• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEMISKINAN

Dalam dokumen BUKU 3 KOMUNIKASI, MEDIA DAN NEW MEDIA (Halaman 113-133)

Bonardo Marulitua A., S.Sos., M.I.Kom Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga

PENDAHULUAN

Industri kreatif yang menjelma dalam kekuatan media televisi telah menjawab kebutuhan manusia akan informasi. Berbagai macam konten telah mampu diproduksi, dikemas dan disajikan secara apik dan kreatif dalam media pandang dengar bernama televisi. Banyak jenis tayangan yang disuguhkan televisi kepada masyarakat, mulai dari hiburan, pendidikan, informasi, reality show, variety show, musik, film, sinetron, dan lain-lain.

Namun tontonan yang lagi-lagi berujung pada perolehan rating kerapkali melupakan unsur edukasi dalam setiap acara yang disajikan. Tayangan sensasional dan eksploitasi terhadap kalangan tertentu telah ‘menggeser’

unsur-unsur edukasi. Saat ini program reality show menjadi tayangan televisi yang semakin hari semakin diminati, bahkan mampu menempati posisi prime time di Indonesia.

Tayangan televisi di zaman sekarang pun dipandang semakin tidak bisa dikontrol. Tak bisa dipungkiri bahwa implikasi dari runtuhnya rezim orde baru yang melahirkan kebebasan pers menunjukkan wajah baru media massa. Kebebasan tersebut dimanfaatkan oleh para pemilik media, terutama televisi dengan menunjukkan taringnya lewat acara-acara yang bervariasi dan kreatif, namun lagi-lagi menerobos “tembok-tembok” regulasi.

Televisi kerapkali menampilkan wajah barunya sebagai industri yang menjalankan “bisnis kotornya” dengan memproduksi dan menyajikan tontonan-tontonan yang jauh dari unsur edukasi. Secara manajerial perusahaan, media memang harus meraup untung dan sebisa mungkin menghindari kerugian, karena itu industri media televisi bisa dikatakan sebagai bisnis yang berdarah-darah.

Alhasil, demi kepentingan bisnisnyapara pekerja media kemudian memproduksi program-program televisi yang berorientasi pada unsur sensasional alias tidak berkualitas dan hanya mengutamakan kepentingan ekonomi dan politik media. Dan pada akhirnya yang terpenting bagi pihak media adalah tayangan yang disajikan menjadi laku, serta memperoleh rating tinggi, sementara efek dari tayangan tersebut tidak menjadi perhatian utama.

Dewasa ini kemiskinan dan kisah hidup kaum miskin telah menjadi tayangan populer yang diangkat menjadi realitas di televisi. Realitas menurut Ishadi SK (2014: 11) merupakan hasil bentukan dari proses-proses ekonomi, sosial, politik, dan budaya yang terjadi di suatu masyarakat yang biasanya “menyelubungi” realitas sebenarnya. Sehingga asumsinya, tidak ada realitas yang benar-benar bersifat riil, melainkan dibentuk oleh manusia itu sendiri. Tayangan realitas tentang kelas bawah cenderung menampilkan banalitas pesan seputar kemiskinan. Pada akhirnya, persoalan kemiskinan hanya dianggap sebagai problem individual yang bisa diselesaikan lewat sebuah tayanganreality show di televisi.

Hal tersebut tersaji secara apik dan kreatif dalam tayangan reality show bertajuk “Mikrofon Pelunas Utang” milik stasiun televisi swasta INDOSIAR.

Tayangan tersebut dikemas secara berlebihan dengan mengeksploitasi si miskin yang “memburu” uang sebagai pelunas utangnya. Dalam setiap episodenya

Mikrofon Pelunas Utang” menghadirkan dua peserta untuk menceritakan kisah dan kesulitan hidup karena terbelit utang. Karena memang tujuan dari acara ini adalah memberikan solusi dengan membayarkan seluruh utang para peserta. Syarat mendapatkan uang untuk melunasi utang tersebut adalah kedua peserta harus menyanyikan sebuah lagu yang akan dikomentari oleh tiga orang juri. Peserta dengan penampilan menyanyi terbaik pilihan juri akan maju ke babak bonus yang akan dihadapkan dengan 10 mikrofon, namun hanya ada satu yang menyala. Jika peserta berhasil memilih dengan tepat satu mikrofon yang menyala, maka seluruh utangnya akan lunas. Namun jika peserta belum berhasil memilih mikrofon yang tepat, maka ia hanya akan diberi uang satu juta rupiah sebagai hadiah.

