• Tidak ada hasil yang ditemukan

MASYARAKAT EKONOMI ASEAN (MEA)

Dalam dokumen BUKU 3 KOMUNIKASI, MEDIA DAN NEW MEDIA (Halaman 159-171)

yaitu Singapura (peringkat 18) dan Malaysia (peringkat 64).. Adapun IPM di kawasan Asia Pasifik adalah 0,683. (Data tahun 2013)1

Ket: Bagan IPM Indonesia Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS), 2016

Berdasarkan bagan di atas, posisi IPM Indonesia di ASEAN menempati urutan ke 5, masih tertinggal dari Singapura, Brunei, Malaysia, dan Thailand.

IPM Indonesia baru mengungguli Filipina, Vietnam, Kamboja, Laos, dan Myanmar. Disamping itu, dunia pendidikan di Indonesia masih memiliki banyak kendala terkait dengan kualitas pendidikannya, diantaranya keterbatasan akses kepada pendidikan. Sementara dalam angkatan kerja, masih didominasi tenaga kerja dengan tingkat pendidikan yang belum ideal (SD), sehingga tenaga kerja yang tersedia bukan tenaga kerja yang bersifat softskill.Pendidikan merupakan modal utama membangun sumber daya manusia yang kompetitif sehingga melalui pendidikan yang efektif dan efisien diharapkan Indonesia mampu bersaing dengan negara lain.

Bangsa Indonesia mempunyai pekerjaan rumah yang cukup besar, dimana tingkat pendidikan, ekonomi masih cukup tertinggal dibandingkan negara Singapore dan Malaysia.Chief Operating Officer World Bank, Sri Mulyani Indrawati dalam kuliah umum Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI) menyatakan: “Saat ini terjadi ketimpangan di

1 Dina Nur Hayati, Blog, diunduh 27 Mei 2016

antara masyarakat, indikator kesenjangan Indonesia meningkat tajam dari 30 pada 2003 ke 41 pada tahun 2014. Ketimpangan sosial ini terjadi di bidang, ekonomi, layanan kesehatan, dan kualitas pendidikan”2.

Perkembangan teknologi komunikasi informasi telah merubah berbagai sektor kehidupan, sehingga ilmu komunikasi sebagai ilmu masa kini dan masa depan sangat dibutuhkan pada saat ini. Apalagi dengan dibukanya pasar terbuka Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada awal tahun 2016, dimana tidak ada lagi proteksi bagi negara-negara ASEAN dalam aktifitas ekonominya.Arus perdagangan, jasa, dan sumber daya manusia tidak lagi diproteksi oleh negara. MEA bukan merupakan peristiwa ekonomi saja, tetapi merupakan peristiwa komunikasi, namun hal ini kurang disadari oleh masyarakat khususnya masyarakat Indonesia. Ketidakpahaman masyarakat Indonesia terhadap MEA menunjukkan lemahnya ‘komunikasi kebijakan pemerintah’, padahal komitmen melahirkan MEA telah disepakati pada bulan Januari 2007 dalam Konferensi Tingkat Tinggi XII ASEAN di Cebu, Filipina. Survey Litbang Kompas pada bulan Nopember 20153, menunjukkan 57% responden tidak tahu MEA akan diterapkan pada akhir Desember 2015, hal ini menunjukkan kurangnya sosialisasi pemerintah terhadap masyarakat.

Pendidikan dalam sector komunikasi memiliki trend meningkat di negara ASEAN, khususnya di Indonesia. Dalam lima tahun terakhir, pendaftar ke fakultas ilmu komunikasi berada di urutan tertinggi dibandingkan fakultas lain. Dalam tahun 2016, jumlah pendaftar ke Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran sebesar 7500 orangdari 200-300 yang dialokasikan (Republika.co.id). Dengan posisi ini, dapatkah kita mengembangkan pendidikan komunikasi sesuai dengan kebutuhan pasar, apakah luarannya dapat berkontribusi meningkatkan IPM melalui pendidikan komunikasi. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisa;Perkembangan pendidikan komunikasi, peluang pendidikan komunikasi di era MEA, dan tantangan pendidikan komunikasi di era MEA

Metode penelitian dilakukan dengan metode deskriptif, dimana metode deskriptif“bermaksud untuk membuat deskripsi mengenai situasi-

