• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi Kasus Akun Anti Hoax di Media Instagram)

Dalam dokumen BUKU 3 KOMUNIKASI, MEDIA DAN NEW MEDIA (Halaman 33-41)

Dr. Yoyoh Hereyah M.Si Dosen Komunikasi Universitas Mercubuana Jakarta [email protected]

PENDAHULUAN

Hoax, kabar bohong dan Ujaran kebencian di dunia maya akhir-akhir ini menjadi hal yang serius karena tak sekedar dijadikan wahana untuk berkumpul dan memprotes saja, namun saat ini ujaran kebencian, kabar bohong dirancang untuk mengancam suatu kelompok secara publik dan beraksi seolah-olah merupakan propaganda untuk organisasi offline. Dalam berbagai kesemmpatan para hatters (Kelompok pembenci), menggunakan situs web untuk membagikan ideologi dan propaganda, untuk menghubungkan ke situs lainnya dan untuk merekrut anggota baru, menyokong kekerasan, dan mengancam yang lainnya (Cohen-Almagor, 2011, h. 1). Secara lebih jauh, adanya ujaran kebencian di dunia maya dianggap dapat menyulut terjadinya kekerasan dan diskriminasi pada dunia nyata antar kelompok-kelompok tertentu.

Karena hal-hal inilah, sejumlah negara mulai memberi perhatian khusus terhadap kabar bohong, kekerasan verbal dan ujaran kebencian pada media sosial. Uni Eropa misalnya pada tanggal 31 Mei 2016 mengeluarkan kode etik media online yang bertujuan untuk melawan praktik ujaran kebencian di dunia maya. Bahkan pembuatan kode etik ini menggandeng sejumlah situs sosial media besar seperti Facebook, Twitter, Youtube, bahkan Microsoft. Tak hanya menjadi komitmen publik saja,

Dalam makalah ini, persoalan ujaran kebencian, kabar bohong dan sejenisnya menjadi topik kajian penting kendati dilihat dari perpektif kelompok anti penyebaran hoax. Pendekatan utama yang dilakukan adalah denngan melihat bagaimana teknik propaganda mereka lakukan saat melakukan kampanye anti hoax di sosial media. Yang menjadi sampel dalam menganalisis ini adalah sejjumlah akun yang kebanyakan tidak jelas identitasnya tetapi beranni melakukan perlawanan terhadap kelompok- kelompok yang sering kali membombardir media sosial dengann berita- berita kebohongan.

KERANGKA PEMIKIRAN

Kerangka berpikir dan konsep teoritis yang dipakan menunjang penulisan makalah ini adalah konsep propaganda. Menurut Shoelhi, propaganda adalah upaya untuk membentuk, memengaruhi, mengubah bahkan mengarahkan dan mengendalikan tingkah laku dan pendapat masyarakat untuk tujuan tertentu melalui penyebaran gagasan atau menciptakan peristiwa tertentu dan menanamkannya secara sitematis pada hati sasarannya.

Internet sebagai salah satu sumber informasi justru memperluas gerak propaganda dalam memengaruhi emosi publik sehingga publik tidak dapat menggunakan akal sehatnya dan menekankan pada emosi. Dalam konteks propaganda di sosial media,internet mengubah propagandis dalam melakukan propaganda.

Beberapa di antaranya karena dalam menggunakan internet adanya izin tidak terbatas untuk menyebarkan konten tanpa pihak ketiga, isi kirimannya yang tidak diregulasi seperti pada berita sehingga propagandis dapat dengan mudah membagikan informasi yang tidak akurat serta diuntungkannya propagandis di internet dengan adanya anonimitas (Lieberman, 2017, h.101- 102). Makalah ini mengangkat propaganda yang terjadi di media sosial. Metode yang akan digunakan untuk meneliti hal ini adalah netnografi. Netnografi sendiri adalah etnografi dari kelompok daring yang mempelajari praktik budaya yang kompleks, menarik perhatian kita kepada dasar dan ide abstrak yang banyak, makna, praktik sosial, hubungan, bahasa, dan sistem tanda

Teknik propaganda sering diartikan sebagai tindakan penyebaran ideologi, informasi, gagasan, bahkan rumor untuk membesarkan atau mencederai suatu lembaga, perkara, atau pertikaian. Sedangkan menurut Shoelhi (2012, h.27) propaganda adalah upaya untuk membentuk, memengaruhi, mengubah bahkan mengarahkan dan mengendalikan tingkah laku dan pendapat masyarakat untuk tujuan tertentu Tujuan itu dicapai melalui penyebaran gagasan atau menciptakan peristiwa tertentu dan menanamkannya secara sitematis pada hati sasarannya.

Gerak propaganda dalam berbagai praktiknya lebih banyak digunakan untuk memengaruhi emosi publik, menekankan pada emosi sehingga publik tidak dapat menggunakan akal sehatnya . Propaganda dipercaya sering berhubungan dengan pemanfaatan kondisi psikologi terutama rangsangan

pada aspek emosi. Propaganda alih-alih menonjolkan tampilannya yang mengagumkan, terkadang propaganda kerap menghancurkan struktur emosi masyarakat sehingga timbul kepanikan sehingga target dapat berpaling pada nilai yang ingin ditanamkan oleh propagandis (Shoelhi, 2012, h.27)

Di sisi lainnya, teknik propaganda dapat menjadi suatu alat untuk hal- hal positif seperti mendorong persahabatan, kerja sama dan lainnya. Namun sayangnya, kerap kali propaganda dijadikan alat untuk menjatuhkan dan mengkreditkan pihak lawan, sering mengobarkan kebencian dan permusuhan, dan mengabaikan kebenaran, keadilan bahkan kejujuran (Shoelhi, 2012, h.27).

