• Tidak ada hasil yang ditemukan

1 (Yamane dalam Rahmat, 1989:113) N = Ukuran Populasi (Unit Analisis)

Dalam dokumen BUKU 3 KOMUNIKASI, MEDIA DAN NEW MEDIA (Halaman 140-147)

INFORMASI PENGGUNAAN OBAT TRADISIONAL (HERBAL) DI KOTA BENGKULU

Nd 2 1 (Yamane dalam Rahmat, 1989:113) N = Ukuran Populasi (Unit Analisis)

n = Sampel D = Presisi

Presisi ditentukan sebesar 15 % dengan tingkat kepercayaan 85 %.

Dari jumlah populasi yang dijadikan sebagai unit analisis yaitu sebanyak 78874 orang, dengan menggunakan rumus Yamane maka diperoleh hasil perhitungan sampel n sebesar45.44 Dibulatkan menjadi 45 Orang. Tahap selanjutnya yaitu pemilihan responden dilakukan secara acak (random sampling) di 6 kelurahan yang ada di Kecamatan terpilih sebagai lokasi penelitian. Kriteria responden lain yang menjadi responden adalah responden diambil dari kelompok yang sedang menjadi pasien dan dari kelompok mantan pasien yang sudah sembuh dari sakit, yang ditentukan secara random dari seluruh populasi yang ada yakni sesuai dengan hasil perhitungan rumus Yamane.

Teknik Pengumpulan Data dan Tolok Ukur Pengujian

Data primer diperoleh melalui wawancara dengan menggunakan kuesioner, sedangkan data sekunder diperoleh dari literatur, dan lembaga- lembaga yang mendukung penelitian ini. Tolok ukur yang diuji dalam penelitian ini adalah: tingkat efektivitas komunikasi, sumber informasi komunikasi, tingkat serapan atau adopsi komunikasi, dan tingkat kesembuhan; hubungan antara tingkat kesembuhan dengan efektivitas komunikasi; hubungan tingkat adopsi dengan kesembuhan.

Teknik Analisis Data

Analisis data secara kualitatif dan kuantitatif, dengan cara mendeskripsikan dan menginterpretasikan informasi untuk menggali kejelasan kegiatan yang diteliti, dan analisis tabulasi dengan memberikan skor terhadap data lapang yang diklasifikasikan serta menggunakan statistika nonparametrik korelasi Rank Spearman, atau koefisien korelasi Spearman dengan rumus (Siegel,1988:237).

di = Selisih rank antara dua variable N = Ukuran Sampel

Pada rank yang memiliki nilai kembar, maka digunakan faktor koreksi t dengan rumus sebagai berikut (Siegel, 1988:243) :

HASIL PENELITIAN

Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Responden berjumlah 45 orang yang sesuai dengan teknik sampling yang digunakan peneliti, dan dipilih dari orang yang pernah menggunakan obat tradisional dan responden yang tidak pernah menggunakan obat tradisional. Karekteristik responden yang diteliti adalah mulai dari aspek jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, profesi, dan tingkat pendapatan dari responden atau status ekonomi sosial yang dilihat dari jumlah pengeluaran per bulan. Tabel berikut adalah rekapitulasi beberapa aspek karakteristik hasil survey/penelitian Peneliti disusun sbb:

No Karakeristik survey Uraian Persentase Tertinggi

1 Jenis Kelamin perempuan 71.11

2 Usia 20 s.d. 34 tahun 26.77

3 Pendidikan SLTA 44.44

4 Jenis Pekerjaan Ibu Rumah Tangga 66.67

5 Penghasilan 1 juta – 1.99 juta 37.76

Efektivitas Komunikasi

Secara umum yang diteliti dalam variable efektifitas komunikasi adalah bagaimana cara responden menerima atau mendapatkan informasi penggunaan obat tradisional diperoleh. Peneliti menentukan beberapa indikator dalam penerimaan informasi ini antara lain setiap responden

menerima informasi tentang obat tradisional dari mulut ke mulut, dari orang tua, dari teman, dan dari media baik elektronik maupun cetak.

