60
antara dua atau lebih konsep yang memiliki makna.
Selanjutnya, bahan baru yang akan dipelajari hendaknya dihubungkan dengan struktur kognitif peserta didik secara substansial dan beraturan.
Substansial artinya bahan yang dihubungkan harus sejenis atau sama substansinya dengan yang sudah ada pada struktur kognitif. Beraturan berarti mengikuti aturan yang sesuai dengan sifat bahan tersebut (karakteristik pengetahuan baru yang diperkenalkan kepada peserta didik). Hal lain yang menentukan adalah peserta didik harus memiliki kemauan untuk menghubungkan konsep baru tersebut dengan struktur kogitifnya sendiri secara substansial dan beraturan pula.
61
Secara realita jenis gaya belajar seseorang merupakan kombinasi dari beberapa gaya belajar. Di sini kita mengenal ada tiga gaya belajar, yaitu: gaya belajar visual, auditori, dan kinetetik. Masing-masing gaya belajar terbagi dua, yaitu:
yang bersifat eksternal (tergantung media luar sebagai sumber informasi) dan yang bersifat internal (tergantung pada kemampuan kita bagaimana mengelola pikiran dan imajinasi)46.
b. Macam-macam Modalitas Belajar Atau Gaya Belajar Banyak orang membagi gaya belajar ke dalam empat kategori, yakni visual, auditori, peraba dan kinestik.
Sebagian yang lain dan salah satunya adalah Connell (2005:
132) membagi gaya belajar ke dalam tiga bagian, yakni47: 1) Belajar Visual (Visual Learners)
Belajar visual adalah mereka yang belajar sesuatu paling baik melalui penglihatan. Peserta didik visual memiliki kesulitan menyerap informasi melalui presentasi verbal tanpa disertai dengan gambar-gambar visual. Kekuatan mereka adalah visual, oleh karen aitu perlu ad alat bantu visual atau alat peraga yang dapat mereka lihat dan saksikan secara langsung. Jika memberikan presentasi lebih baik menggunakan handout, overhead, powerpoint slide, kartun yang berisi, pesan-pesan pembelajaran yang bersifat humoris
46 Darmadi. Pengembangan Model dan Metode Pembelajaran dalam Dinamika Belajar Siswa. (Yogyakarta: CV. Budi Utama, 2017), hlm. 106.
47 Connell, D. Brain-Based Strategies to Reach Every Learner (Jakarta : PT Garamedia Pustaka Utama, 2005). Hlm, 132.
62
termasuk peta konsep di papan tulis untuk menghubungkan ide-ide penting secara visual. Peserta didik visual juga sangat sennag dengan bagan, dan software komputer jika ada. Mengingat mereka belajar dengan mudah jika melalui penglihatan, maka dapat mengingat bentuk grafik, peta, termasuk penggunaan warna sebagai penanda pesan-pesan utama dari penyajian.
2) Belajar Auditori (Auditory Learners)
Peserta didik auditori adalah mereka yang belajar sesuatu paling baik melalui pendnegaran. Jenis gaya belaajr ini cenderung menyukai penyajian material lewat ceramah dan diskusi. Bahkan bagi orang dewasa yang bergaya belajar auditori mampu mengingat informasi yang disajiakn melalui ceramah selama berjam-jam dalam waktu yang relative lama. Dari segi memproses informasi, kekuatan daya penerimaan mereka melalui pendengaran sehingga mereka dapat menganalisis kata daemi kata. Peserta didik auditori biasanya terfokus pada satu masalah dalam suatu waktu, mudah kehilangan konsentrasi ketika ada ada suara-suara rebut disekitarnya, dan mereka tidak sennag pada jumlah kelompok yang terlalu besar dan tugas berbasis proyek.
Kelihatannya peserta didik suditori lebih senang jika belajar atau mengerjakan tugas dengan satu atau dua orang teman. Karena dengan jumlah teman yang sedikit mereka dapat saling memotivasi untuk berbicara
63
tentang informasi yang berkaitandengan tugas kemudian mendengarkan penjelasan dengan menggunakan buku-buku audio dan merekam kata- kata atau pesan-pesan penting untuk dikuasai.
Kebanyakan peserta didik auditori memiliki kekuatan mendnegar dengan sangat baik, disamping mempunyai kemampuan lisan yang hebat. Dengan demikian, pada saat mereka diberikan tugas atau ujian final sebaiknya dengan menggunakan lisan atau pendengaran.
3) Belajar kinestetik (Kinesthic Learners.)
