redaksi Riau Pos yaknimengetahui bagaimana eksistensi gatekeeper di ruang redaksi Riau Posdan mengetahui sejauhmana editor atau redaksi melakukan fungsi gatekeeping terhadap berita-berita yang akan dipublikasikan. Salah satu komponen dari media massa adalah Gatekeeper dan Regulator. Istilah Gatekeeper pertama kali digunakan oleh Kurt Lewin dalam bukunya Human Relation. Istilah ini mengacu pada proses suatu pesan berjalan melalui berbagai pintu, selain itu juga pada orang atau kelompok yang memungkinkan pesan lewat. Gatekeepers dapat berupa seseorang atau satu kelompok yang dilalui suatu pesan dalam perjalanannya dari sumber kepada penerima. Fungsi utama gatekeeper adalah menyaring pesan yang diterima seseorang. Gatekeeper membatasi pesan yang diterima komunikan, seperti editor surat kabar, majalah, penerbitan. Seorang gatekeepers dapat memilih, mengubah, bahkan menolak pesan yang disampaikan kepada penerima.
25 Regulator adalah orang non-media dan institusi non-media yang mempengaruhi pesan komunikasi massa sebelum pesan sampai ke tujuan.
(Teori Komunikasi Massa (Edisi Kedalapan),John Vivian, Kencana. 2008).
John R Bitner pada tahun 1996 mengistilahkan gatekeeper sebagai “individu- individu atau kelompok orang-orang yang memantau arus informasi dalam sebuah saluran komunikasi massa”. Jika diperluas maknanya, yang disebut sebagai gatekeeper adalah orang yang berperan penting dalam media massa seperti surat kabar, majalah, televisi, radio, video tape, compact disk dan buku (Komunikasi Massa, Nurudin, Cespur, 2003). Dengan demikian, mereka yang disebut sebagai gatekeeper antara lain reporter, editor berita bahkan film atau orang lain dalam media massa yang ikut menentukan arus informasi yang disebarkan. Jika kita menterjemahkan gatekeeper sebagai individu yang setiap saat memantau arus keluar masuknya informasi, berarti gatekeeper menggambarkan sekelompok orang di ruang redaksi atau produksi baik media cetak maupun elektronik yang sibuk menerima, mengedit dan menyebar luaskan informasi kepada khalayak. gatekeeper sebagaimana dalam catatan Hierbert, Ungurait dan Bohn menyebutkan pertama sebagai pentapisan informasi yang cenderung subjektif dan personal.
Kedua, pentapisan informasi dimaknai dengan membatasi terhadap apa ingin diketahui pembaca. Ketiga, pentapisan informasi menjadi sesuatu aktivitas yang tidak bisa dihindar oleh media. Dengan demikian, paling tidak gatekeeper mempunyai fungsi sebagai berikut: Pertama, menyiarkan informasi kepada khalayak, kedua; membatasi informasi dengan cara mengeditnya sebelum disiarkan atau dipublikasikan, ketiga; menambahkan
fakta dan pandangan lain, keempat; untuk menginterpretasikan informasi.
Gatekeeper punya tanggung jawab besar karena mereka membentuk pesan yang sampai ke khalayak. Mereka bahkan memutuskan pesan mana yang tidak akan sampai ke khalayak. Ketika gatekeeper melakukan kesalahan, proses dan pesan komunikasi akan terganggu (Teori Komunikasi Massa (Edisi Kedalapan),John Vivian, Kencana. 2008).
Kecenderungan makna yang diasumsikan oleh Bitner lebih menitikberatkan pada individu-individu tertentu dalam internal media massa. Menurutnya, gatekeeper sebagai sekelompok individu yang setiap saat memantau keluar masuknya arus informasi ke media sebelum dipublikasikan ke khalayak atau audience.
