BAB I PENDAHULUAN
E. Metodologi Penelitian
masuk dalam kode KT (kurang tepat) sebanyak 7 terjemahan ayat; c) terjemahan yang masuk dalam kategori KP (kurang penjelasan) sebanyak 38 terjemah ayat; d) terjemahan yang masuk dalam kategori SP (salah penulisan) sebanyak 133 terjemah ayat, dengan rincian Spa sebanyak 5 terjemah ayat, SPb sebanyak 97 terjemah ayat, dan SPc sebanyak 31 terjemah ayat, dan e) terjemahan yang masuk dalam kategori KM (keterangan mukhatab) sebanyak 54 terjemah ayat.27
Berdasarkan karya tulis diatas penulis belum menemukan adanya penelitian tentang bagaimana Fisiologi dan Metodologi Terjemahan Tafsir Jalalain Karya KH. Ahmad Makki Ibn Abdullah Mahfudz sebagaimana judul yang akan dibahas pada penelitian ini. Oleh karena itu penulis akan mengangkat masalah tersebut dalam penelitian berbentuk skripsi.
2. Sumber Data
Data dalam skripsi ini, sebagaimana sifat data dalam penelitian kualitatif adalah data deskriptif. Dalam penelitian ini penulis mengelompokkan sumbernya menjadi beberapa bagian, yaitu:
a. Sumber data primer yaitu kitab Terjemah Tafsir Jalalain Bahasa Indonesia Aksara Pegon Karya KH. Ahmad Makki Ibn Abdullah Mahfudz jilid 1.
b. Sumber data sekunder yang terdiri dari buku dan tulisan lainnya yang memiliki relevansi dengan pokok masalah yang dikaji dalam penelitian ini antara lain Kitab Tafsîr al-Jalâlain karya Jalâluddîn al-Mahallî dan Jalâluddin as-Suyûthî sebagai perbandingan jika terdapat keterangan tambahan di dalam Terjemahan Tafsir Jalalain karya KH. Ahmad Makki, Terjemah Tafsir Jalalain Bahasa Indonesia untuk mengetahui arti yang belum dipahami, artikel ataupun buku yang menjelaskan tentang model terjemah Indonesia dan sejarah literatur tafsir dan terjemahan lokal di Indonesia serta kitab yang berkenaan dengan Ulumul Qur`an, tafsir Al-Qur`an dan metode terjemah Al-Qur`an.
3. Teknik Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik dokumenter. Teknik ini memiliki sifat penelusuran data historis yaitu terjemah kitab Tafsir Jalalain Bahasa Indonesia aksara pegon karya KH. Ahmad Makki, serta data-data rujukan dari berbagai sumber karya ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.
Selain itu penulis juga akan menggunakan metode wawancara (interview), yaitu suatu percakapan atau tanya jawab antara dua orang atau lebih yang dilakukan secara terstruktur dan mendalam (depth
interview). Metode ini dilakukan untuk mendapatkan informasi pribadi penerjemah, latarbelakang sosialnya serta keilmuannya dan latarbelakang penerjemahannya. Selain itu juga wawancara digunakan untuk dijadikan landasan memerifikasi dan mengecek data yang diperoleh dari sumber-sumber informasi skunder.
4. Metode Analisis Data
Data-data yang telah terkumpul kemudian dianalisis menggunakan metode deskriptif-analitis. Deskriptif yaitu menjelaskan, menggambarkan, memaparkan, menuliskan dan melaporkan keadaan suatu objek peristiwa tanpa menarik kesimpulan umum. Pendekatan deskriptif dalam penelitian ini yaitu dimulai dari pencarian fakta dengan interpretasi (keterangan) yang jelas, tepat, akurat dan sistematis. Sedangkan analitis berarti investigatif, logis, mendalam sistematis, tajam, dan tersusun. Pendekatan analitis dalam penelitian ini adalah pembahasan yang memaparkan data yang telah tersusun dengan melakukan analisa terhadap data-data tersebut. Untuk menguji orisinalitas penerjemahan yang dilakukan KH. Ahmad Makki, penulis melacak fisiologi dan metodologi terjemahan dalam kitab Terjemah Tafsir Jalalain dimulai dari aspek sejarah kemunculannya sampai dengan identifikasi fisiologi dan metodologi terjemahan kitab itu sendiri.
