48
STRATEGI SWEET LOVE
49
Komunitas Belajar Profesional adalah suatu pembaruan dalam paradigma yang dikembangkan di antara anggota komunitas mengenai bagaimana melakukan upaya memperbaiki kompetensi.
Bentuk kegiatan dalam Komunitas Belajar Profesional terdiri atas dua macam, yaitu yang bersifat formal dan informal. Kegiatan yang bersifat formal dan informal tersebut berguna untuk lebih mempererat hubungan antarguru dalam membangun kolegialitas serta kesepahaman yang lebih mendalam tentang sebuah permasalahan, sehingga mampu mengembangkan wawasan guru tentang pengetahuan yang baru. Hal ini sejalan dengan pendapat Triatna (2015:38) bahwa pengembangan belajar bersama dalam membangun visi, misi, dan tujuan sekolah berkembang secara alamiah dalam proses mengelola sekolah hari demi hari melalui dialog keseharian dan dialog formal dalam rapat sekolah/
panitia.
Kegiatan dalam Komunitas Belajar Profesional pada dasarnya merupakan proses interaksi dalam komunitas.
Perbedaan antara interaksi dalam komunitas belajar dengan interaksi pada umumnya adalah bahwa dalam komunitas belajar interaksi dilakukan berdasarkan pada refleksi diri sehingga timbul keinginan untuk memperbaiki diri. Hal ini tidak terdapat pada kelompok yang bukan komunitas belajar. Sebagaimana dinyatakan oleh Triatna (2015:43) bahwa semua PTK mengalami proses interaksi, tetapi tidak semua interaksi mengakibatkan hasil belajar. Pengalaman yang dievaluasi, dicari logikanya, dan direfleksi akan menjadikan seseorang berubah dan lebih berpengalaman.
Pembentukan komunitas belajar di sekolah memerlukan peran kepala sekolah dalam mengatur alur komunikasi sehingga tetap berjalan dengan lancar serta menjamin bahwa kegiatan dalam komunitas belajar tetap mengarah pada tujuan yang ditetapkan. Kepala sekolah juga harus berperan sebagai role model bagi spirit dalam melakukan perbaikan kompetensi melalui partisipasinya
50
dalam Komunitas Belajar Profesional. Komunikasi yang dikembangkan di sekolah sejauh mungkin menerapkan sistem demokratis. Hal ini sejalan dengan pendapat Triatna (2015 : 43) yang menyatakan bahwa proses dialog dalam konteks pengembangan sekolah harus terhindar dari mengistimewakan orang tertentu dari pada orang lainnya dalam komunitas.
Kesabaran dan konsistensi dari semua anggota komunitas sangat diperlukan bagi keberlangsungan Komunitas Belajar Profesional. Hal ini disebabkan Komunitas Belajar Profesional bukanlah sebuah proses sekali jalan, tetapi merupakan sesuatu yang harus terus- menerus dikembangkan sejalan dengan proses proses perkembangan guru sebagai bagian dari organisasi sekolah. Dukungan utama dalam pengembangan kapasitas sekolah melalui belajar bersama dalam komunitas profesional mensyaratkan perubahan pada budaya organisasi, yaitu perubahan yang berjalan dalam waktu setahap demi setahap dan berkembang sesuai dengan perjalanan refleksi warga sekolah.Triatna (2015:44).
Keberhasilan dalam membangun Komunitas Belajar Profesional dapat dilihat dari pencapaian indikator- indikator yang ditetapkan. Berikut ini adalah indikator- indikator Komunitas Belajar Profesional yang dirangkum dari pendapat Harris & Jones (2010:176-177) dan Dehdary (2017:647), yaitu (a) terdiri atas guru-guru dengan keahlian yang berbeda, (b) adanya partisipasi secara kolegial di antara peserta, (c) adanya penyediaan fasilitas oleh pimpinan, (d) tindakan dilaksanakan berdasarkan orientasi kebutuhan dan selalu dilihat perkembangannya), (e) fokus terhadap perbaikan proses pembelajaran serta memaksimalkan dampaknya terhadap hasil belajar siswa, (f) adanya rasa saling menghormati dan mempercayai di antara anggota komunitas, dan (g) adanya kegiatan berbagi pengetahuan di antara anggota komunitas.