Jika kita menterjemahkan gatekeeper sebagai individu yang setiap saat memantau arus keluar masuknya informasi, berarti gatekeeper menggambarkan sekelompok orang di ruang redaksi atau produksi baik media cetak maupun elektronik yang sibuk menerima, mengedit dan menyebar luaskan informasi kepada khalayak. Perkembangan media massa terus mengalami perubahan. Perubahan tersebut merupakan implikasi dari sejarah perkembangan manusia. Artinya, setiap tahapan akan mencerminkan bentuk dan model komunikasi yang dilakukan manusia itu sendiri. Menurut Melvin DeFleur dan Sandra J. Ball-Rokeach dalm bukunya berjudul Theories of Mass Communication (dalam Nurudin, 2003), terdapat lima revolusi komunikasi massa; (1) zaman penggunaan tanda dan isyarat sebagai alat komunikasi, (2) zaman digunakannya percakapan dan bahasa sebagai alat berkomunikasi, (3) zaman digunakannya tulisan sebagai alat komunikasi, (4) zaman digunakannya media cetak sebagai alat komunikasi, dan (5) zaman digunakannya media massa sebagai alat komunikasi. Dennis McQuail dalam bukunya Massa Communication Theory (2011) menyebutkan terdapat empat elemen utama yang signfikan dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas yaitu:
• Tujuan, kebutuhan atau penggunaan komunikasi tertentu
• Teknologi untuk berkomunikasi kepada massa dengan adanya jarak
• Bentuk-bentuk organisasi social yang menyediakan keahlian dan kerangka untuk mengatur prudksi dan distribusi
• Bentuk-bentuk peraturan dan control
McQuail, berpandangan bahwa elemen-elemen tersebut tidak memiliki hubungan yang kaku antara satu sama lain dan sangat bergantung pada
keadaan waktu dan tempat. Terkadang sebuah teknologi komunikasi diterapkan karena kebutuhan atau penggunaan yang sudah terlbih dahulu ada, seperti teknologi cetak menggantikan salin tangan atau telegraf menggantikan perpindahan fisik dari pesan penting. Kombinasi elemen- elemen diatas yang sesungguhnya terjadi biasanya tergantung baik pada factor bahan maupun cirri dan iklim social budaya yang sulit dijelaskan.
Dalam catatan McQuail, hampir dua ratus tahun setelah penemuan mesin cetak muncullah apa yang dikenal saat ini sebagai prototipe surat kabar yang dapat dibedakan dari pamplet, bulletin yang mulai ada sejak akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17. Sejarah surat kabar kemudian dapat dikatakan sebagai sebuah perjuangan, berkembangan dan bergulat untuk tujuan kebebasan atau sebagai sebuah sejarah perkembangan ekonomi dan teknologi yang berkelanjutan. Terdapat perkembangan yang stabil menuju pers yang merdeka, meskipun terdapat kemunduran dari waktu ke waktu. Saat ini, pembentukan lembaga pers di dalam system pasar berfungsi sebagai bentuk control, dan surat kabar modern sebagai sebuah perusahaan bisnis yang besar, rentan terhadap berbagai bentuk tekanan daripada pendahulunya di masa lalu.
Annet Keller, seorang jurnalis asal Jerman, pada tahun 2004 melakukan penelitian terhadap beberapa media massa besar di Indonesia, yaitu Kompas, Tempo, dan Media Indonesia. Dari hasil penelitian tersebut, ia menyimpulkan bahwa media massa yang dinilai paling independen adalah surat kabar yang tidak memiliki saham mayoritas, media tersebut adalah Koran Tempo. Menurutnya, tingkat otonomi pemberitaan sangat besar pada koran Tempo, berbeda dengan Media Indonesia, dimana setiap jurnalisnya menghadapi intervensi yang masif dari pemilik mengenai apa yang harus ditulis dalam media tersebut. Sementara menurutnya lagi, Kompas cenderung memberitakan sesuatu dengan sangat hati- hati, Kompas dapat terus menerus memberitakan sesuatu yang tengah hangat di masyarakat, namun ketika dinilai sudah terlalu berlebihan, Kompas akan mengambil sikap mundur dengan tidak lagi memberitakannya sehingga Annet menyebut Kompas sebagai media dengan “jurnalisme kepiting”.
Oleh karena makin maraknya persaingan dalam industri media, tentunya para pemilik modal tidak melupakan fungsi utama media sebagai pemberi informasi pada masyarakat dengan tetap memegang norma- norma pers dan tanggung jawab sosialnya pada masyarakat sebagai pemberi kebenaran dan sarana edukasi. Kompetisi yang sehat juga diperlukan agar
media di Indonesia dapat berkembang lebih optimal sebagai sarana kontrol sosial dan pengawas pemerintah di luar berbagai kepentingan pemilik modal untuk mendapatkan keuntungan sebesar- besarnya.
