• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. PEWARISAN SIFAT SEL

C. MEIOSIS

Signifikansi Mitosis

Pengaturan proses pembelahan sel yang luar biasa itu menjamin setiap sel anak akan menerima kromosom dalam jumlah dan jenis yang pasti sama dengan yang dimiliki oleh sel induknya. Kemudian setiap dari organisme multiseluler mempunyai jumlah dan jenis kromosom yang pasti sama dengan sel-sel lainnya. Jika satu sel harus menerima kromosom yang jumlahnya kurang atau lebih banyak dibanding jumlah kromosom yang seharusnya karena suatu kelainan fungsi sel selama proses pembelahan, akan menghasilkan sel yang menunjukkan tanda-tanda abnormal dan kemungkinan tidak mampu hidup. Kenyataan bahwa sel mengandung informasi genetik yang diperlukan bagi setiap sifat dari organisme akan mampu menjelaskan mengapa suatu sel tunggal yang diambil dari tumbuhan dewasa yang telah berdiferensiasi sepenuhnya dan ditanam pada kondisi yang cocok bagi kultur sel, akan mampu berkembang menjadi suatu tumbuhan baru yang lengkap.

yang mengandung kromosom n. Jumlah kromosom direduksi jika pasangan kromosom homolog terpisah.

Pembelahan kedua disebut equation devision atau miosis kedua. Miosis kedua mengubah dua hasil dari pembelahan miosis pertama menjadi 4 inti haploid.

Pembelahan miosis merupakan suatu bentuk pembelahan inti yang penting pada organisme yang berkembang biak secara seksual. Miosis berlangsung pada organisme eukariota yang mengandung jumlah kromosom diploid (2n). Kedua set kromosom yang berpasangan tersebut dinamakan kromosom homolog. Telah diketahui bahwa manusia m,engandung 46 kromosom atau 23 kromosom homolog (pada manusia n=23). Ke 46 kromosom yang terdapat pada zygot dibentuk pada saat fertilisasi yang diturunkan dari sel sperma dan sel telur dari kedua induknya (paternal dan maternal). Sel sperma dan sel telur mengandung setengah jumlah kromosom induknya dan dinamakan haploid.

Gambar: Folikel ovarium kelinci dimana proses pembelahan miosis berlangsung

Gambar: proses pembentukan sperma pada tubulus seminiferus testis.

1. Miosis Pertama Profase I

Profase pertama merupakan fase yang sangat kompleks dari miosis. Terdiri atas 5 fase yaitu leptonema (leptoten), Zygonema (zygoten), Pachynema (pachyten), diplonema (diploten), dan diakinesis.

Leptonema: Stadium ini ditandai dengan dimulainya kondensasi kromosom., setiap kromosom tanpak terdiri atas dua kromatid.

Zygonema: Stadium ini ditandai dengan adanya kromosom homolog yang berpasangan. Kejadian ini disebut sinapsis. Setiap unit terdiri atas dua synap, dan kromosom homolog yang telah terduplikasi disebut bivalen atau tetrad. Pada fase ini terbentuk kompleks

sinaptonema dimana terjadi crossing over. Crossing over dihasilkan dari pembelahan oleh endonuklease dari DNA sesuai posisi dari dua kromatid non sister yang diikuti dengan transposisi dan penggabungan kembali ujung- ujung bebas dari rantai kromosom homolog. Hasil dari crossing over adalah kombinasi gen-gen baru, dibentuk pada kromosom homolog.

Pachynema: Selama stadium ini, kromatid menjadi sangat jelas sebagai hasil kondensasi yang terus menerus.

Diplonema dan diakinesis: Stadium ini ditandai dengan terjadinya pemisahan kromosom homolog kecuali pada titik dimana chiasmata dibentuk.

Metafase I

Pada fase ini apparatus spindel terbentuk seperti pada mitosis, dan tetrad berkumpul pada bidang ekuatorial atau bidang pembelahan. Sentromer dari kromosom homolog melekat pada benang-benang spindel yang terbentuk pada kutub sel yang berlawanan.

