• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi Kasus Famtrip GenPI Sumatera Selatan ke Lahat dan Pagaralam Tahun 2017)

Dalam dokumen BUKU 3 KOMUNIKASI, MEDIA DAN NEW MEDIA (Halaman 87-113)

(Studi Kasus Famtrip GenPI Sumatera Selatan ke

untuk menyebarluaskan keingintahuan masyarakat untuk berpariwisata, baik masyarakat nasional maupun internasional. Selain GenPI, ada juga GenWI atau Generasi Wonderful Indonesia, yakni komunitas GenPI yang khusus berada di luar negeri, seperti Inggris, Malaysia, Korea Selatan, dan lain-lain. Tugasnya sama, mereka menjadi corong-corong di dunia maya untuk mencuitkan, memposting, membuat status, menulis segala hal yang kiranya menarik tentang suatu daerah di Indonesia sehingga layak untuk dijadikan sebagai objek kunjungan wisata pilihan selain mempertahankan destinasi wisata yang sudah ada sebelumnya.

Keberhasilan kerja GenPI untuk saat ini dinilai jika ada hastag Twitter yang diangkat menjadi trending topik untuk di kerja seputaran dunia online. Rutinitas umumnya, setiap GenPI memiliki akun sosial media masing-masing untuk terus memposting informasi pariwisata dengan foto-foto menarik setiap harinya. Namun, kerja-kerja online tersebut juga perlu didukung dengan kerja-kerja offline. Salah satu yang dilakukan oleh GenPI Sumatera Selatan dari kegiatan-kegiatan yang sudah dilakukan adalah melakukan Famtrip GenPI Sumatera Selatan ke Lahat dan Pagaralam Tahun 2017 selama 3 hari 3 malam yang diikuti oleh 31 orang anggotanya dan mendatangkan peserta undangan dari GenPI Yogyakarta, GenPI Lahat dan GenPI Pagaralam juga dari pihak Kementerian Pariwisata RI sendiri.

Kenyataan tentang adanya kinerja yang awalnya bersifat acak lalu tersistem ini menarik untuk dilihat. Khususnya tentang bagaimana pola komunikasi yang dibangun oleh komunitas yang akan terus ditambah jumlahnya ini, yakni dengan menggunakan analisis media siber dalam etnografi virtual yang ditulis oleh Rulli Nasrullah (2017). Peneliti juga akan mencoba menerapkan empat level yang harus digambarkan dalam analisis ini, yakni Level Ruang Media, Level Dokumen Media, Level Objek Media, dan Level Pengalaman. Keempat level tersebut akan peneliti lihat dalam proses berkomunikasi GenPI Sumatera Selatan umumnya, dan dalam kegiatan Famtrip GenPI Sumatera Selatan ke Lahat dan Pagaralam Tahun 2017 pada khususnya. Dalam penelitian ini, beberapa identifikasi masalah yang muncul, yaitu:

1) Kurangnya kesadaran anak muda untuk menggunakan sosial media secara bijak dan bernilai guna untuk kemaslahatan bersama.

2) Promosi pariwisata masih terfokus pada cara lama yang kaku dan cenderung malas untuk berinovasi jika tidak ada dana besar yang digelontorkan untuk membangun destinasi.

3) Tidak banyak masyarakat yang tahu bahwa kini ada komunitas yang fokus mempromosikan pariwisata dan disupport langsung keberadaannya oleh Kemenpar RI bernama GenPI dan GenWI.

Dari paparan latar belakang dan identifikasi masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini, yaitu: “Bagaimanakah analisis media siber dalam etnografi virtual dengan studi kasus Famtrip GenPI Sumatera Selatan ke Lahat dan Pagaralam Tahun 2017?”. Adapun tujuan penelitian adalah “Untuk mengetahui analisis media siber dalam etnografi virtual dengan studi kasus Famtrip GenPI Sumatera Selatan ke Lahat dan Pagaralam Tahun 2017.”

Dari hasil penelitian ini nantinya, kiranya akan memberi manfaat sebagai berikut:

1) Menambah khasanah penelitian di ranah analisis media siber yang masih dianggap baru di bidang penelitian Ilmu Komunikasi negeri ini.