Kenyataan di lapangan, tidak mudah membangun Komunitas Belajar Profesional. Salah satu contoh adalah
51
kondisi di SDN Santaka. Sebagian besar guru di SDN Santaka belum mampu mengatur waktu dengan baik untuk melakukan kegiatan yang bersifat membangun kebersamaan dalam sebuah komunitas belajar. Waktu setelah jam mengajar selesai cenderung dihabiskan untuk melakukan hal-hal lain yang tidak ada kaitannya dengan upaya untuk meningkatkan kompetensi.
Guru merupakan anggota komunitas di sekolah yang keberadaanya sangat memengaruhi kualitas layanan pendidikan dan pembelajaran. Sebagai pendidik, sudah selayaknya guru menjadi suri tauladan bagi peserta didik terutama dalam membangun kebiasaan belajar yang mandiri. Kemandirian dalam konteks guru sebagai pembelajar dewasa adalah kesadaran untuk melakukan refleksi mengenai kompetensi yang dimiliki serta berusaha untuk memperbaikinya. Hal ini sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 87/2017 tentang pendidikan karakter.
Langkah awal yang dilakukan oleh kepala sekolah dalam menghadapi masalah berupa belum terbentuknya Komunitas Belajar Profesional di SDN Santaka adalah melakukan refleksi diri. Dari hasil refleksi tersebut diketahui bahwa gaya kepemimpinan yang diterapkan selama ini masih bersifat konvensional, mengedepankan instruksi dari pada persuasi. Dengan gaya tersebut, kepatuhan guru untuk mengikuti kegiatan komunitas belajar hanya bersifat temporer, belum sampai pada tumbuhnya kesadaran. Keadaan ini berdampak pada rendahnya kompetensi profesional dan pedagogik guru yang berkaitan langsung dengan proses pembelajaran.
Hasil supervisi menunjukan bahwa sebagian besar guru belum membuat perangkat pembelajaran yang memadai, sehingga proses pembelajaran kurang terencana dengan baik. Pada proses pembelajaran di kelas, sangat sedikit guru yang menerapkan model- model pembelajaran. Di samping itu, penggunaan media IT masih kurang, baik sebagai media pembelajaran maupun sebagai alat bantu dalam membuat perangkat pembelajaran. Sebagai akibat kurangnya inovasi dalam pembelajaran, maka guru
52
kekurangan bahan untuk menyusun karya tulis, sehingga sampai dengan akhir tahun 2017 sangat sedikit KTI yang dihasilkan oleh guru dan disimpan di perpustakaan.
Keadaan ini membuat kepala sekolah berpikir bahwa diperlukan sebuah strategi yang inovatif dalam memotivasi guru membentuk Komunitas Belajar Profesional. Strategi yang dipilih oleh kepala sekolah sebagai upaya untuk membangun Komunitas Belajar Profesional di kalangan guru-guru SDN Santaka kemudian diberi nama strategi SWEET LOVE.
Strategi SWEET LOVE, Arti dan Implementasinya Secara harfiah kata sweet dapat diartikan manis dan kata love diartikan cinta dalam Bahasa Indonesia. Kata
“manis” memiliki pengertian (1) rasa seperti rasa gula, (2) elok/mungil, (3) sangat menarik hati, dan (4) indah/
menyenangkan. Kata cinta mengandung pengertian (1) suka sekali, sayang benar, (2) kasih sekali, terpikat,(3) ingin sekali/berharap sekali, dan (4) susah hati/ risau (http: kbbi .kemdikb.id/). Berdasarkan uraian tersebut, frase sweet love mengandung pengertian sebagai sesuatu yang indah, cantik, dan menarik. Dengan demikian, penggunaan kata sweet love sebagai sebuah strategi diharapkan memberikan kesan yang menarik, menyenangkan, dan mengandung nilai-nilai humanis.