Anafase I

Pada tahap ini anggota pasangan kromosom yang homolog bergerak menuju ke kutub sel yang berlawanan.

Karena sentromer (kinetokor) yang terdapat pada masing- masing kromosom belum membelah, maka pada setiap kromosom masih tampak dua kromatid yang berlekatan.

Telofase I

Telofase I diikuti oleh interkinesis (interfase), sifatnya bervariasi. Pada beberapa organisme, tahap ini sama sekali tidak ada, dalam arti tidak ada pembentukan membran nukleus anak, dan miosis terus langsung memasukitahap miosis II. Pada sel yang lain telofase dan interkinesis sangat singkat, padanya terbentuk membran nukleus anak dan

kromosom bertambah panjang dan menyebar di dalam nukleus anak.

Pada telofase I tidak berlangsung sintesis DNA, keadaan genetic kromosom tidak berubah dan kedua nukleus anak yang terbentuk sebagai hasil miosis I sudah haploid. Karena miosis I berakhir dengan pengurangan jumlah kromosom sampai setengahnya (dari diploid menjadi haploid) maka miosis disebut juga pembelelahan reduksi. Proses selanjutnya yang berlangsung pada miosis II sama dengan pada mitosis sel-sel yang haploid. Karena itu miosis II dinamakan pembelahan ekuasi (equation division)

Gambar : Miosis I (Campbell, Reece, dan Mitchell, 2000)

2.

Miosis Kedua Profase II

Apparatus spindle terbentuk, dan kromosom berkembang ke arah lempeng metafase dua.

Metafase II

Metafase dua mirip dengan metafase pada pembelahan mitosis. Pasangan kromatid bergerak ke pusat spindel dan melekat pada mikrotubula-mikrotubula.

Anafase II

Mirip dengan anafase pada pembelahan mitosis.

Tetapi berbeda dengan anafase I. Pada anafase II kromatid sister terpisah satu sama lain dan bergerak menuju kutub spindel yang berlawanan.

Telofase II

Telofase II mirip dengan telofase pada pembelahan mitosis. Kelompok-kelompok kromosom yang telah terpisah kembali dibungkus oleh membran inti yang baru berkembang dan kromosom mulai mengalami dekondensasi.

Miosis menghasilkan 4 sel haploid. Umumnya pada hewan dan beberapa tumbuhan tinggi, miosis yang berlangsung pada jaringan reproduksi diiringi oleh pembelahan sitoplasma. Contoh pembelahan miosis adalah pembentukan gamet pada manusia.

Gambar: Meiosis II (Campbell, Reece, dan Mitchell, 2000)

Tabel Perbandingan meiosis dan mitosis

Meiosis Mitosis Definisi: Suatu jenis reproduksi

seluler

dimana jumlah dari kromosomnya dikurangi setengahnya melalui pemisahan kromosom homolog, menghasilkan dua sel haploid.

Sebuah proses reproduksi aseksual di mana sel membelah dua dengan jumlah dari krom osom yang sama di setiap sel diploid.

Fungsi: reproduksi seksual Reproduksi seluler &

pertumbuhan umum

dan perbaikan tubuh

Jenis

Reproduksi: Seksual Aseksual

Terjadi pada: Manusia, hewan, tumbuhan, jamur

semua organisme

Genetik: Berbeda Identik

Crossing Ov

er: Ya,

pencampuran kromosom dapat terjadi.

tidak dapat terjadi.