2) Memberikan deskripsi tentang pola komunikasi dan proses komunikasi organisasi sebuah komunitas online fenomenal Indonesia yang bergerak untuk memajukan pariwisata bernama GenPI.

3) Menjadi dokumentasi organisasi bagi GenPI sendiri, khususnya bagi GenPI Sumatera Selatan untuk terus mengembangkan jati diri agar dapat memberikan kemanfaatan yang maksimal untuk pariwisata Indonesia.

Komunikasi Pariwisata

William Al Big mengatakan, bahwa komunikasi adalah proses transmisi dalam memaknakan simbol-simbol di antara individu (Bungin, 2015:45). Proses pertukaran simbol-simbol itu juga terjadi di dalam mengomunikasikan suatu produk brand. Ketika suatu brand dikomunikasikan kepada masyarakat, maka terjadi proses komunikasi seperti yang dikatakan oleh Al Big, bahwa brand sebagai simbol yang dikomunikasikan oleh pemilik brand mengalami proses komunikasi.

Dalam proses komunikasi massa, proses komunikasi seperti yang dikatakan oleh Al Big tidak cukup, karena untuk menjangkau wilayah yang lebih luas, proses komunikasi memerlukan peran media massa. Sejauh ini media massa dipahami menjadi faktor penting di dalam proses komunikasi massa, seperti yang dikatakan oleh McQuail (Bungin, 2015:46) bahwa di dalam komunikasi, media massa menjadi salah satu poros dimensi penting.

Di dalam teori media, ada empat dimensi dan tipe teori yang sesungguhnya dapat disimpulkan menjadi dua dimensi, yaitu media-sentris versus social- sentris dan culturalis versus materialis.

Untuk mencapai komunikasi yang efektif maka perlu adanya tindakan terorganisasi di dalam memersuasi pesan sehingga komunikasi menjadi lebih efektif. Salah satu strategi dalam mencapai komunikasi yang efektif adalah dengan menggunakan model AIDA, yaitu Attention, Interest, Desire, dan Action. Penjelasan model ini ada pada tabel di bawah ini:

Tabel 2.1 Model AIDA

Tahap Sasaran

Attention-Perhatian Mendapatkan perhatian pembaca dengan menunjukkan manfaat yang nyata atau nilai tertentu.

Interest-Minat Membangun perhatian pembaca melalui penjelasan lanjutan tentang manfaat secara logik dan emosional.

Desire-Keinginan Membangun keinginan dengan memberikan perincian pen- dukung tambahan dan menjawab pertanyaan potensial.

Action-Tindakan Memotivasi untuk melakukan langkah berikutnya melalui closing dengan kegiatan yang menarik untuk melakukan

tindakan.

Sumber: Thill dan Bovee (Bungin, 2015:47)

Berkaitan dengan pariwisata, maka komunikasi akan bertindak sebagai proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan melalui media dan akan menimbulkan efek di ranah pariwisata. Pariwisata dewasa ini sudah menjadi bisnis yang modern. Sehingga produk pariwisata didesain sebagai produk bisnis, mulai dari destinasi, ekonomi kreatif, transportasi, perhotelan, venue rekreasi, atraksi seni dalam paket-paket yang menarik, mengagumkan, menantang dan mengesankan.

Pemerintah Indonesia (di dalam Bungin, 2015:86) mengklasifikasikan komponen pariwisata ke dalam empat bagian penting, yaitu: (1) industri pariwisata, (2) destinasi pariwisata, (3) pemasaran pariwisata, dan (4) kelembagaan pariwisata. Hal ini juga sesuai dengan PeraturanPemerintah No. 50 Tahun 2011 tentang RIPPARNAS 2010-2025 bagi Pemerintah Pusat dan Peraturan Daerah No. 16 Tahun 2016 tentangRipparprovSumsel 2015- 2025 bagi Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Selatan yang kemudian dilaksanakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Sumatera Selatan.

