BAB X: BAB X: TATA CARA MENGAMALKAN WIRID DAN DOA
F. METODOLOGI PENDIDIKAN ISLAM
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id
46
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id
47
berorientasi pada usaha untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. Hal ini sejalan dengan pendapat Hasan Langgulung yang menyatakan bahwa maksud dari metodologi adalah cara atau jalan untuk mencapai kebenaran. Karena itu, kebenaran hasil penelitian bergantung pada kebenaran metode yang digunakan.
Metodologi memegang peranan besar dalam mengembangkan pendidikan. Sebuah metode pendidikan memiliki pengaruh pada metode belajar dan prilaku peserta didik. Dalam proses kelahirannya, metodologi dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, budaya, dan filosofis.
Karena itu, metodologi sebuah pendidikan sesuai dengan lingkungan di mana metode itu tumbuh dan berdialektika.
Maka ketika sebuah metode lahir, metode tersebut akan memiliki kecocokan dengan konsep berpikir dan kejiwaan masyarakat dimana ia lahir.
Dalam metodologi pendidikan, bentuk kegiatan yang biasanya dilakukan berhubungan dengan tujuan dan materi pendidikan (kurikulum). Kenyataan di lapangan, metodologi pendidikan dapat diartikan sebagai alat untuk tercapainya tujuan pendidikan yang dinyatakan dalam bentuk kurikulum. Hal ini dikatakan oleh Muhammad Zainuddin Alawi sebagai upaya menuju kearah pencapaian pendidikan sesuai dengan kurikulum yang ada.44
44 M. Zianuddin Alavi, Pemikiran Pendidikan Islam pada Abad Klasik dan Pertengahan, (Terj. Abuddin Nata) (Jakarta: Penerbit Angkasa, 2003) 101.
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id
48
Metodologi pendidikan Islam menitikberatkan pada bagaimana mencapai tujuan pendidikan yang ada dalam Islam, yakni sebuah cara atau jalan untuk mencapai tujuan pendidikan, di mana dalam hal ini adalah pendidikan Islam yang berorientasi pada pembinaan manusia mukmin sebagai makhluk ciptaan Allah SWT.
Penggunaan kata Islam dalam metodologi tentu tidak bisa dilakukan sembarangan saja. Metodologi Pendidikan Islam harus memiliki perbedaan yang signifikan dengan metodologi pendidikan secara umum. Pemaknaan tersebut harus mengacu kepada paham bahwa metodologi pendidikan dikembangakan untuk mempelajari metode atau pendekatan dalam usaha membangun pendidikan Islam.45
Para ilmuwan Islam seperti Al-Ghazali, Ibn As-Shatir dan Ibn Taimiyah menggunakan metodologi yang akomodatif, namun tetap dalam jalur yang telah disepakati para ulama. Maka, didiklah manusia itu dengan khazanah thurats yang dahulu yang orisinil nilai dan ajaran Islam, namun penyajian pendidikan itu boleh dengan cara yang dianggap kekinian. Mereka diberikan kebebasan dalam mengeksplorasi ilmu pengetahuan, namun tetap kritis dan bertanggungjawab. Terbukanya pintu ijtihad merupakan bentuk usaha ilmiyah yang teoritis. Selain itu, para ilmuwan Islam tetap menghargai perbedaan pendapat yang ada di antara mereka, sehingga menjadi dinamis
45 Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan; Suatu analisa Psikologi, Filsafat, dan Pendidikan (Jakarta: Pustaka Al Husna Baru, 2004), 35.
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id
49
dalam berpikir untuk usahanya menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.
Dalam tataran konseptual, metodologi pendidikan Islam harus bersandar pada epistemology Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis. Dua sumber inilah yang menjadi landasan pokok dalam metodologi pendidikan Islam yang harus digunakan secara hierarki, yaitu Al-Qur’an sebagai sumber yang paling tinggi.
Setelah itu baru kemudian hadis. Apabila tidak didapati keterangan di dalam Al-Qur’an, maka harus dicari di dalam hadis. Dua sumber itu harus digali semaksimal mungkin. Sedangkan ijtihad ulama-ulama kontemporer tetap diterima sebagai sumber sekunder.
Secara prinsip metodologi pendidikan Islam sangat berbeda dengan metodologi pendidikan Barat. Metodologi pendidikan Islam menekankan pada aspek wahyu, ketuhanan, dan keimanan, sementara metodologi pendidikan Barat justru secara sengaja menghindari atau bahkan membuang jauh-jauh ketiga aspek tersebut.
Dalam perspektif pendidikan Barat, ilmu dipandang sebagai sesuatu yang bebas nilai, dan karenanya tidak terkait secara langsung dengan ajaran agama tertentu.
Pendidikan dalam perspektif Barat ingin membebaskan dirinya dari agama dan Tuhan. Berbeda dengan pendidikan Islam yang setiap keilmuannya dapat dipertanggungjawabkan, karena bukan hanya dapat diterima secara akal tapi juga bersifat absolut, sebab ia bersumber dari Al-Qur’an.
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id
50
Menurut Syed Muhammad Naquib Al-Attas, ilmu dalam peradaban Barat dibangun atas dasar tradisi yang diperkuat dengan spekulasi filosofis yang terkait dengan pandangan hidup sekuler. Peradaban Barat menjadikan manusia sebagai pusat rasionalitas dan pijakan atas moral dan etikanya. Sehingga batasan-batasan moral dan etika itu sendiri menjadi kabur dan selalu berubah-ubah.
Lebih lanjut Al-Attas menyebutkan lima karakteristik yang menjiwai lahirnya budaya dan peradaban Barat:
pertama, mereka menjadikan akal pikiran sebagai satu- satunya pembimbing kehidupannya; kedua, mereka bersikap dualitas terhadap realitas dan kebenaran; ketiga, mereka mengukuhkan aspek eksistensi yang menjadi ciri utama pandangan hidup sekuler; keempat, menggunakan doktrin humanism; kelima, mereka menjadikan drama dan tragedi sebagai unsur-unsur yang dominan dalam fitrah dan eksistensi kemanusiaan. Kelima hal ini sangat berpengaruh terhadap pola pendidikan di Barat. 46
Selanjutnya akan dikupas secara teoritis ajaran yang terkandung dalam kitab Ta’lim al-Muta’alim karya Syaikh al-Zarnuji dan bagaimana mewujudkannya dalam lembaga-lembaga pendidikan.
46Wan Mohd. Nor Wan Daud, The Educational Philosophy…..178.
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id
51
BAB II
BIOGRAFI IMAM BURHANUDDIN AL-ZARNUJI