• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi Kasus Mantan Kombatan Inong Balee di Provinsi Aceh)

Dalam dokumen BUKU 3 KOMUNIKASI, MEDIA DAN NEW MEDIA (Halaman 41-77)

Problematika perempuan Aceh khususnya inong balee semakin berat setelah musibah gempa dan tsunami melanda Aceh. Selain secara kuantitas angka janda di Aceh semakin meningkat pasca-tsunami, kualitas hidup mereka juga cenderung jauh dari kesejahteraan (Fitzpatrick, 2012). Musibah ini telah menelan korban jiwa lebih 300.000 ribu jiwa menjadi musibah paling besar dalam sejarah abad ke-21 (UN ORC, 2009). Penelitian BRR tahun 2006 menunjukkan bahwa diperlukan pengembangan kebijakan dan hukum yang lebih fokus untuk mendukung dan melindungi perempuan dan kelompok rentan. Kelompok rentan terdiri dari 112.219 orang dengan ketidakmampuan, 770 manula, dan 1.850.000 anak-anak yang tersebar di 21 wilayah. Kemudian dari 2.712 orang penyandang cacat akibat tsunami, hanya 598 orang yang memperoleh layanan rehabilitasi. Berdasarkan data bulan April 2005, orang yang terusir secara internal sebanyak 595.598 orang, dimana 37% diantaranya adalah perempuan (UN ECOSOC, 2005).

Isu seputar perempuan menjadi hal menarik untuk diadvokasi pasca- konflik dan tsunami di Aceh. Hal ini terbukti dari sejumlah lembaga swadaya masyarakat yang dibentuk dengan fokus pada isu-isu perempuan. Pihak kampus pun tidak mau kalah untuk ambil bagian, maka dibentuklah Pusat Studi Gender di beberapa perguruan tinggi di Aceh. Lembaga-lembaga ini secara intens melakukan kajian, workshop, seminar, advokasi, dan pelatihan yang bertujuan pengembangan dan pemberdayaan perempuan Aceh pasca-konflik dan tsunami. Untuk proses rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh pasca-konflik dan tsunami, pemerintah mengucurkan dana lebih dari Rp 12 triliun. Angka tersebut belum termasuk dana yang diberikan oleh lembaga donor luar negeri untuk pemulihan Aceh pasca-konflik dan tsunami. Namun, kondisi yang ada bahwa penanganan masyarakat Aceh pasca-tsunami dan konflik masih tidak pro terhadap kaum perempuan (Lee-Koo, 2012).

Pemberdayaan perempuan di daerah pasca-konflik menjadi suatu keharusan mengingat perempuan merupakan pihak paling terdampak (Petesch, 2011; Fitzpatrick, 2012). Program pemberdayaan perempuan di Aceh khususnya mantan inong balee tidak dapat dikatakan sepenuhnya berhasil. Kegagalan program pengembangan kapasitas perempuan disebabkan oleh ketimpangan dalam proses dislokasi ekonomi dan sosial bagi perempuan Aceh pasca-konflik dan tsunami (Priyono, 2012). Kaum perempuan tidak menikmati hak-hak memiliki tanah dan bangunan (properti), memiliki tingkat pendidikan yang rendah daripada laki-laki,

bekerja dalam sektor informal, mengalami mobilitas yang terbatas, dan memikul tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti air, bahan bakar, dan pakan ternak. Oleh karena itu, gangguan ekonomi dan sosial akan mengakibatkan kesulitan yang lebih besar bagi kaum perempuan daripada laki-laki (Fitzpatrick, 2012).

Disamping itu, proses intergrasi pasukan inong balee ke masyarakat pasca-konflik juga membutuhkan waktu yang cukup lama. Mengingat stigma yang berkembang di masyarakat tentang sosok inong balee. Meskipun mereka dianggap pejuang bagi sebagai masyarakat atas kontribusi mereka membantu perjuangan GAM, namun intensitas konflik telah memunculkan citra buruk bagi konstuksi tubuh inong balee. Oleh karenanya, proses pemberdayaan akhirnya terhambat dan terkesan parsial hanya dinikmati oleh orang-orang bukan inong balee (Musfirah et al, 2015; Suwardi, 2015).