Acara ini tentu tak lebih dari sekadar “menjual” kemiskinan dan kesulitan yang dialami si miskin. Kemiskinan yang terbungkus lengkap dalam besarnya utang yang membelit para peserta justru menjadi komoditas yang menarik untuk ditonton dan mengaduk-aduk perasaan pemirsa guna meraup rating. Menurut Nugroho (1995), kemiskinan merupakan suatu

kondisi ketidakmampuan secara ekonomi untuk memenuhi standar hidup rata-rata masyarakat di suatu daerah. Kondisi tersebut ditandai dengan rendahnya kemampuan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan pokok, baik berupa pangan, sandang, maupun papan. Hal tersebut juga akan berdampak berkurangnya kemampuan untuk memenuhi standar hidup rata-rata seperti standar kesehatan masyarakat dan standar pendidikan.

Kondisi masyarakat yang disebut miskin dapat diketahui berdasarkan kemampuan pendapatan dalam memenuhi standar hidup.

Sementara itu, berdasarkan Undang-Undang No. 24 Tahun 2004, kemiskinan adalah kondisi sosial ekonomi seseorang atau sekelompok orang yang tidak terpenuhinya hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Kebutuhan dasar yang menjadi hak seseorang atau sekelompok orang meliputi kebutuhan pangan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, perumahan, air bersih, pertanahan, sumber daya alam, lingkungan hidup, rasa aman dari perlakuan atau ancaman tindak kekerasan, dan hak untuk berpartisipasi dalam penyelenggaraan kehidupan sosial dan politik. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pada bulan Maret 2017, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan) di Indonesia mencapai 27,77 juta orang (10,64 persen), bertambah sebesar 6,90 ribu orang dibandingkan dengan kondisi September 2016 yang sebesar 27,76 juta orang (10,70 persen).

Disini televisi mengemas kemiskinan dengan format acara semenarik mungkin. Bahkan INDOSIAR lewat tayangan “Mikrofon Pelunas Utang”

nya, seolah-olah berpihak kepada kelas bawah, dan berupaya menjadi pahlawan untuk kelas marginal. Padahal jika dilihat secara kritis tujuannya tidak lebih hanya untuk mencari keuntungan. Para produser dapat meraih keuntungan dari program tayangan dengan iklan dan sponsor. Meskipun hal tersebut juga menguntungkan si miskin sesuai dalih sang produser, namun tidak dapat kita abaikan kepentingan besar yang ada di balik realitas kemiskinan tersebut. Kaum kapitalis juga menempatkan orang- orang miskin sebagai kelompok yang harus dibantu dan dikasihanidengan keterbatasan dan kesulitan hidup atas utang yang membelit mereka. Para peserta “Mikrofon Pelunas Utang”menjadi suguhan menarik bagi media massa. Mereka hadir dan hidup dalam kepalsuan dunia media massa. Para peserta muncul sebagai komoditi pasar, yang mampu meraup rating tinggi saat dikasihani publik karena kemiskinannya. Kisah hidup yang dramatis

dan keterbatasan kemampuan dalam bernyanyi sebagai tantangannya, justru menjadi hiburan yang menghidupkan suasana di studio. Sehingga lagi-lagi kemiskinan dan ketidakmampuan para peserta menjadi sasaran empuk yang merupakan bahan komoditas menarik bagi kaum kapitalis.

Nilai fungsi yang telah berubah menjadi nilai jual tersebut, oleh Mosco disebut sebagai komodifikasi. Komodifikasi (commodification) adalah titik masuk awal untuk menteorisasikan ekonomi politik komunikasi. Mosco (2009) mendefinisikan komodifikasi sebagai “proses mengubah barang dan jasa, termasuk komunikasi, yang dinilai karena kegunaannya, menjadi komoditas yang dinilai karena apa yang akan mereka berikan di pasar.