Langkah-langkah penulis dalam meniliti yaitu, pertama identifikasi fisiologis, penulis memperhatikan kemudian menjelaskan secara rinci bagaimana ciri-ciri kitab terjemah tersebut mulai dari hard cover sampai halaman terakhir, dari ukuran kitab, tebal kitab, tulisan yang digunakan, warna, kertas, tahun mulai ditulis, dicetak, penerbitnya, serta terdiri dari berapa jilid. Jika ada bagian yang belum
diketahui maka penulis langsung bertanya atau wawancara pada pihak yang bersangkutan, diantaranya penerjemah langsung, keluarga penerjemah dan bagian operasional percetakan.
Kedua identifikasi metodologis, disini penulis akan menjelaskan secara rinci tentang bagaimana latar belakang penulisan terjemah kitab tafsir tersebut yang mana dalam hal ini penulis langsung wawancara dengan penerjemah, sehingga info yang didapatkan lebih valid selain itu penulis juga melakukan wawancara dengan menentu penerjemah yang juga dikenal dekat dengan penerjemah. Kemudian menjelaskan nama yang digunakan pada kitab terjemahan tersebut serta sumber terjemahan dan referensi yang digunakan dalam penulisan terjemah tersebut dalam hal ini penulis juga lebih banyak wawancara dengan penerjemah dan menantunya selain juga meneliti lebih dalam serta membandingkan dengan kitab tafsir lain jika ada penjelasan setelah wawancara yang belum diketahui. Analisis selanjutnya ialah metode dan corak yang terdapat pada terjemahan tersebut dalam hal ini penulis harus membaca secara menyeluruh kitab terjemah tersebut kemudian mengambil sampel agar dapat disimpulkan metode dan corak yang digunakan, selanjutnya menjelaskan bagaimana sistematika yang digunakan oleh penerjemah dalam karyanya tersebut yang dimulai dari halaman awal hingga akhir, selain itu penulis juga menjelaskan ideologi penerjemah dengan membaca ayat-ayat tentang hukum dan menjelaskan bagaimana pendapat penerjemah terkait ayat tersebut. Setelah itu memaparkan sedikit tentang keterangan-keterangan tambahan yang digunakan oleh penerjemah, hal ini ditemukan ketika penulis membaca secara teliti bagaimana penerjemahan kitab tersebut. Setiap karya tentu memiliki cara tersendiri dalam menjelaskan hal yang ingin disampaikan, lantas
alasan kata-kata yang digunakan dalam keterangan tambahan ini penulis langsung tanyakan kepada penerjemah dan kemudian penulis sampaikan dalam skripsi ini mulai dari kata apa yang digunakan, serta berapa jumlah yang terdapat dalam penulisan terjemah tersebut.
Untuk melacak fisiologi dan metode dalam kitab terjemah tafsir tersebut penulis memilih jilid 1 yang terdiri dari surat Al-Baqarah sampai Âli-„Imrân ayat 91.
F. Teknik & Sistematika Penulisan
Teknik penulisan dan transliterasi , penulis mengacu kapada buku
“Pedoman Penulisan Skripsi, Tesis, dan Disertasi Institut Ilmu Al-Qur`an (IIQ) Jakarta yang diterbitkan oleh IIQ Press. Tim Penulis Prof. Dr. Hj.
Huzaemah T. Yanggo, MA dkk, cetakan II tahun 2011.28 Untuk memudahkan proses penelitian ini, agar masalah yang diteliti dapat dianalisa secara fokus, maka penelitian ini perlu melakukan sistematisasi pembahasan. Secara keseluruhan, skripsi ini memuat lima (V) bab yang saling berkaitan dengan perincian dan sistematika sebagai berikut:
BAB I penulis akan memuat pendahuluan yang berisikan tentang Latar Belakang Masalah, Identifikasi, Pembatasan & Rumusan Masalah, Tujuan & Manfaat Penelitian, Tinjauan Pustaka, Metodologi Penelitian.
Teknik & Sistematika Penulisan. Bab ini berfungsi sebagai kerangka acuan penelitian dan menjaga agar tidak terjadi pelebaran pembahasan sekaligus untuk mencapai target yang diinginkan secara maksimal.