Paper ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan dua hal, yaitu, (1) kondisi dan perkembangan pengembangan perempuan Aceh pasca-konflik; dan (2) sistem komunikasi dalam pengembangan perempuan Aceh pasca-konflik. Hal ini beranjak dari pemikiran bahwa komunikasi memiliki kontribusi terhadap program pemberdayaan masyarakat –khususnya perempuan. Komunikasi menjadi salah satu upaya untuk menemukenali permasalahan yang dihadapi masyarakat melalui identifikasi peluang dan ancaman, serta potenisi yang ada di masyarakat.

TINJAUAN PUSTAKA Sistem Komunikasi

Dalam pemberdayaan masyarakat pendekatan sistem menjadi penting untuk melihat input-proses-output dari program yang ada. Pendekatan sistem akan memnawa kita pada suatu pemahaman yang baik terhadap lingkungan, kebijakan, dan sistem politik-budaya-sosial-ekonomi masyakarat. Pada akhirnya pemahaman yang baik ini akan melahirkan sebuah output terbaik yang dapat digunakan untuk pemberdayaan masyarakat. Pendakatan sistem mengembalikan dan mengembangakan pemahaman yang holistik, yaitu, melihat realitas sebuah sistem (Muadz, 2014).

Capra sebagaimana dikutip Muadz (2014) mengidentifikasi ciri utama pemikiran sistem sebagai yang mengubah kriteria analitik yang menjadi titik tolak kerja ilmiah menjadi integratif, yaitu, memahami bagian-bagian

dalam konteks kontibutifnya dalam rangka pembentukan keseluruhan.

Sistem menurutnya adalah keseluruhan yang padu yang sifat-sifatnya tidak bisa direduksi menjadi sifat-sifat bagian yang lebih kecil. Sistem secara keseluruhan dibangun berdasarkan jaringan inter-relasi antar komponen yang bekerja berdasarkan prinsip-prinsip pengorganisasian tertentu. Lebih lanjut Muadz (2014) menyebutkan bahwa sistem merupakan sebuah entitas keseluruhan yang terstruktur dan mampu mempertahankan identitasnya sebagai sebuah sistem dengan mempertahankan hubungan-hubungan di dalamnya dengan prinsip-prinsip pengorganisasian tertentu yang bersifta invarian dan dikonservasi secara terus menerus.

Menurut Hamilton (1990) seperti dikutip Manurung (2003), sistem memiliki beberapa fungsi, yaitu, pertama Pemeliharaan Pola. Fungsi Pemeliharaan Pola mengacu pada keharusan mempertahankan stabilitas pola-pola budaya terlembaga yang mendefenisikan struktur dari sistem tersebut. Dalam hal ini fungsi esensial adalah pemeliharaan, pada tingkat kultural, dan stabilitas nilai-nilai terlembaga melalui proses-prosesyang mengartikulasikan nilai-nilai dengan sistem kepercayaan, yaitu keyakinan- keyakinan agama, idiologi, dan semacamnya. Selain itu adanya fungsi kendali yang menyangkut motivasi komitmen individual.

Kedua, Pencapaian Tujuan. Fokus dari orientasi tujuannya terletak dalam hubungannya sebagai suatu sistem terhadap kepribadian-kepribadian dari individu-individu peserta.Karena itu ia menyangkut bukannya komitmen kepada nilai-nilai masyarakat, tetapi motivasi untuk menyumbang apa yang perlu bagi berfungsinya sistem, yaitu, “Sumbangan-sumbangan” ini berbeda menurut kedaruratannya. Ke-empat, Adaptasi. Fungsi Adaptasi ini merupakan suatu tindakan penyesuaiaan dari sistem terhadap “tuntutan kenyataan” yang keras yang tidak dapat diubah ‘yang datang dari lingkungan’.