(Subandy, Ali, 2014: 17)

Tayangan reality show “Mikrofon Pelunas Utang” tersusun dalam dua elemen, yakni audio dan visual. Tak ada pesan yang disampaikan tanpa makna. Sehingga pesan-pesan baik yang berupa audio maupun visual akan dibongkar maknanya dalam penelitian ini. Baik elemen audio maupun visual akan dipandang sebagai sebuah tanda.Realitas kemiskinan dalam tayangan “Mikrofon Pelunas Utang” telah menjadi teks. Teks tak pernah menyajikan realita secara utuh. Namun teks sarat dengan berbagai kepentingan. Teks membawa beragam ideologi. Tujuan utama yang hanya untuk mencari keuntungan, kemudian melegalkan segala cara. Bahkan hingga menggeser paham-paham kemanusiaan.

Menurut Sobur tanda adalah representasi dari gejala yang memiliki sejumlah kriteria. (Sobur, 2012: 124). Tanda berkaitan dengan denotasi, konotasi, dan mitos. Barthes menyebutkan denotasi, yaitu makna paling nyata dari tanda. Konotasi adalah makna subjektif atau paling tidak intersubjektif. Hal ini menggambarkan interaksi tanda bertemu dengan emosi dan nilai-nilai kebudayaan. Sedangkan mitos adalah bagaimana cara pandang kebudayaan mengenai sebuah fenomena.

Penelitian ini akan memfokuskan penelitiannya kepada upaya pemaknaan akan sebuah tanda. Dalam hal ini tanda yang dimaksud adalah kemiskinan yang muncul dalam tayangan reality show “Mikrofon Pelunas Utang” di INDOSIAR.

Ekonomi Politik Media

Pemikiran Karl Marx tentang kritik atas kapitalisme dan determinisme ekonomi yang dikritisi para ilmuwan Mazhab Frankfurt (teori kritis) dan Mazhab Birmingham (cultural studies) mengaktualisasi teori hegemoni.

Dalam kajian media, pemikiran Antonio Gramsci itu menunjukkan wajah perspektif ekonomi politik yang sesungguhnya. Eatwell, Milgate, dan Newsman (1987: 907), seperti dikutip Baran dan Davis, mendefinisikan bahwa ekonomi politik merupakan ilmu kekayaan yang berhubungan dengan usaha manusia guna mendapatkan kebutuhan dan memuaskan keinginannya.

Namun dalam bahasa yang berbeda, Dennis McQuail (2011: 105) membuat batasan bahwa ekonomi politik merupakan pendekatan kritik sosial yang berfokus pada hubungan antara struktur ekonomi dan dinamika industri media dan konten ideologis media. Dari sudut pandang ini, lembaga media dianggap sebagai bagian dari sistem ekonomi dengan hubungan eratnya kepada sistem politik. Konsekuensinya terlihat dalam berkurangnya sumber media yang independen, konsentrasi kepada khalayak yang lebih besar, menghindari resiko dan mengurangi penanaman modal pada tugas media yang kurang menguntungkan (misalnya laporan investigasi dan pembuatan film dokumenter).

Sedangkan menurut Vincent Mosco (2009: 2-3), ekonomi politik merupakan studi tentang hubungan sosial, khususnya hubungan kekuasaan dari sumber daya, termasuk sumber daya komunikasi. Bahkan Mosco mempertajamnya dengan menunjukkan adanya aspek kekuasaan di balik kegiatan produksi, distribusi, dan konsumsi. Definisi yang lebih umum adalah studi tentang kontrol dan kelangsungan hidup dalam kehidupan sosial. Kontrol terutama mengacu bagaimana masyarakat mengorganisasi dirinya sendiri, mengelola urusan dan beradaptasi, atau gagal untuk beradaptasi dengan perubahan tak terelakkan yang semua masyarakat hadapi. Kelangsungan hidup berarti bagaimana orang menghasilkan apa yang mereka butuhkan untuk memperbanyak diri untuk menjaga masyarakat. Menurut penafsiran ini, kontrol adalah proses politik karena membentuk hubungan dalam masyarakat dan kelangsungan hidup terutama ekonomi karena keterlibatan proses produksi dan reproduksi. Ekonomi politik juga ditandai dengan minat dalam memeriksa seluruh sosial atau totalitas dalam membentuk hubungan sosial, wilayah ekonomi, politik, sosial dan kehidupan budaya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ekonomi politik media adalah perspektif tentang kekuasaan pemilik modal dan politik sebagai basis ekonomi dan ideologi industri media dalam memenuhi kebutuhan dan kepuasan masyarakat, yang ditandai kompromi kepada pasar melalui produk-produk “budaya” komersial.

