• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONSEP PENDIDIKAN AL-ZARNUJI

Dalam dokumen metodologi - keilmuan - repo uinsa (Halaman 97-102)

BAB X: BAB X: TATA CARA MENGAMALKAN WIRID DAN DOA

C. KONSEP PENDIDIKAN AL-ZARNUJI

Kitab Ta’lim al-Muta’alim sangat menarik dipelajari tidak hanya dari sudut sosio-kultural tetapi juga dari segi pendidikan dan psikologi. Von Grunebaum dan M. Abel secara khusus melakukan studi terhadap kitab Ta’lim al- Muta’alim dalam sudut pandang kedua hal tersebut.

Setidaknya ada enam aspek pedagogik yang mereka temukan ada dalam kitab Ta’lim al-Muta’alim.

Pertama, dalam hal kurikulum dan mata pelajaran.

Dalam kedua hal ini, al-Zarnuji memilih dua mata pelajaran penting, yaitu fiqh dan kedokteran. Ilmu fiqh dikatagorikan sebagai major subyek, atau mata pelajaran pokok yang wajib dipelajari oleh semua umat Islam.

Sedangkan ilmu kedokteran masuk dalam katagori minor subyek. Dalam istilah lain disebut fardhu kifayah. Artinya, jika ada satu orang saja yang mempelajarinya dalam satu daerah maka gugurlah kewajiban semuanya. Sedangkan pelajaran seperti astronomi, di luar batas yang dibutuhkan

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

57

untuk kepentingan ibadah, seperti mengetahui arah kiblat atau menentukan waktu shalat, termasuk dalam kategori subyek yang dilarang untuk dipelajari. Alasannya, pelajaran seperti itu hanya akan menjauhkan anak didik dari ajaran-ajaran agama yang mereka imani.

Kedua, tentang lingkungan dan guru. Dua hal ini, bagaimanapun juga, adalah kunci mencapai keberhasilan dalam studi. Al-Zarnuji menyarankan kepada para pelajar agar melakukan perjalanan ilmiyah dalam rangka mencari guru dan lingkungan yang tepat untuk belajar. Di dalam menentukan guru, al-Zarnuji memberi penekanan pada tiga hal: kepandaian, kebersihan hati dan pengalaman.

Ketiga, berkaitan dengan waktu belajar. Meskipun tidak ada kata terlambat untuk belajar, dan proses belajar itu bisa dilakukan sepanjang hayat manusia, namun menurut al-Zarnuji masa yang paling tepat untuk belajar adalah pada usia remaja. Pada masa itu pikiran manusia masih dalam keadaan prima sehingga masih sanggup untuk menerima apa saja. Sehingga ada peribahasa yang menyatakan bahwa belajar di waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu dan belajar ketika usia sudah uzur diibaratkan mengukir di atas air. Sedangkan waktu yang paling tepat untuk belajar adalah ketika malam hari, terutama pada waktu senja hari dan ketika fajar.

Keempat, tentang teknik dan proses belajar. Menurut al-Zarnuji, teknik belajar yang tepat bagi anak-anak adalah dengan cara banyak menghafal. Lalu, pada proses selanjutnya, ketika sudah beranjak dewasa dianjurkan untuk lebih banyak memahami dan merenungkan materi

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

58

pelajaran. Dalam tahapan ini, seorang pelajar dianjurkan juga untuk lebih banyak bertanya. Dikatakan bahwa satu kali bertanya itu lebih baik daripada menghafal selama satu bulan. Lalu, untuk mempertahankan pemahaman, al- Zarnuji menekankan pentingnya membuat catatan. Ilmu diibarakan seperti binatang buruan. Agar tidak lepas maka kita harus mengikatnya dengan cara mencatatnya dalam buku.