Rekapitulasi Persentase Penyerapan Informasi Responden Terhadap Tingkat Efektivitas Komunikasi Berdasarkan Sumber Informasi Pada 45 Orang Responden sebagai berikut :

No Sumber Informasi Tingkat Serapan Informasi Jumlah (orang) Persentase

1. Mulut lewat mulut 30 66.67

2. Orang tua 33 73.33

3. Teman 39 86.66

4. Media cetak 25 55.56

5. Media elektronik 25 55.56

6. Tabib 44 97.78

Sumber : Data diolah Peneliti (2011)

Pengujian Hipotesis Penelitian dan Pembahasan Hasil

Hipotesis dalam penelitian yang dikemukakan adalah diuji dengan menggunakan statistic nonparametric dengan menggunakan koefisiensi korelasi Rank Spearman (rs), dilanjutkan dengan uji t student. Proses pengujiannya mengikuti aturan dan prosedur yang telah ditentukan dalam penggunaan korelasi rank spearman serta prosedur yang telah ditentukan dalam uji t student. Hasil pengujian dapat diuraikan berikut ini:

Langkah pengujian untuk hipotesis ini adalah:

H0 = H1: Efektifitas komunikasi tidak memiliki hubungna dengan serapan informasi penggunaan obat tradisional herbal

H1 = H1: Efektifitas komunikasi memiliki hubungna dengan serapan informasi penggunaan obat tradisional herbal

Hasil perhitungan memperlihatkan rs = 0.0368 dan t hitung = 2.416. Dengan diberikan tingkat kepercayaan 95 % (α = 0.05) untuk n 45, t hitung > t table yakni th = 2.416 dan t table = 1.684.

Kesimpulan hasil perhitungan di atas menolak H0 dan menerima H1.

Ini memiliki makna bahwa efektivitas komunikasi memiliki hubangan yang signifikan dengan serapan informasi penggunaan tanaman obat tradisional herbal. Hubungan tersebut bersifat positif, karena hasil perhitungan t hitung lebih besar dari pada t table dengan diberikan tingkat kepercayaan

95 % atau alpha 0.05. Hal ini menunjukkan bahwa serapan informasi dan pengguna obat tradisional dipengaruhi oleh tingkat efektifitas komunikasi baik komunikasi yang menggunakan enam sumber informasi yaitu dari mulut lewat mulut, orang tua (turun temurun), teman, media cetak, media elektronik dan informasi langsung dari tabib atau orang pintar.

Hasil analisis data penelitian menunjukkan karakteristik dari responden adalah kaum perempuan sebanyak 71 persen, pada usia 20 tahun s.d. 34 tahun, pendidikan umumnya tingkat SLTA (44,44 persen), pekerjaan ibu rumah tangga (66.67%), dengan tingkat penghasilan Rp. 1.000.000 s.d. Rp 1.999.999 sebesar 37.78 persen. Artinya secara karakteristik responden yang memiliki ketertarikan dan sebagai pengguna herbal adalah kaum perempuan, berusia produktif, dengan tingkat penddikan menengah, walaupun pekerjaan sebagai ibu ruah tangga.

Selanjutnya jika dilihat tingkat efektivitas komunikasi terhadap tingkat serapan atau adopsi informasi berturut-turut dari yang tertinggi hingga terendah adalah sumber informasi tabib atau Pengobat Tradisional (Battra) sebesar 97.78 persen, sumber dari teman sebesar 86.66 persen, sumber informasi dari orang tua (turun temurun) sebesar 73.33 persen, dari mulut lewat mulut tingkat informasi sebesar 66.67 persen, sumber media cetak sebesar 55.56 persen, dan sumber media elektronik sebesar 55.56 persen.