Strategi SWEET LOVE pada dasarnya merupakan serangkaian langkah konkret yang dilakukan oleh kepala sekolah terhadap guru supaya memiliki kepedulian terhadap upaya meningkatkan kompetensi. Salah satu aspek yang sangat penting dari strategi SWEET LOVE adalah kerjasama yang dikembangkan di kalangan guru dalam melaksanakan kegiatan. Di samping itu, konsep mutualitas menjamin bahwa guru berada pada posisi yang sama dalam melaksanakan kegiatan belajar.
(Karwati & Prawiyogi,2019:74). Berdasarkan uraian tersebut, strategi SWEET LOVE bukanlah bentuk perlakuan tunggal, tapi merupakan satu rangkaian secara keseluruhan.
Strategi SWEET LOVE bisa juga dikatakan sebagai
53
serangkaian pendekatan yang dilakukan oleh kepala sekolah dalam rangka meningkatkan partisipasi guru terhadap program peningkatan kompetensi. (Karwati &
Prawiyogi,2019:76). Nilai-nilai humanis, kebersamaan, rasa percaya diri, serta penghargaan terhadap kinerja merupakan karakter dasar dari pendekatan SWEET LOVE .Pengertian ini digunakan untuk merefleksikan nama sweet love itu sendiri yang di dalamnya mengandung unsur-unsur rasa cinta kasih dari kepala sekolah kepada guru. Penggunaan kata atau frase yang berkonotasi baik dengan proporsi yang tepat akan mampu meningkatkan rasa memiliki di kalangan guru sehingga kemungkinan bagi berhasilnya sebuah program dapat lebih diperbesar.
Langkah-langkah dalam menerapkan strategi SWEET LOVE untuk membangun Komunitas Belajar Profesional adalah sebagai berikut.
1. Set the Goals
Penentuan tujuan merupakan dasar bagi dilaksanakannya seluruh program kegiatan. Adapun tujuan yang ditetapkan adalah (a) membangun Komunitas Belajar Profesional sebagai tujuan utama dikembangkan dengan berdasarkan pada indikator- indikator yang telah ditetapkan, (b) meningkatkan kompetensi profesional dan kompetensi pedagogik guru, dan (c) meningkatkan pemenuhan perangkat pembelajaran.
Gambar 1. Membangun Komunikasi
54
2. Write Down the Plan
Membangun Komunitas Belajar Profesional dirumuskan dalam sebuah program perencanaan.
Program perencanaan yang dimaksud berupa rancangan kegiatan yang mendukung terbangunnya Komunitas Belajar Profesional dengan menggunakan strategi SWEET LOVE. Pada langkah ini sekaligus ditetapkan aturan-aturan yang harus ditaati dalam membangun Komunitas Belajar Profesional.
3. Encourage the Teachers to Participate.
Hal paling penting untuk diterapkan oleh kepala sekolah dalam langkah ini adalah bagaimana membuat guru untuk berani berpartisipasi, baik sebagai peserta yang aktif maupun sebagai pemateri. Keberanian yang memang bukan tumbuh dengan sendirinya, tetapi perlu dorongan terutama dari kepala sekolah sebagai pimpinan. Pada tahap awal, kepala sekolah memberikan contoh tentang bagaimana menjadi narasumber, sedangkan tahap selanjutnya guru didorong untuk memiliki keberanian dan kepercayaan diri untuk tampil.
Gambar 2. Kepala sekolah menginspirasi guru
4. Ensure the Teachers that They Have Capabilities Meyakinkan guru-guru bahwa mereka memiliki kapabilitas yang memadai dilakukan kepala sekolah dengan memberikan kesempatan kepada guru untuk
55
menjadi narasumber pada kegiatan yang bersifat formal maupun informal. Kepala sekolah memberikan contoh tentang menjadi narasumber pada kegiatan sharing kemudian memberikan kesempatan kepada guru untuk
menunjukan kapasitasnya di hadapan rekan-rekan.