Bagi Disbudpar Sumsel, kerja pariwisata akan sulit jika dilakukan sendirian, maka konsep Pentahelix selalu digaungkan oleh Irene Camelyn Sinaga untuk mempercepat tercapainya kebijakan Ripparprov Sumsel 2015-2025 tersebut. Berikut skema Pentahelix Pariwisata yang dimaksud:

Skema 2.1 Pentahelix Pariwisata Sumber: Sinaga (2017:6)

Di dalam konsep Pentahelix Pariwisata di atas, dipahami bahwa ada 5 komponen yang harus dihubungkan untuk mendukung pariwisata, yaitu:

Pemerintah, Industri, Akademisi, Komunitas dan Media. Seiring dengan berkembangnya teknologi komunikasi dewasa ini, suatu langkah cerdas jika elemen komunitas yang dimaksud juga banyak bergerak di ranah media siber. Oleh karena itu, pembentukan Generasi Pesona Indonesia yang akan diadakan di seluruh provinsi di Indonesia menjadi sebuah jawaban akan lambatnya publikasi di sektor pariwisata negeri ini.

Komunitas Online Indonesia

Komunitas online adalah sebuah komunitas yang terbentuk secara virtual (maya) di berbagai layanan internet, misalnya forum online, mailing list, atau grup-grup tertentu (Echaelshanadia, 2017). Komunitas yang dimaksud merujuk pada sekumpulan anggota/user yang mempunyai hobi atau ketertarikan yang sama terhadap sesuatu hal. Tujuannya yaitu untuk saling berbagi cerita, informasi, atau pengalaman lain antar anggotanya tanpa terikat oleh waktu dan tempat. Lain halnya dengan komunitas nyata yang berarti kegiatan yang biasa dilakukan oleh kelompok tertentu untuk bertemu dan bertatap muka secara langsung antar anggotanya.

Menurut Ferguson et al., 2004 (di dalam Echaelshanadia, 2017), komunitas online adalah sebuah tempat dimana sekelompok orang berkumpul untuk berbagi sence of community sebagaimana orang-orang yang tidak saling mengenal memiliki kesamaan ketertarikan minat, didalam sebuah situs internet yang menawarkan beberapa layanan onlinr, meliputi beberapa akses kepada lingkungan sosial, layanan komunitas, informasi resmi, dan layanan e-commerce kepada penghuninya.

Komunitas maya diciptakan untuk saling berkomunikasi di antara para pengguna internet dengan menggunakan teknologi yang mengguakan platform internet. Walaupun begitu, saat internet populer di kalangan awam, yaitu sejak munculnya http sebagai landasan website, masyarakat baru sekedar menggunakan internet untuk mencari berita atau komunikasi melalui e- mail. Namun segera setelah itu, komunitas maya yang terdiri dari pengguna awam juga mulai terbentuk. Komunitas maya bisa berupa mailing list, newsgroup atau bulletin board.

Ditinjau dari medianya., komunitas memang dibagi menjadi dua, yaitu komunitas offline dan online.Komunitas offline adalah komunitas yang disatukan oleh kesamaan pekerjaan, hobi, atau factor penyatu lainnya di mana media integrasi dan komunikasinya masih menggunakan teknologi non-internet, seperti pertemuan fisik, telpon, surat menyurat, dan sebagainya. Komunitas online/virtual merupakan komunitas yang disatukan oleh kesamaan pekerjaan, hobi atau factor penyatu lainnya, dimana media intergrasi dan komunikasinya sudah menggunakan internet. Biasanya, cakupan komunitas online ini lebih luas dan global hingga ke seluruh dunia.

Meninjau pada keberadaan GenPI maka organisasi ini memang lebih dapat dikategorikan dalam komunitas online karena lebih banyak berinteraksi di ranah tersebut, meski tidak dipungkiri juga kadang bertemu di ranah offline untuk tujuan-tujuan tertentu.

Analisis Media Siber Dalam Etnografi Virtual

Mengkaitkan antara komunikasi pariwisata dan komunitas online, maka dibutuhkan metode khusus dalam penelitiannya. Etnografi virtual merupakan pendekatan (metode) baru dalam melihat budaya dan artefak budaya di dunia virtual. MenurutNasrullah(2017:43), sebagai sebuah metode, etnografi virtual mengungkap bagaimana budaya siber diproduksi, makna yang muncul, relasi dan pola, hingga bagaimana hal tersebut berfungsi melalui medium internet. Sebuah realitas budaya melalui

etnografi virtual setidaknya bisa mendeskripsikan perangkat dan konten yang dibangun, juga melihat bentuk (form) media di internet, apa yang tampak dari yang disampaikannya.