2 “Ketimpangan Sosial Makin Tajam” dalam koran Pikiran Rakyat, Rabu (27 Juli 2016)

3 “Tantangan Komunikasi di Era MEA” oleh Muannas, diunduh dari www.makassar.tribun.

com, 26 Juli 2016, pukul 12.30.

situasi atau kejadian-kejadian.Penelitian ini melakukan akumulasi data dasar dalam cara deskriptif, tidak menguji hipotesis, membuat ramalan, atau mendapatkan makna dan implikasi”(Aslichati dkk, 2008). Teknik pengumpulan data through interview and literary studies, Wawancara dilakukan dengan Prof. Dr. Atie Rachmiatie, M.Si. dan dan Prof. Dr. Neni Yulianita, M.Si., Guru Besar llmu komunikasi Universitas Islam Bandung (UNISBA).

Perkembangan Pendidikan Komunikasi

Pendidikan merupakan suatu proses pengalaman. Karena kehidupan merupakan pertumbuhan, maka pendidikan berarti membantu pertumbuhan batin manusia tanpa dibatasi usia. Proses pertumbuhan adalah proses penyesuaian pada setiap fase dan menambah kecakapan dalam perkembangan seseorang melalui pendidikan (Dewey). Untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut, peran pendidikan sangat penting dan merupakan kekuatan masa depan sebagai fungsi perubahan yang menentukan. Pengelolaan pendidikan hendaknya lebih efisien dan efektif melalui perumusan pola pendidikan serta prinsip-prinsip manajemen pendidikan yang baik. Ilmu komunikasi itu sendiri dari sejarahnya berawal dari retorika yang mengkaji proses pernyataan antarmanusia sebagai fenomena sosial yang semakin berperan dikembangkan oleh Demosthenes dan Aristoteles (Effendy, 2003). Komunikasi sebagai ilmu juga berkembang di Jerman dengan nama Publisistik, sedangkan di Amerika Serikat namanya communication science.

Saat ini pendidikan ilmu komunikasi berkembang pesat di berbagai negara, termasuk di Indonesia. Ilmu komunikasi menjadi penting karena berbagai masalah yang timbul akibat komunikasi dalam pergaulan hidup di masyarakat. “Jika seseorang miscommunication, maka orang yang dijadikan sasaran mengalami misperception, yang pada gilirannya misinterpretation, yang dapat terjadi misunderstanding. Dalam hal-hal tertentu misunderstanding ini menimbulkan misbehavior” (Effendy, 2003).

Di Indonesia4, sekitar 60 % perguruan tinggi memiliki program studi ilmu komunikasi, dimana pada umumnya program studi ilmu komunikasi menjadi program studi favorit.Seperti halnya di Universitas Islam Bandung, dalam 5 tahun terakhir, Fakultas Ilmu Komunikasi berada dalam 3 terbesarsebagai program studi favorit.

4 Wawancara dengan Prof. Neni Yulianita, Kamis (28/7/2016) pukul 14.30.

Pendidikan Ilmu Komunikasi pada dasarnya bertolak dari asumsi adanya domain ilmu komunikasi, dalam citranya pendidikan komunikasi merupakan disiplin ilmu yang terbuka.Objek kajian ilmu komunikasi adalah fenomena komunikasi, yaitu kegiatan dengan memanfaatkan perangkat ataupun situasi dalam menyampaikan informasi5.Objek kajian dalam Ilmu Komunikasi berkembang dengan pesat sebagai ilmu, tidak terlibat dalam perdebatan epistemologisnya, berbagai pendekatan yang dikembangkan apakah kuantitatif, kualitatif, kajian media, kultural, ataupun pendekatan lainnya, mendapat posisi yang sama dalam kajian ilmu komunikasi.

Dalam ruang lingkup ASEAN, pendidikan di bidang komunikasi sudah berkembang dan banyak diminati, meskipun kebanyakan tidak berdiri sendiri sebagai fakultas ilmu komunikasi. Ada yang dibawah fakultas teknik, fakultas ekonomi, fakultas ilmu sosial, dan sebagainya.