BAB II dikemukakan beberapa point penting yang akan menunjang penulis dalam menyelesaikan bab berikutnya yaitu tinjauan umum tentang terjemah Al-Qur`an berisikan tentang pengertian dan
28 Huzaimah T. Yanggo, dkk, Pedoman Penulisan Skripsi, Tesis dan Disertasi;
Institut Ilmu Al-Qur`an (IIQ) Jakarta, cet. 2.
perbedaan antara terjemah, tafsir, dan ta‟wil, jenis-jenis penerjamahan Al-Qur`an dan syarat-syaratnya, urgensi penerjemahan Al-Qur`an, serta sejarah terjemah Al-Qur`an.
BAB III mengenai sekilas tentang profil singkat kitab tafsir Jalalain, biografi penerjemah kitab tafsir Jalalain bahasa Indonesia aksara pegon serta profil karyanya, dan literatur terjemahan yang ada di Indonesia.
BAB IV telaah fisiologi dan metodologi kitab terjemah tafsir Jalalain bahasa Indonesia aksara pegon karya KH. Ahmad Makki, ideologi dalam kitab terjemahannya, dan keterangan tambahan yang ada didalamnya.
BAB V merupakan penutup dari penelitian ini yang terdiri dari kesimpulan yang berisikan jawaban atas pokok permasalahan, dan saran- saran sebagai pijakan sementara untuk melakukan penelitian lebih lanjut terkait objek masalah yang dikaji. Diakhir penulisan, dicantumkan pula daftar pustaka yang memuat referensi-referensi yang penulis gunakan dalam melakukan penelitian sebagai bukti kevalidan pembahasan yang dikaji. Serta lampiran-lampiran sebagai bukti telah melakukan wawancara di Pondok Pesantren Assalafiyyah.
Setelah melewati beberapa rangkaian pembahasan diatas, guna untuk memahami dari tujuan perlunya masalah ini untuk diteliti, serta mengetahui langakah-langkah yang akan di tempuh penulis dalam penelitian ini maka penulis akan mulai membahas teori-teori yang berkaitan dengan analisis penulis di bab selanjutnya.
19 BAB II
TINJAUAN UMUM TENTANG TERJEMAH AL-QUR`AN
A. Pengertian dan Perbedaan antara Terjemah, Tafsir, dan Ta’wil 1. Pengertian Terjemah
Pengertian terjemah bisa dilihat dari dua sudut pandang yaitu secara etimologis (bahasa) dan terminologis (istilah).
a. Pengertian secara etimologis (bahasa)
Terjemah berasal dari kata bahasa Arab
َ ة َ ج َ تَ ر َ م- رَ ج يَ تَ -َ َ جَ م َ تَ ر
yangartinya menerjemahkan1. Lafadz
َ ة َ ج َ تَ ر
berkedudukan sebagai mashdar dari fi‟il mâdhî rubâ‟î al-mujarrad yang artinya penerjemahan. Lafadzَ ة َ ج َ تَ ر
di dalam kamus al-Munjid fî al-Lughah wa al-Adab wa al-„Ulûm, menunjukkan beberapa makna sebagai berikut:21) Menafsirkan suatu kalam (pembicaraan) dengan menggunakan bahasa yang lain.
2) Memindahkan suatu kalam (pembicaraan) kepada bahasa yang mudah dimengerti.
3) Menyebutkan atau Menceritakan biografi seseorang3 dan akhlaknya dan nasabnya.
4) Pembuka atau Pendahuluan dari sebuah kitab.
1 Ahmad Warson Munawwir, Al-Munawwir: Kamus Arab-Indonesia,(Surabaya:
Pustaka Progressif, 1997), cet. IV, h. 479
2 Lewis Makhluf, al-Munjid fî al-Lughah wa al-Adab wa al-„Ulûm, (Beirut: al- Mathba‟at al-Katsulikiyah, 1956), cet.15, h. 60
3 Terjemah juga memiliki makna biografi, salah satu corak penulisan tarikh (historiografi) Islam yang sangat populer dan sangat dominan yang sudah berkembang sejak awal penulisan sejarah Islam dan bertahan hingga sekarang. Lihat, Hasan Musrif Ambary, Suplemen Ensiklopedi Islam, (Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 1996), h. 221
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, arti terjemah yaitu menyalin, memindahkan, atau mengganti dari suatu bahasa ke dalam bahasa yang lain atau mengalih bahasakan. Makna yang demikian juga diungkapkan oleh Ahsin W. Al-Hafîdz dan Abî al-Fadhl Jamâluddîn Muhammad bin Mukarram Ibn Manzhûr al-Afriqî al- Mishri dalam buku kamusnya masing-masing. 4
Dari penjelasan diatas dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan terjemah secara etimologi adalah memindahkan suatu bahasa asal kepada bahasa yang bersangkutan atau yang dituju dalam hal ini dari bahasa Arab kepada bahasa Indonesia.