Pada prinsipnya, dalam menganalisis budaya di internet, Analisis Media Siber (AMS) memerlukan unit analisis, baik pada level mikro maupun makro. Dua unit analisis ini dapat disederhanakan dalam teks dan konteks. Di level mikro peneliti menguraikan bagaimana perangkat internet, tautan yang ada, sampai hal-hal yang bisa dilihat di permukaan. Sementara di level makro peneliti melihat konteks yang ada dan menyebabkan teks itu muncul serta alasan yang mendorong jadi empat level, yakni ruang media (media space), dokumen media (media archive), objek media (media object), dan pengalaman (experiental stories). Secara garis besar, level-level dalam Analisis Media Siber (AMS) sebagaimana dapat dilihat di bawah ini:

Tabel 2.2 Analisis Media Siber

Level Objek

Ruang Media (Media Space) Struktur perangkat media dan penampilan, terkait dengan prosedur perangkat atau aplikasi

yang bersifat teknis.

Dokumen Media (Media Archive) Isi, aspek pemaknaan teks/grafis sebagai artefak budaya.

Objek Media (Media Object) Interaksi yang terjadi di media siber, komunikasi yang terjadi antaranggota komunitas.

Pengalaman (Experiental Stories) Motif, efek, manfaat atau realitas yang terhubung secara offline maupun online termasuk mitos.

Sumber: Nasrullah (2017:45)

Dalam setiap level di atas diterangkan secara jelas oleh Nasrullah dalam bukunya Etnografi Virtual (2017:45-59). Adapun dalam penelitian ini, peneliti juga akan mencoba menganalisis objek kajian dengan mempergunakan empat level tersebut sebagai dimensi pembahasan.

KERANGKA PEMIKIRAN

Berikut ini skema kerangka pemikiran yang muncul untuk penelitian ini, yaitu:

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan pada Komunitas Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Sumatera Selatan yang berdomisili di Kota Palembang Provinsi Sumatera Selatan pada tanggal 1-31 Oktober 2017. Tempat berkumpul GenPI Sumsel masih sering terpusat di Kantor Dinas Budaya dan Pariwisata Provinsi Sumatera Selatan.

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif karena berusaha mendeskripsikan secara terperinci hal-hal yang berkaitan dengan objek penelitian. Adapun metode yang digunakan adalah Analisis Media Siber (AMS) sebagaimana yang ditulis oleh Dr. Rulli Nasrullah, M.Si dalam bukunya Etnografi Virtual Riset Komunikasi, Budaya dan Sosioteknologi di Internet (2017). Key informan dalam penelitian ini adalah Ketua Koordinator GenPI Sumatera Selatan Robby Sunata dan kutipan pernyataan dari beberapa penggiat pariwisata yang berkaitan dengan GenPI Sumsel yang termuat dalam beberapa media cetak dan elektronik.

Pada penelitian ini, peneliti menggunakan beberapa teknik pengumpulan data, yaitu:

1) Observasi : Proses pengamatan dilakukan secara terlibat karena peneliti sendiri merupakan bagian dari pengurus GenPI Sumatera Selatan sejak awal komunitas ini dibentuk sampai sekarang.

2) Wawancara : Wawancara yang berkaitan dengan isi penelitian dilakukan via aplikasi WhatsApp karena keterbatasan waktu untuk bertatap muka langsung.

3) Dokumentasi dan telaah pustaka : Memperhatikan arsip atau data yang berkaitan dengan isi penelitian yang dapat digunakan sebagai data pendukung penelitian.

Teknik analisis data pada penelitian ini dilakukan dengan cara sebagai berikut:

1) Mengumpulkan data yang berkaitan dengan judul penelitian.

2) Melakukan klasifikasi data untuk dimasukkan ke dalam level-level sesuai pembagian bab pembahasan.

3) Menganalisis hasil penelitian sesuai teori yang digunakan.