Peluang Pendidikan Komunikasi di Era MEA

Di era MEA bidang komunikasi sangat penting untuk bersaing di pasar tunggal ASEAN, istilahnya ‘siapa yang menguasai komunikasi akan memenangkan persaingan’. Untuk itu yang harus menjadi focus of interest dalam pendidikan komunikasi saat ini adalah tidak hanya mempertimbangkan teknologi komunikasi sebagai perangkat hardware-nya tetapi juga sumber daya manusianya sebagai software dan humanware-nya.

Orang komunikasi harus mempunyai kemampuan komunikasi bisnis, public relations dan komunikasi lintas budaya. Menurut Himstreet dan Baty (Purwanto, 2011:4), komunikasi bisnis adalah suatu proses pertukaran informasi antar individu melalui suatu sistem yang biasa (lazim), baik dengan simbol-simbol, sinyal-sinyal, maupun perilaku atau tindakann.

Komunikasi bisnis akan memandu mewujudkan terjadinya pertukaran ide, gagasan,dan informasi untuk mencapai tujuan bisnis tertentu.

Komunikasi lintas budaya (Purwanto, 2011:5), “merupakan bentuk komunikasi yang dilakukan antara dua orang atau lebih, yang masing- masing memiliki budaya yang berbeda karena perbedaan geografis tempat tinggal.Komunikasi dapat terjadi pada tingkat antarwilayah, antardaerah, maupun antarnegara”.Kemajuan teknologi komunikasi tidak otomatis membuat komunikasi tatap-muka tidak penting, kita bisa berkomunkasi melalui telepon genggam atau e-mail, namun kita tetap merasa perlu

5 Makalah “Pendidikan Ilmu Komunikasi di Indonesia”, disampaikan pada seminar Kontribusi Ilmu, Teknologi dan Praktisi Komunikasi dalam Pengembangan Pendidikan Komunikasi di Indonesia, di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, UGM, 6 Juli 2002.

berkomunikasi tatap-muka.Deddy Mulyana dalam pengantar buku Komunikasi Bisnis Lintas Budaya (Lewis, 2004:xi), menyatakan bahwa:

bentuk komunikasi tatap-muka merupakan bentuk komunikasi yang paling sempurna, yang menumbuhkan keakraban dan kehangatan dengan sesama kita. Di era perdagangan bebas para pebisnis tetap merasa perlu untuk bertemu dan berunding secara tatap, meskipun mereka menggunakan peralatan komunikasi yang canggih. Richard Lewis (2004:xi) menyatakan, manajer abad ke-21 yang sukses adalah mereka yang peka secara budaya.

Sedangkan Public Relations akan memandu dalam upaya menciptakan hubungan yang baik dengan publik (stakeholder), menciptakan citra positif dan reputasi lembaga. Citra dari sebuah perusahaan adalah fungsi dari bagaimana konstituen/stakeholder melihat organisasi tersebut berdasarkan atas semua pesan yang organisasi itu sampaikan melalui nama dan logo dan melalui presentasi diri, termasuk ekspresi-ekspresi dari visi korporatnya (Argenti, 2010:93). Stakeholder sering memiliki persepsi tertentu mengenai sebuah organisasi sebelum mereka bahkan mulai berinteraksi dengannya.

Persepsi-persepsi ini didasarkan pada industri, apa yang pernah mereka baca mengenai organisasi, interaksi apa yang orang lain pernah miliki dan diceritakan kepada mereka, dan simbol-simbol visual apa yang mereka kenali. Reputasi berbeda dengan citra, karena dibangun dalam waktu yang lama dan bukan hanya sebuah persepsi pada waktu tertentu.

Atie Rachmiatie sebagai salah satu Guru Besar Ilmu Komunikasi UNISBA, menyatakan:

Di era MEA saat ini, pendidikan komunikasi kita tidak hanya berbicara globalisasi tetapi juga bicara tentang kearifan lokal, kita harus bisa mengangkat kekhasan dari budaya bangsa Indonesia, tradisi dan identitas bangsa jangan dilupakan sehingga tidak melupakan identitas kita. Mau tidak mau itulah yang harus dibangun oleh bidang komunikasi, bagaimana mengangkat bangsa ini menjadi bangsa yang percaya diri sehingga menjadi leader di era MEA.6

Dengan memperkuat pendidikan komunikasi yang berlandaskan pada budaya dan identitas bangsa, hal ini akan menjadi positioning pendidikan komunikasi Indonesia di era MEA. Artinya kegiatan komunikasi yang kita lakukan akan menyuntikan identitas bangsa kepada negara-negara ASEAN lainnya. Identitas bangsa yang dibangun adalah bangsa Indonesia yang kaya

6 Wawancara dengan Prof. Atie Rachmiatie, Selasa (26 Juli 2016), pukul 13.30.

akan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang menjadi pemain utama dalam kancah persaingan MEA.