b. Secara Terminologi (istilah)
Terjemah secara terminologi (istilah) adalah “mengalihkan makna teks (wacana) dari bahasa asal (bahasa sumber) ke bahasa sasaran (bahasa penerima)”,5 menurut Muhammad Husein ad- Dzahabî (w. 1977 M) , salah seorang pakar ulama Al-Qur`an dari al- Azhar University Mesir, kata terjemah lazim digunakan untuk dua macam pengertian yaitu:6
1) Mengalihbahasakan atau memindahkan suatu pembicaraan dari suatu bahasa kebahasa yang lain, tanpa menerangkan makna dari bahasa yang diterjemahkan.
2) Menafsirkan suatu pembicaraan dengan menerangkan maksud yang terkandung di dalamnya dengan menggunakan bahasa yang lain.
4 Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1990), cet. 4, h. 938. lihat juga Ahsin W. Al- Hafidz, M.A, Kamus Ilmu Al-Qur`an, (Jakarta: Amzah, 2006), cet. 2, h. 290 dan Abî al- Fadhl Jamâluddîn Muhammad bin Mukarram Ibn Manzhûr al-Afriqî al-Mishri, Lisân al-
„Arabî, (Beirut: Dar Sader, 1997), cet.1, h. 298
5 Moh. Mansyur dan Kustiawan, Pedoman bagi Penerjemah Arab-Indonesia Indonesia-Arab, (Jakarta: PT. Moyo Segoro Agung, 2002), cet. 2, h. 20
6 Muhammad Husein adz-Dzahabî, At-Tafsîr wa al Mufassirûn, (Kairo: Dar al-Hadis, 2005), jil. 1, h. 25
Menurut Muhammad „Alî ash-Shâbûnî di dalam kitab at- Tibyân fî „Ulûm Al-Qur`an mengatakan bahwa pengertian terjemah ialah:
“Memindahkan Al-Qur`an kepada bahasa lain yang bukan bahasa Arab dan mencetak terjemah ini ke dalam beberapa naskah agar dapat ditelaah oleh orang yang tidak mengerti bahasa Arab (bahasa Al-Qur`an) sehingga ia bisa memahami maksud kitab Allah swt dengan perantara terjemah.”7
Menurut Muhammad Abdul „Adzhîm az-Zarqânî (w. 1367 H/
1948 M) di dalam kitab Manâhil al-„Irfân fî „Ulûm Al-Qur`an menyebutkan bahwa terjemah adalah:8
1) Menyampaikan kalam (pembicaraan) kepada orang yang belum pernah menerima.
2) Menafsirkan kalam (pembicaraan) dengan memakai bahasa yang ada itu sendiri.
3) Menafsirkan kalam (pembicaraan) dengan memakai bahasa selain bahasa itu sendiri.
4) Mengalihkan suatu kalam (pembicaraan) dari suatu bahasa ke bahasa yang lain.
Dari paparan singkat tentang pengertian terjemah di atas dapat disimpulkan bahwa terjemah pada dasarnya ialah menyalin atau mengalihbahasakan serangkaian pembicaraan dari suatu bahasa ke bahasa yang lain dengan maksud supaya inti pembicaraan bahasa asal yang diterjemahkan bisa dipahami oleh orang-orang yang tidak mampu memahami langsung bahasa asal yang diterjemahkan. Yang
7 Muhammad „Alî ash-Shâbûnî, At-Tibyân fî „Ulûm Al-Qur`an, (Bandung: PT. Raja Grafindo Persada, 1999), penerjemah; Aminuddin, h. 205
8 Muhammad „Abdul „Azhîm az-Zarqânî, Manâhîl al-„Irfân fî „Ulûm Al-Qur`an, (Kairo: Dar al-Hadîs, 2001), jil. 2, h. 93
dimaksud disini ialah dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia.