Kelima, Integrasi. Dari keseluruhan fungsi integrasi adalah fokus dari sifat-sifat dan proses-proses yang paling menonjol. Pentingnya integrasi mengisyaratkan bahwa semua sistem, kecuali dalam kasus tertentu, itu didefenisikan dan dipecah-pecah menjadi unit-unit yang relatif independen, yaitu harus diperlakukan sebagai sistem-sistem lain, yang dalam hal ini subsistem-subsistem lain dari sistem sama yang lebih luas. Dalam suatu masyarakat yang sangat terdeferensial, fokus primer dari fungsi integrasi didapati dalam sistem norma-norma legalnya dan pelaku-pelaku yang berhubungan dengan manajemennya, terutama pengadilan dan profesi hukum.

Pemahaman terhadap sistem komunikasi merupakan hal penting dalam proses pengembangan dan pemberdayaan masyarakat. Sistem dipahami sebagai gugusan/kumpulan dari kompenen yang saling terkait dan teroganisasi dalam rangka mencapai suatu tujuan atau gugus tujuan tertentu (Hartrisari, 2007). Sedangkan komunikasi dimaknai sebagai upaya penyampaian informasi, gagasan, ide dalam bentuk pesan dari komunikator (source) dan komunikan (receiver) bertujuan mengubah sikap dan perilaku (Cangara, 2012). Dalam hal ini sistem komunikasi dimaknai sebagai suatu kumpulan gugusan yang saling terkait dalam rangka melakukan pertukaran informasi dan ide untuk mencapai tujuan tertentu.

Sistem komunikasi merupakan bagian dari sistem sosial dimana individu dan masyarakat saling terhubung dan saling mempertukarkan pesan. Tujuan dari pertukaran pesan tersebut adalah untuk saling terikat dan menghasilkan kohesi sosial. Sistem sosial memaknai relasi antar- individu memiliki fungsi berdasarkan perannya dalam struktur yang ada (Hanitzsch, 2001). Perspektif yang paling mudah untuk melihat sistem komunikasi adalah teori pertukaran sosial. Teori pertukaran sosial yang berasal dari sistem ekonomi dimana pertukaran dianggap equal jika reward yang diterima sesuai dengan pengorbanan yang dilakukan. Teori pertukaran sosial menyatakan bahwa dorongan utama dalam hubungan interpersonal adalah kepuasan dari kepentingan pribadi dua orang yang terlibat. Kepentingan pribadi tidak selalu dianggap buruk dan dapat digunakan untuk meningkatkan suatu hubungan. Pertukaran inter-personal dianggap mirip dengan pertukaran ekonomis di mana orang merasa puas ketika mereka menerima feedback yang sesuai dengan pengeluaran mereka (West dan Turner, 2008).

Dalam perspektif komunikasi, sistem menjadi unsur penting pembentuk proses komunikasi. Tradisi sibernetika menyumbang pemikiran bagaimana proses fisik, bilogis, sosial, dan perilaku bekerja. Dalam tradisi sibernetika, komunikasi dipahami sebagai sistem bagian-bagian atau variabel-variabel yang saling memengaruhi satu sama lainnya, membentuk, serta mengontrol karakter keseluruhan sistem –dan layaknya organisme – menerima keseimbangan dan perubahan (Littlejohn dan Foss, 2011). Dalam pemahaman Rogers dan Escudero (2004) bahwa semua sistem adalah unik.

Semua sistem terintegrasi dalam sebuah hubungan. Bagian apapun dari sebuah sistem selalu dipaksa oleh ketergantungan bagian-bagian lainnya dan bentuk saling ketergantungan inilah yang mengatur sistem itu sendiri.

Menurut Littlejohn dan Foss (2011) sistem memiliki beberapa sifat, yaitu, pertama sistem bersifat keseluruhan dan interdependensi (wholeness and interdependence). Dalam pemahaman ini, suatu sistem merupakan sesuatu yang unik karena bagian-bagiannya saling berhubungan satu sama lain dan tidak dapat dipahami secara terpisah. Suatu sistem adalah produk dari kekuatan-kekuatan atau interaksi-interaksi diantara bagian-bagiannya yang saling bergantungan atau saling mempengaruhi tidak bebas. Untuk memahami ciri independensi sistem dapat ditinjau dari sistem dalam keluarga. Keluarga adalah suatu sistem interaksi individu, dan setiap anggota dipaksa oleh aksi anggota-anggota lainnya. Walaupun tiap orang memiliki kebebasan tak seorangpun memiliki kebebasan penuh dengan keterikatan mereka satu sama lain. Perilaku-perilaku dalam keluarga tidak independen, bebas, atau acak. Namun mereka terpola dan terstruktur agak dapat diramalkan. Apa yang anggota keluarga lakukan atau katakan mengikuti dari atau membawa suatu aksi yang lain.

