ملاعملعي-
D. URGENSI DAN ESENSI AJARAN TA’LIM AL- MUTA’ALLIM
Salah satu di antara sekian banyak kitab agama Islam yang berbahasa Arab telah dijadikan sebagai kitab standar, terutama untuk pelajaran akhlak di Pondok
81 Winarno Surhamad, Pengantar Interaksi Mengajar-Belajar (Bandung: Tarsito, 1982), 65-67.
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id
143
Pesantren ialah kitab Ta’lim al- Muta’allim, kitab yang dikarang oleh As-Syaekh al-Zarnuji sekitar tahun 1203 M82. Di dalamnya membahas berbagai masalah mengenai tata cara atau metode mengajar siswa tentang cara-cara belajar dengan pendekatan dari aspek aqidah, syariah, dan akhlak. Kitab Ta’lim al- Muta’allim dalam menghadapi proses perkembangan publikasi ilmiah kependidikan Islam sejak kitab ini dimasyarakatkan di kalangan guru dan murid sekitar abad 13 Masehi yang lalu hingga sekarang, ternyata telah menarik beberapa kalangan ahli pendidikan Islam, sehingga telah dipergunakan sebagai salah satu buku referensi dalam karangan-karangan kependidikan Islam, antara lain oleh Muhammad Athiyah Al-Abrasyi dalam bukunya Attarbiyatul Islamiyah; Ahmad Syalabi dalam bukunya Tarikhut Tarbiyatul Islamiyah, dan sejumlah penulis lainnya.
Salah satu segi yang cukup menonjol yang ada di dalam kitab Ta’lim al- Muta’allim ialah teori/ajarannya banyak diwarnai oleh jiwa ketasawufan (shufi). Hal itu dapat dilihat dari beberapa uraiannya misalnya tentang ajaran zuhud dan al-wara’ (pasal XI, hal. 39) dan sebagainya. Kiranya hal itu cukup beralasan, sebab masalah-masalah kependidikan Islam itu memang banyak relevansinya dengan masalah-masalah pendidikan moralitas/akhlak atau penyucian kejiwaan. Oleh karena itu, hampir seluruh materi ajarannya dilatarbelakangi pemikiran yang serba ‘shufistis’, namun demikian pada
82Zainal Abidin Ahmad ,Bimbingan Ke Arah Belajar Sukses (Jakarta:
Aksara Baru, 1981), 6.
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id
144
bagian yang lain, al-Zarnuji di dalam kitab Ta’lim al- Muta’allim-nya itu, juga memperhatikan aspek-aaspek pembinaan intelektual dan perilaku kependidikan dan keilmuan, antara lain seperti dapat dibaca pada pasal V tentang bersungguh-sungguh dan bercita-cita luhur kitab Ta’lim al- Muta’allim.
Sedangkan dari aspek metodologisnya dan ini termasuk yang paling menonjol dalam proses penyajiannya, sebab keseluruhan ajaran Ta’lim al- Muta’allim ini memang dimaksudkan untuk memberikan bimbingan, agar para pengkajinya (para guru dan murid) dapat memahami dan menghayatinya bagaimana seharusnya proses pencarian sesuatu ilmu dengan cara yang sebaik-baiknya. Itulah sekedar gambaran sekilas contoh yang dapat dikemukakan dalam sub bahasan ini.
Dengan demikian, lebih memperjelas bahwa totalitas sistem ajarannya, baik disorot dari disiplin ilmu agama Islam maupun dari teori-teori keilmuan modern yang relevan terutama yang termasuk lingkup ilmu-ilmu kerohanian, filsafat (misalnya ilmu kependidikan, ilmu jiwa agama, Nafsiologi Islam, Epistemologi Islam, dan Bimbingan dan Penyuluhan Kependidikan), khususnya dalam Ilmu Akhlak/Etika Islam atau Tasawuf Akhlaki;
ternyata aspek metodologis yang dimiliki oleh Ta’lim al- Muta’allim ini telah memberikan arti tersendiri, sehingga dari disiplin ilmu manapun yang masih terkait maka teori/ajaran Ta’lim al- Muta’allim dapat dipergunakan untuk membantu menyelesaikan masalah-masalah kependidikan pada umumnya. Lebih daripada itu, ajaran
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id
145
Ta’lim al-Muta’allim pun dapat dijadikan ‘standar/tolak ukur dalam segi pengamalan ajaran Islam dalam kaitannya dengan pelaksanaan praktik kependidikan yang Islami.