Misalkan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia maka akan mudah dipahami oleh masyarakat Indonesia.
Berdasarkan pengertian terjemah secara etimologis dan terminologis yang telah dijelaskan diatas maka lebih ringkasnya kita lihat bagan berikut:
Gambar 2: 1 Skema Pengertian Terjemah
Sumber : Diolah dari berbagai sumber Pengertian
Terjemah, dan Terjemah Al-
Qur`an
Menerjemahkan
Menerangkan
Menyalin
Memindahkan
Mengganti
Mengalihbahasakan
Mengalihbahasakan serangkaian pembicaraan dari suatu
bahasa ke bahasa yang lain agar dapat dipahami
seperti bahasa Arab ke bahasa Indonesia Terjemah secara
terminologis berarti
Terjemah Al- Qur`an secara
terminologis berarti
Pengalihan bahasa Al- Qur`an kedalam bahasa lain yaitu selain bahasa
Arab Terjemah secara
etimologis berarti
2. Pengertian Tafsir
Tafsir berasal dari bahasa Arab, ia merupakan kalimat mashdar yang terambil dari fi‟il tsulâtsî mazîd
َ يَ را َ س َ ف -َ ت َ سَ ر َ يَ ف َ ر- َ فَ س .
Secara etimologis (bahasa) tafsir berarti penjelasan (
َ حا َ يَ ض َ اَ ل
),keterangan (
َ نا َ اَ لَ بَ ي
), komentar (َ رَ ح ) َ شل َ ا
.9 Sebagaimana firman Allah swt:َ
َ
َ
َ
َ
َ
َ
َ
َََ
َ
“Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya10”(QS. Al- Furqan[25]: 33)
Menurut pendapat Manna‟ Khalîl al-Qaththân kata tafsir terambil dari kata al-Fasr yang berarti al-Ibânah dan al-Kasyaf yang keduanya berarti menjelaskan dan mengungkap hal yang tertutup atau menerangkan makna yang abstrak.11 Ada juga yang menyatakan bahwa kata tafsir diambil dari kata at-Tafsîrah bukan al-Fasr, sebuah nama bagi sesuatu yang dipergunakan dokter untuk mengetahui suatu penyakit.12 Adapula yang menyatakan (mengungkapkan arti yang dimaksud dari lafazh yang sulit).13 Husein adz-Dzahabî juga menjelaskan bahwa di dalam al-Bahrul-Muhîth, Abu Hayyan
9 Ahmad Warson Munawwir, Al-Munawwir: Kamus Arab-Indonesia, cet. IV, h. 1055 10 Maksudnya: Setiap kali mereka datang kepada Nabi Muhammad saw membawa suatu hal yang aneh berupa usul dan kecaman, Allah menolaknya dengan suatu yang benar dan nyata. Lihat Terjemah Al-Qur`an.
11 Manna‟ Khalîl al-Qaththân, Studi Ilmu Al-Qur`an, (Bogor: Pustaka Litera AntarNusa, 2015), diterjemahkan oleh Mudzakir, cet. 18, h. 458, lihat juga Muhammad Husein Adz-Dzahabî, Ensiklopedia Tafsir Jilid 1, judul asli: At-Tafsîr wa Al-Mufassirûn, diterjemahkan. H. Nabbani Idris, (Jakarta: Kalam Mulia, 2009) cet.1, h. 1
12 Imâm Jalâluddîn Abdur Rahmân Abu Bakar as-Suyûthî as-Syâfi‟î, al-Itqân fî
„Ulûm Al-Qur`an, (Beirut : Dar el-Kutub al-„Ilmiyyah, 2003), jil. 2, h. 346 atau lihat Imâm Jalâluddîn as-Suyûthî, Samudera Ulumul Qur`an, (Surabaya: PT. Bina Ilmu, 2007), cet.1, h.
