BAB X: BAB X: TATA CARA MENGAMALKAN WIRID DAN DOA
B. PENGERTIAN PENDIDIKAN ISLAM
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id
19
bersifat value-free, tetapi value-bond, sehingga proses dan produk pencarian, penemuan IPTEK lewat studi, penelitian, serta pemanfaatannya dalam kehidupan, merupakan realisasi dari misi kekhalifahan dan pengabdiannya kepada Allah dalam rangka mencari ridla- Nya di akhirat.
Kehidupan yang Islami menggarisbawahi perlunya bangunan ontologi, epistemologi, dan aksiologi ilmu pengetahuan yang tidak hanya meyakini kebenaran sensual-indrawi, rasional-logik dan etik insani, tetapi juga mengakui dan meyakini kebenaran transcendental.
Karena itu pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak bersifat value-free, tetapi value-bond, dalam arti berada dalam frame work yang merupakan realisasi dari misi kekhalifahan dan pengabdian pada Nya.
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id
20
terhadap (kesejahteraannya). Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar. (QS. An-Nissa 4:9)
Jika merujuk sabab nuzulnya, memang terkait dengan persoalan ekonomi. Dimana Rasulullah sangat senang kalau si anak bisa mendapat warisan banyak dari orang tuanya, agar tidak jadi beban orang lain. Kemudian ayat tersebut dikomentari oleh Mutawalli Sya’rawi, bahwa
افاعض ةيرذ
bukan saja menyangkut persoalan ekonomi, namun yang paling dikhawatirkan oleh setiap orang tuanya adalah jika kelak mereka meninggalkan generasi yang lemah dan rapuh mentalnya.10Berkaitan dengan ayat tersebut Abdurahman An- Nahlawy menyatakan bahwa proses pendidikan Islam berupaya mendidik manusia ke arah kesempurnaan, sehingga manusia dapat memikul tugas kekhalifahan di muka bumi dengan prilaku yang amanah. Oleh karenanya pendidikan Islam harus memiliki tiga aspek: pertama, pendidikan pribadi yang meliputi pendidikan tauhid dan nilai akidah; kedua, mencintai masyarakat, terutama ketiga, pendidikan social masyarakat yang meliputi cinta kebenaran dan mengamalkannya, serta sabar dan teguh menghadapi segala tantangan.11
Mohammad Naquib Al-Attas menyatakan bahwa pendidikan Islam dibagi menjadi dua pokok pembahasan
10 Muhammad Mutawalli Sya’rawi, Khawatir Sya’rawi (Beirut: Dar al- Ma’rifah, tt.)
11 Abdurahman An-Nahlawy, Ushul At-Tarbiyyat Al-Islamiyyah wa Asalibiha fi al Bayt wa Al Madrasah Al-Mujtama’, (Beirut: Dar al-Fikr, 1999) 18 – 19.
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id
21
utama: pendidikan teoritik dan ilmu pendidikan praktis.
Dalam tataran teoritik, istilah pendidikan berhubungan dengan fungsi yang luas dari pemeliharaan dan perbaikan kehidupan suatu masyarakat, terutama membawa generasi muda kepada tanggungjawab dan kewajibannya dalam masyarakat. Lebih lanjut Al-Attas menyatakan bahwa ilmu pendidikan teoritis dan praktis harus meningkatkan makna pengajaran dan pemeliharaan menjadi pemberadaban (ta’dib).12
Berbeda dari pendapat pakar pendidikan Islam lainnya, Al-Attas berpendapat bahwa terma yang paling dekat pada pendidikan bukanlah ta’lim ataupun tarbiyah, melainkan ta’dib. Menurutnya, pengertian ta’lim terbatas pendidikan untuk pengajaran kognitif saja, sementara tarbiyah hanya terbatas pada aspek fisikal dan emosional saja. Al-Attas condong pada istilah ta’dib, karena terma tersebut mengandung pengertian ilmu.13 Lebih lanjut Al- Attas mengartikan ta’dib sebagai penyemaian dan penanaman adab dalam diri seseorang. Maksudnya, upaya atau tindakan manusia untuk mendisiplinkan jiwa dan pikiran, mencari kualitas dan sifat-sifat ruhiyah yang baik, berprilaku yang benar, melibatkan ilmu yang dapat menyelamatkan manusia.14
12 Wan Mohd. Nor Wan Daud, The Educational Philosophy and Practice of Syed Muhammad Naquib Al-Attas, (Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed Naquib Al-Attas, Terj. Hamid Fahmy, et. Al.) Cet. I, (Bandung: Mizan, 1996), 15
13 Djudju Sudjana, Perkembangan Ilmu Pendidikan dan Keterkaitannya dengan Ilmu-Ilmu Lain, (Bandung: UPI Press, 2008), 8. 14
Wan Mohd. Nor Wan Daud, The Educational Philosophy, 15.