Proses

pembelahan 2 kali 1 kali Jumlah Sel

yang dihasilkan:

4 sel haploid 2 sel diploid

Jumlah

Kromosom Dikurangi setengahnya Tetap sama Langkah- Langkah-langkah dari Langkah-langkah

langkah: meiosis adalah Interphase, Profase I, Metafase I, Anafase I, telofase I, Profase II, Metafase II, Anafase II dan telofase II.

mitosis adalah Interphase,

Profase, Metafase, Anafase, telofase dan Sitokinesis Karyokenesi

s: Terjadi di Interphase I Terjadi di Interphase Cytokenesis: Terjadi pada telofase I &

II Telohpase

Terjadi pada telofase Sentromer

Berpisah: Sentromer tidak terpisah selama anafase I, tapi selama anafase II

Sentromer berpisah selama Anafase

Tempat

berlangsung Sel kelamin hanya: sel telur atau sel sperma Wanita Pria

Semua sel, selain sel kelamin Ditemukan

oleh: Oscar Hertwig Walther Flemming

B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Siklus Sel

Frekuensi mitosis pada jaringan-jaringan yang berbeda dan pada spesies yang berbeda sangat beragam.

Pada kondisi dimana makanan, suhu dan pH optimal maka panjang siklus sel (waktu generasi) dari setiap jenis sel adalah konstan. Pada kondisi yang kurang menguntungkan, siklus sel akan menjadi lambat yaitu waktu generasi lebih panjang. Masih belum mungkin untuk mempercepat siklus sel dan membuat sel tumbuh cepat walaupun itu hanya melalui percobaan. Tampak bahwa panjang siklus sel merupakan waktu yang dibutuhkan oleh sel untuk melangsungkan beberapa program terdiri dari dua bagian yaitu: satu harus melakukan replikasi bahan genetik di

dalam kromosom dan yang lainnya adalah penggandaan seluruh penyusun sel yang dibutuhkan dalam pertumbuhannya.

Jika kondisi optimal, bakteri dapat membelah setiap 20 menit. Pada sum-sum tulang manusia setiap detik dihasilkan 10 juta sel darah merah yang berarti setiap detik harus terjadi 10 juta mitosis. Sel-sel yang melapisi saluran pencernaan dan sel-sel yang terdapat pada lapisan reproduksi kulit membelah sangat cepat sepanjang hidupnya. Kebalikannya, pembelahan sel pada sistem saraf pusat biasanya berhenti pada beberapa bulan pertama dari hidupnya.

Pada hampir semua sel hewan produksi substansi yang mengatur masuknya sel ke fase S atau fase M tergantung pada stimulasi oleh substansi pengatur tumbuh yang terdapat di dalam darah. Faktor pertumbuhan ini merupakan protein yang kecil dan bekerja secara khas pada beberapa jenis sel dan tidak pada sel lain. Seperti misalnya, faktor pertumbuhan saraf dibutuhkan bagi mitosis sel-sel saraf simpatis.

Substansi yang menghambat mitosis disebut kalone, yang mengawasi kerja faktor pertumbuhan. Kalone juga sangat khas dan hanya mempengaruhi jenis jaringan dimana substansi itu dihasilkan. Misalnya saja, kalone yang dihasilkan oleh sel-sel kulit menghambat mitosis sel-sel kulit tetangga. Rusaknya sel kulit diperkirakan karena kalone kurang dihasilkan, sehingga sel-sel disekitar kerusakan ini terlepas dari penghambatan ini. Sel-sel mulai membelah menghasilkan jaringan baru untuk menyembuhkan luka.

Jika sel-sel yang sehat telah cukup jumlahnya, sel-sel kemudian menghasilkan kalone untuk menghambat mitosis berikutnya dan menghentikan proses penyembuhan luka

Siklus sel juga dipengaruhi oleh obat-obatan tertentu.

Colchicine merupakan obat yang digunakan untuk menahan

pembelahan sel-sel eukariot. Substansi ini berikatan dengan protein mikrotubul dan ikut serta dalam fungsi spindle mitosis yang normal. Kromosom tidak dapat memisah secara tepat dan bergerak ke arah ujung sel yang berlawanan. Hasilnya adalah sel dapat mengakhiri dengan suatu kelompok kromosom yang berlebihan. Sel tumbuhan dapat hidup walaupun diperlakukan dengan colchicines.

Nyatanya, tumbuhan mengandung sel-sel dengan kelompok kromosom berlebih cenderung untuk lebih besar dan lebih aktif dari tumbuhan normal.