Kelima, menyangkut dinamika belajar. Pasang surut semangat dalam belajar itu sudah pasti terjadi dalam diri seorang pelajar. Dan itu erat kaitannya dengan kondisi lingkungan dan psikologis. Perubahan mood belajar itu kadangkala terjadi dengan sangat cepat dan oleh karena sebab yang tidak diketahui secara pasti. Oleh karenanya ada dua hal, menurut al-Zarnuji, yang harus diupayakan oleh seorang pelajar, yaitu kerja keras dan kemauan yang membaja. Dua hal itu saling mempengaruhi satu sama lain. Kerja keras tidak lain dipicu karena adanya kemauan yang kuat. Begitupula kemauan yang kuat bisa muncul dengan sendirinya setelah melakukan kerja keras.

Keenam, berkenaan dengan hubungan seorang pelajar dengan kondisi lingkungannya. al-Zarnuji menyatakan bahwa lingkungan pergaulan baik dalam hubungannya dengan guru, teman, maupun masyarakat pada umumnya sangat mempengurhi pola belajar dan pola berpikir seseorang. Karena itulah disarankan agar seorang pelajar membangun hubungan seluas mungkin dengan kalangan cerdik pandai. Belajar sama sekali tidak hanya tergantung pada buku atau seorang guru. Di

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

59

manapaun berada, seorang pelajar harus memanfaatkan waktunya untuk belajar pada lingkungannya. Dengan kata lain, belajar tidak cukup hanya dengan aktivitas formal, melainkan juga harus berlangsung dalam proses pergaulan yang saling menerima dan memberi.

Kitab Ta’lim al-Muata’alim sudah sangat lama dikenal khususnya di kalangan lembaga pendidikan pesantren di Indonesia. Bagi santri pemula kitab ini biasanya menjadi kajian dasar dalam bidang etika, terutama dalam mengatur hubungan dengan guru (kiai, ustadz) dan dengan teman-temannya. Ini agaknya dimaksudkan untuk meletakkan dasar motivasi santri dalam menuntut ilmu agar jelas arah dan tujuannya. Petunjuk-petunjuk yang dipahami dari kitab ini, baik tentang ilmu, cara menghafal, hormat kepada guru ataupun tentang bacaan doa yang relevan dalam konteks menuntut ilmu, sampai batas yang cukup jauh telah mewarnai suasana belajar di pesantren.47

Kajian kritis atas kitab karya Imam Burhanuddin al- Zarnuji inipun sudah cukup banyak dilakukan oleh sejumlah pemerhati pendidikan Islam, terutama pemerhati pesantren. Misalanya karya A. Mukti Ali yang dipublikasikan dengan judul Ta’lim al-Muata’alim Versi Imam Zarkasyi. Dengan caranya yang unik ia membandingkan ide-ide Ta’lim al-Muata’alim dengan ide- ide Imam Zarkasyi, seorang tokoh pendidikan pesantren

47 Lihat pendapat Masdar F. Mas’udi dalam “Dimensi Penalaran dalam Tradisi Keilmuan Pesantren: Sebuah analisa dan Hipotesa”.

Pesantren No. 01 Vol. III (986), 56-57.

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

60

modern Darussalam Gontor.48 Studi ilmiah atas kitab Ta’lim al-Muta’allim juga dilakukan oleh Djudi al-Falsani untuk penyusunan Tesisnya di Program Pascasarjana IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta tahun 1990. Bahkan jauh sebelum kedua usaha tersebut, kitab Ta’lim al-Muata’alim juga sudah diterjemah atau disadur dan beredar cukup luas baik dalam bahasa Jawa maupun dalam bahasa Indonesia.

48 HA. Mukti Ali, Ta’lim al-Muata’alim Versi Imam Zarkasyi dalam Metodologi Pengajaran Agama (Gontor: Trimurti, 1991).

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

61

BAB III

KITAB TA’LIM AL-MUTA’ALLIM YANG MENDUNIA

A. PERKEMBANGAN KAJIAN KITAB TA’LIM AL-

Dalam dokumen metodologi - keilmuan - repo uinsa (Halaman 97-102)