Dilihat dari besaran tingkat serapan informasi hingga mengadopsi informasi, ternyata yang paling tinggi adalah berasal dari tabib atau Battra (97.78 persen). Hal tersebut disebabkan karena adanya pengaruh (1) komunikasi tabib untuk meyakinkan pasien, sehingga pasien atau keluarganya memiliki keyakinan emosi yang kuat untuk kesembuhan (sugesti) dan (2) kepercayaan karena tabib punya pengetahuan yang luas dan pengalaman dalam terapi herbal (3) bahan herbal sudah jelas dan disediakan dengan harga murah. Persentasi relative kecil adalah sumber informasi berasal dari media cetak maupun elektronik, masing-masing sebesar 55.66 persen. Hal tersebut karena masyarakat memiliki kecenderungan keragu- raguan, takut sulit memperoleh bahan herbal, dan umumnya banyak bersifat komersil.

Responden yang disurvey memiliki karakteristik yang bervariasi, tetapi umumnya adalah kaum perempuan yang berusia muda (produktif) dengan tingkat pendidikan SLTA ke atas. Hal tersebut menunjukkan kepeduliaan

wanita terhadap herbal yang sangat besar. Penggunaan herbal tersebut digunakan baik untuk kesehatan atau kecantikan dirinya atau keluargnya, atau bahkan untuk pihak lain yang membutuhkan. Di sisi lain responden memiliki pendidikan yang lebih tinggi, sehingga memiliki kemampuan lebih dalam menangkap pengetahuan, menimba pengalaman, dan memahami apa yang dihadapinya, dengan demikian wanita akan lebih tanggap terhadap persoalan pemanfaatan herbal. Tujuan penggunaan ada empat, yaitu untuk preventif (pencegahan), Promotif untuk menambah kebugaran, Kuratif untuk pencegahan dan Rehabilitatif untuk memperbaiki yang pasca sakit

Obat tradisional (herbal) sudah cukup banyak dimanfaatkan oleh masyarakat terutama kalangan ekonomi menengah ke bawah. Sementara itu dalam menggunakan obat ini masyarakat lebih dipengaruhi oleh berita atau informasi dari pihak lain, baik melalui media maupun secara langsung diperoleh dari keuarga atau yang pernah menggunakannya. Pengobatan dengan menggunakan cara tradisional ini bahkan terus dikembangkan dan dipelihara sebagai warisan budaya bangsa yang terus ditingkatkan melalui penggalian, penelitian, pengujian dan pengembangan serta penemuan obat-obatan dengan pendekatan ilmu pengetahuan dan teknologi. Obat tradisional biasanya digunakan untuk pengobatan sendiri atau sebagai obat yang diperoleh dari pemberi pelayanan pengobatan tradisional (Battra).

Obat tradisional yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman.

Berdasarkan bentuk sediaan dan pemanfaatannya obat tradisional di Indonesia secara umum bersumber dari tumbuhan langsung di halaman yang disebut Tanaman Obat Keluarga (TOGA). Jika dikelompokkan dalam bentuk produk herbal, maka dikelompokkan dalam tiga jenis yaitu (1) jamu, (2) obat terstandar dan (3) fitofarmaka. Pembagian kelompok ini berdasarkan tingkat standarisasi utama dan proses pebuatan yang diregulasi oleh Institusi tertentu. Jamu adalah sediaan obat herbal yang diolah secara sederhana dan gunakan turun temurun; Obat Standar adalah sediaan obat yang diolah dengan baik dan diuji keamanannya sampai uji praklinik;

sedangkan Fitofarmaka adalah sediaan obat yang telah diolah dengan baik dengan uji keamanan sampai uji klinik.