Kedua, Hirarki (hierarchy). Dalam ciri ini sistem dipahami terdiri atas dua struktur ukuran, yaitu, sistem besar dan sistem kecil. Sistem yang lebih besar berasal dari satu bagian yang disebut supra-sistem. Sedangkan sistem yang lebih kecil mengandung suatu sistem disebut sub-sistem. Keluarga menggambarkan hirarki dengan sangat baik. Supra-sistem adalah keluarga yang diperluas, yang dirinya sendiri adalah bagian dari sistem yang lebih besar yaitu masyarakat. Beberapa unit keluarga inti adalah bagian-bagian dari yang diperluas, dan setiap unit keluarga dapat memiliki subsistem- subsistem seperti unit suami-istri, anak, unit orang tua-anak.

Ketiga, Peraturan sendiri dan kontrol (self-regulation and control). Sistem- sistem paling sering dipandang sebagai organisasi yang berorientasi kepada tujuan. Aktifitas-aktifitas suatu sistem dikendalikan oleh tujuan-tujuannya dan sistem itu mengatur perilakunya untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.

Bagian-bagian dari suatu sistem harus berperilaku berdasarkan garis-garis besar dan harus beradaptasi terhadaptasi terhadap lingkungan pada basis umpan balik. Kembali ke contoh, keluarga-keluarga melukiskan kualitas sistem-sistem ini, dan ia dapat memiliki berbagai mekanisme kontrol. Contohnya, ia dapat bersandar pada satu anggota dominan untuk membuat keputusan-keputusan dan memberikan arahan. Orang ini memonitor keluarga itu memberikan kontrol seperlunya bilamana ada tanda-tanda penyimpangan dari standar- standar keluarga terdeteksi. Keluarga-keluarga lain dapat menagani kontrol dengan sangat berbeda, seperti dalam kasus dimana yang memiliki bagian-

bagian peran yang tegas membolehkan setiap anggota mendesak kontrol terhadap jenis-jenis keputusan tertentu dan tidak bagi yang lainnya.

Ke-empat, Pertukaran dengan lingkungan (interchange with environment). Sistem-sistem berinteraksi dengan lingkungannya. Mereka mengambil ke dalam dan membiarkannya ke luar materi dan energi, memiliki masukan-masukan dan keluaran-keluaran. Contohnya, orang- orang tua harus secara tetap menyesuaikan terhadap hubungan-hubungan putranya di luar keluarga dan berurusan dengan pengaruh-pengaruh dari teman-teman, guru-guru, dan televisi.

Kelima, Keseimbangan (balance). Keseimbangan, seringkali merujuk kepada homeostatis (merawat sendiri). Salah satu tugas dari suatu sistem, jika ia tetap hidup, adalah tinggal dalam keseimbangan. Sistem haruslah bagaimana pun mendeteksi bilamana rusak dan membuat penyesuaian untuk kembali di atas jalurnya, penyimpangan dan perubahan muncul dan dapat ditoleransi oleh sistem, hanya bila telah lama. Akhirnya, sistem itu akan jatuh berantakan jika tidak dapat merawat dirinya.

Ke-enam, Perubahan dan kemampuan beradaptasi (change and adaptibity). Karena sistem eksis dalam suatu lingkungan dinamik sistem haruslah dapat beradaptasi. Sebaliknya, untuk bertahan hidup, suatu sistem haruslah memiliki keseimbangan tapi ia juga harus berubah. Sistem-sistem yang kompleks seringkali perlu berubah secara struktural untuk beradaptasi terhadap lingkungan, dan jenis perubahan itu berarti keluaran dari keimbangan untuk sesaat. Sistem-sistem yang telah maju haruslah mampu merngatur kembali dirinya untuk menyesuaikan terhadap tekanan-tekanan lingkungan. Pengertian teknis bagi perubahan sistem adalah morfogenesis.