Oleh karena itu, tepatlah penilaian yang pernah diberikan oleh penulis/ahli ilmu yang lain, bahwa kitab Ta’lim al- Muta’allim adalah suatu karya ilmiah yang ‘unik’ dengan ungkapan (
ىهتنا ادج سفن وهو ملعتلا قيرط ملعتملا ميلعت باتك
)83 dikemukakan pengarang kitab Kasyfudzunun An Asamil Kutub wal Funun, oleh Al Alim Al-Kamil Mushthafa bin Abdullah Al Haj Halifah wa Mukatib. Juga pengakuan salah seorang orientalis yang bernama Philip K. Hitti dalam bukunya History of the Arab, pag. 410, sebagaimana disitir oleh H. Zainal Abidin Ahmad, dalam“Memperkembang dan Mempertahankan Pendidikan Islam di Indonesia” yang mengatakan: “… Al-Zarnuji is the best know of some two score Arabic treatises on education, most of which have survived in manuscript from”.84 (Karangan al-Zarnuji ini adalah buku yang terbaik dari dua buku bahasa Arab tentang pendidikan, yang masih diperoleh manuskripnya di masa sekarang).
Dari dua pendapat ilmuwan kaliber dunia yang sudah popular di kalangan ilmuwan muslim maupun non muslim lainnya, (juga pengakuan beberapa kalangan ahli ilmu pendidikan Islam yang lain), maka keberadaan kitab Ta’limul al-Muta’allim ini di tengah-tengah percaturan teori-teori modern dalam ilmu pengetahuan sosial
83 Abdullah Mushthafa, Kasyfudzunun An Asamil Kutub wal Funun,Jilid I (Bairut: Maktabul Matby, tt), 425.
84 Zainal Abidin Ahmad,Bimbingan Ke Arah Belajar Sukses…, 157- 158.
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id
146
terutama dalam bidang ilmu kependidikan dewasa ini, kiranya dari sejumlah teori yang telah tersusun dengan baik dan sistematis yang terdapat dalam kitab Ta’lim al- Muta’allim itu akan lebih baik pula manakala ajaran- ajarannya dapat dijadikan sebagai suatu referensi keilmuan pendidikan Islam, di samping kitab-kitab agama Islam lain. Bahkan pula pada masa sekarang ini, ajaran- ajarannya dapat dipergunakan sebagai standar dan tolak ukur dalam menilai setiap laku kependidikan Islami, terutama di lingkungan lembaga pendidikan Islam, baik dalam arti toeritis maupun praktisnya. Oleh karenanya, menjadikan kitab Ta’lim al- Muta’allim sebagai salah satu buku referensi atau rujukan dalam dunia ilmiah khususnya dalam ilmu pengajaran dan pendidikan Islam, merupakan hal yang tidak kecil artinya bagi pengembangan teori-teori keilmuan yang khas Islam.
Dalam rangka pembinaan dan bimbingan ke arah penguasaan metodologi keilmuan Islam serta dalam rangka membantu proses percepatan berhasilnya tujuan pendidikan Islam yang hakiki yakni al-Akhlakul Karimah, maka sudah saatnya model teori pembimbingan
‘metodologi belajar’ yang khas Islam, lebih-lebih bahwa hingga kini di dalam semua kurikulum di lingkungan Perguruan Islam, memang belum ada suatu bahasa khusus tentang bimbingan metode belajar. Melalui kajian ajaran Ta’lim al- Muta’allim. Selanjutnya penulis merumuskan suatu konsep awal dengan nama Metodologi Kelimuan Islami (MKI). Sehingga pada saatnya ide tentang MKI tersebut dapat dijadikan bahan pertimbangan
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id
147
untuk dijadikan suatu disiplin atau sub disiplin/bidang keilmuan tersendiri.
