BAB IV MEDIA PEMBELAJARAN
F. Kriteria Pemilihan Media Pembelajaran
2. Tingkat usia dan kematangan diri anak 3. Kemampuan baca dari anak
4. Tingkat kesulitan dan jenis konsep pelajaran 5. Latar belakang pengetahuan/pengalaman siswa G. Jenis Ragam Media Pembelajaran
1. Secara umum
a. AVA (Audio Visual Aid = alat dengar dan pandang) b. Media kegiatan
2. Dari sifat media pembelajaran a. Media sederhana
b. Media lensa c. Media elektronik 3. Dari segi sumber
a. Lingkungan alam b. Lembaga
c. Kegiatan kehidupan
d. Museum/laboratorium e. Media masa
f. Pengalaman guru dengan siswa g. Tokoh-tokoh
4. Penjenisan dari kriteria lain a. Buku bacaan
b. Bahan AVA
c. Kegiatan yang dilakukan siswa secara individual atau kelompok atau bersama guru
d. Bahan kemasyarakatan
Jenis–jenis media pembelajaran atas dasar yang sering digunakan beserta karakteristiknya
1. Media grafis
a. Media gambar foto
Media ini konkrit lebih realistis dibanding dengan media verbal
b. Sketsa
Gambar yang sederhana atau draf kasar yang melukiskan bagian pokok saja tanpa detail.
c. Diagram
Gambar yang berupa garis dan simbol yang konvensional d. Chart
Gambar dan garis untuk mendaftar sejumlah informasi e. Grafik
Suatu gambar yang menggunakan titik-titik garis gambar untuk menyampaikan informasi statistik yang saling berhubungan
f. Kartun
Suatu gambar interpretative yang menggunakan simbolis.
g. Poster
2. Media Audio a. Radio
b. Alat perekam pita/kaset c. Laboratorium bahasa 3. Media proyeksi diam
a. Media slide
Menampilkan gambar/visual serta narasi dapat yang dapat dikombinasi dengan media audio
b. Media OHP
Alat yang dirancang sedemikian rupa sehingga bahan-bahan yang berbentuk sheet yang transparansi diletakkan pada sumber cahaya yang gambarnya diproyeksikan lewat atas kepala ke layar yang terletak di belakang operatornya
c. Film strip
4. Media proyeksi gerak a. Film
b. Televisi
c. TVST (televise siaran terbatas) d. Alat perekam pita video
Pengelolaan Ke;las
BAB V
PENGELOLAAN KELAS
Kegiatan mengajar dimaksudkan secara langsung menggiatkan sisa mencapai tujuan. Kegiatan mengelola kelas dimaksudkan untuk menciptakan dan mempertahankan suasana atau kondisi kelas agar kegiatan mengajar dapat berlangsung secara efektif dan efisien.
Berikut adalah beberapa definisi tentang pengelolaan kelas:
1. Pengelolaan kelas sebagai proses untuk mengontrol tingkah laku siswa
2. Pengelolaan kelas ialah seperangkat guru untuk memaksimalkan kebebasan siswa
3. Pengelolaan kelas ialah berbagai jenis kegiatan yang sengaja dilakukan guru dengan tujuan untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar mengajar
A. Masalah-masalah Pengelolaan Kelas
Untuk menangani masalah dalam kelas guru harus mampu menangani, memahami dan memilih yang paling tepat untuk menangani masalah yang ada di kelas.
Ada 4 jenis penyimpang perilaku dalam masalah yang universal:
1. Menarik perhatian orang lain 2. Mencari kekuasaan
3. Menuntut balas
4. Memperlihatkan ketidakmampuan
Sedangkan pada masalah kelompok yaitu kegiatan anggota atau kelompok yang menyimpang dari ketentuan yang ditetapkan, berhenti melakukan kegiatan atau hanya meniru kegiatan anggota kelompok lainya.
