loan (NPL), Loan to Deposit Ratio (LDR) dan Posisi Devisa Neto (PDN) bernilai nol, maka nilai konstanta Return On Asset (ROA) sebesar 3.577029.

b. Koefisien regresi untuk Non Performing Loan (NPL) sebesar –0.106789. Hal ini menunjukkan bahwa Return On Asset (ROA) akan mengalami penurunan sebesar 0.106789% untuk setiap kenaikan satu persen NPL dan sebaliknya. Hal tersebut dengan asumsi variabel lain adalah konstan.

c. Koefisien regresi untuk Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 2.850006. Hal ini menunjukkan bahwa Return On Asset (ROA) akan mengalami peningkatan sebesar 2.850006% untuk setiap kenaikan satu persen LDR dan sebaliknya. Hal tersebut dengan asumsi variabel lain adalah konstan.

d. Koefisien regresi untuk Posisi Devisa Neto (PDN) sebesar 0.003382. Hal ini menunjukkan bahwa Return On Asset (ROA) akan mengalami peningkatan sebesar 0.003382% untuk setiap kenaikan satu persen PDN dan sebaliknya. Hal tersebut dengan asumsi variabel lain adalah konstan.

Berdasarkan hasil koefisien regresi dari ketiga variabel independen yang diuji pada penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa Loan to Deposit Ratio (LDR) memiliki koefisien regresi terbesar yaitu 2.850006. Dengan kata lain bahwa Loan to Deposit Ratio merupakan variabel dominan yang berpengaruh dalam kinerja keuangan Bank yang di proksikan melalui Return On Asset (ROA).

Dokumen terkait