Belajar kinestetik atau dikenal juga dengan istilah belajar taktil atau berkenaan dengan perabaaan adalah gaya belajar dimana peserta didik melakukan aktivitas secar fisik. Dua hal penting yang sangat disenangi oleh mereka yang bergaya belajar kinestetik adalah sering bergerak atau berpindah selama pembelajaran berlangsung. Secara fisik, mereka menggunakan fisik lebih banyak daripada melihat dan mendengarkan melalui metode ceramah. Mereka banyak merespon ketika pembelajaran didemosnstrasikan. Gaya belajar kinestetik juga gemar menulis dengan tangan dan yang terpenting adalah menggunakan anggota tubuh dalam belajar. Ketika belajar berlangsung, mereka senang bergerak, menggoyangkan kaki, tangan, kepala atau mungkin sesekali memainkan rambut dengan kepalanya. Pada
64
umumnya, mereka dominan pada mata pelajaran olahraga, seni, dan teater. 48
Tabel 2. Gaya belajar Visual, Auditori dan Kinestetik49.
VISUAL AUDITORI KINESTETIK
Bicara agak cepat Saat bekerja suka bicaa kepada diri sendiri
Berbicara perlahan
Mementingkan penampilan dalam berpakaian
Penampilan rapi Penampilan rapi
Tidak mudah terganggu oleh keributan
Mudah terganggu
oleh keributan Tidak terlalu mudah terganggu dengan situasi keributan
Mengingat apa yang dilihat, daripada yang didengar
Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan dari pada yang dilihat
Belajar melalui memanipulasi dan praktek
Lebih suka membaca daripada dibacakan
Senang membaca dengan keras dan mendengarkan
Menghafal dengan cara berjalan dan melihat
Pembaca cepat dan
tekun Menggerakkan bibir
mereka dan
mengucapkan tulisan di buku ketika membaca
Menggunakan jari sebagai petunjuk ketika membaca
Seringkali mengetahui apa yang harus
Biasanya ia pembicara yang fasih
Merasa kesulitan untuk menulis tetapi hebat dalam
48 Muhammad Yaumi. Desain Pembelajaran. (Jakarta : Kencana, 2013) hlm.96.
49Anonim, Materi Level 4 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional.
Memahami Gaya Belajar Anak, Mendampingi dengan Benar. 2018, hlm. 63.
65 dikatakan, tapi tidak
pandai memiih kata-kata
bercerita
Lebih suka melakukan demonstrasi dari pada pidato
Lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya
Menyukai buku- buku dan mereka mencerminkan aksi dengan gerakan tubuh saat membaca
Lebih suka musik Lebih suka gurauan lisan daripada membaca komik
Menyukai
permainan yang menyibukkan Mempunyai
masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis, dan seringkali minta bantuan orang untuk
mengulanginya
Mempunyai
masalah dengan pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan Visual
Tidak dapat mengingat
geografi, kecuali jika mereka memang pernah berada di tempat itu
Berbicara dalam
irama yang terpola Menyentuh orang untuk
mendapatkan perhatian mereka Menggunakan kata-kata yang mengandung aksi Dapat mengulangi
kembali dan menirukan nada, berirama dan warna suara
66
c. Strategi Belajar Berdasakan Gaya Belajar
Gaya belajar peserta didik merupakan kunci untuk mengembangkan kinerja dalam belajar. Setiap peserta didik tentu memiliki gaya belajar yang berbeda.
Mengetahui gaya belajar peserta didik yang berbeda ini dapat membantu para guru menentukan strategi belajar dalam menyampaikan bahan pembelajaran kepada semua peserta didik shingga hasil belajar akan lebih efektif. Maka berdasarkan gaya belajar peserta didik terdapat strategi yang dapat dilakukan oleh guru.
1) Belajar Visual
a) Gunakan materi visual seperti, gambar-gambar, diagram dan peta.
b) Gunakan warna untuk menghilite hal-hal penting.
c) Ajak anak untuk membaca buku-buku berilustrasi.
d) Gunakan multi-media (contohnya: komputer dan video).
e) Ajak anak untuk mencoba mengilustrasikan ide-idenya ke dalam gambar.
2) Belajar Auditori
a) Ajak anak untuk ikut berpartisipasi dalam diskusi baik di dalam kelas maupun di dalam keluarga.
b) Dorong anak untuk membaca materi pelajaran dengan keras.
c) Gunakan musik untuk mengajarkan anak.
d) Diskusikan ide dengan anak secara verbal.