Propaganda sejatinya memiliki lima karakteristik yakni pertama propaganda itu harus popular ,dikemas bukan untuk menyenangkan secara intelektual; kedua propaganda memiliki tujuan untuk transmisi pengetahuan kepada khalayak; ketiga, propaganda haruslah fleksibel dan dapat menyesuaikan diri sesuai kondisi dan tujuannya; keempat, propaganda menggunakan metode yang layak, dan tujuannya tercermin dari perubahan sikap, pendapat, serta tindakan target sesuai apa yang ingin dicapai oleh propagandis.( Shoelhi (2012,h.40)

HASIL PENELITIAN

Sejumlah sampel yang diteliti khususnya kiriman informasi di Instagram sebagai berikut :

Sampel 2 akun tengkuzulkarnain ( Instagram @ustadtengkuzul ) yang dianalisis akun @trending.id

Sampel 3 propaganda akun news_berita terkait dengan persetuueruan Kapolri dan Panglima TNI

Sampel 4 akun anti_hoax_radikal terkait pernyataan eggi sudjana yang dianngap menghina agama lain selain Islam

Dari keempat sampel yang dianalisis, kebanyakan merupakan propaganda yang sifatnya mempengaruhi dan berupaya mengaduk-aduk emosi para pembacanya, lewat ungkapan-ungkapan yang emosional.

Sampel Akun Instagram Ungkapan utama yang dijadikan lead 1 bidadaribri@ Jangan percaya berita yang tidak jelas dari

mana

2 trending_id@ Peduli Rohingnya sah-sah saja, tapi kalo nye- barin hoax dosa Ustadzzzz

3 news_berita@ Parah banget ini isi berita. Hoaxnya parah .banget. Kaum Saracen pasti ini

4 anti_hoax_radikal@ Benarkah agama hindu, Kristen dan Budha tidak cocok dengan Pancasila dan harus dibubarkan ? Bukannya Pancasila sendiri be- rasal dari Bahasa Sansekerta yang dianut

?dalam kitab suci Weda

Meskipun isi dari meme atau ungkapan singkat dalam postingan Instagram mengkritik sebuah kelompok Islam garis keras yang jelas haluannya berbeda dengan para pemilik akun yang dijadikan sampel dalam makalah ini tetapi mereka juga melakukan propaganda yang tidak jelas juga. Bisa dikatakan adanya ketidaksingkronan antara para pengkritik dengan siapa yang dikritiknya. Bahkan dalam sebbuah sampel, ada upaya melakuukan generalisasi atau labeling bahwa si penyebar informasi justru kelompok “kaum Saracen” yang merujuk pada kegiatan kelompok yang

pernah membuat gaduh karena diduga melakukan jual beli konten konten berisi hoax dan kabar-kabar kebencian.

KESIMPULAN DAN SARAN

Dari sisi propaganda, yang melakukan seranga terhadap pelaku penyebar kabar bohonng dan hoax bahkan yang berisi kebencian justru dalaam praktiknya jjuga melakukan kesalahan yang sama, yakni tidak melakukan cek ricek terhadap informasi yang mereka sampaikan. Bahkan bisa dikatakan propaganda yang dilakukan jjustru sebaagai propaganda htam atau propaganda abu-abu.

Propaganda hitam adalah propaganda yang dipakai sebagai senjata taktis untuk menipu, tidak jujur, penuh kepalsuan, tidak kenal etika dan cenderung sepihak. Propaganda ini kerap menuduh sumber lain sebagai pelaku kegiatannya dan menyembunyikan sumbernya. Propaganda hitam kerap disebut propaganda terselubung. Sedangkan Propaganda abu-abu adalah propaganda yang dilakukan oleh sumber yang tidak jelas. Isi pesan yang disampaikan biasanya menimbulkan keragu-raguan dan mengacaukan pikiran orang. Jenis propaganda ini dipakai untuk mengadu domba, menimbulkan intrik dan gosip. Propaganda abu-abu ini sengaja dibuat sedemikian rupa supaya masyarakat menjadi ragu atas persoalan yang sedang terjadi.

Teknik propaganda yang dilakukan oleh sejumlah akun tersebut paling banyak adalah Teknik card stacking adalah teknik pemilihan dan pemanfaatan baik fakta maupun kebohongan, ilustrasi atau penyimpangan sertapernyataan logis ataupun tidak logis untuk memberikan kasus terbaik ataupin terburuk bagi suatu gagasan, orang, program atau produk (shoelhi, 2012, h.67). Dalam teknik ini argument dan bukti yang mendukung suatu posisi dipilih dan argument atau bukti lainnya yang berseberangan dengan posisi propagandis akan diabaikan. Argumen atau bukti tersebut tidak harus benar melainkan harus dapat mendukung posisi yang diinginkan propagandis

DAFTAR PUSTAKA

Lieberman, Ariel. 2017. “Terrorism, The Internet, & Propaganda: A Deadly Combination”. Intelligence, Religious Extremism, Surveillance. Vol.

9 No.1, h.95-124. Diakses 22 Agustus 2017. http://jnslp.com/

wp- content/uploads/2017/04/Terrorism_the_Internet_and_

Propaganda_FINA L.pdf

Shoelhi, Mohammad.2012. Propaganda dalam Komunikasi Internasional Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

Dalam dokumen BUKU 3 KOMUNIKASI, MEDIA DAN NEW MEDIA (Halaman 33-41)