Saat ini, berita telah menjadi sebuah kebutuhan pokok dalam kehidupan umat manusia. Masyarakat yang haus akan informasi selalu berusaha memenuhi kebutuhannya tersebut, terutama melalui media massa. Namun, menjamurnya industri media tidak terlepas dari prinsip pasar. Persaingan bebas seakan memaksa media massa untuk memunculkan kreativitasnya dalam rangka menarik dan mendapatkan minat dari masyarakat. Akibatnya, media massa terikat arus komersialisasi besar- besaran sehingga apapun dilakukan untuk mendapatkan profit/ keuntungan. Lebih jauh lagi, media massa pun berusaha untuk menempatkan jaringan produksi dan distribusi produk- produk budaya seperti berita, iklan, sinetron, film, kuis, dan sebagainya untuk terintegrasi langsung dalam prinsip pasar (market).
Oleh karena itu mudah ditebak, sebagai “industri budaya”, apapun yang dilakukan selalu berada pada titik harapan akan terciptanya peningkatan oplah, hits dan rating.
Kajian media massa selalu menuju pada perkembangan masayarakat.
Herbert Blumer (1939) adalah pertama yang mendefenisiskan massa secara formal sebagai jenis baru dari benturan sosial dalam masayarakat modern, dan membandingkan dengan bentuk lain seperti kelompok, kerumunan dan publik. Dalam kelompok kecil, semua anggota saling mengenali satu sama lain, sadar akan keanggotaan mereka, berbagi nilai yang sama, memiliki struktur hubungan tertentu yang selalu stabil, dan berinteraksi untuk mencapai tujuan tertentu. Contoh dari kelompok kecil ini adalah keluarga, dimana sadar akan sebagai dari anggota keluarga, berbagi nilai dan tujuan dari keluarga tersebut.
Kerumunan umumnya jumlahnya lebih besar, tetapi terbatas dalam lingkup yang dapat diamati dalam ruang tertentu, dan biasanya kerumunan ini bersifat sementara dan jarang sekali terbentuk kembali dengan komposisi yang sama, identitas yang tinggi dan berbagi rasa yang sama, biasanya tidak ada struktur atau tatanan moral serta komposisi sosial, dapat bertindak, tetapi memiliki karakter yang emosional dan tidak rasional (McQuail : 2012).
Bentuk publik biasanya relatif besar, sangat tersebar dan tahan lama.
Publik cenderung terbentuk sekitaran isu atau masalah dalam kehidupan
umum dan tujuan utamanya untuk membangun kepentingan atau opini dan untuk mencapai perubahan politik. Publik yang terkena terpaan isu atau masalah umum melalui media massa disebut dengan terkonsentrasi massa.
Istilah massa mengambil beberapa ciri dari khalayak baru dari media populer. Hubungan antara media massa populer dengan integrasi sosial mudah dinilai sebagai hal yang negatif (lebih banyak kriminalitasnya dan rendahnya nilai moral) dan individualistik (kesendirian, hilangnya nilai- nilai kolektif), tetapi kontribusi positif terhadap kohesi dan komunitas juga diharapkan dari komunikasi modern.
Bagaimana pengaruh media ditafsirkan sering kali tergantung pada sikap (attitude) pribadi si pengamat terhadap masyarakat modern, serta tingkat optimisme dan pesimisme di dalam sudut pandang sosial mereka.
Ikatan individu dengan masyarakat masih terdapat kelemahan bagi individu yang terpengaruh media massa modern, terdapat tuntutan baru bagi media komunikasi untuk menyediakan identitas dan kebutuhan mengekspresikan diri bagi kelompok. Efek internet yang menyebabkan sikap individualisme sangat berlawanan dengan efek kohesi positif yang dibawa media tradisional, seperti surat kabar dan televisi (McQuail : 2012).