Gambar 3. Guru menjadi narasumber
5. Treat the Teachers Just Like What You Want to be Treated
Kepala sekolah harus memahami karakter dari setiap guru yang berbeda-beda sehingga mereka nyaman dalam mengikuti kegiatan. Pemahaman yang baik mengenai karakter guru membuat perlakuan yang diberikan oleh kepala sekolah menjadi lebih efektif. Kebiasaan senyum, sapa, salam, memberi masukan yang membangun tanpa merendahkan martabat merupakan langkah yang sangat tepat diberikan oleh kepala sekolah. Pendekatan tersebut mengembangkan sikap saling menghargai di antara semua anggota komunitas guru.
6. Let the Teachers Work Together
Sebagai sebuah komunitas, keterampilan untuk bekerja sama menjadi ciri yang tidak dapat dilepaskan.
Kerjasama / kolaborasi juga menjadi wadah yang tepat
56
bagi guru untuk saling bertukar pikiran, bekerjasama dalam memecahkan permasalahan. Kegiatan komunitas belajar yang dikembangkan bersifat formal dan informal.
Bentuk Kegiatan formal antara lain (a) KKG berbasis sekolah tentang implementasi kurikulum 2013, (b) IHT tentang model- model pembelajaran, (c) pelatihan komputer/ IT, (d) IHT tentang penyusunan KTI, (e) diskusi tentang pengembangan materi pembelajaran, (f) mengobservasi pelaksanaan pembelajaran, (g) evaluasi pelaksanaan pembelajaran. Adapun kegiatan informal adalah (a) SAJAGO (Sajam Ngobrol) berisi obrolan santai tentang isu-isu pendidikan dan pembelajaran, dan (b) GARENG (Gawe Bareng), di mana guru secara kolaboratif membuat perangkat dan media pembelajaran yang inovatif.
Gambar 4. Guru Berkolaborasi dalam Meningkatkan Kompetensi
7. Obey the Rules that Have been Made
Membangun Komunitas Belajar Profesional memerlukan aturan yang harus ditaati bersama. Aturan yang diberlakukan pada Komunitas Belajar Profesional di SDN Santaka yaitu: (1) guru harus bersedia untuk membagikan pengetahuan yang dimiliki kepada sesama rekan, (2) tingkat kehadiran guru dalam kegiatan Komunitas Belajar Profesional harus maksimal, (3) pendapat harus disampaikan dengan cara bijaksana dan sopan, serta (4) selalu mengembangkan sikap kekeluargaan. Ketaatan terhadap aturan merupakan
57
sebuah keniscayaan sehingga Komunitas Belajar Profesional dapat berjalan secara efektif dan efisien.
8. Value All the Teachers’ Work
Pemberian penghargaan bisa menjadi motivasi yang luar biasa bagi guru untuk terus berkarya. Pemberian penghargaan terhadap kinerja guru bisa dilakukan dengan berbagai cara, misalnya dengan pujian, maupun dengan pemberian kesempatan kepada guru untuk menjadi narasumber kegiatan. Perasaan dihargai sebagai guru, ditempatkan sebagai manusia yang memiliki kemampuan memberikan energi yang luar biasa bagi guru untuk berbuat lebih baik.
Gambar 5. Pemberian penghargaan terhadap kinerja guru
9. Evaluate and Reflect
Evaluasi dilakukan secara kualitatif dengan memberikan tanggapan terhadap proses dan hasil kegiatan. Proses evaluasi dilakukan kepada semua anggota komunitas, baik kepala sekolah maupun guru.
Refleksi merupakan kegiatan bersama untuk melihat berbagai kekurangan yang masih ada baik personal, maupun keseluruhan anggota komunitas.