B. Dimensi Pengelolaan Kelas
Ada 2 dimensi dalam pengelolaan kelas yaitu dimensi preventif dan dimensi kuratif. Dimensi preventif yaitu tindakan pencegahan yang ditujukan untuk mengurangi atau menghindari terjadinya masalah pengelolaan kelas yang bersifat perorangan maupun kelompok sedangkan dimensi kuratif yaitu guru yang bersangkutan dituntut untuk berbuat sesuatu dalam menghentikan perbuatan siswa secepat dan setepat mungkin.
C. Prosedur Pengelolaan Kelas
Pengelolaan kelas dapat diartikan sebagai kegiatan menciptakan serta mempertahankan kondisi optimal bagi terjadinya proses belajar mengajar yang efektif dan efisien, maka prosedur kelas dapat diartikan sebagai langkah langkah kegiatan yang dilaksanakan bagi terciptanya kondisi optimal serta mempertahankan kondisi optimal tersebut agar supaya proses belajar mengajar dapat berlangsung secara efektif dan efisien.
Prosedur pengeloalaan dimensi preventif, langkah langkahnya sebagai berikut:
1. Peningkatan kesadaran diri sebagai guru 2. Peningkatan kesadaran siswa sebagai siswa 3. Sikap polos dan tulus dari guru
4. Mengenal dan menemukan alternatif pengelolaan 5. Membuat kontak sosial
Prosedur pengelolaan dimensi kuratif, langkah langkahnya sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi siswa yang mendapatkan kesulitan untuk menerima dan mengikuti kontrak sosial atau konsekuensi dari pelanggaran yang dibuatnya
2. Membuat rencana yang diperkirakan paling tepat tentang langkah yang akan ditempuh dalam mengadakan kontak dengan siswa semacam itu
3. Menetapkan waktu pertemuan atas dasar pertemuan atau persetujuan guru dan siswa yang bersangkutan
4. Menjelaskan maksud dan manfaat dari pertemuan tersebut 5. Tunjukkan kepada siswa bahwa guru juga bukan orang yang
sempurna dan tidak bebas dari kekurangan.
6. Guru harus berusaa membawa murid kepada peraturan tata tertib yang ada di sekolah
7. Guru mengajak siswa berdiskusi terhadap masalah yang dihadapi
8. Melakukan kegiatan tindak lanjut D. Rancangan Prosedur Kelas
Rancangan dapat diartikan sebagai sesuatu yang disusun secara sistematis berdasarkan pemikiran yang rational untuk mencapai tujuan tertentu jadi rancangan prosedur pengelolaan kelas dapat diartikan sebagai serangkaian kegiatan tentang langkah-langkah pengelolaan kelas yang disusun secara sistematis. Berdasarkan pemikiran yang rational untuk menciptakan serta mempertahankan kondisi lingkungan yang optimal yang dapat mendukung proses belajar mengajar. Pengertian tersebut diterapkan pula pada rancangan prosedur pengelolaan kelas dimensi pencegahan, maupun rancangan prosedur pengelolaan kela dimensi penyembuhan. Jalur preventif dan jalur kuratif diarahkan pada tujuan yang diharapkan yaitu terciptanya kondisi serta mempertahankan kondisi optimal yang mendukung terlaksanakannya proses belajar mengajar.
Langkah langkahnya:
1. Identifikasi masalah yang timbul dalam pengelolaan kelas 2. Analisa masalah
3. Penilaian alternatif pemecahan 4. Monitoring pelaksanaan
5. Balikan (feedback) pelaksanaan alternatif pemecahan masalah
Kesimpulannya, bagaimanapun lengkap serta baiknya suatu rancangan prosedur kelas, maka akhirnya sangat tergantung pada kualitas pribadi guru. Guru dengan kehangatan dan kemampuannya dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan para siswa sagat mempengaruhi iklim dan suasana belajar mengajar di dalam kelas
Pendekatan Pembelajaran
BAB VI
PENDEKATAN PEMBELAJARAN
A. Pengertian Pendekatan Pembelajaran
Terlebih dahulu diartikan apa pendekatan itu? pendekatan adalah suatu kerangka pemikiran yang masak dalam rangka memiliki langkah tepat untuk memecahkan masalah guna mencapai tujuan yang dikehendaki.