Komodifikasi dan Bisnis Kotor Media Massa

Untuk dapat memahami konsep ekonomi politik media secara keseluruhan, Vincent Mosco (2009: 11) menawarkan tiga konsep dasar yang harus dipahami, yakni komodifikasi, spasialisasi dan strukturasi. Namun dalam hal ini peneliti memfokuskan pada konsep komodifikasi. Komodifikasi merupakan kata kunci yang dikemukakan oleh Karl Marx sebagai “ideologi”

yang bersemayam di balik media. Marx memaknai kata tersebut sebagai upaya mendahulukan peraihan keuntungan dibandingkan tujuan-tujuan lain (Burton, 2008: 198). Akar dalam teoritisi Marx mengenai komoditas yang merupakan jantung kapitalisme. Pandangan Marx tentang komoditas berakar pada orientasi materialisnya, dengan fokus pada aktifitas-aktifitas produktif para aktor. Di dalam interaksi-interaksi mereka dengan alam dan dengan para aktor lain, orang-orang memproduksi objek-objek yang mereka butuhkan untuk bertahan hidup. Objek-objek ini diproduksi untuk digunakan oleh dirinya sendiri atau orang lain di dalam lingkungan terdekat. Inilah yang disebut Marx dengan nilai-guna komoditas. Para aktor bukanlah memproduksi untuk dirinya atau asosiasi langsung mereka, melainkan untuk orang lain (kapitalis).

Produk-produk memiliki nilai tukar artinya, bukannya digunakan langsung, tapi dipertukarkan di pasar demi uang atau demi objek-objek yang lain. Menurut Marx, komoditas adalah sesuatu yang misterius, karena di dalamnya karakter sosial dari kerja seseorang akan dia lihat sebagai karakter objektif yang tercap pada produk kerja tersebut karena relasi para produser dengan seluruh kerja mereka dihadirkan kepada mereka sebagai sebuah relasi sosial, relasi yang tidak eksis di antara mereka, melainkan diantara produk-produk kerja mereka itu sendiri. (Marx, dalamRitzer dan Goodman, 2008:59-60).

Praktik komodifikasi menurut Mosco (2009: 134) adalah proses perubahan barang dan jasa yang semula dinilai semata-mata karena kegunaannya menjadi komoditas yang dinilai karena ia laku di pasar sehingga menguntungkan. Komodifikasi menjadi titik masuk untuk memahami praktik-praktik dan institusi-institusi komunikasi yang khusus.

Dalam konsep komodifikasi ini Mosco (2009: 134) menyebutkan bahwa komunikasi merupakan arena potensial tempat terjadinya komodifikasi.

Hal ini dikarenakan komunikasi merupakan komoditas yang sangat besar pengaruhnya karena yang terjadi bukan hanya komodifikasi untuk mendapatkan surplus value, tapi juga karena pesan yang disampaikan mengandung simbol dan citra yang bisa dimanfaatkan untuk mempertajam

kesadaran penerima pesan. Mosco (2009: 135-139) menyebutkan bahwa dalam komunikasi ada tiga bentuk komodifikasi yaitu:

a) Komodifikasi konten, dimana telah terjadi transformasi pesan dari hanya sekedar data menjadi sistem pemikiran penuh makna dalam bentuk produk yang dapat dipasarkan.