Terbangunnya Komunitas Belajar Profesional
Berdasarkan hasil pembinaan, pemantauan, pengamatan, supervisi, dan wawancara terhadap strategi
58
SWEET LOVE dalam membangun Komunitas Belajar Profesional, beberapa hal dapat diuraikan sebagai berikut.
1. Komunitas Belajar Profesional telah terbangun di SDN Santaka. Hal ini berdasarkan analisis ketercapaian indikator-indikator Komunitas Belajar Profesional yang mencapai 94. Motivasi guru untuk membangun Komunitas Belajar Profesional semakin meningkat, yang ditandai dengan tingkat kehadiran guru mencapai 92%. Hasil pengamatan juga menunjukan bahwa sejak digunakannya strategi SWEET LOVE, kesadaran guru tentang pentingnya peningkatan kompetensi meningkat. Hal ini dapat dilihat dari topik pembicaraan dalam komunitas guru lebih mengarah pada hal- hal yang ada relevansinya dengan tugas fungsi guru. Indikasi lainnya yang berhubungan dengan motivasi belajar adalah masuknya guru pada komunitas PKB on line Rumah Belajar yang berjalan di bawah naungan kemdikbud.
Gambar 6. Sebelum dan Sesudah Terbentuknya PLC
2. Kompetensi profesional dan pedagogik guru meningkat, yaitu yang berkaitan dengan penguasaan IT, penyusunan KTI berupa PTK, dan penggunaan model-model pembelajaran. Capaian nilai rata-rata
59 1 Penggunaan Metoda Demonstrasi Dalam Upaya
Meningkatkan Prestasi Siswa Mata Pelajaran IPA Pada Konsep Perubahan Pada Benda di Kelas VI SDN Santaka Kecamatan Cimanggung Kabupaten Sumedang Tahun 2014/2015
2. Meningkatkan Prestasi Siswa Pada Materi Bilangan Pecahan Dan Desimal Matematika Dengan Menerapkan Model Kooperatif Student Teams Achievment Division (STAD) Di Kelas VI SDN Santaka Kecamatan Cimanggung Kabupaten Sumedang Tahun 2016/2017
1. Penerapan Model Pembelajaran Cooperative Teknik 3b Untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis Percakapan di Kelas 3 SDN Santaka Kecamatan Cimanggung Kabupaten Sumedang Tahun 2017
2. Penggunaan Media Konkrit Untuk Meningkatkan Pemahaman Siswa Pada Materi Pecahan di Kelas 2 SDN Santaka Kecamatan Cimanggung Kabupaten Sumedang Tahun 2018 3. Penggunan Media Konkrit Untuk Pemahaman Siswa Tentang
Materi Penjumlahan di Kelas 2 SDN Santaka Kecamatan Cimanggung Kabupaten Sumedang Tahun 2018
Guru 2 dari kompetensi di atas adalah 87, 86, dan 88. Di bawah ini contoh judul PTK yang disusun oleh dua orang guru
Gambar 7. Contoh Judul PTK
3. Sebagian besar guru telah menerapkan model-model pembelajaran pada tahun pelajaran 2018/2019.
Guru 1
60
Gambar 8. Guru Menerapkan Model Pembelajaran
4. Pemenuhan perangkat pembelajaran mencapai 98%
pada tahun pelajaran 2018/2019.
5. Hasil wawancara dengan guru menunjukan bahwa, 100% guru memahami dan menyatakan bahwa Komunitas Belajar Profesional sangat bermanfaat bagi pengembangan kompetensi, merasa dihargai dengan diberikan kesempatan untuk berbagi pengetahuan, dan strategi SWEET LOVE sangat efektif dalam membangun Komunitas Belajar Profesional.
Implementasi strategi SWEET LOVE selain memberikan hasil sebagaimana diuraikan pada bagian terdahulu, juga memberikan dampak sebagai berikut.
1. Guru
Dampak menerapkan strategi SWEET LOVE terhadap guru adalah:
a. pada tahun 2018, salah seorang guru di SDN Santaka memperoleh peringkat ke-2 sebagai guru berprestasi tingkat Kecamatan Cimanggung;
b. semua guru pada tahun 2019 mendapat nilai PKB dengan predikat “Baik”.
2. Peserta Didik
Dampak bagi peserta didik adalah:
a. perolehan nilai rata-rata USBN terjadi kenaikan yang cukup signifikan sebagaimana terlihat pada tabel berikut, yaitu 85,06 pada tahun pelajaran
61
2016/2017; 86,61 pada tahun pelajaran 2017/2018 dan 95,74 pada tahun pelajaran 2018/2019
b. Capaian nilai tarap serap kurikulum adalah 77 dan 78 pada semester 1 dan 2 tahun pelajaran 2017/2018 serta 80 dan 81 pada semester 1 dan 2 tahun pelajaran 2018/2019.
3. Sekolah
Meningkatnya kompetensi profesional dan pedagogik telah berdampak terhadap meningkatnya pemahaman guru mengenai berbagai program sekolah lainnya sehingga partisipasi guru pada program-program tersebut meningkat. Hal ini berimbas pada peningkatan nilai akreditasi sekolah, yaitu dari nilai 81 pada tahun 2011 menjadi 87 pada tahun 2017.
Berdasarkan uraian di atas, strategi SWEET LOVE terbukti mampu membangun Komunitas Belajar Profesional di SDN Santaka serta meningkatkan kompetensi profesional dan pedagogik guru. Strategi SWEET LOVE dapat digunakan oleh kepala sekolah lainnya yang tertarik untuk mengaplikasikan strategi ini sesuai dengan kondisi masing-masing. Beberapa rekomendasi dapat diuraikan sebagai berikut.
a. Pada langkah Set the Goals, harus ditambahkan dengan keterlibatan ahli misalnya pengawas sekolah, atau unsur-unsur dari komite sekolah maupun dunia usaha, sehingga muatan dalam kegiatan Komunitas Belajar Profesional dapat lebih ditingkatkan.
b. Pada langkah Write Down the Plan kepala sekolah harus memberikan porsi yang lebih besar kepada guru untuk meningkatkan self-belonging mereka terhadap program kegiatan, sehingga tingkat ketercapaian program dapat lebih ditingkakan lagi.
c. Meningkatkan pengetahuan tentang seni-seni membangun kepercayaan diri pada bawahan, terutama dalam melaksanakan melaksanakan pendekatan Encourage the Teachers to Participate dan Ensure the Teachers that they Have Capabilities.
62
Daftar Pustaka
Dehdary. (2017). A Look Into Professional Learning Community. http :/ / www .academy publication .com/ ojs/ index .php/ jltr/ article/view/
jltr0804645654. Volume 8 Number 4. Pp 647
Harris, A. dan Jones, M. (2010). Professional Learning Communities And System Improvement.
https://www.researchgate.net/publication/
249752354_Professional_learning_communities_a nd_system_improvement Volume 13 Number 2 July 2010 172–181. Pp 172 – 181.
Karwati,W dan Prawiyogi,A. (2019) Guru dan Membelajarkan Guru. Karawang FBIS Publishing.
Triatna, Cepi (2015). Membangun Komunitas Belajar Profesional untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan di Sekolah http://ejournal.upi edu/index .php/JPSPs/article/view/5918
63
Tentang Penulis
Wawat Karwati, M.Pd. lahir di Bandung pada tanggal 22 November 1971. Pendidikan terakhir S2 Pendidikan Dasar di Universitas Pendidikan Indonesia. Ibu dari tiga orang anak ini sekarang bekerja sebagai Kepala SDN Santaka Kecamatan Cimanggung Kabupaten Sumedang. Sejauh ini buku yang telah dihasilkan ada dua, yaitu Remaja dan Permasalahannya pada tahun 2015 yang ditulis bersama rekan-rekannya di Universitas Pendidikan Indonesia. Buku kedua terbit pada tahun 2019 dengan judul Guru dan Membelajarkan Guru.
Nomor HP 081220595958.
64