Berkaitan dengan pembelajaran maka pengertian pendekatan pembelajaran adalah suatu kerangka pemikiran yang masak dalam menentukan langkah-langkah tepat untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan cara belajar mengajar guna mencapai pembelajaran.
B. Klasifikasi Pendekatan Pembelajaran
Dalam klasifikasi yang besar dapat digolongkan 2 (dua) pendekatan pembejaran yaitu:
1. Pendekatan ekspositorik yaitu pendekatan pembelajaran yang menekankan pada peranan guru, sedangkan para siswa beresiko pasif.
2. Pendekatan inquiry yaitu suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan siswa aktif dalam mencari dan menentukan sendiri apa yang dipelajari (berorientasi pada siswa).
Di antara kedua pendekatan tersebut, salah satunya adalah pendekatan keterampilan proses (PKP) yang merupakan syarat dalam melaksanakan kurikulum 1984 di Indonesia. Pengertian Pendekatan Keterampilan Proses (PKP) adalah pendekatan dalam proses belajar mengajar yang menekankan pada pembentukan keterampilan memperoleh pengetahuan dan mengkomunikasikan perolehannya. PKP merupakan pendekatan belajar mengajar yang mengarah kepada pengembangan kemampuan mental, fisik, dan
tinggi dalam diri individu siswa.
Kemampuan-kemampuan tersebut antara lain berbentuk:
1. Kemampuan mengidentifikasi 2. Kemampuan mengklasifikasi
3. Kemampuan menghitung, mengukur, mengamati 4. Kemampuan mencari hubungan
5. Kemampuan menafsirkan, menyimpulkan, menerapkan
6. Kemampuan mengkomunikasi dan mengekspresikan diri ke dalam suatu bangsa.
Unsur kemampuan dalam keterampilan:
1. Kemampuan olah pikir (psikis) 2. Kemampuan oleh perbuatan (fisik)
Keterampilan proses maupun keaktifan fisik mencakup:
1. Segi fisik, dalam bentuk gerak, perbuatan.
2. Segi psikis (mental) yang ditunjukan dalam olah psikis dan sikap yang mendukung kegiatan belajar.
Azas Pelaksaan PKP:
1. Motivasi 2. Potensi siswa
3. Suasana kelas pengelolaan kelas 4. Tutwuri handayani
Ciri-ciri PKP:
1. Mengajukan indikator
a. Bertanya apa, Bagaimana
b. Bertanya untuk meminta penjelasan 2. Mengambil Indikator:
a. Mengumpulkan fakta yang relevan dan memadai b. Menggunakan sebanyak mungkin indera
3. Menafsirkan/pengamatan indikator:
a. Mencatat setiap pengamatan secara terpisah
b. Menghubungkan pengamatan-pengamatan yang terpisah.
4. Meramalkan
Indikator: dengan menggunakan pola-pola mengemukakan apa yang mungkin terjadi pada keadaan yang belum diamati
5. Mengatur alat/bahan
Indikator: menggunakan alat/bahan dan untuk memperoleh pengalaman langsung.
C. Jenis-jenis Pendekatan Pembelajaran
1. Pendekatan informasi, pendekatan pembelajaran memberi dorongan internal siswa untuk memahami dunia dengan meng- gali dan mengorganisasikan data, memecahkan masalah dan mampu mengungkapkan. Termasuk pendekatan pembelajaran ini adalah:
a. Pendekatan pembelajaran berpikir induktif
b. Pendekatan pembelajaran inkuiry, memberi tekanan melatih siswa dalam penelitian.
c. Pendekatan pembelajaran konsep
Konsep: abstraksi sekelompok benda atau fenomena/
stimuli yang memiiki persamaan karakteristik, ada konsep konkrit seperti meja, kursi, gunung dan sebagainya. Ada pula konsep abstrak seperti demokrasi termasuk grasi dan sebagainya.