67
e) Biarkan anak merekam materi pelajarannya ke dalam kaset dan dorong dia untuk mendengarkannyasebelum tidur
3) Belajar Kinestetik
a) Jangan paksakan anak untuk belajar sampai berjam-jam.
b) Ajak anak untuk belajar sambil mengeksplorasi lingkungannya (contohnya: ajak dia baca sambil bersepeda, gunakan obyek sesungguhnya untuk belajar konsep baru).
c) Izinkan anak untuk mengunyah permen karet pada saat belajar.
d) Gunakan warna terang untuk menghilite hal-hal penting dalam bacaan.
e) Izinkan anak untuk belajar sambil mendengarkan musik.
d. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Gaya belajar peserta didik
Menurut Rita Dunn pelopor di bidang gaya belajar yang lain telah menemukan banyak variabel yang mempengaruhi Gaya belajar peserta didik, dianatranya:
fisik, emosional, sosiologis, dan lingkungan. Sebagian orang dapat belajar dengan baik dalam cahaya yang terang, sedangkan yang lain baru dapat belajar jika pencahayaan suram. Ada sebagian orang paling baik menyelesaikan tugas belajarnya dengan berkelompok, sedangkan yang lain lebih memilih belajar sendiri karena dirasa lebih efektif. Sebagian orang memilih belajar dengan latar belakang iringan musik, sementara yang lain tidak dapat belajar kecuali jika dalam
68
suasana sepi. Ada orang yang memilih lingkungan kerjanya teratur dengan rapi, tetapi yang lain selalu menggelar segala sesuatunya agar semuanya dapat terlihat50.
Sedangkan menurut David Kolb Gaya belajar peserta didik dipengaruhi oleh tipe kepribadian, kebiasaan atau habit, serta berkembang sejalan dengan waktu dan pengalaman51.
Berdasarkan penjelasan di atas, banyak faktor yang dapat mempengaruhi cara dan gaya belajar peserta didik. Di samping faktor yang ada di dalam diri orang itu sendiri (faktor internal), banyak pula faktor-faktor yang berasal dari luar individu itu sendiri (faktor eksternal).
1) Faktor-faktor internal yang mempengaruhi gaya belajar peserta didik
a)Faktor jasmaniah
Faktor jasmaniah mencakup dua bagian yaitu kesehatan dan cacat tubuh. Faktor kesehatan berpengaruh pada kegiatan belajar. Proses belajar akan terganggu jika kesehatan seseorang terganggu, selain itu juga akan cepat lelah, kurang bersemangat, mudah pusing, mengantuk bila badannya lemah, kurang darah ataupun ada gangguan pada alat indera serta tubuh. Sedangkan cacat tubuh adalah sesuatu yang menyebabkan kurang baik atau kurang sempurna mengenai tubuh. Cacat itu bisa berupa buta, setengah
50 Sugihartono, dkk,. Psikologi Pendidikan. (Yogyakarta: UNY Pers. 2007), hlm. 104
51 Ghufron, M.Nur dan Risnawati S.Rini. Gaya Belajar: Kajian Teoretik.
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2012), hlm. 118.
69
buta, tuli, setengah tuli, patah kaki, lumpuhdan lain-lain.
Keadaan cacat tubuh demikian juga mempengaruhi kegiatan belajar seseorang.
b) Faktor psikologis
Sekurang-kurangnya ada tujuh faktor yang tergolong ke dalam faktor psikologis yang mempengaruhi belajar.
Faktor-faktor itu adalah intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan dan kesiapan.
c) Faktor kelelahan
Kelelahan pada manusia walaupun susah dipisahkan tetapi dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu kelelahan jasmani dan kelelahan rohani (bersifat psikis).
Kelelahan jasmani terlihat dengan menurunya daya tahan tubuh. Sedangkan kelelahan rohani dapat dilihat dengan adanya kurangnya minat belajar, kelesuan dan kebosanan untuk belajar, sehingga minat dan dorongan untuk menghasilkan sesuatu hilang. Faktor kelelahan dalam diri seseorang berbeda-beda. Oleh karena itu, perlu cara atau gaya belajar yang berbeda.
2) Faktor-faktor eksternal a) Faktor keluarga
Seseorang yang belajar akan menerima pengaruh dari keluarga berupa cara orangtua mendidik, relasi antara anggota keluarga, suasana rumah tangga dan keadaan ekonomi keluarga.
b) Faktor Sekolah
Faktor sekolah yang akan mempengaruhi cara atau gaya belajar peserta didik antara lain metode mengajar, kurikulum, hubungan guru dengan peserta
70
didik, hubungan peserta didik dengan peserta didik, disiplin atau tata tertib sekolah, suasana belajar, standar pelajaran, keadaan gedung, letak sekolah, dan lainnya.
Faktor guru misalnya, kepribadian guru, kemampuan guru memfasilitasi peserta didik dan hubungan antara guru dengan peserta didik turut mempengaruhi cara atau gaya belajar peserta didik.
c) Faktor masyarakat
Masyarakat merupakan faktor eksternal yang juga mempengaruhi terhadap gaya belajar peserta didik.
Faktor-faktor masyarakat yang mempengaruhi cara atau gaya belajar peserta didik meliputi kegiatan peserta didik dalam masyarakat, media masa, teman bergaul dan bentuk kehidupan masyarakat.