Penjelasan tingkat pembentukan dari optimisme ke pesimisme, dari kritis ke netral, maka diperlukan teori masyarakat massa (mass society theory). Teori masyarakat massa ini menekankan ketergantungan lembaga yang menjalankan kekuasaan dan juga integrasi media kepada sumber kekuasaan sosial dan otoritas. Konten sering kali melayani kepentingan politik dan ekonomi dari pemegang kekuasaan. Model media dominan ini digambarkan sebagai cerminan pandangan masyarakat massa.
Artinya apa yang dikatakan oleh media pada umumnya maka demikian juga yang dikatakan oleh masyarakat dan secara tidak sadar merupakan koordinir dari sumber kekuasaan sosial dan otoritas (pemerintah). Media sebagai faktor penyebab, maksudnya media menawarkan pandangan mengenai dunia, lingkungan semu (manipulasi terhadap masyarakat) tapi membantu bertahan pada situasi yang sulit. Menurut C, Wright Mills (1951), antara kesadaran dan keberadaan, disitulah posisi komunikasi artinya kesadaran yang dimilki manusia atas keberadaan manusia itu sendiri.
Jumlah, jarak dengan lembaga, isolasi atas individu, dan kurangnya integrasi kelompok lokal, menjadi penentu masyarakat massa bisa hancur atau di kontrol secara terpusat. Sikap kritis terhadap kekosongan, kesepian,
stres, konsumerisme didalam masyarakat pasar bebas, akan menjadikan masyarakat massa bisa tidak populer lagi. Apalagi beragamnya media baru (media sosial) dan media lama (konvensional), bisa merendahkan validitas teori masyarakat massa karena media massa merupakan pondasi dari masyarakat massa.
Pengawasan Monopoli media terhadap bermunculannya media baru saat ini, karena banyak menjangkau banyak kelompok, gerakan dan juga individu. Bukan hanya ancaman bagi ekonomi media lama, tapi juga pada jaminan akses kepada khalayak pada pilihan waktu mereka sendiri.
Media Baru (internet) juga terbuka pengawasan baru atas populasi online (konsentrasi massa) dan tidak kebal dari pengawasan konglomerasi media.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini menggunakan pendekatan konstruktivisme.
Konstruktivisme dalam ilmu sosial merupakan kritik terhadap paradigma positivis. Menurut paradigma konstruktivisme, realitas sosial yang diamati oleh seseorang tidak dapat digeneralisasikan pada semua orang yang biasa dilakukan oleh kaum positivis. Paradigma konstruktivisme yang ditelusuri dari pemikiran Weber, menilai perilaku manusia secara fundamental berbeda dengan perilaku alam, karena manusia bertindak sebagai agen yang mengkonstruksi dalam realita sosial mereka, baik itu melalui pemberian makna ataupun pemahaman perilaku dikalangan mereka sendiri (Riset Praktis Komunikasi, Rachmat Kriyantono. Kencana, 2010). Metodologi penelitian yang digunakan dalam pendekatan konstruktivis adalah metodologi kualitatif yang dimaknai dengan memberi penguraian dalam bentuk kalimat (Metodologi Penelitian Kuantitatif, Burhan Bungin. Kencana, 2010). Dalam penelitian ini, yang menjadi subyek penelitian ialah Subjek adalah penelitian yang menunjuk kepada orang / individu atau kelompok yang dijadikan unit satuan (kasus) yang di teliti adalah Pimpinan redaksi harian Riau Pos.Teknik pengumpulan data melalui wawancara dengan key informan. Analisis data kualitatif dilakukan apabila data empiris yang diperoleh adalah data kualitatif berupa kumpulan berwujud kata-kata dan bukan rangkaian angka serta tidak dapat disusun dalam kategori-kategori/
struktur klasifikasi.Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian kualitatif mencakup transkip hasil wawancara, reduksi data, analisis, interpretasi data dan triangulasi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Sebagai media besar yang berskala nasional, kehadiran Riau Pos di tengah-tengah hiruk pikuknya arus informasi dan komunikasi ditengah- tengah masyarakat cyber, menjadikan Riau Pos sebagai media cetak yang tetap diminati. Betapa canggihnya media online melalui berbagai portal berita yang hadir, tidak membuat Riau Pos surut. Bahkan Riau Pos seolah- olah menjadi media alternatif di tengah-tengah masyarakat informasi saat ini. Hal ini menunjukkan bahwa Riau Pos memiliki style dan ciri khas tersendiri sehingga masih mampu menunjukkan eksistensi dirinya di tengah-tengah arus globalisasi yang semakin canggih. Dari penyajian data- data yang sudah dipaparkan diatas, maka terlihat sangat jelas betapa Riau Pos berusaha menunjukkan eksistensi gatekeeper sebagai sebuah media yang bermarwah dengan memerankan fungsi gatekeeper secara berjenjang mulai dari reporter hingga pemimpin redaksi. Harus diakui, saat ini berita telah menjadi sebuah kebutuhan pokok dalam kehidupan umat manusia.