Pembentukan konsep adalah prose kosagarisasi dalam atribut (tanda). Pencapaian konsep adalah proses kosagarisasi di antara satu konsep dengan konsep lainnya. Tujuan pendekatan pencapaian konsep untuk mengembangkan kemampuan berpikir induktif dan analisis konsep, di samping meningkatkan intelektuan dalam mengolah informasi. Langkahnya penyajian data, membandingkan dan mengelompokkan, menentukan label membuat definisi konsep tersebut mencari contoh dan mendiskusikan.
d. Pendekatan pengembangan kognitif atau intelektual : - >
pendekatan ini bertujuan membantu peran menyesuaikan proses pembelajaran terhadap kematangan siswa dan meran- cang cara-cara meningkatkan kecepatan perkembangan kognitif siswa terutama kemampuan berargumentasi.
e. Pendekatan peranan awal -> dengan tujuan mengembangkan efisiensi kemampuan mengolah informasi agar siswa mamu memahami informasi agar bermakna bagi dirinya.
f. Pendekatan memori -> meningkatkan kemampuan mengin- tai dalam diri siswa.
2. Pendekatan personal: tujuannya mengembangkan kepribadian siswa dengan siswa agar mengorganisasikan pengalaman pribadinya.
Termasuk dalam pendekatan ini seperti:
a. Pendekatan pembelajaran tanpa arah, dalam anti guru sebagai konselor dan menitikberatkan persahabatan dengan siswa.
b. Pendekatan latihan kesadaran, yang berisikan rangkaian kegiatan lokakarya, untuk mendorong timbulnya refleksi hubungan antar individu, citra, eksperientasi dan keterampilan diri.
c. Pendekatan sinektiks dimaksudkan pendekatan dalam membantu siswa mampu merancang (tulis menulis) tentang suatu topik dan akhirnya dapat melaksakan prosedur.
d. Pendekatan pertemuan kelas adalah pendekatan yang mem- beri kesempatan pada siswa mengadakan pertemuan (rapat) guna membicarakan/membangun sistem sosial guru mam- pu mengelola suasana pembelajaran dan mampu mengor- ganisasikan siswa agar bertanggungjawab atas situasi kelas.
3. Pendekatan interaksi sosial, dengan tujuan mengembangkan kemampuan siswa dalam berinteraksi dengan kelompok sosialnya.
Termasuk dalam pendekatan ini seperti pendekatan investigasi kelompok pendekatan, latihan laboratorium, pendekatan penelitian guru prodensi mengembangkan kemampuan berpikir menurut logika hukum dalam memecahkan masalah sosial.
4. Pendekatan sistem perilaku dengan tujuan untuk mengubah perilaku nyata yang nampak dalam hubungannya dengan tugas-tugas yang dijalankan. Termasuk pendekatan ini agar pendekatan belajar lantas, pendekatan belajar kontrol diri, pendekatan latihan ketrampilan dan pengembangan konsep.
Model Pembelajaran
BAB VII
MODEL PEMBELAJARAN
Berdasar teori belajar mengajar, dikenal adanya model-model pembelajaran seperti:
A. Model Pembelajaran Konstrukivisme
Model pembelajaran konstruktivis adalah model pembelajaran yang tidak hanya semata-mata memberikan pengetahuan kepada siswa, melainkan siswa harus dapat membangun pengetahuan di dalam pikirannya guna dapat membantu peran tersebut dengan cara-cara mengajar yang membuat informasi sangat bermakna dan sangat relevan bagi siswa, dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan menerapkan sendiri ide-ide serta mengajak siswa agar menyadari dan secara sadar menggunakan strategi-strategi mereka sendiri untuk belajar.
Guru dapat memberikan tangga kepada siswa yang dapat membantu mencapai tingkat pemahaman lebih tinggi, namun diupayakan agar siswa sendiri yang memanjat. Teori konstruktivis memandang siswa secara terus menerus memeriksa informasi- informasi barn yang berlawanan dengan aturan-aturan lama dan memperbaiki aturan tersebut ika tidak sesuai lagi. Strategi konstruktivis sering disebut dengan Student Centered Instruction sedang Student Centered Intruction sedang guru membantu siswa menemukan fakta konsep dan prinsip bagi diri mereka sendiri.