4) Menarik kesimpulan dari hasil yang sudah didapatkan.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Generasi Pesona Indonesia

Generasi Pesona Indonesia (GenPI) adalah sebuah komunitas yang dibentuk oleh Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Republik Indonesia (Wibowo, 2017). GenPI merupakan pengejawantahan dari program promosi wisata “go digital” yang tengah gencar dilakukan oleh Kemenpar sebagai salah satu strategi pemasaran pariwisata Indonesia. Anggota GenPI terdiri atas anak-anak (berjiwa) muda yang selama ini aktif melakukan promosi pariwisata melalui media sosial seperti Blog, Facebook, Twitter, Instagram, Path, dan lain lain. Karena fokus promosi dalam dunia digital maka anggota GenPi sering dijuluki “Laskar Digital Merah Putih”. Sosok itu sendiri menjelaskan arti lain GeNPI sebagai Gerakan Nusantara (untuk) Pariwisata Indonesia yang mendukung brand Pesona Indonesia.

Sejarah berdirinya GenPI bermula dari komunitas Wonderful Lombok Sumbawa yang digawangi Taufan Rahmadi selaku Ketua BPPD Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Komunitas ini memulai kegiatan pada 15 Desember 2015 dengan hanya 12 relawan. Tujuan pendiriannya adalah membangun pariwisata NTB melalui medsos, membuat akun medsos, dan membesarkannya untuk kepentingan promosi pariwisata Lombok Sumbawa. Pada September 2016, komunitas ini resmi mengganti namanya menjadi GenPI Lombok Sumbawa, lalu diresmikan secara langsung oleh Menteri Pariwisata RI, Bapak Arief Yahya, pada 3 Oktober 2016. Menteri Pariwisata Arief Yahya menjelaskan bahwa pembentukan GenPI merupakan salah satu bentuk komitmen Kemenpar untuk menghidupkan media

sosial (medsos) di kalangan anak-anak muda Indonesia. Apalagi untuk memenangkan pasar pariwisata dunia, Indonesia harus menguasai dunia digital. “More Digital, More Personal! More Digital, More Global! More Digital, More Professional!

Gambar 4.1 Logo Pesona Indonesia Sumber: Arsip Kemenpar RI

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara, Esthy Reko Astuti, menjelaskan bahwa GenPI merupakan generasi milenial yang mempunyai kemampuan lebih dalam dunia internet. Menurut Astuti, GenPI adalah generasi berbasis komunitas yang memililiki aktivitas rutin dan aktif dalam mempromosikan Pariwisata Indonesia baik melalui blog, media sosial, dan lainnya kepada masyarakat luas. Semula GenPI dibentuk sebagai bagian tim pemenangan kompetisi World Halal Tourism Award (WHTA) tahun 2016 dan hasilnya luar biasa, Indonesia berhasil memenangkan 12 penghargaan bergengsi tersebut dari 16 kategori yang dikompetisikan, ini harus dijaga dan dilanjutkan (Wibowo, 2017).

Staf Khusus Menpar Bidang Komunikasi, Don Kardono ikut menjelaskan bahwa GenPI adalah memang komunitas netizen yang memiliki perhatian khusus di bidang pariwisata (Ger, 2017). Sebagai community, sekaligus berperan sebagai media endorser yang dalam Pentahelix (ABCGM)—Academician, Business, Community, Government, Media—menempati dua folder sekaligus.Satu lagi, lanjut Don Kardono, sebagai media (M), karena mereka juga semakin efektif menyampaikan message atau pesan, reportase, dan bisa membuat viral. Media adalah penyampai pesan ke publik, dan mereka bisa melakukannya. Channel-nya media sosial. Juga bisa menjadi community (C), karena mereka punya minat yang sama, berada di alam digital yang sama, dan sama-sama concern di pariwisata.Adapun kegiatan GenPI adalah mempopulerkan apapun juga soal pariwisata. Patokannya, Calender of Events (CoE) dari masing-masing daerah. Lebih menarik, lebih heboh, lebih asyik. “Golnya adalah menjadi pembicaraan publik, yang biasanya menjadi trending topic di medsos,” kata Don Kardono (Ger, 2017).