Masyarakat yang haus akan informasi selalu berusaha memenuhi kebutuhannya tersebut, terutama melalui media massa. Akan tetapi, sampai pada titik mana media massa akan memberikan kepuasan arus informasi kepada khalayaknya?. John R Bitner pada tahun 1996 mengistilahkan gatekeeper sebagai individu-individu atau kelompok orang-orang yang memantau arus informasi dalam sebuah saluran komunikasi massa. Jika diperluas maknanya, yang disebut sebagai gatekeeper adalah orang yang berperan penting dalam media massa seperti surat kabar, majalah, televisi, radio, video tape, compact disk dan buku. Dengan demikian, mereka yang disebut sebagai gatekeeper antara lain reporter, editor berita bahkan film atau orang lain dalam media massa yang ikut menentukan arus informasi yang disebarkan. Kecenderungan makna yang diasumsikan oleh Bitner lebih menitikberatkan pada individu-individu tertentu dalam internal media massa. Menurutnya, gatekeeper sebagai sekelompok individu yang setiap saat memantau keluar masuknya arus informasi ke media sebelum dipublikasikan ke khalayak atau audience.Hakikat gatekeeper sebagaimana yang dimaksudkan Bitner ternyata diaplikasikan oleh para awak redaksi di Riau Pos. Bahwa pelaku gatekeeper yang terdiri atas reporter, koordinator liputan, redaktur, redaktur pelaksana hingga Pemimpin Redaksi menunjukkan bahwa Riau Pos memiliki tim pentapis berita yang eksistensinya tetap difungsikan dan dipertahankan.
Pada aspek proses, terlihat sangat jelas bahwa para gatekeeper di Riau Pos tidak bisa semena-mena mempublikasikan setiap peristiwa yang terjadi menjadi sebuah berita. Setiap peristiwa yang layak jadi berita itu juga melalui tahap seleksi berdasarkan unsur layak berita. Setidaknya terdapat 6 unsur layak berita yang dikembangkan di ruang redaksi Riau Pos berdasarkan konseptual yang selama ini dipelajari dalam dunia jurnalistik yaitu, unsur penting, kebaruan, kedekatan, ketenaran, human interest dan besaran peristiwa. Hal ini membuktikan bahwa pertarungan mempertahankan ideologi media itu sudah mulai dilakukan ketika redaksi memandang kelayakan peristiwa menjadi berita. Artinya, bagi Riau Pos tidak semua peristiwa itu dijadikan berita. Akan tetapi setiap berita itu merupakan peristiwa yang benar-benar terjadi atau fakta yang dapat dipertanggung jawabkan. Jika peneliti menggunakan istilah Ray Eldon Hiebert, Donald F Ungurait dan Thomas W Bohn, bahwa di Riau Pos gatepeekper tidak bersifat pasif-negatif, tetapi mereka merupakan kekuatan kreatif yang diberi ruang untuk berekspresi mengembangkan kreatifitasnya. Dari pendapat mereka ini dapat dipahami bahwa aktor-aktor gatekeeper merupakan orang-orang yang memiliki daya kreatif mengombinasikan pesan yang ia olah dengan prinsip bahwa pesan yang akan disampaikan kepada khlayak merupakan pesan yang bernilai layak tampil. Layak tampil dapat diartikan sebagai produk tayangan yang memiliki unsur etika dan estetika.