Alasan penulis menggunakan konsep Metodologi Keilmuan Islam (MKI) tersebut adalah sepanjang pengamatan penulis hingga dewasa ini masalah-masalah metodologi belajar yang memiliki ciri khas Islam masih dipandang langka adanya, padahal sebenarnya tiap siswa itu sudah harus memperoleh bekal pengetahuan tentang metode belajarnya, sebab masalah bimbingan metode belajar itu semestinya termasuk salah satu persyaratan penting yang akan dapat mendukung bagi peningkatan prestasi belajar siswa. Oleh karena itu merupakan hal yang patut dipertanyakan, apa sebab bimbingan metodologi belajar tidak tercantum di dalam kuriukulum.
Sehingga dari segi teknis masalah bimbingan metode belajar ini secara formal edukatif dapat dimasukkan dalam bidang, yakni pada suatu bidang studi.
Atas dasar kenyataan dan setelah suatu proses studi/pengkajian secara seksama, maka penulis mencoba membuat suatu konsep awal untuk merumuskan/
membangun suatu teori bangunan tentang metodologi keilmuan yang khas Islam. Secara konsepsional penulis namakan dengan Metodologi Keilmuan Islam (MKI).
Berdasarkan penelaahan penulis, ternyata di dalam kitab Ta’lim al- Muta’allim itu, Syaikh al-Zarnuji mengutarakan buah pikirannya telah mempergunakan sejumlah referensi dari berbagai pendapat sejak dari masa sahabat Nabi, Tabi’in, Tabiit tabi’in dan para Imam mazhab yang empat sampai para ulama’ salafus shalihin.
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id
148
Tidak kurang dari 53 (lima puluh tiga) nama yang telah diungkapkan pokok-pokok pikiran dari mereka tersebut, yang telah dituangkan di dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim.
Kesemuanya berkisar pada bimbingan tentang adab/akhlak dalam rangka menuntut ilmu.
Sekalipun kitab Ta’lim al-Muta’allim itu merupakan kitab klasik Islam yang kini telah berusia 782 tahun, namun dalam teori ajarannya ternyata sebagian besar masih relevan untuk dikembangkan pada masa kini, terutama yang ada kaitannya dengan upaya pembinaan pendidikan (agama) Islam; lebih khusus lagi dalam hal cara belajar yang baik. Persoalan apakah keberhasilan seorang pelajar dalam studinya itu bukanlah semata-mata ditentukan karena kepandaian atau intelegensi dan kecukupan sarana yang dimilikinya, tetapi faktor akhlak/tingkah laku juga ikut berpengaruh pula terhadap kesuksesannya. Dengan demikian, berarti ada hubungan/pengaruh yang saling berinteraksi antara sikap/tingkah laku atau akhlak seorang siswa terhadap prestasi belajarnya.
Pandangan penulis di atas kiranya tidaklah keliru, sebab berdasarkan hasil penelitian secara empiris yang pernah dilakukan oleh Moch. Tohir Muchtar dalam laporan tesisnya yang berjudul “Studi Empiris tentang Pelajaran Akhlak terhadap Kesulitan Belajar para Santri Pondok Pesantren di Bondowoso”, menyimpulkan bahwa:
(1) Pelajaran akhlak berpengaruh yang positif terhadap keuletan belajar santri-santri; (2) Berdasarkan penelitian itu, dapat disimpulkan bahwa pelajaran akhlak mempunyai
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id
149
sifat yang merupakan salah satu factor yang ikut menentukan hasil/tidaknya santri-santri terhadap pendidikan; (3) Dengan kesadaran anak didik (santri),
orang tua, pendidik dan masyarakat, maka pelajaran akhlak dapat berhasil mempengaruhi belajar santri yang
kurang ulet menjadi ulet…. 85
Oleh karena itu, relevan sekali apabila diinginkan agar tiap siswa itu berprestasi secara baik dan wajar dalam cara pencapaiannya, maka adanya pembimbingan metodologi belajar perlu dilaksanakan sedemikian rupa, sehingga secara korelatif dan integratif antara penguasaan metode belajar tersebut dapat diwarnai pula dengan aspek-aspek bimbingan moral/akhlakul karimah sebagaimana yang diajarkan di dalam kitab Ta’lim al- Muta’allim.