Antibiotik seperti streptomysin dan tetracycline mencegah mitosis secara tidak langsung dengan cara menghambat sintesis protein pada sel-sel prokariot. Hal ini memperpanjang fase G1 dari siklus sel. Beberapa obat yang digunakan dalam pengobatan kanker dapat menahan satu atau beberapa enzim termasuk sintesis DNA dan pembelahan sel. Oleh karena sel-sel kanker membelah jauh lebih cepat dibanding kebanyakan sel tubuh normal lainnya, maka sangat dihambat oleh obat-obatan ini.

Untuk melaksanakan berbagai reaksi kimia yang penting bagi kelangsungan hidup, sel harus mampu mempertahankan lingkungan internal yang tepat. Sel harus mampu mengatur komposisinya sendiri, menciptakan kondisi yang konstan walaupun keadaan di luar sel berubah.

Hal ini dapat terjadi karena secara fisik, seluruh sel bahkan yang paling sederhana sekalipun, terpisah dari lingkungan luar oleh membran sel yang juga disebut plasma membran.

BAB V

TEORI KEMUNGKINAN

Berbagai istilah seperti kemungkinan keboleh jadian, peluang dan sebagai biasanya dipergunakan untuk membicarakan peristiwa/kejadian yang hasilnya tidak dapat dipastikan. Dapat juga berupa suatu pernyataan yang tidak diketahui akan kebenarannya.

Sesungguhnya banyak hal tidak akan terhindar dari adanya kemungkinan yang harus dihadapi, misalnya saudara ingin berpergian sedangkan udaranya mendung tentunya menghadapi kemungkinan akan turun hujan atau tidak, seorang mahasiswa yang menantikan hasil ujiannya tentu menghadapi kemungkinan apakah ia akan lulus atau tidak, seorang mahasiswa yang kos dan peluang dari kuliah tentunya menghadapi kemungkinan akan mendapat telur ataukah tahu dan tempe sebagai lauk pauk, seorang ibu yang hendak melahirkan anak tentunya menghadapi kemungkinan apakah anaknya nanti laki-laki atau perempuan. Masih banyak contoh lainnya semacam itu.

Dalam ilmu genetika, kemungkinan ikut mengambil peranan penting. Misalnya mengenai pemindahan gen dari induk orang tua ke gamet-gamet pembuahan sel telur dari sel spermatozoa, berkumpulnya gen dari zigot sehingga dapat terjadi berbagai macam kombinasi.

Agar kita lebih memahami teori kemungkinan, ada baiknya apabila kita mengenal dasar-dasar terlebih dahulu.

1. Kemungkinan atas terjadinya sesuatu yang diinginkan ialah sama dengan perbandingan antara sesuatu yang diinginkan itu terhadap keseluruhannya.

Singkatnya:

K (x) = x / x + y

K = kemungkinan

K(x) = besarnya kemungkinan untuk mendapat (x)

x + y = jumlah keseluruhannya Contoh:

Uang logam mempunyai dua sisi, yaitu sisi atas (disebut juga kepala) dan sisi bawah (disebut juga ekor). Jika kita melakukan tos (melempar uang logam ke atas) dengan sebuah uang logam, beberapa kemungkinan kita akan mendapat kepala.

Jawabannya:

K (kepala) = kepala = 1 / 1+1 = ½ kepala + ekor

2. Kemungkinan terjadinya dua peristiwa atau lebih, yang masing-masing berdiri sendiri ialah sama dengan hasil perkalian dari besarnya kemungkinan untuk peristiwa- peristiwa itu.

Singkatnya:

K (x + y)= k (x) x K(y) Contoh:

Jika kita melakukan tos dengan 2 uang logam bersama-sama (satu di tangan kiri dan satunya lagi di tangan kanan), beberapa kemungkinannya akan mendapat kepala pada kedua uang logam itu?

Jawabnya:

K

(kepala)

= ½

K

(kepala + kepala)

= ½ x ½ = ¼

Dapat diartikan bahwa setiap 4 kali melakukan tos dengan dua uang logam bersama-sama, kesempatan untuk mendapat kepala pada dua uang logam itu adalah satu kali saja.