Bagaimana editor atauredaktur melakukan fungsi gatekeeping terhadap berita-berita yang akan dipublikasikan? Jika kita menterjemahkan gatekeeper sebagai individu yang setiap saat memantau arus keluar masuknya informasi, berarti gatekeeper menggambarkan sekelompok orang di ruang redaksi atau produksi baik media cetak maupun elektronik yang sibuk menerima, mengedit dan menyebar luaskan informasi kepada khalayak. Lalu bagaimana mereka mampu mengimplementasikan fungsi gatekeeper tersebut. Dari jawaban Pemimpin Redaksi Riau Pos, Asmawi Ibrahim, dapat dipahami bahwa para gatekeeper di Riau Pos tidak bisa semena-mena mempublikasikan setiap peristiwa yang terjadi menjadi sebuah berita. Setiap peristiwa yang layak jadi berita itu juga melalui tahap seleksi berdasarkan unsur layak berita. Paling tidak fungsi gatekeeperyang lakukan di ruang redaksi Riau Pos adalah Pertama; menyiarkan informasi kepada khalayak, kedua; membatasi informasi dengan cara mengeditnya sebelum disiarkan atau dipublikasikan, ketiga; menambahkan fakta dan pandangan lain, keempat; untuk menginterpretasikan informasi. Gatekeeper
punya tanggung jawab besar karena mereka membentuk pesan yang sampai ke khalayak. Mereka bahkan memutuskan pesan mana yang tidak akan sampai ke khalayak. Ketika gatekeeper melakukan kesalahan, proses dan pesan komunikasi akan terganggu.Dari sajian data di atas dapat dipahami bahwa gatekeeper sebagai pentapis informasi yang cenderung subjektif dan personal. Pentapisan informasi ini dimaknai dengan membatasi terhadap apa yang ingin diketahui pembaca. Pentapisan informasi menjadi sesuatu aktivitas yang tidak bisa dihindar oleh media.
KESIMPULAN
Eksistensi gatekeeper di Harian Riau Pos bersifat berjenjang dimulai dari reporter, koordinator liputan sampai pada redaktur pelaksana dan melalui pentapisan pemimpin redaksi. Hal ini menunjukan bahwa gatekeeper tidak semena-mena mempublikasikan setiap peristiwa yang terjadi menjadi sebuah berita. Dengan memperhatikan unsur-unsur layak berita yang dikembangkan di ruang redaksi Riau Pos yaitu unsur penting, kebaruan, kedekatan, ketenaran, human interest dan besaran peristiwa.
Harian Riau Pos Juga memiliki tugas pokok dari masing-masing posisi redaksi, dimana gatekeeper terjadi pada tahap informasi sampai pada koordinator liputan. Ketatnya proses gatekeeping (terkadang dilematis) dilakukan dengan model pentapisan dari penentuan topik di mulai dari rapat proyeksi hingga laporan data yang diperoleh.
DAFTAR PUSTAKA
Bungin, Burhan. 2010. Metodologi Penelitian Kuantitatif. Jakarta. Kencana Eriyanto. 2002. Analisis Framing: Konstruksi, Ideologi dan Politik Media.
Yogyakarta. LKSI
Kriyantono, Rachmat. 2010. Riset Praktis Komunikasi. Jakarta. Kencana McQuail, Denis. 2011. Mass Communication Theory. Jakarta. Salemba
Humanika
McQuail, Denis, (2012), Teori Komunikasi Massa, Buku 1, Edisi 6, Salemba Humanika, Jakarta
Mulyana, Deddy. Komunikasi Massa (Kontroversi, Teori dan Aplikasi).
Bandung: Widya Padjajaran. 2008.
Nurudin. Komunikasi Massa. Malang: Cespur, 2003
Nyarwi. Konglomerasi dan Konstruksi Praksis Demokrasi Pasca Rezim Orde Baru: Sebuah Refleksi Awal. Jurnal Komunikasi Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia. Volume 3, Nomor 1, Oktober 2008. Yogyakarta. ISSN: 1907-848X
Santoso, Budi. Proses Gatekeeping di Ruang Redaksi “Dinamika Bogor”.
Jurnal Online Universitas Gunadharma. 2013.
Vivian, John. Teori Komunikasi Massa (Edisi Kedalapan). Jakarta:
Kencana. 2008.