237
13 Lewis Makhluf, al-Munjid fî al-Lughah wa al-Adab wa al-„Ulûm, cet.15, h. 583
mengemukakan bahwa tafsir juga bisa bermakna (Atta‟riyah Lil- inthilâq) yang artinya melepaskan atau membebaskan untuk bergerak.14Sedangkan di dalam kamus besar bahasa Indonesia pengertian tafsir ialah keterangan atau penjelasan tentang ayat-ayat Al-Qur`an sehingga lebih jelas maksudnya.15
Dari rangkaian pemaparan secara bahasa kata tafsir diatas dapat dipahami bahwa tafsir yaitu mengungkap makna dalam ayat Al-Qur`an yang mana makna tersebut dapat dijangkau oleh akal manusia. Tafsir juga merupakan penjelasan lebih lanjut tentang ayat- ayat Al-Qur`an yang dilakukan mufassir, sedangkan ilmu yang membahas tentang tata cara atau bagaimana teknik menjelaskan ayat- ayat Al-Qur`an itu sendiri supaya berada dalam koridor penafsiran yang benar dan baik disebut ilmu tafsir.
Ada beberapa pendapat para ulama Al-Qur`an tentang definisi ilmu tafsir, seperti pendapat Muhammad bin Abdul „Azhîm az- Zarqânî (w. 1367 H/ 1948 M) yaitu:
“Ilmu yang membahas tentang Al-Qur`an dari segi dalalahnya, sesuai yang dikehendaki Allah swt menurut kemampuan manusia.”16
Muhammad Badr ad-Dîn az-Zarkasyî (745-794 H/ 1344- 1392 M)17 juga mendefinisikan ilmu tafsir dengan:
14 Muhammad Husein Adz-Dzahabî, Ensiklopedia Tafsir Jilid 1, judul asli: At-Tafsîr wa Al-Mufassirûn, diterjemahkan. H. Nabbani Idris, cet.1, h. 1
15 Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, cet. 4, h. 882
16 Muhammad „Abdul „Azhîm az-Zarqânî, Manâhil al-„Irfân fî „Ulûm Al-Qur`an, jil.
2, h. 7
17 Nama lengkapnya adalah Badr al-Dîn Muhammad ibn Bahâdir ibn „Abddullah az- Zarkashyî al-Masry asy-Syâfi‟î. Beliau lahir pada tahun 745 H dan wafat di Kairo pada tahun 794 H. Lihat, Muhammad Ulinnuha, Rekonstruksi Metodologi Kritik Tafsir, (Jakarta:
Azzamedia, 2015), cet. 1, h. 37
“Ilmu untuk memahami kitab Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw serta menerangkan, makna hukum dan hikmah yang terkandung di dalamnya.”18
Muhammad Baqir Hakim dalam bukunya terdapat pendapat yang mengatakan bahwa sebuah penjelasan dari lafazh yang sudah bisa dipahami itu tidak dinamakan sebuah penafsiran karena pada hakikatnya ia tidak mengungkap atau menjelaskan lafazh yang sebelumnya masih samar. Pendapat ini dianggap sebagai pendapat yang mewakili dan diakui oleh para ulama ilmu Ushul Fiqih. Namun, pendapat yang lain mengatakan bahwa menyebutkan makna yang zhahir dari sebuah lafazh terkadang juga bisa dikatakan sebuah penafsiran dan ini juga termasuk sebuah proses untuk menjelaskan sesuatu yang samar. Meskipun demikian ada dibeberapa tempat hal yang seperti ini tidak dapat dikategorikan sebuah penafsiran.19
Ada dua pendapat mengenai sebuah penjelasan apakah bisa dikategorikan tafsir atau tidak, yaitu:
1. Pendapat yang tidak menerima segala jenis penjelasan baik yang sederhana maupun yang rumit.
2. Pendapat yang mengatakan bahwa penjelasan yang rumit itu dapat dikategorikan sebagai sebuah proses penafsiran sedangkan penjelasan yang sederhana tidak dapat dikategorikan sebagai sebuah proses penafsiran. Dan ini adalah pendapat yang paling benar.20
18 Muhammad bin „Abdullah Az-Zarkasyî, Al-Burhân fî „Ulûm Al-Qur`an, (Beirut:
Dar al-Fikr, 1988), jil. 1, h. 33.
19 Ayatullah Muhammad Baqir, Ulûmul Qur`an, penerjemah: Nashirullah Haq dkk, (Jakarta: Al-Huda, 2012), cet. 2, h. 319-320
20 Ayatullah Muhammad Baqir, Ulumul Qur`an, penerjemah: Nashirullah Haq dkk, cet. 2, h. 323
Sehingga dapat disimpulkan bahwa tafsir yang dimaksud pada penjelasan diatas adalah menjelaskan suatu makna lafazh yang samar yang masih bisa dijangkau oleh pemikiran manusia agar terungkap makna yang belum bisa dipahami oleh sebagian kalangan supaya mudah untuk dimengerti. Objek dalam pembahasan tafsir adalah Al-Qur`an. Sedangkan ilmu tafsir sendiri ialah cara bagaimana seorang mufassir menjelaskan atau menerangkan suatu makna lafazh agar tidak menimbulkan kerancuan sehingga memperoleh makna yang sesuai dan benar.