Teori konstruktivis menyarankan untuk menggunakan kelompok belajar dengan kemampuan anggota yang berbeda-beda untuk mengupayakan perubahan pengertian dan belajar.
B. Model Pembelajaran Kontekstual 1. Pengertian
Menurut Nurhadi, dkk (2003: 13) pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang memungkinkan siswa menguatkan, memperluas, dan menerapkan pengetahuan dan keterampilan akademik mereka dalam berbagai macam tatanan dalam sekolah dan luar sekolah agar dapat memecahkan masalah- masalah yang disimulasikan yang terjadi dalam hubungan yang erat dengan pengalaman sesungguhnya.
2. Hal-hal yang perlu diperhatikan
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam kasus pembelajaran kontekstual yaitu:
a. Belajar berbasis masalah yaitu suatu pendekatan pembela- jaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah.
b. Pembelajaran autentik
c. Pembelajaran berbasis inquiry d. Belajar berbasis proyek/tugas e. Belajar berbasis kerja
f. Belajar berbasis jasa layanan g. Belajar kooperatif
3. Ada (5) Lima stategi umum pembelajaran kontekstual menurut Nurhadi (200: 23) disingkat dengan REACT, yaitu:
a. Relating: Belajar dikaitkan dengan konteks pengalaman kehidupan nyata.
b. Experiencing: Belajar ditekankan kepada penggalian (eksplo- rasi), Penemuan (discovery) dan penciptaan (invention) c. Appling: belajar bilamana pengetahuan dipresentasikan di
dalam konteks pemanfaatannya.
d. Cooperating: Belajar melalui konteks komunikasi interpersonal, pemakaian bersama dan sebagainya.
e. Transferring: Belajar melalui pemanfaatan pengetahuan di dalam situasi atau konteks baru.
C. Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah
Pembelajaran berdasar masalah yang dalam bahasa Inggris disebut Problem Based Instruction (disingkat PBI) merupakan model pembelajaran yang efektif untuk proses berpikir tingkat tinggi.
Pembelajaran yang efektif untuk proses berpikir tingkat tinggi.
Pembelajaran ini membantu siswa untuk memproses informasi yang sudah jadi dalam benaknya untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri tentang dunia sosial dan sekitarnya. Pembelajaran ini tidak untuk mengembangkan pengetahuan dasar maupun kompleks.
Menurut Arends yang dikutip Tenwey Gerson Ratumanan (2000: 119) pembelajaran berdasarkan masalah merupakan suatu pendekatan pembelajaran di mana siswa mengerjakan permasalahan otentif dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri dan keterampilan berpikir tingkat lebih tinggi, mengembangkan kemandirian dan percaya diri karakteristik PBI adalah:
1. Pengajuan pertanyaan atau masalah
Selain pengorganisasian pelajaran di sekitar prinsip atau keterampilan-keterampilan akademik tertentu, belajar berdasarkan masalah mengorganisasikan pembelajaran di sekitar pertanyaan dan permasalahan, yang keduanya sangat diper-lukan siswa. Guru menunjukan situasi kehidupan nyata yang jawabannya tidak sederhana dan siswa berlembo menyelesaikannya. Menurut Gallagher dan Stephen (Slavin, 1997), tugas-tugas sekolah seringkali lemah dalam konteks, sehingga tidak bermakna bagi kebanyakan siswa, karena siswa tidak dapat menghubungkan tugas-tugas tersebut dengan apa yang mereka lalui.
2. Keterkaitan dengan disiplin ilmu lain (Interdisciplinary Focus) Walaupun PBI ditujukan pada suatu bidang ilmu tertentu (sains, matematika, penelitian sosial). Namun dalam pemecahan masalah-masalah aktual, siswa dapat diarahkan dalam penyelidikan diberbagai bidang ilmu. Sebagai contoh masalah polusi yang meningkat di perairan sakitar Tanjung Perak Surabaya, atau di telu Ambon, berkaitan dengan beberapa pelajaran dan merupakan aplikasi dari biologi, ekonomi, sosiologi, turis, dan pemerintahan.