Demikian pentingnya penguasaan metode belajar itu bagi setiap siswa (penuntut ilmu), sebab berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Zakiah Daradjat dalam tesisnya berjudul “Problematika Remaja di Indonesia”, menunjukkan bahwa dari 100 item angket yang disebarkan kepada responden, ternyata 2 (dua) item masing-masing dengan nomor urut 13 dan 51 yang berbunyi: Saya ingin tahu cara belajar yang baik, dan saya ingin tahu cara mempersiapkan diri untuk ujian. Kedua item tersebut masing-masing menempati urutan pertama dan kedua; dengan prosentase: pada permulaan dan akhir masa remaja masing-masing secara prosentase 92,95 –
85 Tohir Muchtar, Moch., Laporan Tesis, Fak. Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jember, 1986, 77.
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id
150
99,51 dan 89 – 95,99. Hal itu menunjukkan bahwa problem bagaimana cara belajar yang baik dan bagaimana cara mempersiapkan yang terbaik dalam menghadapi ujian, adalah merupakan problem yang terpenting yang dihadapi oleh remaja di Indonesia dalam tingkatan umur.
Sesungguhnya masalah ujian dan lulus dalam ujian, termasuk problem yang dihadapi oleh para remaja di Negara maju pun, ujian selalu menyebabkan kecemasan para remaja. Memang pendapat umum mengatakan bahwa menggunakan ujian saja untuk mengukur dan menilai kemampuan belajar dalam menguasai pengetahuan yang diberikan adalah tidak baik (zalim).86 Bukti empiris yang lain adalah adanya kenyataan betapa banyaknya mahasiswa yang terpaksa mengalami kegagalan studinya, yang sebab utamanya adalah oleh karena kekurangan pengertian tentang apa, mengapa, dan bagaimana belajar dengan baik.87
Sungguh disadari bahwa teramat sulit untuk membawakan suatu bimbingan tentang cara belajar yang baik yang dapat diikuti oleh keseluruhan para pelajar/mahasiswa dalam keadaan aneka ragam corak persepsi ilmiah tingkat intelegensi. Tetapi setidaknya dapat disimpulkan, bahwa menuntut ilmu pengetahuan dengan cara terbaik dengan hasil yang sempurna sangat tergantung dari sifat-sifat dan akhlak atau kepribadian
86 Zakiah Daradjat, Problematika Remaja di Indonesia (Jakarta:Bulan Bintang, 1974), 99-100.
87 Agoes Soejanto, Bimbingan Ke Arah Belajar yang Sukses (Jakarta:
Aksara Baru, 1981), v.
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id
151
seseorang itu sendiri.88 Tentu saja hal ini adalah dituntut berlatih sejak masih muda sudah dapat menuntut ilmu dengan lancar dan berhasil baik, dengan cara mengikuti cara belajar yang tertentu, dan dijadikan kebiasaan yang dilanjutkan terus dalam tahun-tahun berikutnya.
Berdasarkan hal-hal yang diuraikan tersebut di atas, maka asumsi penulis yang menyatakan bahwa tuntunan akhlak atau adab dalam menuntut ilmu dapat membentuk kepribadian manusia terpelajar, kiranya hal itu dapat dipergunakan sebagai salah satu dasar untuk mengembangkan masalah bimbingan metode belajar ini, dengan pendekatan keagamaan. Oleh karena itu ajaran Ta’lim al Muta’allim yang antara lain di dalamnya memuat beberapa teori belajar yang dilandasi dengan aspek-aspek kepribadian yang agamis adalah relevan.
Karenanya, dapat diajukan hipotesa baru bahwa: jika bimbingan metode belajar seperti (yang diteorikan di dalam kitab Ta’lim al- Muta’allim) itu dapat dibimbingkan kepada para pelajar dengan menerapkan metode mengajar yang baik pula, maka hasil belajar siswa akan lebih baik lagi, jika dibandingkan dengan pelajar lain yang tidak memperoleh pengajaran atau bimbingan tentang metode belajarnya. Kiranya, untuk membuktikan kebenaran hipotesa tersebut diperlukan adanya penelitian empiris tersendiri.
88 J. Canny, Metode Menuntut Ilmu Pengetahuan dengan Lancar dan Berhasil Baik, Pengetahuan dari Praktek untuk Praktek, Bandung, 1979, hal. 6.
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id