Menurut Muhammad Ulinnuha dalam bukunya terkait dengan adanya beberapa definisi tafsir, maka harus dibedakan antara tafsir sebagai “konsep ilmu” yang instrumental dan tafsir sebagai “konsep metodik” yang produktif. Dengan demikian tafsir mempunyai dua aspek; yang pertama ilmu yang membahas sesuatu yang berkenaan dengan Al-Qur`an (aspek ekstrinsik), kedua cara mengkaji sesuatu yang terkandung dalam Al-Qur`an (aspek intrinsik). Pemaknaan keduanya ini tetap dibenarkan dan sah karena tidak menyimpang dari makna dasar dan makna pengembangannya. Dari pengertiannya ini maka ada beberapa unsur pokok yang harus diperhatikan dalam memahami pengertian sekaligus kerja tafsir21, yaitu:
1. Pada hakekatnya, tafsir adalah menjelaskan maksud ayat Al- Qur`an yang sebagian besar masih global
2. Tujuannya untuk memperjelas apa yang sulit dimengerti dari ayat-ayat Al-Qur`an, sehingga dapat dipahami dan dihayati 3. Sasarannya agar fungsi Al-Qur`an sebagai pedoman hidup dan
petunjuk benar-benar terwujud dalam kehidupan manusia
21 Muhammad Ulinnuha, Rekonstruksi Metodologi Kritik Tafsir, cet. 1, h. 38-39
4. Sarana pendukung penafsiran meliputi beberapa ilmu yang berhubungan dengan Al-Qur`an
5. Produk penafsiran tidak dapat diklaim sebagai sebuah kebenaran final dan mutlak. Namun, ia hanyalah kesan atau perspektif yang didapatkan mufassir menurut kadar kemampuan penafsir dengan segala keterbatasannya.
Gambar 2: 2 Skema Pengertian Tafsir
Sumber: Diolah dari beberapa sumber Pengertian
Tafsir
Menjelaskan
Memerinci
Menampakkan
Menyingkap
Menerangkan
Menerangkan ayat- ayat Al-Qur`an dari
berbagai aspeknya Tafsir
secara terminologi
s berarti
Konsep Metodik
Ilmu yang membahas tentang teknik atau cara menafsirkan Al-Qur`an berikut hal-hal yang
berkaitan dengannya Tafsir
secara etimologis
berarti Konsep
Ilmu
3. Pengertian Ta’wil
Ta‟wil diambil dari bahasa Arab
َ يَ ل َ تَ و - َ ل َ يَ و - َ ل َ اَ و
berupakalimat mashdar dari fi‟il tsulâtsî mazîd.22 Dan dalam kamus disebutkan beberapa makna ta‟wil di antaranya keterangan atau penjelasan,23 mengatur, menentukan, mentafsiri kalam, dan juga bermakna pengungkapan/tafsir mimpi. Kata ta‟wil diambil dari kata
َ اَ و
َ ل
mashdar dari fi‟ilَ لآ
, yang bermakna “kembali”. Ada yangmengatakan kata “Ta‟wil” diambil dari “Iyalah” yang bermakna siyasat. Seolah-olah muawwil (orang yang menta‟wil), menyiasati/mengatur ucapan dan menempatkannya pada tempatnya.
Jika kita menyelami makna ta‟wil dalam ayat-ayat Al-Qur`an, maka akan kita temui makna yang berbeda-beda. Seperti dalam firman Allah swt:
َ
َ
َ
َ
َ
َ
َ
َ
َ
َ
َ
َ
َ
َ
َ
َ
َ
َ
َ
َ
َ
“…..Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, Maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta'wilnya, Padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah…..”.(QS. Ali-„Imran[3]:7)
22 Ahmad Warson Munawwir, Al-Munawwir: Kamus Arab-Indonesia, cet. IV, h. 48
23 Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, cet. 4, h. 888.