Sampai dengan 31 Oktober 2017 ini tercatat sudah ada 13 GenPI di 13 provinsi yang ada di Indonesia. Adapun official akun Instagram GenPI se- Nusantara tersebut secara berurutan dari yang pertama kali launching, yaitu:

1. @genpilomboksumbawa : Nusa Tenggara Barat (3 Oktober 2016) 2. @GenPIJabar : Jawa Barat (6 Agustus 2016)

3. @GenPIAceh : Aceh (6 September 2016)

4. @GenPISumbar : Sumatera Barat (23 September 2016) 5. @GenPIMaluku : Maluku (5 Februari 2017)

6. @GenPIJateng : Jawa Tengah (13 Maret 2017) 7. @GenPIJatim : Jawa Timur (13 April 2017) 8. @GenPISumsel : Sumatera Selatan (6 Mei 2017) 9. @GenPIKepri : Kepulauan Riau (21 Mei 2017) 10. @GenPIJogja : Yogyakarta (24 Mei 2017) 11. @GenPIBanten : Banten (29 Mei 2017)

12. @GenPINTT : Nusa Tenggara Timur (11 Juni 2017) 13. @GenPILampung : Lampung (27 Agustus 2017)

Masing-masing GenPI ini memiliki koordinator dan koordinator bidang di bawahnya, baru kemudian bagian lain dan anggota. Antar GenPI sendiri saling berkomunikasi dan bekerjasama dalam beberapa hal, misalnya dalam menaikkan trending topic, saling bersedia untuk mengisi acara di masing-masing daerah jika diundang, dan tentunya saling support untuk setiap kegiatan GenPI di masing-masing provinsi. Keterhubungan itu terjalin melalui media aplikasi pesan WhatsApp Group dengan nama GenPI Indonesia.

GenPI Sumatera Selatan

GenPI Sumatera Selatan adalah GenPI Indonesia yang dibentuk dengan urutan ke-8. Saat kemunculannya, GenPI Sumatera Selatan sudah mencuri perhatian dengan mencetak prestasi lebih dari 9 jam, menduduki posisi paling puncak dalam daftar trending topic nasional di Twitter (Ger, 2017). Sejak pukul 10.00 WIB ketika ia dilaunching hingga malam, hastag

#GenPISumsel masih bertengger di tangga paling atas ketika peluncurannya di Hotel Arista, Palembang, Sabtu, 6 Mei 2017. GenPI Sumsel, menurut Kadisbudpar Provinsi Sumatera Selatan Irene Camelyn Sinaga, AP, M.Pd memang diikuti oleh para netizen yang sudah lama berkolaborasi dengan

Tim Dispar Sumsel dengan nama Komunitas Pesona Sriwijaya. Persisnya sejak Februari 2016, atau lebih dari setahun lalu, komunitas ini sudah ada.

Karena itu, ketika diaktivasi sebagian anggotanya dalam wadah GenPI, mereka langsung tune in.

Gambar 4.2 Logo GenPI Sumatera Selatan Sumber: Arsip GenPI Sumatera Selatan

Lima hari kemudian setelah GenPI Sumatera Selatan di-launching, para pengurusnya kemudian dilantik sekaligus penerimaan anggota GenPI Sumsel gelombang kedua secara massif. Pelantikan itu dilaksanakan di Museum Balaputra Dewa Palembang, 11 Mei 2017 dengan susunan pengurus sebagai berikut:

Pengurus Inti GenPI Sumatera Selatan Ketua Koordinator : Robby Sunata Koordinator Keanggotaan : Jony Day Nazar Koordinator Industri : Sumarni Bayu Anita Koordinator Promosi : M. Yunus (Obay)

Koordinator Destinasi : Intan Sekretaris : Sisilia Hatris

Usai pelantikan, wacana para pengurus GenPI Sumatera Selatan langsung dibuka cepat wacananya dengan diikutsertakannya pada kegiatan Rakornas Pariwisata II: INDONESIA INCORPORATED “20.000 Homestay Desa Wisata 2017” yang berlangsung di Hotel Bidakara Jakarta, 18-19 Mei 2017. Di sini, para pengurus dapat langsung melihat keseriusan Kemenpar RI dalam mempromosikan pariwisata negara ini. Menteri Pariwisata RI Ir.

Arief Yahya, M.Sc dalam kesempatan itu mengatakan bahwa, “Ekonomi Indonesia kini dapat dibaca dari sinyal-sinyal yang lembut. Pariwisata menjadi devisa terbesar 2020. Caranya dengan mengembangkan 3 program utama, yakni: Digital Tourism, Homestay dan Airline Connectivity”.