3. Penyelidikan Otentik (Authentic Investigation)
PBI mengharuskan siswa melakukan penyelidikan- penyelidikan otentik untuk mencari pemecahan nyata dari suatu permasalahan. Siswa menganalisis dan mengidentifikasikan masalah, mengembangkan hipotesis dan meramalkan, mengumpulkan dan menganalisa informasi, melaksanakan eksperimen jika diperlukan, membuat inferensi dan menyimpulkan. Metode penyelidikan khusus yang digunakan, tentu saja bergantung pada sifat-sifat masalah yang diselidiki.
4. Menghasilkan hasil Karya dan memamerkannya ( production of artifacts and exhibits)
PBI mengajak siswa mengkonstruksikan hasil-hasil dalam bentuk hasil karya dan memamerkannya, yang menjelaskan atau menggambarkan penyelesaian mereka. Setiap kelompok menyajikan hasil karyanya di depan kelas, selanjutnya kelompok lain memberikan tanggapan atau kritikan. Dalam hal ini guru mengarahkan dan memberi petunjuk kepada siswa agar aktivitas siswa lebih terarah.
5. Kolaborasi (Collaboration)
Seperti halnya dengan model pembelajaran kooperatif, PBI juga menghendaki adanya kerja sama antar siswa dalam suatu kelompok kecil. Kerja sama menimbulkan motivasi untuk mendukung peliputan dalam tugas-tugas kompleks dan
meningkatkan inkuiri dan dialog pengembangan keterampilan berpikir dan keterampilan sosial.
PBI sebenarnya didesain bukan untuk membantu guru menyampaikan sejumlah informasi (materi pelajaran) kepada siswa. Untuk menyampaikan informasi dapat digunakan model pembelajaran langsung (direct instruction) dan metode ceramah. Tujuan utama pengembangan PBI adalah untuk membantu siswa mengembangkan proses berpikirnya, belajar secara dewasa melalui pengalaman yang menjadikan siswa mandiri. Menurut Arends (1991) ada 3 (tiga) tujuan utama dari PBI, yakni:
a. Mengembangkan kemampuan berpikir siswa dalam kemampuan memecahkan masalah
b. Mendewasakan siswa melalui peniruan c. Membuat siswa lebih mandiri
Arend (1997) mengemukakan ada 5 (Lima) langkah utama dalam penggunaan PBI. Langkah-langkah tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 1:
Syntax for Problem Based Instruction
No Langkah Perilaku Guru
1 Orientasi siswa pada
masalah Menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan hal- hal penting yang dianggap perlu dan memotivasi siswa dalam melakukan kegiatan pemecahan masalah 2 Mengoprasikan siswa dalam
belajar Membantu siswa mendefinisikan dan
mengorganisasikan tugas-tugas yang berkaitan dengan masalah
3 Memberi bantuan dalam penyelidikan secara mandiri atau bersama kelompok
Mendorong siswa dalam mengumpulkan informasi yang diperlukan, melaksanakan eksperimen dan penyelidikan untuk menjelaskan dan menyelesaikan masalah.
4 Mengembangkan dan
menyediakan alat-alat Membantu siswa dalam perencanaan dan mempersiapkan alat-alat yang diperlukan seperti diktat, video, model dan membantu mereka untuk bekerjasama
5 Menganalisis dan Membantu siswa untuk merefleksikan pada
Penggunaan model PBI dalam pembelajaran membutuhkan persiapan yang baik. Menurut Arends (1997) beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam tugas perencanaan (planning task) pembelajaran dengan menggunakan PBI adalah sebagai berikut:
1. Menetapkan tujuan (decide on objectives)
Penetapan khusus pada PBI merupakan salah satu hal yang perlu dipertimbangkan. Sebelumnya dijelaskan bagaimana PBI dirancang untuk membantu pencapaian tujuan dalam meningkatkan keterampilan intelektual dan penyelidikan pemahaman dan menolong siswa menjadi mandiri. Beberapa pelajaran yang disampaikan menggunakan PBI dapat ditujukan pada pencapaian seluruh tujuan secara simultan.