Ketujuh, Sama akhirnya (equifinality). Finalitas adalah tujuan yang dicapai atau penyelesaian tugas dari suatu sistem. Equifinalty adalah suatu keadaan final tertentu bisa jadi diselesaikan dengan cara-cara yang berbeda dan titik-titik awal yang berbeda. Sistem-sistem yang dapat beradasptasi, yang memiliki keadaan final suatu tujuan, dapat mencapai tujuan itu dalam suatu beragam kondisi lingkungan.Sistem mampu dalam memproses masukan-masukan dengan cara-cara yang berbeda untuk menghasilkan keluarannya. Orang tua yang cerdik, misalnya mengetahui bahwa perilaku-perilaku anaknya dapat dipengaruhi oleh beragam teknik, pembuatan keputusan keluarga dapat terjadi dalam lebih dari satu cara dan dan anak-anak belajar beberapa metoda untuk mengamankan pemenuhan kedewasaan pada dunianya.

Pengembangan Masyarakat

Pengembangan masyarakat sejatinya merupakan sebuah proses, yaitu, dimulai dari perencanaan hingga evaluasi dan kontrol terhadap proses yang berlaku. Terminologi pengembangan sering dipetukarkan dengan istilah pemberdayaan. Hal ini dilandaskan pada pemikiran bahwa konsep pengembangan dan pemberdayaan memiliki tujuan yang sama, yaitu, peningkatan kapasitas masyarakat. Soetrisno sebagaimana dikutip Jacob (2000) mengatakan bahwa pemberdayaan masyarakat (empowerment) merupakan upaya untuk mengubah kondisi program pembangunan yang sudah ada dengan cara memberikan kesempatan pada kelompok orang miskin untuk merencanakan dan kemudian melaksnaakan program pembagunan yang telah dipilihnya, serta memberikan kesempatan pada kelompok orang miskin untuk mengelola dana pembangunan dengan baik yang berasal dari pemerintah maupun pihak lain.

Dalam pemahaman yang lain, Blachburn seperti dikutip Nasdian (2014) bahwa pengembangan masyarakat merupakan konsep yang berupaya mengubah masyarakat ke arah yang lebih maju melalui proses yang terencana dan bersifat gradual. Sementara itu, Adams (2003) menyatakan pemberdayaan sebagai alat untuk membantu idividu, kelompok, dan masyarakat supaya mereka mampu mengelola lingkungan dan mencapai tujuan mereka, sehingga mampu bekerja dan membantu diri mereka dan orang lain untuk memaksimalkan kualitas hidup. Pada akhirnya pemberdayaan ini menempatkan masyarakat sebagai subjek pembangunan, sehingga melahirkan konsep people center development (Surjono dan Nugroho, 2008) dan konsep community-driven development yang diterjemahkan sebagai pembangunan yang diarahkan masyarakat atau diistilahkan pembangunan yang digerakkan masyarakat (Wrihatnolo dan Nugroho, 2007).

Paradigma pemberdayaan lahir dari rahim para pemikir Barat khususnya di Eropa. Sejak dekade 1970-an, konsep pemberdayaan muncul bersamaan dengan aliran-aliran seperti eksistensialisme, fenomenologi, dan personalisme. Konsep ini terus berkembang dengan mengambil kontribusi dari gerakan pemikiran Neo-Marxisme, Freudianisme, Strukturalisme, dan berbagai corak pemikirna dari Teori Kritis Frankfurt School. Konsep pemberdayaan juga dapat dipandang sebagai bagian dari aliran-aliran paruh abad ke-20, atau yang dikenal dengan aliran post-modernisme, dengan

penekanan sikap dan pendapat yang orientasinya adalah anti-sistem, anti- struktur, dan anti-determinisme, yang diaplikasikan pada dunia kekuasaan (Widayanti, 2012).