Sebagai orang komunikasi harus bisa memberikan treatment-treatment yang tepat, sesuai dengan kelompok-kelompok dalam masyarakat, bagaimana strategi komunikasi menghadapi masyarakat dari kalangan bawah, bagaimana strategi komunikasi menghadapi masyarakat dari kalangan menengah dan kalangan atas. Maka dari itu pendidikan komunikasi harus multidisiplin dan interdisiplin, multidisiplin artinya kita harus bersentuhan dengan ilmu ekonomi, politik, hukum, psikologi, sosiologi, dan ilmu lainnya. Sedangkan interdisiplin, artinya kita harus memperkuat ilmu komunikasi secara spesifik, misalkan; public relations, jurnalistik, komunikasi antarbudara, komunikasi lintas budaya, komunikasi politik dan komunikasi bisnis. Lulusan komunikasi harus spesialis di bidang tertentu, tidak generalis, maka dari itu sertifikasi keahlian profesi menjadi penting dalam kancah persaingan MEA.

Neni Yulianita sebagai salah satu Guru Besar Ilmu Komunikasi UNISBA, menyatakan:

Dari segi peluang pendidikan komunikasi di Indonesia sudah bagus.

Indonesia tidak dipandang sebelah mata, seperti Thailand yang menyatakan bahwa Indonesia sudah memiliki banyak prestasi. Kita harus melihat bagaimana Indonesia bersaing dan mampu menjadi panduan perguruan tinggi komunikasi negara-negara tetangga.Tetapi untuk lingkup ASEAN, pendidikan komunikasi rada miris, karena ASEAN belum menjadi lirikan sebagai sasaran pendidikan komunikasi.

Kebanyakan peminat ilmu komunikasi kuliah di Australia, Amerika, dan Inggris. Indonesia dan ASEAN belum menjadi sasaran7.

Hal tersebut menjadi tantangan sendiri agar bisa establish pendidikan komunikasinya, karena memang akar pendidikan komunikasi dari Amerika, Inggris, dan Jerman.

Peluang lulusan komunikasi di era MEA terbuka untuk bisa bekerja di ASEAN. Di era MEA, ini merupakan tantangan bagi perguruan tinggi agar lulusannya bisa diterima di negara-negara ASEAN. “Cara pengelolaan pendidikankomunikasi harus ikut selera pengguna (user), dengan kurikulum yang sesuai kebutuhan user. Pengelola dan dosen fakultas ilmu komunikasi harus melakukan studi banding ke perguruan tinggi di lingkup ASEAN dan internasional (Amerika, Australia, Inggris, dll) dalam aspek

7 Wawancara dengan Prof. Neni Yulianita, Kamis (28/7/2016) pukul 14.30

kurikulum, kualitas dosen, dan bagaimana cara rekruitmen mahasiswanya.

Kemampuan bahasa asing sangat penting di era MEA ini, selain wawasan dan keterampilan khusus yang mendukung profesi bidang komunikasi.

Peluang menjadivisiting lecturersangat bagus, jadi dosen harus bisa menjadi expert”(Yulianita).

Selain kemampuan bahasa, diperlukan juga “penguasaan teknologi dan kemampuan profesi yang ditekuninya. Bagaimana cara mengajar yang dibutuhkan oleh mahasiswa, apakah melalui diskusi, pengkajian terhadap isu; dosen harus kreatif, mahasiswa yang aktif, kita berperan sebatas fasilitator, harus bisa mengarahkan”(Yulianita). Senada pernyataan Dewey sebagai berikut;“Fungsi pendidikan lebih sebagai fasilitatoryang memberikan ruang seluas-luasnya bagi pesertadidik untuk berekspresi, berdialog, berdiskusi,berpikir, berkeinginan dan bertujuan. Selain itupeserta didik juga harus diberikan kebebasan dalammenentukan suatu kebenaran yang diperoleh melaluihasil pengalaman dan eksperimen...