Kemungkinan terjadinya dua peristiwa atau lebih, yang saling mempengaruhi ialah sama dengan jumlah dari besarnya kemungkinan untuk peristiwa-peristiwa itu.

A. TEORI KEMUNGKINAN

Peristiwa-peristiwa persilangan memberikan hasil ratio genotip maupun genotip yang dapat diramalkan melalui perhitungan menurut teori kemungkinan. Misalnya, persilangan antara tanaman yang tinggi homozigot dominan dan tanaman pendek homozigot resesif, akan menghasilkan perbandingan fenotip, ¾ tinggi : ¼ pendek. Nilai ini meramalkan bahwa hasil yang akan diperoleh dari peristiwa fertilisasi tersebut kemungkinan akan mendapatkan tanaman pendek yang adalah ¼. Nilai kemungkinan berkisar antara 0, dimana kemungkinan peristiwa itu tidak terjadi, sampai 1, dimana peristiwa itu mempunyai peluang pasti terjadi. Beberapa hukum yang perlu diketahui untuk meramalkan kemungkinan-kemungkinan terjadinya suatu peristiwa adalah sebagai berikut:

Hukum kemungkinan I : kemungkinan terjadinya suatu peristiwa yang diinginkan, sama dengan banyaknya peristiwa tersebut, dibagi seluruh peristiwa.

K(A) = B A

A +

Contoh :

Kemungkinan jenis kelamin anak yang akan dilahirkan dari suatu perkawinan adalah laki-laki atau perempuan (jumlah peristiwa seluruh adalah 2 yaitu, laki- laki dan perempuan). Jadi, kemungkinan seorang ibu akan melahirkan seorang anak perempuan adalah:

K(perempuan) =

perempuan laki

laki

perempuan +

=

1 1

1

+ = ½ Hukum kemungkinan II : apabila dua lebih peristiwa yang tidak saling tergantung, terjadi dalam waktu yang bersamaan atau berurutan, maka kemungkinan peristiwa itu dapat terjadi adalah:

K(A, B) = K (A) x K (B)

Contoh :

Dua orang ibu di suatu klinik bersalin, akan melahirkan pada hari yang bersamaan. Kemungkinan kedua ibu itu melahirkan anak perempuan adalah:

K(

,

) = K. ibu I mempunyai anak

x K. ibu II mempunyai anak

= ½ x ½ = ¼

Kemungkinan sebuah keluarga mempunyai 3 orang anak yang mempunyai urutan kelahiran: perempuan, laki-laki, laki-laki, adalah:

K(♀,♂,♂) = K. anak I perempuan x K anak II laki-laki x K. anak III laki-laki

= ½ x ½ x ½ = 1/8

Hukum kemungkinan III : Kemungkinan terjadinya beberapa peristiwa yang saling mempengaruhi adalah jumlah dari kemungkinan masing-masing peristiwa tersebut.

K(A atau B) = K (A) + K(A)

Contoh :

Dua orang ibu di suatu klinik bersalin, akan melahirkan pada hari yang bersamaan. Kemungkinan yang akan lahir anak perempuan dan laki-laki adalah:

K (

♀♂

atau

♀♂

) = K( ibu I

dan ibu II

) + K ( ibu I ♂ dan ibu II ♀)

= ¼ + ¼ = ½

B. TEOREMA BINOMIAL

Penggunaan rumus-rumus dalam teori kemungkinan dapat dipakai dalam peristiwa yang jumlahnya tidak banyak. Untuk peristiwa yang besar, penggunaan rumus binomial akan lebih mudah dan cepat.

