• Tidak ada hasil yang ditemukan

BUKU KUMPULAN KISAH SUKSES KEPALA SEKOLAH SD

N/A
N/A
SYAFIIYAH DARING

Academic year: 2024

Membagikan "BUKU KUMPULAN KISAH SUKSES KEPALA SEKOLAH SD"

Copied!
186
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

ii

KUMPULAN KISAH SUKSES KEPALA SEKOLAH SD

EDITOR:

Prof. Dr. Baso Intang Sappaile, M.Pd

Penerbit:

Direktorat Pembinaan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan

(3)

iii

KUMPULAN KISAH SUKSES EPALA SEKOLAH SD

Editor:

Prof. Dr. Baso Intang Sappaile, M.Pd

ISBN:

978-602-52537-0-6

Desain Sampul dan Tata Letak: Hasbullah

Redaksi:

Ged. D Lt. 14 Jl. Pintu 1, Senayan Jakarta Pusat, Indonesia

Telp. (021) 57974125

Email: [email protected] Cetakan I, November 2019

Diterbitkan oleh Direktorat Pembinaan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan

Hak cipta dilindungi oleh undang-undang. Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara apapun tanpa ijin tertulis dari penerbit

(4)

iv

PRAKATA

Gelombang peradaban keempat yang sering kita sebut sebagai era Revolusi Industri 4.0 telah menghadirkan tantangan-tantangan baru bagi dunia pendidikan. Bahkan tantangan-tantangan tersebut bergulir secara cepat setiap saat, semakin kompleks dan kadang sulit diprediksi.

Karenanya di era ini, setiap orang yang menggeluti profesi di bidang pendidikan, apapun posisi dan perannya dituntut untuk memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi. Secara khusus bagi kepala sekolah dan pengawas sekolah sebagai pemegang kunci eksistensi dunia pendidikan pada level praksis. Mereka dituntut untuk senantiasa secara kritis merefleksikan gagasan-gagasan, cara-cara kerja dan hasil- hasil pendidikan yang telah mereka lakoni dan yang telah diraihnya selama ini.

Tantangan khusus bagi kepala sekolah dan pengawas sekolah adalah bagaimana membangun visi, menggeser paradigma dan menyesuaikan kerangka kerja mereka dalam menggeluti tugas-tugas profesi di era millenial ini. Mereka dihadapkan pada tantangan dan problem yang tidak linier yang membutuhkan kreativitas yang tinggi untuk menemukan solusi yang akurat. Bagian akhir dari dinamika tantangan tersebut adalah bagaimana seorang kepala sekolah maupun pengawas sekolah melakukan konversi seluruh sumber daya termasuk ekosistem sekolah dengan penetrasi teknologi menjadi sebuah layanan pendidikan yang bermutu dan berdaya saing.

Dalam rangka mendukung upaya tersebut, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menempuh kebijakan strategis dengan melakukan reposisi atau transformasi peran dan tugas seorang kepala sekolah.

Reposisi ini pada hakikatnya adalah upaya pemerintah untuk mengoptimalkan tata kelola satuan pendidikan dan sekaligus memberikan ruang gerak yang lebih luas kepada kepala sekolah untuk berinovasi. Peran baru dimaksud, juga bermakna sebagai peningkatan level otoritas yang memungkinkan seorang kepala sekolah lebih percaya diri mengerahkan seluruh sumber daya pendidikan yang dimilikinya dalam rangka mewujudkan visi sekolahnya.

Buku Kumpulan Kisah Sukses yang merupakan karya kolaboratif ini patut mendapatkan apresiasi. Terlepas dari kelebihan maupun kekurangannya, buku ini telah

(5)

v

menghadirkan perspektif praksis yang beragam sekaligus unik tentunya. Untuk itu, kami atas nama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyampaikan terima kasih kepada para penulis, editor dan semua pihak yang telah mendedikasikan waktu, pikiran dan tenaga hingga terbitnya buku Kumpulan Kisah Sukses ini.

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Dr. Supriano

(6)

vi

KATA PENGANTAR

Menulis pada dasarnya mengasah nalar dan merapikan gagasan-gagasan kreatif. Menulis juga merupakan produk kreativitas karena aktivitas ini merupakan bauran yang kompleks antara dimensi-dimensi kualitas kemanusiaan seseorang. Di dalamnya tercakup kemampuan berpikir kritis, kualitas literasi informasi, dan pemecahan masalah. Selain sebagai salah satu bentuk aktualisasi diri, bagi seorang profesional, menulis adalah salah satu cara efektif untuk merawat keprofesian. Tak terkecuali tentunya kepala sekolah dan pengawas sekolah. Mereka menempati posisi kunci dalam urusan tata kelola pendidikan pada level satuan pendidikan.

Karenanya, menulis memiliki relevansi yang tinggi terhadap profesi kepala sekolah maupun pengawas sekolah.

Sebagai Direktur Pembinaan Tenaga Kependidikan, saya memberikan apresiasi yang tinggi atas karya kreatif kepala sekolah dan pengawas sekolah yang dikemas dalam buku Kumpulan Kisah Sukses ini. Disadari bahwa saat ini, semakin kuat kecenderungan model hipertext mendominasi dunia literasi melalui apa yang disebut dengan kultur digital.

Namun dinamika itu tentu saja tidak akan menegasikan sama sekali keberadaan buku konvensional. Karya ini diharapkan dapat memberikan pencerahan profesional di kalangan tenaga kependidikan khususnya kepala sekolah dan pengawas sekolah.

Akhirnya saya menyampaikan terima kasih kepada para penulis, editor, Tim Direktorat Pembinaan Tenaga Kependidikan, serta semua pihak yang telah berkontribusi dalam seluruh rangkaian proses penerbitan buku ini. Semoga buku ini memberikan manfaat dan nilai tambah dalam memberikan layanan pendidikan yang bermutu kepada masyarakat.

Direktur Pembinaan Tenaga Kependidikan Dr. Santi Ambarrukmi, M.Ed

(7)

vii

DAFTAR ISI

PRAKATA ... iv KATA PENGANTAR ... vi DAFTAR ISI ... vii Menigkatkan Minat Baca Siswa Melalui

Pemberdayaan Perpustakaan sekolah… ... 1 Suryani, S.Pd

Meningkatkan Karakter Siswa Melalui

Budaya Literasi Difital……….. ... 20 Deswita

Membangun Kemitraan Melalui Menejemen

Musyawarah Menuju sekolah literat ... 34 Dharmawati

Strategi Sweet Love Membangun Komunitas

Belajar Profesional….. ... 48 Wawat Karwati

Menciptakan Label Sekolah Unggul Melalui

Kegiatan Literasi…….. ... 64 Agung Rahmanto

Gerakan Kantin Kelas Berbasis Karakter ... 80 Jeni S. Kumisi

Optimalisasi Lorong Kelas Menjadi Lorong Literasi ... 95 Walisa tri agustiningsih

Pelaksanaan Tahfidz Al-Quran Melalui

Program Supercamp ... 110 Alfian

Tim Kewirausahaan Mendukung Pembiayaan

Di SDN Bubutan IV…... ... 125 Sastro

(8)

viii

Sekolah Sahabat Keluarga Dalam Mengembangkan

Sekklah Unggul……….……… . 140 Wahyuningsih Rahayu

Dengan Menejemen Pembiasaan, Partisipasif, Tauladan Kolaboratif Dapat Melangkah Menjadi

Sekolah Biru ... 159 Rohimah

(9)

1

MENINGKATKAN MINAT BACA SISWA MELALUI PEMBERDAYAAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH

Kepala SDN 105855 PTPN II Tanjung Morawa Deli Serdang Sumatera Utara Email: [email protected]

Pendidikan merupakan bentuk perwujudan kebudayaan manusia yang dinamis dan sarat perkembangan. Perubahan dan perkembangan pendidikan merupakan hal yang seharusnya terjadi sejalan perubahan budaya kehidupan. Perubahan dalam arti perbaikan pendidikan pada semua tingkat perlu terus menerus dilakukan sebagai antisipasi kepentingan masa depan (Trianto, 2009 : 1). Sementara Mulyasa (2010 : 27), menuturkan sosok manusia Indonesia lulusan pendidikan dasar harus memiliki penalaran yang baik yaitu mau belajar, ingin tahu, senang membaca, memiliki inovasi, berinisiatif, dan bertanggungjawab. Sebagaimana kompetensi lulusan pendidikan dasar yang diharapkan menunjukkan kegemaran membaca dan menulis serta memiliki keterampilan membaca (PPRI 19 Tahun 2005).

Membaca belum menjadi budaya bagi masyarakat kita. Baik di rumah, di sekolah, maupun di tempat- tempat umum. Kebiasaan orang tua tidak menjadi contoh baik bagi anak-anaknya. Suasana rumah yang tidak menyediakan buku membuat anak jauh dari tumbuhnya minat baca. Pembelajaran yang dilakukan guru di kelas cenderung membuat siswa menjadi pasif dan hanya mendengarkan ceramah dari guru, tanpa membiasakan siswa untuk membaca. Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita adalah masalah lemahnya proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, siswa kurang didorong untuk membaca (Sanjaya, 2009 : 1). Dampak tehnologi seperti televisi, gadget, dan game online yang makin variatif serta menarik

Suryani

(10)

2

membuat siswa semakin jauh dari buku. Fenomena inilah yang mengakibatkan minat baca masyarakat, khususnya para siswa menjadi rendah.

Rendahnya minat baca seperti diuraikan di atas, juga menjadi permasalahan yang serius di SDN 105855 PTPN II Tanjungmorawa. Hal ini tampak jelas dari aktivitas siswa sehari-hari yang lebih senang menghabiskan waktunya untuk bermain dibandingkan dengan membaca. Masalah yang sama juga terjadi di perpustakaan sekolah. Suasana perpustakaan sekolah terlihat sepi pengunjung. Siswa yang berkunjung ke perpustakaan merupakan orang yang sama setiap harinya. Berdasarkan buku catatan pengunjung, rata-rata kunjungan setiap bulan berkisar 30% dari jumlah siswa seluruhnya. Berikut ini data kunjungan perpustakaan sebelum upaya pemberdayaan perpustakaan dengan Tujuh Langkah Jitu dilakukan.

Tabel 1. Data Pengunjung Perpustakaan

Tahun Kunjungan Peminjaman

Semester

I Semester

II Jumlah Semester

I Semester

II Jumlah

2015 565 2048 2.613 464 871 1.335

2016 4000 1056 4.390 1092 1126 2.218

Berdasarkan tabel 1. terlihat data pengunjung perpustakaan pada 2015 sangat rendah dibandingkan dengan jumlah siswa sebanyak 646 orang. Jumlah kunjungan hanya 2.613 dan peminjam hanya 1.335. Jika dilihat dari jumlah siswa dan hari efektif kunjungan, maka rata-rata pengunjung setiap hari hanya 0,02%. Pada 2016, menunjukkan peningkatan kunjungan dua kali lipat yaitu 4.390. Namun peningkatan tersebut belum seperti yang diharapkan. Demikian juga dengan aktivitas siswa di pojok baca kelas, menurut catatan guru hanya beberapa siswa saja yang membaca di pojok baca saat istirahat atau waktu luang lainnya. Dengan demikian penulis menyimpulkan bahwa minat baca siswa di SDN 105855 PTPN II masih rendah.

Berdasarkan temuan dan fakta-fakta di lapangan

(11)

3

bersama petugas perpustakaan dan para guru tentang penyebab masalah tersebut. Beberapa penyebab bahwa minat baca siswa masih rendah adalah 1) pengelolaaan dan pelayanan perpustakaan sekolah belum efektif, 2) kurangnya buku – buku yang menarik bagi siswa di perpustakaan atau pojok baca kelas, 3) para guru dan orang kurang terlibat dalam mendorong siswa untuk membaca, 4) belum maksimalnya kebijakan kepala sekolah untuk mendorong siswa membaca, dan 5) kondisi lingkungan sekolah belum memberikan fasilitas yang menarik siswa untuk membaca.

Keberadaan perpustakaan tidak dapat dipisahkan dari peradaban dan budaya umat manusia. Tinggi rendahnya peradaban dan budaya suatu bangsa dapat dilihat dari kondisi perpustakaan yang dimiliki. Oleh karena itu, masalah rendahnya minat ini perlu segera diatasi dengan pemberdayaan perpustakaan sekolah.

Sekolah memiliki perpustakaan sejak tahun 2008, dengan bangunan permanen dan memiliki luas 84 m².

Letaknya yang mudah dijangkau dan strategis seharusnya menjadi sarana belajar bagi siswa. Namun, kenyataannya tidak seperti yang diharapkan. Untuk itu, harus segera dilakukan pemberdayaan terhadap perpustakaan sekolah.

Minat Baca dan Faktor yang Mempengaruhinya.

Membaca termasuk salah satu tuntutan dalam masyarakat modern. Dengan membaca, dapat mengetahui dan menguasai berbagai hal. Berikut ini terdapat beberapa tujuan membaca, antara lain untuk: a) mendapatkan informasi, mencakup tentang fakta dan kejadian sehari-hari sampai informasi tingkat tinggi tentang teori-teori penemuan; b) meningkatkan citra diri, agar orang memberi nilai positif; c) melepaskan diri dari kenyataan, yaitu saat lelah, jenuh, sedih membaca dapat sebagai penyalur pesan positif; d) tujuan rekreatif, yaitu mendapatkan kesenangan dan hiburan, dan e) mencari nilai-nilai keindahan, yaitu dipilih adalah karya sastra.

Minat merupakan salah satu faktor yang dapat

(12)

4

mempengaruhi usaha yang dilakukan seseorang. Minat yang kuat akan menimbulkan usaha yang gigih, serius, dan tidak mudah putus asa dalam menghadapi tantangan. Minat memiliki beberapa unsur yaitu perhatian, perasaan, dan motif. Minat baca harus ditumbuhkan sejak dini bagi peserta didik. “Pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti, pikiran, dan tubuh anak. Bagian-bagian itu tidak boleh dipisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup anak-anak kita,” kata Ki Hadjar Dewantara.

Hasanah, dkk (2011:34) menyatakan bahwa minat baca merupakan hasrat yang kuat seseorang baik disadari ataupun tidak yang terpuaskan lewat perilaku membacanya. Minat menentukan kegiatan dan frekuensi membaca, mendorong pembaca untuk memilih jenis bacaan yang dibaca, menentukan tingkat partisipasi di kelas dalam mengerjakan tugas, bertanya-jawab, dan kesanggupan membaca di luar kelas.

Faktor-faktor yang mempengaruhi minat baca, antara lain: (a) Motivasi, dalam kegiatan membaca sering sekali terjadi suatu kegagalan karena seseorang pembaca tidak mempunyai motivasi yang tinggi, (b) Lingkungan keluarga, orang tua yang memiliki kesadaran akan pentingnya membaca akan berusaha menciptakan suasana rumah yang mendukung kesempatan anak membaca, (c) Bahan bacaan, dalam kegiatan membaca harus didukung dengan ketersediaan buku-buku bacaan yang menarik bagi siswa sesuai dengan kehidupan kanak-kanaknya, dan (d) Lingkungan sekolah, sekolah mempunyai kewajiban untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi siswa untuk gemar membaca. Sikap dan perilaku guru yang mendorong siswa untuk gemar membaca dalam keseharian di sekolah, khususnya dalam pembelajaran di kelas sangat penting ditumbuhkan. Sekolah menyediakan sarana pendukung seperti adanya perpustakaan sekolah , pojok baca kelas, dan area baca. Menciptakan lingkungan sekolah yang kaya teks, misalnya di koridor, kantin

(13)

5

sekolah, ruang UKS, toilet, tempat ibadah, dan tempat lain yang di anggap perlu.

Perpustakaan Sekolah

UURI Nomor 43 Tahun 2007 menjelaskan bahwa perpustakaan merupakan institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara professional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka. Setiap sekolah hendaknya menyelenggarakan perpustakaan yang memenuhi standar nasional perpustakaan dengan memperhatikan Standar Nasional Pendidikan (SNP). Perpustakaan sekolah wajib memiliki koleksi buku teks pelajaran yang mencukupi sesuai jumlah siswa, memiliki koleksi lain yang mendukung pelaksanaan kurikulum.

Pasal 3 UURI tersebut, dinyatakan perpustakaan berfungsi sebagai wahana pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa. Lebih lanjut dijelaskan beberapa fungsi perpustakaan antara lain: (a) Melestarikan hasil budaya umat manusia, khususnya yang berbentuk dokumen karya cetak dan karya rekam, (b) Menyampaikan gagasan, pemikiran , dan pengetahun kepada generasi selanjutnya, dan (c) Pusat sumber informasi, ilmu pengetahuan, teknologi, kesenian, dan kebudayaan.

Perpustakaan SD Negeri 105855 PTPN II Tanjungmorawa berdiri sejak sepuluh tahun yang lalu di bawah pembinaan kepala sekolah. Agar pengelolaannya berjalan sebagaimana yang diharapkan, maka dibentuk pengelola perpustakaan yang terdiri dari kepala perpustakaan dan anggota. Kepala Perpustakaan dibantu oleh tiga bidang layanan yaitu administrasi, informasi, dan pembaca. Perpustakaan melayani sirkulasi peminjaman bahan pustaka untuk seluruh warga sekolah.

Visi Perpustakaan SD Negeri 105855 PTPN II Tanjungmorawa adalah: "Perpustakaan sebagai pusat ilmu pengetahuan, informasi, dan rekreasi edukatif bagi siswa SD

(14)

6

Negeri 105855 PTPN II Tanjungmorawa". Adapun misi Perpustakaan Sekolah adalah: a) Memberikan pelayanan terbaik kepada pemustaka dengan memberikan pelayanan yang cepat, mudah, dan ramah; b) Menyediakan sumber informasi dan ilmu pengetahuan yang terbaru dan terbaik dalam berbagai bentuk (buku, majalah, dan koleksi lainnya) untuk mendukung suksesnya pembelajaran dan pendidikan di sekolah; c) Menyediakan sarana-prasarana penunjang untuk meningkatkan pelayanan; d) Melaksanakan program kerja yang kreatif, rekreatif, dan edukatif; e) Meningkatkan kualitas SDM pengelola perpustakaan dengan pengikutsertaan pengelola dalam setiap even kegiatan kepustakawanan; f) Mengadakan perlombaan kegiatan gemar membaca dan menulis; dan g) Memberi penghargaan kepada pengunjung perpustakaan.

Gambar 1. Suasana di Ruang Perpustakaan

Tujuh Langkah Jitu Pemberdayaan Perpustakaan Sekolah

Mengatasi masalah rendahnya minat baca di SD Negeri 105855 PTPN II Tanjung Morawa diperlukan suatu komitmen dari kepala sekolah, guru dan para orangtua siswa. Diperlukan kerjasama yang baik untuk mencapai tujuan tersebut. Maka solusi terhadap masalah tersebut yaitu dengan pemberdayaan sarana

(15)

7

perpustakaan yang melibatkan semua pihak.

Pemberdayaan perpustakaan meliputi 7 (tujuh) langkah jitu, seperti terlihat pada gambar berikut:

Gambar 2. Tujuh Langkah Jitu Pemberdayaan Perpustakaan Sekolah

Pertama, Penataan Ruangan. Penataan ruangan yang dilakukan adalah membuat ruangan selalu bersih, ruangan dicat dengan warna-warna cerah, perabotan diatur yang rapi, koleksi ditata dengan rapi, memasang gambar-gambar di dinding ruangan. Hal ini dilakuakn untuk memeberikan kenyamanan kepada para pengunjung. Ruangan yang ditata tidak terbatas pada perpustakaan saja, tetapi juga lingkungan sekolah secara keseluruhan.

Gambar 3. Ruang Perpustakaan

(16)

8

Kedua, Pengadaan Koleksi yang Menarik. Pengadaan koleksi meliputi buku-buku referensi, cerita fiksi, cerita nonfiksi, kamus, globe, majalah, surat kabar, CD dan Video. Koleksi selain dilakukan dengan pembelian juga dapat dibuat sendiri seperti kumpulan karya siswa dan guru.

Gambar 4. Ruang Baca dengan Koleksi Buku yang Tertata Rapi

Ketiga, Pelayanan yang Ramah. Hal yang paling penting selanjutnya adalah pelayanan yang ramah. Petugas perpustakaan harus menampilkan diri dengan ramah, murah senyum, siap menjawab pertanyaan, siap mencari dan koleksi yang dibutuhkan siswa. Tutur kata dan sapaan yang sopan dan penuh kasih sayang membuat siswa akan tertarik dan merasa perpustakaan adalah tempat yang nyaman.

(17)

9 Gambar 5. Petugas Membantu Siswa dalam Layanan Membaca

Keempat, Penggunaan Pojok Baca Kelas. Pojok baca yang ada di ruang kelas selalau dijaga kebersihan dan kerapiannya. Dalam hal ini guru kelas diberikan tugas untuk itu. Pengadaan buku-buku untuk pojok baca dapat diperoleh dari sekolah dan juga dapat disumbangkan oleh siswa.

Gambar 6. Pojok Baca di Setiap Ruang Kelas

Kelima, Pelibatan Peran Serta Orangtua. Sekolah tidak dapat sukses dalam meningkatkan mutu layanan pendidikan kepada siswa, jika tidak bekerjasama dengan pihak lain, dalam hal ini orangtua siswa. karena salah satu ciri pembelajaran abad 4.0 adalah adanya kolaborasi

(18)

10

(collaborative). Peran orangtua diperlukan untuk turut mendukung program sekolah dengan beberapa cara yaitu: 1) sikap orangtua untuk memotivasi siswa untuk membaca, 2) menyediakan buku untuk dibaca siswa, 3) menyediakan lingkungan rumah yang ramah buku.

Keenam, Pelaksanaan Lomba dan Penampilan Siswa.

Untuk membuat siswa lebih bersemangat maka dilakukan perlombaan – perlombaan yang berkaitan dengan kegiatan perpustakaan atau membaca.

Perpustakaan membuat program perlombaan siswa. jenis perlombaan meliputi mendongeng atau bercerita, membaca puisi, menulis puisi, mencipta pantun, membuat cerpen, menulis synopsis, membuat madding.

Selain lomba, juga diadakan penampilan siswa untuk kegiatan – kegiatan yang berkaitan dengan membaca.

Ketujuh, Pemberian Reward. Pemberian reward dilakukan untuk menghargai segala aktivitas yang telah dilakukan siswa. Hal ini, akan memberikan kesan bahwa apa yang dilakukan siswa tidak sia-sia. Reward diberikan kepada siswa yang berkunjung ke perpustakaan paling banyak, peminjam buku paling banyak, sikapnya paling baik ketika di perpustakaan. Reward juga diberikan kepada siswa yang dapat menceritakan isi buku yang dibaca kepada temannya, dan menulis madding terbaik.

Ini diberikan setiap bulan. Reward dan penghargaan juga diberikan kepada siswa – siswa yang memperoleh juara pada kegiatan perlombaan.

(19)

11 Gambar 7. Pemberian Hadiah Bagi Siswa

Selain kepada siswa, reward juga diberikan kepada guru. Reward karena guru menggunakan perpustakaan sebagai sumber belajar. Guru membimbing siswa ke perpustakaan untuk mencari bahan ajar untuk didiskusikan di dalam kelompok belajar.

Hasil

Pemberdayaan perpustakaan sekolah melalui tujuh langkah jitu yaitu: (1) penataan ruangan, (2) pengadaan koleksi yang menarik, (3) pelayanan yang ramah, (4) penggunaan pojok baca kelas, (5) pelibatan peran orangtua, (6) pengadakan lomba dan kegiatan literasi, dan (6) pemberian reward memberikan dampak positif terhadap peningkatan mutu pendidikan di SD Negeri 105855 PTPN II Tanjung Morawa sebagai berikut:

Pertama, Pengunjung dan Peminjam Buku di Perpustakaan Meningkat. Peningkatan minat baca siswa terlihat pada meningkatnya jumlah kunjungan siswa di perpustakaan sekolah. Kunjungan siswa ke perpustakaan untuk membaca buku terus bertambah. Berdasarkan catatan Buku Daftar Kunjungan dari 2016, 2017, dan 2018 seperti terlihat pada gambar 8 berikut.

(20)

12

4390 12977 19878

J u m l a h P e n g u n j u n g P e r p u s t a k a a n

2016 2017 2018

Gambar 8. Jumlah Pengunjung Perpustakaan Selama 3 Tahun Terakhir

Gambar 8. memperlihatkan bahwa kunjungan siswa di perpustakaan sekolah meningkatkan dari 2016 sampai 2018. Dari 4.390 pengunjung pada 2016 menjadi 12.977 pengunjung pada 2017 serta 19.878 pada 2018.

Peningkatan kunjungan ini sangat signifikan.

Indikator lainnya yang menunjukkan peningkatan minat baca yaitu jumlah peminjam buku di perpustakaan sekolah. Jumlah peminjam selama tiga tahun terakhir dicatat pada buku daftar peminjam perpustakaan. Jumlah siswa yang meminjam buku tampak meningkat dari tahun ke tahun. Seperti terlihat pada gambar 9 berikut.

(21)

13

2218 2623 5333

J u mla h P e min ja m B u k u P e r p u st ak aan

2016 2017 2018

Gambar 9. Jumlah Peminjam Buku Perpustakaan Selama 3 Tahun Terakhir

Gambar 9. memperlihatkan bahwa siswa yang meminjam buku di perpustakaan sekolah meningkatkan dari 2.214 peminjam pada 2016 menjadi 2.623 peminjam pada 2017 serta 5.333 pada 2018. Peningkatan peminjam yang terjadi sudah signifikan.

Kedua, Antusiasnya Siswa di Pojok Baca Kelas. Hasil catatan setiap guru kelas terhadap penggunaan pojok baca kelas selama 3 tahun terakhir terlihat pada gambar 10. berikut.

(22)

14

Gambar 10. Jumlah Pembaca di Pojok Baca

Gambar 10. memperlihatkan bahwa siswa yang membaca buku di pojok baca kelas meningkatkan dari 1.441 pembaca pada 2016 menjadi 12/407 peminjam pada 2017 serta 23.161 pada 2018. Peningkatan pembaca di pojok baca kelas terjadi secara signifikan.

Indikator lainnya adalah jumlah siswa yang menyumbang buku di pojok baca kelas juga menunjukkan peningkatan. Berikut ini data penyumbang buku di pojok baca kelas selama 3 tiga tahun terakhir.

103 942 1317

J u m l a h P e n y u m b a n g D i P o j o k B a c a

2016 2017 2018

Gambar 11. Jumlah Penyumbang Buku

(23)

15

Gambar 11. memperlihatkan bahwa siswa yang menyumbang buku di pojok baca kelas meningkatkan dari 103 siswa pada 2016 menjadi 942 penyumbang pada 2017 serta 1317 pada 2018. Peningkatan jumlah penyumbang buku di pojok baca kelas menunjukkan bahwa antusis siswa dalam membaca meningkat. Siswa sudah memiliki koleksi buku di rumah yang tersedia.

Ketiga, Prestasi Siswa dan Sekolah Meningkat.

Tumbuhnya gemar membaca di kalangan siswa berdampak kepada meningkatnya prestasi. Tidak hanya prestasi siswa, tetapi juga prestasi sekolah. Berikut ini prestasi siswa dan sekolah yang diperoleh berkaitan dengan pemberdayaan perpustakaan adalah:

Tabel 2. Data Pengunjung Perpustakaan

No Nama Prestasi Juara Tahun Tingkat

1 FL2N kategori baca puisi Harapan 2 2018 Nasional

2 Lomba Bercerita Tingkat SD 1 2018 Kabupaten

3 Lomba FLS2N kategori mendongeng

3 2018 Kabupaten

4 Lomba FLS2N kategori mendongeng

2 2018 Kabupaten

5 Lomba FLS2N kategori baca Puisi 3 2018 Kabupaten 6 Lomba FLS2N kategori baca Puisi Harapan 1 2018 Kabupaten 7 Lomba Bercerita Kategori Putra 2 2017 Kabupaten 8 Lomba Bercerita Kategori Putra Harapan 3 2017 Kabupaten 9 Lomba Bercerita Kategori Putri Harapan 1 2017 Kabupaten 10 Lomba FLS2N cabang cipta pantun 3 2017 Kabupaten

11 Lomba OSN Mapel IPA 2 2019 Kecamatan

12 Lomba OSN Mapel Matematika 1 2019 Kecamatan

13 Lomba Cerdas Cermat 3 2018 Kabupaten

14 Lomba OSN Mapel IPA 1 2018 Kecamatan

15 Lomba OSN Mapel Matematika 3 2017 Kabupaten

16 Lomba OSN Mapel Matematika 2 2017 Kecamatan

17 Lomba OSN Mapel IPA 2 2017 Kecamatan

18 Lomba OSN Mapel IPA 1 2017 Kecamatan

19 Lomba Perpustakaan Terbaik Tkt SD

1 2018 Provinsi

(24)

16

20 Lomba Perpustakaan Terbaik Tkt SD

3 2017 Provinsi

Gambar 12. Juara Harapan II Festival Literasi Siswa Tingkat Nasional

Gambar 13. Perpustakaan Terbaik Tingkat Provinsi

Keempat, Tumbuhnya Karakter Siswa. Dampak positif yang lain terlihat pada perilaku siswa sehari – hari.

Biasanya siswa suka mengganggu teman. Dengan adanya aktivitas membaca pada waktu luang baik di

(25)

17

perpustakaan maupun di pojok baca, sikap siswa yang suka mengganggu teman berkurang. Siswa disibukkan dengan membaca. Sehingga tumbuh karakter gemar membaca. Kebiasaan ini diharapkan terus tumbuh dan berkembang di kalangan siswa, sehingga menjadi pembelajar yang literat sepanjang hayat.

Gambar 14. Perpustakaan Terbaik Tingkat Provinsi

Kelima, Sarana Prasarana Sekolah yang Memenuhi Standar Tersedia. Upaya peningkatan minat baca juga memberikan dampak terhadap tersedianya sarana pendukung pembelajaran seperti perpustakaan sekolah dan pojok baca kelas. Sekolah memiliki perpustakaan dengan koleksi dan referensi yang dapat dimanfaatkan oleh siswa dan guru dalam mendukung pembelajaran.

Ruang-ruang kelas dengan pojok baca kelas yang ditata rapi dan diisi buku-buku yang menarik bagi siswa serta sesuai dengan tingkat usianya.

Kesimpulan

Upaya yang dilakukan untuk pemberdayaan perpustakaan sekolah dengan tujuh langkah jitu yaitu: (1) Penataan Ruangan, (2) Pengadaan Koleksi yang Menarik, (3) Pelayanan yang Ramah, (4) Penggunaan

(26)

18

Pojok Baca Kelas, (5) Pelibatan Peran Serta Orangtua dan Masyarakat, (6) Pengadaan Kegiatan Lomba dan Literasi Siswa, dan (7) Pemberian Reward. Pemberdayaan perpustakaan dengan tujuh langkah jitu tersebut dapat meningkatkan minat baca siswa di SD Negeri 105855 PTPN II Tanjung Morawa.. Hal ini terbukti dari meningkatnya: a) kunjungan di perpustakaan, b) peminjam buku di perpustakaan, c) pembaca di pojok baca, d) penyumbang buku di pojok baca kelas. Oleh karena itu, kepala sekolah harus menerapkan ketujuh langkah jitu tersebut untuk meningkatkan minat baca dan penumbuhan karakter siswa sebagai salah satu alternatif peningkatan mutu sekolah.

Daftar Pustaka

Hasanah, Muakibatul, Nurchasanah & Hamidah, S. C.

2011. Membaca Ekstensif: Teori, Praktik, dan Pembelajaran. Malang: Pustaka Kaiswaran

Mulyasa. 2010. Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: Kemandirian Guru dan Kepala Sekolah.

Jakarta. Rineka Cipta

Sanjaya. 2009. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta. Prenada Media Group.

Trianto, 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif- Progresif: Konsep, Landasan, dan Implementasinya Pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

Jakarta: Prenada Media Group.

Perpustakaan Nasional RI. 2007. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan. Jakarta. PNRI

(27)

19

Tentang Penulis

SURYANI, S.Pd.,M.Pd. Lahir di Bayu Aceh Utara, 24 Juli 1972.

Menyelesaikan D2 PGSD IKIP Negeri Medan 1994, S1 Pendidikan Matematika FKIP Universitas Islam Sumatera Utara 2006, dan S2 Program Pascasarjana (PPs) Universitas Negeri Medan Program Studi Pendidikan Dasar 2013. Menjadi guru sejak 1995 dan sekarang dipercaya sebagai Kepala SDN 105855 PTPN II Tanjungmorawa Kabupaten Deliserdang Sumatera Utara. Selain bertugas sebagai guru, penulis juga aktif sebagai pengurus Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kabupaten Deliserdang. Serius menulis sejak 2018 dan telah memiliki buku karya tunggal pertama berjudul “Perkalian Itu Mudah” terinspirasi dari pengalaman penulis sebagai guru selama lebih 2 dekade tentang pembelajaran matematika. Penulis bisa dihubungi di [email protected]. HP.

085261351908

(28)

20

MENINGKATKAN KARAKTER SISWA MELALUI BUDAYA LITERASI DIGITAL

Deswita

Kepala SDN 01 Benteng Pasar Atas Kota Bukittinggi Email: [email protected]

Pentingnya Budaya Literasi digital

Perkembangan literasi dewasa ini kian hari kian meningkat. Kemampuan seseorang dalam berliterasi bukan hanya saja dipengaruhi oleh perkembangan orang tersebut akan tetapi juga ditentukan oleh kompetensi yang ia miliki. Pada dasarnya literasi bukan hanya sekedar membaca dan menulis saja, namun lebih dari itu literasi merupakan buah pikiran dan perasaan seseorang yang dituangkan dalam bentuk karya, cipta dan sebuah pemikiran. Literasi memang sebuah program yang sedang digalakkan oleh pemerintah yang pelaksanaanya difokuskan kepada lembaga pendidikan tak terkecuali sekolah dasar. Hal ini bertujuan secara sederhana agar masyarakat Indonesia nantinya memiliki budaya membaca dan menulis, karena memang membaca dan menulis belumlah menjadi budaya di Indonesia.

Sekolah sebagai salah satu pengembang program literasi haruslah memilih beragam kegiatan yang dapat meningkatkan budaya literasi di sekolah tersebut. Hal ini dimaksudkan agar literasi bukan lagi menjadi kegiatan yang membosankan bagi warga sekolah terutama siswa akan tetapi bagaimana kegiatan literasi itu dapat meningkatkan kompetensi warga sekolah namun dalam bentuk yang menyenangkan. Pengembangan program literasi dapat dilakukan dengan berbagai inovasi kegiatan yang kreatif dan bersifat kekinian. Literasi tidak memiliki batasan, akan tetapi lebih daripada itu literasi sangat luas.

Misalnya saja literasi digital, hal ini merupakan

(29)

21

ketertarikan seseorang yang memiliki kemampuan dalam menggunakan, mengakses dan bahkan berkomunikasi dengan menggunakan teknologi sehingga mampu berinteraksi dengan baik di tengah masyarakat.

Jika ditilik dari defenisi literasi digital, tentulah literasi satu ini sangat menarik untuk diterapkan di sekolah, mengingat siswa sekarang merupakan siswa millennial yang memang teknologi dan gadged menjadi pakaian bagi mereka. Akan tetapi sayangnya penggunaan teknologi bukanlah seperti halnya yang dimaksud oleh tujuan literasi digital. Saat ini masyarakat Indonesia cenderung mengunaakan teknologi digital hanya untuk kesenangan semata. Tidak jarang pengguna sosial media menggunakan akunya secara tidak bertanggung jawab, berkomentar tidak bijak dan cenderung menyalahkan.

Dari satu sisi memang masyarakat telah mampu menggunakan teknologi akan tetapi belum memiliki keterampilan dan pengetahuan yang baik dalam penggunaanya sehingga manfaat dari dunia digital tersebut belum termaknai dengan baik bagi penggunanya.

Siswa sebagai salah satu bagian dari sasaran kesuksesan program pembelajaran abad 21, Salah satu ciri abad 21 adalah tersedianya informasi dengan menggunakan tehnologi, dimana pada zaman ini peserta didik diharapkan mampu untuk menggunakannya dengan baik dan mengarah kepada hal yang positif. Abad ini memerlukan transformasi pendidikan secara menyeluruh sehingga terbangun kualitas guru yang mampu memajukan pengetahuan, pelatihan, ekuitas siswa dan prestasi siswa tentu harus dipersiapkan secepat mungkin dalam menggunakan teknologi. Literasi digital merupakan salah satu program yang pas untuk mengusung pembelajaran pada era industri 4.0 bila masih ada guru yang tidak mampu melaksanakan tehnologi atau berkomunikasi dengan menggunakan tehnologi maka sangat memungkinkan tidak akan terjadi perubahan dalam pembalajaran.

Saat ini siswa telah mengenal teknologi, akan

(30)

22

tetapi mereka masih melek digital. Artinya apa, siswa hanya mampu mengakses teknologi tersebut namun belum mampu menganalisa degan baik, berpartisipasi dengan bijak, mengelola dengan benar dan bahkan belum mampu memunculkan komunikasi yang efektif dan beretika. Kecenderungan siswa adalah untuk kesenangan semata, bagaimana mereka menggunakan gadged untuk bermain game, berpacu trendi di sosial media bahkan berkomentar seenaknya tanpa memperhatikan norma-norma. Tentu hal ini akan menjadi pengaruh buruk bagi perkembangan siswa nantinya terutama dalam peningkatan kompetensi serta penanaman nilai-nilai karakter pada mereka.

Harapannya adalah bagaimana teknologi dan digital ini dapat menciptakan generasi-generasi yang canggih, mampu mengakses dan mengelola teknologi dengan baik, memiliki karakter yang baik pula serta mampu meningkatkan minat literasi terutama membaca dan menulis. Fenomena yang terjadi di SD Negeri 01 Benteng Pasar Atas Kota Bukittinggi adalah, kemampuan warga sekolah termasuk siswa dan guru dalam mengunakan teknologi belumlah bermuara pada hal-hal yang bermanfaat terutama dalam peningkatan literasi digital di sekolah. Siswa dan guru cenderung menggunakan teknologi hanya untuk kesenangan semata. Selain itu kemampuan berkomunikasi siswa dan guru belum terasah dengan baik. Hal ini terlihat dari bagaimana siswa dan guru tersebut dalam mempersentasikan sesuatu cenderung belum seperti yang diharapkan apalagi kalau berbicara dihadapan orang banyak dan ditambah pula ada kamera. Selain itu minat baca dan tulis baik siswa mapun guru masih rendah. Menulis bukanlah suatu budaya begitu juga membaca, padahal teknologi sekarang memungkinkan untuk warga sekolah mengaskses beraram tulisan di media internet namun mereka cenderung malas melakukan hal tersebut. Selanjutnya kemampun dalam menanggapi suatu dan memberi tanggapan terhadap sesuatu juga belum terasah dengan baik. Hal ini terlihat

(31)

23

dari komentar-komentar baik di dunia nyata maupun dunia maya belumlah bijak. Mereka cenderung berkomentar seenaknya saja, tidak memperhatikan norma dan etika.

Jika hal tersebut di atas dibiarkan begitu saja, maka penulis sebagai kepala sekolah di SD Negeri 01 Benteng Pasar Atas Kota Bukittinggi merasa khawatir akan terjadi kegagalan dalam penerapan literasi digital, serta guru dan siswa tidak memiliki budaya yang baik dalam penggunaan teknologi. Selanjutnya karakter yang baik tentu akan sulit diterapkan, maka dalam hal ini penulis membuat sebuah program sekolah yang diberi judul “ Meningkatkan Karakter Siswa Melalui Budaya Literasi Digital di SD Negeri 01 Benteng Pasar Atas Kota Bukittinggi”

Menurut Davis & Shaw dalam Daryono (2017: 92) literasi digital merupakan bantuan yang menggunkan computer untuk berhubungan dengan berbagai informasi dan bacaan yang tidak berurut. Informasi ini berupa hipertekstual. Sedangkan Gilster dalam Daryono (2017: 92) mengatakan bahwa literasi digital adalah kemampuan untuk memahami berbagai informasi yang disajikan dalam bentuk digital serta kemampuan untuk menggunakan informasi tersebut baik untuk membaca maupun menulis sesuatu yang berhubungan dengan informasi tersebut dan formatnya disesuaikan dengan kebutuhan pada masanya.

Pendidikan karakter menurut Kertajaya dalam Muhdar (2013:108) bagaimana seseorang memiliki sebuah bentuk sikap, berucap, bertindak, serta merespon sesuatu yang menjadi ciri khas dirinya dan menjadi kebiasaan bagi kepribadiannya. Suyanto mengatakan pendidikan karakter adalah ciri khas seseorang individu yang terkait dengan cara berfikir dan bersikap serta merespon sesuatu dalam kehidupan interaksi sosial yang diwujudkan dengan tanggung jawab.

Literasi Digital dan Nilai Karakter

Untuk memudahkan berbagai akses yang

(32)

24

diperlukan oleh masyarakat, teknologi memang sangat diperlukan namun tidak bisa dipungkiri pada kenyataannya teknologi juga dapat menghadirkan efek negatif bagi penggunanya. Hal ini dikarenakan ketidakseimbangan antara karakter yang dimiliki masyarakat dengan perkembangan teknologi tersebut sehingga penyalahgunaan teknologi kerap terjadi. Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan kemampuan yang baik dalam mengakses, menggunakan serta memanfaatkan teknologi agar pembetukan karakter juga dapat dilakukan sejalan dengan perkembangan zaman (Kompasiana.com).

Budaya Literasi Digital di SD Negeri 01 Benteng Pasar Atas merupakan program, yang sangat penting untuk dilaksanakan, dimana sekolah dan kepala sekolah haruslah bijak dalam menanggapi isu-isu global seperti teknologi digital. Kepala sekolah mustilah memiliki kemampuan dalam mengembangkan program, dapat mempertimbangkan baik dan buruk program tersebut serta memiliki kompetensi dalam mengukur kekuatan dan kelemahan yang ada disekolah. Ketelitian inilah yang nantinya akan menjadi salah satu indikator keberhasilan sekolah terutama dalam bidang literasi digital.

Budaya Literasi Digital memiliki tiga program kegiatan yaitu:1. Kids Vlogger, 2. Menulis Opini 3. Satu Minggu Satu Puisi

A.Pelaksanaan Program 1. Kids Vlogger

Kids Vlogger merupakan kegiatan siswa yang diarahkan untuk membuat video dokumentasi jurnalistik yang berisi tentang konten-konten budaya atau ketertarikan terhadap suatu objek, tentu kegiatan ini disesuaikan dengan kondisi dan keadaan fasilitas yang dimiliki oleh siswa dan sekolah. Kepala sekolah dan guru merencanakan dan merancang bentuk kegiatan. Guru memberikan arahan bagaimana cara membuat vlog melalui berbagai contoh atau pemodelan yang ditayangkan kepada siswa. Kemudian siswa bersama guru merancang konten-konten dan scenario vlog yang akan

(33)

25

di buat. Siswa dibagi atas beberapa kelompok kecil yang terdiri dari 4 orang, satu orang nantinya akan berperan sebagai pengarah, satu orang sebagai cameramen, satu orang sebagai vlogger dan satu orang lagi berperan sebagai kontrol scenario. Setelah mereka mempersiapkan secara matang seperti peralatan yang akan digunakan, latar pengambilan gambar, personil, dan waktu yang tepat, maka mereka melakukan pengambilan video dengan diawasi oleh guru guna untuk menjaga hal-hal yang tidak kita ingginkan.

Gambar 1. Siswa Membuat Vlog Benteng Ford Dekok

Gambar 2. Siswa Membuat Vlog Kebun Binatang

Vlog yang telah dihasilkan kemudian di upload di akun media sosial masing-masing siswa. Setiap video yang di upload tersebut di informasikan kepada seluruh siswa untuk ditonton dan diberikan like and subscriber atau siswa diminta untuk memberikan komentar positif yang berkaitan dengan arah pengembangan dan perbaikan.

Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk melatih

(34)

26

kemampuan public speaking bagi siswa, literasi kemudian bekerja dalam tim, selanjutnya melatih ketelitian siswa dalam menyiapkan sesuatu keperluan dalam pelaksanaan kegiatan. Selain itu juga melatih siswa dalam meningkatkan kepercayaan diri, tanggung jawab dan berani dalam bertindak serta mampu menghargai hasil karya orang lain.

2. Menulis Opini

Menulis Opini merupakan kemampuan yang bijak dalam memberikan tanggapan dan komentar terhadap suatu informasi. Kegiatan ini diawali dengan guru ataupun siswa membuat sebuah pernyataan atau sebuah informasi baru atau opini yang berkaitan dengan situasi dan isu-isu global yang perlu terlebih dahulu diberi batasan kepada guru dan siswa sejauh mana mereka akan menulis konten tersebut. Kemudian guru dan siswa menuliskan dengan sebaik mungkin opini yang mereka buat dalam format yang telah disediakan. Selanjutnya tulisan tersebut di upload di media sosial mereka, yang nantinya tulisan tersebut dikomentari oleh teman- temannya dengan bahasa yang positif dan bersifat membangun. Kumpulan opini yang telah dibuat juga akan di terbitkan pada media cetak.

Gambar 3. Guru Membuat Opini

(35)

27

Gambar 4. Siswa Membuat Opini

Tujuan dari kegiatan ini adalah melatih kemampuan guru dan siswa dalam menulis dan memberikan pandangan terhadap suatu informasi serta mampu memberikan komentar yang bijak terhadap informasi tersebut.

1. Satu Minggu Satu Puisi

Kepala sekolah menyusun program bersama guru.

Kegiatan ini dilaksanakan satu kali dalam seminggu.

Sasaran dari program adalah guru dan siswa. Kegiatan ini dilakukan satu kali dalam satu minggu. Dimana diawali dengan guru melakukan pemodelan bagaimana membuat puisi yang sederhana. Baik siswa dan guru setiap minggu menulis satu puisi. Penulisan puisi ini dimulai dari membimbing dan membina guru dalam penulisan puisi, selanjutnya guru melatih dan membimbing siswa untuk menulis puisi. Puisi yang ditulis adalah hasil karya sendiri. Puisi ditulis dalam sebuah buku tulis yang disediakan khusus oleh siswa dan guru.

Gambar 5. Siswa Membuat Puisi

(36)

28

Setiap minggu siswa mengumpulkan puisi mereka kepada guru, dan guru nantinya memberikan tanda tangan pada setiap karya siswa. Buku puisi dikumpulkan dikelas yang nantinya puisi tersebut diketik komputer.

Puisi yang telah terkumpul tersebut diseleksi dan diambil yang baik penulisannya untuk dibukukan dan berISBN.

Setiap siswa menunggu giliran puisi mereka akan diterbitkan menjadi sebuah buku.

Hasil

Kids Vlogger

Dari pelaksanaan Kids Vlogger didapatlah hasil sebagai berikut.

1. Meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi dan public speaking.

2. Meningkatnya kemampuan literasi siswa

3. Meningkatnya kemampuan siswa dalam bekerja bersama tim.

4. Dihasilkannya vlogger-vlogger cilik yang memiliki konten edukasi.

5. Tertanamnya sikap positif seperti tanggung jawab, percaya diri, menghargai orang lain dan berani dalam mengambil tindakan

.

Gambar 6. Vlogger Siswa

Menulis Opini

Dari kegiatan program menulis Opini ini didapatlah hasil sebagai berikut.

(37)

29

1. Terkumpulnya opini siswa dan guru

2. Meningkatnya kemampuan literasi tulis dan baca bagi siswa dan guru.

3. Diterbitkannya opini guru pada media cetak.

4. Terlatihnya kemampuan guru dan siswa dalam meberikan komentar yang bijak terhadap suatu informasi.

5. Tertanamnya karakter positif bagi siswa dan guru terutama dalam hal merespon suatu informasi dan menggunakan teknologi secara bijak.

Gambar 7. Opini Guru Diterbitkan di Media Cetak

Gambar 8. Opini yang Telah Terbit di Media Sosial

Satu Minggu Satu Puisi

Hasil dari Satu Minggu Satu Puisi antara lain:

1. Meningkatnya kemampuan siswa dan guru dalam membuat puisi.

2. Terkumpulnya karya puisi siswa dan guru dalam bentuk buku dan portofolio.

(38)

30

3. Terlatihnya kemampuan guru dan siswa dalam

pemilihan kosa kata dan diksi pada pembuatan puisi.

4. Diterbitkannya buku kumpulan puisi yang telah memiliki ISBN

Gambar 9. Kumpulan Puisi yang Sudah Memiliki ISBN

Banyak cara yang dapat dilakukan sekolah dalam mengembangkan program literasi, salah satunya adalah literasi digital. Pada dasarnya literasi digital bertujuan untuk bagaimana seseorang dapat menggunakan teknologi digital bukan hanya sekedar kesenangan semata, akan tetapi lebih dari itu orang tersebut dapat menggunakan teknologi sebagai media literasi dan memiliki kemampuan yang bijak dalam penggunaan teknologi yang merupakan sebuah program literasi digital yang dilakukan di SD Negeri 01 Benteng Pasar Atas Kota Bukittinggi. Melalui program yang inovatif ini diharapkan siswa dan guru dapat menggunakan teknologi secara bijak dan menjadikan literasi digital sebagai budaya di sekolah.

Budaya Literasi Digital juga dilaksanakan untuk meningkatkan karakter di SD Negeri 01 Benteng Pasar Atas, karena memang perlu penanaman nilai-nilai karakter yang positif bagi warga sekolah terutama dalam berliterasi secara digita. BudayaLiterasi Digital memiliki tiga program kegiatan yang kreatif. Ketiga program ini

(39)

31

bertujuan untuk meningkatkan kreatifitas guru dan siswa serta menunjang terbentuknya karakter yang baik. Dari ketiga program kegiatan tersebut,Budaya Literasi Digital telah memberikan hasil dalam pelaksanaanya. Hasil tersebut diantaranya yaitu meningkatkan kemampuan literasi digital baik guru maupun siswa, selain itu tertanamnya nilai karakter seperti percaya diri, menghargai orang lain, berkomentar dengan bijak, serta berani dalam bertindak. Tidak hanya itu, Budaya Literasi Digital telah meningkatkan minat baca dan tulis bagi siswa dan guru sehingga telah lahirnya berbagai karya literasi yang telah juga memanfaatkan media sosial dan cetak sebagai sarana dalam berliterasi tersebut.

Rekomendasi

1. Untuk kepala sekolah, lebih meningkatkan inovasi program terhadap pengembangan budaya lietasi terutama literasi digital.

2. Untuk guru sekolah, agar mampu menjadi pelaksana program yang mengarahkan siswa kepada nilai-nilai yang lebih baik.

3. Untuk tim pelaksana program sekolah, agar lebih memperhatikan analisa kebutuhan sekolah dan administrasi program sekolah

4. Untuk dinas pendidikan, agar terus memberikan bimtek dan sosialisasi tentang pengelolaan program sekolah.

5. Untuk pemerintah, agar memfasilitasi sekolah khususnya dalam bidang pengelolaan program pemenuhan kebutuhan sekolah dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan.

Harapan dengan adanya Budaya Literasi Digital ini adalah bagaimana teknologi dan digital ini dapat menciptakan generasi-generasi yang canggih, mampu mengakses dan mengelola teknologi dengan baik, memiliki karakter yang baik pula serta mampu meningkatkan minat literasi terutama membaca dan menulis. Fenomena yang terjadi di SD Negeri 01 Benteng

(40)

32

Pasar Atas Kota Bukittinggi adalah, kemampuan warga sekolah termasuk siswa dan guru dalam mengunakan teknologi belumlah bermuara pada hal-hal yang bermanfaat terutama dalam peningkatan literasi digital di sekolah. Siswa dan guru cenderung menggunakan teknologi hanya untuk kesenangan semata. Selain itu kemampuan berkomunikasi siswa dan guru belum terasah dengan baik. Hal ini terlihat dari bagaimana siswa dan guru tersebut dalam mempersentasikan sesuatu cenderung belum seperti yang diharapkan apalagi kalau berbicara dihadapan orang banyak dan ditambah pula ada kamera. Selain itu minat baca dan tulis baik siswa mapun guru masih rendah. Menulis bukanlah suatu budaya begitu juga

Daftar Pustaka

Daryono. 2017. Literasi Informasi Digital: Sebuah tantangan bagi pustakawan. TIK. Ilmeu:

Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi Perpustakaan STAIN Curup, Vol 1, No 2, hlm 89-102.

Muhdar HM. 2013. Pendidikan Karakter menuju SDM Paripurna. Jurnal

Pen Alulum, volume.13 nomor1,hlm.103-128

Suyanto. 2010. Aktualisasi Pendidikan Karakter, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan Nasional, Jakarta

https://www.google.co.id/amp/s/www.kompasiana.com /amp/rulimustafa/5a533bc15e137379

2c793e92/literasi-digital-dan-manfaatnya ( diakses tanggal 5 Juni 2019)

(41)

33

Tentang Penulis

Deswita, lahir di Bukittinggi 53 tahun yang lalu tepatnya 18 Desember 1966 .Pendidikan Sekolah Dasar ditamatkan di SDN 05 Bukittingg pada tahun 1979.

Kemudian melanjutkan

pendidikan Sekolah Menengah Pertama di SMP 2 Bukittinggi tamat tahun 1982. Setelah itu melanjutkan pendidikan ke SPG Bukittinggi tamat tahun1985.Pada tahun 1987 melanjutkan pendidikan SI di FKIP Muhammadiyah Padang Panjang tamat tahun 1992.Mengajar Pertama kali di tahun 1986 di SD Inpres Balay Banyak Bukittinggi dipindah tugaskan ke SDN 02 Percontohan Tahun 2004.

Tahun 2012 Guru berprestasi tingkat Nasional utusan Sumatera Barat dan mendapat Networking ke Turki tahun 2013. Tahun 2014 diangkat sebagai kepala sekolah di SDN 01 Campago Ipuh Bukittinggi. Akhir tahun 2016 pindah tugas sebagai kepala sekolah SDN 01 Benteng Pasar Atas Bukittinggi sampai sekarang. Alhamdulillah tahun 2019 ini membawa nama baik SDN 01 Benteng Pasar Atas dalam ajang lomba kepala sekolah berprestasi mendapat peringkat 3 tingkat nasional. HP.

082169733700

(42)

34

MEMBANGUN KEMITRAAN MELALUI MANAJEMEN

MUSYAWARAH MENUJU SEKOLAH LITERAT

Dharmawati

Kepala SDN 037 Tarakan, Kalimantan Utara Email: [email protected]

Sesuai dengan amanat undang-undang, pendidikan adalah tanggung-jawab bersama antara keluarga, masyarakat, lembaga dan sekolah. Sayangnya kesadaran akan hal ini belum tumbuh dengan baik pada masyarakat kita. Keluarga menyerahkan urusan pendidikan sepenuhnya kepada sekolah. Padahal kerjasama antara keluarga dan sekolah sangat diperlukan untuk kemajuan pendidikan siswa.

Hidayat, dkk (2016:17) menjelaskan bahwa kemitraan pendidikan adalah kerjasama antara satuan pendidikan, keluarga dan masyarakat yang berlandaskan pada asas gotong royong, kesamaan kedudukan, saling percaya, saling menghormati, dan kesediaan untuk berkorban dalam membangun ekosistem pendidikan yang menumbuhkan karakter dan budaya prestasi anak.

Ekosistem pendidikan yang dimaksud adalah tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh dari semua unsur pendidikan sehingga menghasilkan lingkungan belajar yang kondusif bagi tumbuh kembang anak secara optimal.

Namun kesenjangan pendidikan terjadi di SDN 037 Tarakan. Awal penulis mutasi pada bulan Mei 2016.

Sekolah kecil dengan jumlah siswa 187 pada waktu itu, orang tua sangat tak peduli dengan pendidikan anaknya.

Pada saat itu kondisi SDN 037 sangat memprihatinkan, bahkan di bawah Standar Pelayanan Minimal. Bangunan

(43)

35

semi permanen dan sebagian adalah bangunan asli dari peninggalan SD inpres sejak tahun 1982 yang sudah bolong dan bocor di beberapa tempat. Ruang kelas hanya ada 6 padahal jumlah rombel ada 9. Sehingga ada shif pagi dan siang. Buku teks tak memadai. Ruang Musolla, UKS dan kantin tak ada. Perpustakaan hanyanya ruang kelas yang disekat seadanya.

Gambar 1. Ruang Kelas Gambar 2. Ruang Perpustakaan

Jumlah siswa setiap tahun ajaran baru terus menurun, untuk mendapatkan satu kelas saja susah.

Padahal sekolah ini berada di pemukiman padat penduduk, sekolah lain di sekitarnya bahkan sampai menolak siswa. Bahkan untuk mengikat siswa agar tetap bersekolah di SDN 037, panitia penerimaan murid baru sampai membuat surat perjanjian tak memindahkan anaknya sampai lulus kelas 6.

Setelah melalui diskusi dengan guru dan pengawas, serta berbagai pertimbangan, akhirnya disepakati pembenahan sekolah dimulai dari mengimplementasikan Gerakan Literasi Sekolah. GLS di harapkan menjadi jalan untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah ini. Sehingga terciptalah sekolah literat.

Dalam buku panduan gerakan literasi sekolah (2016: 3) sekolah literat adalah ekosistem pendidikan di sekolah yang sehat. Ekosistem pendidikan yang literat adalah lingkungan yang :

1. Menyenangkan dan ramah peserta didik, sehingga menumbuhkan semangat warganya dalam belajar.

2. Semua warganya menunjukkan empati, peduli, dan menghargai.

(44)

36

3. Menumbuhkan semangat ingin tahu dan cinta pengetahuan.

4. Memampukan warganya cakap berkomunikasi dan dapat berkontribusi kepada lingkungan sosialnya.

5. Mengakomodasi partisipasi seluruh warga sekolah dan lingkungan eksternal SD.

Sehingga dapat disimpulkan literat adalah sikap dan perilaku yang dihasilkan dari dari proses literasi yang baik di sekolah dan masyarakat.

Tarakan adalah pulau yang penduduknya beragam, tetapi penduduk asli pulau ini adalah suku Tidung. Suku Tidung senang berkumpul untuk mengerjakan sesuatu . Budaya itu di sebut Intimung.

Berdasarkan latar-belakang dan pemikiran tersebut penulis membuat program yang mengutamakan bermusyawarah dengan semua pemangku kepentingan, demi terlaksananya perbaikan mutu pendidikan di SDN 037.

Kondisi Awal SDN 037 Tarakan

Keadaan awal SDN 037 Tarakan terbagi dalam kondisi sapras, program sekolah, karakter siswa dan pelaksanaan program kemitraan.

Tabel 1. Profil Sekolah dan Kondisi Sapras Nama Sekolah : SDN 037 1. Status Sekolah : Negeri

2. Alamat : Jl. KH. Agus Salim, Kelurahan Selumit, Kecamatan Tarakan Tengah, Kota Tarakan

3. Tahun Pendirian : 1980 4. Jumlah Rombel : 9/276 5. Jumlah Kelas/Jamban : 6/4

6. Jumlah PTK : Guru 12 TU 2 CS 2 7. Ruang Perpustakaan,UKS, : Perpustakaan ruang

kelas yang disekat, UKS, Musholla, dan kantin musholla dan kantin tidak ada

8. Bangunan/Keadaan Bangunan : Semi permanen dan kayu/ Rusak sedang dan rusak berat

9. Akreditasi : C

(45)

37

Tabel 2. Program Sekolah

1. Sekolah Adiwiyata Belum Melaksanakan 2. Gerakan Literasi Sekolah Belum Melaksanakan 3. Sekolah Ramah Anak Belum Melaksanakan 4. Sekolah Penguatan Pendidikan Karakter Belum

Melaksanakan

5. Gerakan Pramuka Belum Melaksanakan

Tabel 3. Catatan Pelanggaran Siswa Sebelum Pelaksanaan Program

1. Terlambat kesekolah 69 siswa 25%

2. Tidak memakai seragam 111 siswa 40%

Dan atribut lengkap

3. Berkelahi dan berkata kasar 41 siswa 15%

4. Tidak masuk sekolah 82 siswa 30%

Tanpa izin

5. Membuang sampah 33 siswa 12%

Sembarangan

6. Tidak mengerjakan PR 71 siswa 26%

Tabel 4. Program Kemitraan

1. Komite Sekolah Hanya penandatanganan RKAS 2. Lembaga Pemerintah Tidak ada

3. DUDI/Komunitas/Lembaga dan LSM Tidak ada Pelaksanaan Program Gerakan Literasi Sekolah

Program Gerakan Literasi Sekolah mulai dilaksanakan pada bulan Juli 2017 setelah melaui rapat dengan dewan Guru dan tenaga kependidikan. Adapun langkah-langkah pelaksanaannya adalah sebagai berikut.

1. Merevisi Visi dan Misi Sekolah

Perubahan visi dan misi dilakukan dalam rapat antara dewan Guru, pengawas dan komite sekolah. Visi misi di revisi dengan memasukkan unsur gerakan literasi sekolah sekaligus beberapa program sekolah yang ingin di capai. Seperti Sekolah Ramah Anak,

(46)

38

Sekolah Pendidikan Karakter dan Sekolah Adiwiyata 2. Penerbitan SK

Untuk menjamin keberlangsungan program dengan uraian tugas dan tanggung jawab yang jelas maka di terbitkanlah Surat Keputusan Kepala Sekolah tentang Tim literasi dengan uraian tugas yang jelas.

3. Sosialisasi Literasi

Nara sumber Bapak DR. M. Yunus Abbas Dekan FKIP Universitas Borneo Tarakan yang menguasai materi Gerakan Literasi Sekolah untuk memberikan penguatan

4. Memetakan Program Bersama Komite Sekolah

Sesuai dengan komitmen tim literasi SDN 037, bahwa komite adalah perantara yang menjembatani keterlaksanaan program yang akan bermitra dengan pihak lain. Maka tim rapat bersama dengan komite sekolah. Hasil rapat dengan komite di sepakati untuk :

a. Membentuk Intimung Taka di setiap kelas yang berasal dari orang-tua siswa. Intimung Taka berasal dari bahasa Tidung, bahasa penduduk asli pulau Tarakan yang artinya “berkumpul kita”.

Tujuannya agar program bisa terlaksana dengan cepat dengan bantuan Intimung Taka di setiap kelas

b. Membuat sudut baca setiap kelas dengan memberdayakan Intimung Taka di setiap kelas. Sudut baca di targetkan berbiaya rendah dan dari bahan daur ulang sehingga sekaligus dapat program sekolah adiwiyata yang sedang di rintis juga.

c. Membuat kampaye membaca seperti lukisan, poster dan kata-kata motivasi sehingga siswa tertarik untuk membaca.

d. Untuk sarana baca di lingkungan sekolah (di luar kelas) yang tak bisa dihindari biayanya, maka sekolah membuat proposal kepada komite sekolah. Komite menghimpun dana dan tenaga dari orang tua sesuai dengan kesanggupan orang

(47)

39

tua. Yang tak memiliki dana tetapi memiliki keahlian maka menyumbangkan keahliannya.

Seperti tukang kayu, tukang batu, pelukis dan pekerja seni lainnya. Semua dana dan proses pengerjaan dikelola oleh komite.

5. Pelaksanaan Program Bersama Intimung Taka

Wali kelas bersama dengan orang tua tiap kelas Intimung, kami memakai strategi banyak mendengar saran dan pendapat dari orang-tua siswa. Di luar dugaan orang tua siswa bersemangat memberikan masukan untuk kemajuan pendidikan anaknya.

Langkah selanjutnya masing-masing wali kelas menyampaikan program. Orang-tua diajak menata kelas menjadi kelas kaya literasi. Model dari sudut baca bermacam-macam tergantung kemampuan orang tua pada kelas itu. Akhirnya terciptalah sudut baca yang unik ada yang dari pipa paralon, talang air, jerigen, kain perca dan potongan kayu.

6. Memulai Tahap Pembiasaan Membaca 15 Menit Sebelum Pembelajaran.

Sesuai dengan Panduan dan Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah yang diterbitkan oleh kemdikbud, maka SDN 037 memulai program Gerakan Literasi Sekolah pada tahap pembiasaan.Tahap pembiasan ini kami mulai dengan membaca 15 menit buku non teks setiap hari sebelum KBM. Buku non teks pada tahap awal ini bersumber dari perpustakaan sekolah yang di bagi ke tiap sudut baca di kelas.

Gambar 3. Kegiatan Membaca Gambar 4. Perpustakaan Sekolah

(48)

40

Pada jam istirahat siswa juga bisa memanfaatkan waktu membaca buku di areal baca sekolah yang di buat oleh komite seperti Taman Baca, Lorong Literasi, dan Lapak Buku dengan suasana yang nyaman dan menyenangkan.

7. Kantong Sedekah Buku

Untuk memenuhi ketersediaan buku bacaan, tim bekerjasama dengan program GISS ( Gerakan Infaq Seribu perSiswa) yang sudah berjalan di sekolah.

Biasanya dana GISS ini dimanfaatkan untuk membantu perlengkapan sekolah untuk siswa yang kurang mampu. Dana GISS ini dikumpulkan setiap hari Jumat, setiap siswa seribu rupiah. Sekolah menyisihkan di Jumat minggu ke empat atau minggu terakhir untuk membeli buku bacaan.

8. Program Pinjam Pakai Buku

Strategi lain untuk mengatasi kekurangan buku adalah program PIPA. Yang merupakan akronim dari pinjam pakai. Jadi kami mengajukan surat permohonan bertukar pinjam buku kepada Kantor Perpustakaan dan Kearsipan dan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dalam kurun waktu tertentu, kemudian dikembalikan lagi. Ide ini disambut baik oleh mereka. Kami saling bertukar buku. Distribusi ini ternyata cukup efektif untuk mengatasi kekurangan buku bacaan.

Gambar 5a. Program PIPA dengan Sekolah Gambar 5b. Program PIPA dengan TBM

(49)

41

9. Relawan Jaga Baca

Banyaknya areal baca di lingkungan sekolah butuh kerja ekstra pustakawan sekolah yang cuma satu orang. Penulis berfikir siswa perlu ada rasa tanggung- jawab dan memiliki sehingga buku-buku terdistribusi dan terawat dengan baik. Maka dibentuklah relawan yang terdiri dari siswa kelas tinggi, relawan ini diberi nama “Jaga Baca” tugas mereka mengikuti jadwal piket kelas.

Gambar 6a. Relawan Membacakan Buku Gambar 6b. Tim Relawan

10. Menjalin Kemitraan

Untuk menjaga keberlangsungan dan pengembangan program literasi, Tim literasi SDN 037 menjalin kemitraan dengan cara menjemput bola, tim merawarkan program, yang sifatnya kerjasama.

Kemitraan ini telah berjalan dengan : a. Universitas Borneo Tarakan

Sebagai Satu-satunya universitas negeri di Kalimantan Utara yang mempunyai LPTK. Tim literasi menawarkan beberapa program kerjasama, diantaranya membuka kesempatan untuk mahasiswa dan dosen untuk mengadakan penelitian literasi.

b. Bank Indonesia

Bank Indonesia mempunyai program BI Corner, yaitu pengadaan buku bacaan beserta prasarananya ke beberapa sekolah dan kantor perpustakaan. Tim literasi menawarkan diri

(50)

42

menjadi relawan untuk membantu terlaksanaan program BI Corner. Program kerjasama ini telah berjalan 1 tahun.

Gambar 7a. MoU dengan Perpustakaan Gambar 7b. Kerjasama dengan BI

11. Literasi di Tahap Pengembangan.

Memasuki tahun ajaran 2017/2018 Literasi memasuki tahap pengembangan dan pembelajaran. Inovasi dan kreativitas yang dilakukan tim literasi pada tahap ini adalah :

a. Menambah ruang baca dan sarana baca yang menarik dan ramah anak.

b. Menghadirkan perpustakaan ramah anak yang nyaman untuk membaca.

c. RPP berstrategi literasi dan Big Book yang unik karya guru dan siswa.

d. Mendatangkan guru tamu untuk membacakan cerita setiap hari Jumat.

Gambar 8a. Big Book karya Guru dan Siswa Gambar 8b. Guru membacakan Buku

Gambar

Gambar 4. Ruang Baca dengan Koleksi Buku yang Tertata Rapi
Gambar 6. Pojok Baca di Setiap Ruang Kelas
Gambar 9. Jumlah Peminjam Buku Perpustakaan Selama 3 Tahun Terakhir
Gambar  11.  memperlihatkan  bahwa    siswa  yang  menyumbang  buku  di  pojok  baca  kelas  meningkatkan  dari  103  siswa  pada    2016    menjadi  942  penyumbang  pada    2017  serta  1317  pada  2018
+7

Referensi

Dokumen terkait

Prinsip-prinsip MBS yang dilaksanakan oleh sekolah antara lain: (1) warga sekolah dalam kaitan pengelolaan dapat mengelola sekolah secara mandiri sesuai dengan

Orang tua berhak untuk memindahkan anaknya ke sekolah lain dengan catatan tetap tidak naik sesuai dengan kelas yang ditinggalkan.. Penanganan siswa yang

Kepala Sekolah menciptakan hubungan kerja yang harmonis antara warga sekolah dengan komite sekolah.. Kemampuan menerapkan prinsip penghargaan dan hukuman ( reward

Hasil realisasikan peran dan fungsi komite SD Negeri Purwosari 1 Sayung Demak sebagi pendukung (supporting) yang berfungsi sebagai pendorong orang tua dan

Komite sekolah berperan sebagai jembatan antara pihak sekolah dan masyarakat/orang tua murid, sehingga program sekolah dapat berjalan dengan baik dalam rangka

Perangkat kurikulum dan pembelajaran disusun secara mandiri oleh sekolah melalui kerja tim yang terdiri dari Kepala Sekolah, guru, unsur komite sekolah dan/atau orang tua siswa

sekolah;Mampu memimpin rapatyang aspiratif dan persuasif dengan guru-guru, staf, orang tua peserta didik dan komite sekolah;Mampu melakukan pengambilan keputusandengan

Sedangkan faktor penghambatnya yaitu kepala sekolah sebagai pemimpin belum mampu bersikap tegas terhadap pelangaran- pelangaran yang dilakukan warga sekolah, hanya