Siswa dituntut untuk dapatmengembangkan kecerdasan emosional, keterampilan,kreatifitas. Dengan cara melibatkan siswasecara langsung ke dalam proses belajar. Sehingganantinya peserta didik dapat secara mandiri mencariproblem solving dari masalah yang ia hadapi”8

Disamping itu, melalui studi banding, kita bisa melebarkan sayap dari yang dasar, meluas ke multi disiplin, Ini menjadi tantangan, karena lebih sulit memperluas wawasan. Disamping itu, kita harus menguasai komunikasi lintas budaya, karena bisa saja yang dianggap lucu, ternyata tidak etis. Dan untuk mahasiswa mengikuti sertifikasi bidang ilmunya.

Keterampilan yang diperlukan bisa dilakukan melalui fact finding, melakukan link and match. Pengetahuan yang diperlukan selain yang telah diuraikan, juga harus memiliki pengetahuan seperti finance, hukum, dan ilmu dalam bidang lain. Harus mengetahui habit dan bahaya yang mengancam, karena setiap negara memiliki habit, budaya, dan lingkungan yang tidak sama.

Tantangan Pendidikan Komunikasi di Era MEA

Berdasarkan ASEAN Economic Blueprint, MEA sangat dibutuhkan untuk memperkecil kesenjangan antara negara-negara ASEAN dalam

8 Zulkarnain el Lomboky, Konsep Pendidikan JohnDewey Sebuah Tinjauan Kritis Majalah Gontor MediaPerekat Ummat, Edisi 03 Tahun IX Juli 2011

hal pertumbuhan perekonomian dengan meningkatkan ketergantungan anggota-anggota didalamnya. Semakin dekatnya MEA dan masih banyaknya masyarakat yang belum memahami hal ini, besar kemungkinan menjadi masalah besar bagi bangsa kita.Karena hal tersebut dapat menimbulkan kegagapan massal, terutama bagi angkatan kerja yang tidak terdidik dan tidak terlatih.9Dengan demikian, terdapat urgensi pendidikan komunikasi yang terintegrasi dengan negara-negara ASEANsehingga diharapkan mampu memperkecil kesenjangan pendidikan antara negara- negara ASEAN yang dapat meningkatkan IPM masyarakat ASEAN melalui ketersediaan angkatan kerja yang terdidik dan terlatih.

“Eksistensi pendidikan komunikasi diperoleh apabila perguruan tinggi memiliki link dengan perguruan tinggi lain dalam bidang pendidikan di ASEAN. Harus memiliki link dengan perusahaan-perusahaan berskala internasional. Melalui MoU melakukan pemagangan di negara-negara ASEAN, melakukan student exchange, membuka kelas Internasional, dosennya menjadi visiting lecturer. Harus bisa mempromosikan perguruan tinggi ke negara-negara ASEAN, dengan syarat perguruan tinggi harus sudah siap dalam segala aspeknya. Disamping itu ada kebijakan untuk melakukan studi di negara ASEAN. Hal ini menjadi tantangan yang berat karena perguruan tinggi kurang melakukan promosi di negara Asean” 10 Saat ini ada sekitar 260 prodi komunikasi untuk jenjang strata-1, strata-2, dan strata-3, tetapi nampak berjalan sendiri-sendiri sehingga terjadi kesenjangan. Atie Rachmiatie dalam wawancaranya menyatakan:

Menurut saya ada kesenjangan antara dunia academic-business- goverment (ABG), ketiganya tidak serasi, berjalan masing-masing.

Harusnya pihak pemerintah dan kalangan pengusaha mendukung riset-riset yang dilakukan akademisi, dimana hasil riset ini akan menghasilkan produk-produk ilmiah yang akan diserahkan kepada para pelaku bisnis dan pemerintah mengayomi dengan regulasi- regulasi yang bermanfaat untuk kedua belah pihak dan masyarakat.

Sehingga terjadi simbiosis mutualisme antara akademisi-bisnis- pemerintah.