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id
22
Para pakar pendidikan Islam memang berbeda pendapat terkait arti ta’lim, tarbiyah maupun ta’dib. Bila merujuk pada Al-Qur’an, justru istilah tarbiyah yang dikenal oleh al-Qur’an, sebab tarbiyah adalah suatu proses secara terus menerus di dalam menanamkan prilaku yang baik. Hanya saja, dalam istilah hadits menggunakan istilah ta’dib
بىر نىب.دا
Mungkin yang tidak tercover dalam pendidikan Islam adalah istilah tazkiyah yaitu penguatan dari sisi batin dan rohani, yang di pesantren biasa disebut dengan mujahadah atau riyadhah.Amin Abu Lawi menyatakan bahwa pendidikan di dalam Islam tidak bisa lepas dari sejarah awal kedatangan agama Islam sebagai cahaya perubahan, cahaya pancaran yang benar, yang dimulai dari tanah Arab. Maka perintah dakwah yang diterima oleh Rasulallah saw menjadi tanda era baru pendidikan bagi umat manusia.15
Lebih lanjut Amin Abu Lawi mengatakan bahwa dasar rujukan pendidikan dalam Islam adalah Al-Qur’an dan Hadits serta sikap manhaj salafus salih dalam mengamalkan ajaran Islam ini. Pemaknaan rujukan dan landasan pendidikan Islam yang dimaksud adalah untuk meyakinkan bahwa istilah pendidikan Islam berada pada ranah Islam, bukan pada teori di luar Islam. Pemaknaan ini harus menjadi karakter tersendiri pada penamaannya.16
15 Amin Abu Lawi, Ushul al-Tarbiyah al-Islamiyah, (Riyadh: Dar Jawzi, 2002), 5-10.
16 Ibid. 15..
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id
23
Senada dengan apa yang disampaikan oleh Abu Lawi, guru besar Universitas Islam Madinah, Khalid bin Hamid Al-Hazimy menyebutkan bahwa ketika memaknai pendidikan dengan sebutan Islam, maka pemaknaan tersebut harus mempunyai perbedaan yang signifikan dengan arti pendidikan secara umum. Pemaknaan tersebut harus mengacu pada paham bahwa pendidikan tersebut sudah sesuai dengan manhaj atau metode menurut Islam. Hal ini menjadi penting untuk membedakan antara karakter pendidikan Islam dengan pendidikan Yahudi dan Nasrani. Begitu pula dengan pendidikan sekuler dan berbagai macam pola pendidikan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam yang luhur.17
Pada dasarnya kaum Yahudi adalah orang-orang ahli ilmu. Mereka mengetahui kebenaran dari wahyu ilahi.
Namun semua itu mereka dustai. Dan hal itu tidak boleh terulang dalam sejarah umat Islam. Sebab, pendidikan di dalam Islam adalah cerminan dari metode pelaksanaan ajaran Islam yang jujur dan terbuka, dan tidak kitman (menyembunyikan wahyu). Karena itu, di dunia ilmiah dikenal sebuah ungkapan “Dalam dunia ilmu boleh salah, tetapi tidak boleh bohong”. Sehingga yang dituntut dari ilmu adalah kejujuran ilmiah.
Dengan demikian, maka pemaknaan Islam terhadap konsep pendidikan bukan sekedar memuat dimensi teori dan pengetahuan semata tapi juga berorientasi pada pelaksanaan. Pemaknaan sangat erat kaitannya dengan misi utama ajaran Islam, yang mengubah manusia dari
17 Ulil Amri, Pendidikan Karakter Berbasis Al-Qur’an, 44.
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id
24
era kegelapan kepada kondisi keislaman sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an Surat Ibrahim ayat 1, artinya:
Alif, Lam, Ra. (ini adalah) kitab yang kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan Mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha terpuji. (QS Ibrahim:1). Berdasarkan ayat ini kemudian dikembangkan dalam proses pendidikan yang lebih luas.
Istilah pendidikan yang kemudian dikontekskan dengan kata Islam bukan sekedar proses transmisi atau alih budaya, ilmu, pengetahuan, dan teknologi, akan tetapi juga sebagai proses penanaman nilai, karena tujuan pendidikan Islam adalah menjadikan manusia bertakwa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Karena itu, inovasi dan upaya pencarian metodologi yang representative untuk transmisi ilmu telah diupayakan bahkan sampai persoalan didaktik-metodik sebuah pembelajaran. Kalau pendidikan dipersepsikan untuk mencapai keluhuran moral atau ideologi yang sesuai dengan petunjuk Ilahi, maka sudah semestinya ada dua hal yang harus diperhatikan: pertama, berkaitan dengan sumber (Al-Qur’an dan Hadits), dan kedua berkaitan dengan setrategi dan metodologi yang secara khusus menggali konsep dan sumber tersebut.18
18 Soeroyo, Antisipasi Pendidikan Islam dan Perubahan Sosial Menjangkau Tahun 2000 (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1991), 43.
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id