Konsep permberdayaan sendiri muncul sebagai anti-tesis dari paradigma pembangunan yang selama ini diterapkan oleh Barat.

Pembangunan yang hanya terpaku pada aspek pencapaian produksi negara telah memaksa masyarakat menjadi mesin pengumpul uang bagi negara.

Kondisi ini hanya menempatkan masyarakat sebagai objek pembangunan yang cenderung hanya berdasarkan tafsir negara. Kondisi negara-negara berkembang pasca-kemerdekaan banyak mengalami dilema. Fokus negara adalah pada capaian pertumbuhan ekonomi setinggi-tinggi. Namun, kondisi ini terkadang bertolak belakang dengan tingkat perekonomian masyarakat di level bawah. Kondisi inilah yang disebut oleh Brohman (2001) sebagai maldevelopment, yaitu, kondisi dimana kegagalan dari pembangunan yang dicanangkan oleh negara terhadap warganya.

Kritik terhadap proses pembangunan yang selama ini dijalankan dengan konsep top down oleh sarjana ekonomi, politik, dan sosial didasarkan pada beberapa hal, yaitu, (1) Pembangunan tidak menghasilkan kemajuan, melainkan justru semakin meningkatkan keterbelakangan; (2) Melahirkan ketergantungan negara sedang berkembang terhadap negara maju; (3) Melahirkan ketergantungan pheriphery (negara berkembang) terhadap center (negara maju); (4) Melahirkan ketergantungan masyarakat terhadap negara/pemerintah; dan (5) Melahirkan ketergantungan masyarakat kecil –buruh, nelayan, petani, dan lain sebagainya –terhadap pemilik modal (Widayanti, 2012). Untuk mengatasi ketimpangan ini, ditawaarkan sebuah konsep dan metodologi alternatif untuk pembangunan, seperti transformative and transactive planning, bottom up, community empowerment, dan participative, semuanya ini terkenal dengan terminologi Pembangunan Komunitas/ masyarakat (Community Development).

Dalam pengembangan masyarakat terdapat prinsip-prinsip yang merupakan penjabaran dari perspektif ekologi dan keadilan sosial. Prinsip- prinsip ini slaing terkait dalam pelaksanaannya. Sulit sekali menjalankan satu prinsip tanpa mengaitkan dengan prinsip yang lainnya. Pemahaman terhadap prinsip ini perlu dilakukan agar penerapan pengembangan masyarakat. Menurut Ife dan Tesoriero (2008) menyatakan bahwa pengembangan masyarakat (community development) sebagai suatu perencanaan sosial perlu berlandaskan pada asas-asas, yaitu, (1) komunitas

dilibatkan dalam setiap proses pengambilan keputusan; (2) mensinergikan strategi komprehensif pemerintah, pihak-pihak terkait (related parties) dan partisipasi warga; (3) membuka akses warga atas bantuan profesional, teknis, fasilitas, serta insentif lainnya agar meningkatkan partisipasi warga; dan (4) mengubah perilaku profesional agar lebih peka pada kebutuhan, perhatian dan gagasan warga komunitas.

Dalam program pengembangan masyarakat unsur terpenting adalah pemahaman terhadap modal sosial yang ada. Modal sosial dimaknai sebagai proses relasi yang intim dan konsisten antar-manusia. Modal sosial merujuk pada jaringan sosial, norma, dan kepercayaan yang berpotensi pada peningkatan produktivitas manusia (Suharto dalam Sudirah, 2015).

Modal sosial bersifat kumulatif dan bertambah dengan sendirinya karena ia berkaitan dengan strategi individu untuk berasosiasi dengan orang lain (Putnam, 1993; Coleman, 1999). Bagi Fukuyama (1995) sebagaimana dikutip Sudirah (2015) modal sosial yang dimiliki oleh individu dan masyarakat akan menghasilkan kepercayaan yang pada gilirannya memiliki nilai ekonomi besar dan terukur.