Rumus binomial adalah:

(a + b )n = 1

-

a

n

, a

n-1

b, a

n-2

b

2

, a

n-3

b

3

………., b

n

- angka-angka koefisien dari rumus binomial dapat diperoleh dengan menggunakan segitiga pascal

keterangan:

- a & b = peristiwa/kejadian yang terpisah - n = banyaknya peristiwa

Segitiga Pascal:

n

1 1 1 1 2 1 2 1 3 1 3 3 1 4 1 4 6 4 1 5 1 5 10 10 5 1 6 1 6 15 20 15 6 1 dst

Contoh ;

(a + b)

4

= a

4

+ 4 a

3

b + 6 a

2

b

2

+ 4 a b

3

+ b

4 Contoh soal:

Berapa kemungkinan suatu keluarga yang menginginkan 4 orang anak, akan mempunyai 2 anak laki- laki dan 2 anak perempuan?

Jawab :

a = kemungkinan mempunyai anak laki-laki = ½ b = kemungkinan mempunyai anak perempuan = ½ n = jumlah anak yang diinginkan = 4

Rumus binomial yang dipakai:

(a + b )

4

a

4

+ 4 a

3

b + 6 a

2

b

2

+ 4 a b

3

+ b

4

Jadi, kemungkinan mempunyai anak 2 laki-laki dan 2 perempuan = 6 a2 b2

= 6 (1/2)2 (1/2)2 = 6 (1/4) (1/4) = 6/16 = 3/8 Menggunakan faktorial:

Kemungkinan =

)

! ).(

! (

! t s

n

a

s

b

t

Dimana: n = jumlah keseluruhan peristiwa yang terjadi s = jumlah peristiwa a

t = jumlah peristiwa b

a dan b = kemungkinan dari kejadian yang terpisah

Contoh jawaban soal di atas:

K (2

,2

) =

)

! ).(

! (

! t s

n

a

s

b

t

=

) 1 . 2 ).(

1 . 2 (

1 . 2 . 3 .

4

(1/2)

2

(1/2)

2

= 6 ( ¼ ) ( ¼ ) = 6 / 16 = 3 / 8

3. Test X2 (Chi-Square Test)

Seringkali percobaan perkawinan yang kita lakukan akan menghasilkan turunan yang tidak sesuai dengan Hukum Mendel. Kejadian ini biasanya menyebabkan kita bersikap ragu-ragu, apakah penyimpangan yang terjadi itu karena kebetulan saja ataukah karena memang ada faktor lain? Berhubung dengan itu perlu diadakan evaluasi terhadap kebenaran atau tidaknya hasil percobaan yang akan kita lakukan dibadingkan dengan keadaan secara teoritis.

Perhitungan dengan menggunakan test X2 dipakai dalam menghitung data hasil percobaan, untuk menguji apakah data tersebut bisa dipercaya kebenarannya. Ratio hasil persilangan monohibrid 3:1 dan dihibrid 9:3:3:1, adalah merupakan ramalan yang akan terjadi dari hasil perkawinan, berdasarkan asumsi adanya: 1, alel dominan dan resesif, 2. segresi dari gen, 3. pemisahan gen yang bebas

pada saat pembelahan miosis dan pembentukan gamet dan 4. fertilisasi yang berlangsung acak. Ketiga asumsi terakhir dapat berubah-ubah sesuai dengan peristiwa yang terjadi saat itu. Sehingga data hasil percobaan yang diperoleh harus diuji apakah ada penyimpangan antara hasil yang diperoleh dengan yang diharapkan. Jumlah sampel yang digunakan dalam percobaan, akan mempengaruhi perubahan penyimpangan dan akan terlihat pada hasil akhir. Makin besar sampel yang digunakan akan mengurangi pengaruh dari penyimpangan yang terjadi.

Rumus yang dipakai dalam test X2 adalah:

X2 =

(0ee)2

Keterangan:

o = hasil data yang diperoleh e = hasil data yang diharapkan

d = penyimpangan = selisih dari data hasil yang diperoleh dengan yang diharapkan

∑ = jumlah dari hasil perhitungan

Untuk mengetahui nilai X2 harus diperhatikan juga nilai dari derajat kebebasan, yaitu n-1, dimana n adalah jumlah dari fenotip yang dijumpai. Pada perkawinan tanaman monohibrid yang menghasilkan ratio 3 : 1, berarti ada 2 fenotip dan derajat kebebasannya (dk) adalah = 2 – 1

= 1. pada perkawinan dihibrida, dengan ratio 9 : 3 : 3 : 1, terdapat 4 fenotip, sehingga dk = 4 – 1 = 3.