2. Merancang situasi permasalahan secara tepat (design appropriate problem situations)
PBI didasarkan pada pernyataan (premise) berupa teka teki dan permasalahan yang belum jelas yang dapat meningkatkan keingintahuan dan selajutnya digunakan dalam inkuiri.
Perumusan masalah yang tepat dengan menyesuaikan fasilitas yang tersedia merupakan salah satu tugas penting bagi guru.
Beberapa pengembang PBI yakin bahwa siswa akan memiliki keterbukaan dalam mendefinisikan masalah yang akan diselidiki, sebab proses ini akan membantu pengembangan penguasaan masalah (Krajcik, 1994). Hal lain dapat mengarahkan siswa terhadap bantuan memperbaiki penguasaan masalah yang disesuaikan dengan bahan dan peralatan yang ada. Situasi permasalahan yang baik sedikitnya memiliki 5 (lima) kriteria utama, yakni:
a. Harus otentik (authentic), artinya bahwa masalah harus sesuai dengan pengalaman dunia nyata siswa dari pada dengan prinsip-prinsip disiplin akademik tertentu.
b. Masalah seharusnya bersifat misteri (mystery) atau teka teki (puzzlement). Masalah tersebut sebaiknya memberikan tantangan dan tidak hanya mempunyai jawaban sederhana,
serta memerlukan (mempunyai) solusi alternatif yang masing-masing memiliki kelabihan dan kekurangan. Dalam hal ini tentu saja memerlukan dialog dan perdebatan.
c. Masalah harus bermakna (meaningfull) bagi siswa dan sesuai dengan tingkat perkembangan intelektual mereka.
d. Masalah yang disajikan guru harus cukup luas sehingga memungkinkan mencapai tujuan pembelajaran untuk membuat pelajaran sesuai (feasible) dengan waktu, ruang, dan sumber belajar yag tersedia.
e. Masalah yang disajikan harus bermanfaat atau menguntungkan (benefit) bagi usaha kelompok.
3. Mengorganisasikan sumber belajar serta merencanakan alat dan bahan (organize resources and plan logistics) PBI mendorong siswa bekerja dengan menggunakan berbagai bahan dan alat, sebagian dapat dilakukan di ruang kelas, perpustakaan, laboratorium komputer dan juga dapat dilakukan di luar sekolah. Sehubungan dengan hal tersebut, guru bertanggung jawab mengoraganisasikan sumber-sumber belajar (resources), merencanakan dan mempersiapkan (menyediakan) alat dan bahan (logistik). Ini akan memungkinkan siswa untuk bekerja dan belajar secara optimal dalam memecahkan masalah yang dihadapi.
D. Model Pembelajaran Kooperatif 1. Pengertian
Pembelajaran kooperatif menurut Kanchak dan Eggen yang dikutip Tanwey Gerson Ratunmaman (2002:10) merupakan suatu kumpulan strategi mengajar yang digunakan siswa untuk membantu satu dengan yang lain dalam mempelajari sesuatu.
Jadi pembelajaran kooperatif siswa bekerja sama dalam kelom- pok kecil saling membantu untuk mempelajari suatu materi.
2. Ciri-ciri Pembelajaran Kooeperatif
Menurut Mohamad Nur (2000: 6-7) kebanyakan pembelajaran yang menggunakan model kooperatif dapat memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya.
b. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah.
c. Bila mana mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin berbeda-beda.
d. Penghargaan lebih berorientasi kelompok ketimbang individu.
3. Tujuan Pembelajaran dan Hasil Pembelajaran
Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman dan pengembangan keterampilan sosial.
4. Langkah-Langkah Model Pembelajaran Kooperatif
Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif seperti tampak dalam tabel 2 di bawah ini.
Tabel 2
Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif Fase–1
Menyampaikan tujuan dan motivasi siswa
Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa.
Fase–2
Menyampaikan informasi
Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.
Fase–3
Mengorganisasikan siswa ke dalam kelpmpok-kelompok belajar
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu agar melakukan transisi secara efesien
Fase–4
Membimbing kelompok bekerja dan belajar
Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas.