• Tidak ada hasil yang ditemukan

OPTIMALISASI LORONG KELAS MENJADI LORONG LITERASI

Dalam dokumen BUKU KUMPULAN KISAH SUKSES KEPALA SEKOLAH SD (Halaman 103-118)

95

OPTIMALISASI LORONG KELAS

96

tahun 2015 tentang tumbuhnya karakter di mana implikasi gerakan literasi yang harus dilaksanakan di setiap sekolah disebut dengan gerakan literasi sekolah.

(Faizah. 2016: iii). Gerakan Literasi Sekolah memperkuat gerakan pengembangan karakter yang sekarang dikenal sebagai Penguatan Pendidikan Karakter (PPK).

Berbicara tentang masalah utama dan situasi dalam kepemimpinan yang penulis hadapi saat ini di sekolah, salah satunya adalah kemampuan peserta didik dalam hal membaca. Setidaknya meningkatkan minat baca anak-anak, yang belum didukung oleh program sekolah dan juga oleh orang tua di rumah. Sehingga tingkat keaksaraan atau literasi baca tulis peserta didik sangat kurang. Penulis mengimplementasikan isu atau masalah yang dihadapi disekolah tersebut dalam bentuk Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yaitu untuk mengoptimalkan koridor kelas atau pengaturan koridor setiap lantai, dimana lorong kelas yang sebelumnya berisi lemari guru yang berantakan sehingga dapat digunakan menjadi lorong literasi yang berfungsi sebagai tempat menunggu siswa yang paralel (siswa kelas 1 dan 2) yaitu siswa yang menunggu shift jam belajar selanjutnya untuk masuk ke kelas, mereka bisa menunggu sambil membaca buku di koridor atau lorong literasi. Hal ini terkait erat dengan peningkatan kemampuan membaca atau literasi siswa (Gerakan Literasi Sekolah) dengan melakukan pembiasaan membaca di samping kegiatan membaca 15 menit sebelum dimulainya waktu belajar.

Permasalahan yang paling utama di sekolah penulis di atas adalah optimalisasi pemanfaatan lorong kelas menjadi lorong literasi yang berfungsi maksimal dan mempunyai nilai kebermanfaatan yang tinggi untuk peserta didik dan tentunya bagi bapak ibu guru. Kondisi tersebut menuntut kepala sekolah untuk menerapkan prinsip kreativitas dan inovasi. Kreativitas dan inovasi salah satu ciri dari kepala sekolah sebagai pemimpin perubahan dimana mampu membawa atau membuat perubahan agar lebih bermanfaat dan pembelajaran di sekolah menjadi bermanfaat. (Cahyono. dkk, 2019: 1).

97

Selain menjadi seorang pemimpin perubahan, kepala sekolah harus memiliki jiwa dan sikap kewirausahaan selalu tidak puas dengan apa yang dicapainya dalam mengembangkan, mengelola sekolah dan dapat mencapai keberhasilan sekolah. (Suwithi. 2019: 2).

Sehingga seorang pemimpin perubahan dalam hal seorang kepala sekolah harus mampu berkreasi dan berinovasi tanpa henti, karena dengan berkreasi dan berinovasilah semua peluang dapat diperolehnya.

Situasi dan permasalahan di sekolah berkaitan dengan kemampuan membaca peserta didik yang rendah dan dibutuhkan sarana prasarana yang optimal di sekolah guna mendukung GLS. Dari permasalahan tersebut maka diperlukan solusi berupa optimalisasi lorong kelas menjadi lorong literasi bertujuan sebagai ruang baca terbuka yang dapat meningkatkan pembiasaan kemampuan membaca (literacy habit) peserta didik SDN Tugu Utara 19 Jakarta. Sedangkan manfaat yang akan diperoleh adalah meningkatkan literasi dalam hal minat dan kemampuan membaca peserta didik, penggunaan waktu luang yang positif dan terjalin kelekatan emosi dan komunikasi antara peserta didik dan guru SDN Tugu Utara 19 Jakarta.

Strategi Optimalisasi Lorong Kelas Menjadi Lorong Literasi

Gerakan Literasi Sekolah atau keterbacaan literasi sebagai pembelajaran penting kompetensi di Abad 21 dan bagaimana menata fasilitas dan infrastruktur sekolah sebagai bentuk implementasi Manajemen Berbasis Sekolah dalam bentuk pemanfaatan atau optimalisasi area membaca. Dalam buku Panduan Pemanfaatan dan Pengembangan Sudut Baca Kelas dan Area Baca Sekolah di SD dijelaskan bahwa setidaknya sekolah mampu mengakomodasi ruang yang dapat diubah menjadi ruang baca yang tepat untuk peserta didik di setiap sudut atau koridor kelas. (Kemdikbud.

2017: 19).

Berdasarkan fakta dan kebutuhan tersebut

98

dibuatlah solusi optimalisasi lorong kelas menjadi Lorong Literasi (Cognitive Corridor). Tujuan dari program ini adalah mengoptimalisasi lorong kelas yang tidak berfungsi optimal menjadi lorong literasi yang mempunyai fungsi untuk meningkatkan pembiasaan membaca peserta didik di sekolah.

Sementara dalam jangka panjang, hasil yang diinginkan bukan hanya memiliki kebiasaan membaca tetapi dapat meningkatkan minat peserta didik dalam membaca. Peserta didik memiliki kesempatan untuk menggunakan waktu luang secara lebih efektif dan lebih banyak interaksi antara guru dan peserta didik. Kepala sekolah memungkinkan untuk mengoptimalkan penggunaan lorong atau koridor sekolah menjadi area membaca. Dalam Buku Panduan tentang Penggunaan dan Pengembangan Sudut Baca Kelas dan Area Baca Sekolah untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran di Sekolah Dasar bahwa pemahaman tentang Area Membaca Sekolah adalah suatu tempat atau area di dalam sekolah atau di luar kelas yang diatur sedemikian rupa untuk mengakomodasi kegiatan membaca menumbuhkan minat membaca peserta didik.

Lorong literasi ini dibuat berdasarkan kondisi aktual koridor kelas di sekolah yang sebelumnya dipenuhi dengan lemari guru yang berada di luar dan sangat berantakan. Dengan mengoptimalkan penggunaan koridor atau lorong menjadi lorong yang bermanfaat dan memiliki fungsi sebagai ruang tunggu peserta didik sebelum jam belajar paralel dimulai, dan juga merupakan salah satu cara dan upaya untuk mendorong kebiasaan membaca siswa.

Hasil dan Dampak

Hasil Lorong Literasi di sekolah terlihat dengan adanya perubahan awal sebelum, proses dan setelah perubahan optimalisasi penggunaan lorong kelas menjadi lorong literasi. Lorong literasi merupakan salah satu inovasi literasi yang dikembangkan di SDN Tugu Utara 19 Jakarta.

99

Gambar 1a. Gambar Sebelum Lorong Literasi Gambar 1b. Gambar Proses Lorong Literasi

Pada gambar 1a dapat dilihat lorong kelas sebelum menjadi lorong baca literasi, dimana hanya berisi lemari guru yang tidak digunakan. Sedangkan pada gambar 1b adalah proses perubahan lorong kelas menjadi lorong baca literasi. Dari tahapan membuat sketsa, merapihkan lorong dengan memindahkan lemari-lemari guru yang sudah tidak digunakan dan menseting lorong kelas menjadi lorong baca literasi yang ramah anak.

Gambar 1c. Gambar Proses Lorong Literasi

Pada gambar 1c adalah lorong kelas yang telah diubah menjadi lorong baca literasi. Dari gambar

100

sebelum-proses-sesudah memperlihatkan proses pembuatan lorong kelas menjadi lorong literasi dimana terlihat adanya perubahan dari lorong kelas yang berisi lemari-lemari guru yang tidak terpakai, dilanjutkan pembuatan sketsa dan pengaturan serta penataan lorong menjadi lorong baca literasi yang bermanfaat untuk kegiatan literasi peserta didik di SDN Tugu Utara 19 Jakarta.

Setelah penataan lorong kelas menjadi lorong baca literasi selesai, maka lorong baca literasi bisa digunakan untuk peserta didik dalam kegiatan literasi bersama teman dan bapak ibu guru kelas. Berikut adalah aktivitas peserta didik di lorong baca literasi. Aktivitas atau kegiatan yang dilakukan di lorong baca literasi akan dijelaskan pada gambar di bawah ini.

Gambar 2a. Rak Buku Berisi Buku Cerita Anak di Lorong Literasi

Pada Gambar 2a terlihat gambar adanya penempatan rak buku yang berisi buku cerita anak. Buku cerita anak disesuaikan dengan usia peserta didik usia Sekolah Dasar.

101

Gambar 2b. Membaca Buku Bersama Gambar 2c. Menonton Film Anak Bersama

Berdasarkan gambar 2b dan 2c berupa aktifitas di lorong literasi, peserta didik memanfaatkan lorong literasi untuk kegiatan literasi sebelum atau saat jam istirahat berlangsung dengan membaca buku anak yang telah disediakan atau menonton film pendidikan daan menonton film atau cerita anak dengan bimbingan guru.

Adapun aktifitas atau kegiatan di lorong literasi dapat dilihat di :

Link video youtube:

https://www.youtube.com/watch?v=AQ9ZVO6Ji-U_

Kegiatan di Lorong Literasi kelas SDN Tugu Utara 19 Bukti transformasi atau perubahan dari lorong literasi ini adalah adanya perubahan lorong kelas di sekolah yang berubah menjadi lorong literasi (Cognitive Corridor), di mana bukti dari perubahan ini dapat dilihat langsung pada hasil akhir atau keluaran yaitu : (1) Penataan koridor atau lorong kelas yang sebelumnya berisi lemari guru yang tidak terpakai menjadi tempat baca peserta didik, (2) Lorong literasi sebagai ruang tunggu dan ruang baca terbuka, (3) Tersedianya buku cerita anak, dan (4) Menonton cerita anak bersama guru.

Hasil capaian yang diperoleh dari lorong literasi adalah sebagai berikut : (1) Peningkatan minat peserta didik dalam membaca, (2) Kesempatan peserta didik untuk menggunakan waktu luang lebih efektif dan lebih

102

banyak interaksi antara guru dan peserta didik. Hasil capaian kegiatan di lorong literasi dapat dilihat di :

Link video youtube:

https://www.youtube.com/watch?v=R9sBx-nW1aM_

Lorong Literasi SDN Tugu Utara 19

http://www.youtube.com/watch?v=NnI2HdBijOs _ Kegiatan Menonton Film Cerita Rakyat Kelas I di Lorong Literasi SDN Tugu Utara 19

Evaluasi dan Tindak Lanjut

Evaluasi dan tindak lanjut dalam bentuk laporan umpan balik, berupa laporan bertahap dari awal - proses – tahap akhir. Evaluasi dan umpan balik ini didapat dari guru dan tenaga kependidikan di SDN Tugu Utara 19.

Evaluasi dan umpan balik dalam bentuk kuesioner mengenai hasil dan implementasi lorong literasi di sekolah. Serta saran dan masukan dari guru dan tenaga kependidikan untuk kelanjutan proyek atau masukan untuk gagasan proyek lainnya di masa depan. Adapun evaluasi tanggapan jawaban kuesioner guru dan tenaga kependidikan dalam bentuk google form survey : http://gg.gg/KUESIONER-LORONG-LITERASI

Hasil survei yang diberikan dalam bentuk kuesioner kepada guru dan tenaga kependidikan sebanyak 26 orang. Adapun hasilnya adalah sebagai berikut:

Grafik 1. Jawaban Kuesioner Nomor 1

Pertanyaan pertama adalah tentang keberadaan lorong literasi (Cognitive Corridor) di sekolah. Guru dan tenaga kependidikan sebanyak 26 responden, 100%

0 10 20 30

Grafik Kuesioner Lorong Literasi 1. Apakah anda senang dengan adanya Cognitive

Corridor(Lorong Literasi) di Lantai 2 Sekolah

YA TIDAK

100 % 0%

103

menjawab respon Ya dengan kata lain mereka senang dengan adanya lorong literasi di sekolah.

Grafik 2. Jawaban Kuesioner Nomor 2

Pertanyaan ke-2 adalah pendapat guru dan tenaga kependidikan tentang mengubah lorong kelas menjadi lorong literasi sebagai salah satu inovasi atau kreatifitas kepala sekolah. Sebanyak 26 guru dan tenaga kependidikan menjawab Ya dengan persentase 100%.

Bahwa mereka sangat puas tentang perubahan koridor atau lorong kelas yang dahulu berisi lemari guru dan sangat berantakan menjadi lorong literasi. Lorong literasi memiliki banyak manfaat, salah satunya adalah sebagai ruang tunggu paralel untuk peserta didik (shift siang).

Adanya perubahan lorong kelas menjadi lorong literasi menjadi terlihat lebih bersih dan rapi.

0 10 20 30

Grafik Kuesioner Lorong Literasi 2. Menjadikan lorong kelas yang tidak terpakai menjadi Cognitive Corridor(Lorong Literasi) merupakan inovasi

dan kreatifitas Kepala Sekolah

YA TIDAK

100 % 0%

0 10 20 30

Grafik Kuesioner Lorong Literasi

3. Guru dan peserta didik dapat memanfaatkan Cognitive Corridor(Lorong Literasi) untuk kegiatan literasi selain

di dalam kelas

YA TIDAK

80,8 %

19,2 %

Grafik 3. Jawaban Kuesioner Nomor 3

104

Pertanyaan ke-3 adalah tentang pemanfaatan lorong literasi untuk kegiatan literasi selain di dalam kelas. Hasil yang didapat adalah responden menjawab Ya sebanyak 80,8% dan menjawab tidak 19,2%. Lokasi lorong literasi berada di lantai 2 jadi peserta didik kelas 6 dan sebagian kelas 5 yang kelasnya berada di lantai 3 belum bisa maksimal menggunakan atau berkunjung ke lorong literasi yang berada di lantai 2 sekolah. Selain itu karena peserta didik kelas 6 sudah padat jadwal pembelajaran sampai dengan siang hari, ini yang menjadikan kurang partisipasinya peserta didik kelas 6 di lorong literasi sekolah lantai 2.

Grafik 4. Jawaban Kuesioner Nomor 4

Pertanyaan ke-4 adalah berupa saran dan umpan balik tinjauan keseluruhan tentang lorong literasi sekolah berikutnya. Apakah menginginkan inovasi literasi berikutnya atau tidak. Untuk jawaban semua responden menjawab 100% dengan Ya. Maka dapat disimpulkan bahwa guru dan tenaga kependidikan menginginkan adanya inovasi berikutnya setelah lorong literasi yang berfungsi juga sebagai sarana literasi untuk melakukan kegiatan literasi di luar kelas. Inovasi yang mendukung kegiatan literasi di sekolah dan dapat menumbuhkan

0 5 10 15 20 25 30

Grafik Kuesioner Lorong Literasi

4. Apakah menginginkan inovasi literasi berikutnya selain Cognitive Corridor(Lorong Literasi)

YA TIDAK

100 %

0%

105

100 100

80,8

100

0 0

19,2

0 0

20 40 60 80 100 120

1. Apakah anda senang dengan adanya Cognitive Corridor ( Lorong

Literasi) di lantai 2 sekolah

2. Menjadikan ruang lorong kelas yang tidak terpakai optimal menjadi

Cognitive Corridor ( Lorong Literasi) merupakan salah satu

inovasi dan kreativitas kepala sekolah

3. Guru dan peserta didik dapat memanfaatkan Cognitive Corridor

(Lorong Literasi) Untuk kegiatan literasi selain di dalam kelas

4. Apakah Menginginkan inovasi literasi berikutnya disekolah, selain

Cognitive Corridor (Lorong Literasi)

Grafik Hasil Kuesioner tentang Cognitive Corridor (Lorong Literasi) SDN Tugu Utara 19

MENJAWAB YA MENJAWAB TIDAK

minat baca peserta didik. di SDN Tugu Utara 19 Jakarta.

Survei dalam bentuk kuesioner yang telah diberikan oleh guru dan tenaga kependidikan dalam bentuk isian google form di buatkan rekapan hasil.

Adapun hasil rekapitulasi dari evaluasi yang diberikan berupa kuesioner kepada guru dan tenaga kependidikan SDN Tugu Utara 19 berkenaan dengan adanya Lorong Literasi di sekolah dapat dilihat dalam grafik di bawah ini :

Grafik 5. Grafik Rekapitulasi Hasil Kuesioner Lorong Literasi

Berdasarkan paparan diatas dapat disimpulkan bahwa perubahan dalam bentuk optimalisasi lorong kelas menjadi lorong literasi ini merupakan sebuah tantangan.

Ketika harus memilih prioritas perubahan yang harus segera ditindaklanjuti di sekolah. Membuat strategi yang pasti untuk mengimplementasikan program lorong literasi yang akan berjalan di sekolah. Sehingga pada kegiatan inti awal penulis mengkhususkan diri membentuk tim inti literasi sekolah dan mengikutsertakan dewan guru dan tenaga kependidikan di SDN Tugu Utara 19 Jakarta. Peran wakil kepala sekolah bidang kurikulum dan kesiswaan pun turut ikut serta membantu dan melaksanakan program ini.

106

Pemilihan program lorong literasi ini membutuhkan pemikiran yang panjang. Program ini harus didukung oleh guru dan tenaga kependidikan serta mudah dilaksanakan dan pemanfaatan atau nilai penggunaan untuk guru dan peserta didik harus terlihat dan bermanfaat. Pilihan fokus program ini terkait dengan gerakan literasi sekolah yang sangat dianjurkan oleh pemerintah. Gerakan literasi juga merupakan komponen yang mendukung penguatan pendidikan karakter peserta didik, termasuk kegiatan membaca buku di sekolah. Didukung oleh sebuah ruangan yang terdapat banyak lemari guru ditempatkan di luar ruang kelas atau lebih tepatnya di setiap koridor atau lorong kelas.

Sehingga membuat koridor atau lorong terlihat sangat berantakan dan tidak nyaman.

Pelaksanaan program lorong literasi berjalan dengan lancar meskipun masih dibutuhkan banyak buku cerita khusus untuk anak sekolah dasar yang akan diletakkan di lorong literasi dan tempat atau lorong yang kurang luas juga menjadi kendala. Diperlukan kegiatan yang dimodifikasi atau jika waktu memungkinkan peserta didik bias menonton film atau cerita anak-anak dengan guru kelas mereka sambil menunggu giliran mereka ke kelas sore hari.

Penulis menyadari bahwa ketika mengimplementasikan lorong literasi ini banyak tantangan dan kendala. Namun penulis selalu menerima masukan serta saran positif kearah kebaikan atau perubahan dari semua dewan guru dan tenaga kependidikan. Membutuhkan kerja sama dan kerja tim, berbagi pengalaman dan keterampilan yang positif dan efisien dengan tujuan yang sama tentunya mampu meningkatkan keterampilan literasi peserta didik di tingkat pendidikan dasar.

Keterampilan yang dibutuhkan peserta didik sekolah dasar awal adalah literasi yang mengembangkan minat membaca sehingga dapat bersaing di abad ke-21 dalam hal keterampilan komunikasi yang baik dengan siapa pun. Sebagai pemimpin yang menjadi agen

107

perubahan atau menjadi pemimpin pembelajar yang inovatif dan kreatif. Semoga lorong literasi yang sudah ada di sekolah kami dapat menginspirasi sekolah lain untuk dapat memanfaatkan lorong kelas yang belum dioptimalkan dan berdaya guna.

Program lorong literasi sudah dilaksanakan dengan baik di sekolah. Saat ini guru juga telah mulai memainkan peran aktif dalam kegiatan literasi baik di kelas sebelum pembelajaran dimulai atau ketika peserta didik sedang menunggu giliran kelas di lorong literasi.

Mengubah lorong kelas menjadi lorong literasi membawa suasana yang lebih baik untuk peserta didik dan guru. Peran aktif guru terlihat dengan mulai mencari di internet dan mengunduh film atau cerita anak-anak yang akan digunakan ketika menonton film bersama di lorong literasi.

Rencana ke depan untuk kelanjutan program lorong literasi di sekolah adalah membuat lorong literasi berikutnya di lantai 3 untuk siswa di kelas 4, kelas 5 dan kelas 6, membuat taman baca di halaman sekolah, mengundang orang tua dan komite sekolah untuk memainkan peran aktif dalam mendukung kegiatan literasi sekolah dengan mengadakan sumbangan atau donasi buku literasi yang menyumbangkan buku cerita anak-anak yang layak sesuai dengan usia anak-anak sekolah dasa. Serta menyebarkan virus keaksaraan melalui lorong literasiyang bermakna di setiap sekolah dimulai dengan sekolah terdekat atau wilayah gugus, mengundang pendongeng anak ke sekolah sesuai jadwal, melakukan tur dan kunjungan literasi (kegiatan rutin bulanan siswa secara bergiliran per kelas mengunjungi perpustakaan sekolah terdekat dengan bimbingan guru kelas mereka), dan program satu cerita satu kelas, dimana setiap guru kelas memberikan bimbingan dan arahan kepada peserta didik kelas 1 sampai dengan kelas 6 di SDN Tugu Utara 19 Jakarta untuk mulai mencoba membuat cerita pendek baik fiksi dan non-fiksi yang akan digabungkan menjadi satu buku.

Akhirnya penulis menyampaikan ucapan terima

108

kasih yang sebesar-besarnya kepada Direktorat Pembinaan Tenaga Kependidikan, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menulis artikel praktik baik (best practice) di sekolah berupa lorong literasi. Semoga bermanfaat untuk kemajuan pendidikan di tanah air. Aamiin Ya Rabbal Alamin.

Daftar Pustaka

Cahyono, Yuli, dkk. 2019. Kepemimpinan Perubahan (MPPKS-PIM) (Modul Pelatihan Kepala Sekolah), Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Faizah, Dewi Utama,dkk. 2016. Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Dasar. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2017.

Panduan Pemanfaatan dan Pengembangan Sudut Baca Kelas dan Area Baca Sekolah Untuk Meningkatkan Mutu Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta:

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Sambodo, Djoko.2019. Pengelolaan Sarana dan Prasarana Sekolah (MPPKS-SAR) (Modul Pelatihan Penguatan Kepala Sekolah), Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Suwithi, Ni Wayan. 2019. Pengembangan Kewirausahaan (MPPKS-KWU) (Modul Pelatihan Penguatan Kepala Sekolah), Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

109

Tentang Penulis:

Walisa Tri Agustiningsih, M.Pd, dilahirkan di Jakarta pada tanggal 16 Agustus 1981.

Pendidikan Sekolah Dasar ditamatkan di SDN Cakung Timur 04 Pagi Jakarta Timur pada tahun 1993. Kemudian melanjutkan pendidikan menengah pertama di SMPN 262 Jakarta Timur, tamat tahun 1996.

Setelah itu melanjutkan pendidikan menengah atas di SMUN 89 Jakarta Timur, tamat tahun 1999. Pada tahun yang sama melanjutkan studi S1 Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Jakarta, tamat tahun 2004. Selanjutnya menyelesaikan studi S2 Magister Pendidikan Dasar Sekolah Pascasarjana UNJ Jakarta pada tahun 2015. Penulis saat ini bertugas sebagai Kepala Sekolah di SDN Tugu Utara 19 Jakarta Provinsi DKI Jakarta dari tahun 2016 sampai dengan sekarang.

Penulis merupakan Juara I Kepala Sekolah Dasar Berprestasi tingkat Provinsi DKI Jakarta tahun 2019, dan saat ini bergabung dengan Tim Penulis BKG Erlangga membuat karya buku pelajaran “Hello Jakarta” Muatan Lokal (Mulok) Bahasa Inggris untuk jenjang SD kelas 5.

Penulis adalah Instruktur Kota Kurikulum 2013 dari 2014 sampai dengan sekarang. Di tahun 2018 penulis meraih juara I Lomba Presentasi Literasi Tingkat Provinsi DKI Jakarta dan menjadi salah satu perwakilan Kepala SD Negeri di Provinsi DKI Jakarta mendapatkan beasiswa Shortcourse CESL (Certificate In Educational Studies In Leadership) kerjasama UNJ-Jakarta, The Head Foundation-Singapura dan The University of Queensland-Australia dengan sistem pembelajaran Blended-Learning selama 6 bulan. Telpon: 082111601171 [email protected]

0

110

PELAKSANAAN TAHFIDZ AL

Dalam dokumen BUKU KUMPULAN KISAH SUKSES KEPALA SEKOLAH SD (Halaman 103-118)