Hambatan inilah yang begitu dirasakan pelaku pendidikan komunikasi, dimana para pelaku usaha ‘tidak percaya’ terhadap akademisi, terbukti dengan berdirinya Universitas Multimedia (Kompas), Universitas Bakrie (Bakrie), Telkom University (Telkom), President University (Lippo),

9 Aryo Baskoro, CRMS Indonesia, diunduh Senin (27/5/2013) pukul 11.00

10 Wawancara dengan Prof. Neni Yulianita, Kamis (28/7/2016) pukul 14.30

Universitas Podomoro (Agung Podomoro), dan Universitas Pertamina (Pertamina). Seharusnya kita belajar dari Singapore dan Malaysia, dimana para akademisi didorong untuk melakukan riset kerjasama dengan industri.

Hambatan lainnya adalah adanya regulasi dimana dosen dibebani beban administrasi sehingga riset-riset dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologinya menjadi terhambat.Ada baiknya pemerintah dan pihak perguruan tinggi memberikan kesempatan kepada dosen untuk mengembangan potensinya di bidang keilmuannya masing-masing.

Hambatan inilah yang menjadi tantangan internal dosen untuk lebih fokus melaksanakan Tridarma Perguruan Tinggi (pengajaran-penelitin- pengabdian pada masyarakat).

Selain itu, industri media sebagai salah satu pengguna terbesar lulusan komunikasi di negara kita ‘belum sehat’, banyak faktor yang mempengaruhinya, antara lain; faktor politis dan kepentingan kelompok.

Industri di negara kita juga menganut sistem kapitalisme sehingga tanggungjawab terhadap masyarakatnya kurang, yang terpikirkan oleh mereka ‘bagaimana mendapatkan keuntungan dari masyarakat’.

Keberagaman kondisi masyarakat Indonesia, mulai dari primitif ke masyarakat modern, hal ini perlu diperhatikan dalam pendidikan komunikasi dimana strategi komunikasinya akan berbeda apabila menghadapi masyarakat primitif dengan masyarakat modern. Orang komunikasi perlu bekerja keras untuk menyadarkan dan meyakinkan diri tentang jati diri bangsa, dan identitas lokal kita, jangan sampai jati diri dan identitas bangsa hilang karena masuknya globalisasi.

Faktor lain adalah ketidakkompakan orang komunikasi, masing- masing mengedepankan egonya, mungkin ini diakibatkan masih barunya ilmu komunikasi dibandingkan ilmu-ilmu yang lain sehingga lulusan pendidikan komunikasi masih mencari-cari jati diri untuk eksis di masyarakat, termasuk Masyarakat Ekonomi ASEAN. Jadi tantangannya bersifat vertikal-horizontal, bukan hanya globalisasi tetapi internalnya juga harus dibenahi dalam upaya bersaing dengan ilmu lainnya

Dalam hal mengatasi tantangan yang ada, disini diperlukan berbagai upaya strategi, dan manajemen dalam mencapai sebuah reputasi pendidikan komunikasi. “Reputation management is a strategic issue for companies that can be used to direct operations in order to influence the kinds of experiences felt by important stakeholders and the views and opinion about

companies ( Aula & Mantere, 2008). Selanjutnya Fomburn menyatakan bahwa ada empat sisi reputasi korporat yang perlu ditangani, yaitu;

credibility, trustworthiness, dan responsibility (Alifahmi: 2008) SIMPULAN

1. Pendidikan ilmu komunikasi berkembang pesat di berbagai negara, termasuk di Indonesia. Ilmu komunikasi menjadi penting karena berbagai masalah yang timbul akibat komunikasi dalam pergaulan hidup di masyarakat. Di Indonesia, sekitar 60 % perguruan tinggi memiliki program studi ilmu komunikasi (260 program studi), dimana pada umumnya program studi ilmu komunikasi menjadi program studi favorit.