Nilai X2 yang diperoleh dari hasil perhitungan dicari nilai kemungkinannya pada tabel X2. nilai X2 yang terletak di bagian yang gelap dari tabel, yaitu pada kolom di bawah

nilai memungkinkan 0,05 ke kiri, menunjukkan bahwa data yang diperoleh baik. Karena tidak ada penyimpangan yang berarti, selain faktor kemungkinan dalam percobaan tersebut. Menurut ahli statistik, batas penyimpangan pada percobaan-percobaan biologi 1 x dalam 20 kali percobaan.

Sehingga kemungkinan penyimpangan 1/ 20 (0,05) adalah batas dapat diterima atau ditolaknya data suatu percobaan.

Nilai X2 yang terletak pada kolom di bawah nilai kemungkinan 0,01 dan 0,001, menunjukkan bahwa data yang diperoleh sangat jelek. Penyimpangan yang terjadi sangat berarti, dan yang disebabkan oleh faktor-faktor lain di luar faktor kemungkinan. Dari hasil contoh perhitungan di bawah, persilangan monohibrid dengan derajat kebebasan 1, diperoleh nilai X2 = 0,53. pada tabel X2, nilai itu terletak antara kolom nilai kemungkinan 0,30 dan 0,50.

berarti percobaan yang diperoleh baik, dan dapat dianggap sesuai dengan ratio 3 : 1 untuk tanaman monohibrid dengan dominansi penuh. Pada persilangan dihibrid, nilai X2 yang diperoleh = 4,16. nilai ini terletak antara kolom nilai kemungkinan 0,10 dan 0,30. berarti data percobaan dihibrid ini baik, dan data hasil percobaan dapat dianggap sesuai dengan ratio 9 : 3 : 3 : 1

Contoh perhitungan dengan test X2 Ratio

harapan

Hasil pengamatan

= (o)

Hasil yang diharapkan

Penyimpang

an (d) = (o-e) d2 d2/e perkawinan Monohibrid

¾ 740 ¾ x 1000 = 750 - 10 100 100/750 = 0,13

¼ 260 ¼ x 1000 = 250 +10 100 100/250 = 0,40

Total 1000 X2 = 0,53

Perkawinan Dihibrid

9/16 587 567 +20 400 0,71

3/16 197 189 + 8 64 0,34

3/16 168 189 - 21 441 2,33

1/16 56 63 -7 49 0,78

Total 1008

X2 = 4,16

Tabel X2

Der.

Kebe basan (dk)

Kemungkinan

0,99 0,90 0,70 0,50 0,30 0,10 0,05 0,01 0,001

1 0,0002 0,016 0,15 0,46 1,07 2,71 3,84 6,64 10,83 2 0,02 0,21 0,71 1,39 2,41 4,61 5,99 9,21 13,82 3 0,12 0,58 1,42 2,37 3,67 6,25 7,82 11,35 16,27 4 0,30 1,06 2,20 3,36 4,88 7,78 9,49 13,28 18,47 5 0,55 1,61 3,00 4,35 6,06 9,24 11,07 15,09 20,52 6 0,87 2,20 3,83 5,35 7,23 10,65 12,59 16,81 22,46 7 1,24 2,83 4,67 6,35 8,38 12,02 14,07 18,48 24,32 8 1,65 3,49 5,53 7,34 9,52 13,36 15,51 20,09 26,13 9 2,09 4,17 6,39 8,34 10,66 14,68 16,92 21,67 27,88 10 2,56 4,87 7,27 9,34 11,78 15,99 18,31 23,21 29,59

Tes X2 untuk dua kelas fenotip Tes X2 untuk dua kelas fenotip Contoh:

Misalnya sekarang kita mengadakan percobaan dengan melakukan testcross pada tanaman berbatang tinggi heterozigotik (Tt) itu. Hasilnya misalnya berupa 40 tanaman berbatang tinggi dan 20 tanaman berbatang pendek (sengaja disini dipakai angka-angka yang sama dengan contoh

pertama, sekedar untuk perbandingan saja). Apakah data hasil testcross itu dapat dianggap baik dan dipercaya?