b) Komodifikasi audiens, dimana audiens dijadikan komoditas yang ‘dijual’

kepada para pengiklan. Audiens dijadikan komoditi para media untuk mendapatkan iklan dan pemasukan. Kasarnya media biasanya menjual rating atau share kepada advertiser untuk dapat menggunakan airtime atau waktu tayang. Caranya adalah dengan membuat program yang dapat mencapai angka tertinggi daripada program di stasiun televisi lain.

c) Komodifikasi pekerja, dimana keahlian dan jam kerja para pekerja dijadikan komoditas dan dihargai dengan gaji. Proses komodifikasi erat kaitannya dengan produk, sedangkan proses produksi erat dengan fungsi atau guna pekerjanya,pekerja telah menjadi komoditas dan telah dikomodifikasikan oleh pemilik modal. Yaitu dengan mengeskploitasi mereka dalam pekerjaannya.

Pada media televisi, praktik komodifikasi biasanya ditandai dengan diubahnya konten (teks media) menjadi komoditas untuk mendapatkan profit. Salah satu strategi dalam pencapaian tersebut adalah memproduksi program-program televisi yang sesuai dengan selera pasar sehingga dapat menaikkan rating. Penggunaan rating sebagai salah tolok ukur dalam melihat keberhasilan sebuah program. Rating menjadi alat untuk menilai konten (teks media) apakah ia layak dijual. Kelayakan ini ditandai dengan seberapa banyak pemasang iklan yang mampu ditarik dalam setiap penayangan program tertentu. Selain itu, rating juga menjadi data dalam mengkomodifikasi khalayak. Data khalayak yang terangkum dalam rating menjadi pijakan bagi para pemasang iklan untuk memasarkan produknya di program tayangan tertentu atau tidak.

Kemiskinan

Bagi televisi, tayangan reality show mengenai kemiskinan atau kehidupan orang-orang miskinkerap mengabaikan hak-hak orang miskin karena realitas kemiskinan disajikan secara bias dan berpotensi memberi pemahaman yang menyimpang.Realitas kemiskinan yang bias itu bahkan jarang menceritakan mengapa sebuah keluarga itu miskin. Jika pun diungkapkan penyebabnya, itu hanya yang menyangkut pada seputar diri keluarga itu saja. Misalnya, karena kepala keluarganya menjadi salah satu korban PHK (Pemutusan Hubungan

Kerja),atau sakit parah sehingga tidak memungkinkan untuk mencari nafkah.

Namun tidak diceritakan apakah keluarga miskin itu mendapatkan bantuan dari program pemerintah seputar pengentasan kemiskinan, atau apakah akses keluarga miskin itu serta daerah tempat tinggalnya cukup memadai dengan sumber-sumber penghidupan dan layanan publik. Alih-alih peduli dengan persoalan itu, reality show dalam televisi justru lebih banyak mengeksplorasi derita keluarga miskin, kesedihan, kepedihan, ketabahan, dan ketidakmampuan dalam menempuh hidup.

Meski tidak disampaikan secara eksplisit, tapi rangkaian gambar dan narasi dalam reality show Mikrofon Pelunas Utang di INDOSIAR menunjukkan bahwa kemiskinan yang disajikan itu cenderung hanya persoalan yang disebabkan oleh sesuatu di dalam diri si miskin, bukan karena faktor struktural. Bahkan di acara itu tidak pernah ditayangkan penjelasan atau pertanggungjawaban dari pemerintah terkait realitas kemiskinan yang ditayangkan. Tidak ada pula pendapat atau analisis kritis dari pakar kemiskinan tentang kemiskinan yang merundung keluarga tertentu yang ditayangkan dalam acara itu. Padahal menurut Nugroho (1995), kemiskinan merupakan suatu kondisi ketidakmampuan secara ekonomi untuk memenuhi standar hidup rata-rata masyarakat di suatu daerah. Kondisi tersebut ditandai dengan rendahnya kemampuan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan pokok, baik berupa pangan, sandang, maupun papan. Hal tersebut juga akan berdampak berkurangnya kemampuan untuk memenuhi standar hidup rata-rata seperti standar kesehatan masyarakat dan standar pendidikan. Kondisi masyarakat yang disebut miskin dapat diketahui berdasarkan kemampuan pendapatan dalam memenuhi standar hidup.

Pihak INDOSIAR, dalam hal ini tim produksi Mikrofon Pelunas Utang nampaknyasudah merasa paham cara untuk mengatasi permasalahan kemiskinan. Namun kenyataaannya acara ini bukan untuk memberi pemahaman tentang kemiskinan secara utuh kepada penonton, melainkan hanya untuk menyentuh emosi penonton supaya mereka iba, turut bersedih dan berurai air mata ketika menyaksikan acara itu.Kemiskinan yang dikonstruksi itu dituntaskan dengan model penyelesaian yang sederhana yaitu memberikan sejumlah uang kepada si miskin.

Semiotika

Semiotika disebut sebagai ilmu tentang tanda-tanda yang dapat dipakai untuk menerangkan setiap aspek dalam komunikasi. Teori semiotika yang

dikemukakan oleh Roland Barthes (1915-1980) fokus perhatiannya tertuju pada gagasan tentang signifikasi dua tahap (two order of signification) yaitu denotasi dan konotasi. Roland Barthes adalah penerus pemikiran sang guru Ferdinand de Saussure. Saussure tertarik pada cara kompleks pembentukan kalimat dan cara bentuk-bentuk kalimat menentukan makna, tetapi kurang tertarik pada kenyataan bahwa kalimat yang sama bisa saja menyampaikan makna yang berbeda pada orang yang berbeda situasinya.

Roland Barthes meneruskan pemikiran tersebut dengan menekankan interaksi antara teks dengan pengalaman personal dan kultural penggunanya, interaksi antara konvensi dalam teks dengan konvensi yang dialami dan diharapkan oleh penggunanya. Gagasan Barthes ini kemudian dikenal dengan signifikasi dua tahap (two order of signification). Signifikasi tahap pertama merupakan hubungan antara signifier dan signified di dalam sebuah tanda realitas eksternal. Barthes menyebutnya sebagai denotasi, yaitu makna paling nyata dari tanda-tanda (makna sebenarnya sesuai kamus) dan konotasi yaitu makna yang menggambarkan interaksi yang terjadi ketika tanda bertemu dengan kenyataan atau emosi dari pembaca serta nilai-nilai dari kebudayaan. Dengan demikian, konotasi memiliki nilai yang subyektif atau intersubyektif (bagaimana menggambarkannya), sedangkan denotasi adalah apa yang digambarkan tanda terhadap subjek.

Disinilah titik perbedaan Saussure dan Barthes, meskipun Barthes tetap menggunakan istilah signifier-signified yang diusung Saussure. Barthes bahkan melihat aspek lain dari penandaan yaitu mitos yang menandai suatu masyarakat. Menurut Barthes, mitos merupakan signifikasi tahap kedua yang muncul setelah terbentuk sistem sign-signifier-signified. Mitos dikembangkan Barthes untuk melakukan kritik (membuat dalam “krisis”) atas ideologi budaya massa (atau budaya media). Tanda tersebut akan menjadi penanda baru yang kemudian memiliki petanda kedua dan membentuk tanda baru. Jadi, ketika suatu tanda yang memiliki makna konotasi kemudian berkembang menjadi makna denotasi, maka makna denotasi tersebut akan menjadi mitos.

Sebagai contoh, pohon beringin yang rindang dan lebat menimbulkan konotasi “keramat” karena dianggap sebagai hunian para hantu atau makhluk halus. Konotasi “keramat” ini kemudian berkembang menjadi asumsi umum yang melekat pada simbol pohon beringin, sehingga pohon beringin yang keramat bukan lagi menjadi sebuah konotasi tapi berubah menjadi denotasi pada pemaknaan tingkat kedua. Pada tahap ini, “pohon beringin yang keramat” akhirnya dianggap sebagai sebuah Mitos.

Namun, sudah bukan menjadi persoalan baru bahwa setiap metode pasti memiliki kelemahan tidak terkecuali pada metode dengan pendekatan semiotik juga terdapat kelemahan yang sangat berhubungan erat dengan peneliti sendiri. Sedikitnya ada dua kelemahan tersebut, yaitu pertama semiotik sangat tergantung pada kemampuan analisis individual, dan kedua yaitu pendekatan semiotik tidak mengharuskan kita meneliti secara kuantitatif terhadap hasil yang didapatkan, bisa jadi yang dibutuhkan hanya makna-makna yang dikonstruksikan dari sekian banyak pesan yang ada.

Analisa

Mikrofon Pelunas Utang di INDOSIAR merupakan acara reality show yang sarat akan makna dengan menampilkan orang-orang miskin sebagai pesertanya. Mereka menceritakan kisah dan kesulitan hidup dalam keterbatasan atau kemiskinan karena utang-utang yang membelit. Dalam acara ini peneliti juga melihat ada praktik komodifikasi dan konsensus pemaknaan yang tergambar secara tersirat terhadap kemiskinan.Peneliti menjabarkan pemaknaan yang mengarah pada adanya praktik komodifikasi dan konsensus pemaknaan kemiskinan, dengan menggunakan analisa semiotika Roland Barthes sebagai berikut:

Pemaknaan Denotatif-Konotatif

Reality Show Mikrofon Pelunas Utang (edisi 20 Agustus 2017)

Sumber: www.youtube.com

Pemaknaan Denotatif

Gambar di atas merupakan cuplikan dari acara reality show Mikrofon Pelunas Utang yang ditayangkan INDOSIAR edisi 20 Agustus 2017 yang peneliti ambil dari media sosial youtube.com. Dalam edisi ini tim produksi Mikrofon Pelunas Utang menghadirkan dua peserta yang notabene mereka adalah orang-orang dari keluarga miskin. Kedua peserta diminta menceritakan kisah hidup mereka yang miskin dengan berbagai keterbatasan dalam menjalani kehidupan. Tak jarang, derai air mata dan haru biru kerap mewarnai peserta, pembawa acara (host), penonton di studio, serta para juri.Keputusan juri untuk memilih siapa peserta yang berhak maju ke babak berikutnya tak sampai disitu. Setelah keduanya menampilkan kemampuan bernyanyi dengan kualitas suara yang pas-pasan, ditambah cuplikan video seputar pekerjaandan kehidupan mereka dalam keseharian, para juri pun harus memilih salah satu peserta yang dinilai paling layak untuk maju ke babak berikutnya. Mereka dipandang juri sebagai peserta yang mengundang empati mendalam dengan penderitaan dan kepedihan dalam menjalani kehidupannya. Dalam edisi ini para juri memutuskan untuk memilih Rahman, seorang pedagang jajanan cilung asal Subang, Jawa Barat dengan penghasilan yang sangat minim untuk menghidupi dirinya dan sang istri.

Namun yang paling mengundang empati para juri ketika ditampilkan sosok sang istri yaitu Nurjanah dengan sakit parah yang dideritanya. Sang istri divonis sakit kanker tulang di bagian rahangnya setelah mengalami sakit gigi saat dirinya menjadi TKW (Tenaga Kerja Wanita) di Taiwan. Tindakan operasi sudah dilakukan, namun meninggalkan bekas atau cacat di bagian wajah sang istri. Kondisi fisik itulah yang kemudian “menguntungkan”

Rahman sehingga para juri memutuskan untuk memilihnya. Kepada para juri Rahman mengaku harus terus berjuang mengobati istrinya yang belum sembuh total, dengan pekerjaannya sebagai pedagang jajanan anak-anak, cilung. Merasa tak mampu menanggulangi biaya penyembuhan istrinya, Rahman kemudian memutuskanmengambil jalan pintas, yaitu berutang sebesar Rp 18.800.000 kepada tetangganya. Namun setelah uang itu dipinjam, Rahman tak kunjung mampu melunasi utangnya itu. Apalagi hasil dagangannya hanya bisa untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saja.

Rahman pun mencoba peruntungannya di acara Mikrofon Pelunas Utang yang diadakan INDOSIAR, berharap memenangkan kontes tersebut dan membawa uang sebesar utang yang dimilikinya. Keputusan para juri dengan berbagai pertimbangan akhirnya mengantarkan Rahman menuju babak

Dalam dokumen BUKU 3 KOMUNIKASI, MEDIA DAN NEW MEDIA (Halaman 113-133)