Gambar 4.3GenPI Sumsel Bersama Kadisbudpar Sumsel di Rakornas Pariwisata II Tahun 2017

Sumber: Arsip GenPI Sumatera Selatan

Meski masih terhitung belia di usianya yang kini masih 6 bulan, GenPI Sumatera Selatan terus bergeliat untuk menunjukkan eksistensi dirinya sebagai komunitas yang bertugas untuk mempromosikan Provinsi Sumatera Selatan dengan 17 kabupaten/kotanya ini. Sebagaimana pernyataan yang dikatakan oleh Ketua Koordinator GenPI Sumsel Robby Sunata dalam beberapa kesempatan bahwa “GenPI Sumatera Selatan akan terus berkomitmen membantu pemerintah dan masyarakat dalam mempromosikan Provinsi Sumatera Selatan. Bantuan ini akan ditunjukkan dalam kinerja aktif baik di ranah offline maupun online. Adapun berikut ini tabel kabupaten/kota yang ada di Provinsi Sumatera Selatan yang akan ikut menjadi perhatian kinerja GenPI Sumatera Selatan dalam mengeksplorasi destinasi wisata yang ada:

Tabel 4.1Daftar Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Selatan

No Kode Kabupaten/Kota Ibu Kota Kabupaten

1 16.01 Kabupaten Ogan Komering Ulu Baturaja 2 16.02 Kabupaten Ogan Komering Ilir Kayu Agung

3 16.03 Kabupaten Muara Enim Muara Enim

4 16.04 Kabupaten Lahat Lahat

5 16.05 Kabupaten Musi Rawas Muara Beliti

6 16.06 Kabupaten Musi Banyuasin Sekayu

7 16.07 Kabupaten Banyuasin Pangkalan Balai

8 16.08 Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur Martapura

No Kode Kabupaten/Kota Ibu Kota Kabupaten 9 16.09 Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan Muara Dua

10 16.10 Kabupaten Ogan Ilir Indralaya

11 16.11 Kabupaten Empat Lawang Tebing Tinggi 12 16.12 Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir Talang Ubi 13 16.13 Kabupaten Musi Rawas Utara Rupit

14 16.71 Kota Palembang -

15 16.72 Kota Pagar Alam -

16 16.73 Kota Lubuk Linggau -

17 16.74 Kota Prabumulih -

Sumber: informasipedia.com

Kegiatan online yang dilakukan oleh GenPI Sumatera Selatan adalah memposting ragam destinasi dan event wisata di media Instagram, Twitter, Facebook dan Blog. Kegiatan ini dilakukan melalui akun resmi GenPI Sumatera Selatan sendiri, juga melalui akun-akun personal seluruh anggota GenPI Sumatera Selatan yang berjumlah 157 orang. Adapun beberapa kegiatan offline yang sudah dilakukan selama 6 bulan terbentuknya GenPI Sumatera Selatan ini, yaitu:

1) Famtrip GenPI Sumsel ke Lubuk Linggau 2) Famtrip GenPI Sumsel ke Lahat dan Pagaralam

3) Lomba Foto di Instagram dan Twitter dengan tema Pesona Ramadhan 1438 H

4) Meet Up GenPI Sumsel di Kampung Al-Munawar 5) Support Kegiatan Festival Sriwijaya Tahun 2017

6) Support Kegiatan Pemilihan Putra-Putri Sriwijaya Tahun 2017, dan lain-lain.

Famtrip GenPI Sumsel ke Lahat dan Pagaralam Tahun 2017

Famtrip GenPI Sumsel ke Lahat dan Pagaralam merupakan kegiatan paling terakhir yang dilakukan oleh GenPI Sumatera Selatan, yakni baru pada tanggal 20-22 Oktober 2017 lalu secara offline. Kegiatan offline ini dilakukan dalam rangka mencari bahan promosi pariwisata secara langsung ke daerah destinasi wisata. Mengajak 31 orang anggota aktif dari total keseluruhan anggota 157 orang yang masuk dalam WhatsApp Group GenPI Sumsel dan beberapa undangan dari GenPI luar kota dan Kemenpar RI.

Adapun biaya pelaksanaan famtrip ini disupport penuh oleh Kemenpar RI.

Dalam dokumen BUKU 3 KOMUNIKASI, MEDIA DAN NEW MEDIA (Halaman 87-113)