2. Dalam ruang lingkup ASEAN, meskipun negara-negara ASEAN sudah banyak mempunyai program studi ilmu komunikasi, peluang pendidikan komunikasi di ASEAN masih belum menjadi sasaran menimba pendidikan di bidang komunikasi. Orientasinya mahasiswa masih ke Australia, Amerika, dan Inggris. Pendidikan komunikasi di negara Indonesia harus berlandaskan pada budaya dan identitas bangsa, hal ini akan menjadi positioning pendidikan komunikasi Indonesia di era MEA. Sehingga menjadi peluang untuk memperkenalkan pendidikan komunikasi di dunia internasional

3. Tantangan ke depan bersifat global dan vertikal-horisontal, antara lain;menyerasikan antara dunia Academic, Business dan Goverment agar terjadi simbiosis mutualisme. Dalam mengembangkanpendidikan komunikasi perlu memiliki link dan kerjasama dengan perguruan tinggi dan perusahaan-perusahaan dengan ruang lingkup ASEAN dan internasional. Mempersiapkan tenaga-tenaga pengajar yang expert dan profesional, metode mengajar yang kreatif, melakukan sertifikasi profesi, membuka kelas-kelas internasional. Melakukan berbagai kegiatan promosi ke negara-negara ASEAN dan kebijakan untuk studi di negara-negara ASEAN, dengan syarat membenahi kualitas internal lembaga pendidikan komunikasi tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Alifahmi, Hifni. 2008. Marketing Communication Orchestra. Bandung;

Examedia Publishing (Grup Sygma)

Aslichati, Lilik dkk.2008. Metode Penelitian Sosial. Jakarta: Universitas Terbuka

Aula, Pekka dan Saku Mantere. 2008. Strategic Reputation Management.

New York: Routledge, Taylor & Fancis Group

Argenti, Paul A. 2010. Komunikasi Korporat. Jakarta; Salemba Humanika.

Effendy, Onong Uchjana. 2003. Ilmu, Teori & Filsafat Komunikasi. Bandung:

PT Citra Aditya Bakti

Lewi, Richard D. 2004. Komunikasi Bisnis Lintas Budaya. Bandung: PT Remaja Rosdakary.

Purwanto, Djoko. 2011. Komunikasi Bisnis. Jakarta: Erlangga.

Sumber lain:

www.makassar.tribun.com. Tantangan Komunikasi di Era MEA.

Majalah Gontor MediaPerekat Ummat, Edisi 03 Tahun IX Juli 2011), h. 28.

Pikiran Rakyat. Ketimpangan Sosial Semakin Tajam.Rabu (27 Juli 2016).

PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan sumber daya alam dan budaya yang besar yang memberikan modal besar bagi sektor pariwisata. Pariwisata sendiri merupakan salah satu sektor yang menjadi motor penggerak dalam pertumbuhan ekonomi negara. Dengan potensi wisata alam dan budaya yang begitu besar, pariwisata Indonesia menjadi salah satu penyumbang devisa yang besar bagi perekonomian Indonesia.

Pariwisata merupakan salah satu sektor pembangunan yang saat ini sedang diperhatikan oleh pemerintah. Hal ini disebabkan pariwisata mempunyai peran yang sangat penting dalam pembangunan Indonesia khususnya sebagai penghasil devisa negara di samping sektor migas.

Tujuan pengembangan pariwisata di Indonesia terlihat dengan jelas dalam Instruksi Presiden Republik Indonesia yang mengatakan bahwa tujuan pengembangan pariwisata di Indonesia adalah untuk meningkatkan pendapatan devisa pada khususnya dan pendapatan negara dan masyarakat pada umumnya, perluasan kesempatan serta lapangan kerja, dan mendorong kegiatan-kegiatan industri penunjang dan industri-industri sampingan lainnya. Serta memperkenalkan dan mendayagunakan keindahan alam dan kebudayaan Indonesia. Selain itu juga meningkatkan persaudaraan/

persahabatan nasional dan internasional.1

Dalam tujuan di atas, jelas terlihat bahwa industri pariwisata dikembangkan di Indonesia dalam rangka mendatangkan dan meningkatkan devisa negara (state revenue). Dengan kata lain, segala usaha yang

1 https://bazthoenk.wordpress.com/2015/06/14/perkembangan-pariwisata-di-indonesia/.

Diakses pada 5 Mei 2017

SEBAGAI UPAYA PROMOSI WISATA

Dalam dokumen BUKU 3 KOMUNIKASI, MEDIA DAN NEW MEDIA (Halaman 159-171)