TOGA disediakan berupa rebusan atau pipisan tanaman obat yang segar yang dikonsumsi sebagai obat minum dan obat luar dalam bentuk

bobok, pilis dan parem. Obat tradisional yang berasal dari tanaman obat ini digunakan oleh keluarga yang bersangkutan. Jenis obat tradisional lainnya seperti jamu, merupakan racikan dari beberapa simplisia segar maupun kering yang dibuat untuk diperjual belikan. Biasanya dibentuk dalam sediaan yang lebih tahan lama agar dapat disimpan dan digunakan tanpa harus mengolah terlebih dahulu. Jamu dapat dijumpai dalam bentuk serbuk, rajangan, pil, kaplet, kapsul dan cairan obat dalam. Penggunaan jamu tidak memerlukan izin produksi, namun pemanfaatan secara turun temurun dan khasiat yang dinyatakan secara empirik merupakan bukti bahwa jamu dapat dikonsumsi secara luas.

Hasil penggunaan obat tradisional dapat dikatakan cukup menggenbirakan bila ditinjau dari pemanfaatan oleh masyarakat dan perkembangan produksi obat tradisional. Pengetahuan tentang khasiat obat tradisional ini lebih banyak berdasarkan pada pengalaman secara empiris dan secara turun temurun. Secara umum, diketahui bahwa cara kerja obat tradisional memberikan efek yang lebih lambat daripada obat kimia. (Media AAM, edisi X April-Juni 2002). Hasil penelitian ini dengan melihat masyarakat menggunakan obat tradisional lebih dipengaruhi oleh informasi dari orang lain, bahkan persentase efektivitas terbesar perasal dari tabib (orang pintar) atau pengobat tradisional.

KESIMPULAN

Tingkat efektivitas komunikasi yang paling efektif terhadap serapan informasi penggunaan obat tradisional adalah 97.78 persen

Masyarakat kota Bengkulu lebih banyak menyerap informasi penggunaan obat tradisional diperoleh dari sumber Tabib atau Pengobat Tradisional (Battra) langsung, dibandingkan dari sumber lainnya

SARAN

1. Sehubungan jenis tanaman yang memiliki kandungan obat cukup banyak dan tersebar di kota Bengkulu, diharapkan masyarakat dapat memahami terhadap jenis-jenis tanaman obat sekaligus dapat menggunakan halaman rumah yang masih tersedia untuk ditanami tanaman obat.

2. Perlu dilakukan penyuluhan tentang tanaman obat kepada masyarakat, agar tanaman obat menjadi tuan rumah di Negeri sendiri

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan RI. 2007. Kebijakan Obat Tradisional. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. No. 381/Menkes/SK/

III/2007, tanggal 27 Maret 2007.

Dewangga Nikmatullah. 2005. Efektivitas Komunikasi Kelompok Pada Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (Sl-Pht) Lada Di Upt Bukit Kemuning Lampung Utara. Jurnal AGRIJATI 1 (1), Desember 2005

Nurusyifa. Apa Itu Obat Herbal? http://www.nurusy-syifa.com/apa-itu- obat-herbal.php#more-508. diunduh 6 maret 2011

KOMPAS.com http://sehat.bionaturally.net/2010/07/pengembangan-obat- herbal-hadapi-kendala.html#ixzz1F347Jp4Q

Mardikanto, T. 1993. Penyuluhan Pemba- ngunan Pertanian. Sebelas Maret University Press. Surakarta

Mosher, A.T. 1985. Menggerakkan dan Membangun Pertanian. Yasaguna.

Jakarta.

Rakhmat, J. 2001. Psikologi Komunikasi. Remaja Karya. Bandung.

Ridwan Wardiana. http://www.deptan.go.id/bpsdm/bbppketindan/

index.php/artikel/109-fungsi-tanaman-obat-sisi-kesehatan-dan- kesejahteraan-keluarga-indonesia. diunduh 3 Maret 2011

Soekartawi. 1988. Prinsip Dasar Komunikasi Pertanian. UI Press. Jakarta.

Siegel, S. 1958. Nonparametric Statistics For Behavioral Sciences. McGraw- Hill. Kogakusha. Tokyo

Dalam dokumen BUKU 3 KOMUNIKASI, MEDIA DAN NEW MEDIA (Halaman 140-147)