Jawabnya: Teoritis testcross pada monohibrid (Tt x tt) akan menghasilkan keturunan dengan perbandingan 1 batang tinggi : 1 batang pendek.

Tinggi pendek jumlah

0 40 60

e 30 6

d +10

+ 9,5

(d – ½ )

Koreksi yates (d – ½ ) e

3.01 3.01

X2 = 3,01 + 3,01 = 6, 02 K [1] antara 0,1 dan 0,05

Karena nilai kemungkinan kurang dari 0,05 (yaitu angka yang dianggap sebagai batas signifikan), maka deviasi cukup berarti. Berhubung dengan itu data hasil pecobaan testcross tersebut tidak baik tidak dapat dipercaya. Tentu ada faktor lain di luar faktor kemungkinan yang berperanan di situ.

Tes X2 untuk tiga kelas fenotip atau lebih Contoh:

Misalnya kita melakukan percobaan dengan membiarkan suatu tanaman bunga menyerbuk sendiri.

Setelah tanaman itu menghasilkan buah dan biji-bijinya ditanam didapatkan keturunan yang terdiri dari 72 tanaman berbunga ungu, 28 tanaman berbunga merah dan 28 tanaman berbunga putih. Menurut dugaan saudara,

peristiwa apakah yang berperan di sini dan apakah hasil percobaan itu dapat dianggap benar?

Jawabnya: Melihat hasil itu dapat diduga bahwa ada peristiwa epistasi resesip, yang secara teoritis seharusnya menunjukkan perbandingan fenotip 9:3:4.

Ungu merah putih jumlah

0 72 28 28 128 e 72 24 32 128 d 0 +4 -4

67 ,

−0 e

d 0,50

X2 0,67 + 0,50 = 1,17 K (2) = antara 0,50 dan 0,70

Karena nilai kemungkinan disini jauh lebih besar daripada 0,05 maka tidak ada faktor lain yang mempengaruhi hasil tersebut, kecuali faktor kemungkinan.

Jadi adanya deviasi itu hanya karena kebetulan saja, dan deviasi itu sendiri tidak berarti. Maka hasil percobaan tersebut baik dan dapat dianggap benar.

BAB VI

BERANGKAI DAN PINDAH SILANG

A. BERANGKAI (LINKAGE)

Teori kromosom dari T. Boveri dan W.S. Sutton (1903) menyatakan bahwa kromosom adalah bagian dari sel yang membawa gen. Gen-gen ini selama meiosis mempunyai kelakuan berdasarkan prinsip-prinsip Mendel, yaitu memisah secara bebas. Akan tetapi prinsip Mendel ini hanya berlaku apabila gen-gen letaknya lepas satu sama lain dalam kromosom.

A

b a

B b

A a

Gambar : gen-gen A,a,B,b letaknya lepas satu sama lain dalam kromosom (I) Gen A terangkai dengan gen B pada satu kromosom yang sama, sedangkan alelnya a dan b terangkai pada kromosom homolognya

Pada lalat buah Drosophila sampai sekarang telah diketahui kira-kira 5000 gen, sedangkan lalat ini hanya memiliki 4 pasang kromosom saja, yang terpasang bahkan kecil sekali menyerupai dua buah titik. Berhubung dengan itu, maka pada sebuah kromosom tidak terdapat sebuah gen, melainkan puluhan atau bahkan ratusan gen-gen.

Peristiwa bahwa beberapa gen bukan alel terdapat pada satu kromosom yang sama dinamakan berangkai (dalam bahasa Inggris: “linkage”). Gen-gennya dinamakan gen-gen terangkai.

Dalam dokumen GENETIKA Lebba Kadorre Pongsibanne (Halaman 110-122)

Dokumen terkait