Terkait dengan pemberdayaan perempuan, selama ini program yang ada selalu bias gender. Program-program yang ada belum mempertimbangkan manfaat pembangunan secara adil terhadap perempuan dan laki-laki, sehingga turut memberikan kontribusi terhadpa timbulnya ketidaksetaraan dan keadilan gender. Oleh karenanya, di berbagai bidang senantiasa diperlukan upaya pemberdayaan perempuan agar terwujud kesetaraan akses, partisipasi, manfaat, dan kontrol antara laki-laki dan perempuan sebagai anggota masyarakat (Marwanti dan Astuti, 2012). Di lain pihak menurut Gie (2003) masih banyak kebijakan program dan kegiatan pembangunan yang belum peka gender, yaitu, belum mempertimbangkan perbedaan pengalaman, aspirasi, dan kepentingan antara laki-laki dan perempuan, serta belum menetapkan kesetaraan dan keadilan gender sebagai sasaran akhir.

Menurut Ratnawati (2011) terdapat tiga alasan penting kenapa perempuan wajib diberdayakan dalam konteks pengentasan kemiskinan, yaitu, pertama perempuan mempunyai kepentingan yang sama dalam pembangunan, dan juga merupakan pengguna hasil pembangunan, yang mempunyai hak sama dengn laki-laki. Kedua, perempuan juga memiliki kepentingan yang khusus sifatnya bagi perempuan itu sendiri dan anak- anak yang kurang optimal jika digagas oleh laki-laki karena membutuhkan

kepekaan yang sifatnya khusus, terkait dengan keseharian, sosio kultural yang ada. Ketiga, memberdayakan dan melibatkan perempuan dalam pembangunan, secara tidak langsung akan juga memberdayakan dan menularkan semangat yang positif kepada generasi penerus yang pada umumnya dalam keseharian sangat lekat dengan sosok ibu.

Dalam pemberdayaan perempuan, metode “Kerangka Pemampuan Perempuan” yang digagas oleh Sara H. Longwee sebagai suatu metode mendasar yang menempatkan perempuan sebagai subjek pembangunan.

Metode tersebut berupaya untuk menangani isu gender sebagai kendala pemberdayaan perempuan dalam upaya memenuhi kebutuhan spesifik perempuan dan upaya mencapai kesetaraan gender. Pemberdayaan perempuan mencakup tiga hal: (1) capacity building bermakna membangun kemampuan perempuan; (2) cultural change yaitu perubahan budaya yang memihak kepadaa perempuan; (3) structural adjustment adalah penyesuaian struktural yang memihak perempuan. Upaya pemberdayaan diarahkan pada tercapainya kesejahteraan masyarakat melalui kesetaraan gender (Marwanti dan Astuti, 2012).

PEMBAHASAN

Perempuan Aceh: Melirik Masa Lalu

Dalam sistem sosial masyarakat Aceh, perempuan ditempatkan sebagai elemen penting. Sejak abad ke-16, Kesultanan Aceh Darussalam telah memiliki seorang panglima perang laut, yaitu, Laksamana Keumalahayati.

Sebagai seorang panglima perang, Laksamana Keumalahayatai telah menjadi elemen penting perjuangan rakyat. Untuk mendukung perjuangannya, Laksamana Keumalahayati membentuk pasukan inong balee. Pasukan ini adalah pasukan elite dalam kerajaan Aceh. Terdiri atas para janda yang ditinggal mati suami mereka ketika berperang melawan penjajahan Belanda atas tanah Kerajaan Aceh Darussalam. Keumalahayati telah menjelma menjadi simbol perjuangan perempuan Aceh (RETTIG dan Lanzona, 2008).

Kecakapan perang yang dimiliki oleh Keumalahayati di-ikuti pula oleh karakternya yang sangat santun, tegas, pemberani, dan taat akan ketentuan agamanya. Hal inilah yang membuat Sultan Aceh Darussalam, Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV mengijinkan Keumalahayati untuk memimpin armada laut. Pasukan inong balee yang dimiliki oleh Keumalahayati berjumlah 2000. Pada tahun 1599, Laksamana Keumalahayati

Dalam dokumen BUKU 3 KOMUNIKASI, MEDIA DAN NEW MEDIA (Halaman 41-77)